(TWOSHOOT/SIWON) I’m not Cinderella (part 1)

Tittle : I’m not Cinderella (part 1)

Author : Ginny Weasley

Twitter : @sarahn901

Cast :

– Lee Hara

– Choi Siwon

– Song Jong Ki

Genre : Sad, romance

Rated : PG-17

Lenght : Twoshoot

Disclaimer : The original story pure of mine. All cast belong of themselves. Please! Don’t bash me and copy without permission *-*

Cover by. Nabila Solicha

“Sejatinya cinta itu selalu menemukan jalannya sendiri.”

“Tentang kapan dan kepada siapa datangnya. Tak ada yang tahu, bukan? Tak akan pernah ada.”

Sang embun pagi perlahan menyapa daratan mayapada. Menyelimuti bumi dengan seberkas dinginnya. Meningkahi hiliran angin yang membawa pergi kabut. Sesuarakan serunai nan semilirkan merdu. Dingin itu terasa membasuh relung jiwa-jiwa yang bernyawa di sana. Pada awan, pada alam dan mahluk hidup. Yah benar, sang pagi datang. Pagi itu teduh, mungkin itu benar adanya. Nyanyian alam sungguh terasa begitu nyata kala pagi. Tentang memerdu suara burung pagi dan sang mentari yang berpendar akan biasnya.

Tentang keindahan pagi, maka tak ada habisnya. Sama seperti seorang gadis ini. Meskipun, dunianya tak secerah sang pagi. Namun, ia selalu bersyukur Tuhan memberikannya penglihatan tentang keindahan itu. Bukanlah hal yang asing tepatnya bagi seorang Lee Hara. Di tengah dinginnya pagi, karena mentari belum muncul sempurna. Ia sudah terbit lebih awal. Menapaki setiap jalan itu dengan sesekali mengembuskan udara, menahan dingin.

“Semangat, Lee Hara. Fighting!” Gadis itu tersenyum dengan riangnya. Menatap kotak demi kotak susu dan koran yang memenuhi sepedah mininya. Yah, selalu seperti itu. Tiap harinya Hara menjajaki susu dan koran itu pada pintu-pintu rumah dan gerbang.

Apakah ada setitis saja tangisan atau rasa malu? Jawabannya adalah satu, tidak! Hara bukanlah gadis seperti itu. Ia tegar, kuat, dan mampu menyeimbangi hari dengan senyumannya. Ucapan sang Eommalah yang selalu gadis itu tanam dalam dirinya. Tentang mengawali hari dengan senyuman. Bukankah, itu lebih baik? Di samping terus saja menangis, terejembab dalam lubang sepi dan kehampaan.

Sangat jauh rasanya tentang dunia Lee Hara. Di sini sungguh berbanding terbalik akan hidup seseorang itu. Kemewahan, rasa hormat, dan nama. Bukanlah hal yang luar biasa ia dapatnya. Justru itu adalah keharusan. Tentu saja, belahan dunia mana yang tak mengenalnya? Keluarga besar Choi, siapapun pasti tak asing mendengarnya. Sebuah keluarga dimana perusahaannya menjadi jalur lalu lintas tiap negara. Terbayang sudah betapa mewah hidup orang bernaung di dalamnya. Seperti seorang pria ini,

“Ahjussi sudahlah. Lagipula mentari saja masih belum meninggi. Aku masih mengantuk!” Choi Siwon, pria itu masih mengatupkan kedua matanya rapat. Ia enggan beranjak dari tempat tidur.

“Tapi tuan. Nanti Tuan besar …”

“Katakan saja, setengah jam lagi aku turun!”

“Ba … baiklah, Tuan muda.” Ahjussi Jung akhirnya menyerah. Selalu seperti itu, ia tak mampu membujuk putra pewaris semua kekayaan tuannya ini.

Sesaat setelah Ahjussi Jung pergi. Pun Choi Siwon beranjak dari tempat tidurnya dengan langkah yang bersunggut-sunggut. Jauh dari apa yang terbayangkan, bukan? Tentang apa yang di dapatkan itu tidak menjamin seseorang akan selalu menjadi lebih baik. Tentang kemewahan, kekayaan, semua itu akan luntur seiring dengan roda kehidupan. Namun, kebahagiaan? Tak dapat dibeli, bukan? Ia datang dengan sendirinya, pada jiwa-jiwa yang senantiasa menjalani hidup dengan bersyukur akan apa yang ia punya. Hanya sesederhana itu.

Choi Siwon, ia tetaplah seorang manusia biasa. Ia tak sesempurna itu. Keadaan lah yang patut di salahkan. Kasih sayang itu tak pernah hadir seutuhnya di sana. Hanya hampa dan kesunyian dalam dunianya. Wajar bukan, jika keangkuhan dan sifat seenaknya itu menjadi pribadi yang melekat dalam diri. Karena, pedoman itu nyaris tak ada lagi.

“Dia sudah pergi yah, Ahjussi.” Siwon tampak membelitkan ujung kemejanya sesaat. Tanpa melihat pria yang berdiri di belakangnya.

“Maksud Tuan Muda, Tuan Besar?”

“Yah, tentu saja siapa lagi?” Siwon mengedarkan bola matanya malas. Entahlah, jujur dalam hati yang terdalam. Ia tak bisa menafikan bahwa ia peduli terhadap seseorang itu, hanya saja …

“Hari ini aku tidak ingin sekolah.” Kembali. Siwon masih menunjukan raut wajah yang sama. Datar, nyaris tanpa ekspresi. Seolah mengucapkan sesuatu yang tak berarti apa-apa.

Berbeda dengan pria paruh itu, ia sontak tercenang setengah mati. “Tapi Tuan muda, nanti …”

“Aku tidak enak badan. Aku hanya ingin berjalan-jalan.”

“Kalau begitu saya siapakan mobil, Tuan Muda.”

“Tidak perlu, aku ingin sendiri.”

“Tapi Tuan …” Siwon mengayunkan langkahnya begitu saja. Ia tak peduli akan reaksi pria itu seperti apa saat ini.

*****

Selaksa cahaya mentari mulai meninggi di atas sana. Menandakan bahwa pagi mulai melangkahi sang waktu. Memberikan detik pada pergerakan jarum jam semakin maju. Yah, awal dari kegiatan itu bermulai dari sini. Kala sang mentari mulai beranjak dari singasananya. Lee Hara, gadis itu tersenyum riang. Susu dan korannya sudah tak memenuhi sepedah. Itu berarti ia harus melanjutkan kegiatan lainnya. Yah, sekolah. Gadis ini masih seorang pelajar memang.

Baru saja Hara memasuki sepedahnya ke dalam garasi. Namun, suara teriakan menyentakannya seketika.

“Hara! Cepat masuk, lambat sekali!”

“Nde, Eomma.” Gadis itu menghela nafasnya panjang. Lalu, berlari kecil ke dalam rumahnya.

“Kau ini lama sekali, huh? Lihat, Sena sudah lapar! Cepat siapkan sarapan!” Suara wanita itu menggema di ruangan ini. Dan Hara, gadis itu sudah biasa mendapatkan teriakan demi teriakan itu setiap harinya.

“Nde, Eomma. Aku akan menyiapkannya.” Gadis itu langsung berlalu pergi ke dapur. Seolah tak ingin mendengar segala umpatan itu lagi. Ia tak berdaya untuk melawan mereka, karena Hara sadar sepenuhnya. Mereka tetaplah keluarga yang harus ia hormati, meskipun bukan saudara ataupun ibu kandung. Mendiang Appa telah menitipka Hara pada mereka. Hanya mereka keluarga yang Hara punya di dunia ini.

Pun gadis itu bergelut akan segala perkakas dapur itu. Satu hal lagi kegiatan yang menjadi kewajiban bagi Hara setiap hari, yaitu menyiapkan semua keperluan di rumahnya. Entah itu menyapu, mengepel lantai, memasak, sampai membenarkan kran yang bocor. Semua mampu ia kerjakan. Hanya keyakinanlah yang mampu ia torehkan dalam hatinya, bahwa suatu hari mereka akan berubah. Dan Tuhan, hanya Dia yang membuat Hara semangat. Hara tahu Tuhan selalu bersamanya. Dalam setiap helaan nafasnya.

Tak butuh beberapa menit lamanya. Hingga Hara menyelesaikan masakan itu. Pun ia langsung meletakannya di meja makan. Dimana, sudah ada Eomma dan Eonnienya di sana. “Ini Eomma, Eonnie, sarapan sudah siap.”

“Yasudah, pergi sana! Aku tidak berselera makan kalau kau ada di sini.” Hong Sena, gadis itu berujar dengan ketusnya. Sementara wanita di sebelahnya seolah tak mau peduli, ia justru tersenyum sinis kearah Hara.

Hara mengangguk paham. Berlalu pergi dari ruangan itu. Senyum segaris tercipta di sana, menggantikan perasaannya yang terbiasa meringis akan perih.

“Eomma kenapa? Masih memikirkan masalah itu?” Sena menemukan raut sedih di wajah Eommanya.

Wanita itu mengangguk lemah menjawabnya. “Eomma bingung Sena. Mungkin benar perusahaan si Tua Lee cukup besar, tapi tetap saja hutang itu tak bisa tertutupi.”

“Apa sebegitu peliknya? Kalau perusahaan itu di jual bagaimana?”

“Tetap tidak bisa. Masalahnya itu dia meminta hal lain. Dan, Eomma berat melakukannya.” Tampaklah wanita itu menghela nafasnya. Gamam.

Sena mengeryitkan keningnya tak mengerti. “Huh, maksudnya bagaimana? Memangnya apa itu?”

“Kau….”

“A … aku? Kenapa aku, Eomma?” Sendok yang sedari tadi dipegang Sena sontak terjatuh begitu saja. Seiring dengan terdengarnya ucapan sang Eomma.

“Kau harus tidur dengan si Tua itu, sayang. Dia bilang, ia menginginkanmu.” Ucapan itu, ada penyesalan yang tersirat di sana.

Sena mengeleng-geleng lemah. Derai bening itu telah meluruh kini.“Aku tidak mau, Eomma. Aku tidak mau.”

Wanita paruh baya itu sontak terbangun dari duduknya. Ia merengkuh tubuh putrinya lembut. “Kau tenang, Sayang. Eomma tentu tak akan pernah melakukan itu. Kita cari jalan sama-sama yah.”

“Eomma sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan keperawananku pada dia. Tidak akan pernah, Eomma.” Gadis itu tak kuasa menahan tangisnya. Rasa takut begitu kentara di sana. Bagaimana mungkin, ini terjadi? Ya Tuhan….

“Iyah, Sayang. Iyah… Eomma tak mungkin setega itu. Kau percaya pada Eomma ‘kan?”

Sena secara perlahan menenang. Menatap bias wajah Eommanya yang syarat akan kejujuran nan terbenam. “Aku hanya takut, Eomma….”

“Kau tenang yah.” Eomma memagut tubuh gadis itu dalam lara. Dielusnya tubuh sena lembut. Menenangkan.

Hara berdiri di depan cermin. Menatap bayangannya di sana, lalu menguraikan senyum terbaik. Ia sudah rapih dengan seragam sekolah, rambut itu diikat satu kebelakang dengan poni yang menutup rapih di dahi. Sederhana, bukan? Hara bahkan tak pernah sekalipun berdandan seperti gadis remaja lainnya. Bagaimana mungkin bisa? Sedangkan, hampir seluruh waktunya seakan tersita untuk bekerja dan sekolah. Tak pernah ada waktu bagi Hara melakukan ritual tak terlalu penting itu.

“Ya Tuhan, apa mereka sudah pergi?” Apatah, gadis itu bertanya pada ruang hampa. Hingga akhirnya deruan nafas lega terurai di sana.

“Syukurlah, mereka sudah pergi.”

Lee Hara memang selalu terbiasa pergi sekolah setelah mereka pergi. Eomma dan Eonnie pergi menggunakan mobil peninggal Appanya. Sementara, Hara. Gadis itu hanya mempunyai sepedah. Meskipun, sangat terbilang sederhana sekali. Padahal, kalau diingat lebih jauh lagi. Dulu sekali saat mendiang Appa dan Eomma Hara masih ada, gadis itu tak seperti ini. Ia pasti diantar Appa ke sekolah dengan mobilnya. Namun, sekarang …

“Ah, tidak tidak! Aku tidak boleh mengingatnya. Ingat Hara, ingat. Mereka sudah bahagia di sana. Yah, bahagia….” Hara menyeka setitis bening yang mengantung di pelupuk mata. Lalu, tersenyum kearah langit. Membayangkan Appa dan Eommanya tersenyum di atas sana.

*****

Mungkin benar dunia itu sangat luas. Terdapat banyak ruang di sana. Entah, itu keindahan, kenyamanan, atau kemewahan. Namun, tetap saja. Seseorang itu masih terasa akan sepi. Entahlah, semua nyaris sama bagi Choi Siwon. Kemana pun ia pergi, perasaan bahagia sesungguhnya itu belum pernah terasakan. Ya Tuhan, sebenarnya apa yang salah di sini?

Hingga seketika …

Choi Siwon, ia membanting stir mobilnya seketika. Oh, Astaga! Nyaris saja ia menabrak sesuatu. Bagaimana mungkin, ia melamun tadi?

Siwon keluar dari mobilnya. Menatap seorang gadis yang hampir ditabraknya tadi. Lihat, gadis itu bahkan sempat-sempatnya mengelus seekor kucing di sana.

“Kau gila, hah?”

Gadis itu mengalihkan pandangannya pada si empunya suara itu. Ia beranjak bangun seketika dengan wajah seolah tak mengerti. “Huh?”

“Iyah, kau gila ‘kan?”

“Maaf yah, Tuan Muda yang terhormat. Jaga bicaramu. Aku bukan gadis gila seperti yang kau katakan. Aku hanya menyelamatkan seekor kucing yang hampir saja terbunuh, karena kelalaianmu.”

Siwon terganga pada detik itu juga. “Apa?”

“Kalau menyetir itu jangan melamun. Lihat jalan dengan baik-baik. Lagipula, dunia ini bukan hanya tentang Anda. Tapi, juga tentang orang-orang di sekitar Anda. Semua orang itu punya masalah. Tapi, bukan berarti Anda bisa membahayakan orang lain. Aku tahu ini hanya seekor kucing, tapi dia juga berhak untuk hidup.”

“Ka … Kau …”

“Aku permisi.” Pun gadis itu berlalu pergi dari hadapan Siwon. Membawa kucing itu, lalu berlari kecil pada sebuah sepedah yang tak jauh dari tempat ia berdiri.

“Hey! Aku belum selesai bicara!”

Gadis itu berbalik sekilas. “Sebaiknya kau ke Gereja saja, Tuan. Karena, Tuhan pasti akan mendengar semua kelah kesahmu.”

“Huh?” Choi Siwon, pria itu membatu. Menatap punggung gadis itu yang telah berlalu pergi dengan sepedahnya.

“Aku bahkan hanya berkata sebaris. Tapi, kenapa dia bisa panjang lebar seperti itu? Dan, kenapa ia bisa tahu aku ada masalah?” Seserpih perasaan Siwon seakan berdenyut kali ini. Tentang apa yang gadis itu ucapkan padanya.

*****

Selarik alunan suara angin mendayu merdu terasa. Memulihkan perlahan dari hangat paparan sang mentari dengan embusannya. Merenda alam yang syarat akan keteduhan. Mungkin, hanya pada anginlah yang mampu. Menerbangkan apa yang pernah ada untuk pergi jauh. Yah, angin. Sama halnya dengan gadis ini, kedua matanya terkatup rapat. Merasakan bias angin nan menerpa dinding wajah. Berharap setitis saja perih hati itu bisa pergi terbawa oleh angin.

“Namanya siapa?” Sebuah suara menyentakan gadis itu seketika.

“Eh?” Gadis itu mendelik dengan polosnya.

“Bodoh! Jangan menunjukan raut seperti itu.” Pria itu memindah alihkan kucing kecil putih yang tertidur dalam pangkuan Hara. Ia menaruhnya di atas paha, lalu mengelus lembut.

“Kau mengangetkanku tahu.”

“Siapa suruh tidur di siang bolong. Dan pohon ini, sepertinya ini akan menjadi pohon keramat milik Lee Hara.” Pria itu terlihat masih sibuk mengelus kucing di pahanya. Tanpa mengindahkan air muka Hara saat ini.

“Yak! Jong Ki-ya, kau pikir aku hantu!”

“Aku tidak bilang seperti itu. Kau sendiri yang menunjukannya. Selalu saja menyendiri di bawah pohon belakang sekolah. Itu namanya apa?”

Tanpa diseru pun kepala Hara mengangguk dengan sendirinya. “Kau benar. Aku tidak seperti mereka. Tidak akan pernah, Jong Ki-ya.”

Song Jong Ki, kini pria itu diam. Tepatnya membiarkan Hara larut akan nuansa ini. Gadis itu sepertinya sangat membutuhkan seseorang. Dan Jong Ki, pria itu selalu siap menjadi pendengar bagi Hara.

“Kau kan tahu sendiri, Eonnie tidak ingin ada orang lain yang tahu. Kalau kita sebenarnya saudara tiri. Jadi, yah hanya ini yang bisa kulakukan. Mengasingkan diri dari banyak orang. Aku tidak mau dia terbebani satu sekolah denganku.”

“Bodoh!” Hara tercenang akan reaksi pria itu.

“Kenapa harus menyiksa diri sendiri? Kenapa harus kau yang mengalah Hara? Dari awal kau sekolah di sini, lalu kenapa kau yang mundur?”

Gadis itu tersenyum sabit. “Sederhana saja, karena terkadang mengalah itu jauh lebih baik. Setidaknya, untuk saat ini. Meskipun, kita sering disakiti orang lain, itu bukan berarti kita bisa melakukan hal yang sama Jong Ki-ya.”

“Tapi …”

“Seperti daun kering, ia juga tak pernah marah pada angin yang membawanya pergi ke tempat asing. Lalu, kenapa aku harus marah pada semua yang terjadi saat ini?”

“Tetap saja. Mereka keterlaluan Hara. Mengambil alih semua dunia dan juga kebahagianmu.” Jong Ki mendesah frustasi.

“Kata siapa? Aku bahagia. Hanya saja mungkin kini tak terlihat sebahagia dulu. Yang terpenting itu adalah kau Jong Ki-ya. Kau adalah satu-satunya orang yang tak seperti mereka. Menjauhiku….”

Ada luka di sana, Jong Ki bisa melihatnya. Pria itu paham sahabatnya seperti apa. Ia bahkan terlalu baik. Ya Tuhan, bagaimana mungkin seseorang sebaik dan setulus ia justru mendapatkan cobaan seberat ini?

“Jangan samakan aku dengan mereka. Jelas saja berbeda. Pada akhirnya selalu sama, aku selalu lelah jika berdebat denganmu Hara-ya!”

Gadis itu terkekeh. “Makanya jangan memulai.”

“Ah iya. Kau belum menjawab pertanyaanku. Sebaiknya, nama apa yang bagus untuk kucing kita ini?”

“Kita? Ini punyaku. Aku menemukannya lebih dulu!”

“Mulai sekarang, dia juga punyaku. Lihat, dia bahkan tidur sangat lelap.”

“Itu karena aku yang mentidurinya tadi.”

“Bagaimana kalau Haki. Itu pengabungan dari nama kita, Hara dan Jong Ki.” Jong Ki tersenyum setelahnya.

“Terserahmu saja.” Hara terus saja mengelus kucing kecil itu lembut. Senyuman itu terus saja merentas di sana.

Jong Ki mengangguk-ngangguk seraya tersenyum kecil. Pendaran netranya menatap Hara lekat.

‘Hara, kumohon tetaplah seperti ini. Aku hanya ingin melihatmu begitu. Tersenyum bahagia dalam waktu yang lama.’

*****

Kumparan cahaya jingga mulai merepih di atas sana. Mempupuskan biru menjadi rona senja. Pun hari telah menjelang sore kini. Tampaklah di sana seorang pria yang terus saja menguraikan helaan nafas. Seharian ia berjalan-jalan, namun hatinya masih belum merasa lebih baik. Nyaris masih sama, hampa tanpa ada warna di dalamnya. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang? Sekedar untuk beranjak pulang pun rasanya berat, pasti akan sama, yaitu jenuh berkepanjangan.

Choi Siwon pria itu menatap malas pada rambu lalu lintas yang belum berganti warna. Yah, pria ini tengah menghentikan mobilnya di lampu merah. Hingga seketika tatapan Siwon terhenti, pada sesosok yang berlalu di depan mobil.

“Bukankah gadis itu?” Choi Siwon mengeryitkan keningnya. Gadis itu bahkan tak menyadari sama sekali ada tatapan Siwon di sana. Matanya terus saja melihat dua Bouquet bunga yang ia bawa.

“Dia mau kemana? Ah, kenapa juga aku harus ingin tahu!” Siwon mengelengkan kepalanya. Lalu, menjalankan mobilnya kembali ketika lampu lalu lintas itu telah berganti warna.

Siwon memainkan jemarinya di stir mobil. “Huh, kenapa aku kepikiran seperti ini? Oh, baiklah. Aku akan menyerah.”

Ditepikannya mobil di ujung jalan itu. Siwon turun dari mobilnya, netra itu terus saja berputar. Mencari gadis yang entah kenapa membuatnya penasaran seperti ini. Hingga akhirnya …

“Cah, itu dia!” Siwon tersenyum. Seiring dengan terlihatnya sosok gadis itu yang sekitar beberapa hasta saja dari tempat ia berdiri.

Gadis itu memasuki kawasan yang bernuansakan pelatar hijau. Dengan nisan-nisan yang berderet rapih pada rumput hijau datar. Siwon terhenyak seketika, taatkala menangkap papan nama sebelum pintu masuk itu.

“Pemakaman St. Neunvile. Dia …” Langkah Siwon terhenti jauh. Gadis itu terduduk di sana, pada dua deret batu nisan. Pria itu termangu menyapa hening melihatnya.

“Appa, Eomma bagaimana kabar kalian di sana? Kurasa Tuhan pasti menjaga kalian dengan baik, yah? Eomma, Appa, aku boleh ‘kan berkata jujur di hadapan kalian? Soalnya, selain Tuhan. Aku tidak berani menunjukan sisi lemah ini. Sebenarnya, aku tidak baik-baik saja di sini. Aku bohong tentang semuanya. Aku sakit, Eomma. Aku juga perih, Appa. Dunia ini terlalu berat untuk gadis sepertiku ternyata. Aku rindu kalian, ingin sekali bertemu dalam kehidupan nyata. Setidaknya, aku pasti akan jauh lebih tegar. Appa, Eomma, meskipun kalian jauh di atas sana. Namun, kalian akan tetap tersimpan di hatiku. Menjadi sandaran saat aku tak mampu lagi bertahan, kendati tak bisa kurengkuh secara nyata. Aku akan tetap menyayangi kalian, sampai suatu hari Tuhan mempertemukan kita kembali. Kumohon Appa, Eomma, bantu aku supaya tetap kuat.”

Sayup sekali suara itu terdengar. Jujur, relung hati Siwon terenyuh mendengarnya. Terlihat gadis itu di sana mengusap nisan itu bergantian dengan tubuh yang setengah bergetar. Sepertinya ia tengah menangis.

“Haah, aku harus pergi sekarang.” Pun gadis itu mencium kedua nisan itu lembut. Ditaruhnya dua bouquet mawar putih itu di setiap nisan. Ia bangkit dari duduk, lalu menguraikan senyuman ke arah nisan itu.

“Aku pasti akan kemari lagi.” Detik selanjutnya Siwon melihat gadis itu berbalik arah. Serta merta Siwon langsung mengambil langkah untuk bersembunyi.

“Semoga tidak ketahuan. Huuh, entah apa katanya kalau tahu aku mengikuti dia.” Siwon bersembunyi di balik salah satu pohon. Hingga akhirnya ia harus menderaikan nafas lega, kala gadis itu telah berlalu pergi tanpa mengetahui keberadaan Siwon saat ini.

Pun Siwon mulai melangkah lagi, entah kenapa rasa penasaran itu begitu menggayuti benaknya. Akan sosok gadis itu. Sebenarnya, apa terpikirkan dalam otak pria ini? Kenapa ia begitu ingin tahu? Entahlah, hanya saja ucapan gadis itu tadi pagi. Seolah membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang gadis ini. Ucapan itu, bahkan Siwon ingat benar akan rentetan kalimatnya. Tentang ia yang harus menghargai sekitarnya. Bukankah, itu sama persis dengan apa yang Siwon rasakan?

“Panti Asuhan?” Lagi? Siwon tercenang dibuatnya. Gadis itu memasuki lebih jauh rumah nan sederhana itu. Terlihat beberapa anak mendatanginya lalu tersenyum riang.

“Ya Tuhan, sebenarnya ada apa ini? Apa dia malaikat yang menyerupai manusia?” Pria itu terdiam cukup lamanya. Menerka-nerka akan sosok apa yang diikutinya saat ini. Dari mengorbankan diri hanya untuk menolong seekor kucing, ke kuburan orang tuanya, hingga ke panti asuhan. Apa benar dia manusia?

Choi Siwon, pria itu mulai mengayunkan langkahnya jauh. Hingga seketika …

Kret~

Pria itu tak sengaja menginjak ranting pohon. Sontak saja Siwon membalikan badan, takut-takut gadis itu menyadari akan kehadirannya. Namun, terlambat. Sebuah suara justru menyapa indera pendengaran.

“Kau?” Gadis itu berdiri di hadapan Siwon. Menatap pria itu tak mengerti.

“A … Aku …”

“Kau juga sering ke sini?” Sepertinya gadis itu mengingat Siwon. Lihat, ia bahkan tersenyum bersahabat kali ini.

Siwon mengangguk perlahan, lalu detik ia selanjutnya menggeleng.

“Maksudmu bagaimana? Aku tidak mengerti?”

“Hara! Kau datang?”

“Nde, Imo. Cah, tunggu sebentar. Kalau kau mau berkenalan dengan mereka silahkan saja. Anak-anak temanin paman yang satu ini dulu, yah!” Pekik gadis itu pada beberapa anak yang tengah bermain di sana.

“Paman? Apa aku terlihat setua itu? Jadi namanya Hara.” Siwon menganguk ringan, seraya menatap gadis itu yang kini telah berlalu pergi meninggalkanya. Ia mendatangi seorang wanita pria paruh di sana.

*****

“Apa kau sering kesini?” Hara yang tengah memperhatikan beberapa anak bermain di depannya. Pun seketika menatap seorang yang bersuara di sebelahnya. Yah, keduanya kini sedang duduk pada sebuah bangku di sisi taman bermain anak.

Hara mengangguk. Lalu, mengedarkan pandangannya lagi pada anak-anak yang bermain itu. “Bisa dibilang seperti itu.”

“Kenapa?”

“Eh? Maksudmu?” Hara mengeryitkan keningnya tak mengerti.

“Maksudku, apa kau tidak ada kerjaan lain?”

“Jika maksudmu adalah aku hanya menyia-nyiakan waktu, itu adalah salah besar. Aku justru senang melakukan ini, melihat mereka tertawa riang, bermain dan bercanda riang. Rasanya itu sungguh menyenangkan bisa berbagi kebahagian dengan mereka.”

Siwon membatu. Rasanya lidah itu terlalu kelu untuk hanya sekedar menyuara. Dan itu, hanya karena ucapan sederhana Hara.

“Dan kau harus tahu, aku juga sama seperti mereka. Orang tuaku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Jadi, apa salahnya aku menyenggangkan waktu untuk mereka. Aku yang baru kehilangan kedua orang tua saja rasanya sakit. Apalagi mereka yang sejak lahir dan tidak menutup kemungkinan, bahwa mereka juga tak pernah tahu orang tuanya siapa. Setidaknya, aku jauh lebih beruntung.” Hara menghela nafasnya getir.

“Hara, aku …”

Hara tersenyum kearah Siwon kini. Pernik mata itu begitu menyiratkan betapa ia membenamkan perih di sana. “Aku tidak apa-apa.”

“Ah, iyah. Aku Choi Siwon.” Tangan Siwon terulur ke arah gadis itu.

Hara menyambut uluran tangan Siwon. “Aku Lee Hara.”

“Aku tahu.”

“Eh?”

“Tadi aku tak sengaja mendengar namamu saat di panggil seorang wanita.”

“Oh, begitu. Dia adalah Ibu Panti di sini, aku sudah menganggapnya seperti Eomma kandungku sendiri.”

Siwon hanya mengangguk membalasnya. Keduanya kini larut akan hening. Dengan pendaran mata yang mengarah ke titik yang sama. Yah, pada segerombolan anak yang tengah bermain itu tentunya.

“Oh Astaga! Aku melupakan sesuatu!” Hara menepuk keningnya sesaat. Meruntuki dirinya yang terkadang lupa akan sang waktu.

“Ada apa?”

“Aku harus pulang sekarang.”

“Tapi …”

“Senang bertemu denganmu, Choi Siwon-ssi.” Gadis itu berlalu kecil. Ia pergi ke tempat anak-anak itu bermain.

“Aku harus pergi yah semuanya. Nanti aku kemari lagi, salamkan pada Imo yah.”

“Nde, Eonnie!”

“Nde, Nuna!”

Mereka berucap dengan serempaknya. Hara sesekali mengusap puncak kepala anak-anak itu lembut.

“Sampai jumpa lagi!” Tangan Hara melambai ke pada mereka seraya menyunggingkan senyuman. Baru saja Hara hendak berjalan menjauh, namun sebuah tangan menghentikannya.

Hara terkesiap, menatap si pemilik tangan dengan raut polosnya. “Ada apa Choi Siwonk-ssi?”

“Aku akan mengantarkanmu pulang.”

“Tapi, aku bawa sepedah, Choi Siwon-ssi. Terima kasih sebelumnya, hanya saja …”

“Apa aku berniat mendengar jawabanmu? Cah, ayo!”

“Ta … tapi, aku …”

“Bukankah, kau ingin cepat? Aku hanya memberimu jalan. Itu saja.”

Kali ini Hara tak bisa dan tak mampu untuk menolaknya lagi. Siwon bahkan begitu erat memegang tangannya. Hingga akhirnya, ia harus menghela nafas pasrah, kala Siwon membuka mobil dan meruntun untuk masuk. Huh, pria ini….

Siwon menghentikan laju mobilnya pada detik ini. Sebenarnya, ia sedikit bingung. Kenapa Hara melarang untuk mengantar hingga depan rumahnya?

Hara kini telah berdiri di samping mobil Siwon dengan sepedah yang dituntunnya. Gadis itu tersenyum padanya. “Terima kasih, Choi Siwon-ssi.”

“Kau yakin hanya sampai sini?”

Hara mengangguk ringan. “Tidak apa-apa, sungguh. Lagipula, hanya selisih beberapa rumah saja. Kau hati-hati.”

“Seharusnya, aku yang bilang seperti itu. Kalau memang hanya berbeda sedikit. Kenapa tidak sekalian saja?”

Hara mengingit bibir bawahnya . Ia bingung harus menjawabnya seperti apa. Hingga seketika …

“Sampai jumpa lagi.” Hara buru-buru menaiki sepedahnya. Berlalu pergi dengan menyisakan sejuta pertanyaan dalam benak Siwon.

“Tck! Gadis aneh.” Siwon memindai lama tubuh Hara yang sudah jauh dari jarak pandangnya. Terlihat ia memasuki sebuah rumah di sana.

Selintas ide muncul di sini. Choi Siwon, pria itu merogoh kantungnya. Mencapai ponsel yang ditaruhnya di sana. “Ahjusi Jung, tolong cari tahu seorang gadis yang bernama Lee Hara. Ia tinggal di sebuah perumahan di daera Daegu.”

TBC

Publised by Allison

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s