(TWOSHOOT/SIWON) I’m not Cinderella (part 2-END)

Tittle : I’m not Cinderella (part 2-END)

Author : Ginny Weasley

Twitter : @sarahn901

Cast :

– Lee Hara

– Choi Siwon

– Song Jong Ki

Genre : Sad, romance

Lenght : Twoshoot

Rated : PG-17

Disclaimer : The original story pure of mine. All cast belong of themselves. Please! Don’t bash me and copy without permission *-*

 

Entah, kepada siapa ini patut dipertanyakan. Apakah kepada semilir angin sore yang menyapa? Atau pada sang senja di langit sana. Jawabannya adalah tidak. Mungkin, hanya sang waktulah yang mampu, meruntut tiap pertemuan itu. Dia yang menuliskan semua ini. Tentang sesuatu yang merunut bagi relung hati keduanya. Yah, Choi Siwon dan Lee Hara. Keduanya kerap kali bertemu di sini. Entahlah angin apa yang menerpa pada diri Choi Siwon, sehingga ia mau berlama-lama ke sini. Siwon bahkan tak pernah datang dengan tangan kosong lagi, ia kerap kali membawa sesuatu entah itu perlengkapan sekolah untuk anak panti ataupun makanan kecil.

Lee Hara, gadis itu diam-diam mengubah pandangan Siwon selama ini. Tentang makna hidup sebenarnya dan menghargai akan arti orang-orang di sekitar kita.

“Hara?”

“Hum?” Gadis itu berdehem singkat. Yah, keduanya kini tengah berada dalam ruangan balita di Panti Asuhan. Hara terlihat gembira saat mengelus seorang bayi yang tertidur di gendongannya.

“Apa kau bahagia?”

Hara kini mengarahkan pandangannya pada Siwon. Jujur, ia tak mengerti akan ucapan itu. Apa mungkin … Ah, tidak mungkin! Mana mungkin Choi Siwon tahu akan hidup apa yang ia jalani. Ini bahkan terlalu pedih, Tuhan….

“Hara?” Siwon menyentuh pundak Hara. Netra itu mendadak menyayu. Siwon bisa melihatnya. Itu benar, Siwon sudah tahu semuanya. Akan latar belakang Hara seperti apa, juga tentang ketegaran gadis itu. Yang membuat Siwon tersayat akan perih adalah Lee Hara, gadis itu tak pernah sekalipun menunjukan rasa sakit itu. Selalu saja tersenyum ceria, seolah tak terjadi apa-apa dalam dirinya.

‘Hara-ya, kenapa kau begitu tegar? Sedangkan, aku yang hanya diberi cobaan sesederhana ini, terus saja mengeluh dan ingin mati rasanya.’ Siwon membatin.

“Tentu saja aku bahagia, Siwon-ssi. Buktinya aku mampu tersenyum hingga saat ini.” Kembali. Gadis itu menunjukan senyumannya lagi.

‘Kau bohong, Hara!’

“Kenapa bertanya seperti itu?” Gadis itu meletakan bayi yang telah tertidur dalam boxnya.

“Ah, tidak. Aku hanya tidak punya bahan saja untuk bertanya denganmu. Kau mengabaikanku dari tadi!” Siwon menggemerucutkan bibirnya lucu. Berpura-pura merajuk.

Hara tertawa mendengarnya. “Jadi, kau cemburu dengannya?”

“Ah tidak, buat apa!”

“Bohong! Lihat wajahmu, kau lucu sekali Siwon-ssi.” Tawa Hara menguar lagi. Siwon tertegun melihatnya. Ada perasaan teduh yang hadir di sini. Saat Siwon melihat senyuman itu. Begitu sejuknya.

Entah, pada siapa ini patut di salahkan. Choi Siwon mendekatkan tubuhnya dengan Hara. Tidak! Ini bahkan sangat dekat, tak ada jarak lagi rasanya. Deruaan nafas itu saling berbenturan, membuat relung kedua hati mereka berdebar tak karuan karenanya.

“Ka … kau mau apa?” Hara gemetaran. Siwon bahkan tak mempedulikan ucapannya sama sekali. Pernik mata Siwon seolah hanya tertuju pada bibir mungil ranum milik Lee Hara. Gadis itu sontak mengatupkan kedua matanya rapat. Ia takut akan apa yang terjadi setelah ini. Ya Tuhan, apa yang akan ia lakukan?

Sesuatu yang lembut menerpa bibir Hara. Perutnya seolah berdenyut nyeri kali ini. Tangan Hara terus saja menggengam ujung bajunya erat. Meredam perasaan yang menyelimutinya saat ini. Choi Siwon, ia benar-benar menciumnya. Ya Tuhan….

“Cah, lihat aku berhasil membuatmu diam, Lee Hara.” Pria itu menjauhkan badanya. Ia tertawa melihat Hara yang menegang seperti itu.

“Yak! Choi Siwon! Kau …” Pria itu berlari serampangan. Dengan gelak tawa yang terhias dalam pahatan sempurnanya.

Tak taukah Siwon, bahwa Hara seolah membeku di tempatnya. Hara menyentuh bibirnya, seolah tak percaya tentang apa yang terjadi tadi. Meskipun, hanya menempel saja. Tapi tetap saja begitu berpengaruh baginya. Aliran darah itu dirasakannya belum normal bekerja saat ini. Sejumlah renjana seakan hadir di sini. Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan cinta? Kenapa Hara merasa, jantungnya serasa ingin melayang ke angkasa raya rasanya?

*****

Lee Hara, dalam setiap ayunan sepedahnya ia bersenandung. Membingkai perasaan hatinya yang berbunga, meskipun ia tidak tahu benar karena apa. Hara sangat tidak bisa untuk tak tersenyum kala ini, terus saja terurai di bibir ranumnya. Tanpa bisa ia tahan sedetikpun. Ya Tuhan, apa mungkin gadis itu sudah gila? Entahlah, Hara bahkan tak peduli akan beberapa tatapan orang yang melihatnya seperti itu.

Hingga akhirnya …

Senyuman Hara terhenti. Bibir yang terus saja merinai akan lagu-lagu indah. Pun ikut terhenti, seiring dengan pemandangan yang dilihatnya. Gadis itu terganga. Perasaannya bernadakan tak enak. Ya Tuhan, apa yang terjadi?

Hara menaruh sepedahnya begitu saja. Ia langsung berlari ke dalam rumahnya. Bagaimana mungkin ia bisa biasa saja? Sedangkan luar halaman rumahnya saja berantakan seperti itu.

“Eomma! Eon …” Baru saja Hara hendak berteriak lagi. Namun, suara yang bernada berat dan bengis terdengar di sana. Hara sontak berlari ke arah sumber suara itu.

“CEPAT BAYAR HUTANG-HUTANGMU SEKARANG! ATAU ANAKMU YANG MANIS INI KAMI BAWA!”

Wanita paruh baya itu gemetar. Dua orang tinggi dan besar itu membuatnya tak mampu melakukan apa-apa selain menangis dan memohon. Dan lagi, ia juga tak mampu melunasi hutang-hutang itu saat ini. Tubuhnya merengkuh Sena erat. Ia tak ingin mereka membawa putrinya.

“Ada apa ini?” Hara berlari kecil kehadapan Eomma dan Eonnienya. Menatap mereka meminta jawaban.

“Hara, kau jangan ikut campur! Cepat pergi sana!”

“Eomma, tapi aku …”

“Oh, jadi ini anak tirimu itu yah? Cantik dan putih. Tidak terlalu buruk. Asal kau tahu yah gadis cantik, Ibumu ini telah berhutang dengan bos kami. Dia harus melunasinya sekarang, atau …”

“Atau apa?” Hara menyela ucapan pria itu.

“Dia menggantikan hutang itu dengan putrinya.” Pria itu tertawa, diikuti dengan tawa seorang lagi yang berada di sampingnya.

“Apa?” Hara mematung lamanya. Ini sulit dipercaya? Sebenarnya apa yang mereka pikirkan? Bagaimana mungkin mereka bisa berhutang dengan pria sekeji itu?

“MINGGIR KAU! AKU HARUS MEMBAWA GADIS INI!” Seseorang itu mendorong tubuh Hara seketika. Gadis itu terhempas cukup jauh. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan? Apakah ia bisa untuk diam saja, melihat mereka tersakiti seperti ini? Selang beberapa detik berlalu, menyisakan serpihan awan jelaga dalam langit hati Lee Hara. Antara yakin dan tidak yakin, tapi Hara harus melakukannya. Demi mereka, orang-orang yang dicintainya. Perlahan sekali ia beranjak dari jatuhnya. Lalu …

“Aku akan menggantikannya. Bawa aku saja….” Sayup sekali suara itu terdengar, namun mampu menghentikan aksi kedua pria itu yang hendak menarik paksa Hong Sena.

*****

Jemari kekar Choi Siwon menari di sana, pada stir mobilnya. Alunan lagu dari music player di mobilnya membuat ia larut akan nuansa itu. Entahlah, sebenarnya ada aneh. Akhir-akhir ini ia sering sekali mendengar music, apalagi jika itu tentang lagu-lagu manis dan bertemakan cinta. Maka ia akan memutarnya berulang-ulang. Ahjussi Jung yang melihatnya pun mengeleng-geleng kepala saja dan tersenyum. Sepertinya, ia paham benar akan suasana hati Tuan Mudanya saat ini. Terlebih lagi, Choi Siwon sekarang mulai berubah menjadi lebih baik. Ia rajin sekolah, tidak bersikap kasar pada semua pengawalnya dan juga selalu pergi di sore hari. Lalu, pulang dengan wajah yang sumringah. Bukankah, ini kedengarannya aneh?

“Hara?” Choi Siwon terdiam. Ia melihat Hara di sebuah mobil dengan tubuh yang diapit oleh dua orang bertubuh kekar.

“Kenapa dia ada di dalam sana?” Kembali. Siwon melirih lagi.

“Ada apa, Tuan Muda?”

“Ada yang tidak beres. Yah, pasti terjadi sesuatu. Ahjussi Jung, cepat ikuti mobil putih di depan itu!”

Tanpa banyak bicara lagi, pun pria itu langsung mejalankan perintah Tuan Mudanya. “Baik, Tuan Muda.”

Mobil itu terhenti pada sebuah hotel mewah. Tanpa banyak babibu Siwon langsung mengikuti mereka. Tampaklah mereka membawa Hara ke dalam lift, Hara terus saja merunduk, seperti tengah ketakutan. Terang saja membuat Siwon semakin yakin bahwa ada yang terjadi dengannya. Lagipula, untuk apa Hara ke hotel seperti ini?

Siwon mengikuti kedua pria itu dan Hara hingga lantai lima. Langkah Siwon terpaksa harus berhenti, seiring dengan mereka yang berhenti di salah satu kamar. Siwon berpura-pura menyibukan dirinya dengan ponsel. Hara masuk kesana, wajahnya pucat pasi. Gadis itu sepertinya tak menyadari sama sekali, jika sedari tadi Siwon mengikutinya. Jujur, Siwon begitu tak tenang hanya berdiam diri seperti ini.

“Bos enak sekali yah? Gadis itu cantik, bahkan melebihi kakaknya.”

“Huh, tapi dia bodoh. Menyerahkan diri sendiri hanya demi kakaknya itu.”

“Entahlah. Kita harus tetap berjaga di sini.”

“Apa?” Siwon terganga. Kala ucapan itu sampai hingga pendengarannya. Tangannya terkepal kuatnya, menahan amarah. Ia menghenyakan ponsel ke telingannya.

“Ahjussi Jung, cepat minta kunci cadangan dari kamar 506 di lantai lima.” Siwon mengenggam hape erat, ia sungguh geram, ingin rasanya membunuh orang-orang itu sekarang juga.

Ya Tuhan, tolong jaga Hara di sana. Hara-ya, tunggu aku….

Didalam sana, Hara sungguh gemetaran. Pria setengah abad itu berdiri dari duduknya. Menatapnya intens, bahkan dari bawah hingga atas. Belum lagi tangannya beberapa kali menyentuh permukaan kulit Hara. Hara meringis beberapa kali, taatkala pria itu mencengkram tangannya.

“Ternyata kau cantik. Kurasa aku tidak menyesal melepas Sena, demimu.” Pria itu berbisik di telinga Hara. Gadis itu mengatupkan matanya, jujur ia sangat takut saat ini. Ya Tuhan….

“Kumohon, lepaskan aku.” Hara mencoba menyuara, meskipun gemetaran.

“Hey! Tidak akan pernah, Sayang. Kau itu mahal, mengerti? Ibumu itu berhutang terlalu banyak denganku.”

Hara dengan sisa kekuatan yang ada. Ia mendorong tubuh tinggi besar itu. Ia berlari mencapai knop pintu, memutar-mutar pedal itu dengan ketakutan.

Pria itu beranjak bangun. Dengan menyeringai ia berjalan kearah Hara. “Percuma. Tak akan ada yang menolongmu, Sayang. Ruangan ini kedap suara dan lagi ada penjaga di luar.”

“Ka … kau mau apa?”

“Aku tidak akan menyakitimu, kau tenang yah.” Pria itu menuntun Hara. Lalu, menghempaskan tubuh gadis itu keatas kasur. Dirobeknya bagian seragam sekolah putih Hara hingga bagian atasnya.

“Kumohon, jangan melakukannya….” Bening itu meluruh. Hara menangis detik itu juga. Ya Tuhan, siapapun tolong dia sekarang!

Pria itu tak mengindahkannya sama sekali. Ia justru tersenyum senang di atas ketakutan Hara yang seperti itu. Hingga seketika …

BRAKK

Suara dentuman pintu menggema di ruangan ini. Pria itu ditarik paksa oleh seseorang. Hara langsung berlari ke sudut ruangan itu. Seolah mencari perlindungan di sana. Tangannya memeluk lutut posesif, ia benar-benar ketakutan.

Choi Siwon, ia akhirnya datang. Mudah bagi Siwon untuk melakukan itu, tentu saja ia bisa masuk ke kamar hotel ini. Saham keluarga Choi itu ada dimana-mana, ia bisa saja mencabut semua pemilik saham atas hotel ini. Jika tak menuruti akan perintah yang berembel-embel dari keluarga Choi. Siwon terus saja memukul pria yang telah berani menyentuh Haranya bertubi-tubi. Ia bahkan nyaris membunuhnya.

“Tuan Muda, sudahlah! Gadis itu sepertinya lebih membutuhkan anda saat ini.” Siwon akhirnya berhenti. Matanya berpendar mencari sosok Hara. Pedih rasanya, ketika netra menangkap Hara yang berada di sudut ruangan itu. Siwon langsung beranjak kesana. Ya Tuhan, Hara….

“Hara kau tidak apa-apa, huh?” Siwon merengkuh tubuh itu lembut. Tangannya mengelus bahu Hara. Menenangkannya.

“Aku tidak apa-apa.”

“Aku tidak apa-apa.” Terus saja Hara bergumam tak karuan. Batin Siwon tersayat rasanya melihat Hara yang seperti itu. Demi Tuhan, ia bahkan rela jika harus menukar semua yang ada pada dirinya. Hanya untuk seberkas saja senyuman Hara, seperti apa yang sering dilihatnya.

“Kau ini bodoh atau apa, huh?” Siwon tak benar-benar memarahinya. Dilepaskan coatnya, menutupi tubuh Hara karena baju yang sudah setangah terkoyak itu.

“Hara, ini aku Siwon. Kau percaya padaku ‘kan?” Gadis itu memandang Siwon, ia mengangguk lemah kearahnya.

“Kita pergi dari sini!” Siwon menyelusupkan tangannya pada leher dan bawah lutut Hara. Ia menggendong tubuh yang seolah mudah merepih itu lembut.

Siwon beberap kali mencium kening Hara. Jujur, ia tak kuat melihat kondisi Hara saat ini. Bayangkan, Siwon bahkan rela menggendong tubuh gadis itu seorang diri dari lantai lima ke mobil. Tak diindahkannya sama sekali arti dari beberapa tatapan beberapa orang itu. Meskipun, statusnya adalah anak dari seorang anak pengusaha ternama. Demi apapun, Siwon tak peduli akan itu.

“Tuan Muda, biar aku saja menggendongnya. Tuan Muda nanti lelah.” Ahjussi Jung menatap Siwon tak tega. Bahkan, setelah tiba di kediaman Siwon. Pria itu masih ingin menggendong Hara kembali.

Siwon melihat Ahjussi Jung sejenak. Lalu, menatap sendu Hara yang sudah tertidur lena dalam gendongannya. “Tidak usah Ahjussi, biarkan aku saja. Lebih baik Ahjussi hubungi Dokter Lee saja.”

Ada kesungguhan di sana. Ahjussi Jung bisa melihatnya saat ini. Ya Tuhan, ternyata dia benar-benar berubah….

*****

Masih dalam naugan langit yang sama, seorang pria begitu cemas kini. Langkahnyaa serampangan memasuki hotel ini. Song Jong Ki, pria itu begitu tak mampu menguasai kalut yang menggayuti hati. Teringat jelas selang beberapa menit lamanya, ketika ponsel ia berbunyi dengan nama yang membuat Jong Ki sendiri bingung. Hong Sena, ia menghubungi Jong Ki tadi. Suara gadis itu terdengar begitu ketakutan. Dan yang membuat Jong Ki lebih dari ini adalah ucapan gadis itu. Tentang Hara yang mau mengorbankan dirinya dengan Sena. Ya Tuhan, sebenarnya apa yang dipikirkan gadis itu? Kenapa ia begitu bodoh?

Jong Ki terus saja berlari menuntun langkahnya, mengikuti apa yang receptionist katakan tadi. Yah, untungnya Sena tahu kemana Hara dibawa pergi. Mengingat pria tua memang kerap kali menginap di hotel ini.

Pendaran mata Jong Ki berhenti, tepat pada sebuah kamar hotel. Di sana begitu berantakan, beberapa orang terlihat mengobati seseorang tengah terbalut akan memar dan luka. Dengan langkah cepat Jong Ki menerobos masuk begitu saja. Ia tak peduli akan pria tua yang sudah babak belur. Yang terpenting itu adalah Hara. Hanya dia Tuhan….

Jong Ki menghempaskan beberapa orang menghentikannya mendekat. Ia mencengkram krah baju milik pria tua itu. “Brengsek! Kau kemanakan Hara, huh? Dimana gadis itu? Cepat katakan!”

“Di … dia sudah dibawa pergi. Kumohon, lepaskan aku.” Pria itu merintih menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Jong Ki masih setengah belum percaya. “Kemana?”

“Aku tidak tahu, seorang pria membawanya pergi. Aku berani bersumpah. Aku sama sekali belum menyentuhnya.”

“Kau tidak berbohong ‘kan?” Mata Jong Ki masih menyala.

“Aku tidak bohong.” Jong Ki mengepalkan sebelah tangannya. Ia melepaskan cengkraman itu begitu saja. Ya Tuhan, lalu kemanakah Hara?

Pria itu menghela nafasnya lega, kala Jong Ki melepaskan dan berlalu pergi. Namun, uraian nafas itu hanya terjadi sesaat. Jong Ki berbalik arah lagi, hingga seketika …

BUGH

Jong Ki melayangkan satu pukulan ke rahang pria itu. “Ini karena kau telah berani menggangu Hara!”

Sebenarnya, rasa sakit itu terasa. Saat Jong Ki mengeluarkan tenaganya untuk memukul pria itu. Antara harus gembira dan tidak, ia tak tahu harus bagaimana? Jong Ki lemah dalam mengayunkan langkahnya. Ia melipat kepalanya gundah. Apalagi? Tentu saja karena Hara. Ya Tuhan, entah bagaimana kondisinya saat ini? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah tenang sekarang? Atau dia sedang menangis? Ya Tuhan, tolong lindungi dia….

“Hara-ya, maafkan aku karena terlambat. Di saat aku harusnya ada untuk melindungimu. Aku memang bukan sahabat baik. Aku juga bukan seseorang yang pantas untuk mendapatkan cintamu. Yah, aku memang mempunyai perasaan lain denganmu. Aku mencintamu, Lee Hara. Demi apapun, aku benar-benar mencintaimu. Hingga rasanya aku tidak sanggup untuk tetap hidup, jika tak ada kau dalam duniaku. Kumohon tetap baik-baik saja di sana, Hara. Aku hanya ingin kau terus seperti itu.” Gurat mendung itu begitu kentara di sana. Sebuah perasaan sesal akan sang waktu yang berlalu begitu saja. Tanpa mampu ia hentikan lajunya. Tentang Lee Hara, tentang pria itu. Apa benar seseorang itu lebih banyak mengisi ruang hati Hara? Entahlah, Jong Ki sendiri tak mengerti. Pijakannya seakan goyah kali, terhempas akan lara yang terlalu tajam menerpa.

Oh angin, tolong sampaikan pada Hara. Supaya ia tetap baik-baik saja, karena hanya itulah yang mampu membuat Jong Ki untuk tetap bernafas dengan baik.

*****

Terhatur sayup angin lazuardi nan semilirkan teduh. Meriuh akan lirihan mengeja akan sunyi. Bagai terduduk dalam savana hijau yang luas rasanya, kala kesunyian dan angin menyelimuti. Tentang sejuta aksara yang seolah teredam. Hanya helaan nafas yang terdengar di sana, tanpa berniat beranjak dalam hening itu. Entahlah, sekedar untuk bersuara pun begitu sulit kali ini.

Baik Hara maupun Siwon bingung untuk memulai. Setelah kejadian itu Hara merasa ada yang berbeda dalam dirinya, tentang Siwon. Ya Tuhan, kenapa hanya untuk melihat si empu berlesung pipi itu pun ia bisa segugup ini? Ya Tuhan, apa yang terjadi dengannya?

“Hara-ya?” Tangan Siwon terulur. Menjeramah pada tangan Hara lembut.

Gadis itu mengatupkan matanya sesaat. Tepatnya membenamkan gejolak perasaan yang hadir di sana.

“Huh?”

“Mulai sekarang, ijinkan aku untuk melindungimu, Hara.” Ada kesungguhan di sana. Hara bisa merasakannya. Keduanya kini bahkan sudah berdiri berhadapan.

Gadis itu diam menyapa sejumput resah. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan? Sepertinya pria itu benar-benar akan ucapannya saat ini.

“Aku …”

Entah pada siapa ini mampu terjelaskan. Nyatanya, tangan Siwon bergerak kesana. Merangkum wajah Hara hangat. Sontak saja Hara terkesiap akan sentuhan itu.

“Aku hanya tak ingin apa yang terjadi saat itu, akan datang lagi. Aku tidak mau, Hara.”

Hara membatu. Diam seribu bahasa. Ya Tuhan, apa maksudnya dia …

“Demi apapun, aku tidak bisa melihatmu yang seperti itu, Hara. Rasanya, aku …”

Ucapan Siwon terhenti, seiring dengan jemari Hara yang menutup bibir itu untuk bersuara. “Tidak! Tidak akan pernah terjadi lagi. Lagipula, keadaannya sudah berbeda sekarang. Semuanya mulai membaik.” Hara tersenyum.

Siwon memindah alihkan tangan Hara pada wajahnya. Menciumnya lembut. “Kau tahu? Kalau dilihat lebih jauh lagi, kurasa kisahmu itu sama seperti Cinderella. Berawal dari penderitaan karena kakak dan Ibu tirimu, lalu berakhir dengan bertemu dengan pangeran impian sepertiku.”

“Percaya diri sekali!” Hara mencibir seraya terkekeh seringan awan.

“Itu kenyataan, aku itu seorang Pangeran impian. Siapapun di luar sana, pasti tak akan ada yang memungkirinya.” Kali ini Siwon menurunkan tangannya. Bersandar pada pinggang ramping Hara.

“Meskipun itu aku?”

“Tidak mungkin.”

Hara sejenak mengambil nafas, mengedarkan pandangan ke arah sudut tenang di balkon istana Siwon ini. “Tentu saja tak akan sama. Cinderella itu selalu bermimpi, bisa pergi jauh dari rumahnya. Lalu, bertemu dengan seorang pangeran. Kalau aku, bukan hanya sekedar itu. Aku ingin tetap bersama mereka, meskipun pernah merasa sakit dan perih. Tapi, aku ingin terus dengan mereka. Hingga sang waktu benar-benar datang dan membuat mereka berubah. Tentang pangeran, aku yakin Tuhan pasti sudah menuliskan semuanya, dia yang diciptakan teruntukku.”

Choi Siwon, ia terperanggah. Ditariknya tengkuk Hara lembut, lalu menyatukan kedua bibir mereka secara bersamaan. Meleburkan sejumlah perasaan yang ada.

“Ka … kau kenapa menciumku lagi? Oh, astaga! Ini bahkan sudah dua kali.” Gadis itu mendesah gamang.

“Karena kau cantik. Bukan hanya wajahmu saja, Hara. Tapi, hatimu juga.”

Gadis itu merengut. Kendati, jauh dalam hatinya ia merona akan pelangi. “Tetap saja itu bukan pembenaran!”

“Ahh, Lee Hara. Kurasa aku mencintaimu?”

Hara tersenyum mendengarnya. Lihat, bahkan pria itu sekarang merengkuhnya erat. Ya Tuhan, kurasa aku juga mencintanya. Sangat!

“Apa itu ungkapan cinta, Siwon-ssi?”

“Menurutmu?”

“Aku tidak tahu, Siwon-ssi?”

“Jangan memanggilku seperti itu. Telingaku panas mendengarnya.” Alih-alih Siwon sesekali mencium bahu Hara. Merasai seluruh indera penciumannya akan aroma tubuh itu.

“Lalu apa?”

“Terserahmu.”

“Bagaimana kalau Siwon-ah?”

“Tidak, itu sama saja.”

“Siwon-ie?”

“Tidak. Itu kurang terdengar manis.”

“Choi Siwon?”

“Tidak, oh astaga Hara! Tidak adakah yang lebih baik lagi?”

“Misalnya?”

“Oppa, sepertinya itu lebih terdengar indah.”

“Aku tidak mau.”

“Oh, ayolah!”

“Aku akan memikirnya.”

“Huh? Itu bahkan hanya sebuah panggilan Hara.”

“Tetap saja akan kupikirkan.”

FIN

A/N : Sebenarnya, ini lebih kepada tentang Ulang Tahun sih prince Charming itu. Hanya saja gak ada kaitannya tentang perayaan Birthday sama sekali. Ini hanya sepenggal kisah fiksi saja, dan mungkin hanya segelintir kan menjadi nyata. Well, tidak mungkin malahan. Intinya, Happy Birthday, Oppa. Semoga selalu tampan dan baik. Aamiin ^^

Gomapseumnida @_@

Publised by Allison

Advertisements

2 thoughts on “(TWOSHOOT/SIWON) I’m not Cinderella (part 2-END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s