[Ryeowook] Chaptered – When I Get This Feeling [Chapter 8 END]

Tittle     : When I Get This Feeling [Chapter 8]

 

Characters:

 

-Park Soorin

 

-Kim Ryeowook

 

-Seo Jihyun (Seohyun)

 

-Jung Eunji

 

Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst

 

Rated    : PG

 

Length  : Chaptered

 

Author  : Park Soo Rin

 

Disclaimer: This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~

 

 

 

 

 

 

“Sejak awal aku memang tidak diminati oleh siapapun. Aku tidak bisa membuat mereka tertawa karenaku. Jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. Hingga suatu saat ada seseorang yang mengatakan langsung di hadapanku, bahkan di hadapan teman-teman lainnya, bahwa aku tidak menyenangkan… Sakit? Tentu saja… sakit… Tapi aku sadar, dan akhirnya kuputuskan, menyendiri adalah yang terbaik. Sendiri lebih baik. Dan sendiri itu menyenangkan, untukku…”

 

 

 

 

 

&&&

 

 

 

 

 

Soorin membeku di tempat. Mencerna satu kalimat Ryeowook ternyata begitu mudah. Hingga akhirnya membuat ia terpaku, terkejut, dan seketika jantungnya bagikan meledak karena kesakitan. Ternyata Ryeowook menyadarinya, mengetahuinya, bahwa Soorin menyukai Ryeowook!

 

 

 

Tapi sejak kapan? Sejak kapan Ryeowook mengetahui perasaan Soorin? Kesadaran itu sungguh tak terbaca. Tak terdeteksi. Sedikit pun. Sama sekali! Layaknya orang bodoh yang tak peduli dengan perasaan orang di dekatnya, seperti itulah Ryeowook selama ini. Dan sekarang, ibaratkan hari ini adalah saat yang pas untuk melakukan konferensi pers, Ryeowook menyatakan akan perasaannya yang sarat akan balasan dirinya terhadap perasaan Soorin!

 

 

 

Soorin yang belum siap dengan semua ini, terguncang. Meskipun secara fisik ia hanya menampakkan reaksi yang kaku, namun dalam hatinya, ia sungguh terguncang! Tak perlu penjelasan lebih, semua itu sudah terjawab. Hanya satu kalimat singkat, empat kata, namun tandas. Ryeowook telah menolak perasaannya.

 

 

 

Perlahan tangan Ryeowook yang mendarat di puncak kepala Soorin, terlepas. Masih dengan menampakkan senyum teduhnya, mata redupnya yang sarat akan sebuah permintaan maaf, Ryeowook berbalik. Melangkah. Menjauh meninggalkan Soorin yang masih membeku.

 

 

 

Hingga sebuah tepukan mendarat di pundaknya, Soorin masih tidak bergerak. Eunji mulai merengkuh pundak yang mulai bergetar itu. Eunji tidak membuka mulut. Dia menyaksikan semua. Semuanya. Dan Eunji mulai mengeratkan rengkuhannya ketika dua pelupuk mata itu makin memerah dan menumpahkan cairan bening yang tak terbendung lagi. Soorin menangis dalam diam.

 

 

 

 

 

****

 

 

 

Eunji menyodorkan segelas minuman hangat pada Soorin. Setelah Soorin menerimanya, Eunji mendudukkan diri di sebelah Soorin. Saat ini mereka terduduk di pinggir taman sekolah sekaligus menghadap lapangan utama sekolah, dekat dengan kantin.

 

 

 

Eunji membiarkan Soorin kembali melamun—lebih tepatnya merenung. Menunggu gadis itu membuka mulut terlebih dahulu. Tak masalah jika nantinya ia hanya menjadi teman diam Soorin. Eunji memaklumi, sahabatnya kini sedang dalam masa patah hati. Apalagi ini adalah kali pertama baginya. Meskipun itu adalah suatu penolakan yang halus tapi terlihat begitu jelas betapa sakitnya dia.

 

 

 

“Bagaimana dia bisa tahu?”

 

 

 

Ucapan yang begitu lirih bahkan jauh seperti bisikan namun Eunji masih bisa mendengarnya. Eunji meneguk sedikit minumannya. “Tak terbaca, bukan? Tapi sepertinya Ryeowook memang memperhatikanmu. Jika tidak, tidak mungkin dia berani mengatakan kalimat itu.”

 

 

 

“Tapi… kenapa…”

 

 

 

“Bukan kenapa, tapi bagaimana. Bagaimana bisa dia masih bersikap layaknya tidak mengetahui perasaanmu. Karena dia ingin menjaga perasaanmu,” Eunji menatap Soorin yang masih tertunduk. “Hanya saja, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. Sebelum terlambat. Sebelum kita berlanjut ke tahun terakhir. Sebelum kau menyukainya lebih jauh.”

 

 

 

Soorin tersenyum lemah. Miris. Kedua tangannya yang memegang gelas minuman nampak mengerat. Hatinya menangis, berkata, dia sudah terlalu menyukai Ryeowook.

 

 

 

 

 

 

 

Soorin terduduk di kasur empuknya. Merogoh isi tas sekolahnya hingga  merasakan benda aneh yang berada jauh di dasar tasnya tertangkap oleh tangannya. Menarik tangannya keluar hingga menampakkan benda aneh itu yang ternyata adalah sebuah batu berukuran sedang, yang masih bisa tergenggam hingga tersembunyi di genggamannya.

 

 

 

Soorin mengerutkan kening. Apakah ini yang Ryeowook masukkan ke dalam tasnya? Sebuah batu? Ia kembali merenung. Menelaah apa arti dari batu ini. Maksud Ryeowook memberikan batu ini. Hingga dirinya terpana dalam diam.

 

 

 

Soorin tersenyum, mencoba tersenyum dengan bibirnya yang mulai bergetar. Mencoba tersenyum dengan matanya yang mulai kembali mengembun. Tangan yang menggenggam batu itupun mulai bergetar, mencoba menggenggam batu itu meskipun bagaikan tangan yang mati rasa berusaha untuk mencari indera perabanya dan tenaganya. Dan lagi-lagi, kedua pipinya yang kemerahan kembali dialiri anak sungai bening.

 

 

 

Itu adalah semua dari jawaban Ryeowook.

 

 

 

 

 

****

 

 

 

Aku berjalan menelusuri koridor kelas tahun kedua. Baru saja aku mampir ke Perpustakaan tapi ternyata, saat ini tempat itu bukanlah tujuanku. Kuputuskan untuk beralih menuju kantin.

 

 

 

Langkahku terhenti tepat di depan pintu kelas 6. Sedikit kulebarkan mataku ketika seseorang yang baru kusadari bahwa sudah lama tidak kulihat kini muncul di hadapanku. Tersenyum anggun kepadaku dan menyapaku. Merasa suasana begitu canggung, aku hanya bisa membalasnya dengan senyum kikuk.

 

 

 

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya tiba-tiba.

 

 

 

“Aku merasa baik.”

 

 

 

Seohyun menyandarkan tubuhnya pada jendela gedung. Aku baru menyadari bahwa wajahnya tampak murung. Meskipun ia tersenyum tapi aku masih bisa menebaknya. Akupun ikut menyandar di sebelahnya.

 

 

 

“Apakah hubunganmu dengan Ryeowook baik-baik saja?”

 

 

 

Aku menoleh dengan kening berkerut. Merasa aneh dengan pertanyaannya. Hubungan? Pikiranku malah menangkap ‘hubungan’ itu adalah seperti yang pernah dialami di antara mereka berdua.

 

 

 

“Maksudku, apakah hubunganmu dengan Ryeowook ada perkembangan?”

 

 

 

Keningku makin berkerut. Bahkan kini mataku menyipit. Sungguh, apa maksud dari pertanyaan Seohyun, aku tidak mengerti.

 

 

 

Seohyun menoleh kepadaku. Menyadari aku tidak menjawab pertanyaannya dengan segera. Dia kembali tersenyum. Senyum anggun tapi terlihat dipaksakan.

 

 

 

“Aku dan Ryeowook… baik-baik saja… seperti biasanya…” jawabku dusta. Ya, yang sebenarnya adalah aku dan Ryeowook telah menjaga jarak. Lebih tepatnya, aku membuat jarak itu. Semenjak pernyataannya di depan gedung sekolah pagi itu.

 

 

 

“Sayang sekali, ya…”

 

 

 

“Apa maksudmu?” Dia tidak langsung menjawab. Membuatku ingin segera mendesaknya. Meminta penjelasan—penjelasan lebih. “Seohyun-sshi, jika aku boleh tahu, kenapa kau berpisah dengan Ryeowook?”

 

 

 

“Karena memang seharusnya aku mundur…”

 

 

 

Aku menelan ludah. Tanpa komando aku berdebar-debar tidak tenang. Kalimat itu… seperti aku sudah mengetahui maksud dari kalimat itu. Melihatnya yang semakin murung, bahkan kantung matanya yang indah itu mulai memerah. Astaga…

 

 

 

“Soorin-ah, maafkan aku. Aku… tidak seharusnya aku berada di antara kalian sejak awal. Padahal aku sudah menyadari sejak awal… tapi dengan kurang ajarnya, aku tidak menghiraukannya. Maafkan aku…”

 

 

 

Matanya mulai berkaca-kaca. Aku terhenyak. Melihat raut wajahnya, mendengar segala tutur katanya barusan. Membuatku bagaikan terhempas dari atas tebing menuju dasar lautan yang berbatu.

 

 

 

“Seohyun-sshi—

 

 

 

“Maafkan aku, Soorin-ah… aku mengetahuinya. Sejak awal. Tapi aku tetap tidak melepaskan Ryeowook dan membiarkannya bersamamu. Maafkan aku… sungguh maafkan aku…”

 

 

 

Bagaikan tertiban berbagai barang berat, dadaku terasa nyeri dan sesak. Melihat cairan bening mengalir bebas di kedua  pipinya yang chubby itu membuatku semakin merasa bersalah. Astaga, bahkan dia juga tahu. Tidakkah aku bodoh? Bodoh karena selama ini ternyata aku tidak pandai dalam menyembunyikan perasaanku. Dan aku baru menyadarinya. Benar-benar menyadarinya atas kebodohanku selama ini. Mengetahui bahwa itu adalah alasan mengapa dia memutus hubungannya dengan Ryeowook, sungguh membuatku merasa bahwa aku adalah orang yang kejam.

 

 

 

Kucoba untuk merengkuh wajahnya. Mencoba menghapus anak sungai bening itu. Kusadari bahwa kedua tanganku bergetar meski pandanganku mulai rabun. Apa? Rabun? Ya ampun, aku mulai menangis lagi.

 

 

 

“Kumohon… jangan menangis. Ini semua bukan salahmu melainkan adalah salahku. Tidak seharusnya aku seperti ini. Maafkan aku, Seohyun-sshi...” suaraku terdengar bergetar. Serak. Parau. “Ryeowook menyayangimu… sangat. Tolong kembalilah padanya,” pintaku. Tulus. Ya, lebih baik begitu.

 

 

 

Demi apapun, lebih baik aku yang merasa sakit dibandingkan melihat Seohyun menangis seperti ini. Ditambah dengan mengingat Ryeowook yang juga terpuruk. Tidakkah terlihat begitu jelas jika mereka memiliki perasaan yang saling terbalaskan? Dibandingkan denganku yang hanya sepihak. Tidakkah lebih baik aku yang mundur?

 

 

 

“Seohyun-ah…

 

 

 

Aku tercenung. Suara itu… suara yang sangat familiar di telingaku. Suara yang rasanya sudah lama tidak kudengar. Begitu kutolehkan kepalaku, aku terpaku. Ryowook berdiri tidak jauh di belakangku.

 

 

 

Seketika aku menyadari. Menyadari bahwa… akulah yang harus menyingkir. Akulah yang harus pergi—pergi dari mereka. Karena aku hanyalah pengganggu di antara mereka. Ya… akulah yang harus mundur.

 

 

 

Perlahan kujatuhkan kedua tanganku dari wajah Seohyun. Detik kemudian, Seohyun membuka langkah dan berlari menjauh. Meninggalkanku. Meninggalkan kami.

 

 

 

Kami?

 

 

 

Kualihkan pandanganku pada Ryeowook. Dia masih berdiri di tempatnya. Menatap lurus ke depan. Dan kuyakin, menatap punggung yang tengah berlari menjauh itu.

 

 

 

“Tunggu apa lagi?”

 

 

 

Dia menoleh kepadaku. Memasang wajah pasrah yang membuatku geram seketika. “Kejar dia, Bocah Bodoh!”

 

 

 

Dia kembali menatap lurus ke depan sesaat sebelum kembali beralih padaku, lalu membuka langkah. Sambil melewatiku, kudengar ia mengucap, “Maafkan aku.” dan aku tidak melihat sosoknya lagi. Aku hanya mendengar hentakan kakinya yang sudah pasti dirinya tengah berlari di belakangku. Menjauhiku. Mengejar Seohyun.

 

 

 

Dari kejauhan, aku melihat Eunji berjalan mendekatiku. Aku mencoba tersenyum. Aku ikut mendekatinya. Begitu kami sudah saling berhadapan, segera aku menjatuhkan kepalaku dipundaknya. Di saat itu pula aku merasakan kedua tangannya melingkar di punggungku. Menepuknya dengan lembut.

 

 

 

“Menangislah jika kau ingin menangis,” itulah yang kudengar sebelum akhirnya aku menumpahkan seluruhnya. Melepas segala rasa sesak di dadaku. Kini aku juga ikut melingkarkan tanganku ke punggungnya. Memeluk Eunji dengan erat. Mencari kekuatan dari Eunji. Dan Eunji ikut mengeratkan pelukannya.

 

 

 

“Kau sudah melakukan yang terbaik, Soorin-ah. Itu adalah keputusan yang sangat baik. Tidak apa-apa… kau tidak akan menyesalinya nanti. Tidak apa-apa… kau hanya perlu melepasnya sekarang.”

 

 

 

Tangisku pecah. Tak peduli jika aku masih di koridor. Tak peduli jika saat ini aku menjadi tontonan. Hanya bahu Eunji yang menjadi saksi alasan aku menangis.

 

 

 

Aku menyerah.

 

 

 

 

 

&&&

 

 

 

 

 

DOR!

 

 

 

Gadis itu tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali. Pandangannya mulai fokuspada gerombolan murid yang secara perlahan mulai bergerak maju. Baru saja tembakan pistol kosong ditembakkan ke udara sebagai tanda dimulainya Marathon Massal ini. Sedikit demi sedikit langkahnya mulai bergerak. Dari berjalan lalu berlanjut hingga akhirnya berlari.

 

 

 

Menyadari bahwa dirinya baru saja bergelut ke masa lalu dengan ingatannya, ia tersenyum. Membuat teman sebangkunya yang bernama Ahreum, yang tengah ikut berlari kecil di sebelahnya menyenggol sikutnya. Menyadari ekspresi gadis itu.

 

 

 

“Kau sedang tidak berusaha untuk membuka perasaan itu lagi, kan?”

 

 

 

Soorin, gadis itu menoleh. Mendapati Ahreum yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya. Ia pun kembali mengembang senyumnya. “Tidak. Aku hanya bernostalgia,” jawabnya yakin.

 

 

 

“Hm…” Ahreum menggoda. “Aku kira dengan bertemu dengannya lagi di sini, kau akan berubah pikiran dan kembali mengharapkannya.”

 

 

 

Soorin mendengus geli. “Aku tidak bodoh, Ahreum-ah. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku terhadap diriku sendiri.” pungkasnya.

 

 

 

“Bagaimana jika ini merupakan suatu permulaan? Permulaan di mana sebenarnya kau akan kembali bertemu dengannya di waktu berikutnya. Tidakkah itu akan menggoyahkanmu?”

 

 

 

“Tidak.”

 

 

 

Eii, kau begitu yakin, ternyata. Bagaimana jika sebenarnya kau memang harus bersamanya?”

 

 

 

Soorin menatap lurus ke depan. Memandangi berbagai punggung yang sedang beradu kecepatan. Menyadari bahwa punggung yang telah berubah menjadi sangat tegap itu tidak pernah terlihat lagi setelah pertemuan singkat tadi. Soorin menghela napas yang mulai terasa berat karena terus berlari. Ia pun mengubah larinya menjadi berjalan santai. Membiarkan orang-orang yang di belakangnya berlari mendahuluinya. Ahreum mengikuti.

 

 

 

“Itu tidak mungkin,” Soorin berucap.

 

 

 

“Kenapa?” tanya Ahreum lagi. Soorin tersenyum. Senyum yang begitu ringan tanpa beban. Senyum ketulusan. Senyum keikhlasan.

 

 

 

“Karena kita sudah berjanji untuk tetap menjadi sahabat. Tidak lebih.”

 

 

 

 

 

****

 

 

 

Soorin membuka lemari pakaiannya. Mengambil sebuah kotak yang tersimpan di bagian atas lalu menutup lemarinya kembali. Ia beralih ke tempat tidurnya. Mendudukkan dirinya di sana dengan tangan  yang masih menggenggam kotak itu.

 

 

 

Dibukanya kotak itu dan mengambil isinya. Sebuah batu berukuran sedang yang masih bisa tergenggam hingga tersembunyi di genggamannya. Soorin tersenyum memandangi batu yang telah digenggamnya itu. Hampir tiga tahun dia menyimpan batu itu. Batu pemberian orang yang sudah menjadi cinta pertamanya. Kim Ryeowook. Bertemu dengan laki-laki yang sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa hari ini membuatnya kembali ke masa lalu. Membuka ingatan masa lalunya yang sudah ia simpan dengan rapi dan ia timbun. Membuatnya kini kembali menggenggam batu itu, setelah hampir tiga tahun ia biarkan tersimpan.

 

 

 

Tak dapat dipungkiri memang, bahwa ternyata ia masih merasakan desiran itu. Desiran yang sama. Yang membuat dirinya harus memompa jantungnya berkali-kali lipat. Namun ia sadar, itu hanyalah masa lalu. Dan ia bersyukur karena kembali melihat sosok itu, yang kini sudah berbeda. Berbeda secara fisik namun tidak dengan sorot mata dan senyumnya, bahkan tutur bicaranya.

 

 

 

Sebagaimana dengan batu ini, berapa lamapun waktu yang sudah terlewati, perasaan itu tetap ada walau sudah berada di dasar. Persahabatan mereka akan tetap ada meskipun mereka sudah terpisah. Meskipun sempat terjadi kesalahpahaman perasaan, semua akan kembali seperti yang sudah semestinya. Tak ada perubahan. Tetap seperti batu.

 

 

 

Begitulah jawaban Ryeowook dulu.

 

 

 

Soorin menghela napas panjang. Kini terasa ringan. Sangat ringan. Diletakkan kembali batu itu ke dalam kotak. Lalu disimpannya kembali ke dalam lemarinya. Sebagaimana dengan batu itu, kenangan dirinya bersama Ryeowook juga kembali di simpan rapi olehnya. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi penyesalan.

 

 

 

“Aah, aku merindukan Eunji…” gumamnya lirih. Membuka kenangan masa lalunya membuat dirinya kembali mengingat sahabat pertamanya yang kini tengah bersekolah di luar kota. “Bagaimana kabarnya?”

 

 

 

Soorin meraih ponselnya begitu mendapatkan ide untuk menghubungi Eunji. Namun baru membuka screenlock-nya, ponselnya tiba-tiba berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Soorin mengerutkan kening melihat layar ponselnya. Nomor tak dikenal sedang meneleponnya. Dengan ragu ia menyentuh dan menggeser layar sentuhnya. Ditempelkan ponselnya ke daun telinganya.

 

 

 

Yeoboseyo?

 

 

 

“Kau Park Soorin?”

 

 

 

Soorin tercenung. Suara laki-laki dan asing. Dengan ragu Soorin menjawab, “Iya… maaf ini siapa?”

 

 

 

“Aku dari Neul Paran High School sepertimu. Dan dari angkatan yang sama denganmu.”

 

 

 

Soorin makin mengernyit bingung. Nada bicara orang ini terdengar begitu lugas dan berat. Tidak terdengar mengancam tapi tetap membuat Soorin waspada. “Lalu?”

 

 

 

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku selalu memperhatikanmu.”

 

 

 

“Huh?”

 

 

 

“Aku harap kau tidak mencoba mendekati laki-laki lain.”

 

 

 

“Huh? Ya, memangnya kau siapa?” Soorin mendengus kesal.

 

 

 

Terdengar di seberang sana sebuah dengusan halus yang menandakan bahwa ia tengah tersenyum. Dan dengan lugas ia berkata yang membuat Soorin tercengang.

 

 

 

“Panggil aku Ki. I’m your Secret Admirer.”

 

 

 

 

 

 

 

-END   

 

 

 

 

 

 

 

#Hening

 

Garing ya endingnya, maksa gitu ngahaha.__. Awalnya saya mau bikin sampe 9 chapter, tapi ngga disangka bahwa chapter 8 udah selesai. Kalau dilanjutin lagi saya bingung mau diisi apa.Bukan bingung, tapi kesannya tuh bertele-tele kalo ditambahin. Sebenarnya, saya emang udah rencanain kalau endingnya begitu trus… bikin another storynya kali ya?._. ehehe Tapi saya tuh kurang percaya diri mengingat sepertinya cerita saya kurang diminati x’D Jadi yah… yasudahlah terima saja begitu (?) Well, memang akhir dari curhatan masa lalu saya seperti itu. It’s not a happy ending but it’s a great memory *ngek :^)

 

Terima kasih banyak sudah mau mengikuti cerita saya^^ Segala komentar dari kalian merupakan pemicu buat saya untuk menyelesaikan cerita ini. Jujur entah udah berapa ide cerita yang coba saya tulis tapi selalu berhenti di tengah jalan. Ternyata kalau ada pemicunya bikin semangat yah kekeke Jeongmal gamsahaeyo~~ -bow- ^-^

Publised by Allison

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s