(ONESHOOT/ZHOUMI) So Goodbye

 

Tittle : So Goodbye

 

Author : Ginny Weasley

 

Twitter : @sarahn901

 

Cast :

-Song Qian (OC)

– Zhoumi

– Nickhun

 

Genre : Sad, romance

 

Lenght : Oneshoot

 

Rated : PG-17

 

Disclaimer : The original story pure of mine. All cast belong of themselves. Please! Don’t bash me and copy without permission *-*

Cover by. Nabila Solicha

 

 

 

 

“Cinta itu …

Adalah tetap tersenyum meskipun luka.”

 

“Ketika tetap bahagia, kendati hati menangis.”

 

 

 

Selaksa gemawan di tepi langit sana nampak bergerumul indah. Berbingkaikan akan sang biru yang memagutnya. Semuanya nyaris begitu indah. Tentang goresan alam yang Tuhan torehkan pada angkasa raya. Menadah sang mayapada dengan sejuta hiasan. Seindah cerita pelangi, ataupun rerintikan tirta bening yang turun dari atas sana. Oh, rasanya tak ada satupun kata yang mampu teruraikan. Akan kasih sayang Tuhan. Begitu nyata, hingga rasanya meruntuhkan dinding nadi. Tentang apa yang Dia ciptakan.

 

 

Seperti seorang gadis ini. Langkahnya begitu ringan layaknya senyuman yang terurai itu. Betapapun ia sedikit merasa bahagia. Ketika kata demi kata itu telah berderai tadi, selepas ia mencurahkan segalanya pada Tuhan. Yah, beberapa menit yang lalu gadis ini selesai dari kegiatan hariannya, yaitu ke Gereja. Song Qian, jujur ia merasa jauh lebih baik saat ini. Karena, ia tahu Tuhan telah mendengarkannya. Akan rintihan Qian tentang ranting kehidupan yang ia jalani. Rasanya pedih dan sakit, ketika seseorang itu kerap tak ada di sisi lagi. Tapi Qian selalu percaya dengan Tuhan. Tuhan pasti punya sesuatu yang indah setelah ini.

 

 

Drtt … Drtt …

 

 

Langkah Qian terhenti, meningkahi getaran pada ponsel yang ada di tas kecilnya. Pun ia menghenyangkan benda kecil itu pada telinga.

 

 

“Nde?”

 

 

“Kau dimana?”

 

 

“Baru saja dari Gereja, Khun-ie. Waeyo?”

 

 

“Aku menjemputmu yah?”

 

 

“Hey! Tidak perlu, kurasa sedikit berjalan di pagi hari ini cukup menyehatkan.” Gadis itu tersenyum.

 

 

“Kalau begitu aku juga mau berjalan-jalan.”

 

 

“Terserahmu.”Qian mendesah pasrah. Selalu saja, pria ini….

 

 

*****

 

 

Semilir angin dari utara sana, dirasakan Qian begitu menyejukan. Bertemakan perasaannya yang semaikan musim semi. Jemari itu begitu apik bergelut pada makanan yang ia buat sedari tadi. Ditatanya dengan rapih bento yang lucu itu. Lalu, tersenyum bahagia. Membayangkan akan reaksi seseorang itu akan apa yang ia siapkan ini. Ya Tuhan, sekedar mengingat pun ia bisa tak lepas untuk tak tersenyum seperti ini.

 

 

Tungkai kaki Qian beranjak, hendak mengayun jauh. Namun, sebuah suara khas lembut menyapa pendengarannya.

 

 

“Qian-ie?”

 

 

Qian membalikan badan sepenuhnya. Menatap wanita paruh baya yang paling ia cintai. “Nde, Eomma?”

 

 

“Kau mau kemana lagi?” Wanita itu tampak menurunkan tasnya. Lalu, mendorong kursi meja makan dan mendudukinya. Yah, wanita ini memang sehabis bepergian.

 

 

“Tentu saja aku …”

 

 

“Rumah sakit lagi?”

 

 

Qian terdiam sesaat. Menangkap raut wajah sang Eomma yang menurutnya tak seperti biasa. “Eomma kenapa bertanya seperti itu?”

 

 

“Qian-ie, kau sadarlah, Sayang.” Ucapan itu kali ini bernadakan getir.

 

 

Setitis perih seolah hadir di sini. Membuat Qian tak kuasa untuk tetap berpijak dengan baik. “Maksud Eomma apa?”

 

 

“Kau masih juga belum mengerti. Kau ini sudah dewasa, Sayang. Seharusnya, kau sudah berumah tangga seperti wanita seusiamu kebanyakan. Apa kau akan terus seperti ini, huh?”

 

 

“Cukup Eomma, kumohon. Tidak bisakah kau tidak membahas ini?” Telaga bening itu telah menggenang di sana. Qian menyekanya sebelum jatuh.

 

 

“Tapi Qian, Eomma hanya ingin melihatmu bahagia seperti gadis lainnya. Hanya itu, Sayang.”

 

 

“Itu bukan sebuah alasan yang tepat. Bagaimana mungkin, Eomma bisa seperti ini dengannya? Aku mencintainya, Eomma. Sangat!”

 

 

“Eomma mengerti, Sayang. Hanya saja …”

 

 

“Aku tidak ingin dengar. Aku pergi, Eomma.” Qian kini benar-benar melangkah pergi. Terlalu pedih rasanya, jika ia tetap bertahan di sini. Beralaskan perasaan yang tak karuan. Pun ia sebisa mungkin untuk tetap kuat melangkah.

 

 

“Setidaknya kau pikirkan perasaan seseorang yang masih menunggumu di sana, Nak. Ia begitu mencintaimu. Eomma yakin itu. Nickhun itu mencintaimu, Qian-ie.” Sayup sekali suara itu tergiang. Namun, tetap saja ia mampu mendengarnya. Seiring dengan langkahnya yang melemah. Ya Tuhan, apa benar seperti itu? Nichun, dia …

 

 

*****

 

 

Pun sang mentari di atas sana cahayanya mulai meredup kini. Mengukirkan merah saga di ujung langit. Yah, Senja itu telah datang. Menuai goresan langit yang berbeda dari sebelumnya. Tampaklah burung-burung itu pulang ke sangkarnya. Mungkin, itulah sekiranya selarik gambaran tentang saat ini. Akan pemandangan apa yang gadis itu lihat. Pada tirai putih itu.

 

 

“Ternyata waktu berjalan begitu cepat yah, Oppa.” Ucapan itu terdengar begitu lirih. Pandangannya pun kosong.

 

 

Selalu seperti itu, pria itu hanya mampu diam menyapa hening. Mendengar tiap kalimat yang berderai di sana. Pada sang empu berbibir ranum itu. Pertanyaannya adalah kenapa? Yah, kenapa? Zhoumi, pria berwajah mandarin itu sekarang bisa apa? Sekedar untuk bergerak pun sulit, apalagi membalas tiap ucapan gadisnya. Apakah mungkin bisa? Ya Tuhan, perih rasanya pabila melihat kelemahan ini.

 

 

“Ah, iyah Oppa. Aku tadi memasak untukmu, kau pasti bosan ‘kan hanya memakan bubur setiap harinya?” Kali ini Qian mengalihkan pandangannya. Menatap Zhoumi teduh. Zhoumi hanya mengangguk kecil membalasnya.

 

 

Qian tersenyum riang. “Aku tahu kau pasti suka.”

 

 

Detik selanjutnya, Qian membuka pengait kotak bekal itu. Lalu, menyumpitkan makanan hendak menyuapkannya ke Zhoumi. “Cah, aaa!”

 

 

Zhoumi menyambut itu, dikunyahnya makanan itu pelan. Qian juga menyuapkan makanan itu pada dirinya sendiri. Dan, begitu seterusnya. Dengan sesekali Zhoumi tertawa kecil, kala Qian terus saja berceloteh tentang harinya. Entah, itu hal yang menurutnya lucu ataupun menyebalkan. Yang jelas Zhoumi selalu siap mendengarkannya, meskipun tak bisa berbuat banyak. Hanya mampu mendengar, tanpa bisa melakukan selebihnya. Yah, keadaan. Itulah yang membuat Zhoumi seperti ini. Suatu kejadian yang merenggut semua impian dan kebahagian Zhoumi. Beberapa tahun yang lalu …

 

 

“Oppa kau ada dimana?” Seorang gadis tengah berdiri di sana. Gumaman itu terus saja merentas. Dengan jemari yang terus saja berkutat pada ponselnya. Bagaimana mungkin ia bisa tenang? Sedangkan, seseorang itu belum ada kabar hingga kini?

 

 

Angin laut itu nampak menyibak ujung gaun merah panjangnya. Pun anak rambutnya ikut terayun-ayun. Song Qian, gadis itu gundah. Sebenarnya, beberapa saat lalu Qian dan Zhoumi sedang makan malam bersama saat ini. Di bibir pantai pulau Jeju.

 

 

Namun, pria itu bilang akan pergi sebentar. Entah, karena apa? Lagi-lagi Qian menghela nafasnya. Ketika seseorang itu bak menghilang di telan bumi.

 

 

Hingga seketika …

 

 

Qian mengeliat. Meningkahi sapuan lembut yang menerpa bahu telanjangnya. Zhoumi, pria itu mencium bahu Qian lembut. Gadis itu merenggut lucu. Lihat, pria berparas polos itu, ia bahkan bersikap seolah tak terjadi apa-apa!

 

 

“Kau ini kemana saja, huh? Aku bahkan seperti patung yang dipajang di mall-mall. Seorang diri dengan gaun seperti ini!” Qian mendekap kedua tangannya di dada. Menatap Zhoumi dengan memicing intimidasi.

 

 

Pria itu terkekeh, ditariknya hidung Qian gemas. Gadis itu mendengus sebal. “Ada sesuatu yang tertinggal Qian yang cantik. Ini penting.”

 

 

“Begitukah?” Zhoumi hanya mangangguk saja membalasnya.

 

 

“Huh, sudahlah! Aku ingin pulang. Aku lelah, Oppa.” Baru saja Qian hendak berbalik arah. Namun, tangan Zhoumi menariknya.

 

 

Kini tubuh itu saling bersentuhan lekat. Tampaklah pria itu memiringkan wajahnya. Menggapai bibir gadisnya. Awalnya Qian tak ingin melakukannya, karena masih terbersit rasa kesal dengan Zhoumi. Namun, akhirnya ia larung akan hal itu. Seiring dengan sentuhan Zhoumi yang terus saja menahan tengkuknya. Pun ia akhirnya menyerah. Mengikuti permainan pria ini. Zhoumi tersenyum di sela-sela itu. Tercipta letupan-letupan kecil di sana. Pada aliran darah Qian yang berdesir hebatnya. Meskipun, ini bukan pertama kali. Namun, tetap saja. Relung hatinya menitahkan seperti itu. Merona akan bahagia.

 

 

Masih dalam keadaan yang sama. Dengan wajah yang begitu dekat. Tangan Zhoumi merangkum wajah Qian dalam, seolah membiaskan sejumlah perasaannya melalui netra itu.

 

 

“Kau mau tahu, apa hal yang terpenting itu, Qian?” Gadis itu menggeleng lemah. Masih hanyut dalam setiap sentuhan tangan Zhoumi serta tutur halus yang menggetarkan nadinya.

 

 

Zhoumi memandangi wajah Qian tiada berkesudahannya. Sebelah tangannya terulur, merogoh sesuatu yang ada pada kantung jasnya. Pria itu perlahan menurunkan badannya. Berlutut dihadapan gadisnya yang terganga tak mengerti.

 

 

Gadis itu nyaris menangis. Tangannya mengatupkan bibir seolah tak percaya. Akan apa pria itu lakukan saat ini. Disana, pada tangan Zhoumi terdapat sebuah kotak kecil merah dengan tersematkan satu cincin bermatakan berlian indah membentuk gelombang ombak. Ya Tuhan, gadis itu bahkan tak mampu untuk menyuara kini. Hanya bening itulah yang menjawab, betapa ia sungguh bahagia saat ini. Ya Tuhan, ini begitu indah….

 

 

“Song Qian-ie. Aku tidak tahu harus berkata apa? Aku hanya mengikuti atas apa yang hati ini katakan. Tentang ia yang selalu menyebut namamu, hanya ingin melihat kau tetap tersenyum. Dan, hidup denganmu dalam waktu yang sangat lama. Qian, aku sungguh mencintaimu. Demi apapun, sangat! Sayang. Aku hanya ingin berakhir denganmu. Qian, will you be my destiny? Please!” Zhoumi tersenyum penuh artian kearah Qian.

 

Qian hening sekian lamanya. Oh, betapa kebahagian itu terasa kini. Zhoumi dengan segala perangainya. Bahkan, rela menyiapkan semua ini untuknya. Ketika Zhoumi memperlakukannya begitu istimewa seperti ini. Tubuhnya, serasa tak menapak kini, melayang jauh ke udara bebas.

 

 

Tanpa di perintah, pun akhirnya gadis itu mengangguk. Membalas tiap tatapan seseorang itu yang sarat akan kesungguhan. “Yes, I will.”

 

 

Zhoumi tersenyum. Tak butuh beberapa menit berlalu, hingga ia menyelipkan cincin itu pada jemari mungil Qian. “Aku tahu kau akan mengucapkan hal itu.” Ditariknya tangan Qian pada permukaan bibir, mengecup lembut.

 

 

Detik selanjutnya, Zhoumi merengkuh tubuh Qian erat. Memilin bahagia itu di sana. “Jebal, terima kasih Qian. Aku bahkan tak tahu mengutarakan perasaan bahagia ini.”

 

 

“Aku yang harusnya berterima kasih, Oppa. Kukira kau tak akan melakukan hal sejauh ini.” Pundak- pundak langit hati Qian seolah meronakan pelangi kala ini.

 

 

“Kau salah, Qian. Maaf jika membuatmu bingung dan tak mengerti.” Tatapan Zhoumi menyayu, seiring dengan terlepasnya rengkuhan itu. Ingatan itu merunut. Tentang ia yang cenderung selalu mementingkan kariernya sebagai CEO muda, di samping hubungan ia dengan Qian yang kian merenggang.

 

 

“Hey! Aku mengerti, Oppa. Aku juga salah di sini.” Qian menyentuh wajah Zhoumi lembut.

 

 

“Kau mau ‘kan memulainya lagi?”

 

 

“Tentu saja, Oppa. Aku bahkan tak punya alasan untuk menolak.” Lagi. Penyatuan itu terjadi. Ketika Zhoumi tiada hentinya memahat habis tiap udara yang diembuskan Qian.

 

 

Yah, terlalu bahagia. Ia nyaris saja tak bisa mengontrol dirinya saat ini. Syukurlah, Qian mengerti akan itu. Ditahannya tubuh Zhoumi dengan tangan. Seolah mengucapkan hentikan! Aku kehilangan sedikit banyak oksigen.

 

 

“Maafkan aku…” Zhoumi mengaruk tenguknya. Kikuk.

 

 

Gadis itu sedikit terengah. Lalu, tersenyum kembali. “Tidak apa-apa.”

 

 

“Oh, astaga! Aku meninggalkan sesuatu?”

 

 

Qian mengeryit. “Ada apa lagi?”

 

 

“Aku harus pergi sebentar. Kumohon, jangan kemana-mana, Qian.” Zhoumi menangkup kedua bahu Qian. Menatap pernik netra hitam itu lamat.

 

 

“Tapi… ”

 

 

Pria itu mencium kening Qian lembut. “Aku hanya sebentar.”

 

 

“Oppa!” Dilihatnya pria itu berlari menjauh. Entah, apa yang akan ia lakukan?

 

 

Baru saja gadis itu hendak menarik badannya untuk berbalik dan mengayunkan langkah. Namun, tiba-tiba …

 

 

BRAK

 

 

Tubuh Qian sontak menegang ketika terdengar dentuman nan begitu mengemma keras. Ia langsung membalikan badannya cepat. Ya Tuhan, rasanya ingin mati saja saat ini. Ketika sorot mata ketakutan itu menjelma di sana. Seseorang itu tergolek lemah di tengah jalan, lumuran darah menyelimuti tiap inci tubuh putih itu. Zhoumi, dia …

 

 

Mobil yang menabrak prianya, telah pergi entah kemana. Song Qian. Gadis itu histeris detik itu juga.

“OPPA!”

 

 

Zhoumi mengercap beberapa kali. Merasakan sentuhan halus pada epidermis kulitnya. Yah, Song Qian, gadis itu menyentuh pipinya.

 

 

“Oppa, kau melamun?” Zhoumi hanya menggeleng membalasnya. Sekarang, apa yang bisa diharapkannya lagi? Ia merasa tak ada gunanya lagi ia tetap hidup. Ia hanya menambah pikiran dan beban Qian saja. Lalu, apa bedanya ia dengan mayat hidup. Sama, bukan? Hanya nyawalah yang setidaknya mengartikan, bahwa ia masih hidup.

 

 

“Memikirkan apa, huh?” Kembali. Gadis itu berucap dengan lembutnya. Dengan sesekali Qian menyisirkan tangannya pada helai rambut Zhoumi.

 

 

“Oppa, kau harus tahu? Aku begitu mencintaimu, meskipun kau seperti ini sudah empat tahun lamanya. Tapi, aku tidak peduli. Karena, yang aku tahu. Aku selalu mencintaimu, Oppa. Entah itu kemarin, sekarang atau waktu yang akan datang. Percayalah,” ucap Qian. Seolah mampu mengeja tiap artian tatapan sendu Zhoumi.

 

 

Bening itu bercucuran di sana. Pada pelupuk mata Zhoumi. Terlalu terenyuh rasanya, melihat ketulusan gadis itu. ‘Ya Tuhan, aku bahkan rela jika kau ingin mencabut nyawaku saat ini juga. Tapi, aku ingin memastikannya bahagia dulu. Setidaknya, sebelum aku pergi dari dunia ini.’ Zhoumi membatin.

 

 

“Jangan menangis.” Tangan Qian teralih, menyeka air mata Zhoumi.

 

 

“Sekarang, aku harus pergi dulu yah, Oppa. Kau harus tahu, Tuhan pasti melihat kita dari sana. Kau harus percaya dengan kuasa-Nya. Karena, Tuhan tak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya.” Ucapan itu begitu teduh Zhoumi rasakan di relungnya. Nyaris saja ia ingin menangis lagi.

 

 

Zhoumi mengatupkan matanya rapat. Taatkala dirasakan sapuan hangat pada dahinya. Song Qian, kini ia mengecup kening Zhoumi lembut. Ia melakukannya bukan karena apa-apa. Melainkan, lantaran mengikuti Zhoumi saat itu. Ia selalu mencium kening gadisnya, di saat Qian lemah dan tak mampu menguraikan kepedihan.

 

 

“Kau jangan berpikir apa-apa lagi. Karena, sampai kapanpun aku tak pernah meninggalkanmu.” Qian membisikan ucapan itu tepat di telinga Zhoumi. Dibenamkanya kepala itu di sela-sela leher jenjang Zhomi cukup lama. Seolah memberikan ketenangan akan apa yang dilakukannya ini.

 

 

Kembali. Zhoumi mengatupkan matanya, kala nafas hangat Qian yang menerpa dinding lehernya. Aroma tubuh Qian dihirupnya nan menyejukan. Selalu seperti itu. Jujur, ini benar adanya. Ia pasti akan merasa lebih baik setelah ini.

 

 

*****

 

 

Pembawaan Qian yang tenang dan selalu ceria. Itulah yang membuat Nickhun tak lepas dari sosok gadis itu. Hanya ingin tetap di sisinya. Itulah keinginan sederhana Nickhun, ia bahkan tak berani untuk melangkah lebih jauh lagi. Sudah cukup rasanya. Hanya sebatas ini.

 

 

Nickhun mengayunkan langkahnya ringan. Hari ini ia ingin bertemu gadis itu. Yah, beberapa jam yang lalu Qian mengirimkan pesan teruntuknya untuk bertemu di sini. Pada Restoran favorit Qian dan Nickhun, keduanya memang mempunyai minat yang sama akan satu makanan, yaitu Samgyeopsal. Entah, ini hanya takdir ataupun kebetulan. Nyatanya banyak sekali persamaan yang di miliki Qian juga Nickhun. Bahkan, Nickhun ingat betul bagaimana reaksi Qian saat itu. Ketika ia membelikan Qian sebuah boneka ulat yang diberi nama Ireumi.

 

 

Oh, astaga! Rasanya tak ada kebahagian yang lebih dari pada itu, kala Nickhun melihat kegembiraan yang ditunjukan Qian. Nickhun, pria itu tersenyum. Taatkala menangkap sosok Qian yang telah duduk di sana, tepatnya di ujung sisi kanan restoran.

 

 

Nickhun menarik kursi dihadapan Qian dan mendudukinya.“Kau sudah lama?”

 

 

“Tidak, baru saja.” Qian tersenyum simpul.

 

 

“Omong-omong ada apa? Tidak biasanya kau meminta bertemu secara resmi seperti ini.” Qian nampak masih sibuk dengan buku pesanan yang ada di tangannya. Pria itu sedikit mendecak, karena sadar ia tak diacuhkan. Hey! Bukankah dia sudah hafal benar tentang makanan favorit Nickhun?

 

 

“Qian-ie, ada apa?” Lagi. Pria itu menyuara tak jenuh.

 

 

Qian mengangkat sebelah tangannya. Lalu, menunjukan pesanannya pada seseorang pelayan yang menghampiri. “Yang ini saja yah.”

 

 

Pelayan itu telah pergi detik yang lalu. Nickhun berdengus kesal. Menatap Qian tak mengerti.

 

 

“Maaf Khun-ie, aku …”

 

 

Nickhun memutar bola matanya malas. “Jadi sekarang kau sadar ada orang di depanmu?”

 

 

Bukannya menjawab atas ucapan Nickhun, gadis itu justru terdiam dengan pandangan tak berarah.

 

 

“Qian-ie?” Nickhun mengengam jemari Qian lembut.

 

 

“Ah, i … Iyah?”

 

 

“Kau ini kenapa, huh? Apa ada masalah?” Ucapan itu teruraikan begitu lembutnya. Menorehkan seberkas rasa pada relung Song Qian yang gamam.

 

 

“Khun-ie, apa aku boleh bertanya sesuatu? Tapi, kau janji harus berkata jujur.” Kali ini Nickhun bergeryit. Menatap air muka Qian yang sepertinya benar serius.

 

 

“Kau ini kenapa …”

 

 

“Bisakah kau hanya mendengarkannya saja?”

 

 

“Huh, baiklah-baiklah. Cah, tanyakan saja!”

 

 

“Kau tahu kan? Kau, aku dan Zhoumi sudah bersahabat sejak lama. Bisakah kau jujur padaku? Khun-ie, apa … Apa benar kau mencintaiku?”

 

 

Nickhun sontak tercenang. “Huh?”

 

 

“Aku hanya ingin mendengar dari bibirmu langsung, Khun-ie.”

 

 

Antara yakin ataupun tidak. Nickhun bingung untuk berucap. “Aku …”

 

 

“Kumohon!” Tatapan gadis itu menghiba kearah Nickhun. Lalu, membalas mengenggam tangan Nickhun.

 

 

“Qian-ie, selang beberapa tahun lamanya. Apa kau baru sadar?” Qian sontak saja membatu mendengarnya. Ya Tuhan, bagaimana mungkin?

 

 

“Aku bahkan mencintaimu sebelum Zhoumi berpacaran denganmu Qian. Awalnya, aku ingin mengutarkan ini, hanya saja… Zhoumi telah lebih dulu melakukannya. Lalu, aku bisa apa? Kau juga menyambut baik ucapan cinta Zhoumi ‘kan? Kau tak pernah melihat kearahku, Qian. Setiap waktu kau terus saja ingin selalu bersamanya. Sejak saat itu aku sadar, bahwa kau memang bukan teruntukku. Tapi, dia. Aku juga telah berusaha membenamkan perasaan ini, tapi tetap saja. Semakin aku menyerah, malah membuatku semakin ingin tetap di sampingmu. Melihatmu dari jarak sedekat ini, tanpa pernah berharap lebih. Aku sadar sepenuhnya, Qian. Di hatimu hanya ada Zhoumi. Lagipula, aku sudah cukup bahagia, Qian. Karena, setidaknya aku masih bisa melihatmu lebih lama.” Nickhun tersenyum setelah mengucapkannya. Menguatkan hati supaya terlihat baik-baik saja.

 

 

Sementara Qian, gadis itu mengatupkan matanya yang memanas. Menahan getir. Ya Tuhan, ini… Apa ini mimpi? Kenapa aku merasa sangat kejam? Bagaimana mungkin ia mampu menahan perih seperti itu?

 

 

“Khun-ie, aku …” Qian tak mampu menyuara jauh. Pedih rasanya relung hati ini. Tentang menghadapi kenyataan yang ada.

 

 

“Hey! Jangan menangis, Qian. Kau tidak salah di sini. Kau tidak pernah tahu, bukan?” Masih dengan tatapan yang sama. Nickhun menatap gadis itu teduh, seolah tak pernah mengatakan rasa perihnya.

 

 

“Aku harus pergi!” Bening nun meluruh itu disekanya cepat. Beranjak dari peraduan kursi dengan perasaan yang carut-marut. Rasanya, ia tak kuat lagi jika tetap berada di sini.

 

 

“Qian, kau mau kemana? Song Qian!” Gadis itu berlari begitu saja. Tak diindahkannya sama sekali panggilan Nickhun yang terus saja memanggil.

 

 

“Qian, apa aku menyakitimu?” Nickhun menatap punggung gadis itu muram. Terjerembab akan lara.

 

 

*****

 

 

Pendaran jingga pada langit sana tampaklah mencerup tepat di ujung langit sana. Mencarak akan rona merah nan menyelimuti bumi. Dipupusnya sang awan bergerumul layaknya remah-remah. Merajut langit sore sebagai mana mestinya. Yah, lukisan alam berganti waktu tiap saatnya. Namun, kenapa begitu sulit tentang kehidupan yang sebenarnya. Sesuatu itu tak akan dengan mudahnya berubah, seperti keadaan.

 

 

Song Qian, gadis itu gamam akan dunianya. Semua terasa mengeruhkan, tak ada seberkas celah setitispun.

 

 

“Ya Tuhan, kenapa seperti ini? Di satu sisi aku masih mencintainya, sangat! Namun, di sisi lainnya, aku pun tidak bisa menyakiti hati orang lain lebih dalam lagi. Apa yang harus kulakukan? Tuhan….” Lirih sekali suara itu terdengar. Selirih perasaan Qian saat ini, tentang dia dan arah angin hatinya.

 

 

“Kau hanya perlu melihat kedepan, Sayang. Pikirkan apa yang menjadi kebahagianmu nanti.”

 

 

“Eomma?” Gadis itu menatap sang Eomma yang berjalan kearahnya. Sayu.

 

 

“Kebahagian itu terletak pada dirimu sendiri, Sayang. Eomma yakin Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Dan, satu hal lagi. Cinta itu bukan hanya tentang saling memiliki, Sayang. Tapi lebih kepada bagaimana cinta itu membuatmu menjadi sosok yang lebih bahagia. Bukan sebaliknya.”

 

 

“Aku bingung harus apa, Eomma?” Qian membenamkan kemelut itu di sana. Pada rengkuhan hangat Eommanya.

 

 

*****

 

 

Serangkum angin tampaklah menyibak pada tirai berhiaskan nuansa putih itu. Embusannya berayun terserak, menyelusup pada dinding berongga. Pun tak ayal wajah cantik itu diterpanya tak terkecuali. Mungkin, benar pada akhirnya ia mampu untuk memutuskan akan jalan kisah. Namun, tetap saja. Perih itu ada, merintik dalam pada ceruk hatinya. Waktu seolah dirasakannya hampa, nyaris tanpa ada keceria lagi.

 

 

Bagaimana mungkin, ia tak bisa menahannya lagi? Sementara wajah seseorang itu, telah tersemat cukup lama. Dua minggu sudah berlalu, setelah pertemuan terakhir Qian dengan Zhoumi. Ya Tuhan, entah bagaimana keadaan ia sekarang? Apa dia baik-baik saja?

 

 

“Nona, maaf.” Qian hanya mengangguk saja. Ketika wanita itu menaruhkan selubung menutupi seluruh wajahnya. Ini benar adanya. Hari ini nyata, ketika Qian menyerahkan hidupnya pada Nickhun. Yah, pada pernikahan suci.

 

 

Meskipun, berat. Tapi, Qian harus melakukannya. Karena, mungkin ini takdir Tuhan yang telah tersirat. Akan jalan hidupnya kelak. Penantian itu seolah terbuang jauh, menyisakan luka yang teramat sangat perih. Jujur, Qian tak ingin benar-benar melakukannya. Hanya saja …

 

 

“Nona, maaf ponsel anda berbunyi.” Song Qian, gadis itu tersadar akan lamunannya. Seorang penata rias itu menyerahkan ponsel kehadapan Qian.

 

 

Gadis itu menghela nafasnya sekilas. Menaruh ponsel itu pada indera pendengarannya. “Yah?”

 

 

“APA?” Qian langsung berdiri pada detik itu juga. Menyikap gaun panjangnya, lalu berlalu pergi dari ruangan itu seketika.

 

 

“Nona! Nona Qian? Mau kemana?!”

 

 

*****

 

 

“Oppa?”

 

 

Seseorang itu mendelik kearahnya. Ia tersenyum begitu teduhnya. Ia tengah terduduk tenang di sana, pada bangku taman rumah sakit. Merasakan bias lelembut angin yang menerpa wajah tirusnya.

 

 

“Qian, kemarilah!” Titah itu membuat gadis itu kembali melangkah. Ia sesekali merundukan kepalanya, menyembunyikan perih itu dalam. Betapapun ia tak peduli lagi rasanya, hanya ingin melihat seseorang itu dengan segera. Ketika ucapan itu terdengar, kala pihak rumah sakit menghubungi Qian bahwa Zhoumi sudah pulih sepenuhnya.

 

 

“Jebal, maafkan aku, Oppa. Maafkan aku….” Qian membenamkan wajahnya pada tangan di pangkuan pria itu. Sekedar untuk duduk di sampingnya pun, Qian merasa tak pantas. Ia berlutut pilu dihadapan Zhoumi. Meniti akan gurat sesalnya.

 

 

“Qian, jangan seperti ini, Sayang. Bangunlah.” Zhoumi merangkum bahu Qian, membantu gadis itu untuk duduk di sampingnya.

 

 

“Qian tenangkan dirimu dulu, nde. Aku pasti akan mendengarnya.”

 

 

Masih dalam sesegukan. Gadis itu mencoba menyuara. “Oppa, aku …”

 

 

Zhoumi menarik kepala Qian pada bahunya. Dielusnya tubuh yang bergetar itu lembut. “Qian, dengarkan aku baik-baik. Kau sudah benar, Sayang. Kau benar melakukan ini. Kau terlalu lelah menunggu, iya ‘kan?”

 

 

“Oppa tidak seperti itu. Demi Tuhan, aku hanya mencintaimu. Akan terus seperti itu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya, ketika aku hidup tanpa mendengar suaramu. Tanpa rengkuhan hangatmu, rasanya aku ingin mati saja, Oppa. Ketika kau koma bertahun lamanya, hanya bisa melihatmu terdiam membisu. Aku pun hanya bisa menutup mataku, Oppa. Membayangkan kau memelukku dan merasakan hangatnya nafasmu. Jujur, rasanya sakit Oppa. Demi apapun, mataku hanya akan melihatmu, Oppa. Hanya kau saja….”

 

 

Zhoumi menyeka setitis bening yang hadir di sudut matanya. Menggantikan dengan senyuman segaris. “Qian, kau tahu, kenapa Tuhan membuat aku sembuh?” Qian diam lamanya. Tak mengerti akan arah ucapan Zhoumi.

 

 

“Karena, supaya aku bisa melihatmu bahagia, Qian. Melihat kau bersanding dengan orang yang tepat.”

 

 

Gadis itu sontak menegang. Dengan tirta bening yang telah menganak di sana. “Maksudmu apa, Oppa?”

 

 

“Aku tahu, waktuku begitu singkat, Qian. Tanpa kau ucapkan seperti itu pun, aku selalu percaya. Kau tidak seperti itu. Mulai sekarang kau hiduplah dengan baik, Qian. Karena, aku akan bahagia di sana. Melihatmu tetap tersenyum dan tertawa dengan riangnya. Kau juga harus terbiasa untuk hidup tanpaku. Kau bisa Qian, kau pasti bisa. Aku begitu beruntung karena sempat memilikmu, Qian. Melewati setiap harinya hanya denganmu. Sedetikpun, tak pernah terbersit rasa sesal. Aku mencintaimu, Qian. Sangat! Selamat tinggal, Qian-ie. Aku benar-benar akan pergi jauh. Membawa kisah kita yang membuatku tersenyum.”

 

 

“Oppa, kumohon …”

 

 

Belum sempat ucapan itu terurai jauh. Alih-alih Zhoumi menyelanya lembut. Menyentuh bibir itu dengan lembutnya. Rasanya sungguh berbeda, begitu perih hingga ke seluruh arah. Bersandarkan kelabu. Desau sejuk angin dirasakan keduanya getir menyapa. Betapa tidak? Perpisahan itu seakan di depan mata keduanya kini. Namun, mereka tak bisa melakukan apa-apa.

 

 

Song Qian terasa tubuhnya sangat rapuh kini. Taatkala tangan Zhoumi mulai terhempas lemah dari tubuhnya. Deruan nafas hangat itu pun tak dirasakannya lagi. Ya Tuhan, kumohon….

 

 

“Oppa!” Gadis itu bergumam dalam dera. Seiring dengan tubuh Zhoumi yang mulai jatuh dalam rengkuhannya.

 

 

“Oppa, kumohon….”

 

 

Isakan demi isakan itu menguar kini. Merintik akan kepergiannya yang menanamkan sejuta nestapa. Tepat mengoyak sang kalbu. Ya Tuhan….

 

 

 

FIN

 

 

A/N : Mungkin benar tak selalu, ada akhir yang bahagia. Termaksud kisah ini. Tapi satu hal, kebahagia itu sesungguhnya ada. Entah itu sebelum atau sesudahnya. Setidaknya, pernah ada. Karena ini buat ff didedikasikan buat uri Zhoumi, jadi aku akan tetep ngucapan. ‘Happy Birthaday, Oppa’. Meskipun, saat itu sedikit kecewa sih gak bisa ngucapin semeriah biasanya. Seperti kalian, aku juga menghargai mereka. And, Gomapseumida dear ^-^

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s