[Ryeowook] Chaptered – When I Get This Feeling [Chapter 7]

Tittle     : When I Get This Feeling [Chapter 7]

 

Characters:

 

-Park Soorin

 

-Kim Ryeowook

 

-Seo Jihyun (Seohyun)

 

-Jung Eunji

 

Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst

 

Rated    : PG

 

Length  : Chaptered

 

Author  : Park Soo Rin

 

Disclaimer: This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~

 

 

 

 

 

 

“Kenapa kau tidak berbaur bersama teman-teman? Maksudku, kau terlihat lebih senang menyendiri dibandingkan bersama seorang teman.”

 

 

 

“Aku memang lebih senang menyendiri.”

 

 

 

“Kenapa?”

 

 

 

“Aku bukanlah teman yang menyenangkan. Jadi untuk apa aku mencoba berbaur?”

 

 

 

“Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

 

 

 

“…….”

 

 

 

“Tidak mau memberitahuku? Ceritakan saja. Ceritakan apa yang membuatmu berpikir seperti itu. Dan biarkan aku menjadi teman pertamamu, Soorin-ah.

 

 

 

 

 

&&&

 

 

 

 

 

Kini aku sering menjadi teman merenung untuk Ryeowook. Duduk berhadapan di kantin dengan ditemani segelas air minum masing-masing. Mengaduk-aduknya dengan sedotan. Tanpa minat. Dan sesekali menyeruputnya. Lalu mengaduk-aduknya kembali. Jika bersama Eunji, setidaknya suasana sedikit hidup karena dia akan selalu mengajak aku maupun Ryeowook berbicara. Jika tidak, kami bagaikan sedang duduk berhadapan di dalam rumah duka. Seperti saat ini.

 

 

 

Seminggu telah berlalu. Semenjak dirinya berpisah dari Seohyun. Selama itulah dirinya meredup. Melihat dirinya seperti ini, membuatku sulit untuk bernapas dengan tenang. Harapan yang selama ini kupendam mengenai dirinya, tiba-tiba saja menguap. Berganti dengan rasa simpati—bahkan mungkin empati.

 

 

 

Bukan… bukan ini yang kuinginkan. Bukan seperti ini. Jika akhirnya seperti ini, jika akhirnya membuat dia harus menyembunyikan senyumnya, jika akhirnya membuat dia seperti raga tak bernyawa… aku lebih memilih masa-masa di mana aku masih bisa merasakan kejahilannya. Meskipun aku juga harus merasakan cemburu itu.

 

 

 

Ctik!

 

 

 

Aku tersentak. Setelah mengerjap beberapa kali, aku mendengak dan mendapati sebelah tangannya terulur di hadapanku. Sepertinya dia baru saja menjentikkan jarinya.

 

 

 

“Kau bilang bahwa penyakit melamunmu itu sudah sembuh. Tapi aku masih sering melihatmu seperti ini.”

 

 

 

Aku tersenyum tipis. Memang, meskipun sudah sedikit berkurang, tetap saja belum bisa dikatakan sembuh.

 

 

 

“Empat menit lagi bel masuk akan berbunyi. Ayo kembali ke kelas!” ajaknya dengan menyungging bibirnya. Aku tidak yakin jika itu bisa disebut dengan senyuman.

 

 

 

Ia bangkit dan beranjak terlebih dahulu. Sedangkan aku mengekornya. Jika dilihat dari belakang, kedua bahunya yang dilemaskan dengan punggung yang tidak begitu tegak membuat hal itu tergambar. Bahwa dirinya sedang benar-benar tidak bersemangat.

 

 

 

 

 

 

 

Kini pun aku lebih merasa bahwa akulah yang dijadikan teman pulang bersamanya. Menelusuri jalanan yang sering kita lewati. Menuju halte dalam diam. Hanya suara gesekan sepatu dari kami yang terdengar.

 

 

 

Langkahku terhenti begitu menyadari bahwa dirinya sudah tidak ada di sampingku. Mendapati dirinya berhenti tepat di persimpangan jalan. Mematung dengan menghadap ke jalan tanjakan itu. Di sanalah rumah Seohyun. Meskipun aku tidak tahu dengan pasti di mana letaknya. Tapi aku teringat ketika memergoki mereka berdiri di tanjakan sana… berpelukan.

 

 

 

Aku melanjutkan langkahku. Membiarkannya berdiri di sana. Seberapa lama pun dia di sana, itu sebanding dengan langkahku yang sengaja kuperkecil dan kulambatkan hingga tujuan. Karena dia masih bisa menyusulku dengan langkah lebarnya dan tidak selambat diriku.

 

 

 

Langkahku semakin lambat ketika mendapati dua laki-laki berseragam—sepertinya murid sekolah menengah atas—keluar dari sebuah toko sambil menghisap rokok dan berjalan ke arahku.

 

 

 

“Wah, ada siswi yang sedang berkeliaran di sini!”

 

 

 

“Hei, gadis manis, mau kami temani?”

 

 

 

Kedua tanganku mengerat menggenggam tas punggungku. Mencoba tidak menghiraukan mereka, aku mengambil sisi jalan lain untuk melewati mereka. Namun dengan cepat mereka menghalangi jalanku kembali.

 

 

 

“Hei, kami sedang mengajakmu bicara. Jangan seperti orang sombong!”

 

 

 

“Kami ini lebih senior darimu!”

 

 

 

Aku melangkah mundur. Dapat kurasakan bahwa kedua kakiku gemetar. Jantungku berdetak di atas normal. Bahkan aku tidak berani menegakkan pandanganku. Sungguh, aku takut!

 

 

 

“Menurutlah pada kami. Maka kami akan memperlakukanmu dengan lembut, hum?”

 

 

 

“Kami kan ingin menemanimu.”

 

 

 

Aku semakin takut mendengar suara mereka yang semakin terdengar seperti… menggoda. Aku merasa membeku. Kini aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Mencoba berteriak pun tidak bisa, aku tidak bisa bersuara. Dan kini aku hanya sanggup memejamkan mata ketika tangan-tangan itu mulai berani menyentuh pundak bahkan lenganku! Ya Tuhan, tolong aku…

 

 

 

Kim Ryewook, tolong aku…

 

 

 

Kurasakan sesuatu menyeruak ke hadapanku. Bersamaan dengan tangan-tangan itu lenyap dari bahu dan lenganku. Kurasakan sesuatu menubruk dadaku. Dan kini pergelangan tangan kananku ada yang menggenggamnya. Aku tersentak begitu merasakan aroma parfum yang sudah familiar di hidungku. Kuberanikan diri untuk membuka mataku. Dan pandangan pertama yang kudapat adalah bahu miliknya yang sedang menyembunyikanku. Dirinya yang tengah memunggungiku. Hingga akhirnya kusadari bahwa dia juga yang tengah menggenggam tanganku.

 

 

 

Kim Ryeowook ada di hadapanku sekarang!

 

 

 

“Maaf, tapi dia bersamaku,” ucapnya tiba-tiba. Terdengar berat, tegas dan menantang. Aku tertegun mendengarnya. Ini adalah kali pertama aku mendengar dia berbicara dengan nada seperti itu.

 

 

 

“Huh? Bocah ini menantang kita, ternyata?” mereka tergelak. Terdengar meremehkan. Membuatku semakin menegang. Namun sedetik kemudian kurasakan tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku mengerat. Apakah dia menyadari reaksiku?

 

 

 

“Menyingkir, bocah! Dia milik kami!”

 

 

 

“Sayangnya aku sudah mendapatkannya dari dulu.”

 

 

 

Aku tercengang. Astaga, apakah laki-laki yang ada di hadapanku benar-benar Kim Ryeowook?

 

 

 

DUAGH

 

 

 

Kini aku terhenyak. Dia menendang perut salah satu dari mereka hingga terhempas ke aspal. Belum selesai keterkejutanku sirna, dia kembali melakukan hal yang sama pada laki-laki yang masih berdiri tegak dan ingin memukulnya, hingga terhempas ke aspal juga. Detik berikutnya, tangannya yang sedari tadi menggenggam pergelangan tanganku kini mulai menarikku.

 

 

 

“Lari!!”

 

 

 

Aku pun berlari mengikuti tarikannya. Susah payah kucoba menyeimbangi larinya yang begitu cepat hingga aku terengah-engah lebih awal. Samar-samar kudengar dua orang itu meneriaki kami. Membuatku semakin panik.

 

 

 

“Jangan menoleh ke belakang! Teruslah berlari!” serunya dengan terus menarikku. “Tahan sebentar lagi! Haltenya sudah terlihat,” lanjutnya.

 

 

 

Kusadari bahwa memang haltenya sudah terlihat. Bahkan begitu aku menemukannya, kudapati pula sebuah bus berhenti di depannya. Begitu sampai, segeralah ia menaikinya sambil terus menarikku, hingga aku juga ikut berhasil naik ke dalam bus.

 

 

 

Ahjusshi, tolong cepat jalankan busnya!” serunya yang langsung dikabulkan oleh sopir bus ini. Begitu pintu bus tertutup dan melaju. Aku dikejutkan dengan suara gedoran keras dari luar yang ternyata merupakan perbuatan dua orang itu. Kini aku merasakan lenganku ditarik olehnya hingga aku yang masih menapak tangga bus kedua dari bawah naik hingga sejajar dengannya.

 

 

 

Akhirnya, aku bisa bernapas lega. Mereka tidak lagi mengejar, bahkan tidak sanggup. Kudengar bahwa dia juga bernapas lega.

 

 

 

“Kalian dikejar mereka?” tiba-tiba sang sopir bersuara.

 

 

 

“Iya.” Ryeowook yang menjawab.

 

 

 

“Aah, lagi-lagi, ya.”

 

 

 

Ahjusshi kenal mereka?”

 

 

 

“Yah begitulah. Mereka dikenal dengan bocah pembuat onar di situ. Entah asal-usulnya dari mana. Sudah banyak murid sekolah yang menjadi korban kekanakan mereka,” sopir itu terkekeh. “Karenanya tempat itu menjadi jarang dilewati para murid sekolah.”

 

 

 

“Tapi kami selalu melewatinya. Dan baru kali ini kami melihat mereka.”

 

 

 

“Mereka memang sempat diusir dari tempat itu dan ditahan karena membuat keresahan. Tapi sepertinya mereka kembali lagi. Lebih baik, mulai besok kalian memutar jalan saja. Memang menjadi lebih jauh tapi setidaknya kalian selamat.”

 

 

 

“Baik. Terima kasih, Ahjusshi!” ia membungkuk. Aku mengikutinya. Lalu, lagi-lagi, dia menarik pergelangan tanganku menuju belakang. Dan baru melepasnya setelah kami duduk berdampingan.

 

 

 

“Maaf, aku sudah membuatmu kelelahan seperti ini,” ucapnya tiba-tiba. Aku hanya menggeleng pelan—lebih tepatnya lemah. Karena aku masih belum merasakan bahwa diriku tengah terduduk.

 

 

 

Dia memajukan tubuhnya ke arahku. Membuatku gugup seketika. Aku hanya bisa menunduk. Entah apa yang akan dia lakukan. Aku hanya peduli dengan jantungku yang kembali berdetak di atas normal karena tiba-tiba wajahnya mendekat ke arahku.

 

 

 

Ia mengulurkan sebelah tangannya hingga melewatiku. Lalu kudengar suara kaca yang tengah bergesekan dengan karet. Ternyata dia membukakan kaca jendela yang terdapat tepat di sampingku. Seketika hembusan angin masuk dan menerpa sebelah wajahku.

 

 

 

“Supaya merasa lebih baik,” ucapnya sambil menjauhkan wajahnya dariku hingga kembali ke semula. Tanpa sadar, ternyata aku tengah menahan napas!

 

 

 

“Maaf, tadi… aku lengah…”

 

 

 

Kuberanikan untuk menoleh kepadanya. Ternyata dia sedang menatapku. Merasa terhipnotis, aku tidak bisa berpaling lagi. Meskipun mata itu terlihat sendu, bahkan redup. Aku tidak bisa beralih. Hingga ia mendaratkan sebelah tangannya ke puncak kepalaku. Mengusapnya. Justru itu membuat jantungku kembali berpacu.

 

 

 

“Maafkan aku.”

 

 

 

Hingga ia kembali berucap, barulah aku menunduk. Berusaha menyembunyikan sesuatu yang mulai menyeruak di pelupuk mataku. Menggelengkan kepala. Berharap dirinya berhenti mengucapkan kata maaf. Karena lagi-lagi, dia mengucapkannya. Yang malah membuatku bingung. Dan takut.

 

 

 

 

 

 

 

Esoknya, kami benar-benar memutar jalan. Memang lebih jauh tapi keselamatan adalah yang utama. Kami berjalan berdampingan. Keheningan menyelimuti di antara kami. Aku tidak berani memulai pembicaraan. Melihat dirinya yang terus menundukkan pandangan. Bahkan terkadang dirinya menghela napas yang sangat panjang—dan terkesan berat. Membuatku merasa miris. Miris melihat dirinya seperti ini. Miris menyadari bahwa dirinya begitu menyayanginya.

 

 

 

Eoh!

 

 

 

Menghentikan langkah, aku menoleh padanya yang juga berhenti. Menghadapku. Dan menatapku lekat. Membuat jantungku tiba-tiba berpacu. Ia membuka satu langkah mendekatiku. Dua langkah. Membuatku terpaksa mundur satu langkah karena dirinya yang begitu dekat.

 

 

 

Y-ya, apa yang kau lakukan?” aku tergagap.

 

 

 

Dia tidak bersuara. Dengan masih menatapku, sebelah tangannya didaratkan ke puncak kepalanya sejenak, lalu bergeser hingga ke atas puncak kepalaku. Tidak menyentuh. Tapi seketika membuatku menahan napas dan tak bisa berkutik.

 

 

 

“Hm…” dia menyungging senyum. Senyum yang rasanya sudah lama tidak pernah ia tunjukkan. Yang membuatku berdebar-debar. Namun senyum itu juga membuatku bingung.

 

 

 

W-wae?

 

 

 

“Memang ini sudah terlambat. Tapi setidaknya ini terbukti. Bahwa kini aku lebih tinggi darimu,” dia mundur selangkah. Senyumnya makin mengembang. “Aku menang taruhan!”

 

 

 

“Apa kau bilang? Sejak kapan kita taruhan, huh?”

 

 

 

“Sejak kau pertama kali menyebutku, Pendek.”

 

 

 

Ya! Aku tidak pernah menerima taruhan itu!”

 

 

 

“Tapi aku sudah membuktikannya.”

 

 

 

“Terserah. Tapi aku tidak pernah menerimanya. Tidak ada janji dariku. Aku tidak suka taruhan, perlu kau ketahui itu!” aku melangkah meninggalkannya. Membiarkannya terkikik di belakang. Merasa kesal, tapi juga sedikit merasa lega, setidaknya aku bisa mendengarnya kembali menjahiliku.

 

 

 

“Kau sudah tidak bisa memanggilku Pendek lagi!”

 

 

 

“Ya, ya, tapi aku masih bisa memanggilmu Bocah!”

 

 

 

“Berarti aku masih bisa memanggilmu Gadis Aneh.”

 

 

 

Ya! Perjanjian kita mengatakan bahwa kau tidak akan memanggilku dengan nama itu jika aku tidak akan memanggilmu Pendek! Bukan Bocah!”

 

 

 

“Hahahaha! Iya, iya, aku masih ingat,” dia tergelak. Seketika aku merasa lega melihatnya tertawa seperti itu. Kemudian dia mendaratkan tangannya ke puncak kepalaku dan mengacak-acak rambutku. Astaga, dia mulai lagi.

 

 

 

“Terima kasih.”

 

 

 

“Untuk apa?”

 

 

 

“Untuk semuanya.”

 

 

 

Keningku mengerut. Sungguh aku tidak mengerti maksud ucapannya itu. Berharap mendapatkan penjelasan, tapi yang kudapat dia malah melangkah mendahuluiku sambil berseru, “Ayo!”

 

 

 

Aku termenung sesaat. Memperhatikan punggungnya yang terlihat berbeda. Ya, berbeda. Tegap dan meninggi. Tanpa komando bibirku menyungging senyum. Merasa senang dirinya sudah berkembang.

 

 

 

 

 

****

 

 

 

 

 

Tak terasa penghujung semester semakin dekat. Dua minggu lagi ujian akhir sekolah akan dilaksanakan. Kini para murid hanya fokus dengan berbagai latihan soal. Tugas rumah mulai dikurangi dan diganti dengan latihan soal. Mengejar target minimal yang tidak begitu mudah.

 

 

 

Soorin baru saja memasuki gerbang sekolah ketika seseorang menahan langkahnya dengan menarik tasnya. Membuat dirinya terpaksa mundur selangkah demi terhindar dari ketidakseimbangan. Sambil berdecak ia menoleh ke belakang. Dirinya sedikit tertegun ketika mendapati Ryeowook yang tengah menahannya.

 

 

 

“Aku melihatmu dari kejauhan. Tapi kau tidak menoleh ketika kupanggil beberapa kali. Kau melamun lagi, kan?”

 

 

 

Soorin mendengus. Melanjutkan langkahnya yang tertunda. Namun Ryeowook masih mencekal tasnya hingga ia kembali mundur. “Lepaskan, dasar Bocah!”

 

 

 

Ryeowook terkekeh mendengarnya. Rasanya sudah lama mendengar gadis yang memunggunginya ini memanggilnya dengan sebutan Bocah. “Kau tidak ingat bahwa aku sudah lebih tinggi darimu sekarang?” ucapnya bangga.

 

 

 

“Ish, kau hanya tumbuh beberapa centimeter. Tidak usah menyombongkan diri,” cibir Soorin.

 

 

 

“Tapi aku sudah berhasil menyusulmu bahkan mendahuluimu. Aku hebat, kan?”

 

 

 

“Ya, ya! Sekarang lepaskan!”

 

 

 

Ryeowook tidak langsung melepasnya. Justru dia malah membuka salah satu resleting tas Soorin dan memasukkan sesuatu ke dalamnya. Merasakan tindakan itu, Soorin sedikit berontak.

 

 

 

Ya! Apa yang sedang kau lakukan?!”

 

 

 

“Bukan apa-apa.”

 

 

 

“Kau memasukkan… binatang berbulu itu, kan? Ya Kim Ryeowook! Kau tidak akan selamat hari ini jika kau melakukannya!!”

 

 

 

Eii, aku tidak memasukkan binatang apapun. Kau boleh melihatnya setelah sampai di rumah nanti, mengerti?”

 

 

 

“Di rumah? Kau mau menghindar, kan? Huh?!”

 

 

 

“Tidak. Jika memang itu terjadi, kau bisa membalasnya besok. Mudah, kan?”

 

 

 

Ryeowook berpindah menjadi di hadapan Soorin setelah menutup kembali resleting tas Soorin. Menampakkan senyum manis yang membuat Soorin terpana. Tapi sekaligus bingung. Mata itu, mata Ryeowook kembali meredup. Sendu. Soorin menelan ludah, jantungnya kembali bermarathon. Ada sesuatu yang membuat dirinya takut secara tiba-tiba.

 

 

 

“Soorin-ah…” suara Ryeowook berubah menjadi parau. Sebelah tangannya terulur. Mendarat di puncak kepala Soorin, mengusapnya dengan lembut. Soorin menahan napas. Sentuhan dan panggilan yang begitu berbeda membuat rasa takut yang tiba-tiba itu semakin terasa.

 

 

 

“Maafkan aku…” Ryeowook melirih. Sungguh, Soorin kebingungan. Tidak mengerti dengan ucapan Ryeowook. Tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Namun seketika semua itu terjawab ketika laki-laki itu melanjutkan ucapannya yang merupakan sebuah… balasan.

 

 

 

“Aku masih menyayangi Seohyun…”

 

 

 

 

 

 

 

-To Be Continued

Publised by Allison

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s