[ Kyuhyun ] ONESHOT || Impossible

 

                        [ONESHOOT] || KYUHYUN || ~*“ Impossible”*~

                                                                                                                                

Author     : Winter || Facebook

Title          : Impossible

Genre       : Marriage Life, Romance, Hurt

Lenght     : Oneshoot

Rating     : G

Twitter  : @believe3424

Cast       : Reina Kim

                  Cho Kyuhyun

                  Lee Donghae

 

Soundtrack song :

*Impossible – James Arthur

*Broken Hearted Girl – Beyonce

 

 Desclaimer  : Sebelumnya terimakasih buat admin IFA yang telah mau memposting FF aneh ini di SJFF. Dan FF ini sudah pernah saya share di akun FB saya. This is my fanfiction. The story of my work alone. Please read, enjoyed with a relaxed because Just for fun..ok!

 

Happy Reading…

 

Jika mencintaimu merupakan suatu keharusan-ku untuk pergi meninggalkanmu, maka aku akan melakukannya. Mencintai dalam sepinya ruang rindu, meyakinkan diri menjadi prioritas hati dengan kebahagiaanmu dalam hidupku. [Reina Quetos]

 

Jangan menyerah dan tetaplah berdiri di sampingku. Menuntun di saat aku terpuruk dalam keadaan yang membuatku jatuh dalam lubang kesepian. Aku mencintaimu. Tak peduli seberapa banyak orang yang menentang, aku akan tetap mempertahankanmu. [Kyu Hyun Quetos]

 

 

 

_This is story part begin_

 

Sapuan angin malam diiringi dengan suara petir yang menggelegar dan hujan deras yang membasahi bumi kota Seoul membuat para pengunjung maupun warga setempat lari terbirit-birit mencari tempat yang teduh untuk menghangatkan tubuh mereka masing-masing.

Nampak seorang gadis duduk bertopang dagu di salah satu caffe dengan ekspresi sedih menatap keluar jendela. Wanita itu tidak memperdulikan hiruk-pikuk caffe yang di tempatinya kini telah di penuhi oleh orang-orang yang memesan coffe dan makanan lainnya yang bisa menghalau rasa dingin yang mendera.

Wanita itu – Reina, tetap masih pada posisi yang sama tanpa berkutik sedikit pun dari tempatnya. Entah apa yang mengganggu pikirannya.! Wanita keturunan jepang – korea ini sesekali menatap malas dengan makanan yang ada di hadapannya tanpa berniat untuk memakannya.

Padahal semenjak tadi pagi sebelum kejadian beberapa jam yang lalu, Reina sangatlah lapar. Tapi setelah mendengar kabar buruk itu membuat nafsu makannya hilang dan konsestrasi-nya di kantor buyar.

Satu hal yang selama ini ia jaga, akan berakhir sia-sia hanya karena tuntutan yang wajib ia penuhi sebagai seorang istri.

Yah, gadis cantik perawakan ala model ini sudah menikah satu tahun yang lalu dengan pria yang mampu meluluhkan hatinya dalam sekejap. Siapa yang tidak menduga jika gadis manis dan sangat keras kepala ini bisa luluh dengan pria pemilik Cho Corporation’s – sebuah perusahaan terbesar di seluruh jagat korea bahkan sudah meluas ke negara-negara tetangga lainnya.

Cho Kyu Hyun – nama pria ini tercetak jelas di seluruh media masa saat pertama kali ia melamar bahkan sampai menikahi Reina. Tapi siapa sangka jika pernikahan yang selama dua tahun ini ia jaga harus berakhir hanya karena ketelodorannya yang tidak bisa menjaga calon bayi-nya sehingga mengakibatkan ia keguguran.

Reina bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu akan cara menjaga calon bayinya dengan baik. Hanya saja karena tugasnya sebagai di rektur muda yang memimpin perusahaan yang bergerak di perbankan membuat ia harus membagi waktu dan mengurus semuanya dengan sendiri.

Meski memiliki suami yang sangat kaya tapi Reina tidak ingin selalu bergantung padanya. Ia sudah terbiasa menjalani hidup seperti ini walaupun disisi lain Kyu Hyun – suaminya itu selalu memintanya untuk berhenti bekerja.

Semenjak peristiwa yang menimpanya beberapa bulan yang lalu, membuat sikap dan perhatian ibu dan ayah mertua-nya semakin teralih. Bahkan tadi pagi ibu mertuanya itu menghubungi-nya karena ingin bertemu.

Dengan sangat terpaksa Reina meninggalkan meeting bersama klien-nya saat itu. Ia tidak ingin ibu yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya itu akan marah hanya karena lama menunggu kedatangannya.

Setelah tiba, Reina memasuki rumah bergaya klasik itu dengan langkah lebar. Reina sangat terkejut, ketika melihat ruang keluarga yang biasa ia menghabiskan waktu bercanda ria dengan mertuanya kini sudah ada orang lain di sana.

Seorang gadis cantik bermata sabit dan rambutnya sebahu duduk berdampingan di sebelah Kyu Hyun. Reina mengernyit saat ibu Kyu Hyun tersenyum tulus pada gadis itu tanpa menghiraukan kehadirannya.

“Ada yang ingin kami bicarakan dengan kalian,” Suara ibu Kyu Hyun terdengar parau. “Demi menjaga kelangsungan perusahan kita, Eomma dan Appa sudah memutuskan agar Kyu Hyun menikah lagi dengan gadis pilihan kami.”

Reina terhenyak menatap tak percaya dengan ucapan ibu mertua-nya itu. Kyu Hyun yang sudah tahu akan maksud ibunya pun hanya menunduk tanpa berani menatap Reina yang memandangnya meminta penjelasan lebih.

“Eomma..”

“Ini sudah menjadi keputusanku. Terserah kau ingin di madu atau ingin bercerai dengan anakku. Itu hakmu.” Nada suara ibu Kyu Hyun bagaikan tamparan angin baginya. Terdengar ketus dan menyakitkan hatinya.

“Acaranya akan di laksanakan akhir minggu ini.”

 

***

 

“Hey…”

Reina tersentak dari lamunannya dan dengan malas mengubah posisinya menatap orang yang mengagetkannya itu.

“Oppa..” Dengan gerak cepat ia langsung berhamburan kepelukan pria itu dan memeluknya dengan erat.

“Waeyo? Apa ada masalah? Apa lagi yang pria itu lakukan eoh?” Tanya orang itu dengan nada tak biasa. Sangat khawatir.

“Akhir minggu ini ia akan menikah lagi oppa?” Lirih Reina. “Aku tidak tahu apakah ini akhir dari janji suci pernikahan kami atau awal dari penderitaanku tinggal bersamanya dengan wanita lain. Aku tidak rela jika melihat suamiku berbagi dengan wanita lain tanpa aku berbuat apa-apa. Sungguh aku tidak ingin.” Pria itu mengelus lembut punggung Reina. Menenangkannya.

“Jika kau tidak mampu untuk bertahan maka pergilah. Tinggalkan semua kenangan kalian tanpa harus mengingatnya lagi jika itu membuatmu sakit karenanya. Aku disini menunggumu Na-ya?”

Reina melepaskan pelukannya, menatap sayu pada pria pemilik senyum manis dan mata teduh itu. Ia tahu, bahkan sangat paham dengan ucapan pria itu. Sosok yang selalu menunggunya meski ia tahu Reina sudah di miliki oleh orang lain yang bisa melindunginya dan menjaganya dengan baik.

Tapi pria itu tidak pernah lelah atau bosan dengan semua penolakan serta alasan yang mungkin bisa membuatnya mundur. Tapi apa? Ia kembali lagi padanya dengan lontaran kalimat yang sama persis ia ucapkan satu tahun yang lalu sebelum menikah dengan Kyu Hyun.

“Oppa..”

“Jangan menyuruhku untuk pergi lagi Na-ya? Ku mohon biarkan aku tetap disisimu tanpa luka yang membuatmu sakit. Aku bisa membahagiakanmu, melakukan apapun untukmu jika kau menahanku untuk tetap disini.”

“Oppa… Aku..”

 

***

 

Seorang pria berjalan dengan terburu-buru menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia tidak mempedulikan sapaan hormat dari beberapa maid yang di lewatinya. Ia tetap berjalan lurus dengan angkuhnya melewati anak tangga dengan raut wajah yang sulit di artikan.

Pria itu – Cho Kyu Hyun – melempar asal jas-nya di sofa kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.

“Na-ya? Jadi ini yang kau bilang sibuk eoh? Sibuk berpelukan dengan pria lain, begitu?”

Kyu Hyun mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi. Bagaimana tidak? Setelah kepulangannya dari kantor ia memutuskan untuk bertemu dengan Reina dan menjelaskan semuanya tanpa membuat gadisnya itu merasa bersalah karena tidak bisa mempertahankan hubungan mereka.

Tapi sebelumnya Kyu Hyun mampir kesalah satu caffe yang menjadi langganannya untuk membeli sesuatu untuk Reina. Setelah membayar pesanannya, Kyu Hyun sangat terkejut melihat orang yang ingin di temuinya malah berpelukan dengan pria lain.

Yah, semuanya terjadi begitu saja saat pria pemilik mata onix ini melangkah keluar caffe menahan emosinya. Dan cake yang di pesannya itu berakhir di tempat sampah dengan keadaan yang menggenaskan.

“Kau ingin membalasku Na-ya? Haruskah dengan cara seperti ini eoh?” Omel Kyu Hyun entah pada siapa.

Pria itu bangkit dan melangkah menuju lemari es. Mungkin dengan minum bisa sedikit menghilangkan emosinya yang sudah di puncak ubun-ubun.

“Kyu..”

Terdengar suara lembut dari arah pintu dengan derap langkah mendekatinya. Pria itu tak bergeming, masih pada posisinya.

“Kau sudah makan? Ige..! Aku membawakan makanan kesukaanmu.” Ujar Reina sambil menenteng satu buah kantong plastik dan meletakkannya di atas nakas.

“……..”

“Kyu? Kau mendengarku hm?”

Reina menghela napas kasar. Entah bagaimana lagi sikapnya menghadapi Kyu Hyun jika sudah seperti ini. Jika boleh jujur, ia masih sangat kecewa pada Kyu Hyun karena sikapnya yang tidak menolak dengan pernikahan keduanya itu. Tapi ia bisa apa? Reina sangat tahu, suaminya itu pun sangat mengharapkan keturunan yang bisa melanjutkan perusahaan besar mereka. Tapi haruskah seperti ini? Bisakah Kyu Hyun sedikit lebih sabar dan terus berusaha agar mereka bisa memiliki anak lagi. Ini benar-benar membuatnya pusing setengah mati.

“Makanlah selagi hangat. Aku akan keluar sebentar.”

Tubuh Reina diam tak bekutik. Belum sempat ia berdiri dari tempatnya, Kyu Hyun sudah memeluknya dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Reina.

“Kyu? Kau menangis? Hey..! harusnya kau bahagia sebentar lagi kau akan menikah dan bisa memiliki anak darinya. Bukan seperti aku yang selalu mere_”

“Cukup. Aku tidak mau dengar lagi. Tidakkah kau tahu bagaimana perasaanku saat ini eoh? Aku pun sakit sama sepertimu Na-ya? Sebesar apapun usahaku untuk menolak, aku tetap tidak bisa lepas dari jerat aturan mereka. Mianhae!” Tangis Kyu Hyun terdengar lirih di telinga Reina.

“Aku tahu! Mereka melakukan semua ini demi dirimu Kyu? Aku.. aku menyetujuinya,”

“Wae? Kau sudah tidak mencintaiku lagi hem?” Kyu Hyun melepaskan pelukannya dan menatap sendu kearah Reina. “Apa kau akan menyerah dan melupakan semua pengorbanan dan cinta kita selama ini, begitu?”

“Tidak! Aku tidak akan melupakannya tapi aku akan berusaha untuk tidak mengingatnya. Berbahagialah Kyu? Setelah ini kau akan memiliki tanggung jawab baru sebagai seorang suami. Aku tidak bisa tinggal bersama kalian disini. Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku dengan baik.”

Reina berusaha tersenyum manis membalas tatapan sendu Kyu Hyun. Meski ia tahu, ini sangatlah sulit. Tapi lebih sulit dan menyakitkan lagi jika Kyu Hyun tahu dia-lah wanita yang paling tersakiti disini. Lalu apa yang bisa Kyu Hyun lakukan? Pria itu hanya mampu menguatkan Reina dalam ruang yang memisahkan keduanya.

Dan Reina tahu, bagaimana rasanya jika melihat sosok suami yang selalu menjaganya dalam setiap helaan napas harus berakhir kepelukan wanita lain. Sangat menyakitkan bukan?

Reina bukanlah wanita yang suka menyembunyikan sesuatu tanpa sepengetahuan Kyu Hyun. Pria itu pun sangat tahu akan sifat istrinya yang sedikit pendiam itu. Bahkan untuk sekarang ini ingin sekali ia menentang semua aturan konyol itu dan memilih menjaga Reina sampai akhir hidupnya.

 

***

 

Hari yang di tunggu pun telah tiba. Satu kebahagian besar bagi keluarga Cho untuk menikahkan anaknya – Cho Kyu Hyun dengan wanita pilihan mereka.

Ucapan selamat dan raut wajah bahagia sangat nampak dari semua para tamu undangan yang hadir.

Reina duduk di kursi paling belakang. Memperhatikan ekspresi kebahagiaan dan senyum Kyu Hyun dari jauh mungkin bisa menyakinkan hatinya bahwa pria itu akan baik-baik saja meski tanpa Reina disisinya.

“Chukkaeyo~! Semoga kalian bahagia Kyu?”

Segera ia bangkit dan meninggalkan tempat itu. Tempat yang hampir saja membuat tubuhnya ambruk hanya karena menahan sesak dan sakit di dalam sana.

“Aku akan mengantarmu pulang,” Lirih pria tampan yang sejak tadi bersamanya.

Untuk sesaat ia diam seperti menyadari sesuatu,

“Ah~ne! Mianhae..”

“Gwaenchana! Aku mengerti keadaanmu. Meski di abaikan yang penting aku bisa melihatmu baik-baik saja dalam jarak pandanganku,”

“Gomawo Donghae oppa..”

“Your welcome, Dear!”

 

***

 

Kyu Hyun mengobrak-abrik kamarnya penuh emosi. Setelah usai melakukan ritual resepsi pernikahannya dengan Park Kyuri. Ia kembali ke kamarnya meninggalkan gadis yang baru di nikahinya itu berbincang-bincang melayani para tamu yang membuat Kyu Hyun sakit kepala mengurusnya.

Belum sempat lima menit ia mengistirahatkan tubuhnya di kasur, mata onixnya menatap penasaran dengan amplop cokelat yang terletak diatas nakas.

Betapa terkejutnya ia setelah membaca isi surat itu. Marah, kecewa dan panik itulah yang membuatnya frustasi seperti sekarang ini dan berakhir pada semua perabot dan peralatan yang ada di dalam kamar hingga pecah tanpa ampun karena amukannya.

“Reina Kim~! Aaarrrgghhh….”

Kyu Hyun melempar kertas itu hingga berserakan di atas lantai. Sebuah kertas putih yang bercap ‘surat cerai’ dan tanda tangan dari tangan mungil Reina.

“Kembali! Ku mohon kembali Na-ya? Bukan ini yang aku inginkan. Bukan ini Na-ya? Jebal hiks jebalyo..”

 

***

 

“Oppa? Besok aku ingin berangkat ke Los Angels dan memulai hidup baruku disana,”

Donghae yang saat itu menyeruput teh ginsengnya, menatap Reina tak percaya. Pria pemilik senyum teduh yang menawan itu menelisik wajah sempurna milik Reina kemudian tersenyum simpul.

“Ide bagus. Besok biar aku yang mengurus keberangkatanmu kesana. Aku yakin kau bisa memulainya jika itu sudah menjadi tekadmu Na-ya?”

“Nde! Aku akan berusaha untuk itu oppa. Ku harap kau bisa mengerti,”

“Untukmu. Tak peduli seberapa lamanya kau mengulur waktu aku akan tetap menunggu hingga kau bisa menerima kehadiranku tanpa ada dirinya yang terus membayangimu. Aku mencintaimu Reina Kim.”

Donghae tersenyum tulus mewakili perasaan bahagia dengan lontaran kata demi kata terpendam pada Reina.

Donghae bukanlah anak kemarin yang baru mengenal Reina dengan baik. Semenjak sekolah menengah atas pria ini selalu mengagumi sosok kalem dan keberanian yang ada pada diri Reina.

Bahkan pernah terbersit dalam pikirannya waktu itu untuk mengungkapkan perasaannya pada Reina saat festival sekolah berlangsung. Tapi nyalinya menciut seketika melihat gadis yang di kaguminya itu bersama dengan seorang pria yang tak kalah tampan darinya.

Saat itu ia sangat kecewa pada dirinya sendiri sehingga membuatnya uring-uringan dan malas masuk sekolah. Bahkan Donghae sempat drop dan menghilang tanpa kabar yang jelas.

Setelah dua tahun lamanya ia kembali sebagai pria yang selalu di eluk-elukkan namanya oleh setiap wanita. Tapi apa pedulinya? Toh, ia kembali bukan hanya ingin bermain manja dengan gadis-gadis yang membuat perutnya mual dengan semua rengekan mereka. Tapi ia kembali ingin merebut gadis yang saat ini ia ketahui telah bersuami itu. Sekali lagi, apa pedulinya!

 

***

 

Reina menggeret pelan koper kain berwarna pink miliknya. Sesekali ia terkekeh mendengar omelan Donghae yang menurutnya sangat kekanakkan untuk ukuran umurnya.

“Itu berat. Biar aku saja yang bawa. Kenapa kau keras kepala sekali eoh?” Racau Donghae. Reina menggeleng imut.

“Oppa? Apa kau tidak malu hem? Bagaimana jika ada yang menertawakanmu hanya karena membawa koper pink milik wanita? Mereka pasti akan meledekmu,” Elak Reina dengan gemas.

“Aaih,, aku tidak peduli,”

“Sudahlah. Jangan pasang ekspresi wajah seperti itu. itu mengerikan.” Reina tetap berjalan membiarkan Dong Hae yang merenggut kesal di belakangnya.

Lima belas menit lagi pesawat yang di tumpangi Reina akan take off, hingga akhirnya terdengar suara pemberitahuan keberangkatannya itu menggema memenuhi ruang bandara.

“Ku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik oppa,” Reina menggenggam tangan Donghae dengan penuh kasih sayang. Dengan gerakan cepat pria itu segera menarik Reina kedalam pelukannya.

“Kau juga. Setelah ini aku akan selalu merindukanmu Na-ya?” Dong Hae semakin mendekap erat tubuh ramping Reina seolah enggan melepaskan gadis yang telah mengisi hati dan pikirannya itu akhir-akhir ini.

“Hmm… Makanlah dengan teratur dan jangan terlalu fokus dengan pekerjaanmu. Aku akan menghubungimu jika sudah tiba disana,”

“Arraseo. Aku akan melakukan semua hal yang menjadi permintaanmu Na-ya?” Reina mencoba tersenyum menanggapi ucapan Dong Hae yang terdengar serak dan lirih di cuping telinganya.

Ia pun sama. Enggan untuk meninggalkan pria itu – sosok yang telah membuatnya jatuh cinta yang entah kapan tumbuh di hatinya. Ia harus kuat. Yah, mungkin dengan begitu Reina bisa pergi meninggalkan kota penuh kenangan bersama Kyu Hyun. Mencari ketenangnan sendiri dan sedikit membuka hatinya untuk Dong Hae.

“Baiklah. Aku pergi dulu oppa? Jaga kantorku dengan baik,” Reina melepaskan pelukannya kemudian menatap Dong Hae.

“Jaga dirimu oppa.” Ucap Reina seraya meninggalkan kecupan kecil di pipi kanan Dong Hae. Ia menunduk malu sementara Dong Hae menatapnya shock sekalipun terkejut dengan perlakuan Reina yang secara tiba-tiba menciumnya.

Seolah tak ingin berlama-lama beradu pandang dengan Dong Hae, Reina pun segera meninggalkan tempat itu menuju loket untuk check-in sebelum memasuki ruang boarding.

 

***

 

Kyu Hyun mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia baru saja mendapat pesan singkat dari asistennya bahwa Reina telah berangkat keluar negeri beberapa jam yang lalu.

Hal ini sontak saja membuat ia emosi dan mengumpat kesal asistennya dan semua orang yang berada di rumahnya karena tidak memberitahunya terlebih dulu. Padahal dari semalam ia di buat kacau selalu memikirkan keadaan Reina yang entah pergi kemana.

Kyu Hyun sudah menghubungi manager bahkan orang-orang yang sangat dekat dengan Reina untuk menanyakan keadaannya. Tapi apa? Mereka pun tidak tahu dimana teman sekaligus direktur muda itu berada.

Kyu Hyun kembali mengumpat, saat jalan yang akan di laluinya terkena macet total karena ada kecelakan mobil disana. Dengan cepat ia memutar stir mobilnya mengambil jalan pintas menuju arah lain.

Saat ini, tujuannya menuju kantor Reina yang berada di kawasan ganggnam. Mungkin disana ia bisa sedikit mendapat informasi kemana gadisnya itu pergi. Karena tidak mungkin ia pergi menyusul Reina ke bandara, sudah tentu ia tidak akan menemukan gadis itu disana. Reina sudah berangkat dua jam yang lalu dan itu artinya ia sudah terlambat satu jam dari keberangkatannya. Dan Kyu Hyun tidak ingin membuang-buang waktunya hanya karena itu.

Kyu Hyun memarkirkan mobilnya dan kemudian turun dengan cepat dan buru-buru melangkahkan kakinya menuju lantai dua – ruang direktur.

Pria itu sangat terkejut saat mendapati ruang yang biasa di tempati Reina – istrinya kini berubah. Letak dan posisi bahkan poto pigura besar mereka berdua yang terletak di sudut ruangan pun kini tiada.

Dahinya mengernyit, memandang penasaran sosok pria yang berdiri membelakanginya menatap keluar jendela. Kyu Hyun tersenyum kecut saat tahu siapa pria yang ada di hadapannya itu.

“Jadi kau dalang dari semua masalah ini? Setelah kau merebut istriku kau juga akan menguasai harta kekayaannya, begitu?” Ketus Kyu Hyun. Dong Hae – pria itu tak bergeming masih tetap pada posisinya tanpa sedikit pun menoleh dan membalas ucapan Kyu Hyun.

“Ternyata benar. Kau hanya pria brengsek yang beraninya menghancurkan rumah tangga orang dan membawa Reina pergi dariku. Cih~ dasar pengecut,”

Ok. Sepertinya Dong Hae sudah tidak sabar lagi berhadapan dengan pria yang berada di belakangnya itu. Sebab sedari tadi Dong Hae menahan dirinya untuk tidak melayangkan pukulan dan membuat wajah tampan Kyu Hyun itu hingga lebam karena ulahnya.

Dong Hae membalikkan tubuhnya memandang Kyu Hyun dengan wajahnya memerah menahan emosi. Dong Hae hanya tersenyum simpul menatapnya. Pria itu dengan pasti melangkah mendekati Kyu Hyun dan kedua tangannya di masukkan kedalam saku celana.

“Selamat siang tuan Cho? Bagaimana kabarmu?” Sapa Dong Hae basa-basi. Kyu Hyun mendengus.

“Dimana istriku – Reina? Dan apa yang kau lakukan disini eoh?” Tanya Kyu Hyun sakartis sambil menatap tajam Dong Hae.

“Istrimu? Reina? Benarkah? Aku tidak percaya jika kau masih suaminya setelah ia menandatangani surat cerai itu,” Jawab Dong Hae sinis. “Hah~! Dan satu lagi. Siapa dan kenapa aku bisa berada di ruang ini juga bukan urusanmu tuan Cho Kyu Hyun. Menyangkut Reina, kau tidak perlu repot-repot menyuruh orang untuk mencarinya. Karena ku pastikan ia aman dan baik-baik saja tanpa adanya dirimu di sisinya,”

“Kau… kau sembunyikan dimana Reina, Huh!”

“Aku tidak menyembunyikannya tapi aku membawanya pergi ke tempat yang membuat ia bahagia dan tertawa lepas tanpa adanya gangguan darimu,”

“Kau.. kau benar-benar brengsek Lee Dong Hae,” Kyu Hyun menarik kasar kerah kemeja Dong Hae. “Kau memanfaatkan situasi dan mencoba merebutnya dariku, hoh!”

“Cih~! Kau yang brengsek Cho Kyu Hyun. Kau itu pria tidak tahu diri yang pernah aku kenal. Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, apa saja yang kau lakukan hingga tidak bisa mempertahankan pernikahan kalian,” Dong Hae menghempaskan tangan Kyu Hyun dengan kasar. “Pernahkah kau berpikir bagaimana perasaan Reina saat mengetahui kau akan menikah lagi hanya karena alasan konyol keluargamu yang ingin memiliki keturunan untuk perusahaan itu. PERNAKAH KAU BERPIKIR TENTANG ITU, HAH!” Dong Hae mengepalkan tangannya ingin melampiaskan kemarahannya itu di depan Kyu Hyun. “Apa kau tahu betapa sakitnya ia tanpa melakukan apapun untuk mempertahankan dirimu di sisinya. Sementara kau sendiri pun sama ikut andil dalam aturan konyol itu. Dia bahkan menghabiskan waktunya mengurung diri di dalam kamar tanpa tahu apa yang ia lakukan. Kau tahu! Dia sangat mencintaimu Cho Kyu Hyun tapi kau malah asyik tersenyum riang dengan isri barumu itu,” Dong Hae hanya tersenyum miris dan membuang muka tanpa menatap Kyu Hyun yang diam terpaku.

Sementara Kyu Hyun – pria itu hanya menunduk setelah mendengar semua ucapan Dong Hae.  Ia menyesal! Yah, Kyu Hyun sangat menyesal karena tidak menolak semuanya waktu itu. Tapi apa? Ia harus menelan pahitnya kenyataan di tinggal Reina. Gadis itu pasti sangat kecewa padanya, muak dengan semua tentang dirinya.

Tapi haruskah seperti ini? Tidak bisakah Reina untuk tinggal sebentar agar ia bisa melihat senyum tulus dan mata biru yang bening itu sepuasnya setiap pagi di saat ia bangun dari tidur lelapnya.

“Maaf.. maafkan aku. Sungguh aku tidak tahu jika kejadiannya akan menjadi seperti ini. Aku hanya ingin bertemu dengannya dan menjelaskan semua ini. Aku membutuhkannya, aku ingin dia, Hyung?” Pinta Kyu Hyun parau.

“Untuk saat ini biarkan ia menenangkan pikirannya. Aku yakin dia akan memaafkanmu Kyu? Dia gadis yang baik.” Dong Hae menghela napas kasar mencoba untuk tenang meski tadi emosinya sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.

Karena percuma saja ia beradu mulut bahkan memukul Kyu hyun sekalipun tidak akan bisa mengembalikan kenyataan yang ada.

Memang benar, jika sesuatu yang kita miliki dan kita jaga dengan amat ketat suatu saat nanti akan pergi meninggalkan kita hanya karena kelalaian yang tidak bisa kita duga sebelumnya. Itulah kehidupan.

 

***

 

Cho Kyu Hyun berjalan dengan gontai menuju almari dengan sederetan rak yang terletak di sudut kamar. Ia mengeluarkan dua botol minuman wine dari dalam rak kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi.

Satu gelas penuh telah ia habiskan dengan sekali tegukan. Kembali tangan kekar itu meraih botol wine dan meminumnya tanpa menggunakan gelas yang ia pakai tadi.

Kyu Hyun meringis sakit. Pria itu menekan pelan dadanya yang sakit dengan matanya yang memerah menahan tangis. Biasanya, di kala ia terpuruk akan melampiaskannya pada wine, dan hanya Reina-lah yang mampu memberi teguran kecil dengan untaian kata lembutnya.

Tapi sekarang, siapa lagi yang akan mengomelinya jika sudah seperti ini. Ia rapuh. Kyu Hyun bahkan sulit mendefinisikan akan seperti apa hidupnya jika tanpa gadisnya itu. Mungkin ia tidak akan bertahan. Ini terlalu sulit dan sakit bahkan lebih sakit lagi dari apapun yang ada di muka bumi ini.

“Na-ya? Aku merindukanmu,” Lirihnya. “Kau juga merindukanku, bukan? Jebal.. kembalilah Na-ya? Aku tidak kuat sungguh hiks..hiks..aku tidak tahan dengan hukuman yang kau berikan padaku. Kau boleh melakukan apapun padaku. Memukulku, menyuruhku tidur di luar, mengomeliku, bahkan kau jadikan budak-mu pun aku tidak peduli. Aku hanya menginginkanmu. Aku ingin melihatmu selalu ada di dekatku, di sampingku dalam keadaan baik dan aman. Ku mohon kembali hiks..hikss ku mohon Na-ya? Jangan seperti ini jebal.. aku membutuhkanmu, aku merindukanmu hiks..hikss kembali..” Air bening itu jatuh tanpa henti di wajah tampan Kyu Hyun. Ia mengacak rambutnya dengan frustasi memandang bingkai potonya dengan Reina yang terletak diatas meja.

Hanya itulah satu-satunya barang yang tersisa di rumah mewah ini. Rupanya Reina sudah membawa semua barangnya dan hal-hal yang berhubungan dengan Kyu Hyun.

 

***

 

_One year later_

Los Angels, amerika serikat

Nampak seorang gadis tersenyum dengan riangnya berjalan bergandengan tangan bersama seorang pria tampan yang kini ikut tersenyum menatapnya dengan gemas. Mereka tak mempedulikan tatapan orang-orang yang memandang keduanya penuh iri.

Pria itu – Lee Dong Hae menggenggam erat tangan seorang gadis cantik – Reina Kim seolah tak ingin melepasnya walau sedetik saja. Langkah mereka tertahan saat gadis itu berhenti tepat di salah satu badut yang sangat besar dengan atraksi yang di mainkannya.

Setelah puas kembali Dong Hae menggenggam tangannya dan melangkah dengan santai menikmati keindahan alam serta penomenanya yang menajubkan.

“Oppa? Aku ingin membeli itu,” Ujar Reina tiba-tiba. Gadis itu menunjuk salah satu boneka yang ukurannya sangat besar.

“Baiklah. Kajja..” Dong Hae mengangguk dan menuntun Reina memasuki toko boneka yang sangat terkenal itu.

Sepuluh menit telah berlalu, kini keduanya keluar dari toko dengan beberapa kantong plastik jumbo yang di tenteng oleh Dong Hae.

 

***

 

Dong Hae memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Merangkap 2 perusahaan sekaligus benar-benar membuat waktu istirahatnya tersita. Apalagi saat ini perusahaan yang di geluti Reina sudah menjadi tanggung jawabnya. Ia harus membagi waktu dan bolak-balik Amerika – Korea hanya ingin memastikan bahwa perusahaan Reina berjalan dengan lancar tanpa kendala. Sementara setelah kembalinya dari sana ia harus balik lagi ke Amerika dan memantau usahanya yang berada disini dengan baik.

“Apa kau sakit?” Tanya Reina yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan yang berisi dua gelas minuman dingin.

“Tidak. Aku baik-baik saja,”

“Benarkah? Tapi kenapa dahimu berkerut seperti menahan sakit,” Donghae hanya tersenyum jahil dan menarik Reina agar bisa duduk di pangkuannya.

“Jika aku sakit apa kau akan mengobatiku, Yeobo?” Reina mendelik tajam. Dong Hae terkekeh melihat tingkahnya.

“Jangan memanggilku seperti itu oppa? Telingaku gatal mendengarnya,” Reina mempoutkan bibirnya dengan raut wajah kesal.

“Ok, Ok! Tapi bagaimana dengan pertanyaanku tadi, Hmm? Jika aku sakit apa kau akan mengobatiku?”

“Tentu saja. Karena kau.. kau suamiku,”

Untuk sesaat Dong Hae terdiam. Pria itu kembali tersenyum saat mendengar  ucapan Reina. Suami? Oh ayolah! Ini bukanlah apa-apa dari semua pengorbanan panjangnya.

Tapi setelah mendengar dengan jelas saat Reina berucap seperti itu, Dong Hae seolah ingin berteriak dan mengatakan bahwa ia sangatlah bahagia saat ini.

Kata itu memang terdengar biasa bagi orang-orang di luar sana, tapi bagi Dong He ini bagaikan ramuan yang paling manjur menyembuhkan sakit di sekujur tubuhnya dalam hitungan detik. Sebab setelah apa yang ia lakukan selama ini akhirnya gadis itu menerimanya dan mau menikah dengannya. Tapi siapa sangka? Sebulan usai pernikahan mereka, Reina tidak mau tidur berdua dengannya apalagi memanggilnya dengan sebutan ‘suami’.

Dan sekarang, penantian itu berujung bahagia. Beberapa minggu yang lalu Dong Hae sakit demam. Hal itu membuat Reina sangat panik sehingga mau tidak mau ia harus merawat Dong Hae sampai sembuh. Sejak saat itulah Reina mulai tidur berdua dengan Dong Hae, dengan alasan takut pria itu terkena demam lagi.

Dan hari ini pula kebahagiaan itu nampak dari wajah tampan Dong Hae hanya karena lontaran kalimat yang keluar dari bibir mungil milik Reina.

 

***

 

Reina sedang asyik menonton salah satu film anime dengan serius sambil mengunyah popcornnya dengan sangat pelan. Sesekali ia mendengus memandang horor pria yang berbaring di pangkuannya dengan raut wajah kesal.

“Oppa? Jangan banyak bergerak. Kau mengganngu konsetrasiku menonton,” Omelnya. Dong Hae mengangguk lemas.

“Diamlah Hae oppa? Jika tidak aku akan mendorongmu kebawah,” Dong Hae meringis berpura-pura memperlihatkan ekspresi takut.

“Aaiihh,, oppaaa..”

“Yah~ baiklah,” Pria itu mendesah pasrah dan menenggelamkan wajahnya di perut Reina tanpa gerakan. Dengan begini ia bisa mencium aroma istrinya dengan puas dan bebas tentunya.

“Na-ya? Apa dia sudah tumbuh di dalam sana, Hmm?” Kata Dong Hae yang masih tetap pada posisinya. Sementara Reina – ia menghentikan sejenak aktifitasnya dan menatap sendu Dong Hae.

“Oppa? aku..”

“Aku tahu. Tapi aku selalu yakin jika peluang itu ada untuk kita Na-ya? Aku akan terus berusaha. Aku janji,” Dong Hae mendongak membalas tatapan kesakitan Reina.

“Tapi aku sudah di vonis tidak bisa hamil lagi oppa?”

“Mereka bukan tuhan. Kita hanya bisa terus berdoa dan berusaha semampu kita untuk bisa membuatnya ada di tengah-tengah kita berdua Na-ya? Aku sangat menginginkannya, aku ingin melihatnya tumbuh besar dengan semua limpahan kasih sayang kita. Aku ingin mendengar tangisan rewelnya di rumah ini. Aku ingin menggendongnya, bermain dan ingin menyapanya di saat aku pulang dari rasa lelahku. Aku menginginkan itu,” Dong Hae menatap nanar perut datar Reina.

Gadis itu membekap mulutnya, menangis dalam diam mendengar permintaan Dong Hae yang sulit ia kabulkan.

“Uljima! Aku hanya mengungkapkan apa yang aku inginkan Na-ya? Aku tidak akan memaksa jika memang kau tidak mau mencobanya denganku,” Reina menggeleng pelan.

“Bukan! Bukan itu oppa? Tapi aku takut jika tahu kenyataannya bahwa aku sudah tidak bisa memiliki anak lagi,” Ujar reina dengan parau. Dong Hae bangkit dari perbaringannya dan menghapus air mata Reina yang jatuh tanpa henti.

“Tidak ada yang tidak mungkin jika kau telah meyakininya sayang? Aku hanya tidak ingin melihatmu yang terus terpuruk dari rasa trauma itu,”

“Tapi…”

“Percayalah Na-ya?”

“Hmm~! Baiklah. Aku akan mencobanya.”

Keduanya pun saling berpelukan menyalurkan perasaan bahagia itu dengan pelukan hangat masing-masing.

 

 

 

END

 

Hahaha.. saya ngakak pas bagian itu *Lirik Dong Hae*

Pasti banyak yang berpikiran yadong 😀  jangan salahkan saya, karena adegan ini memang seperti itu. terserah reader mau menanggapinya seperti apa? Saya mah santai. Toh, ini bukan tujuan saya membuat adegan di atas hancor lebur di luar kendali -,-. Semuanya terjadi karena ulah tangan saya yang seenaknya mengetik tanpa berpikir 😀

 

Sayonara…^^

 

Advertisements

7 thoughts on “[ Kyuhyun ] ONESHOT || Impossible

  1. hehehe aku sih ga mikir yadong. justru aku mikirnya reina bs punya anak lg sama donghae trus anaknya cowo. dan di pertemukan sama keluarga kyuhyun biar nyesel trus anaknya kyu cewe. secara anak laki2 kan lebih berkuasa. itu br pemikiranku hahaha

  2. nasib kyuhyun gimana thor????
    kurasa….#kurasakan pudar dalam hatiku …..*nyanyi lagu pudar ala ala rossa
    hehehe sepertinya author harus bikin sequel yang puanjangggggggggg gua udah nyesek thor…author harus bertanggung jawab dengan kelahiran air mata gua…hahaha lebay
    keep writting thor…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s