[ Donghae ] ONESHOT || The First Love and My Last Love

THE FIRST LOVE AND MY LAST LOVE

Author : KyuWonHee a.k.a KWH

Cast : Kim Youngra, Jung Hyejin, Lee Donghae, Lee Youngra, Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Genre : Family, Romance, Friendship

Lenght : Oneshot

Facebook : https://www.facebook.com/riani.nuradit

Link note : https://www.facebook.com/riani.nuradit/notes

Happy Reading, Chingu. Jangan lupa Like dan Komennya, gomawo.

Tampak dua orang anak yeoja dan seorang anak namja sedang bermain disebuah halaman dan mereka kelihatan senang.

“Youngla –ya,” panggil seorang anak namja itu.Dan yang dipanggilpun menengok.

Chupp..

“Huaaa… Donghae oppa jahat, dia menciumku Hyejin –ah,”

“Oppa, kau tidak boleh menciumnya! Kaliankan belum menikah!” seru Hyejin.

“Jadi aku halus menikah dulu dengan Youngla? Baiklah, nanti aku bilang eomma dan appa bial aku menikah dengannya,” ucap Donghae

“Kalau oppa dengan Youngla, aku dengan siapa?” tanya Hyejin.

“Kalau begitu aku juga akan menikah denganmu,” ucap Donghae lalu mencium Hyejin juga.

“Kau harus pilih satu oppa,” ucap Youngra.

“Aku tidak mau! Kalian berdua halus jadi istliku nanti, wekk!!” ucap Donghae lalu menjulurkan lidahnya dan pergi meninggalkan kedua anak yeoja itu.

– 15 Tahun Kemudian

Matahari sudah tampak bersinar, namun aku masih berbaring malas diranjang. Padahal eomma sudah memanggilku sedari tadi.

“Youngra –ya, ireona!” ucap eomma.

“Ne eomma, dari tadi aku juga sudah bangun,”

“Kau ini sebentar lagi akan menikah dan menjadi istri tapi masih bermalas – malasan. Bagaimana jika Donghae mencari yeoja lain yang lebih rajin?”

“Itu tak akan eomma, Donghae oppa mencintaiku dan akan tetap seperti itu,”

“Sudah jangan banyak bicara, cepat mandi karena Hyejin sudah menunggumu,”

“Mwo? Hyejin sudah datang? Sepagi ini?”

“Ne! Sudah cepat! Hari ini kau akan sibuk mempersiapkan pernikahan kalian,”

“Arraseo eomma,”

-*-

“Kita mau kemana dulu?” tanya Hyejin padaku.

“Aku belum sarapan, bagaimana kita makan dulu?”

“Baiklah, kau mau pesan apa?” tanya Hyejin.

“Kau taulah itu,”

“Dua milk shake dan roti panggang saja,” ucap Hyejin

“Baiklah nona, kalau begitu tunggu sebentar nanti pesanan akan saya antar,” ucap pelayan.

“Ne, gomawo,” ucapku.

“Youngra –ya, tak aku sangka kau akan menikah dengan Donghae oppa,” ucap Hyejin

“Ne, aku juga demikian tak percaya. Lalu kapan kau menyusul Hyejin –ah?”

“Entahlah, sudah cepat habiskan makannya! Kita sibuk,” ucap Hyejin dan terpancar kesedihan diraut wajahnya.

“Siap, bos!!” ucapku.

Setelah kami selesai makan, kami pergi untuk membeli persiapan pernikahan. Cukup lama kami berkeliling toko untuk membeli segala keperluan pernikahanku, mulai dari gaun, aksesoris, kami juga menyebar undangan, dan lain – lain. Dan tak terasa hari beranjak malam.

“Hyejin –ah, seperti hari ini cukup. Kita lanjut besok saja, ne,” ucapku. Tapi tak dapat jawaban dari Hyejin. “Hyejin –ah…” panggilku kembali memanggilnya. Namun ketika aku berbalik. “Hyejin –ah…” teriakku sambil berlari kearah Hyejin yang tiba – tiba limbung.

Akhirnya aku segera menelepon ambulan untuk membawa Hyejin keunit kesehatan terdekat. Cukup lama aku menunggu diruang UGD, akhirnya dokter yang memeriksa Hyejin keluar.

“Uisa, bagaimana kabar teman saya?” tanyaku.

“Anda bisa ikut keruangan saya dahulu,” ucap Uisa.

Setelah berbicara dengan Dokter mengenai kondisi Hyejin, aku kembali pada Hyejin dikamarnya. Selama perjalanan menuju kamar Hyejin, kata – kata Dokter tadi terus terngiang ditelingaku. Aku tak menyangka, jika Hyejin harus menerima beban seberat ini.

“Youngra –ya…” panggil Hyejin setibanya aku. Tapi aku masih tetap berjalan dengan kepala menunduk. “Youngra –ya, wae?” tanya Hyejin setelah melihat wajahku yang berkaca – kaca.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, Hyejin –ah!! Wae kau menutupi semuanya?” ucapku.

“Mianhe, Youngra –ya,” ucap Hyejin yang seakan tau arah pembicaraanku.

“Kau anggap apa aku, Hyejin –ah? Kita sudah lama bersahabat, tapi kenapa hal seperti ini tak kau bagi padaku? Jangan kau pikir kau bisa menanggungnya sendiri!!”

“Aku hanya tak ingin menjadi perusak ditengah kebahagianmu Youngra –ya. Kau dengan Donghae oppa sebentar lagi akan menikah, lalu aku menceritakan masalahku. Itu hanya akan mengganggu kalian,” ucap Hyejin mulai terisak.

“Tapi kau tak bisa menanggungnya sendiri, lalu orang tuamu sudah tau?!” tanyaku. Tapi Hyejin hanya menunduk. “Hyejin –ah, jujur padaku! Siapa namja yang menghamilimu?!” tanyaku keras padanya. Tapi Hyejin kembali menggeleng. “KATAKAN JUNG HYEJIN –ah!!” teriakku kembali.

“Mianhe, Youngra –ya. Tapi sungguh aku tak dapat bilang,” ucap Hyejin dibarengi isaknya.

Plaakk…

Sebuah tamparan mendarat dipipi Hyejin cukup keras. “Aku sungguh tak mengerti dirimu, bisa – bisanya kau menutupi kesalahan namja yang telah merusak masa depanmu,”

Setelah itu aku pergi meninggalkan Hyejin dikamarnya.

***

Setelah kejadian itu, baik aku maupun Hyejin jarang bicara. Sebenarnya akulah yang tak mau bicara pada Hyejin, bahkan Donghae telah membujukku untuk berbaikan dengan Hyejin tapi percuma. Hal itu terjadi hingga pada acara pernikahan.

“Youngra –ya, mianhe…” ucap Hyejin saat bersalam denganku.

“Sudah, tak perlu kau ungkit lagi atau aku tak akan memaafkanmu seumur hidup. Dan selamat atas pernikahanmu, aku harap kau bahagia,” ucapku parau tapi aku mencoba menahannya.

“Youngra –ya…”

“Hanya satu pintaku, aku harap kau dapat menjadi ibu dan istri yang baik bagi mereka kelak,”

“Ne, aku janji,”

“Tentu saja, jangan mengingkarinya. Yasudah, aku pamit dulu. Aku bisa ketinggalan pesawat jika berlama –lama,”

“Kau akan pergi?” tanya Hyejin. Aku hanya mengangguk setelah itu pergi.

– 5 Tahun Kemudian.

Aku sedang berjalan ketaman dan duduk dibangku taman sambil membaca buku, tiba – tiba aku melihat seorang anak yeoja terjatuh. Dia terlihat meringis kesakitan dan aku segera menolongnya.

“Chagi –ya, kau dimana? Youngra –ya…”

Aku yang merasa namanya dipanggil akhirnya menengok kearah sumber suara. Setelah aku menengok nampaklah seorang namja tengah berjalan mencari sesuatu.

“Aku disini appa,” sahut yeoja kecil yang sedang kuobati lukanya.

Mendengar sahutan yeoja kecil tadi, namja tersebut berjalan kearah kami. “Kau sedang apa disitu, chagi –ya…” ucap namja itu terpotong saat melihatku dengan yeoja kecil itu. “Youngra –ya…”

“Ne, appa,” ucap yeoja kecil itu.

“…..” namja itu hanya diam saat melihatku.

“Kau memanggil anakmu?” tanyaku padanya yang kelihatan bingung.

“Kim Youngra, benarkah itu kau?” tanyanya memastikan.

“Ne? Apa kita saling kenal?” tanyaku heran.

“Kenapa kau bertanya demikian? Kau tak mengenaliku?” tanya namja itu padaku.

Aku berusaha berpikir, tapi setelah ku berpikir tentangnya hanya rasa sakit yang ada. “Mianhe tuan, aku tak mengenalmu. Adik kecil, lukamu sudah kuobati dan appa mu juga sudah datang jadi aku pergi dulu ne,” ucapku lalu meninggalkan mereka.

Namun saat aku ingin pergi, tanganku ditahan oleh seseorang. “Eomma, jangan tinggalkan aku lagi,” ucap yeoja kecil itu.

‘Oh Tuhan, apa lagi ini? Rasanya aku baru beberapa hari di Korea, tapi mengapa sudah ada orang aneh seperti ini,’ batinku.

“Youngra –ya, ini aku Donghae…”

“Mianhe tuan, tapi aku benar – benar tak mengenalimu,”

“Eomma, kumohon jangan pergi,” yeoja kecil itu seraya memelukku. “Eomma, tinggallah bersama aku dan appa,”

“Chagi –ya, sudahlah mungkin kita salah orang. Kajja, kita pulang,” ucap namja itu membujuk anaknya.

“Aku tak mau pulang jika tak dengan eomma!!” ucap yeoja kecil itu memaksa.

“LEE YOUNGRA –ya, jangan membantah appa!!” namja itu berteriak hingga yeoja kecil yang bernama Youngra itu menangis dipelukkanku.

“Hei! Jangan kau bentak anak kecil! Lihat, kau membuatnya menangis,” ucapku pada namja itu.“Anak manis, sudah jangan menangis. Nona akan ikut denganmu asal kau berhenti menangis,”

Akhirnya aku ikut dengan namja yang bernama Donghae dan anaknya kerumah mereka. Dan sesampainya dirumahnya aku langsung diajak berkeliling oleh anaknya yang bernama Youngra itu.

“Chagi –ya, sudah malam. Kajja, kau tidur,” ucap Donghae pada anaknya.

“Tapi aku masih mau main sama eomma, appa,” ucapnya meminta.

“Sekarang kau tidur, besok kita main lagi. Youngra –ya besokkan sekolah,”

“Aku mau tidur kalau eomma juga tidur bersamaku,” pinta anak itu. Aku hanya mengangguk.

“Lalu besok eomma juga antar aku sekolah, ne?” ucap anak itu. Dan aku mengiyakannya.

***

Aku sudah terbiasa bangun pagi, begitu juga pagi ini. Setelahku membersihkan diriku aku membuat sarapan untuk mereka, hingga tiba – tiba ada yabg datang kedapur.

“Kau sudah bangun rupanya,”

“Donghae –ssi,” ucapku melihat siapa yang datang.

“Kau sedang apa?”

“Membuat sarapan,” ucapku masih sibuk memasak. “Emm.. Donghae –ssi, wae sepi sekali? Apa yang lain belum bangun?”

“Ani ,memang hanya ada aku dan Youngra disini. Eomma dan appaku sedang keluar kota,”

“Lalu istrimu?”

“Istriku Lee Hyejin sudah meninggal saat Youngra berusia tiga tahun,”

“Owh, mianhe Donghae –ssi. Aku tak bermaksud,”

“Gwaenchana, Youngra –ssi. Lalu kau tinggal dimana lima tahun belakangan ini?”

“Aku tinggal di Berlin. Ehhh… dari mana kau tahu jika aku tak tinggal di Korea lima tahun ini? Kau memata –mataiku, eoh?”

“A… ani, kau pikir aku ini pengangguran yang tidak punya pekejaan hingga harus memata – mataimu,”

“Lalu kau tau dari mana aku lima tahun ini tidak tinggal di Korea?”

“Aku hanya asal bertanya, kau saja yang terlalu percaya diri,”

“Bagaimana bisa setepat itu? Atau kau paranormal?”

“Mwo?!”

“Atau kau punya kekuatan supranatural? Ceritakan padaku, Donghae –ssi! Kau tau bukan?”

“Aish, jinja!!”

“Owh, ayolah! Aku tak ingat masa laluku sejak kecelakaan,”

Donghae mulai menceritakan bagaimana diriku yang dia kenal, aku hanya mendengarkannya saja tanpaku tahu yang dia katakan benar atau hanya mengada – ngada. Dan entah mengapa saat dia bercerita timbul perasaan aneh dalam diriku, dia itu sebenarnya siapa? Apa dia bagian dari masa laluku yang tak dapat aku ingat? Entahlah, tapi aku cukup nyaman bersamanya hingga tak sadar jika Youngra anaknya telah datang dan makan.

“Kalian asyik sekali, aku datang sampai tidak tau,” ucap anak itu.

“Mianhe chagi –ya, lalu anak appa sepertinya sudah selesai makan?”

“Tentu saja, kajja kita berangkat,”

“Emmm… tapi kau belum sarapan, Donghae –ssi. Aku bekalkan, ne?” ucapku.

“Aku bisa sarapan dikantor, Youngra –ssi,”

“Appaku, tak baik jika menolaknya. Eommakan sudah buatkan sarapan kalau appa tak sarapan nanti berarti ada yang terbuang, kan sayang appa makannya dibuang,” ucap Youngra pada appanya lembut.

“Aish, anak appa sudah pintar menasehati rupanya,”

“Memang, apa kemana saja? Eomma… eomma ikut ne, eomma antar aku kesekolah,”

– Perusahaan Lee

Tampak seorang namja tengah duduk dimejanya yang penuh berkas dan makanan. Dia sedang menyantap makan yang dibekalkan untuknya dan saat dia akan menyuapkan makannya terdengar suara ketukkan pintu akhirnya dia menunda dahulu makannya.

“Masuk,” ucap namja itu.

Gagang pintu terlihat diputar dan tampaklah seorang namja yang muncul dibalik pintu. “Hei, Donghae –ya! Owh, apa aku mengganggumu?”

“Hyukjae –ya!” ucap Donghae lalu menghampiri temannya itu yang bernama Lee Hyunjae. “Silakkan duduk,”

“Gomawo. Sepertinya kau sedang makan, lanjutkan saja dulu makanmu. Aku bisa menunggu,”

“Gwaenchana, menyambut teman lama yang baru tiba lebih penting ketimbang mengisi perut,”

“Kau ini, pandai sekali bicara. Dan tumben sekali kau membawa bekal, apa kau sudah menikah lagi? Jahat sekali kau menikah tak mengabariku,”

“Siapa bilang aku sudah menikah? Kau pikir cari istri gampang, eoh?! Apalagi aku seorang duda yang mempunyai seorang anak. Sekarang aku tanya padamu, kau sendiri sudah menikah?”

“Belum, tapi akan,”

“Bule Jerman mana yang telah memikatmu? Dasar namja tak cinta produk dalam negeri!

“Siapa bilang aku tak cinta produk dalam negeri? Tunanganku itu asli orang Korea, dia juga tak kalah cantik dengan bulu Jerman,”

“Lihatlah, sekarang siapa yang jahat? Kau bertunangan tak mengabariku,”

“Mianhe Donghae –ya, aku tak bermaksud begitu. Lagi pula sekarang aku sudah kembali dan memberitahumu, yang penting kau tak ketinggalan acara pernikahanku,”

“Jadi kapan kau akan menikah?”

“Beberapa bulan kedepan, makanya aku pulang untuk menyiapkan pernikahanku. Lalu kapan kau memyusulku?”

“Mwo?!”

“Hei, biasa saja. Aku hanya bertanya padamu, tak perlu seperti itu reaksinya. Tapi kau harus membantuku menyiapkan pernikahan, terutama membantuku mengatasi calon istriku. Dia itu sungguh susah jika diajak jalan berdua,”

“Mungkin dia malu jalan denganmu,”

“Aish, jinja!” ucap Hyukjae kesal.

***

Sudah sebulan aku tinggal bersama Lee Donghae dan anaknya, sebenarnya aku ingin berpamitan tapi aku tak sampai hati mengatakannya terutama dengan anaknya, Youngra. Lagipula jika kupikir – pikir tak ada ruginya bagiku tinggal bersama mereka, aku hanya menemani anaknya dan memasak. Dan untungnya bagiku, aku dapat tempat tinggal, makan gratis dan jarak kantorku dari rumahnya tak terlalu jauh selain itu aku dapat tumpangan gratis juga. Bagaimana aku tidak betah, keperluanku dirumah ini tercukupi dan yang terpenting mereka orang baik.

Padahal Eunhyuk oppa pernah mengajakku tinggal bersama diapartemennya tapi aku menolaknya. Tau sendiri sifatnya itu, yang terkadang membuatku berpikir bagaimana bisa aku akan menikah dengan namja sepertinya. Sifatnya sungguh menjengkelkan, tapi biarpun begitu dia namja yang baik dan dia telah menyelamatkanku.

“Eomma, aku sudah mengantuk,” ucap yeoja kecil itu.

“Tapi aku belum mengantuk, Youngra –ya. Lagi pula appamu belum pulang, nanti siapa yang akan bukakan pintu untuknya?” ucapku pada yeoja kecil itu.

“Aku tak masalah tidur sendiri, eomma,” ucapnya.

Akhirnya anak itu tidur sendiri, karena biasanya aku harus menemaninya tidur dengan membacakannya cerita terlebih dahulu. Tanpa terasa orang yang ditunggu datang juga.

“Mianhe Youngra –ssi, aku selalu merepotkanmu,”

“Gwaenchana, Donghae –ssi. Lagi pula aku inikan menumpang dirumahmu, aku juga sering merepotkanmu. Anggap saja ini jasa timbal balik,” ucapku.

“Yasudah, kau pergilah tidur. Kau pasti lelah,” ucap Donghae. Aku hanya tersenyum.

Aku langkahkan kakiku kekamar yeoja kecil itu untuk tidur, tapi apa yang kudapat? Pintu kamarnya terkunci, kucoba mengetuk dan memanggil namanya tapi percuma saja dia tak kunjung membukakan pintunya. Aku sudah putus asa dan mengantuk, akhirnya aku beranikan diri untuk mengetuk pintu kamar Donghae. Dan mendengar ketukkan namja didalamnya membukan pintu.

“Kau belum tidur? Ada apa?” tanyanya.

“Youngra –ya, dia mengunci pintu kamarnya,” ucapku.

“Aish, anak itu. Yasudah kau tidurlah dikamarku,”

“Lalu kau dimana?”

“Aku juga akan tidur disini,”

“MWO?!” ucapku berteriak.

“Aku akan tidur disofa,”

Akhirnya aku tidur diranjangnya sementara dia disofa, jujur aku tak tega melihatnya tidur disofa seperti saat ini. Dia sudah lelah bekerja dan saat akan tidurpun terlihat tak nyaman.

“Donghae –ssi, lebih baik kau saja yang tidur diranjang aku yang disofa. Aku sungguh tak tega melihatmu yang sudah lelah seperti itu harus tidur disofa,”

“Kau tamuku, jadi sepantasnya aku memberimu kenyamanan tinggal dirumahku,”

“Aku sungguh tak masalah jika tidur disofa,”

“Baiklah, kita sama – sama tidak tega. Bagaimana jika kita tidur berdua diranjang?”

“MWO?!” sekali lagi aku berteriak.

“Aku tak akan macam – macam. Agar lebih aman kita buat batas saja dengan bantal, lagi pula tempat tidurku cukup besar jadi kecil kemungkinannya,” ucapnya sungguh membuatku bingung.

“Kecil kemungkinan apanya maksudmu?”

“Sudahlah, tidur ini sudah malam,”

-*-

Tak terasa matahari sudah terbit kembali, sinarnya memasuki kamar dan menyilaukan yang mataku memaksaku untuk bangun. Kurentangkan tubuhku untuk melemaskan otot yang sepertinya kaku tapi entah kenapa sulit. Kucoba untuk terjapkan mataku untuk melihat siapa yang melilitku dan saat mataku melihat orang yang ada dihadapanku, mataku membulat sempurna. Mulutku juga hampir berteriak tapi mulutku lebih dulu membekapnya.

“Donghae –ssi, ireona,” bisikku padanya.

“Owh, aku masih mengantuk. Hari ini aku cuti, jadi kita lanjutkan saja tidurnya chagi –ya,” ucapnya membuatku menganga. Jadi kucubit saja perutnya dan dia mendengus kesakitan.

“Hei! Aku masih mengantuk!” ucapnya berteriak dan bangun dari tidurnya. “Ka… ka… kau…”

“Kau bilang tak akan macam – macam?! Tapi kau malah memelukku!!” ucapku juga berteriak.

Cklekkk….

“Donghae –ya!!”

“E… eomma…”

“Owh, ahjumma sudah pulang. Mianhe ahjumma, tapi ini tak seperti yang terlihat,” ucapku gugup karena tertangkap basah(?).

“Appa… apa yang appa lakukan?” ucap Youngra yang muncul dibalik badan Ahjumma Lee dengan senyum kemenangan yang mengembang diwajahnya setelah itu dia berlari.

“Lee Youngra –ya!! Akan appa hukum kau nanti,”

***

Ini sudah dua bulan berlalu sejak kejadian memalukan itu, aku tidur sekamar atau lebih tepatnya seranjang dengan Donghae dan parahnya saat itu orang tuanya juga pulang.

Saat ini aku sedang menyiapkan bekal untuk kami pergi keacara yang diadakan sekolah Youngra, kami akan piknik. Dan tentunya aku ikut karena lagi – lagi paksaan yeoja kecil itu, dia selalu pintar beralasan dan alasannya kali ini adalah acara keluarga. Tentunya aku tak dapat menolak karena kasihan jika melihatnya pergi hanya dengan appa, Donghae. Padahal niatnya hari ini aku berencana pergi dengan Eunhyuk oppa, jadi dari pada repot kuajak saja dia sekalian.

“Eomma, katanya teman eomma juga akan datang? Mana?” tanya anak itu.

“Mungkin sebentar lagi. Akkkhh.. itu dia,” ucapku menunjuk orangnya. “Eunhyuk oppa, disini!” teriakku memanggilnya. Dan dia berlari kearah kami dengan kantong yang berisi sesuatu ditangannya.

“Hyukjae –ya?” tanya Donghae setibanya Eunhyuk oppa.

“Kau juga disini Donghae –ya? Dan kalian sudah saling kenal rupanya?”

“Ne, secara tidak sengaja kami bertemu,”

“Baguslah kalaua begittu, jadi aku tak perlu repot mengenalkan kalian. Oh ne Hae –ya, ini dia yang kubilang calon istriku. Dia cantik, bukan?” Ucap Eunhyuk oppa sambil merangkulku.

“Ne Hyuk –ah, kau memang pandai dalam memilih yeoja,” ucap Donghae tersenyum miris.

“Appa, apa maksudnya dia akan menikah dengan eomma? Jadi bukan appa yang menikah dengan eomma?” ucap Youngra kecewa dan lari.

“Youngra –ya,” panggilku pada gadis itu saat dia lari.

“Hae –ya, nama anakmu sama dengan yeojaku,” ucap Eunhyuk tapi tak didengar Donghae karena dia mengejar anaknya.

Akhirnya aku dan Donghae mengejar Youngra, Eunhyuk oppa kuruh menunggu. Kami terus mencari Youngra, akhirnya dia ketemu juga. Dia sedang menangis dibawah pohon dengan kepala menunduk dan tangan memeluk lututnya.

“Chagi –ya,kau tak boleh begitu. Youngra imo akan menikah dan itu haknya untuk memilih siapa,” ucap Donghae menasehati anaknya.

“Youngra –ya, maafkan eomma ne. Biarpun imo bukan menikah dengan appa Donghae tapi Youngra masih bisa panggil imo dengan eomma,”

“Aku tidak mau dengan eomma lagi, eomma jahat padaku dan appa. Jadi eomma pergilah dengan ahjussi itu, jangan datang lagi kerumah Youngra!” ucap yeoja kecil itu.

“Youngra –ya, jaga bicaramu!” ucap Donghae yang membentak anaknya.

“Donghae –ssi, sudahlah jangan memarahi anakmu. Mungkin benar aku yang salah, aku terlalu memberi harapan padanya. Yasudah, aku pergi ne. Jaga diri kalian baik –baik, sampaikan maafku juga pada orang tua,” ucapku lalu pergi.

Sejak hari itu aku tak lagi bertemu dengan mereka. Aku sekarang kembali pada Eunhyuk oppa, kami mulai mempersiapkan apa saja untuk pernikahan kami. Itu berlangsung hingga hari pernikahanku.

“Oppa, sedang apa disini?” tanyaku pada Eunhyuk oppa yang tiba –tiba datang keruang rias.

“Ini ada telepon untukmu dari Youngra, anaknya Donghae,”

“Mwo?” tanyaku lalu segera mengambil ponselnya. “Youngra –ya, wae?” tanyaku

“Eomma, Donghae appa kecelakaan,” ucapnya dengan isakkan.

Tanpa basa – basi segera kutinggalkan gedung pernikahan menuju Rumah Sakit tenpat Donghae dirawat, padahal sebentar lagi acara pernikahanku akan dimulai. Eunhyuk oppa tampak terdiam melihatku yang seperti kesetanan setelah menerima telepon dari Youngra.

Sesampainya dirumah sakit aku segera mencari ruangannya. Dan aku segera masuk kekamarnya, kulihat dia terbaring diranjangnya dengan kepalanya yang diperban. Aku segera menghampirinya dengan air mata yang tak dapat kubendung lagi.

“Donghae oppa, mianhe. Mian, aku berbohong selama ini. Sebenarnya ingatanku sudah lama pulih dan aku sebenarnya juga mencintaimu. Tapi ini terlalu rumit, aku juga mencintai Eunhyuk oppa terlebih lagi dia namja yang baik dan dia yang menyelamatkanku dalam kecelakaan beberapa waktu lalu. Kau tau, aku cukup nyaman saat awal pertemuan kita dan aku tertarik dengan semua ceritamu tentang masa lalu yang membawaku untuk terus larut padamu hingga perasaan dan ingatan itu muncul kembali. Tapi saat kusadari perasaan saat bersamamu, semua sudah terlambat karena aku akan segera menikah dengan Eunhyuk oppa dan aku tak ingin melukainya hanya karena aku baru menyadari perasaanku. Jadi kuputuskan untuk tetap bersamanya dan memulai hidup baruku dengannya karena kau masa laluku. Donghae oppa, kumohon sadarlah. Biarpun begitu aku masih membutuhkanmu terlebih lagi Youngra, apa kau tega melihatnya jadi yatim piatu? Dan aku juga masih mencintaimu, Donghae oppa. Jangan tinggalkan aku seperti ini, Hyejin sudah pergi lalu kau akan meninggalkan kami juga?” ucapku terisak didada Donghae.

“Kau ini sungguh berisik, Youngra –ya. Dan tentu saja aku tak akan meninggalkanmu, aku masih mencintaimu,” ucap Donghae yang membuatku terkejut.

“Op…oppa kau? Youngra –ya, kau bilang appamu kecelakaan?”

“Memang,” jawab yeoja kecil itu singkat.

“Owh… Hyukie, kau juga datang rupanya?” ucap Donghae saat melihat siapa yang masuk.

“Tentu saja, aku sungguh takut terjadi sesuatu padanya,” ucap Eunhyuk oppa sambil menatap kearahku. “Dia langsung pergi setelah terima telepon dari anakmu, larinya sungguh cepat aku sampai lelah mengejarnya. Kau akan takjub Hae –ya jika melihatnya berlari terlebih dengan gaun pengantinnya itu,” ucap Eunhyuk.

“Mianhe Hyukie, gara – gara aku pengantinmu jadi kabur dan pernikahanmu…”

“Gwaenchana Donghae –ya, sekarang aku serahkan dia padamu. Kau tau? Dia sungguh tak bisa diam, aku rasa kau lebih tau dia dan bisa lebih sabar menghadapi tingkahnya jika menjadi suaminya,” ucap Eunhyuk dengan senyumnya.

“Eunhyuk oppa…” ucapku lirih.

“Sudahlah, aku tak apa. Dia cinta pertamamu, bukan? Dan menurutku namja ini pantas menjadi cinta terakhirmu,” ucap Eunhyuk oppa.

“Jadi eomma akan menikah dengan Donghae appa?” tanya yeoja kecil itu.

“Ne, tentu saja,”

“Kalau eomma dengan appa, lalu ahjussi dengan siapa?”

“Bagaimana jika aku denganmu?” ucap Eunhyuk oppa seraya menggendong Youngra, anak Donghae oppa.

“Tidak mau! Aku tidak mau dengan ahjussi, aku maunya dengan Minhyuk oppa saja,” ucap Youngra.

“OMO! Anak appa sudah besar rupanya, sudah bisa bedakan ahjussi tua dengan namja tampan. Minhyuk, anaknya tetangga kita itu maksudmu?” ucap Donghae pada anaknya.

“Emmmm… bolehkan appa?” tanya yeoja kecil itu tapi hanya disambut dengan tawa oleh kami. Dan Youngra terlihat memanyunkan bibirnya.

“Putri appa tidak boleh cemberut seperti itu, jelek. Emmm… ngomong – ngomong appa mau tanya, kau bicara apa sampai yeoja yang akan menikah sampai berlari meninggalkan pernikahannya?”

“Aku tidak bilang apa – apa, appa. Aku hanya bilang appa kecelakaan lalu tiba – tiba eomma sudah ada disini dan dia langsung memelukmu dan menangis. Aku rasa eomma terlalu mencintai appa,”

“Wahh… benarkah sampai seperti itu?” tanya Donghae.

“Tentu, jika tidak mana mungkin dia sepanik itu Donghae –ya,” ucap Eunhyuk.

“Eunhyuk oppa….” Ucapku malu. Tapi dia malah tertawa dan Donghae oppa ikut menertawakanku begitu juga Youngra yang digendong Eunhyuk oppa juga ikut menertawakanku.

“Tuan Lee, apa kalian hendak mempermainkanku? Bagaimana bisa aku dua kali gagal menikah oleh namja bermarga Lee dan namaku dua kali tercantum dalam undangan bersama namja bermarga Lee juga. Semoga esok jika aku menikah lagi, kau tidak meninggalkan untuk kedua kalinya dengan menikah dengan yeoja lain, Lee Donghae –ya,”

“Tentu saja tidak,” ucap Donghae.

“Dan kau Lee Hyukjae –ya! Aku harap kau tak melamarku kembali jika aku dicampakkan lagi oleh namja yang bernama Donghae itu,”

“Mungkin aku bisa ngusulkan Lee Sungmin hyung untukmu,” ucap Eunhyuk.

“Kau terlalu, Hyukjae –ya…” ucapku hendak menjitaknya. Namun tangannya lebih dulu menahan tanganku.

“Kau tak cukup tinggi tanpa high heels mu Youngra –ya,” ucap Eunhyuk oppa.

Pletak…

“Akkhhh,” ucap Eunhyuk meringis dan memegangi kepalanya yang habis dijitak. “Yeoja manis, wae kau menjitak ahjussi yang tampan ini?” tanya Eunhyuk pada Youngra.

“Ahjussi mengatai eomma ku pendek,”

“Aku tak bilang begitu, ahjussi hanya bilang eommamu tidak cukup tinggi apa itu berarti pendek?” tanya Eunhyuk.

“Mungkin, dalam arti yang tidak sebenarnya kau mengataiku pendek secara tidak langsung,” ucapku kembali memanyunkan bibirku dan langsung ditarik oleh Donghae oppa.

“Oppa!! Wae kau menarik bibirku?!”

“Aku gemas,” ucap Donghae sambil tertawa.

“Aish, jinja!” ucapku lalu hendak melangkahkan kakiku untuk meninggalkan ruangan ini tapi tangan Donghae oppa lebih dulu menghentikanku. Hingga membuatku terhuyung dan jatuh kepelukkannya.

“Kau mau kemana, Nyonya Lee Youngra?” ucap Donghae dan aku hanya menggeleng.

Perlahan tapi pasti Donghae oppa mulai memperkecil jarak antara kami.

“Hei, yeoja kecil! Tutup matamu, ini adegan tujuh belas tahun keatas,” seru Eunhyuk oppa seraya menutup mata Youngra yang digendongnya. Dan anak itu hanya menurut saja.

***

Hari ini aku telah menikah dengan Donghae oppa, aku sangat bahagia karena aku dapat kembali pada cinta pertamaku dan kuharap dia yang terakhir bagiku sampai kematian yang memisahkan kami.

“Chagi –ya, ini ada surat untukmu. Mianhe, aku baru memberikannya sekarang,” ucap Donghae oppa seraya menyerahkan surat tersebut.

From : Jung Hyejin as Your Friend

For : Kim Youngra as My Best Friend

‘Youngra –ya, apa kabarmu? Aku harap kau baik – baik saja. Dan seterima surat ini padamu, aku rasa kau telah bertemu Donghae oppa dan anakku, Youngra. Mianhe, aku menggunakan namamu pada anakku yang tidak jelas siapa ayah kandungnya. Tapi itu kulakukan dengan harapan dia dapat menjadi tali pemersatu antara kau dan Donghae oppa. Dan kuharap dia tumbuh menjadi yeoja yang baik sepertimu, bukan seperti aku yang hanya bisa menjadi masalah bagi sahabatku sendiri.

Sebelumnya aku ingin minta maaf atas kesalahanku yang telah merebut Donghae oppa padamu tepat beberapa hari sebelum pernikahan kalian, aku harap kau dapat memaafkanku. Kumohon maafkan aku Youngra –ya, biarkan aku tenang dalam istirahatku yang panjang. Mianhe, jika terdengar memaksa. Tapi sungguh aku tak memaksamu untuk memaafkanku bahkan aku tak akan menghantuimu jika kau membencimu sekalipun.

Kau tau, Youngra –ya? Setelah Donghae oppa menikah denganku, tak sama sekali kulihat dia sebahagia saat bersamamu. Sepertinya dia sangat mencintaimu dan masihkah kau ingat? Dulu saat kita masih kecil, dia pernah berkata akan menikahi kita berdua setelah dia mencium kita. Dan dia menepati janjinya, dia hendak menikahimu tapi lebih dulu denganku lalu aku harap dia kembali menikahimu.

Mianhe Youngra –ya, sepertinya cukup sampai disini perbincangan kita. Karena kurasa aku sudah tak sanggup untuk melanjutkannya. Terima kasih atas kebaikkanmu yang telah mempercayakan hatimu, Donghae oppa padaku. Kuharap kau dapat bahagia dengan Donghae oppa dan kuharap kau bisa menjadi eomma juga bagi anakku, Youngra. Bolehkan?

Aku sungguh beruntung mempunyaimu, Youngra –ya.’

Jung Hyejin^^

Kita tak tau sampai kapan waktu kita, kita tidak pernah tau seberapa banyak orang yang kita jumpai, kita tak pernah tau seberapa banyak teman yang kita miliki dan kita tak pernah tau seberapa banyak musuh yang harus kita hadapi. Tapi yang pasti kita tau, sahabat sejati itu ada untuk membantu kita mengurangi kesedihan dan melengkapi kebahagiaan.

END

Advertisements

2 thoughts on “[ Donghae ] ONESHOT || The First Love and My Last Love

  1. Ceritanya bagus, tapi sayang banyak typo, EYDnya harus diperbaik. Dan Penjelasannya kurang rinci.

    Fighting author!
    Lebih baik lagi ya ^^

  2. kurang mendetail per adegannya saeng..bnr jg kt reader yg laen kalo penjelasannya kurang…pdhl temanya m jalan critany dah ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s