[ Donghae ] ONESHOT || The Mentionable of the Feeling Within the Word

Tittle : The Mentionable of the Feeling Within the Word (The Word Without Mentionable sequel 2)

 

 

 

Author : Tri Rista Melinia a.k.a Kim Shangmi

 

 

 

Category : Oneshoot, Sad, Married life

 

 

 

 

 

Cast : Lee Donghae

 

 

 

 

 

Park Sang-Mi

 

 

 

 

 

Choi Hye-Jin

 

 

 

 

 

Lee Donghyun (Donghae Appa)

 

 

 

 

 

Oh Hye-Sun (Donghae Eomma)

 

 

 

 

 

Donghae & Sang-Mi’s garden 15:00 kst

 

 

 

 

 

 

 

TOLONG TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA LIKE ATAU COMENT…!!!

JANGAN JADI PEMBACA GELAP

 

 

 

Author pov

 

 

 

 

 

Minggu sore yang indah menyelimuti taman belakang rumah Donghae dan Sang-Mi. Angin sepoi yang berhembus ringan menerbangkan anak rambut dari wanita yang sedang merajut duduk tenang di sebuah bangku tepat di samping sebuah pohon maple.

 

 

 

 

 

Dia duduk sendiri dengan dua buah keranjang benang rajut berwarna-warni di sisi kiri wanita itu.  Juga satu keranjang peralatan lainnya di sisi kanannya. Tangannya tak henti membuat simpul-simpul dari benang dan jarum yang dia pegang membentuk sebuah pola rapi. Dengan hati-hati dia terus menggerakkan jarinya.

 

 

 

 

 

“Kau sedang apa?” Donghae menyentuh bahu Sang-Mi. Mengangkat sekeranjang benang rajut yang tadi di letakan Sang-Mi lalu memangkunya agar menyisakan tempat untuk bisa dia duduki.

 

 

 

 

 

“Aku sedang membuat sarung tangan oppa, untuk musim dingin nanti” ujarnya seraya menjawab pertanyaan Donghae.

 

 

 

 

 

“Kita bisa membelinya bukan? Kau tidak perlu repot-repot membuatnya” Donghae mengambil salah satu gulungan benang rajut dari dalam keranjang.

 

 

 

 

 

“Aku suka melakukanny mengisi waktu luangku”

 

 

 

 

 

“hmmmh” Donghae mengangguk santai.

 

 

 

 

 

“Sang-Mi~ya boleh aku bertanya” Donghae menimbang-nimbang gulungan benang rajut yang tadi dia ambil.

 

 

 

 

 

“Ne tentu saja oppa..wae geureu?” Sang-Mi menjawabnya denga tetap fokus pada rajutan yang ada di tangannya.

 

 

 

 

 

“Kau…Aku…Ah aku bingung memulainya dari mana” Donghae mengacak rambutnya kasar.

 

 

 

 

 

“Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Maksudku… aku hanya ingin tahu alasanmu” Mendengar kata-kata Donghae yang terkesan serius Sang-Mi menghentikan kegiatannya lalu memandang Donghae.

 

 

 

 

 

“Wae oppa?” Tanya Sang-Mi lembut.

 

 

 

 

 

“Sebenarnya ada sesuatu yang menggangguku. Aku hanya ingin tahu…kau…Kenapa kau tidak marah ketika menemukanku kembali di supermarket bersama Hye-Jin? Mian mengungkitnya” Donghae sedikit menundukkan wajahnya.

 

 

 

 

 

“Aku ingin tahu semua alasan di balik sikapmu selama ini Sang-Mi~ya” ucapnya kembali.

 

 

 

 

 

Sang-Mi memandang ke depan ke hamparan bunga lavender yang sedang mengeluarkan pesona ungu kelopaknya. Donghae memperhatikan Sang-Mi. Dia memang sudah memikirkan ini sebelumnya mungkin Sang-Mi tidak akan menjawabnya karena hal ini pasti kembali menyinggung perasaannya. Tapi sungguh Donghae benar-benar ingin tahu alasan Sang-Mi melakukan itu. Apapun konsekuensi dari pertanyaannya. Karena tak ada cara lain selain langsung menanyakannya pada Sang-Mi. Tapi jika melihat respon Sang-Mi sekarang sepertinya dia harus menyerah.

 

 

 

 

 

“Tak apa jika kau tidak mau menjawabnya” Donghae mengelus sedikit lengan Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Karena tidak pernah ada kata maaf dari oppa” Sang-Mi tiba-tiba mengeluarkan suaranya.

 

 

 

 

 

“Karna tidak pernah ada kata maaf akan hal yang oppa lakukan. Ketika pertama kali aku menemukan kalian di kantor oppa. Tak ada kata maaf. Jadi aku tidak bisa menuntut oppa ketika kembali menemukan kalian bersama” Pandangannya tak lepas masih memandang sekumpulan bunga lavender yang sedikit bergoyang di tiup angin sore.

 

 

 

 

 

“Tapi lain halnya jika ketika itu oppa minta maaf. Mungkin saat itu aku akan bisa menuntut kata maaf itu. Mengatakan bahwa bukannya oppa sudah meminta maaf atas kesalahan oppa? kenapa oppa melakukannya lagi? Mungkin aku akan berteriak seperti itu ketika di supermarket tempo hari”

 

 

 

 

 

Donghae mencelos mendengarnya. Dia ingat ya memang dia tidak pernah mengeluarkan kata maaf. Walaupun dia tahu yang dia lakukan adalah hal yang salah. Hal yang membuat seseorang tersakiti tapi sampai saat ini kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya. Tidak pernah terucapkan oleh lidahnya.

 

 

 

 

 

Jadi itu alasan Sang-Mi selama ini. Tapi kejadian di supermarket adalah kali keduanya. Bukankah pertama kali menemukan mereka bersama adalah ketika di kantornya? lalu kenapa alasannya adalah tidak adanya kata maaf? Sang-Mi bisa saja marah ketika kejadian pertama terjadi. Bisa saja saking kaget atau terkejutnya dia mendadak jadi emosi dan marah. Tapi tidak, Donghae mengingatnya malam itu Sang-Mi malah mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkan Donghae kecuali Donghae yang meninggalkannya terlebih dahulu. Jawaban Sang-Mi membuatnya semakin bingung. Mungkin salah satu pertanyaannya sudah terjawab tapi menimbulkan pertanyaan lain di dalam kepalanya.

 

 

 

 

 

“Dan…ketika…” Donghae terbata-bata mengucapkan kalimatnya.

 

 

 

 

 

“Itu kali keduanya bukan? kau menemukanku bersama Hye-Jin. Yang pertama adalah ketika di kantor lalu apa alasanmu tidak marah ketika mendapatiku pertama kali di kator bersama Hye-Jin. Harusnya karena keterkejutanmu kau bisa emosi dan marah. Tidak mungkin kau memiliki alasan yang sama bukan? Atau jangan-jangan” napas Donghae sedikit memburu ketika memikirkan hal lain yang tiba-tiba melintas di pikirannya.

 

 

 

 

 

“Jangan-Jangan kau pernah melihatku sebelumnya, maksudku kejadian di kantor bukan kali pertamamu melihatku bersama Hye-”

 

 

 

 

 

“Aniyo oppa.. itu pertama kalinya aku melihat kalian…tapi aku pernah bertemu beberapa kali dengan Hye-Jin`ssi. Ketika di pernikahan kita dan beberapa kali sebelum kita menikah. Aku sempat tidak sengaja bertemu dengannya ketika sedang bersama hyukjae”

 

 

 

 

 

“Lalu…?”

 

 

 

 

 

Sang-Mi kembali terdiam. Haruskah dia mengatakan hal ini. Jika alasannya yang tadi tidak begitu sulit untuk dia katakan. Tapi untuk yang ini dia tidak yakin. Jika mengatakan hal ini seperti membuka lukanya menyingkap kepedihannya selama ini. Tapi sepertinya Donghae sangat menunggu mulutnya mengeluarkan suara.

 

 

 

 

 

“Aku tidak bisa menga”

 

 

 

 

 

“Kumohon aku benar-benar ingin tahu Sang-Mi~ya” Donghae memandang Sang-Mi dengan penuh pengharapan.

 

 

 

 

 

Terdapat keheningan di antara mereka. Donghae masih dengan harapannya bahwa Sang-Mi mau mengatakan alasannya. Juga Sang-Mi yang masih di landa kegundahan di dalam hatinya antara mengatakannya atau tidak.

 

 

 

 

 

“Karena…karena tidak pernah ada kata cinta di antara kita oppa. Bahkan aku tidak yakin ada perasaan cinta dari oppa untuk pernikahan kita. Jadi aku kembali tidak bisa menuntut apa yang telah oppa lakukan” Sang-Mi memegang erat jarum yang sejak tadi dia pegang. Menumpahkan perasaannya. Perasaan takut akan kemarahan Donghae setelah dia mengatakannya. Perasaan lukanya yang selama ini membungkus hatinya juga perasaan perih yang menyingkap di dadanya.

 

 

 

 

 

“Ak…aku tidak bermaksud mengatakan ini tidak bermaksud menuntunnya dari oppa aku bahkan tidak pernah berpikir untuk.. hanya itu yang menjadi alasanku” ada satu kalimat yang tak sanggup Sang-Mi katakan. Yaitu sebuah kalimat yang menyatakan bahwa dia tidak pernah berpikir untuk meminta cinta Donghae.

 

 

 

 

 

“Ani..Ani…Gwenchana” Donghae mencoba meyakinkan sebelum terjadi kesalah pahaman di antara mereka. Sang-Mi benar tidak pernah ada kata cinta di antara mereka tapi untuk yang kedua Donghae tidak setuju dengan perkataan Sang-Mi bahwa tidak ada perasaan cinta darinya untuk pernikahan mereka. Walaupun dia belum bisa menyangkalnya tapi dia juga tidak membenarkannya untuk hal itu.

 

 

 

 

 

“Juga..Kalian sudah saling mengenal dan menjalin cinta selama sebelas tahun. Bukan hal penting pastinya ketika aku tiba-tiba muncul di antara kalian. Kenangan-kenangan yang kalian miliki. Memori bahagia ataupun kesedihan yang kalian lewati bersama tidak akan sebanding dengan diriku oppa”

 

 

 

 

 

“Kau mengetahuinya? Apa Enhyuk yang mengatakannya?” Donghae kaget dengan perkataan Sang-Mi barusan.

 

 

 

 

 

“Aniyo…Eomma yang mengatakannya padaku oppa”

 

 

 

 

 

“Kalian bukan sahabat sejak kecil tapi kalian sangat tangguh bisa mempertahankan cinta kalian selama sebelas tahun di balik cobaan-cobaan yang telah kalian lewati. Kalian pernah menjalani hubungan jarak jauh bahkan menghadapi ketidaksetujuan eomma akan hubungan kalian. Aku tidak ada apa-apanya bagi kalian di bandingkan hal-hal mengerikan yang sudah kalian lewati bersama” Sang-Mi tersenyum pada Donghae.

 

 

 

 

 

“Aku sempat berpikir apa aku harus marah pada oppa? Atau aku harus mendatangi Hye-Jin`ssi dan menjambaknya karena sudah menggoda oppa atau aku harus memohon padanya dan berlutut agar memberikan oppa padaku. Tapi hal itu tidak pernah berani aku lakukan karena…ya karena tidak pernah ada kata cinta di antara kita. Jika wanita lain akan bisa melakukannya lain hal nya denganku. Ketika mereka menemukan sang pria pergi mengkhianatinya bersama wanita lain mereka bisa marah karna mereka akan teringat akan kata cinta dari prianya itu atau hal-hal indah yang mereka lalui bersama dengan hati yang penuh cinta”

 

 

 

 

 

“Sang-Mi~ya”

 

 

 

 

 

Donghae merasa lidahnya kelu. Hatinya begitu tersentuh mendengar perkataan Sang-Mi. Lebih tepatnya jiwanya merasa terenyuh. Banyak hal yang Sang-Mi pendam ternyata selama ini. Sang-Mi mengetahui segalanya bahkan tahu sebagian kisahnya bersama Hye-Jin. Tapi yang membuat Donghae merasa tertendang dadanya adalah ketika Sang-Mi mengatakan bahwa dia tidak bisa seperti wanita lain yang bisa marah kepada pasanganya karena tidak adanya kenangan penuh cinta di antara mereka. Sungguh sejak pertama kali bertemu dengannya sejak Donghae mengajaknya untuk menikah dia tidak pernah sedikitpun berpikir seperti itu. Bodohnya dia.

 

 

 

 

 

“Apa sekarang semua pertanyaan oppa sudah terjawab?” Sekarang giliran Sangi-Mi yang bertanya. Dia melihat Donghae yang terdiam seperti melamun setelah Sang-Mi mengatakan semuanya.

 

 

 

 

 

Donghae hanya mengangguk. Dia masih belum sampai pada alam bawah sadarnya setelah apa yang dia ketahui tentang semuanya. Tentang alasan di balik sikap istrinya selama ini. Betapa tegarnya Sang-Mi dan betapa sabarnya dia selama ini hidup dalam ketidakpastian yang Donghae berikan juga hidup dengan kesetian pada suami yang tidak pernah mengatakan kata cinta untuk dirinya.

 

 

 

 

 

Sang-Mi melepaskan jarum juga rajutan dari tangannya kemudian mengambil keranjang yang sejak tadi Donghae pegang. Mencari sesuatu dari tumpukan banyaknya benang wol. Setelah menemukannya dia mengeluarkan sebuah rajutan membentuk kantong kecil berwarna biru tua.

 

 

 

 

 

“Ini untuk oppa” Sang-Mi menyerahkannya pada Donghae.

 

 

 

 

 

“Apa ini?” selidik Donghae.

 

 

 

 

 

“Buka saja oppa” Donghae membuka tali yang menyimpul pada bagian atas dari kantung tersebut. Mengeluarkan isinya.

 

 

 

 

 

“Itu dasi untuk oppa, selamat hari pernikahan kita oppa tidak terasa sudah dua tahun kita menjadi suami istri” Lagi rasanya Donghae terperosok ke dalam lumpur hidup yang terus menariknya untuk tenggelam. Dia tidak ingat hari ini hari apa? Sebenarnya apa yang ada di dalam kepalanya mengingat hal ini saja tidak bisa. Sang-Mi memberikannya sebuah kado hari ini sedangkan dia malah menanyakan sesuatu atau bahkan mengungkit sesuatu yang menyesakkan bagi istrinya. Di hari yang seharusnya mereka melakukan hal-hal romantis seperti pasangan-pasangan lain Donghae malah melakukan hal sebaliknya.

 

 

 

 

 

“Aku sudah menyimpulkan tali dasinya oppa, jadi oppa bisa memasangkannya sendiri tinggal menarik bagian ini” Sang-Mi mencontohkannya pada Donghae.

 

 

 

 

 

“Dan aku juga sudah menyimpulkan semua tali dasi oppa agar oppa tidak kesulitan ketika memakainya”

 

 

 

 

 

“Mwoya?”

 

 

 

 

 

“Ne?” kenapa Donghae bertanya apa padanya.

 

 

 

 

 

“Kau menyimpulkan semua tali dasiku?”

 

 

 

 

 

“Hmmh” angguk Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Wae? Memangnya kau mau kemana?”

 

 

 

 

 

“Aku tidak akan pergi kemana-mana oppa? Kenapa oppa bertanya seperti itu?” Sang-Mi bingung dengan pertanyaan-pertanyaan Donghae kali ini.

 

 

 

 

 

“Aku tidak mau memasangkannya sendiri. Aku mau kau yang tetap memasangkannya untukku setiap pagi atau kapanpun aku harus mengenakan dasi. Aku akan melepas semua simpul tali yang sudah kau buat” Jawab Donghae tegas.

 

 

 

 

 

“Atau aku akan membuang semua Dasi yang telah kau simpulkan bila perlu”

 

 

 

 

 

“Astaga oppa jangan di buang. Baiklah akan aku lepas semua simpulnya nanti” Sang-Mi terkikih melihat ekspresi Donghae.

 

 

 

 

 

“Aku akan bersiap-siap dulu oppa” Sang-Mi membereskan keranjang-keranjangnya beranjak dari duduknya membuat Donghae seketika membulatkan matanya.

 

 

 

 

 

“Kau mau kemana?” Suara Donghae terdengar meninggi tangannya menggenggam lengan Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Oppa mengagetkanku. Hari ini aboji dan eomma akan kemari merayakan hari pernikahan kita. Aku berencana membuat kue tart bersama eomma jadi aku harus bersiap-siap. Sepertinya mereka sudah dalam perjalanan”

 

 

 

 

 

“Oh..ne..ne gomawo untuk hadiahnya” jawab Donghae tergagap. Orang tuanya saja ingat dengan hari pernikahannya bahkan berniat merayakannya bersama sedangkan dirinya? Benar-benar membuatnya seperti seorang manusia yang tidak punya otak. Ani bukan tidak punya otak tapi tidak menggunakannya dengan benar.

 

 

 

 

 

Donghae and Sang-Mi’s living room 18:30 kst

 

 

 

 

 

Author pov

 

 

 

 

 

“Aigoo ini terlihat enak yeobo” Suara Donghyun menggema di ruang keluarga rumah anaknya. Melihat sebuah kue tart berbentuk bulat besar dengan di taburi buah strawberry dan kiwi di atasnya membuat lidahnya meronta meminta untuk mencicipinya.

 

 

 

 

 

“Yeobo jangan dulu di makan! Tunggu sebentar” Hye-Sun menginterupsi suaminya ketika jari Donghyun sudah mendekat ingin mencicipi bagian pinggir kue yang di buatnya bersama menantunya.

 

 

 

 

 

“Mana lilinnya Donghae~ya? Kau lama sekali ayahmu sudah akan merusak kue buatan eomma dan istrimu” Hye-Sun berteriak memanggil Donghae yang tadi di suruhnya mengambil dua batang lilin yang ia tinggalkan di dapur.

 

 

 

 

 

Donghae berjalan dari arah dapur membawa apa yang ibunya perintahkan. Menyimpan dan membuat lilinnya berdiri di atas kue lalu menyalakan sumbu bagian atas agar bisa menyala.

 

 

 

 

 

“Sebelum kalian meniupnya ayo kita berdoa bersama, biar eomma yang memimpin doanya kali ini” Mereka mulai menyatukkan kedua tangannya memejamkan matanya dan membuka jalan hatinya untuk berbicara dengan Tuhan. Hye-Sun memimpin doa dengan tenang. Kalimat-kalimat indah dia panjatkan untuk keluarganya kepada Tuhan. Rasa terimakasihnya dan harapan-harapannya di masa depan tak lupa dia sampaikan. Membuat mereka khusu dan larut dalam buaian ketentraman sebuah doa.

 

 

 

 

 

“Cha kalian boleh meniupnya” Hye-Sun memberi intruksi pada anak dan menantunya. Donghae dan Sang-Mi mendekatkan tubuh mereka ke depan meja lalu secara bersamaan meniup dua buah lilin simbol dari angka pernikahan mereka. Setelah berhasil meniup lilin tersebut mereka di beri pelukan oleh kedua orang tua mereka sebagai tanda selamat dan kasih sayang untuk kedua anaknya.

 

 

 

 

 

“Boleh aku memotongnya sekarang?” Donghyun berucap dengan tidak sabar.

 

 

 

 

 

“Yeobo ini kue untuk mereka. Kau ini sudah tua masih saja seperti anak kecil” ujar Hye-Sun yang sedikit kesal melihat tingkah suaminya.

 

 

 

 

 

“Gwenchana Eomma.. Aboji biar aku ambilkan” Sang-Mi mengambil pisau yang tadi di pegang oleh ayah mertuanya kemudian dia memotongnya dan meletakkan di piring kecil lalu menyerahkannya pada seseorang yang tadi di panggilnya aboji. Tak lupa Sang-Mi mengambilkan untuk ibu mertuanya dan juga untuk Donghae. Membuat setiap potongan yang sama.

 

 

 

 

 

“Ini enak sekali yeobo..bagaimana menurutmu Donghae~ya?” puji Donghyun.

 

 

 

 

 

“Ne tentu saja aboji, eomma dan istriku memang hebat” Donghae mengacungkan jempolnya.

 

 

 

 

 

“Tentu saja rasanya pun tak kalah dengan kue yang di jual di toko” ujar Hye-Sun memuji kue buatannya dan Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Eoh Sang-Mi~ya bagaimana kau berhasil memasaknya kemarin?” Sang-Mi sedikit tidak mengerti  dengan pertanyaan ibu mertuanya. Membuatnya mengingat-ngingat kembali dan menggali memorinya ke belakang.

 

 

 

 

 

“Kau anak manja sudah besar masih merindukkan masakan ibumu kau menyusahkan istrimu saja. Dia sampai melefonku dan menanyakan bagaimana cara memasak makanan yang biasa aku masak untuk makan malam untuk membuatmu senang” Hye-Sun memukul lengan Donghae ketika mengatakannya. Setelah mendengar itu Sang-Mi baru mengerti apa yang di maksud oleh Hye-Sun. Hari ketika dia menelefon mertuanya dan memasakkan makanan untuk Donghae yang berujung kemarahan Donghae. Apa Donghae menyadarinya jangan sampai karena mengungkit hal ini lagi membuat Donghae kembali marah.

 

 

 

 

 

“N..ne?” Donghae bertanya kepada ibunya. Mukanya berubah tegang mendengar apa yang di katakan ibunya. Apa yang di maksud oleh ibunya adalah masakan yang dia makan tempo hari? Makanan yang dia tumpahkan karena kemelut yang menyinggahi hatinya yang membuat kepalanya tidak bisa berpikir jernih. Hari dimana dia membentak Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Bagaimana rasanya? Apa sama seperti masakan eomma?” Di tambah dengan pertanyaan ibunya barusan. Rasanya apa sama seperti masakan ibunya? Jadi? Selanjutnya yang Donghae lakukan adalah memandang Sang-Mi yang juga terlihat bingung karena tidak menyangka mertuanya akan menanyakan hal itu.

 

 

 

 

 

“Ya Lee Donghae! Kau ini kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataan eomma?” Hye-Sun yang melihat raut wajah Donghae membuatnya merasa ada yang salah dengan perkataannnya barusan.

 

 

 

 

 

“Ne..ne rasanya sama bahkan aku sampai mengira itu masakan eomma” Donghae menjawab pertanyaan ibunya. Dia tidak ingin kalau orang tuanya sampai tau insiden malam itu. Bisa habis dia di pukili oleh ibunya. Tapi bukan itu yang dia pikirkan dia memikirkan Sang-Mi dia kembali melakukan kesalahan pada istrinya.

 

 

 

 

 

“Itu masakan istrimu bukan masakanku” ya ya harus berapa kali ibunya menjelaskan itu. Dia sudah tahu tentang hal itu. Seolah-olah ibunya mengatakan bahwa dia suami yang bodoh atau bahkan manusia yang bodoh yang sudah marah-marah tidak jelas hanya karena masakan istrinya mempunyai rasa yang sama dengan masakan ibunya.

 

 

 

 

 

“Apa kau bahagia dengan pernikahanmu Sang-Mi~ya?” semua mata sekarang tertuju pada Donghyun yang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan mereka tapi dengan topik yang berbeda. Belum sempat Sang-Mi menjawab ibu mertuanya sudah mengeluarkan suaranya.

 

 

 

 

 

“Kenapa kau bertanya seperti itu Yeobo?”

 

 

 

 

 

“Mereka kan sudah menikah selama dua tahun aku hanya ingin bertanya saja. Sang-Mi~ya Donghae memperlakukanmu dengan baik?” Donghyun memandang Sang-Mi seolah-olah mengancam dan meminta pertanyaannya di jawab. Donghae yang sudah kalut oleh perkataan ibunya tadi semakin tegang mendengar perkataan ayahnya sekarang. Apakah hari ini semua orang memang berencana memojokkan dia? Atau semua orang ingin mengintimidasi dirinya?

 

 

 

 

 

“Ne… Aku bahagia Aboji..Donghae oppa memperlakukanku dengan baik” Sang-Mi mengangguk lalu memperlihatkan senyumnya pada semua orang yang ada di sana. Donghyun pun ikut mengangguk mendengar jawaban dari Sang-Mi kemudian menyendokkan sepotong kue lagi dan memasukkannnya ke dalam mulutnya.

 

 

 

 

 

“Apa yang membuatmu bahagia dengan pernikahan kalian?” ini pertanyaan yang Sang-Mi takutkan keluar dari mulut ayah mertuanya. Jika pertanyaan-pertanyaan tadi masih bisa dia jawab lalu dengan pertanyaan ini dia harus bagaimana? Mungkin istri-istri yang lain akan menjawab karena suaminya memberikan cinta untuk mereka. Lalu dia?

 

 

 

 

 

“…” semua orang terlihat menunggu jawaban Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Karena aku bisa mempunyai keluarga Aboji”

 

 

 

 

 

“Keluarga?” Tanya Donghyun sedikit aneh.

 

 

 

 

 

“Aku bisa mempunyai eomma. Merasakan kasih sayang eomma dan juga kasih sayang aboji. Aku bisa melakukan hal-hal yang dulunya tidak bisa aku lakukan”

 

 

 

 

 

“Apa maksudmu Sang-Mi~ya?” sekarang Hye-Sun yang merasa penasaran.

 

 

 

 

 

“Eomma mengajarkanku memasak lalu kita pergi berbelanja dan pergi ke salon bersama atau yang paling membuatku merasa memiliki seorang ibu adalah ketika kita menggosip bersama. Itu semua impian terbesarku eomma” Sang-Mi menjawabnya dengan sebuah tatapan kosong dia mengingat hal itu hal yang membuatnya bahagia sudah memiliki ibu mertua yang memperlakukannya seperti anak perempuannya sendiri.

 

 

 

 

 

“Sebelumnya aku tidak pernah melakukan itu. Ibuku meninggal ketika melahirkanku jadi aku tidak bisa melakukan hal-hal yang biasa anak perempuan lakukan bersama ibunya. Tapi aku bisa melakukannya sekarang bersama eomma” semua yang berada di situ hanyut dengan kata-kata Sang-Mi barusan. Mereka mendengarkan setiap detail kalimat yang Sang-Mi ucapkan.

 

 

 

 

 

“Juga aku mempunyai aboji. Aku bisa merasakan kasih sayang seorang ayah lagi. Ketika appa meninggal saat umurku 16 tahun aku kehilangan semuanya kehilangan kasih sayang keluargaku satu-satunya. Tapi sekarang aku mempunyai aboji.” Mata Hye-Sun sudah berkaca-kaca mendengar penuturan Sang-Mi. Begitupun Donghae mendengar Sang-Mi mengatakan itu membuat dirinya sadar sudah melupakan Sang-Mi selama ini. Melupakan apa yang menjadi tugas seorang suami menjadi tempat berbagi kebahagian dan kesedihan untuk istrinya. Dia tau ayah dan ibu Sang-Mi sudah meninggal. Tapi dia tidak tau dampak dari hal itu untuk Sang-Mi. Pasti Sang-Mi merasa sendiri dan kesepian, di tambah dengan sikapnya yang buruk. Dia tidak bisa membayangkan lagi bagaimana keadaan Sang-Mi selama ini.

 

 

 

 

 

“Ketika aboji menjemput aku dan eomma sepulang kami belanja lalu ketika aboji mengajakku makan siang bersama juga seperti pertanyaan aboji barusan apa Donghae oppa memeperlakukanku dengan baik atau apa aku bahagia dengan pernikahanku? Itu hal-hal yang biasa seorang ayah lakukan untuk putrinya”

 

 

 

 

 

“Sang-Mi~ya” Hye-Sun menitikan air matanya. Mengambil tissue di atas meja lalu menghapus air matanya.

 

 

 

 

 

“Aku bahagia dan sangat berterimakasih pada Donghae oppa karena sudah membawaku kepada keluarganya sehingga aku bisa meraskan kasih sayang yang mungkin tidak akan pernah aku rasakan jika aku tidak menerima ajakan Donghae oppa untuk menikah dengannya” Donghyun menepuk pundak Sang-Mi dia merasa bersalah telah menanyakan hal itu pada Sang-Mi jika pada akhirnya menyisakan suasana haru seperti sekarang. Dia hanya ingin memastikan apa anak laki-lakinya tidak menyakiti istrinya lagi? Atau jika Sang-Mi menjawab tidak bahagia dengan pernikahannya dan Donghae tidak memperlakukannya dengan baik biar dia yang membalaskannya untuk Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Terimakasih aboji sudah melakukan hal-hal yag biasa di lakukan oleh seorang ayah pada anak perempuannya. Juga terimakasih eomma karna sudah mewujudkan semua impianku selama ini. Aku pikir itu akan hanya menjadi impianku saja tapi setelah bertemu eomma semua impianku bisa menjadi kenyataan.”

 

 

 

 

 

Sang-Mi mengeluarkan rasa terimakasihnya kepada kedua mertuanya yang sudah membuatnya merasakan memiliki sebuah keluarga. Ibu dan ayah Donghae memandang takjub atas apa yang menantunya ungkapkan. Mereka merasa bahagia karna Donghae telah membawakan menantu seperti Sang-Mi juga mereka bersyukur kepada Tuhan karena telah manyatukan mereka dalam sebuah keluarga.

 

 

 

 

 

Escapella colly restaurant, Myeongdeong 20:00 kst

 

 

 

 

 

Author pov

 

 

 

 

 

Donghae menggandeng sebelah tangan Sang-Mi memasuki sebuah restaurant. Terlihat pelayan menyapa mereka. Menanyakan apa ada yang bisa dia bantu? Donghae mengatakan bahwa dia sudah memiliki meja dan meminta untuk di antarkan menuju meja yang sudah di pesannya. Pelayan tersebut membungkuk mengantarkan mereka menaiki lantai dua restaurant. Sang-Mi hanya diam mengikuti setiap langkah Donghae.

 

 

 

 

 

Tadi sore Sang-Mi menerima telefon dari Donghae dan mengatakan bahwa mereka akan pergi keluar malam ini. Tapi Donghae tidak mengatakan mereka akan pergi kemana. Donghae hanya menyuruh Sang-Mi bersiap-siap dan akan menjemputnya sekitar pukul tujuh malam. Hingga sampai di depan sebuah restaurant Sang-Mi baru mengerti mungkin mereka akan makan malam bersama. Ini pertama kalinya untuk mereka pergi makan malam bersama selama mereka saling mengenal. Dari dua tahun umur pernikahan mereka atau mungkin lebih tiga bulan dari masa saling mengenal mereka ini kali pertama Donghae menggandengnya memasuki sebuah restaurant. Jika pun mereka makan di luar pastinya hanya ajakan dari orangtua Donghae.

 

 

 

 

 

Mereka sampai di lantai dua dari restaurant tersebut. Berjalan terus mengikuti pelayan yang mengantarkan mereka. Sampai di sebuah meja di sana terlihat seorang wanita cantik dengan rambut panjang tergerai duduk dengan anggun yang terlihat sedang membaca sebuah pesan di handphonenya.

 

 

 

 

 

“Di sini tuan silahkan” suara sang pelayan menghentikan kegiatan wanita itu.

 

 

 

 

 

Sang-Mi melihat siapa wanita itu. Seketika melepaskan tangannya dari Donghae. Memundurkan langkah kakinya sedikit dari tempat dia berdiri ketika itu. Perlahan pikirannya di penuhi banyak pertanyaan. Kenapa Donghae mengajaknya kemari? Untuk apa mereka bertiga bertemu? Apa Donghae akan meninggalkannya sekarang dan memilih Hye-Jin?

 

 

 

 

 

Sama seperti wanita yang sedang duduk di kursinya raut wajahnya sedikit kaget tapi tetap dia tutupi dengan wajah angkuhnya dan keanggunannya. Donghae yang menyadari Sang-Mi melepaskan tangannya menoleh ke arah Sang-Mi. Kemudian mendekatkan dirinya kepada Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Gwenchana, kita duduk hmmmh” Donghae berucap lirih menuntun Sang-Mi dan mengajaknya duduk.

 

 

 

 

 

Sekarang mereka duduk bertiga. Sang-Mi duduk di samping Donghae dengan tangan yang berada di atas pahanya yang masih di genggam Donghae. Sedangkan wanita itu masih duduk di tempatnya tepat di depan Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Annyong Haseyo Sang-Mi`ssi. Kau mengajaknya oppa?” tanyanya dengan senyuman mengejeknya.

 

 

 

 

 

“Annyong haseyo Hye-Jin`ssi” jawab Sang-Mi sopan. Ya wanita itu tidak lain adalah Hye-jin. Kali ini bukan seperti kejadian-kejadian yang lalu. Ketika Sang-Mi mendapati kebersamaan suaminya bersama Hye-jin. Tapi dia sekarang di ajak Donghae berada di tengah-tengah kebersamaannya itu.

 

 

 

 

 

“Ada yang harus kita bicarakan bersama”

 

 

 

 

 

“Ada apa oppa? Apa itu penting? Bukankah malam ini kita akan makan malam romantis ber-du-a? Hye-Jin sedikit menekankan kata terakhir yang dia ucapkan.

 

 

 

 

 

Sang-Mi yang mendengarnya hanya bisa menundukkan wajahnya mengalihkan tatapannya dari dua orang yang sedang berbincang akan janji yang bertema makan malam romantis. Mungkin mereka tadi berjanji akan pergi makan malam romantis berdua. Dan tiba-tiba ada Sang-Mi sekarang yang menghancurkan acaranya.

 

 

 

 

 

“Ne ini penting, ini menyangkut hubungan di antara kita” meyakinkan Hye-Jin bahwa di antara makan malam yang Donghae katakan tadi siang akan ada pembicaraan penting.

 

 

 

 

 

“Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku pikir ini acara makan malam ternyata akan ada pembicaraan lain juga.”

 

 

 

 

 

“Tapi lebih cepat selesai akan lebih baik Hye-Jin~a”

 

 

 

 

 

“Oppa mau makan apa? Bagaimana kalau menu biasa. Setiap kita ke sini oppa pasti makan ini” Hye-Jin mengabaikan perkataan Donghae. Dia memanggil pelayan terdekat. Membaca buku menu lalu mengatakan menu pesanannya dan tentu saja dia juga memilihkan menu untuk Donghae. Kemudian memberikan buku menu itu kembali pada pelayan yang sudah mencatat pesanannya. Mengganggap hanya mereka berdua yang ada di meja.

 

 

 

 

 

“Tunggu” Donghae memanggil pelayan yang hendak pergi.

 

 

 

 

 

“Sang-Mi~ya kau mau makan apa?” Tanya Donghae mengambil buku menu lalu memberikannya pada Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Oh mian. Aku lupa kau belum memesan makanan Sang-Mi`ssi” kata Hye-Jin sambil mengibaskan rambutnya ke belakang bahu.

 

 

 

 

 

“Aku terserah oppa saja” jawab Sang-Mi tersenyum kepada Donghae.

 

 

 

 

 

“Samakan denganku. Hanya berikan sedikit mayonnaise dan jangan langsung di taruh di atas dagingnya. Simpan di bibir piring saja” Donghae menjelaskan kepada pelayan tersebut. Dia tahu bahwa Sang-Mi tidak begitu menyukai mayonnaise. Beberapa kali mereka makan bersama pasti Sang-Mi hanya akan memakan sedikit mayonnaisenya atau bahkan tidak dia sentuh sama sekali.

 

 

 

 

 

“Kau tidak suka mayonnaise bukan? Tapi menu itu tidak akan sempurna bila di makan tanpa ada mayonnaise di dalamnya jadi aku menyuruh pelayan itu memberikan sedikit mayonnaise di bibir piring saja.” Hye-Jin yang melihat apa yang di katakan Donghae merasa mendidih. Donghae memberikan perhatiannya pada Sang-Mi di depan dirinya. Sudah tidak benar pikirnya.

 

 

 

 

 

“Aku juga suka menu itu Sang-Mi`ssi kami beberapa kali memesan bersama ketika berkunjung ke mari. Tapi sekarang aku sedang diet jadi aku makan soup saja. Kau tau wanita harus menjaga tubuhnya?  Apalagi wanita yang sudah menikah dia harus menjaga tubuhnya agar tetap menarik supaya suaminya tidak lari pada wanita lain” Hye-Jin membalas Donghae dengan kata-katanya barusan. Dia sengaja tidak langsung menumpahkan kekesalannya mengenai Donghae. Jadi Sang-Mi lah yang menjadi sasarannya. Dia ingin membuat Sang-Mi semakin tidak nyaman dengan mengatakan bahwa dia dan Donghae sering makan malam bersama dan yang terakhir dia  ingin mengatakan secara tidak langsung  bahwa Sang-Mi tidak menarik sehingga Donghae pergi pada dirinya.

 

 

 

 

 

“Ah n…ne” Sang-Mi mengangguk kaku. Donghae semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Sang-Mi. Sejak mereka duduk Donghae tidak sedikitpun melepaskannya dan itu juga hal yang membuat Hye-jin kesal sehingga mengeluarkan kata-katanya tadi. Hingga beberapa lama tidak ada pembicaraan berkualiatas di antara mereka. Mungkin hanya terdapat celotehan-celotehan omong kosong yang Hye-Jin keluarkan untuk mengisi kekosongan. Ketika makanan sudah tiba pelayan menyimpannya di atas meja. Pesanan yang sama untuk Donghae dan Sang-Mi juga semangkuk soup panas yang terlihat asapnya masih mengepul ke luar dari tempatnya untuk Hye-jin.

 

 

 

 

 

“Sang-Mi`ssi boleh aku bertanya?” Hye-Jin mengeluarkan suaranya. Dia memandang Sang-Mi dengan sendok soup yang berada di tangannya.

 

 

 

 

 

“Ne tentu saja Hye-Jin`ssi” jawab Sang-Mi tenang. Meja mereka terlihat sangat kaku dan juga ada atmosphere ketegangan di antara mereka. Kebingungan yang menyelimuti Sang-Mi dan kekesalan yang menyelubingi Hye-Jin yang membuat suasana seperti itu tercipta.

 

 

 

 

 

“Dimana kau pertama kali bertemu dengan Donghae oppa?”

 

 

 

 

 

Sang-Mi melirik donghae yang ada di sebelahnya pandangan mereka bertemu. Memang sejak tadi jika Hye-Jin bertanya atau mengajak bicara pada Sang-mi Donghae akan langsung melihat dan memperhatikan keadaan Sang-Mi. Seakan akan takut perkataan Hye-Jin akan memojokkan atau mengintimidasi Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Kami bertemu di cambrige university saat itu aku sedang mengikuti tes untuk study master ku dan Donghae oppa sedang menemui Hyukjae di sana tanpa sengaja kami bertemu” Sang-Mi mencoba menjelaskannya.

 

 

 

 

 

“Kau mengenal Hyukjae oppa?” ujar Hye-Jin dengan wajah penuh tanya.

 

 

 

 

 

“Ne… Sebelum memulai belajar di sana kami mengikuti culture adaptation selama setahun dan  hanya aku dan hyukjae yang berasal dari korea jadi kami saling mengenal”

 

 

 

 

 

“Kau memanggilnya hyukjae  bukankah dia seumur dengan Donghae oppa? Sepertinya kalian sangat akrab.”

 

 

 

 

 

“Kami cukup dekat aku terbiasa memanggilnya seperti itu karena pada awalnya aku tidak mengetahui bahwa dia lebih tua dariku. Jadi kupikir kami teman sebaya” jawab Sang-Mi mengingat kembali salah satu teman baiknya. Teman yang mempertemukan dia dan suaminya sekarang.

 

 

 

 

 

“Dia itu bukankah perayu ulung?” Apa kau pernah tergoda olehnya?”

 

 

 

 

 

“Aniyo kami hanya berteman baik Hye-Jin`ssi” ujar Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Kau tau dia itu seorang playboy. Wanita yang dekat dengannya pasti sudah pernah dia tiduri” wajah sang-Mi seketika berubah. Apa yang di maksud dengan Hye-Jin dengan wanita yang dekat dengan hyukjae pasti sudah di tidurinya? Apa maksudnya Sang-Mi juga termasuk di dalamnya? Secara tidak langsung bukankah hye-jin memang mengatakan hal itu.

 

 

 

 

 

“Apa ka” perkataan hye-Jin seketika terpotong.

 

 

 

 

 

“Cukup!” Donghae berkata dengan sedikit keras sontak membuat mereka menghentikan pembicaraannya.

 

 

 

 

 

“Aku memang harus mengatakannya segera” kata Donghae pada wanita yang ada di depannya.

 

 

 

 

 

“Hye-Jin…sebenarnya aku di sini bersama istriku ada hal penting yang ingin aku katakan pada kalian berdua” Donghae menghela napas ringan memandang Sang-Mi dan Hye-Jin bergantian.

 

 

 

 

 

“Sang-Mi~ya” mendengar Donghae memanggil dirinya tiba-tiba jantung Sang-Mi berdegup kencang meronta seperti ingin lepas dari rusuk yang membelenggunya menembus kulit dada Sang-Mi dan melompat keluar. Apa Donghae akan mengatakannya sekarang? Meminta perpisahan padanya? Apa ini sudah mereka rencanakan sebelumnya? Menjadi pasangan yang memang tak terpisahkan di depan Sang-Mi. Tubuh Sang-Mi bergetar memikirkan hal itu. Wajah Sang-Mi menjadi sedikit tegang dan menimbulkan warna kepucatan di wajahnya. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan Donghae katakan.

 

 

 

 

 

Tubuh Donghae mendekat, sedangkan lengannya terulur mengusap pundak Sang-Mi. Tangan yang satunya kembali menggenggam erat tangan Sang-Mi yang gemetaran.

 

 

 

 

 

“Aku ingin meminta maaf padamu Sang-Mi~ya” mata Sang-Mi berkaca-kaca. Hye-jin yang berada di depan mereka tersenyum sinis memandang Sang-Mi. Dia sudah tahu bahwa Donghae cepat atau lambat akan mengatakan hal ini pada istrinya. Mengatkan bahwa mereka harus berpisah karena Donghae tidak bisa hidup tanpa Hye-jin. Tapi dia tidak menyangka bahwa Donghae akan melakukannya di depan dirinya. Tak apa jika tadi Donghae memeperlihatkan sedikit perhatiannya pada Sang-Mi jika pada akhirnya memberikan tontonan paling menarik sepanjang hidup Hye-jin.

 

 

 

 

 

“Aku…”

 

 

 

 

 

“Aku ingin minta maaf padamu atas kesalahan yang pernah aku buat selama ini. Kesalahanku mengkhianatimu. Aku minta maaf padamu dan di hadapan Hye-Jin seesorang yang melakukan kesalahan bersamaku. Aku mengakui bahwa selama ini aku telah bersalah padamu dan aku ingin memperbaikinya” Donghae memandang Sang-Mi matanya menyiratkan keteduhan.

 

 

 

 

 

“Dan Hye-jin kumohon kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku tahu kebersamaan kita selama sebelas tahun ini banyak kenangan yang mungkin memang akan membekas dalam hati dan ingatanku” Donghae melepas napas sejenak.

 

 

 

 

 

“Tapi aku sadar itu hanya masa lalu dan aku ingin membuat kenangan dan memori dalam hidupku selama sisa hidupku bersama istriku Sang-Mi. Aku tidak akan membuang masa laluku aku akan menyimpannya rapat tapi aku akan meraih masa depanku yang lebih berharga dan aku ingin di dalam masa depanku adalah Sang-Mi yang mengisinya. Untuk itu aku meminta perpisahan padamu” Donghae mengalihkan pandangannya pada Hye-jin melihat Hye-Jin yang bukan main benar-benar terkejut.

 

 

 

 

 

“M…MWOYA?” Hye-Jin memandang Donghae dengan bibir yang bergetar. Kemudian bergantian memandang Sang-Mi penuh benci. Syaraf-syaraf emosi terlihat di wajahnya. Kedua tangannya memegang mangkuk sup yang ada di depannya.

 

 

 

 

 

“Ne kumohon lepaskan aku. Walaupun aku hanya akan hidup sampai hari esok aku yakin kenangan yang indah maupun pahit yang aku lalui bersama istriku akan lebih berharga dan lebih indah dibanding beribu kenangan kita.” Donghae melanjutkan perkataannya.

 

 

 

 

 

“Kau, kau lebih memilih wanita yang baru kau kenal ini? Daripada aku yang selama sebelas tahun ini ada di hidupmu Lee Donghae?” saking tidak percayanya dengan apa yang Donghae katakan membuat Hye-Jin tidak memanggilnya dengan panggilan oppa lagi.

 

 

 

 

 

“Ne benar. Aku akan memperbaiki semuanya” jawab Donghae yakin.

 

 

 

 

 

Puncak emosi yang benar-benar sudah mencapi ubun-ubun bagi Hye-Jin. Donghae memperlakukannya seperti ini. Dia merasa di buang untuk ke dua kalinya oleh Donghae setelah yang pertama saat dia mengetahui bahwa Donghae telah menikah dengan Sang-Mi. Juga kebenciannya pada Sang-Mi sudah tak bisa terelahkan lagi. Hye-Jin mengangkat mangkuk soup yang sejak tadi di genggamnya dan dengan cepat menyiramkannya pada wanita yang duduk di hadapannya.

 

 

 

 

 

“Akh” Sang-Mi secara tiba-tiba berdiri dari tempatnya. Merasakan cairan panas menghinggapi tubuhnya tangannya secara otomatis membersihkan tumpahan soup di bajunya. Donghae ikut berdiri. Mengambil tissue yang berada di atas meja lalu ikut membersihkannya.

 

 

 

 

 

“Gwenchana?” Tanya Donghae cemas. Sang-Mi hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Tumpahan soup itu mengenai kulitnya menembus bajunya. Hye-Jin menyirmkan soup itu tepat pada bagian dada Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Apa yang kau lakukan. Soup itu panas Hye-jin?” Geram Donghae.

 

 

 

 

 

“Benar tidak apa-apa?” Tanya Donghae kembali memandang Sang-Mi yang masih membersihkan bajunya.

 

 

 

 

 

“Hah kalian pasangan yang menjijikan” Hye-Jin mendengus kesal melihat pemandangan yang ada di depannya.

 

 

 

 

 

“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi Hye-Jin. Camkan itu!” Donghae menunjuk wajah hye-Jin dengan telunjuknya. Memundurkan kursinya lalu menuntun Sang-Mi bersama dirinya menjauh dari meja yang tadi mereka duduki.

 

 

 

 

 

Sekarang hanya tertinggal Hye-Jin sendiri di sana. Perlahan air mata menetes di wajahnya. Perasaan terhimpit merasuki hatinya. Perasaan menyakitkan yang kemarin Sang-Mi rasakan kini terdapat pada dadanya tapi bedanya perasaan sakit yang Hye-Jin rasakan adalah perasaan yang di akibatkan oleh dirinya sendiri. Di akibatkan oleh perbuatannya sendiri. Dia menginginkan Donghae meninggalkan Sang-Mi dengan penuh kepedihan tapi lain hal nya dengan sekarang dia yang di tinggalkan bukan hanya penuh dengan kepedihan tapi juga dengan kegetiran. Seakan Tuhan memberikan karma untuknya.

 

 

 

 

 

Donghae & Sang-Mi’s House 01:00 kst

 

 

 

 

 

Author pov

 

 

 

 

 

Sang-Mi sedikit terusik dari tidurnya. Kulit di bagian dada kirinya terasa perih padahal tadi tidak terasa seperih ini. Dia beranjak dari tempat tidurnya berjalan ke arah meja rias tempat dia menyimpan salepnya tadi. Sang-Mi membuka dua buah kancing kemejanya. Dia duduk di kursi di depan meja rias yang ada di kamarnya. Mengambil salep yang tadi dia ambil untuk mengolesinya pada kulit yang tadi terkena tumpuhan soup panas.

 

 

 

 

 

Donghae melihat istrinya itu dari atas tempat tidur. Sang-Mi melakukannya kembali. Sepertinya Sang-Mi belum bisa mempercayainya. Dia kembali menutupi kesakitannya di depan Donghae. Bukan kesakitan hatinya tapi sekarang bahkan kesakitan yang fisiknya rasakan. Sejak tadi Donghae bertanya apa tidak apa-apa atau bahkan Donghae memaksa Sang-Mi untuk pergi ke rumah sakit tapi Sang-Mi bersikeras menolaknya. Dan sekarang dia bangun tengah malam untuk mengolesi lukanya sendiri.

 

 

 

 

 

Donghae bangun dari tempatnya. Mendekat ke arah Sang-Mi. “Kau melakukannya lagi” ujar Donghae. Sang-Mi memandang Donghae dari kaca yang ada di depannya. “Oppa bangun? Mian aku mengganggu tidur oppa”

 

 

 

 

 

Donghae semakin mendekat sekarang dia tepat berada di belakang Sang-Mi. “ Kenapa kau melakukannya lagi sekarang bahkan kau menutupi sakit yang di rasakan tubuhmu. Bukankah tadi kau bilang tidak apa-apa. Sudah ku katakan jika sakit katakan sakit dan jika marah katakan kau marah padaku Sang-Mi~ya” Karena sejak pulang dari restaurant tadi tak ada pembicaraan di antara mereka hanya sebatas pertanyaan Donghae yang menanyakan keadaan Sang-mi dan ya hanya Sang-Mi jawab dengan gumaman atau senyuman saja. Donghae berpikir mungkin Sang-Mi masih kaget dengan kejadian tadi dengan perkataan-perkataannya atau dengan sikapnya. Tapi Donghae merasa bodoh mungkin segala urusannya dengan Hye-Jin sudah berakhir tapi dengan Sang-Mi? masih belum ada kejelasan.

 

 

 

 

 

“Aniyo oppa jangan salah paham. Tadi memang tidak terasa perih tapi ketika tidur baru terasa, sampai membangunkanku karna perihnya”  Sang-Mi berbalik menghadap Donghae tapi tetap tidak beranjak dari duduknya. Tangannya memegang piyama yang tadi kancingnya sudah dia buka menutupinya di depan Donghae.

 

 

 

 

 

“Mana salepnya? Biar aku yang melakukannya?” Donghae mengambil salep yang tadi sang-Mi pegang kemudian berlutut di depan Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Gwenchana oppa, Aku bisa sendiri” ucap Sang-Mi sambil berusaha merebut kembali salep yang ada di tangan Donghae. Tapi Donghae tidak memberikannya. Donghae menurunkan tangan Sang-Mi yang tadi dia gunakan untuk menutupi kancing yang terbuka. Membuka satu kancing lagi piyama Sang-Mi kemudian sedikit menyingkapkannya ke samping.

 

 

 

 

 

“Merah seperti ini kau masih mau mengatakan tidak apa-apa?” Donghae membuka tutup salepnya mengeluarkan sedikit isinya kemudian menaruh di ujung telunjuknya.

 

 

 

 

 

Sang-Mi hanya diam tidak mau membantah Donghae karena melihat wajah Donghae yang begitu serius. Mulai dari bagian dada atasnya Donghae mengoleskannya perlahan bahkan sangat hati-hati. Turun ke bagian bawah hingga hampir mengenai puting payudara Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Aah”

 

 

 

 

 

“Wae? Apa sakit?” Donghae mendongakan wajahnya memandang khawatir Sang-Mi. Sang-Mi menggeleng memandang dalam mata Donghae yang memang memancarkan kekhawatirannya.

 

 

 

 

 

“Gomawo oppa”

 

 

 

 

 

“Aku belum selesai mengoleskannya kau sudah berterima kasih” Donghae berbicara sambil terus meratakan dan mengusap pelan bagian-bagian kemerahan pada kulit Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Aniyo. Terimakasih untuk yang tadi… maksudku ketika tadi di restaurant” Sang-Mi tersenyum pada Donghae.

 

 

 

 

 

Donghae pov

 

 

 

 

 

Aku melihatnya tersenyum. Senyum kehangatan yang di selimuti kebahagian. Akhirnya Sang-Mi mengawali membahas hal ini juga. Awalnya aku mengira bahwa Sang-Mi tidak memerdulikan apa yang aku lakukan di restaurant tadi. Kata maaf pertamaku untuk Sang-Mi. Tapi ternyata tidak. Akhirnya dia mengeluarkan suaranya akan hal itu.

 

 

 

 

 

“Jujur aku sangat terkejut dengan apa yang oppa lakukan hingga membuatku benar-benar tidak bisa mengeluarkan suara. Isi kepalaku di penuhi banyak pertanyaan. Kenapa oppa melakukan hal itu? Apa oppa tidak akan menyesal dengan kata-kata yang oppa katakan tadi dan masih banyak lagi” Dia terlihat menghela napas singkat.

 

 

 

 

 

“Tapi di balik semua keterkejutan dan kebingungan akan pertanyaan-pertanyaan itu ada suatu perasaan dalam hatiku. Perasaan yang memerintahkanku untuk berlari dan memeluk erat apa yang menjadi keputusan oppa. Untuk itu aku berterimakasih untuk apa yang telah oppa lakukan. Gomawo oppa” Dia melanjutkan perkataannya. Air mata sudah menetes di kedua pipinya. Tapi tidak seperti biasanya yang akan langsung dia hapus atau berbalik menutupinya. Air matanya dia biarkan keluar di depan mataku.

 

 

 

 

 

“Aku sudah tiba Sang-Mi~ya. Kau tidak perlu menunggu sendiri lagi kau tidak perlu terus berdiri menungguku dengan hati penuh luka lagi hmmh?” kedua tanganku menyentuh wajahnya menghapus air matanya yang menetes.

 

 

 

 

 

“Terimakasih sudah mau menungguku dengan sabar, terimakasih sudah menyadarkanku dengan ketegaranmu dan terimakasih sudah menghidupkan jiwaku dengan kesetianmmu” aku mendekatkan wajahku membuat hidung kami bersentuhan halus.

 

 

 

 

 

“Memang itu tugasku sebagai seorang istri oppa…tidak perlu berterimakasih” Sang-Mi memperlihatkan senyumnya di tengan tetesan air matanya.

 

 

 

 

 

“Dan…”

 

 

 

 

 

“Dan maafkan aku atas beribu kesalahan yang sudah aku lakukan padamu. Atas tak pernah adanya kata maaf yang keluar dari mulutku. Maafkan aku untuk kepedihan serta kesakitan yang aku timbulkan pada hatimu” aku mengecup keningnya. Kemudian kembali memandang matanya.

 

 

 

 

 

“Eoh..” Sang-Mi mengangguk kuat. Air matanya kembali keluar membasahi tanganku yang masih menangkup wajahnya.

 

 

 

 

 

“Aku tidak membutuhkan beribu kata maaf atas beribu kesalahan yang telah opp lakukan. Aku hanya membutuhkan satu kata maaf yang mempunyai keajaiban untuk dapat memperbaiki semuanya”

 

 

 

 

 

“Akumemaafkanmu oppa…Terimakasih sudah datang ke tempatku berdiri ke tempat dimana aku menunggu oppa” Sang-Mi menjawabnya dengan isakan kemudian dia melakukan apa yang tadi aku lakukan dia mendekatkan wajahnya dan mencium sekilas keningku. Membuatku tersenyum lega.

 

 

 

 

 

“Maaf karena baru bisa mengatakannya sekarang dan maaf atas keterlambatanku juga maaf sudah membuatmu menunggu lama” Aku memeluknya erat mencoba menumpahkan padanya apa yang aku rasakan.

 

 

 

 

 

“Gwenchana oppa..gwenchana.. aku tidak merasa lelah menunggu oppa lama. Aku juga tidak merasa letih menunggu keterlambatan oppa. Jika waktu yang lama akan keterlambatan oppa membuat semuanya berarti” Sang-Mi berbisik lembut di telingaku.

 

 

 

 

 

Inikah rasanya telah berbuat benar? Rasa lega dan ringan menyinggahi hatimu ketika kau tidak lagi berbuat salah kepada orang yang benar? Orang yang mencintaimu sepenuh hati, menyayangimu dengan segenap jiwa dan orang yang mengabdikan kejujuran serta kesetiannya padamu. Membuatmu merasakan kelembutan yang hatinya berikan. Ya ini benar aku di berikan kesempatan oleh Tuhan untuk merasakannya.

 

 

 

 

 

Still Santorini, yunani 09:00 local time

 

 

 

 

 

Sebuah rumah artistik berwarna putih di atas tebing merah raksasa memperlihatkan ke eksotisannya. Udara hangat di luar dengan langit biru tanpa awan menimbulkan kehangatan bagi sekitarnya. Juga hamparan laut lepas dengan ombak tenang yang menentramkan jiwa.

 

 

 

 

 

“Kau suka?” Seorang pria mendekat melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita yang sedang menikmati keindahan tempat itu. Mereka berdiri di depan sebuah jendela berbentuk persegi panjang yang menampakkan pemandangan di luar sana.

 

 

 

 

 

“Hmmm Gomawo oppa” Sang wanita menyentuh lengan prianya mencoba menyalurkan perasaan takjubnya akan tempat itu.

 

 

 

 

 

“Di sini aboji dan eomma pertama kali bertemu di tempat ini juga pertama kali mereka saling jatuh cinta” Donghae berbisik di telinga Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Jinja? Pantas saja di sini memang indah sekali oppa” ujarnya.

 

 

 

 

 

“Ne sangat indah tapi tetap jauh lebih indah seorang wanita yang berada dalam pelukanku sekarang” Donghae mengecup bahu Sang-Mi yang terbuka. Sedangkan Sang-Mi hanya tersenyum mendengar ucapan Donghae. mereka memandang lepas keagungan yang Tuhan ciptakan di luar jendela kamar mereka.

 

 

 

 

 

Donghae menurunkan lengan kanannya dari pinggang Sang-Mi turun meronggoh saku celananya. Dia mencari sesuatu yang tadi dia simpan di sana. Setelah menemukannya dia meraih tangan kiri Sang-Mi dengan lembut. Kemudian menghadapkan Sang-Mi ke arahnya agar mereka bisa saling berhadapan. Mengangkat jemari tangan Sang-Mi sejajar dengan wajahnya kemudian mencium singkat jari manis istrinya itu mata mereka tak lepas saling memperhatikan. Dengan perlahan Donghae melingkarkan sesuatu yang sejak tadi dia pegang sebuah benda bulat kecil sederhana bermahkotakan batu rubi berwarna violet dengan setitik berlian di atasnya.

 

 

 

 

 

“Selamat hari pernikahan kita. Maaf aku terlambat mengucapkannya dan memberikannya” Donghae kembali merengkuh Mendekatkan tubuh istrinya.

 

 

 

 

 

“I..ni..” Sang-Mi begitu terpukau dengan keindahan benda yang sudah melingkar di jari manisnya hingga membuat dia kehilangan kata-katanya.

 

 

 

 

 

“Hmmh itu hadiahku untukmu Sang-Mi~ya. Aku harap kau menyukainya” Donghae mencuri ciuman dari bibir Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Ini indah sekali..Gomawo oppa” Sang-Mi perlahan menyetuh benda yang melingkar di jarinya dia memperhatikannya dengan seksama.

 

 

 

 

 

“Gomawo” ucapnya kembali memandang Donghae yang sejak tadi tersenyum kepadanya.

 

 

 

 

 

“Kau menyukainya? Aku takut kau tidak menyukainya tapi Enhyuk mengatakan bahwa kau akan menyukainya”

 

 

 

 

 

“Hyukjae?” tanya Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Ne aku meminta bantuannya. Aku sendiri yang merancang desainnya lalu aku meminta bantuan Enhyuk untuk memesannya di toko perhiasan di tempatnya sekarang di Slovania. Batu rubi terindah berasal dari sana yang aku tahu. Dan aku tidak yakin kau menyukai rancanganku tapi Enhyuk meyakinkanku bahwa kau pasti menyukainya” jawab Donghae mencoba menjelaskannya.

 

 

 

 

 

“Aku menyukainya oppa sangat menyukainya” wajahnya terlihat berseri memperlihatkan kebahagian yang ada pada dirinya.

 

 

 

 

 

“Sang-Mi~ya” Panggil Donghae. Sang-Mi mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tak lepas dari cincin yang di berikan Donghae. Tangan Donghae masih setia melingkar di pinggul belakang tubuh Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu istriku Lee Sang-Mi. Aku mencintai wanita yang berada di hadapanku sekarang yang akan menjadi ibu dari anak-anakku aku mencintaimu dengan hati dan jiwaku” Donghae mengatakannya dengan jelas. Sang-Mi yang masih berada dalam dekapan Donghae hanya diam membatu mendengar apa yang barusan Donghae katakan. Terdengar jelas oleh hati dan telinganya membuat jantungnya bukan main terasa di tabuh dengan kencang dan cepat. Donghae mengatakan bahwa dia mencintainya. Itu kata cinta pertama yang Donghae katakan. Kata cinta pertama yang Sang-Mi dengar selama pernikahan mereka ani lebih tepatnya selama mereka saling mengenal satu sama lain.

 

 

 

 

 

“Lee Sang-Mi kau mendengarku? Aku mencintaimu Aku mecintaimu” Donghae mengulang-ngulang perkataannya.

 

 

 

 

 

“Aku..Aku” ucap Sang-Mi terbata-bata. Dia masih mencerna perkataan Donghae juga mencerna apa yang dia rasakan sekarang. Apakah ini rasanya ketika orang yang kita cintai mengungkapkan cinta kepada kita? Apakah ini rasanya terbang menuju langit ke tujuh dan menyaksikkan para bidadari menggoreskan setiap warna indah pelangi. Menakjubkan ya betapa menakjubkannya perasaan ini.

 

 

 

 

 

“Sang-Mi~ya” Panggil Donghae lagi.

 

 

 

 

 

“Aku juga mencintaimu oppa” Sang-Mi mengeluarkan suaranya lirih. Air matanya sudah menggenang di sudut ke dua matanya.

 

 

 

 

 

“Hei jangan menangis. Aku sedang menyatakan cinta padamu Lee Sang-Mi jangan merusak suasana” Donghae mengatakannya dengan sedikit tertawa.

 

 

 

 

 

“Aku tidak menangis oppa” jawab Sang-Mi sedikit ketus karena mendapat ejekan dari suaminya.

 

 

 

 

 

Donghae manarik Sang-Mi ke dalam dekapannya memeluknya ke dalam rengkuhannya. Mengecup lembut kepala Sang-Mi lalu membenamkan wajahnya di helaian rambut Sang-Mi.

 

 

 

 

 

“Aku Sangat mencintaimu istriku” ulangnya kembali seakan-akan seribu kata cinta pun tak akan cukup untuk menggambarkan isi hatinya.

 

 

 

 

 

“Gomawo oppa karena sudah memperbaikinya dan terimakasih juga karena sudah membuat semuanya baik-baik saja. Aku mencintaimu suamiku Lee Donghae”

 

 

 

 

 

Sebuah kata yang memiliki kekuatan sihir sudah Donghae ucapkan. Dia berharap hidupnya dengan Sang-Mi akan bahagia seperti di negeri dongeng. Dia akan setia menjadi pangeran untuk istri tercintanya. Dia berjanji akan hal itu di saksikan dewa-dewi athena di tempat berdirinya sekarang.

 

 

 

 

 

The End

 

 

 

 

 

Annyong Haseyo reader-nim. 🙂 terimakasih untuk respon kalian selama ini author senang sekali dengan respon kalian terhadap tulisan author. Ff ini adalah ff ketiga yang author buat sedangkan ff pertama author adalah The Word without Mentionable yang asalnya memang hanya oneshoot tidak akan ada sequel tapi ternyata author lupa di akhir ga di kasih tulisan end jadi author bikin sequelnya. Dan yang kedua adalah The Feeling Behind a Demenour yang asalnya akan selesai di part itu tapi ternyata kalau di selesaikan di sequel pertama jd kepanjangan dan akhirnya munculah part ini. Maaf atas kekurangan author selama ini maklum author ini amatiran. Author juga berterimakash karena comment-comment kalian yang bisa membangkitkan semangat author maaf author tidak bisa membalas comment-commentnya dan author juga minta maaf kalau ada yang belum puas ending ff ini author sebenarnya ga bisa bikin ff yang bahagia-bahagia jadi di ff ini semoga reader-nim dapet feellnya dan bisa menjawab semua pertanyaan reader selama ini. Author mending di suruh bikin yang nyesek-nyesek reader-nim. Author suka kesulitan kalau buat part-part yang bahagianya. O iya author akan rehatkan couple ini sejenak takut reade-nim pada bosen sama kisah mereka dan author mau cari couple lain yang mungkin bisa menarik hati author dan juga hati reader-nim. Oke sekali lagi terima kasih buat semua reader-nim. Dan maaf untuk semua kekurangan author. I LOVE YOU READER-NIM (READER-DEUL)

Advertisements

3 thoughts on “[ Donghae ] ONESHOT || The Mentionable of the Feeling Within the Word

  1. ff ini berhasil bikin aku nangis good thor aku suka banget ceritanya , walopun awalnya kesel sama donghae tapi pas kesini kesini akhirnya donghae sadar dan mau memperbaikinya dengan sangmi . so sweet banget 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s