[ Kyuhyun ] THREESHOT || Wish Someday – Part 3 END

_“Wish Someday”_ [THREESHOOT]  ||  Part 3 END [ReiKyu Behind Story] Sequel!

 

Author           : Winter

Tittle              : “Wish Someday”

Cast                : Cho Kyu Hyun, Reina Kim and otc*

Rating            : PG-17/Straight

Genre             : Marriage life.

 

Dont  BASH … This Just For Fun!

 

 

New Story Present From ©Wi

 

 Sebelumnya… 

|| Part 1 || Part 2 ||

 

                   ***

 

‘Perpisahan itu memanglah mudah, tapi sulit untuk di lakukan …

Terkadang … jika kau tidak bisa mengendalikannya dan

Bersembunyi di balik keegoisan. Maka penyesalan yang akan kau dapatkan kelak’

 

 

_“Wish Someday”_

 

 

“Sial …”

 

Dong Hae menendang kuat kerikil batu yang ada di hadapannya. Sesekali ia menengadah memandang langit siang yang kian mendung dengan desahan napasnya yang semakin menderu.

 

Kepalan tangannya terkepal, kedua bola matanya berkilat memerah nampak di wajah tampannya. Sungguh demi apapun, ia ingin sekali berteriak saat ini, melampiaskan kekesalannya saat ini juga. Dan ingin memukul siapa saja atau apa saja jika tidak mengingat kondisinya yang kini berada di tengah-tengah taman kota. Nampak sangat ramai akan pengunjung, membuat nyalinya menciut seketika.

 

Sesaat ia duduk termenung di sudut kursi yang mulai usang. Otaknya kembali memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu. Berputar-putar seperti bola salju yang menghantamnya dalam hitungan detik.

 

“Hai … Noona. Ah maksudku Reina Noona,”

 

            “Mwo? Sejak kapan kau memanggilku Noona?”

 

            “Mulai hari ini … aku akan memanggilmu dengan sebutan itu. Terkesan lebih akrab untuk ukuran seseorang yang sangat mengenalimu, bukan?”

 

Dong Hae merasa tidak berdaya saat itu. Ketika sapaan tulus Hyo Shin pada Reina meluncur dengan indah dari bibir kecilnya. Entahlah, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat reaksi Reina hanya diam seolah mencerna maksud dari ucapan Hyo Shin.

 

Dugaannya ternyata benar, Hyo Shin tidak main-main dengan ucapannya waktu itu. dan sekarang ia memulainya dari awal, perlahan-lahan akan mengingatkannya akan tentang sesuatu yang mungkin mulai terlihat redup di hati Reina.

 

***

 

Reina berjalan sambil mengendap-ngendap menuju suatu ruangan yang dekat dengan kamar Dong Hae. Tak henti mata bulatnya melirik kearah pintu yang berada di belakangnya, yang bisa saja Dong Hae masuk dan memergokinya seperti seorang pencuri.

 

“Hey, boy. Comeon. Jangan marah-marah begitu,”

 

Wanita itu semakin mempercepat langkahnya dan menempelkan telinganya di depan pintu.

 

            “Apa? Kau ingin aku menculik wanita bule dan menikah, begitu? Kau gila … kau fikir aku sama sepertimu. Aku tahu, aku memang jahat dan suka mempermainkan hati wanita tapi itu juga karena ulah mereka sendiri yang suka sekali menolakku,”

 

Reina hampir saja menyenggol salah satu vas bunga di dekat pintu jika ia tidak segera menangkapnya. Perkataan Hyo Shin baru saja, membuat ia terkejut. Jahat? Suka mempermainkan wanita? Jadi pria itu ….

 

Dengan sekali dorongan, ia membuka lebar-lebar pintu itu sambil menatap horor kearah Hyo Shin. Sedangkan pria itu, lihatlah, ia seperti cacing kepanasan melompat cepat dari atas ranjang membuat benda putih yang di pegangnya terhempas jauh kesisi ranjang.

 

“Noona?” Desisnya. Ia hanya mencoba tersenyum manis menanggapi tatapan tajam Reina.

 

“Siapa kau? Dan apa tujuanmu datang kemari,” Wanita itu menunjuk wajah Hyo Shin dengan emosi “Katakan. Siapa kau dan apa maumu? Dan jangan berdalih lagi … karena aku tidak akan segan-segan menelpon polisi untuk segera membawamu dari sini,”

 

“Noona,”

 

“Stop. Jangan mendekat. Jawab saja pertanyaanku dan diam disitu,” Hyo Shin menunduk lemas, ia tidak suka melihat Reina seperti ini. Rasanya ia ingin berlari dan memeluk wanita itu dengan erat.

 

“Kau diam jadi dugaanku benar, bukan? kau itu hanya seorang pembohong dan masuk ketengah-tengah keluargaku kemudian menghancurkannya. Mengaku sebagai pendatang baru disini, padahal kau itu seorang mafia,” Reina melirik benda yang terletak di bawah kakinya dan memungutnya “Ini buktinya. Kau menelpon komplotanmu untuk bisa membantu aksi gilamu itu, ‘kan? Cih … jangan mimpi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun yang berani menyentuh keluargaku sedikitpun. termasuk dirimu …”

 

Hyo Shin diam seribu bahasa. Membiarkan Reina dengan bebas mengatai dirinya. Ia tidak peduli akan hal itu, tapi entah kenapa hatinya sangat sakit melihat Reina menatapnya jijik penuh kebencian.

 

“Noona, dengarkan aku,” Dengan susah payah kalimat itu meleset dari mulutnya, sesaat setelah ia menunduk dan menangis pilu dibawah sana.

 

“Terserah kau saja. Aku tidak mau dengar apapun. Kau itu pembohong, aku sangat kecewa padamu. Apalagi Reinzi – dia pasti akan membencimu setelah tahu semua ini. padahal dia sangat menya––––”

 

Perkataan itu terputus, ketika dengan eratnya Hyo Shin memeluk Reina. Wanita itu terkejut sekalipun heran menyadari pria itu menangis di pelukannya.

 

“Setelah ini Noona boleh memukulku, menamparku dan melaporkanku ke kantor polisi. Tapi … berikan aku kesempatan untuk bicara. Alasan mengapa aku melakukan ini dan membohongi kalian. Sungguh, aku tidak ingin membuat kalian seperti ini dan menuduhku macam-macam,”

 

Pria itu semakin mendekap Reina dengan isak tangis yang terdengar menyayat hatinya. Lalu kemudian tangannya terangkat menepuk-nepuk pelan punggung Hyo Shin.

 

“Baiklah. Aku akan mendengarkannya,” Hyo Shin melepaskan pelukannya dan menatap sendu Reina.

 

“Apa Noona benar-benar tidak mengingatku?” Wanita itu diam dan menatap heran Hyo Shin.

 

“Apa benar, Noona tidak ingat dengan wajahku yang mirip dengan seseorang dimasa lalu Noona?”

 

“Tidak. Aku sama sekali tidak mengenalimu apalagi mengingat wajahmu,”

 

“Tatap mataku Noona. Dengan begitu kau bisa mengenaliku,” Dengan perasaan was-was, Reina menatap dalam manik mata Hyo Shin. Mata ini mirip sekali dengan mata milik seseorang …

 

“Park Kyuri …” Gumamnya. Hyo Shin kemudian tersenyum lagi dan memegang pundaknya.

 

“Ne. Namanya Park Kyuri. Mataku mirip sekali dengan bola mata indahnya. Karena dia … adalah kakak ku,” Hyo Shin menurunkan tangannya dari pundak Reina, dan menatapnya dalam “Dan alasanku bisa berada disini … karena Cho Kyu Hyun,”

 

“Mwo? A-apa maksudmu? Kyu Hyun? tidak … tidak mungkin ia menyuruh orang untuk mencariku setelah sekian lama ia meninggalkanku demi wanita lain,” Reina tersenyum kecut, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

 

“Memang. Tapi pada kenyataannya ia selalu mencari Noona. Tidak hanya itu, bahkan dengan sangat tidak terhormat ia di lempari telur oleh beberapa orang yang sudah menganggapnya gila karena terus-menerus mencari dan menangis memanggil nama Noona di kerumunan banyak orang yang berlalu lalang di pelataran jalan. Ia hampir gila bahkan tidak makan dan sakit hingga dirawat dengan alat medis dirumahnya,” Hyo Shin menggenggam tangan dingin Reina dengan air mata kembali merebak jatuh dari pipi putihnya.

 

“Pernahkah Noona memikirkannya? Pernakah Noona menghawatirkannya eoh? Disana … dia sakit Noona. Dia sakit. Tidak kuat menahan semua deritanya seorang diri. Ia lemah, bahkan sangat rapuh dari yang Noona bayangkan. Selalu di peralat oleh Ibunya untuk mencari sesuatu yang bisa mewujudkan mimpinya mencari seorang penerus,”

 

“Dan sekarang, ia telah diusir keluar rumah hanya karena penolakannya atas ketidaksukaannya terhadap sikap semena-mena Ibunya itu,”

 

Seperti tertohok benda tajam hati Reina terasa sakit tercabik-cabik, tidak sanggup mendengar lanjutan cerita tentang mantan suaminya itu. Tubuh rampingnya hampir saja ambruk jika saja tidak segera di tahan oleh Hyo Shin.

 

“Lalu bagaimana dengan Kyuri? Bukankah mereka sudah menikah dan tinggal bersama?” Tanyanya disela-sela tangisnya mulai terkontrol.

 

“Noona-ku sudah meninggal, tepat satu tahun yang lalu. Ia memang menikah dengan Kyu Hyun hyung, tapi hanya sebatas menikah dan memiliki anak sesuai rencana. Yang kutahu, Noona Kyuri tidak pernah mencintai Kyu Hyun hyung karena ia memiliki kekasih waktu itu, begitupun sebaliknya. Keduanya sepakat, dan berencana setelah memiliki anak nanti, mereka akan bercerai dan kembali bersama dengan pasangan masing-masing. Tapi, takdir berkehendak lain, sesaat sebelum melahirkan, Noona terpeleset dilantai hingga membuat ia jatuh dan kepalanya membentur sudut meja kaca. Saat itu semuanya sangat panik dan takut. Hingga datang salah seorang dokter dan mengatakan ia tidak bisa tertolong begitupun dengan bayi yang ada dalam kandungannya. Karena mengingat kondisi tubuhnya yang sangat lemah, sehingga membuat ia tidak bisa mempertahankan anak itu hingga akhir,”

 

Reina semakin terisak. Hyo Shin dengan telaten menghapus air mata itu dengan ibu jarinya dan kembali memeluknya.

 

“Sudahlah. jangan menangis lagi. Aku tidak pernah menyalahkan Noona atas kejadian ini. semuanya … sudah ada yang mengaturnya,” Reina menggeleng dan terisak lagi.

 

“Aku pernah membencinya Hyo-ya? Dulu … saat aku tahu bahwa dia adalah wanita perebut suamiku. Tapi … sungguh maafkan aku. aku sangat menyesal telah berlaku seperti itu pada wanita yang telah membantu Kyu Hyun. aku menyesal Hyo-ya. Aku menyesal …”

 

“Tidak. Noona tidak salah dan tidak ada yang perlu disesali. Karena sekarang, aku akan membantu Noona agar bisa bersatu kembali dengan Kyu Hyun hyung. Dia sangat membutuhkan Noona untuk selalu terus berada disisinya. Tapi …” Hyo Shin tidak melanjutkan kalimatnya dan melirik Reina ragu “Bisakah aku bertanya satu hal pada Noona?” Tambahnya. Reina menghapus air matanya dan balik menatap Hyo Shin.

 

“Katakan saja. Apa yang ingin kau ketahui dariku?”

 

“Eumm … apa benar Noona sudah menikah dengan Dong Hae hyung?”

 

“Mwo …”

 

***

 

Setelah menenangkan Reina, akhirnya Hyo Shin bisa duduk dengan tenang meskipun berbagai macam pertanyaan muncul menghacurkan kinerja otaknya saat ini.

 

Antara lega dan puas menyadari bahwa Reina tidak menikah dengan Dong Hae dan malah wanita itu menganggap Dong Hae sebagai ‘Oppa’ saja tidak lebih. Menurutnya, Dong Hae merupakan malaikat penyelamat hidup mereka. Karena Dong Hae, ia bisa merawat janinnya dengan baik hingga lahir.

 

Saat itu Reina sama sekali tidak mengetahui jika ia hamil 2 bulan setelah perceraiannya dengan Kyu Hyun. bentuk tubuhnya yang kecil dan tidak menampakkan tanda-tanda bahwa ia hamil, hingga ia mengabaikan hal itu. Tapi melihat kondisinya yang sering mual-mual saat berpapasan dengan orang-orang berkulit hitam, membuat ia tidak tahan tinggal di negara ini dan menghubungi Dong Hae, ketika pria itu di sibukkan dengan bisnis barunya di korea.

 

Dan satu hal yang membuat kepala Hyo Shin berdenyut-denyut semenjak tadi, adalah soal rumor pernikahan keduanya beredar di situs media. Siapapun akan mengira, termasuk Hyo Shin, bahwa rumor itu sangat masuk akal hingga nama mereka tercantum dengan indahnya di berbagai majalah dan breaking news seluruh dunia.

 

Dan siapapun akan terkejut, sama seperti Hyo Shin saat ini. Bahwa berita itu tidaklah benar. Semuanya hanyalahperayaan acara ‘Marriage Festival’ yang seringkali di lakukan setiap akhir tahun oleh warga Amerika. Dan sebagai pemenangnya adalah pasangan Reina dan Dong Hae. Menurut berita yang di baca oleh Hyo Shin di situs media Amerika, pasangan itu terlihat cocok dan alami. Mereka memerankannya dengan sangat bagus dan mendapat piagam penghargaan. Sampai-sampai setiap tahun nama mereka selalu muncul di berbagai layar televisi.

 

“Huufffttthhhh ….”

 

Hyo Shin menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Rasanya seluruh anggota tubuhnya mau remuk dan hancur berkeping-keping. Padahal, yang ia tahu, ia tidak melakukan apapun hari ini. hanya mengurung diri didalam kamar.

 

Tadi, ia sempat sibuk mencari Dong Hae untuk meminjam pakaian yang layak pakai pada pria itu. berhubung, semua pakaiannya kotor dan bodohnya lagi ia hanya membawa beberapa helai baju itu di dalam ransel hitamnya. Namun, semua isi rumah ini ia susuri dengan teliti, tapi ia tidak menemukan tanda-tanda adanya Dong Hae disana.

 

Drrtt Drrrt Drrrtttt

 

I-pod nya bergetar, dengan sangat malas ia meraih benda itu dari samping tidurnya begitu melihat ID Call orang yang menghubunginya.

 

“Ada apa tuan muda?” Sapanya dengan selembut mungkin.

 

Yak! apa maksudmu mematikan panggilanku tadi. kau ingin mati eoh? Membuatku khawatir saja,”

 

“Ehm … terimaksih karena tuan mau mengkhawatirkanku. Aku … aku merasa tersentuh,”

 

“Berhenti memanggilku dengan embel-embel ‘tuan muda’, Park Hyo Shin. Aku akan membunuhmu jika kau masih mengulanginya lagi. Panggil aku ‘hyung’. Kau mengerti. Dan apa itu? tersentuh? Cih … menjijikkan sekali,”

 

“Ish … kau semakin galak saja hyung. Dan apa tadi, kau ingin membunuhku? Yang benar saja. Bukankah kau sangat menyayangiku?” Goda Hyo Shin sambil terkekeh kecil pada orang diseberang sana.

 

“Ckck …lihat saja nanti. Setelah tiba disini, aku akan mencekikmu, bodoh,”

 

“Benarkah? Kapan kau akan melakukannya padaku hyung?” Celetuk Hyo Shin tertawa pelan.

 

“Diamlah. Dan jangan lupa … cepat kembali. Eumm .. dan satu lagi, terimakasih karena kau masih sempat-sempatnya membantuku menyadarkan orang-orang suruhan Eomma yang terus merecoki hidupku. Terimakasih … aku sangat bangga padamu, Hyo-ya,”

 

“Tentu saja. Karena aku … adalah adik iparmu,”

 

“Ck … jawaban macam apa itu. ah sudahlah … pokoknya kau harus segera kembali. dan jangan lupa, segera hapus foto itu dari akun istagram-mu. Menjijikkan,” Sambungan itu terputus seketika dengan dengusan panjang dari Kyu Hyun.

 

“Tentu hyung. Aku akan kembali … kembali bersama kebahagianmu.”

 

***

 

Entah sudah berapa jam Dong Hae berada di taman dan pulang setelah hari mulai gelap. Keadaannya sangat memprihatinkan, rambut acak-acakkan, kaus panjang yang dikenakannya terlihat sangat kusut dan wajahnya memerah dengan matanya yang sembab.

 

“Na-ya?”

 

Ia memanggil nama Reina dan mencarinya seperti orang kesetanan.

 

“Na-ya … Reina-ya?”

 

Dong Hae berhenti, begitu melihat Reina berada didapur sedang menuangkan air putih kedalam gelasnya.

 

“Na-ya? Bisakah … bisakah aku memelukmu,”

 

Reina hampir saja tersedak, dan meletakkan gelas itu diatas meja kaca. Kemudian memandang Dong Hae heran.

 

“Bisakah? Kali ini saja,” Reina mengangguk samar dan mendekati Dong Hae.

 

“Aku akan merindukanmu,”

 

***

 

Ganggnam, Korea Selatan

7:30 KST

 

“Hyuunggg ….”

 

Suara teriakan suara jelek Hyo Shin terdengar nyaring memenuhi isi ruangan itu. Nampak di sebuah kamar, seseorang terusik dari tidur lelapnya dan menyumpahi akan menyumpal mulut orang yang telah mengganggu tidur indahnya ini.

 

Mata yang sedikit terbuka sambil menguap lebar-lebar, seorang Cho Kyu Hyun berjalan dengan malasnya membuka pintu. Lagi-lagi ia membuka mulutnya lebar-lebar hingga membentuk awan putih yang mengepulkan uapnya dari sana.

 

Tangannya tak tinggal diam, mengucek-ucek matanya berkali-kali dan memutar kepalanya kekiri dan kekanan, merenggangkan ototnya yang sempat shock dengan teriakan tadi.

 

“Aih … jorok sekali,”

 

Kyu Hyun seakan tidak peduli dengan cibiran khas yang sangat ia kenal. Dengan santainya, ia membuka lemari es dan mengambil 2 botol minuman kaleng. Ia membuka salah satu botol itu dan meminumnya, satunya lagi ia serahkan pada Hyo Shin yang hanya melongo melihat tingkah anehnya.

 

Setelah menghabiskan minumannya, Kyu Hyun menyeret kembali tubuhnya melewati orang itu, berjalan menuju kamarnya. Tidur.

 

“Hyuuunnnggggg …”

 

Teriakan itu membuat langkahnya tertahan seketika. Kyu Hyun mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, hingga ia berbalik dan tersenyum riang menatap wajah cemberut Hyo Shin.

 

“Hyo-ya? Kaukah itu?” Tanya Kyu Hyun memastikan penglihatannya. Ia menepuk-nepuk wajah tampannya dan berteriak “ Hyo-ya …”

 

“Ish … menyingkirlah dari tubuhku hyung. Aku masih normal,”

 

Kyu Hyun hanya tersenyum sok manis dan melakukan tos khas di jidat Hyo Shin. Pria itu manggut-manggut.

 

“Bagaimana kabarmu? Apa kau puas setelah menjalani masa liburmu di Amrik?” Tanya Kyu Hyun begitu mereka duduk di ruang tamu.

 

“Tentu saja. Aku puas dan bahagia hyung,” Hyo Shin mengangkat kakinya dan meletakkannya diatas meja.

 

“Tentang apa? Gadis Amerika maksudmu?” Tanya Kyu Hyun sambil menyesap teh ginseng nya.

 

“Bukan. ini sesuatu yang juga akan membuatmu bahagia nanti,”

 

“Benarkah? Ayo, ceritakan padaku,” Desak Kyu Hyun.

 

“Nanti saja. Sebentar lagi kau akan tahu,”

 

“Aisshh … Tapi aku ingin mengetahuinya sekarang bodoh,”

 

“Aku bilang nanti saja. Kenapa hyung cerewet sekali. Sudahlah … lebih baik hyung segera mandi dan berpakaian rapi. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di lotte world jam sembilan tepat. Jangan sampai terlambat, oke!”

 

***

 

Kyu Hyun mondar-mandir, bahkan berlari kesana kemari mencari sosok yang ingin bertemu dengannya. Matanya tak pernah lepas dari berbagai macam wahana, terus mencari orang itu disana.

 

“Mati kau Park Hyo Shin,”

 

Ia kembali mengumpat. Entah sudah berapa kali dalam sehari ini, ia mengumpati pria itu yang suka sekali membuat ia naik darah.

 

“Mommy… ayo kemari,” 

 

Seorang bocah kecil melewatinya sambil memegang sebuket bunga lily putih ditangannya.

 

“Ini buat Mommy? Woah … terimakasih pangeran,”

 

Telinga Kyu Hyun memanas seketika, ketika suara wanita itu terdengar sangat tidak asing di telinganya. Dengan Jantung terus berdegup kencang, aliran darah semakin mengalir cepat, Kyu Hyun berbalik, meneteskan air mata saat mata sendunya bertatapan langsung dengan sosok yang sangat ia cintai dan ia rindukan selama ini.

 

“Reina Kim …”

 

***

 

Kyu Hyun semakin mendekap Reina seakan tidak ingin melepaskan kontak tubuh ramping itu dari sisinya. Kini mereka duduk di bangku taman, dekat dengan lotte world .

 

Sementara Reinzi, anak itu sudah di ajak jalan-jalan oleh Hyo Shin dan memberikan waktu untuk kedua orang dewasa itu berbicang-bincang melepaskan kerinduannya masing-masing.

 

“Dia sangat tampan, mirip sekali denganku,”

 

Reina menarik sudut bibirnya tersenyum manis dan mengangguk.

 

“Terimakasih sudah melahirkannya dan menjaganya serta mendidiknya hingga menjadi anak yang kuat dan tangguh,” Wanita itu kembali mengangguk dan semakin menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Kyu Hyun, tempat yang dulu ia favoritkan sebagai pengharum kepenatannya disaat lelah.

 

“Aku merindukanmu Na-ya? Sangat … sangat merindukan moment-moment seperti ini saat bersamamu. Ku harap setelah ini, kau tidak akan kabur dan lari lagi dari kehidupanku. Karena sama halnya, kau membunuhku dengan perlahan,” Kyu Hyun mencium puncak kepala Reina berkali-kali dan kemudian mengecup dalam bibirnya.

 

“Ayo kita menikah lagi,”

 

***

 

“Kyu? Apa yang kau lakukan?

 

Reina terkesiap, saat di rasakannya sesuatu yang bersinar melingkar indah di jari manisnya.

 

“Aku ingin melakukannya lagi dan memulainya dari awal bersamamu Na-ya?” Kyu Hyun berlutut dan meraih tangan Reina, ia genggam erat.

 

“Disini … di tempat ini, dibawah sinar terang lampu gereja menghadap tuhan. Aku berjanji … akan bersungguh-sungguh melindungimu, mempertahankanmu untuk selalu berada disisiku hingga maut tuhan memisahkan kita. Mencintaimu dengan segenap jiwaku dan menjagamu dengan sekuat tenagaku,”

 

“Dan, aku berjanji … dihadapan tuhan, akan memberikan cinta ini untukmu, untuk Istriku – Reina Kim dan juga anakku – Reinzi.”

 

Tanpa komentar apapun, Reina langsung memeluk Kyu Hyun dan menangis terharu. Sungguh demi apapun, ia sangat tersentuh dengan acara pernikahan dadakan mereka didalam gereja yang tak berpenghuni. Tidak ada fastur, tidak ada wali disana, apalagi bunga yang menghiasi tempat itu, tidak ada. Dan dengan beraninya Kyu Hyun membawanya ke tempat itu menghadap tuhan dan berjanji untuknya. Sungguh mengharukan.

 

“Selamat datang kembali Istriku. Aku mencintaimu,”

 

Detik itu juga, bibir keduanya saling bertaut. Melepaskan rindu yang terpendam selama tujuh tahun tidak bertemu dan berakhir di pertemukan tuhan dengan caranya.

 

Kini, keduanya bisa tersenyum lega, tertawa lepas dan menjalani hari-hari seperti biasanya. Tak ada lagi luka, derita dan sakit menyapa keduanya. Ibu Kyu Hyun sudah sadar atas tindakannya yang suka mengatur anaknya itu. Sedangkan Dong Hae, ia tetaplah sahabat dan juga ‘kakak’ yang paling Reina sayang dan ia sangat bersyukur bisa mengenali Dong Hae dengan baik. Tadi, pria itu sempat mengiriminya pesan bahwa ia juga akan segera menikah dengan gadis Amerika.

 

Memang benar, terkadang harapan dan doa itu tidak seperti debu yang ditiup angin hilang tanpa jejak. Keduanya memang tidak nampak seperti bel gereja yang berdenting dengan bunyi yang sangat  merdu. Tapi … keyakinan, membuat kita bisa merasakan betapa indahnya hari itu. hari dimana kita akan melihat kemurnian akan ketulusan kita disaat memulainya dan menikmati setiap lantunannya dalam kasih tuhan.

 

 

 

END

Advertisements

3 thoughts on “[ Kyuhyun ] THREESHOT || Wish Someday – Part 3 END

  1. q blm bc depannya sie…tp kalo ini.jd ending kok kesannya kurang mengena y…hahaha..tp apapun yg trjdi disini bang kyu bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s