[ Kyuhyun ] THREESHOT || Wish Someday – Part 2

_“Wish Someday”_ [THREESHOOT]  ||  Part 2 [ReiKyu Behind Story] Sequel!

 

Author           : Winter

Tittle              : “Wish Someday”

Cast                : Cho Kyu Hyun, Reina Kim and otc*

Rating            : PG-17/Straight

Genre             : Marriage life.

 

Dont  BASH … This Just For Fun!      

 

Sebelumnya…

|| Impossible || Wish Someday – Part 1 ||

 

 

New Story Present From @Wi

 

                   ***

 

‘Cobalah kau rasakan …

Cobalah kau pahami …

Betapa sakitnya aku saat ini, karenamu …

Karena cintamu …’

 

 

_“Wish Someday”_

 

Reina memperhatikan anaknya – Reinzi dari atas balkon, bermain dengan riangnya bersama seorang pria yang baru saja dikenalnya. Ia pun tidak begitu tahu pasti, siapa orang itu. Jika bukan orang yang telah menolong Reinzi, mungkin Reina tidak akan pernah mau mengijinkannya menginap dirumahnya untuk beberapa hari kedepan. Apalagi mengingat di negara yang ia tempati saat ini, bisa saja ada orang yang berpura-pura berlaku baik dan setelah itu melakukan tindakan kriminal, mungkin. Terlebih lagi, saat pria itu menyebut namanya tadi saat mereka bertemu. Benar-benar membuatnya bingung karena ia sama sekali tidak mengenalinya sedikitpun. 

 

Namun, jika melihat kedekatan anaknya yang mudah sekali akrab dengan orang itu, membuat Reina harus menepis dan membuang jauh-jauh fikiran buruk itu dari benaknya. Tapi ada satu hal yang menurut Reina aneh dari orang ini. Reaksinya tadi saat melihatnya bersama Reinzi, terkejut dan bahagia tampak diwajah tampannya. Sepertinya pria itu sangat tahu tentang mereka. Tapi siapa?

 

Mommy? Ayo, kemari. Kita bermain bersama,” Reinzi mengayun-ngayunkan tangannya di udara memanggil Reina.

 

“No! Ini sudah sore dan kau, anak nakal harus membersihkan diri dan mandi. Oke!” Jawab Reina gemas. Reinzi mempoutkan bibirnya begitu mendengar penolakan dari Ibunya.

 

Mommy, tidak asyik …”

 

 

***

 

“Ada apa honey? Kenapa kau cemberut seperti itu?” Reinzi menoleh kearah sumber suara yang berasal dari samping kirinya. Dengan refleks ia langsung berhamburan memeluk pria bermata teduh itu hingga membuat orang tersebut terkekeh melihat tingkahnya.

 

“Hey, boy! Ada apa, hmm?” DongHae – pria itu mengelus-ngelus puncak kepala Reinzi dengan sayang dan kemudian menatap Reina yang juga duduk di samping kanannya meminta penjelasan. Wanita itu diam seolah tidak berminat sedikitpun dengan perbincangan mereka.

 

“Oh … jadi kalian bertengkar lagi eoh?” Reina mendengus, dan menatap Dong Hae tajam.

 

“Sudahlah. Pangeran kecil dan pemberani tidak boleh cemberut. Soal Mommy … serahkan pada Dady … biar Dady yang urus,” Hibur Dong Hae sambil tersenyum jahil kearah Reina.

 

“Oppa selalu saja memanjakannya,” Reina melempar majalah yang dibacanya keatas meja dan meninggalkan kedua pria-pria yang sok tampan itu dengan senyum jahil andalan mereka.

 

“Lihat, kita berhasil membuat Mommy marah.” Reinzi tersenyum dan mengangguk kecil dalam dekapan Dong Hae.

 

Meskipun umurnya sudah menginjak tujuh tahun, tapi kejahilan anak itu seringkali membuat keduanya sulit untuk mengontrol diri tidak memarahinya. Berlaku seperti orang dewasa dan kadang membuat Reina dan Dong Hae hanya bisa menggeleng-geleng kepala sendiri jika bocah itu kembali merajuk minta ini dan minta itu.

 

Seperti saat ini, ia kesal pada Reina karena wanita itu tidak mengabulkan permintaannya. Reinzi melihat wallpaper i-pod Hyo Shin bersama gadis-gadis bule yang hanya memakai pakaian minim, ketika ia secara tidak sengaja meminjam benda itu dari Hyo Shin. Dan semuanya hanya melongo ketika anak itu merajuk pada Reina menginginkan hal yang sama, bergaya bersama gadis-gadis bule dengan gaya sok cute-nya.

 

Selalu seperti itu. sifat labilnya kadang pasang surut seperti air laut, dan mudah berubah kapan saja seperti musim. Adakalanya, jika ada sesuatu yang ia minta pada Reina dan wanita itu tidak mengiyakannya, maka dengan senang hati ia akan menangis memeluk Dong Hae dan mengadu pada pria itu. Begitu pun sebaliknya, jika ada yang ia inginkan tapi Dong Hae hanya diam saja, maka ia akan menangis meraung-raung di hadapan Reina dan mengadukan semua hal buruk yang tidak pernah Dong Hae lakukan padanya. Keterlaluan.

 

Meskipun demikian, Reina maupun Dong Hae sangat menyayangi Reinzi. Terlebih lagi anak ini lahir dan hidup disini tanpa seorang teman yang bisa diajaknya bermain. Sehingga mudah baginya berlaku seperti orang dewasa karena didikan serta bimbingan Reina dan Dong Hae padanya.

 

***

 

Hyo Shin berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan telunjuk kirinya. Sudah hampir setengah jam otaknya terus berputar memikirkan sesuatu yang menurutnya aneh.

 

“Yeobo? Makanlah yang banyak. Lihat, badanmu terlihat kurus, dan … itu sangat jelek,”

            “Aish … itu bukan kurus tapi langsing. Dan berhenti memanggilku dengan sebutan itu oppa.”

 

Hyo Shin masih ingat jelas bagaimana reaksi Reina saat makan malam tadi. Dong Hae yang berusaha bersikap romantis dengan cara menyuapinya tapi wanita itu menolak dan malah menyibukkan dirinya mengurus Reinzi. Dan menurut Hyo Shin, ada yang tidak beres dengan mereka. Bukankah itu wajar? Bukankah mereka suami istri?

 

“Arrrggghhh … aku bisa gila.”

 

Hyo Shin mengacak-ngacak rambutnya dengan gemas. Sepertinya, Kyu Hyun perlu membayar banyak akan hal ini. Sudah membuat ia sakit kepala dan pusing sendiri.

 

“Hey, kau kenapa?” Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka, Reina masuk dan menatapnya khawatir.

 

“Kau baik-baik saja, ‘kan? Aku tadi mendengarmu berteriak,” Tanya Reina panik. Pria itu kemudian hanya terkekeh pelan menyadari betapa bodohnya ia tidak mengunci pintu kamar dan alhasil Reina memandanginya sama seperti orang bodoh.

 

“Aaa … itu hahaha aku melihat ada kecoa disana. Karena aku takut, makanya aku berteriak,” Hyo Shin menggaruk belakang kepalanya, mengumpat dalam hati. Kenapa memakai alasan itu? tidak bermutu sekali.

 

“Benarkah?” Celetuk Reina memastikan “Ok, baiklah. Biar ku musnahkan mereka dan aku bakar hidup-hidup,”

 

“Jangan!” Seru Hyo Shin terkejut melihat Reina melipat kaus panjangnya sampai siku dan mengambil semprot pembunuh serangga bersiap untuk melancarkan aksinya “Jangan lakukan itu. Maksudku, biar aku saja yang melakukannya,” tambah Hyo Shin dan merebut tabung yang berisi cairan itu dari tangan Reina. Untuk sesaat wanita itu diam seolah berfikir dan menatap heran Hyo Shin yang kembali terkekeh.

 

“Kau mengerjaiku? Astaga … aku baru ingat, mana ada kecoa di tempat ini. karena setiap hari Dong Hae oppa selalu memperhatikan kebersihan rumah dari luar sampai tempat-tempat tersembunyi sekalipun. Ckckck …”

 

Hyo Shin tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah imut Reina yang menurutnya sangat lucu. Kalau disaat seperti ini, ia bisa melihat sisi lain dari seorang Reina. Sosok yang membuat Kyu Hyun sangat mencintainya dan ingin selalu melindunginya.

 

“Benarkan? Kau hanya mengerjaiku,” Dengus Reina “Ah sudahlah … percuma saja aku bertanya. Oh iya … dan satu lagi,” Reina mendekati Hyo Shin dan berbisik “Kau boleh berteriak tapi jangan keras-keras. Di samping kamarmu, ada Dong Hae oppa yang kapan saja bisa mengamuk jika ia merasa tidurnya terganggu.”

 

***

 

Esok paginya, Hyo Shin pergi menemani Dong Hae dan Reinzi jalan-jalan di sekitar taman Grand Park , tidak jauh dari rumah mereka. Keduanya menggenggam tangan mungil Reinzi dari kedua sisi masing-masing. Entahlah, anak ini suka sekali berulah dan usil terhadap pengunjung taman. Hingga membuat keduanya hanya mendesah frustasi dengan tingkah konyolnya.

 

Untung saja Reina tidak ikut dan lebih memilih tinggal di rumah untuk menyiapkan makanan yang sudah mereka pesan sesuai selera masing-masing. Jika ia ikut, mungkin ceritanya lain lagi. Taman yang tadinya aman-aman saja, akan mendapat goncangan hebat karena teriakannya melihat kelakuan Reinzi saat ini.

 

Dad? Aku ingin kesana,” Reinzi menunjuk salah satu bangku yang di kerumuni para turis cantik. Dong Hae menoleh dan menggeleng cepat.

 

“Ish … ayolah Dady. Kali ini aku tidak akan mencolek-colek mereka lagi. Aku hanya ingin mengambil gambar saja,” Dong Hae diam dan berpura-pura menyibukkan diri memperbaiki letak mantelnya yang sudah rapi. Reinzi mencibir dan mengalihkan pandangannya kearah Hyo Shin.

 

Ahjussi? Bisakah kau membantuku?” Rajuk Reinzi menarik-narik lengan Hyo Shin. Pria itu menggerutu dalam hati. Ahjussi? Yang benar saja. Ini sudah kesekian kalinya bocah ini memanggilnya dengan sebutan itu. Dong Hae yang menyadari perubahan wajahnya hanya tersenyum-senyum sendiri. Menyebalkan sekali.

 

“Tidak mau.” Tolak Hyo Shin “Kau masih kecil jadi tidak boleh dekat-dekat dengan mereka. Itu bahaya,”

 

“Bahaya apanya? Mereka itu manusia dan aku juga manusia. Jadi mereka tidak akan melukaiku. Apalagi sampai membahayakan nyawaku. Jika saja hal itu terjadi, aku bahkan bisa lebih ganas dan menggigit mereka …”

 

Dong Hae dan Hyo Shin memutar bolanya matanya dengan malas. Ternyata, selain jahil, anak itu cerewet juga. Lihatlah, dengan angkuhnya ia berbicara panjang lebar tanpa henti seperti menyampaikan khutbah.

 

“Kalian tidak mendengarku? Sayang sekali. Padahal tadi itu cerita tentang vampir prosecutor, drama kesukaanku,” Untuk kesekian kalinya kedua pria itu dibuat terkejut. Cerita drama? Jadi dari tadi anak itu hanya menceritakan pada mereka tentang drama? Ya ampun … padahal tadi mereka membicarakan soal bahaya mendekati wanita seksi. Lalu kenapa jadi melenceng kesana? Anak ini benar-benar …

 

“It’s okay! Aku tidak akan pergi kesana. Tapi temani aku duduk disini … bermain psp.”

 

***

 

Dong Hae berkali-kali menghela napas yang secara tiba-tiba saja terasa mencekatnya. Posisi duduknya  tak pernah diam, dan lebih fokus memandangi Reinzi bermain dengan benda bersegi empat kesayangannya itu dengan gusar. tak ingin beradu mata dengan sosok yang kini duduk santai di hadapannya.

 

“Apa benar kalian sudah menikah?”

 

Hyo Shin dengan spontan kembali mengulang pertanyaannya pada Dong Hae. Tapi pria itu lebih memilih diam, dan menghindar saat tatapan mata tajam Hyo Shin mengintimidasinya.

 

“Hey … Jangan pasang wajah gugup seperti itu. kau tinggal menjawabnya saja. Tidak sulit, ‘kan?” Dong Hae memberanikan diri dan balik menatap Hyo Shin.

 

“Ya. Kami sudah menikah. Apakah itu masih kurang cukup sebagai tanda bahwa ia adalah milikku, wanitaku, orang yang mampu membuatku tersenyum dan harus aku lindungi,” Dong Hae kemudian tersenyum getir “Sekalipun kalian datang untuk menjemputnya, aku tidak akan pernah mengijinkannya pergi. Karena dia Istriku,”

 

Untuk sesaat Hyo Shin terdiam, sedetik kemudian tertawa pelan menyadari perubahan wajah panik Dong Hae.

 

“Aku kesini bukan untuk membawanya pergi kehadapan Kyu Hyun Hyung. Kalaupun iya, aku tidak akan melakukannya. Karena aku akan membuat Reina Noona mengingat sesuatu. Sesuatu yang mungkin saja ia lupa selama tujuh tahun belakangan ini, bahwa masih ada seseorang yang dengan setia menunggu kehadirannya di luar sana, dan juga tulus mencintainya hingga saat ini… Cho Kyu Hyun. Dengan begitu, ia akan berfikir dan memilih jalannya sendiri,”

 

“Cih … lakukan saja. Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi,”

 

“Kita lihat saja nanti.”

 

***

 

Reina mengernyit bingung, melihat sikap acuh Dong Hae dan Hyo Shin yang menurutnya sangat tidak biasa. Padahal, tadi pagi sebelum keduanya pergi ke taman, mereka baik-baik saja bahkan terlihat sangat akrab.

 

Sempat ia bertanya pada Reinzi, tapi sepertinya anak lelakinya itu sama halnya dengan mereka, tidak ingin di ganggu. Ia mengangkat bahunya tinggi-tinggi, seakan tidak peduli akan perubahan sikap mereka. Mereka capek habis jalan-jalan, mungkin.

 

Kini, mereka menikmati sarapan dalam diam. Tak ada acara rebut-rebutan makanan seperti hari-hari biasanya. Bahkan Reinzi – anak itu diam seribu bahasa di tempat duduknya dan hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa ia sentuh sedikitpun.

 

Mom? Aku tidak ingin makan. Aku ingin tidur,” Reinzi mendorong kursinya kebelakang dan berjalan menunduk menuju kamarnya.

 

Semua orang di tempat itu terheran-heran melihatnya. Apalagi Reina, wanita itu menangkap sesuatu yang tidak beres dengan anaknya. Tidak biasanya ia seperti itu.

 

“Kalian lanjutkan saja makannya. Aku menyusul Reinzi kekamarnya.”

 

***

 

“Sayang, ada apa? Ayo cerita sama Mommy,”

 

Dengan penuh kasih sayang Reina mengelus-elus rambut jatuh Reinzi. Sebelumnya, ia berfikir bahwa anaknya ini benar-benar tidur di bawah selimut tebalnya. Tapi, nyatanya salah, ia malah duduk meringkuk di bawah ranjang dengan terisak kecil, menyembunyikan wajah polosnya dibawah sana.

 

Mommy …” Tangisnya pecah dan memeluk Reina erat “Akumerindukan Daddy,”

 

Daddy? Tanya Reina bingung “Bukankah ia ada disini … bersama kita,” Anak itu menggeleng cepat dan semakin menangis dalam pelukannya.

 

“Aku merindukan Ayah kandungku yang sebenarnya, Mom?”

 

Tubuh Reina membeku seketika. Entah mengapa, ia belum siap jika anak ini melontarkan pertanyaan itu padanya. Sakit hati ketika di campakkan itu tidak ingin di ulanginya kembali bersama orang itu. cukup baginya, hidup seperti ini bersama Reinzi dengan segenap kemampuan untuk menyayanginya.

 

Bahkan dulu, karena kerinduannya terhadap Ayah kandungnya itu, membuat Dong Hae dengan sepenuh hati mau membantunya dan memanggilnya ‘Daddy’. Tapi siapa yang menduga, jika hal yang selama ini Reina tanam kedalam lubuk hatinya, kini terkuak kembali hanya demi lontaran polos anak kesayangannya ini.

 

Kecewa, emosi dan sakit hati. Perasaan campur aduk itu tiba-tiba saja membuat ia menangis. Ia memang egois dan jahat untuk ukuran seorang ‘Ibu’ untuknya. Tapi, jika melihat kenyataan yang ada, bahwa ia sudah di campakkan dan sudah tidak di butuhkan lagi, benar-benar membuatnya ingin berteriak histeris. Bahkan jika perlu, akan menyumpahi pria itu. tapi disisi lain, ia tidak akan sanggup melakukannya. Karena ia – Ayah Reinzi.

 

“Tenanglah sayang? Ada Mommy disini …”

 

***

 

Setelah menenangkan Reinzi hingga tertidur, Reina keluar kamar dan melihat Dong Hae sedang berbaring di sofa sambil memijit pelipisnya. Pria itu berkali-kali mengubah posisi tidurnya mencari tempat yang nyaman dengan gusar. Reina berjalan mendekatinya dan sedikit memperbaiki letak bantal sofa itu agar membuatnya nyaman.

 

“Na-ya?”

 

Dong Hae tersentak kaget, saat tangan halus Reina memperbaiki tatanan rambut yang menutupi pelipisnya. Wanita itu tersenyum lembut menanggapinya.

 

“Bagaimana keadaannya. Dia baik-baik saja, ‘kan?” Dong Hae bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Reina.

 

“Ne.” Jawab Reina menunduk “Tadi ia menanyakan tentang siapa Ayah kandungnya,”

 

Dong Hae terkesiap dan menggeleng pelan.

 

“Bukankah ia sudah melupakannya. Dan apa ini … kenapa ia bisa menanyakan soal pria brengsek itu,” Reina menggeleng samar, Dong Hae mendesah frustasi.

 

Berbagai pertanyaan muncul di benak pria itu. Apakah Hyo Shin sudah menjalankan rencananya? Tapi rasanya tidak mungkin, karena semenjak mereka tiba dari taman, pria itu sudah mengunci diri di dalam kamarnya. Lalu, kenapa tiba-tiba saja Reinzi bertanya seperti itu, jika memang ia tidak mendengarkan pembicaraan mereka tadi pagi.

 

Seakan di timpa batu yang sangat besar, tubuh Dong Hae melemas seketika. Ia ingat. Yah, Ia ingat jelas sesaat sebelum mereka sampai di rumah. Anak itu mendengar semua perbincangan mereka di taman tadi. Oh shit! Ingin sekali Dong Hae menangis. Tidak kuat jika nanti anak itu mencari Ayah kandungnya, dan tidak menutup kemungkinan bagi Reina untuk ikut yang otomatis meninggalkannya seorang diri.

 

“Oppa kenapa?” Tanya Reina saat melihat peluh dingin mengucur di wajah putih Dong Hae.

 

“Tidak … aku tidak apa-apa,” Dong Hae berdiri dari duduknya dan bersiap melangkah keluar mencari udara, hingga terdengar suara seseorang membuat langkah besarnya terhenti.

 

“Hai … Noona…”

 

 

TBC …..

 

Aduh kelamaan ya -,-  maaafff….!!!

Karena kesibukan saya yang tak pernah henti serta kondisi tubuh saya yang kemarin sempat drop, membuat saya sampai LUPA publish cerita ini. tapi … sebelumnya, Thanks For reader’s yang masih setia dan menyempatkan waktu berharganya membaca cerita hasil racikan asli otak saya ini. jeongmal jeongmal jeongmal gomawoooo*bow:*

 

Thank you so much and may God bless each word in your prayers^^ …

Advertisements

One thought on “[ Kyuhyun ] THREESHOT || Wish Someday – Part 2

  1. aku masih rada bingung chingu bukannya d part sebelumny reina ga hamil dan malah menikah dg donghae.. dan donghae berharap memiliki buah hati bersama reina bingung chingu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s