[ONESHOOT/EUNHYUK] I Love you… My Ancovy Husband!

Tittle : I Love you… My Ancovy Husband!

Author : Ginny Weasley

Twitter : @sarahn901

Cast : – Kim Raina
– Lee Hyuk Jae
– Lee Donghae

Genre : Fluffy

Rated : PG – 17

Lenght : Oneshoot

Disclaimer : The Original story pure mine. All cast belong of themselves. Please! Don’t bash me.

Cover by. Nabila solicha

“Mungkin, benar dunia itu sangatlah luas. Ada banyak cinta di sana.”

“Namun, tetap saja. Cinta itu hanya akan berakhir satu arah, pada dia yang telah tertorehkan takdir.”

Sang mentari pagi telah meninggi di atas sana beberapa detik yang lalu. Merinaikan bias angin laut yang terpancar pada terik ini. Tepi langit itu membiru indah, berhiaskan tirai gemawan di sudutnya. Bersama dengan hilangnya setitis tirta bening yang sempat menyapa daratan Seoul akhir-akhir ini. Yah, summer time! Musim telah beranjak dari dinginnya salju, tergantikan oleh mentari hangat menyelimuti bumi. Dengan beralaskan akan panas yang menyengat.

Yah, seperti inilah yang terasai pada seorang wanita ini. Peluh itu sesekali di sekanya lembut pada dahi. Dengan rambut yang di gulung tinggi, menghindari akan suhu tubuhnya yang menaik karena kepanasan. Meskipun, suhu pendingin ruangan itu sudah dinyalakan, namun tetap saja peluh itu kerap kali ada. Kim Raina, wanita bertubuh mungil itu tengah menyibukan dirinya kali ini. Beberapa orang itu datang membawa semua perlengkapan bayi yang telah dibelinya kemarin dengan suaminya. Jujur, ia sedikit kerepotan mengatur tentang tata letak setiap furniture-nya. Namun, ia juga senang melakukannya. Karena, ini semua demi malaikat kecil yang hidup di sana. Pada rahimnya yang belum genap lima bulan.

Hingga sebuah getaran ponsel mengalihkan kegiatan Raina sejenak. Kala ia sedang memperhatikan seseorang menempelkan walpaper bercorak binatang-binatang kecil pada dinding kamar mini ini.

Jemari mungil Raina, menghenyakan ponselnya pada telinga. “Yah?” Nafas wanita ini sedikit terengah, ketika ia berjalan mengapai benda itu.

“Na-ya, kau ingatkan pesanku tadi pagi?”Ucap seseorang itu di seberang sana. Sepertinya, ada kegundahan yang tereja di sini.

Raina diam sejenak. Memikirkan dalam-dalam apa yang diucapkan suaminya tadi pagi. Wanita ini memang acap kali melupakan sesuatu begitu saja.

“Na-ya?” Seseorang itu memanggilnya lagi, karena tak ada jawaban apapun yang terurai.

“Ah nde, Oppa. Aku pasti mengingatnya.”

“Bagus. Cah! Cepat katakan apa saja?” Ada kekehan kecil di sana. Dan Raina, hanya mendecakan bibirnya pertanda kesal. Selalu seperti itu, pria ini….

Raina gamam dalam berucap. Jujur, ia sebenarnya memang sudah lupa saat ini. “Um, aku … aku …”

“Lupa lagi? Astaga! Na-ya. Dasar anak kecil pelupa.” Pria itu tertawa, Raina bisa mendengarnya.

“Jangan menyebutku seperti itu. Aku ini sudah dewasa Hyuk Jae!” Wanita itu mengemerucutkan bibirnya lucu. Bahkan, beberapa orang yang tak sengaja mendengar obrolan Raina di ponsel, pun dibuat terkikik melihatnya.

“Mwo? Yak! Istri tidak sopan, umurmu bahkan sangat jauh di bawahku, Na-ya!”

Raina tak bisa untuk tak tersenyum saat ini. Kala ia membayangkan wajah jelek suaminya yang sedang marah di sana. “Aku tahu itu, Ahjussi!”

“Mwo? Yak gadis …”

“Baiklah, jika kau menelepon hanya untuk mengejekku. Aku akan menutup teleponnya sekarang.” Raina menghela nafasnya. Lihat, ia bahkan tak ingin benar-benar melakukan itu. Tepatnya masih ingin mendengar suara merdu milik suaminya lebih lama lagi.

Hingga beberapa menit lamanya hanya hening yang menjelma. Keduanya, sama-sama belum berniat mematikan telepon. Ego mereka terlalu tinggi, itu benar. Kini, hanya itu yang mampu mereka lakukan yaitu, menunggu hingga ada yang mengalah setelah ini.

Terdengar deruan nafas tak tenang di sana. Raina, wanita itu tersenyum riang mendengarnya. Pun ia yakin, Hyuk Jae pasti sudah menyesal akan ucapannya tadi. “Okay, aku mengalah. Aku hanya ingin kau tahu, Na-ya. Bahwa, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu dan anak kita kelak. Ingat, jangan terlalu lelah, Na-ya. Atau aku pulang saja, nde? Aku takut kau kelelahan setelah mengurus semuanya sendirian.”

Senyum wanita itu mengembang, seiring dengan terdengarnya ucapan Hyuk Jae yang membuat relung hati tergetar. Oh Tuhan, harusnya ia bahagia bukan memiliki suami seperhatian itu? Tapi, ini… Ia justru menganggap sebaliknya tadi. Baiklah, Raina meluluh detik ini juga.

“Tidak perlu, Oppa. Aku baik-baik saja, kau tidak perlu cemas. Aku adalah gadis yang kuat.”

“Aku tahu, tapi tetap saja, Na-ya. Kau itu sedang hamil, ini bukan hanya tentang kesehatanmu saja. Tapi, juga tentang calon anak kita. Kau mengerti ‘kan? Oh, kau tak tahu betapa cemasnya aku saat ini. Andai saja pertemuan dengan beberapa Client itu tidak hari ini, aku pasti akan membatalkannya, Na-ya.”

Kembali. Wanita itu tak bisa menahannya lagi. Perasaannya begitu merona akan kebahagian. Kalau diingat lebih jauh lagi, ia bahkan tak habis pikir. Bagaimana mungkin? Hanya demi seorang Lee Hyuk Jae, seorang yang baru dikenalnya beberapa saat saja. Raina, bahkan mau menikah di usia yang terbilang muda. Padahal, pertemuan itu pun bukanlah hal yang mengesankan. Yah, hanya karena kesalah pahaman. Saat Raina dan Hyuk secara tidak sengaja kopernya tertukar di bandara, ketika mereka bersama-sama ke negri Paris. Terbayang sudah bagaimana cinta itu tumbuh kala itu, dari pertengkaran-pertengkaran kecil hingga kenangan manis. Oh, membayangkannya saja membuat wanita ini, senyum-senyum seperti orang gila.

“Na-ya?” Suara lembut itu memanggilnya lagi. Sontak saja Raina kembali dalam alam sadarnya.

“Ah? I … Iyah?”

“Kau melamun?”

“Tidak. Aku hanya …”

“Ada apa, Na-ya? Atau terjadi sesuatu padamu, yah? Atau aku …”

“Oppa, aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku hanya ingin bilang. Bahwa, aku sangat mencintaimu, Oppa. Sangat!” Rasanya ingin sekali menegelamkan diri ke dasar sungai Han sekarang juga. Oh, astaga! Wanita ini bahkan, tak ingin mendengar lagi reaksi suaminya seperti apa. Ia langsung mematikan ponsel itu seketika. Dengan tersenyum-senyum tak karuan.

Beralaskan perasaan yang berbunga ria, pun ia beranjak dari tempat itu. Diletakannya ponsel itu, lalu berjalan ringan melanjutkan apa yang tadi dilakukan. Baru saja langkah kakinya berjalan menjauh, namun suara deringan ponsel menghentikan langkah. Lagi? Disana terpampang nama yang membuat ia tersenyum kembali. My Ancovy Husband, yah nama itulah yang tereja di sana. Kali ini bukan panggilan dari Hyuk Jae, melainkan sebuah pesan. Pun jemari mungil Raina langsung bergerak membuka pesan itu tak sabaran.

‘Aku juga sangat mencintaimu, Na-ya. Bahkan, lebih besar dari yang kau tahu.’

“Haah, apaan-apaan dia?” Raina terkekeh sendiri membacanya. Semilir angin sejuk terasa menerpa relung hati. Sangat teduh.

*****

Segaris cahaya jingga berderai kala senja ini. Paparannya memiring jauh hingga dasar bumi. Hangat itu secara perlahan mulai terasa terkikisnya, menitahkan embusan angin sore tuk menyapa bumi. Saujana tepi langit sana mulai menguning, meningkahi kepergiannya sang biru. Yah, selalu seperti itu. Dunia akan terus berputar, bukan? Sang pagi menggantikan malam, lalu datang senja begitu seterusnya. Dentangan waktu, mungkin itulah sebutannya. Tentang waktu, mungkin sangat lekat terasai pada sesosok pria ini. Rasanya baru saja ia berangkat kerja di pagi hari, namun kini ia sudah pulang saat senja datang.

Lee Hyuk Jae, pria itu memutar stir mobilnya pelan. Kala ia sadar, kalau ia telah tiba di komplek perumahannya. Tak butuh beberapa menit lamanya hingga ia sampai di depan rumah. Pun ia membuka pagar putih yang hanya tinggi di atas lutut. Lalu, berjalan lagi ke dalam mobil tuk memasukannya ke garasi . Sejenak pria itu mengeryitkan kening, ada yang aneh di sini. Tidak biasanya rumah sepi seperti ini? Kalau Hyuk Jae pulang, Raina pasti ada di depan rumah, entah itu menyiram taman kecil ataupun sekedar duduk di teras menantinya. Tapi ini?

“Na-ya? Na-ya?” Pria itu mulai melangkah jauh. Memasuki rumah bernuansakan putih dan abu-abu. Yah, keduanya memang penyuka warna tersebut, Raina yang menyukai warna putih dan Hyuk Jae yang lebih dominan abu-abu. Jadilah, rumah beraksen sederhana seperti ini.

Langkah lebar Hyuk Jae terhenti, seiring dengan terhenti pendaran mata sayu miliknya. Pria itu tersenyum, kala melihat seseorang yang menjadi sumber nafasnya selama ini tengah tertidur damai di sana. Pada sofa putih di ruang tengah, tirai jendela itu sesekali tersibak saat semilir angin menerpanya. Sangat jelas pada netra Hyuk Jae, bahwa wanita itu sangat lena dalam tidurnya.

“Dasar gadis nakal! Bukankah aku bilang, jangan terlalu lelah, Na-ya?” Ucapan itu nyaris seperti bisikan. Jemari Hyuk Jae membelai anak rambut Raina lembut. Seolah tak ingin sedikitpun mengusik tidur istrinya.

Hyuk Jae menyelusupkan kedua tangannya ke bawah lutut dan leher Raina. Pelan sekali ia menggendong tubuh wanita itu. Dengan sesekali mencium keningnya lembut.

“Astaga! Lihat, kau begitu berat, Na-ya. Tapi tetap saja masih menjadi wanita tercantik yang pernah hadir di hidupku. I Love you, my princes wife,” lirih Hyuk Jae jauh.

*****

Suara dentingan sumpit dan mangkuk itu begitu menggema di ruangan ini. Seolah memahat habis tiap inci suara yang ada. Merentas keheningan yang seakan merajai sekian lamanya. Yah, baik Raina maupun Hyuk Jae masih belum ingin membuka suara. Tepatnya masih ingin larut akan nuansa makan malam ini. Hingga akhirnya,

“Oppa, aku mengidam.” Sayup sekali suara itu terdengar. Namun, mampu memecah keheningan yang sempat ada.

“Uhuk! Uhuk!” Raina sontak langsung menyerahkan segelas air pada Hyuk Jae yang tersedak seketika.

Hyuk Jae menaruh gelas itu di sisi kanan mangkuk nasinya. Lalu, menatap Raina dengan sesekali terkekeh seolah tak mengerti. “Aku tidak salah dengar ‘kan, Na-ya? Ini bulan kelima kau mengandung. Dan sekarang, kau baru mengeluh mengidam?”

Raina merengut. Ia memutar bola matanya malas pada Hyuk Jae. “Jadi kau tidak mau? Yasudah kalau begitu! Lagipula, ini bukan semata-mata aku yang ingin, tapi dia.” Wanita itu menunjukan perutnya yang membuncit.

Lee Hyuk Jae, pria itu mengulurkan tangannya. Mengenggam erat sebelah tangan Raina, seraya mengelusnya lembut. Menangkan istrinya. “Iyah, iyah… aku paham. Lalu, apa? Kau mengidam apa, Na-ya?”

Pun Raina langsung tersenyum senang mendengarnya. “Aku mau …”

*****

Helaan nafas syarat akan kegundahan itu terus saja mengalir di sana. Entah, apa yang terpikirkan di sana. Mungkin sekiranya mampu terjawab hanyalah sang empu penghela nafas tersebut.

“Tck! Yang benar saja!”

“Haah! Kurasa aku mulai gila saat ini.”

“Hyuk! Ada beberapa berkas yang …” Seorang pria berparas nyaris sempurna melenggang masuk begitu saja keruangan ini. Langkah kakinya terhenti, begitupun dengan ucapannya barusan. Di sana tergambar jelas, bahwa seseorang yang diajaknya bicara justru terdiam dalam kekosongan. Pandangannya pun seolah melayang jauh entah kemana. Ada apa dengannya?

“Kau baik-baik saja? Kau tidak terlihat baik, Hyuk?” Lee Donghae, ia termangu melihat sahabatnya yang tak karuan seperti itu.

Hyuk Jae menggeleng lemah. “Entahlah, aku tidak peduli tentang kadar ketampananku sekarang. Raina mengidam, Hae-ya. Yang benar saja….”

Lee Donghae tertawa lepas mendengarnya. Hingga akhirnya, ia harus menghentikan tawa itu kala melihat Hyuk Jae yang memicing. “Baiklah… baiklah, maaf. Kurasa itu wajar. Bukankah, setiap wanita hamil seperti itu?”

“Nde, sangat wajar. Tapi, permintaanya itu yang tidak wajar!”

“Eh? Memangnya apa yang dia mau?”

“Aku … aku disuruhnya berdandan ala Marlyn Monroe. Katanya, dia ingin melihatku seperti itu nanti.” Lee Hyuk Jae, ia menyandarkan kepalanya pada meja. Gamam.

“MWO?!” Pun Donghae yang mendengarnya tak bisa untuk tak tertawa saat ini. Ia bahkan tak kuasa untuk menahan diri. Setitis air mata bahkan ia keluarkan secara tak sengaja di sana, saking tak mampu menahan tawanya sendiri. Perutnya terasa sakit kala ia membayangkan Hyuk Jae melakukan hal itu. Membayangkan saja itu sangatlah lucu, apalagi melihat secara langsung. Haha…

“Diam atau aku akan menyumpalmu hingga tak bisa berbicara lagi!”

Baiklah, berhasil! Pria itu langsung terdiam seketika dengan tangan yang memegang perutnya yang terasa sakit. “Astaga, Lee Hyuk Jae. Lucu sekali permintaan Raina….”

“Aku harus apa sekarang?” tanya Hyuk Jae dengan nada frustasi.

“Huuh, maaf. Cah, aku harus apa? Itu urusan keluargamu, bukan? Kurasa aku harus pergi sekarang. Sebagai seorang sahabat, aku hanya bisa mendoakanmu, Hyuk. Good luck! Semangat! Hwaiting!” Donghae menepuk bahu Hyuk Jae seolah tak berdosa sama sekali. Lalu, melangkah pergi begitu saja, seakan tak pernah mendengar apa-apa.

“Yak! Yak! Sahabat macam apa seperti itu!”

“Maafkan aku, Hyuk. Tapi ini diluar kendaliku!” Sebelah tangan Donghae terangkat keatas. Melambai-lambai seraya terkekeh menertawai penderitaan Hyuk Jae. Hingga akhirnya, tubuh itu benar-benar hilang di balik pintu.

“Oh, astaga! Kenapa harus seperti ini, Tuhan? Masukan saja aku ke dalam surga sekarang.” Hyuk Jae, pria itu bergumam menyapa resah. Entah, apa yang terjadi setelah ini. Ya Tuhan….

****

Sejumlah renjana itu begitu kentara di sana. Antara bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Entahlah, semua terasa serba salah kini. Hyuk Jae, ia sulit untuk berpikiran jernih kali ini. Permintaan Raina itu begitu sulit untuknya. Sangat!

Tas kerja itu dihempaskannya di sisi sofa, lalu melonggarkan dasi guna menghilangkan penat yang terendap. Yah, pria itu telah sampai di rumahnya beberapa saat yang lalu. Tak dijumpai sama sekali sosok Raina sedari tadi. Kemana dia?

“Na-ya! Na-ya!”

Nihil! Kali ini tak ditemukan dimanapun Raina berada. Ia bahkan telah mengililingi seisi ruangan rumahnya, bahkan sampai lubang semut hingga kolong meja pun sudah. Namun, tetap saja. Ia tidak ada… Ya Tuhan, ada apa ini? Hyuk Jae ia resah, apa mungkin?

Pun ia meronggoh sakunya, mengambil ponsel untuk menghubungi Raina. Lagi-lagi hanya terdengar nada sibuk. Pertanda bahwa Raina tak ingin mengangkat teleponnya. Hingga hanya helaan nafas saja yang terurai di sana. Pada bibir tebal milik Lee Hyuk Jae. Pun ia terduduk di sisi tempat tidur. Ia sendiri bingung harus bagaimana? Hingga seketika …

Pernik hitam Hyuk Jae terhenti di satu arah. Pada secarik kertas yang berada di nakas.

‘Oppa, kau tidak perlu cemas. Sementara, aku akan menginap di rumah Eomma untuk menenangkan diri. Jangan temui aku, karena aku tidak ingin Eomma tahu tentang pertengkaran kita. Aku akan kembali setelah semuanya perlahan membaik.’

Lee Hyuk Jae termenung dalam diam. Keputusan Raina yang menginginkan untuk pergi dan menenangkan diri, justru semakin membuatnya terjerembab akan sesal. Teringat jelas dalam benak, kala pertengkaran kecil itu terjadi tadi pagi.

“Oppa, aku akan menunggumu sepulang kerja nanti, yah. Jangan lupa.”

“Na-ya, sebenarnya aku …”

“Ada apa?”

“Aku… aku tidak bisa melakukannya, Na-ya.”

“Huh? Maksudmu apa?” Jemari Raina yang sedari tadi memasangkan dasi pada Hyuk Jae. Kini, terhenti begitu saja. Menatap suaminya tak percaya.

“Maaf, maafkan aku, Na-ya. Aku sudah berusaha, tapi tetap saja tidak bisa.”

“Kau jahat!” Wanita itu melangkah pergi dari hadapan Hyuk Jae.

“Na-ya, kau tahu ‘kan? Aku itu …”

“Aku kecewa denganmu, Oppa. Selama ini, aku tidak pernah meminta apa-apa, Oppa. Tapi, sekalinya aku meminta, kau justru seperti ini. Dimana-dimana suami itu selalu menuruti permintaan istrinya yang tengah mengidam. Tapi, kau, sebaliknya!”

“Na-ya, kumohon mengertilah.”

“Mengerti? Aku harus bagaimana lagi, Oppa. Aku selalu berusaha mengertimu. Harusnya aku yang bilang seperti itu!”

“Na-ya….”

“Aku tidak ingin melihatmu. Pergi!”

“Na-ya. Tapi aku …”

“Aku bilang pergi Lee Hyuk Jae! Aku tidak ingin melihatmu lagi….” Ucapan Raina melemah. Meningkahi setitis bening yang mengalir di sana.

“Maafkan aku, Na-ya.” Perlahan Hyuk Jae menjauh. Melangkah pergi, meskipun terasa sangat berat baginya. Jujur, ia tidak bisa melihat Raina seperti itu. Sangat tidak bisa.

Pria itu tertunduk dalam gulana. Kala mengingat pertengkaran itu kembali. Ia memang sudah keterlaluan kali ini, yah itu benar. “Astaga, Na-ya. Maafkan aku, sayang,” gumamnya seraya mengatupkan mata lekat.

Sementara masih dalam naugan langit yang sama. Seorang wanita terus saja bergumam dalam sepi. Matanya enggan terkatup dalam hening sang malam. Pikirannya menerawang jauh pada seseorang di sana. Ia tidak bisa untuk tenang, sedangkan ia sendiri tidak tahu keadaan pria itu sekarang bagaimana. Serangkum angin yang menerpa dinding wajahnya, terasa begitu perih menyapa.

“Oppa, apa kau sudah makan sekarang? Apa kau tidur dengan baik? Atau, kau kedinginan di sana? Aku bahkan tidak bisa tidur, Oppa. Aku merindukanmu, sangat! Aku tidak tahu akan serindu ini denganmu. Aku menyesal telah melakukan hal sejauh ini. Oppa, aku merindukan rengkuhan hangat itu. Aku tak akan bisa tidur tanpa harum tubuhmu, Oppa. Jeongmal, aku begitu merindukanmu, Lee Hyuk Jae. Maaf….” Isakan itu terdengar begitu lirih. Raina tak bisa untuk tak menangis saat ini. Kerinduan itu terlalu dalam untukknya. Bagaimana mungkin, ia bisa baik-baik saja? Sedangkan seseorang itu, telah menjadi separuh dari bagian hidupnya. Teramat sangat berarti.

*****

Riuh rendah. Entahlah, semua terasa sepi kini. Menyisakan hening yang tidak mampu di tahannya lebih lama lagi. Sesuara dentingan detik jam sesekali menarik pandangan seseorang ini. Membumbui perasaan yang tiada menentu. Lee Hyuk Jae, pria itu terkungkung dalam diam sedari tadi. Sebenarnya, ada perasaan tak nyaman menggayuti benak. Tentang busana yang Hyuk Jae kenakan saat ini. Tck! Ini sungguh memalukan. Apalagi, dari rumahnya ke rumah orang tua Raina ia terpaksa harus memakai baju ini. Sebisa mungkin Hyuk Jae bertahan, demi Raina. Hanya karena dia, Tuhan….

“Hyuk, minumlah dulu! Eomma pikir sebentar lagi mungkin Raina juga akan pulang.” Wanita paruh baya itu mengambil dudukan di depan Hyuk Jae, setelah meletakan secangkir teh. Lantas ia menatap Hyuk Jae dengan raut bingung.

“Nde, terima kasih, Eommanim.” Wanita itu mengangguk membalasnya.

“Hyuk, apa ini ada hubungannya dengan kepulangan Raina ke sini?”

Hyuk Jae menyesap sesaat teh hangat itu. Lalu, mengaruk tenguk sekilas. Ia bingung untuk menjelaskannya. Akhirnya ia memutuskan untuk hanya mengangguk saja. Semoga saja mertuanya dapat mengerti.

“Hyuk, kau yang sabar yah? Raina itu, kadang memang terlalu kekanakan. Kau tahu sendiri ‘kan umurnya baru genap 21 tahun. Mungkin, dia masih belum bisa mengendalikan emosinya.”

Hyuk Jae menyunggingkan segaris senyum. “Nde, Eommanim. Aku juga selalu mengerti akan dia seperti apa.”

“Termaksud tentang penampilanmu yang seperti ini?” Wanita itu terkekeh saat berucap.

“Di … Dia mengidam, Eommanim. Jadi, yah aku bisa apa?” Hyuk Jae tertawa kikuk. Seolah menertawakan diri, tepatnya.

“Astaga! Anak itu benar-benar.” Eomma Raina tertawa mendengarnya. Tapi, kemudian ia paham pada detik selajutnya. Bahwa, pilihan putrinya kali ini benar. Jelas terbaca di sana, Hyuk Jae begitu tulus dengan Raina. Bahkan, ia rela berpenampilan seperti itu hanya untuk Raina.

Suara deruan mobil terdengar menggema dari arah luar. Pun keduanya terhenti dalam obrolan hangat itu.

“Cah, dia sudah pulang. Kau bicara baik-baik dengannya yah, Hyuk.”

“Nde, terima kasih Eommanim.” Wanita tersenyum pada Hyuk Jae. Lalu, melangkah pergi seperti memberi ia celah dengan Raina.

Hyuk Jae berjalan cepat kini. Ia sungguh tak sabar akan reaksi Raina seperti apa melihatnya seperti ini. Pun ia memutar knop pintu, bersiap menyambut kedatangan istrinya. Baru saja pintu itu terbuka setengah, namun Hyuk Jae tak ingin melanjutkannya lagi. Pemandangan itu terlalu menyakitkan baginya. Raina, wanita itu tersenyum riang dengan Lee Donghae. Entah, apa yang mereka bicarakan, tapi itu terlihat begitu berbeda. Sangat akrab. Tangan Donghae pun sesekali mengusap rambut Raina. Hyuk Jae, ia mengeram. Menahan amarah yang seakan ingin terluapkan.

“Terima kasih untuk semuanya, Oppa. Aku pikir pasti akan kerepotan kalau tidak ada kau tadi.”

“Sama-sama, Na-ya. Semoga berhasil!”

“Hu, um.” Wanita itu mengangguk seraya tersenyum kembali.

“Cah, aku akan membantumu …”

“Hyuk?!”

“Huh? Ada apa, Oppa?” Wanita itu tersentak seketika. Mencari jawaban atas raut wajah Donghae yang tercenang melihat kearah pintu.

Raina membatu. Dilihatnya di sana Hyuk Jae, menatap keduanya dengan netra yang seolah menusuk dalam. “O … Oppa? Ka … Kau …”

“Kau kaget, iyah? Keterlaluan!” Tanpa banyak berbicara lagi. Pun ia berlalu pergi dari tempat itu. Terlalu perih rasanya berlama-lama di sana. Hyuk Jae bahkan membuang wig yang dikenakannya ke sembarang arah. Seolah menegaskan bahwa ia memang sedang marah saat ini.

“Oppa aku tidak bermaksud seperti itu. Kau salah paham….” Terlambat. Ucapan itu telat ia lontarkan. Hyuk Jae bahkan telah pergi dengan mobilnya detik yang lalu. Ya Tuhan, lalu apa yang mampu Raina lakukan? Ini semua bukan seperti apa yang Hyuk Jae lihat, tidak pernah terjadi apa-apa di sini. Mata Raina melihat tepi jalan itu kosong. Telaga bening telah kandas pada tebing pipinya. Belum pernah Hyuk Jae semarah itu dengannya. Itulah yang membuat Raina tersayat akan perih saat ini.

“Na-ya, aku bisa membantumu untuk menjelaskan semua dengannya.”

“Tidak perlu, Oppa. Terima kasih. Biarkan aku sendiri saja,” ucap wanita itu parau. Lee Donghae mencoba untuk mengerti. Direngkuhnya tubuh Raina lembut. Menangkan. Tak akan berarti apa-apa rengkuhan ini. Hanya sebatas rasa sayang antara kakak terhadap adiknya. Hanya itu.

*****

Mungkin benar sang senja telah berlalu kini. Dan mungkin juga benar, gemintang telah terhias di langit sana. Namun, tetap saja. Seseorang itu masih bergeming di tempatnya. Helaan nafas yang tersirat akan resah terus saja terurai. Pun waktu telah merayap pada sang jelaga malam. Entah, sampai kapan akan seperti ini. Membiarkan detik jam berlalu tanpa mampu melihat wajah itu. Seseorang yang mengurung diri di kamar. Raina bahkan beberapa kali mengetuk pintu, sekedar menyuruhnya makan ataupun berhenti marah. Namun, tak diindahkan sama sekali. Seperti saat ini,

“Oppa, kenapa tidak ingin keluar juga?” Wanita itu menyandarkan tubuh pada pintu kamar. Dengan sesekali mengusap matanya, menahan kantuk.

“Oppa, aku lelah menunggumu terus. Sudah yah marahnya.”

“Huuh, lagipula kau seperti anak ABG saja, Oppa. Marah denganku, lalu mengurung diri di kamar seharian.” Ucapan itu Raina lontarkan dengan polosnya.

Tak taukan Raina bahwa jauh di dalam sana. Hyuk Jae yang merengutkan bibir, terkekeh kecil mendengarnya. Astaga, Wanita ini! Tak bisakah ia membujuk suaminya dengan kata-kata yang manis. Tck! Benar-benar.

“Oppa….” Kali ini sayup sekali suara Raina terdengar. Selang beberapa menit berlalu, tak terdengar lagi suara wanita itu. Kemana perginya wanita cempreng itu? Apa mungkin Raina menyerah dan memutuskan pergi? Atau …

Hyuk Jae beranjak dari duduknya, ia mulai berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika Raina terjadi apa-apa di depan pintu? Betapapun Raina tengah hamil saat ini, Hyuk Jae tak ingin ia kenapa-kenapa? Seperti setrikaan, pria itu terus saja berjalan mondar-mandir. Menelaah dalam dan menimbang apa harus ia lakukan? Larungkan diri mengeja gamam. Lantaran tak ingin terlalu lama, pun akhirnya ia menarik nafas panjang. Mengikis sejenak keegoisan diri yang sempat hadir. Tungkai kakinya terayun berjalan kearah pintu, memutar knop perlahan.

“Na-ya, kau …” Pria itu menghentikan edaran iris kehitamannya. Tatapan itu sayu kini, meningkahi akan apa yang ia lihat. Raina, wanita itu telah tidur terduduk di sisi pintu kamar. Andai saja Hyuk Jae membuka pintunya kencang, mungkin wanita ini akan terjatuh seketika.

“Astaga, Na-ya! Maafkan aku, kau sampai tertidur seperti ini.” Ucapan itu dirundung akan sesal. Dengan lembutnya ia membopong tubuh Raina tanpa memikirkan apa-apa lagi. Rasanya, ia sudah terlalu keterluan saat ini. Mengabaikan Raina, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya.

Hyuk Jae mengusap pipi Raina halus. Setelah beberapa saat ia menurunkan tubuh Raina pada tempat tidur. Menatap pemilik wajah polos itu teduh, dengan bias-bias penuh kasih nan dalam. “Kau tahu? Aku bahkan tidak bisa untuk marah terlalu lama denganmu, Na-ya.”

“Hey, bangunlah! Kau berhutang penjelasan denganku, Na-ya.” Hyuk Jae mendekatkan bibirnya pada telinga Raina. Dengan suara yang merintik lirih.

Wanita itu mengeliat sesaat. Merasakan kenyaman yang teramat sangat, hanya karena tangan Hyuk Jae yang membelai permukaan wajahnya.

“O … Oppa, kau …”

“Maafkan aku, Na-ya” Hyuk Jae mendekatkan tangan Raina pada bibirnya. Mencium jemari itu lembut.

“Harusnya aku yang meminta maaf. Aku sudah terlalu egois denganmu, Oppa.”

Hyuk Jae mengangguk membalasnya. Diraihnya tengkuk Raina, lalu menyentuh bibir itu bertubi-tubi namun tak berkesan paksaan sama sekali. Hyuk Jae selalu seperti itu, membuat Raina melayang karena sentuhannya yang seakan tak ingin menyakiti sedikitpun.

“Ada yang ingin kutunjukan, Oppa,” ucap Raina. Dengan nafas yang sedikit mereda, karena sempat kehilangan udara tadi.

“Apa?”

“Cah, kau ikut denganku!” Raina menarik pergelangan tangan Hyuk Jae. Menuntun langkah pria itu untuk mengikutinya.

“Hey! Tapi apa …” Hyuk Jae tertegun. Seperti ada bongkahan es batu yang memasung kakinya. Ia lemah dalam melangkah kini. Tatapannya penuh dengan ungkapan kebahagiaan. Ini terlalu indah, Tuhan….

Bagaimana mungkin, Hyuk Jae baru menyadari? Bahwa di sana, begitu jelas akan apa yang Raina lakukan tanpa sepengetahuaanya. Sebuah hiasan dengan beraksen lilin-lilin kecil di kolam. Dengan rangkaian sedemikian rupa bertuliskan ‘Happy Birthday my Anchovy Husband’.

“Ini….” Hyuk Jae tak mampu menyuara lagi. Terlalu sulit tepatnya. Hanya tatapan itu yang tereja, tentang apa yang terasa dalam relung hatinya. Sangat indah.

“Kau suka, Oppa? Kau sudah bertambah tua sekarang.” Raina berdiri dihadapan Hyuk Jae. Memberikan senyuman terbaik kearahnya.

“Aku bahkan tak ingat sama sekali dengan hari ini, Na-ya. Oh, astaga! Bagaimana mungkin?” Hyuk Jae mengeleng-geleng dengan perasaan yang tiada menentu. Tangannya mengusap keningnya sekilas, seolah tak habis fikir dengan semua yang ada.

“Jadi semua ini adalah …” Wanita itu mengangguk dengan polosnya. Ia bahkan tak sadar, Hyuk Jae telah mempersempit jaraknya. Tangannya sudah bergelayut di sana, pada pinggang ramping Raina. Deruan nafas itu terasa hangat menerpa kala saling berbenturan.

“Sebenarnya, ini termaksud gagal, Oppa. Karena, kau salah paham. Saat aku ke supermarket untuk menyiapkan ini semua, tanpa sengaja bertemu dengan Donghae Oppa. Jadilah, ia membantuku tadi. Dan, tidak terjadi apapun setelah itu.”

“Benarkah?”

“Aku tidak bohong.” Tubuh Raina sedikit mengeliat, menahan desiran yang meresapi ke segala arah. Kala merasakan Hyuk Jae yang terus saja mengerayangi wajah hingga lehernya.

Hyuk Jae menghentikan kegiatan itu sejenak. Menatap wajah Raina penuh dengan intimidasi. “Termaksud tentang permintaan mengidammu yang aneh itu?”

“Maafkan aku….” Wanita itu terkekeh serba salah. Pasalnya, tatapan Hyuk Jae seakan ingin menelannya hidup-hidup saat ini.

Hyuk Jae menarik ujung-ujung bibirnya ke samping. Menyeringai.“Baiklah, tapi ada syaratnya.”

“Apa?” Senyum Raina terbit kali ini.

“Apa sudah boleh?”

“Huh? Maksudmu a … apa?”

“Kau benar tidak tahu?” Hyuk Jae merengut dengan lucunya.

Sekian lama Raina berpikir lama. Hingga akhirnya ia tersenyum penuh arti.“Tidak boleh, Oppa. Kata Dokter tunggu sampai kandunganku tujuh bulan dulu.”

Hyuk Jae menghela nafasnya panjang. “Huh, baiklah. Sayang sekali.”

Raina tertawa melihatnya. “Kurasa kita bisa melakukan hal yang lainnya, Oppa.”

Kali ini, pria itu mulai tertarik. “Misalnya?”

“Bagaimana kalau main boneka di kamar. Bukankah itu sama saja, Oppa?”

Hyuk Jae menyentil dahi Raina seraya berdengus malas. “Tidak lucu!”

“Kalau bermain monopoli bagaimana?”

“Tidak! Aku hanya ingin kau, Na-ya. Kau!” Hyuk Jae berlalu pergi dari hadapan Raina. Dengan langkah yang bersunggut-sunggut.

“Hey! Oppa, aku belum selesai berbicara!” Raina melangkah cepat menyeimbangi Hyuk Jae. Entah dorongan dari mana wanita itu menarik tangan suaminya. Tak butuh beberapa detik lamanya, hingga ia mampu melakukan hal senekad ini. Diraihnya leher Hyuk Jae, lalu menyatukan kedua benda lembut itu. Meleburkan sejumlah perasaan seutuhnya.

“Happy Birthday, Oppa. I love you, because it’s you, Lee Hyuk Jae. I love you, my anchovy husband,” lirih Raina. Menatap suaminya lekat.

Hyuk Jae nyaris saja membeku. Ia tak menyangka ada sisi lain dari sosok Raina kali ini. Ia bisa merasakannya dari tatapan yang menyiratkan akan kesungguhan. Begitu indah hingga rasanya tak bisa untuk tak merinai akan bahagia saat ini. “I love you too, princes wife. Kau tahu? Sebenarnya, ada yang lebih indah dari apa yang kau lakukan, Na-ya. Sesederhana saat Tuhan menghadirkanmu. Rasanya, aku tak ingin apa-apa lagi. Kau hanya perlu tetap diam denganku Na-ya. Hanya sebatas itu.”

Kedua hidung mereka dibiarkannya bertemu begitu saja, dengan sesekali tersenyum menahan malu. Aneh memang, rasanya terlalu indah tentang sang waktu. Ketika Tuhan mempertemukan jalinan kisah ini. Tentang cinta, mereka tahu benar. Cinta itu tak akan pernah salah dalam memilih kepada siapa. Hanya dia, seseorang yang benar-benar telah tertorehkan takdir. Pun keduanya paham, bahwa mereka saling terikat. Hanya ada Lee Hyuk Jae dalam setiap helaan nafas Kim Raina. Begitu seterusnya.

FIN

A/N : Kesimpulannya perayaan ulang tahun itu gagal -_- Hanya kiasana saja dan berakhir dengan kado terindah, yaitu Cinta. Aku hanya ingin bilang, Selamat ulang tahun Lee Hyuk Jae. Still love you, my anchovy husband. Sebenarnya telat yah, aku memang ELF yang buruk. Ulang tahun mereka aja aku tidak ingat. The last, Gomapseumnida dear ^-^

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s