[Donghae]|| SERIES Love by Accident (Part 17)

Title : Love by Accident

Author : Zatha Amanila

Casts : Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau, Yoon Hara

Genre : Romance

Rating : General

Length : Chaptered

 

~~~~~

 

“Bo? Kau mau mengadakan jumpa pers mengenai pernikahanmu?” seru Yoorim noona sambil menaruh satu cangkir kopi panas di atas meja untukku. Siang ini aku berkunjung ke unitnya di lantai 10.

”Aku sudah memikirkannya baik-baik, noona. Aku tidak akan ragu lagi.”

Manajerku itu mendesah. ”Tapi ini bahaya, Hae. Chaerin-ssi mungkin akan mengalami hal yang sama dengan Yoon Hara. Kau mau itu terjadi?”

”Rahasia ini sudah terbongkar, noona. Jadi untuk apa aku tutup-tutupi lagi? Lebih baik aku terbuka pada wartawan dan ELF. Aku yakin mereka akan mengerti.” jawabku.

Yoorim noona menggigit bibir bawahnya. Dia nampak berpikir.

”Apa kau sudah meminta izin pada Lee Sooman sajangnim?”

Kuanggukan kepalaku. ”Aku sudah menemuinya dua hari yang lalu. Dia setuju.”

”Geurae?”

”Aku harap noona mau membantuku. Hanya noona yang bisa kuandalkan saat ini.”

Manajer yang berbeda tiga tahun dariku itu mendesah berat. ”Joha. Aku akan membantumu. Aku harap setelah ini masalahmu selesai.”

Aku tersenyum. ”Gomawo, noona.”

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

Satu minggu kemudian…

Ballroom kantor SM entertainment penuh dengan wartawan. Sebagian dari mereka sedang mengobrol tentang apa yang akan terjadi pada jumpa pers mendadak ini. Sebagian yang lain tengah bersiap-siap dengan kamera dan micnya serta beberapa pertanyaan yang akan diajukan nanti. Sementara itu di lobi kantor SM entertainment juga dipenuhi oleh ELF yang ingin melihat langsung proses jumpa pers. Namun pihak penyelenggara tidak membolehkan mereka masuk ke Ballroom dan hanya bisa melihat rangkaian acara melalui LCD tivi yang dipasang oleh staf SM entertainment di lobi gedung.

Namja itu berdiri tegak di depan sebuah cermin toilet. Ia nampak berkharisma dengan kemeja polos hijau toska yang bagian lengannya tergulung rapi hingga siku. Rambutnya yang sedikit panjang itu sengaja ia ikal, menambah kesan berkharisma yang dimilikinya.

Ia menghela napas dalam. ”Aku tidak boleh ragu lagi. Akan kuselesaikan semuanya hari ini.”

Ia pun keluar dari toilet setelah satu senyuman manis tersungging dibibirnya sebagai penyemangat dirinya sendiri. Kakinya melangkah memasuki Ballroom. Begitu sosoknya nampak, flash kamera dari wartawan-wartawan itu bergemuruh seolah tidak ingin ketinggalan satu detik pun. Namja itu mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi dengan banyak mic di hadapannya. Matanya menelusuri sudut-sudut Ballroom.

”Harap semua wartawan yang hadir untuk tenang. Kami akan segera memulai acara jumpa pers ini. silakan duduk kembali.” ucap seorang namja yang tak lain manajer Super Junior itu tegas.

Hening menghinggapi ruangan tersebut selama beberapa detik. Donghae kembali meyakinkan dirinya untuk tidak ragu lagi dengan keputusannya.

”Selamat siang semuanya! Terima kasih sudah bersedia memenuhi permintaan dari agensi kami untuk menghadiri jumpa pers ini. Aku akan menjelaskan semuanya terlebih dahulu, baru setelah itu kalian bisa mengajukan pertanyaan padaku.” ucap Donghae santai. Matanya kembali menelusuri setiap sudut Ballroom.

”Berita yang tersebar di internet itu benar. Aku…” jeda sesaat.  ”Sudah menikah.”

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

SELAMAT!

NAMA : HAN CHAERIN

NOMOR UJIAN : 100200777

PROGRAM STUDI : SENI PERFILMAN

DINYATAKAN LULUS DALAM UJIAN MASUK UNIVERSITAS KOREA.

Itulah satu laman yang muncul di layar laptopku saat ini. Tulisan dengan semua huruf kapital itu berhasil membuatku tercekat. Aku… sudah dinyatakan sebagai mahasiswi Seni Perfilman? Yah, cukup mengejutkan. Tapi aku memang sudah bisa menebaknya.

Tapi mungkin ini yang jauh lebih membuat tenggorokanku tidak bisa mengalirkan udara dari paru-paruku. Satu laman berbeda yang kuambil dari website resmi milik sekolahku itu jauh lebih mengejutkan.

SELAMAT! KAU DINYATAKAN LULUS DARI SMU GEOSUNG DENGAN NILAI MASING-MASING ; MATEMATIKA = 95, SAINS = 90, DAN BAHASA INGGRIS = 98.

That’s amazing! Bagaimana tidak? Saat ujian, aku benar-benar berada di bawah tekanan karena masalah dengan Donghae. Aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi penuh dalam mengerjakan soal-soal itu. Ternyata memang benar apa yang dikatakan teman-temanku, aku ini jenius! Hahaha…

Kututup laptopku. Eomma dan Appa belum mengetahui hal ini. Rasanya aku ingin membuat kejutan untuk mereka. Ah, makan malam! Benar. Aku akan membuat makan malam spesial untuk mereka. Lagi pula, aku sudah lama tidak memasak. Aku rindu dengan kegiatan itu.

Mataku menangkap jarum pendek pada jam dinding di kamarku berada di angka satu. Hmm ini berarti aku masih punya banyak waktu untuk berbelanja. Baiklah, Han Chaerin, mulailah hari barumu saat ini juga! Tatap masa depan dan lupakan masa lalu. Itu yang seharusnya kulakukan sejak dulu.

 

>>>>>

 

”Gamsahamnida,”

Aku menerima satu nampan berisi dua donat cokelat dan tiramisu bertabur kacang serta secangkir moccacino dingin. Kuambil satu meja di dekat jendela yang menghadap ke danau. Pemandangannya benar-benar indah.

Kuambil donat cokelat dan menggigitnya. Setelah berbelanja bahan masakan, aku merasa sangat lapar. Jadi kuputuskan untuk mampir ke kedai donat ini. Sudah lama aku tidak makan donat. Rasanya lebih enak ternyata.

Drrt… drrt…

Ponselku bergetar panjang. Kuletakkan donat cokelat itu dan merogoh saku bolero yang kukenakan. Alisku tertaut. Tidak ada nama di layar ponselku.

”Yoboseyo?”

”Chaerin-ah!”

”Nuguya?”

”Hya! Kau lupa padaku? Ini aku, Yeonhee.”

”Yeonhee? Omo! Yeonhee-ya! Bukankah kau ada di Amerika sekarang?”

”Ne, aku memang sedang ada di Amerika sekarang. Aku baru sampai kemarin siang. Eottae? Kau lulus juga kan?”

”Hahaha ne, aku lulus.”

”Sudah kuduga. Tanpa harus belajar tiga tahun kau pasti akan lulus, Chaerin-ah.”

”Hya! Kau ini berlebihan, Yeonhee-ya. Oh ya, kapan kau mulai masuk kuliah?”

”Ng… seminggu lagi kira-kira. Kau sendiri?  Bagaimana hasil ujian masuk Universitas Korea-mu?”

Aku tersenyum. ”Yah, kau bisa menebaknya kan.”

”Whoaaaaaa cukhae! Kau benar-benar terlewat jenius, Chaerin-ah. Seharusnya kau kuliah di Oxford saja.”

”Oxford? Ah, kenapa tidak pernah terpikir olehku ya?”

”Aiiiissshh benar-benar menyebalkan. Sifat sombongmu itu harus kau ubah, Chaerin-ah.”

Aku tertawa. ”Ne, ne, arasseo. Hei, kau juga harus mengubah kebiasaanmu makan lollipop itu, Yeonhee-ya. Kau harus jadi yeoja yang anggun.”

”Hya! Kenapa kata-katamu sama seperti ibuku?”

”Jinjjayo? Itu berarti kau benar-benar harus mengubahnya, Yeonhee-ya.”

”Hya!”

”Hahaha…”

”Baiklah, aku akan mengubahnya. Aku juga tidak ingin selamanya sendiri seperti ini. Aku ingin punya namja chingu sepertimu.”

”Mwo?”

”Aku sudah tahu semuanya. Kau sudah menikah kan dengan si ikan Mokpo Super Junior itu? Kau ini jahat sekali tidak mau memberitahuku.”

Aku membisu seketika. Bukan karena kenyataan bahwa Yeonhee sudah tahu tentang pernikahanku, tapi karena… dia mengingatkanku kembali pada Donghae, namja yang berusaha untuk kulupakan selama seminggu ini.

”Chaerin-ah? Kau masih di sana kan?”

”Ne? Ah, ne. Aku masih di sini.”

”Sepertinya aku harus menutup teleponnya. Biaya teleponnya sangat mahal. Kekeke… baik-baiklah kau dengan suamimu itu. Aku harap kalian cepat punya Donghae junior ya. Annyeong!”

Pip. Sambungan telepon itu terputus. Tadi Yeonhee bilang apa? Donghae junior? Apa itu maksudnya dia berharap aku punya anak dari Donghae?

Ck, lebih baik tidak. Meski aku dan dia sudah melakukannya tapi aku yakin itu tidak menghasilkan apa-apa. Aku tidak akan hamil karena kejadian malam itu.

Kuseruput moccacino dinginku dan bergegas pergi setelah menilik jam di pergelangan tanganku. Ternyata sudah sore. Aku harus segera pulang ke rumah dan memasak makan malam untuk Eomma dan Appa. Namun langkahku terhenti saat melihat segerombol orang sedang berkumpul di depan big LCD tivi yang di pasang di perempatan Apgujeong-dong. Rasa penasaranku muncul dan akhirnya aku menghampiri mereka sambil menenteng dua plastik besar berisi bahan masakan.

Mataku membelalak saat kudapati wajah Donghae tersorot begitu jelas di sana. Dia sedang berbicara di depan banyak mic. Lampu kamera berkali-kali menyinari wajahnya itu.

”Usia pernikahan kami sudah masuk bulan ke tujuh. Kami menikah karena perjodohan dari kedua belah pihak keluarga. Aku menerima perjodohan itu untuk menghormati permintaan terakhir mendiang ayahku. Hidup dalam satu rumah selama berbulan-bulan membuat kami saling mengenal. Hanya saja, kami masih tidak bisa sedekat suami-istri lainnya karena beberapa hal yang tidak bisa kusebutkan di sini.”

Astaga! Apa ini jumpa pers mengenai pernikahanku dan dia? apa maksudnya dia melakukan ini semua? Tidak tahukah dia kalau ini terlalu berisiko?

Mengenai wanita yang bersamaku di butik itu… dia bukan istriku. Dia hanya teman yang meminta untuk kutemani mencari hadiah ulang tahun Ibunya. Namanya Yoon Hara. Dia mengalami amnesia sebagian dan akhirnya membuat masalah ini semakin runyam. Kemarin dia koma hingga akhirnya meninggal.”

Ya Tuhan! Kejutan apa lagi ini? yeoja itu… Yoon Hara… dia meninggal?

Dua plastik besar yang berisi bahan makanan itu terjatuh dari tanganku. Pikiranku melayang saat aku menerima telepon dari seorang yeoja yang mengaku sebagai pacar Donghae. Dia… Yoon Hara! Jadi dia itu hanya teman Donghae? Dan dia… dia sudah meninggal? Ini sulit kupercaya. Aku sudah salah paham.

”Istriku bernama Han Chaerin. Dia adalah putri dari seorang pengusaha keramik, Han Youngmin. Dia masih sangat belia, usianya baru delapan belas tahun tapi dia sangat dewasa dan bisa segalanya. Jauh di dalam hatiku, aku sangat mengagumi sosoknya. Ini adalah foto pernikahan kami. Kalian bisa melihat bagaimana wajahnya, tapi kumohon jangan temui dia. Aku melakukan jumpa pers ini tanpa sepengetahuannya. Kalaupun dia sedang melihatnya saat ini, aku ingin dia tahu kalau aku memiliki alasan sendiri untuk bertindak seperti ini. Aku melakukannya untuk kebaikan kami.”

Ini gila! Kenapa ikan itu bisa memamerkan foto pernikahan itu? Bagaimana kalau setelah ini nyawaku tidak bisa diselamatkan? Astaga, apa yang harus kulakukan sekarang?

”Gadis itu cantik sekali. Pantas saja Donghae mau menikahinya.” aku mendengar seorang yeoja yang berdiri di depanku berkomentar.

”Mereka tidak cocok! Gadis itu terlihat seperti keponakan Donghae!”

”Kau benar. Gadis itu masih terlalu kecil untuk menikah. Kenapa dia tidak menceraikan Donghae saja? Aiiisssshh…”

”Wah aku iri. Mereka terlihat serasi!”

”Donghae tampan sekali dengan jas pernikahan itu! aku juga ingin jadi pengantinnya!”

Telingaku mulai panas. Komentar demi komentar terus mengudara di sana. Aku tidak tahan lagi. Kuraih dua plastik hasil belanjaku dan berjalan menjauhi orang-orang itu. Kupercepat langkah agar sampai di halte bus yang berada di seberang jalan.

Tiba-tiba, suara klakson mobil berderu keras menghentak gendang telingaku. Kepalaku menoleh ke kanan dan aku tahu sedang ada mobil melaju kencang dari arah sana. Decitan ban mobil yang beradu dengan aspal itu memekakkan telingaku. Tas plastikku kembali jatuh lalu….

”Aaaaaaaaahhhh!”

BUK!

Kurasakan tubuhku terhentak dengan sangat keras dan melayang di udara selama beberapa detik. Punggungku terbentur aspal hingga mengharuskan tubuhku berguling-guling di atasnya entah sejauh apa. Terus begitu sampai aku merasakan sesuatu menahan tubuhku dan akhirnya berhenti.

Aku tidak dapat melihat apa-apa kecuali langit yang biru dengan awan putih jauh di atas sana. Bisa kurasakan kepalaku berdenyut sangat hebat hingga membuat kedua mataku buram. Dan perutku juga…

”Aaaahh! Perutku… sa… kiiitt…”

Aku merasakan perutku seperti dirajam oleh ribuan pedang. Sakit dan begitu menyiksa. Aku sadar, sesuatu keluar dari selangkanganku tapi aku tidak tahu itu apa, yang pasti ini sangat sakit. Ya Tuhan, apa ini saat-saat terakhirku di dunia?

Kutolehkan kepalaku, tivi besar yang berada jauh dariku itu menampakkan wajah Donghae yang terlihat samar. Tanganku mencoba menggapai wajahnya dengan sisa tenagaku.

”Donghae-ya… Lee Dong-hae… tolong… ak…ku…”

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

Sirine mobil ambulance itu menggema sepanjang jalan menuju Rumah Sakit Internasional Seoul, membuat beberapa kendaraan yang dilewatinya menyingkir. Begitu terparkir di lobi rumah sakit, dua orang perawat laki-laki segera menurunkan pasien yang berada di dalam mobil. Satu perawat wanita membantunya mendorong ranjang tersebut ke ruang ICU.

“Panggil dokter Im sekarang!” teriak salah satu perawat pria itu.

”Baik!”

Perawat wanita bermarga Lee itu segera masuk ke ruang dokter dan memanggil dokter Im yang dimaksud. Tak lama, datang seorang wanita muda dengan seragam dokter dan name-tag di dadanya yang bertuliskan Im Sooyeon.

”Perawat Lee, segera hubungi kerabat pasien!” perintah dokter Im.

”Joesonghamnida, tapi aku tidak tahu siapa yang harus kuhubungi, Dokter.” jawab perawat Lee takut-takut. Dokter Im memandang wajah pasien yang tengah sekarat itu dalam.

”Aku tahu siapa wanita ini.” ujar Dokter Im. Ia mengeluarkan ponsel dari saku seragam dokternya dan menyerahkan ponsel itu pada perawat Lee. ”Hubungi seseorang bernama Song Yoorim.”

”Song Yoorim?”

”Palliwa!”

”N-ne.”

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

Kutilik sekilas jam di pergelangan tanganku. Jumpa pers ini sudah berlangsung dua jam. Aku rasa ini sudah sangat cukup. Aku sudah membuka semua rahasiaku pada wartawan dan orang-orang yang menonton acara ini di luar sana. Aku ingin segera mengakhirinya karena… jujur, perasaanku tiba-tiba aneh. Aku gelisah. Nama yang muncul di kepalaku adalah Chaerin. Aku terus memikirkannya sampai rasanya kursi yang kududuki ini seperti mengeluarkan api hingga aku ingin segera beranjak darinya.

Aku menoleh ke arah Yoorim noona. Dia sedang menerima telepon. Mimiknya terlihat serius, entah telepon dari siapa.

”Donghae-ssi, satu pertanyaan lagi dari kami. Apa kau mencintai istrimu?”

Glek!

Tenggorokanku tercekat. Wartawan ini berani menanyakan hal seprivasi itu padaku. Ya, aku mencintainya, sampai-sampai aku tidak bisa bernapas dengan normal saat aku tidak bisa melihatnya. Aku mungkin bisa saja dengan mudah menjawab seperti itu, tapi tidak untuk jumpa pers ini. Itu terlalu berbahaya untuk Chaerin. Aku tidak mungkin membiarkan dia bernasib sama seperti Hara.

”Aku minta maaf, aku pikir hal itu tidak perlu ditanyakan lagi padaku.”

Aku menoleh pada manajer Prince di sebelahku, mengisyaratkan untuk mengakhiri jumpa pers ini.

”Ng… baiklah, aku rasa jumpa pers kali ini sudah cukup. Terima kasih kalian sudah mau menghadiri acara ini.”

Jepretan kamera-kamera itu kembali begemuruh di ruangan ini. Suara-suara wartawan yang mencegahku keluar ruangan memenuhi telingaku. Aku tak peduli, yang kuinginkan sekrang hanya memastikan keadaan Chaerin secepat mungkin.

”Donghae-ya!” Kudengar panggilan Yoorim noona di belakangku. Dia terlihat panik.

”Noona? Kau kenapa?”

”Rumah sakit internasional Seoul.”

”Ne?”

”Cepat ke sana sekarang juga! Chaerin-ssi mengalami kecelakaan!”

”APA? Ch-Chaerin…?”

Ya Tuhan! Kejutan apa ini? perasaan gelisahku sejak tadi ternyata memang ada alasannya. Tapi ini jauh dari yang kubayangkan. Jangan-jangan…

”Noona, mana kunci mobilku?”

Yoorim noona merogoh tas nya dan meletakkan kunci mobil di atas telapak tanganku.

”Aku pergi dulu!”

”Jakkamanyo!”

Dia menahan lenganku. ”Wae?”

”Kabari aku kalau sesuatu terjadi pada Chaerin-ssi.”

”Ne, akan kukabari nanti.”

Aku mencelos dari hadapan manajerku itu menuju tempat parkir. Kutekan kunci alarm dan melemparkan tubuhku di belakang setir. Tanpa pikir panjang, segera kuinjak pedal gas mobil. Chaerin-ah, aku mohon bertahanlah. Bertahanlah untukku.

 

>>>>>

 

Brak!

Kututup pintu mobil dengan keras dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.

”Joesonghamnida, di mana ruang rawat pasien bernama Han Chaerin?” tanyaku pada perawat di kasir itu.

”Kamar nomor 551 di lantai 5.”

”Gomapseumnida.”

Aku segera beranjak menuju lift. Pikiranku benar-benar penuh dengan Chaerin. Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Bagaimana keadaannya sekarang? apa yang membuatnya mengalami kecelakaan? Chaerin-ah, aku akan segera datang. Kumohon bertahanlah sampai aku tiba.

Ting!

Pintu lift terbuka. Aku berjalan setengah berlari untuk mencari kamar nomor 551. Mataku menangkap seorang dokter yang baru saja keluar dari sebuah kamar rawat. K bertanya padanya.

”Joesonghamnida, apa kau tahu di mana kamar 551?”

Dokter itu melirikku dalam. ”Kau Donghae Super Junior kan?”

”N-ne.”

Dokter yang kulihat name-tag nya bernama Im Sooyeon itu menghela napas. ”Aku minta maaf.”

”Ne?”

”Chaerin-ssi… mengalami keguguran.”

Deg!

Keguguran? KEGUGURAN dia bilang? Jadi selama ini Chaerin hamil?

”Aku dengar, dia tertabrak mobil saat menyeberang jalan dan orang yang menabraknya lari begitu saja. Aku minta maaf tidak bisa menyelamatkan kandungannya karena dia mengalami keguguran saat perjalanan kemari.”

Ya Tuhan, Chaerin hamil dan aku sama sekali tidak mengetahuinya? Dia mengandung anakku. ANAKKU!

Kurasakan lututku tiba-tiba lemas. Aku tidak dapat bernapas dengan normal. Dadaku sesak!

”Masuklah ke dalam. Dia mungkin membutuhkanmu.” ujar Dokter itu sambil berlalu. Tanpa pikir panjang, aku segera membuka pintu kamar tersebut dan menangkap sesosok yeoja yang begitu kurindukan terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang. Kudekati sosoknya.

Jarum infus yang panjang itu terpasang di tangan kirinya. Kutarik kursi yang ada di sebelah ranjang tanpa mengalihkan tatapanku ke wajahnya. Dia begitu pucat. Bukan, ini bahkan lebih pucat. Kusentuh tangannya dan menautkan jari-jariku di sana.

”Chaerin-ah, apa kau baik-baik saja?” tanyaku pelan setelah mengecup punggung tangannya. Satu tetes cairan bening itu tiba-tiba saja keluar dari sudut mataku.

”Maafkan aku. Aku tidak tahu tentang kehamilanmu. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau… kau mengandung anakku. Aku bodoh kan?” ucapku pilu. Aku tidak bisa menarik napas dengan sempurna sekarang. Rasanya sakit sekali melihat Chaerin seperti ini.

”Kau boleh menghukumku saat kau sembuh nanti. Aku akan menerimanya. Hukum aku sesukamu asal kau tidak membenciku. Aku tidak ingin kau membenciku.”

Tangisku pecah. Air mataku mengalir deras. Mataku terus menatap wajahnya yang tanpa ekspresi. Aku mencintai gadis ini, Tuhan. Aku tidak ingin dia menderita lagi. Bisakah Kau hentikan semua penderitaannya? Kumohon…

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

Aku merasakan kakiku melangkah menelusuri jalan setapak yang entah berada di mana ujungnya. Aku tidak pernah kemari sebelumnya, aku juga tidak mengenal daerah ini. Seperti hutan, dengan banyak pohon tinggi dan suara binatang-binatang kecil. Udara di sini juga sangat dingin dan bersih.

Kepalaku terus berputar mencari jalan keluar dari tempat asing ini. Sementara mataku menelusuri setiap sudutnya, ah bukan, tempat ini tidak memiliki sudut. Ini hutan. Hutan yang sangat indah, menurutku. Aku terus melangkah hingga aku melihat seorang anak kecil berteriak memanggil ibunya.

”Eomma!”

Suara itu begitu melengking dan menggema berkali-kali ditelingaku. Aku mencari-cari sumber suara. Terdengar suara langkah kaki yang mendekatiku. Kubalikkan tubuhku dan…

Hup!

Mataku membelalak melihat pemandangan di depanku sekarang. Gadis kecil dengan dua kunciran di kepalanya itu memeluk pahaku erat.

”Eomma…”

Mwo? Eom-eomma?

”Aku ingin ikut Eomma…”

Gadis itu bersuara lagi. Kuakui kalau suaranya sangat lucu dan menggemaskan. Tapi kebingunganku menghapusnya. Anak siapa ini? kenapa dia memanggilku ’Eomma’?

”Ng… adik kecil, aku bukan eomma-mu. Kau salah orang.” aku mencoba bersuara lembut padanya. Tinggi kami sudah sejajar sekarang. Ah, lucu sekali gadis kecil ini. Matanya bulat, pipinya tembam, bibirnya mungil, dan… aigoo, dia mirip sekali denganku saat aku masih kecil.

”Ayo kita pulang, Eomma. Aku ingin makan es krim dengan Eomma.”

Ya Tuhan, dia masih saja memanggilku Eomma. Ku sentuh rambutnya yang halus.

”Kau ingin makan es krim?”

Dia mengangguk tanpa melepaskan pandangannya padaku.

”Tapi aku tidak punya es krim. Mungkin kau bisa minta pada Appa-mu di rumah.”

Hening. Gadis lucu ini terdiam beberapa detik sebelum akhirnya dia terisak dan menangis dengan keras. Ah, eotteokhae? Aku tidak bisa menenangkan anak kecil yang sedang menangis.

”Kau jahat! Kau tidak menginginkanku! Aku membencimu!”

”E-eh tung-”

Gadis itu tiba-tiba berlari menjauh dariku lalu menghilang. Astaga! Mataku tidak salah kan? Dia menghilang! MENGHILANG! Seperti jin.

”AAAHH!”

Tiba-tiba aku merasakan kepalaku sakit.

Mataku menangkap langit-langit putih yang dihiasi satu buah lampu putih berbentuk bulat. Sinar lampu itu cukup menyilaukan hingga aku harus sedikit menyipitkan kedua mataku. Rupanya yang baru saja terjadi itu mimpi. Benar-benar mimpi yang aneh. Tanganku terangkat dan menyentuh sesuatu yang tertempel di kepalaku. Ternyata perban. Ah, apa yang terjadi padaku?

Mataku memutar dan berhenti pada satu sosok yang tengah tidur di sampingku. Dia begitu pulas. Wajah tidurnya sangat damai. Tanpa sadar, bibirku tertarik. Kusentuh perlahan pipinya yang tirus. Astaga! Kenapa dia bisa sekurus ini sekarang? apa dia tidak tidur dengan baik?

Wajah yang kusentuh itu tiba-tiba bergerak. Matanya mengerjap-erjap.

”Kau sudah bangun?” serunya seraya membangkitkan kepalanya dari ranjang. Ada sorot cemas di matanya. Kuanggukkan kepala sebagai jawaban. Dia tersenyum. Kali ini sorot cemas itu bertukar dengan sorot bahagia.

”Donghae-ya, apa yang terjadi padaku sebenarnya?”

Dia diam. Ekspresinya yang langsung berubah seketika itu membuat berbagai pertanyaan muncul dibenakku.

”Donghae-ya…”

”Maafkan aku, Chaerin-ah.”

Alisku tertaut. ”Ma-maaf?”

”Semua ini akibat kebodohanku. Aku sudah membuat dia pergi.”

Alisku semakin tertaut. Aku sungguh tidak menger… ah! Apa yang dimaksud ’dia’ oleh Donghae ini adalah Yoon Hara? Astaga, aku ingat. Aku ingat kejadian sebelum ini. Aku melihat Donghae mengadakan jumpa pers dan mengenalkanku pada wartawan. Dia juga mengungkit tentang yeoja bernama Hara yang dia bilang adalah temannya itu. Ya, aku ingat sekarang.

Bukankah seharusnya aku marah padanya sekarang?

”Mianhae.”

”Kenapa kau mengadakan jumpa pers untuk menjelaskan pernikahan kita? Aku sudah cukup menderita dengan apa yang terjadi.” ucapku ketus. Dia merubah ekspresinya lagi.

”Chaerin-ah…”

”Aku kecewa padamu, Lee Donghae. Seharusnya sekarang kita tidak bertemu lagi.”

”Chaerin-ah, kau keguguran.”

”Mwo?”

Mataku mendelik. Apa yang dia katakan barusan? Aku keguguran?

”Tidak mungkin. Aku tidak hamil, mana mungkin aku bisa keguguran!”

”Tapi itu kenyataannya. Kau hamil dan sekarang kau keguguran karena kecelakaan itu.”

Astaga, apa aku masih bermimpi?

”Donghae-ya, berhentilah bergurau! Itu tidak lucu, kau tahu!”

Dia membisu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Ini konyol! Aku tidak mungkin hamil. Aku masih delapan belas tahun!

”Kau benar-benar mengalami keguguran, Han Chaerin. Anakku yang berada di dalam perutmu itu sudah pergi sebelum aku tahu keberadaannya.”

Aku mendengar suara lirih Donghae.

”Aku minta maaf karna tidak bisa menjagamu dan anak itu dengan baik. Aku payah kan?”

Kutatap langit-langit putih kamar ini. Kejadian di dalam mimpiku barusan tiba-tiba melintas seperti sebuah album foto yang sudah lama tidak dibuka. Gadis kecil itu memanggilku ’Eomma’. Dia ingin aku membelikannya es krim, tapi aku tidak menurutinya. Dia menangis dan berkata kalau dia membenciku lalu dia menghilang. Dia menghilang…

Bibirku bergetar. Napasku tercekat menyadari semuanya. Mataku terasa panas. Tubuhku lemas. Aku bahkan tidak bisa merasakan udara yang ada di dalam kamar ini. Kupegang sprei ranjang kuat-kuat.

”Tidak mungkin. Aku tidak mungkin keguguran! Bayi ini masih ada! AKU TIDAK MUNGKIN KEGUGURAN!”

”Chaerin-ah…”

Kutatap wajah Donghae dan kucengkeram kemejanya.

”Katakan kalau semua ini bohong. Katakan, Donghae-ya! Aku tidak mungkin keguguran! BAYI INI MASIH ADA! KATAKAN SEMUA INI BOHONG! AAAAAARRRGGHHH…!!!”

”Chaerin-ah! Tenanglah! Aku mohon tenang!”

”Ini tidak mungkin! Aku tidak keguguran! Aku akan jadi ibu! Aku akan jadi ibu!”

”Chaerin-ah…”

Tangisku pecah. Aku sadar kalau aku sedang histeris. Kenyataan ini begitu sulit kuterima. Aku mendapat kabar kehamilan dan keguguranku secara bersamaan. Bagaimana Tuhan bisa memberiku cobaan seperti ini? Bagaimana bisa??

Kurasakan punggungku hangat. Donghae memelukku erat seraya mengelus kepalaku lembut. Donghae… Donghae-ya… aku sudah membunuh anak kita. Aku sudah membunuhnya…

 

-TBC-

Holaaaaaaa

Author dengan bangga mempersembahkan part 17 yang hilang kemarin. Nggak sampe seminggu kan? Soalnya author ngebut ngerjainnya. hehehe

Buat yang masih bilang ini pendek, author anggep itu karna kalian terlalu nikmatin ceritanya. Hahaha #plak!

This is NOT the end of the story, readers. Anyone can guess what’s the ending part? ^ ^

 

 

Advertisements

3 thoughts on “[Donghae]|| SERIES Love by Accident (Part 17)

  1. Akhirnya donghae benar2 jumpa fans ngumumin menikah dan ngasi tunjuk foto pernikahannya… Chaerin shock banget ngetahui kehamilannya dan keguguran.. Donghae menyalahkan diri sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s