[ONESHOOT/EUNHYUK] Heart Beat

Tittle : Heart Beat

Genre : Love

Length : One Shot

Main character: Lee Hyuk Jae, Han Hyo Kyung

Other : Park Jung Soo

Author : Zhang Nan Ming (Ulfa)

Fb : Mia Nss Lestari

Rated : 16

Disclaimer: ff ini hanya milik author. Penerbit ada di tangan admin Hiksie. Gomawo buat admin Hiksie ^_^

Warning: typo bertebaran, dan dilarang keras baca tanpa meninggalkan jejak

>>>>>

Tlit… tlit… tlit…

 

Ya Tuhan! Betapa lemah detak jantungnya? Tak berdaya rasanya aku mendengarnya. Mengapa bukan aku saja yang menggantikan posisinya, Tuhan? Mengapa bukan aku saja yang Kau biarkan aku menerima apa yang dideritanya? Jangan dia, Tuhan! Bisakah aku memintanya sekarang?

 

Lihatlah betapa pucat wajahnya itu! Kapankah mata yang biasanya jernih itu akan terbuka? Kapan jemarinya dapat membalas genggaman tanganku ini? Kapankah bibir mungilnya dapat menjawab panggilanku untuknya? Kapankah kakinya dapat menyambut ajakanku untuk berlari seperti dulu lagi? Bangunlah, chagi!

 

“Lee Hyuk Jae!”

 

Secepatnya aku menghapus air mataku. Suara tadi, aku yakin dokter Jung Soo. Pasti ia akan mengecek kondisi Hyo Kyung lagi. Belum sempat aku menoleh, ia sudah ada di sampingku.

 

“Eotteyo?” tanyaku basa-basi. Padahal nyatanya aku tahu, pasti dia akan memberikan jawaban yang sama. “Sama saja,” ya, itu yang akan diberikannya padaku. Tak mungkin yang lain.

 

Tapi kali ini, ia hanya menatapku. Kurasakan ada jawaban yang lain yang akan diberikannya padaku. Tertulis jelas di mata itu. Atau, ia hanya prihatin melihat mata sembamku ini?

 

“Hah…” tapi dia hanya mendesah perlahan. Ia tak bicara apapun tapi langsung pergi begitu saja. Apa yang sebenarnya terjadi? Tak ada kata-kata apapun yang keluar dari bibirnya. Ada apa denganmu, chagi? Kutatap lagi wajahnya, hanya diam dan datar. Tentu! Lee Hyuk Jae! Dia tak akan memberimu jawaban apapun! Kembalilah pada kenyataan! Ia tak akan bangun!

 

“Aku pergi dulu sebentar,” bahkan pamitku ini pun tak akan mungkin terbalas. Kukecup keningnya sekilas, ia pun tak akan bereaksi. Oh, betapa perihnya hatiku! Gemetar, kugamit gagang pintu. Sempat sekilas kulihat wajahnya sebelum menutup pintu kembali. Seolah kulihat di wajah itu, meski sebenarnya tak ada sama sekali! Miris!

 

***

 

“Kau bercanda, kan?” rasanya berat sekali bibirku ini terbuka. Hanya untuk meyakinkan dokter tampan ini bahwa ia sudah salah berucap. Tapi yang kudapati ia hanya menghela nafas. Melepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja. Memijit sedikit pelipisnya dan bangkit bangun. Yang membuat air mataku kembali terjun bebas, ia tiba-tiba meraih kedua pundakku dari belakang. Meski begitu pelan, aku bisa mendengar ucapan maaf darinya.

 

“Kau benar-benar tak mendapatkan donor jantung itu?” masih kucoba mendatangkan kesalahan. Siapa tahu dia hanya salah! Dia salah! Tak ada yang benar dari kata-katanya tadi. Tak mungkin kehidupan Hyo Kyung tinggal menghitung hari? Bagaimana mungkin dia setega itu memvonisnya seolah ialah Tuhan sebenarnya?

 

“Hyuk Jae, tak mudah mendapatkan donor jantung. Kau tahu apa konsekuensi bagi manusia jika mendonorkan jantungnya, kan? Nyawa taruhannya, Hyuk Jae! Nyawa!” kudengar penuh tekanan pada kata-katanya. Oh, aku tak ingin berlama-lama di sini! Aku tak suka mendengar dokter Park seolah menjadi malaikat maut sekarang! Aku harus pergi dari tempat ini!

 

***

 

Langkahku gontai. Bisa kurasakan kakiku yang lemas tak berdaya menopang tubuh kurusku. Bahkan aku sudah tak ingat lagi kapan terakhir aku menelan makanan. Yang ada di dalam fikiranku hanya Hyo Kyung. Gadis sebatang kara itu sudah diputuskan untuk pergi? Gadis yang selama ini aku cintai penuh kasih itu sebentar lagi akan pergi meninggalkanku? Benarkah aku tak bermimpi sekarang?

 

Aku tak akan mampu masuk ke kamar Hyo Kyung lagi. Aku harus mencari tempat lain. Mungkin taman di depan rumah sakit sana bisa menenangkanku.

 

Tak ada satu orang pun di sana. Hanya kesunyian yang menemaniku sekarang. Awan-awan putih seolah begitu dekat di depan wajahku. Apa ekspresi yang diberikan mereka kira-kira? Senangkah mereka melihat kemirisan nasibku ini? Atau mereka pun ikut menangis? Tapi, jika memang benar mereka sedih, kenapa tak ada setetes air pun yang mereka turunkan kemari? Lalu benarkah mereka mentertawakanku sekarang?

 

Heh, bukankah aku mulai gila sekarang? Kenapa aku mengandai-andai seolah-seolah awan-awan itu adalah manusia? Aku sudah mulai kehilangan akal sehatku! Han Hyo Kyung! Kau membuatku menjadi pria gila yang sudah tak bisa berfkir jernih lagi sekarang!

 

Sejak sekolah dasar, aku sudah memperhatikanmu. Tingkahmu yang menggemaskan mampu mencuri perhatianku yang selama ini selalu kuberikan pada diriku sendiri. Aku yang selalu tak pernah peduli dengan kehidupan orang lain, akhirnya berhasil luluh hanya karena kesan pertamamu menginjak sepatuku. Aku berhasil tersenyum padahal saat itu aku benar-benar kesal padamu.

 

Selama enam belas tahun aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Hanya bisa memakimu dan mengatakan aku membencimu. Meski pada kenyataannya aku menyukaimu. Aku bahkan menyayangimu. Ah, tidak! Aku mencintaimu! Selama itu dan akhirnya aku bisa menyatakan cintaku. Hanya satu bulan! Bayangkan! Enam belas tahun aku jauh darimu! Dan hanya satu bulan aku bisa bersamamu tapi kini kau akan meninggalkanku? Secapat ini? Ini tidak adil, Hyo! Tidak adil!

 

“Hyuk Jae~ya!” hey! Tunggu! Suara siapa ini? Bukankah itu suara Hyo Kyung?

 

Aku berbalik, hey tak ada siapapun di sana! Lalu tadi suara siapa? Aku yakin betul itu suaranya! Ya, itu Hyo Kyung! Telingaku tak mungkin salah dengar. Itu pasti dia!

 

Tak sadar, entah sejak kapan otakku memerintahkan kakiku berlari. Beberapa orang mengumpatiku karena menghalangi jalan mereka. Dengan seenakku, aku menbrakki mereka. Tapi entah, aku bahkan tak tahu kemana kakiku ini hendak membawaku.

 

Yang kutahu sekarang, saat aku berhenti, kamar Hyo Kyunglah yang kutempati sekarang. Yang kudapati hanya tubuh Hyo Kyung yang terbujur. Ia tetap sama. Detak jantungnya yang lemah. Ia yang tak bergerak.

 

Haish! Apa yang kulakukan di sini? Bukankah ini membuat hatiku makin sakit?

 

Tapi kakiku tak ingin berkompromi denganku. Ia tak ingin bergerak. Aku ingin pergi dari sini. Tapi, hey! Bukankah ini kesempatan terakhirku? Aku mungkin tak akan mendapatkan senyumnya lagi. Tapi paling tidak, inilah saat-saat terakhirku agar bisa bersamanya.

 

“Hyo…” bahkan aku hampir tertawa terbahak dengan suaraku sendiri. Kenapa suaraku bergetar seperti ini? Kenapa suaraku memaksa air mataku untuk melompat keluar lagi! Tidak! Aku harus menolaknya!

 

“Ya! Mwohaneun geoya?! Jigeum ireohnabwa!!!” kuurai senyumku selebar mungkin. Aku berlari ke arahnya. Kupeluk tubuh ringkihnya seerat mungkin. Aku tahu yang kulakukan hanya mencoba menguatkan diriku sendiri. Tapi, hanya ini yang bisa kulakukan.

 

“Kau mau dengar sebuah cerita? Eoh?” tanyaku padanya.

 

“Lihat ini! Jjajang!” kukeluarkan dua buah boneka tangan yang tadi kuambil di meja di dekatnya. Boneka pria dan wanita.

 

“Aku akan bercerita padamu. Suatu hari, ada seorang pria dingin berjalan. Tiba-tiba, seorang pengemis jelek menginjak kakinya,” aku memulai ceritaku. Kuperagakan boneka itu sebisaku.

 

“Ya! Mwohaneneun geoya? Ige jinjja appo! Minta maaf padaku!”

 

“Shireoya! Aku tidak salah!”

 

“Mwo? Tidak salah apanya? Jelas-jelas kau menginjak kakiku!”

 

“Kau yang menghalangi langkahku!” hey, bukankah ini kisahku bersamanya? Kenapa kuceritakan ini padanya?

 

“Kenapa kau pergi, chagi? Wae?” Hyuk Jae! Apa yang kau lakukan sekarang? Kau membuat boneka wanita ini pergi! Apa benar kau sudah siap kehilangan kekasihmu ini?

 

“Eotte?” aku kembali tersenyum. Aku tak ingin menguras air mataku lagi. Kutarik kursi didekatnya. Kupandangi wajahnya. Inilah wajah bidadari di hatiku. Aku ingin mengingatnya lebih lama.

 

Perlahan, kudekati wajahnya. Pelan, kusentuh bibirnya dengan bibirku. Rasa asin menyambut lidahku. Oh, betapa jahatnya air mataku! Kenapa lagi-lagi harus mengalir keluar? Aku begitu menyayanginya, tak bisakah aku bersamanya lebih lama?

 

Cukup lama kutautkan bibirku pada bibirnya. Setelahnya, hanya wajah dekatku saja yang memandangi wajahnya. Apa yang terjadi? Ya, apakah aku sudah siap melepasnya? Aku tak ingin menahannya lebih lama bukan? Aku harus siap! Hyuk Jae, kau harus siap!

 

“Saranghae, Han Hyo Kyung~a…”

 

***

 

Author POV

 

Bulu mata panjang itu bergerak seiring dengan jemari tangannya yang mencoba bergerak. Perlahan namun pasti, kelopak matanya terbuka. Langit-langit putih yang ditangkap matanya.

 

Tubuhnya memang terasa sakit, namun ia mencoba bangun. Mencoba menyapa pemandangan yang ada di sekelilingnya. Hanya ruangan dengan beberapa perabotan rumah sakit tanpa satu orang pun yang menamaninya. Udara AC di atasnya membelai manis rambut panjang tergerainya. Ia masih linglung. Ia masih mencoba mencari seseorang. Tapi nyatanya, hanya dentang jam yang memberinya jawaban.

 

Srek! Kakinya yang berusaha turun dari tempat tidur menjatuhkan sesuatu. Apa ini? Fikirnya.

Diambilnya benda itu. Secarik kertas putih yang tak terlalu lebar. Deretan hangul membentuk kata-kata. Air matanya meleleh selesai membaca deretan hangul itu. Kertas itu kembali jatuh ke lantai. Bersamaan dengan air matanya yang makin deras mengalir.

 

Han Hyo Kyung~a…

Biarkan jantungku berdetak bersamamu

Lee Hyuk Jae

 

END

Eotteyo? Hehe… Mian kalau jelek. Tapi tolong, beri saya komentar jika memang ada yang kurang. Saya penulis pemula yang butuh kritik dan saran.

Sekali lagi, gomawo buat admin Hiksie ^_^

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s