[Donghae] || SERIES Love by Accident (Part 14)

Title : Love by Accident

Author : Zatha Amanila

Casts : Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau, Yoon Hara

Genre : Romance

Rating : General

Length : Chaptered

 

~~~~~

 

Sejak kapan kau merasa terbebani olehku? Beban apa yang kuberikan padamu? Aku tak dapat berkata apapun lagi. Aku tak bisa bertanya apapun. Maaf, itu adalah kebodohan yang kuperbuat. Saat aku melihatmu berpaling, waktu seakan terhenti. Aku tak sadar selama ini kau adalah bagian dari hidupku. Jika saja aku dapat memutar kembali waktu yang terlewat. Bagaimana orang sepertiku mengatakannya? Mengungkapkan jika aku tak bisa bernafas saat aku melihatmu berpaling. (Super Junior – She’s Gone)

 

DONGHAE’S POV

”Oppa, kau mau es krim?” tanya Hara saat kami berjalan-jalan di Namsang Park. Keadaan di sini cukup sepi, jadi aku hanya memakai topi untuk menutupi sedikit wajahku. Ada sedikit perasaan cemas kalau-kalau wartawan datang dan memergoki kami berdua lagi.

”Boleh,” jawabku ringan.

”Kalau begitu, tunggulah di sini. Aku akan membelikan es krim untuk kita berdua.”

”Ne.”

Hara pun berlari menghampiri sebuah kedai es krim yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku memandangi punggungnya yang menjauh. Yoon Hara. Kasihan sekali gadis itu. dia tidak tahu apa-apa tapi harus menanggung akibatnya.

Pandanganku beredar ke sekeliling taman.

Deg!

Jantungku serasa ingin keluar dari tempatnya saat kudapati seorang gadis yang tiba-tiba menghilang dan membuatku cemas setengah mati itu sedang berdiri tak jauh dari posisiku. Dia tidak sendiri, ada seorang namja di sana. Hatiku panas. Kesepuluh jari-jariku mengepal kuat.

Henry-ah, jangan sentuh istriku!

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

Namja itu berjalan cepat ke arah dua orang yang tengah berpelukan itu. Emosinya memuncak. Hal itu terlihat jelas di rahangnya yang menguat. Dalam waktu yang singkat, namja itu menarik pundak namja yang tengah memeluk yeoja tersebut.

BUGH!

”Aaaaahh!!! Apa yang kaulakukan, Lee Donghae? Hentikan!”

BUGH! BUGH!

Donghae terus memukul wajah dan tubuh Henry hingga namja itu jatuh tersungkur dengan darah di hidung serta mulutnya.

”Berani-beraninya kau memeluk Chaerin! Kau tidak ingat, dia itu istriku! ISTRIKU!!!”

BUGH!

”Hentikan!” Chaerin berteriak histeris. Namun Donghae tidak mempedulikan teriakan Chaerin. emosinya semakin menjadi-jadi. Henry hanya bisa pasrah menerima perlakuan hyung-nya itu. Dia tidak berusaha menangkis pukulan Donghae sedikitpun.

”Aku mohon hentikan, Lee Donghae!!!”

BUGH!

”Gara-gara kau, Chaerin ingin menceraikanku!” Donghae menarik kerah jaket yang dipakai Henry. ”Dia ingin kami bercerai! Kau tahu bagaimana rasanya? Sakit! Aku tidak ingin bercerai darinya. Aku mencintainya, Henry-ah. AKU MENCINTAI HAN CHAERIN!!!”

BUGH!

”HENTIKAN, LEE DONGHAE!!! KAU SUDAH GILA!!!” Chaerin kembali berteriak. Airmatanya sudah membasahi kedua pipi mulusnya dengan sukses.

Donghae baru akan memukul Henry kembali sebelum akhirnya, tangan kanannya melayang di udara begitu dia mendengar teriakan Chaerin. Napas Donghae memburu dan tidak teratur. Ditatapnya Henry yang sudah tak berdaya dengan darah yang menghiasi di wajahnya.

Donghae berdiri dan langsung menarik tangan Chaerin kencang.

”Lepaskan aku, Lee Donghae!”

Donghae tak mempedulikan teriakan dan berontakan Chaerin. Dia terus menarik gadis itu menjauh dengan sangarnya.

Sementara itu, Henry mencoba untuk berdiri di sisa tenaganya. Dia menyentuh darah yang ada di sudut bibirnya lalu meringis.

”Omo! Kau kenapa?” tiba-tiba seorang yeoja dengan dua cup es krimnya mendatangi Henry. ”Lukamu parah sekali. Apa perlu kubantu kau ke rumah sakit?”

Henry menatap yeoja itu.

”Kau… Yoon Hara?”

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

DONGHAE BENAR-BENAR GILA! Aku tahu otaknya sudah tidak waras lagi! Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Ini keterlaluan! Dia memungkul Henry sampai babak belur dan sekarang tiba-tiba dia menarik tanganku dengan kasar. Ya Tuhan, aku sungguh tidak mengerti jalan pikirannya.

”Lepaskan aku, Lee Donghae! Kau menyakitiku!”

Dia tiba-tiba berhenti. Pegangan tangannya terasa mengendur. Tanpa babibu lagi, aku segera menarik tanganku. Astaga! Ini sangat menyakitkan.

”Kau… sebenarnya apa maumu? Kau memukul Henry, memukul dongsaengmu sendiri. Apa kau senang menyakiti orang lain, hah?” aku menatap manik matanya. Dia juga menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

”Mianhae,”

”Aku tidak butuh maafmu!”

Dia nampak terkejut.

”Kau keterlaluan, Lee Donghae. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.”

”Chaerin-ah…”

Aku membuang muka dan setengah menengadah ke langit untuk menahan air mataku yang akan jatuh lagi. Aku tidak ingin membuang-buang air mataku untuk namja gila ini.

Astaga, dadaku sesak sekali.

”Aku hanya tidak suka dia menyentuhmu.”

Apa dia bilang? Tidak suka Henry menyentuhku? Ck, benar-benar membuatku muak!

”Apa aku salah kalau aku tidak suka melihat tubuh istriku dipeluk oleh namja lain? Kita sudah menikah dan kau adalah istriku yang sah.” dia berkata lagi dengan nada parau.

Aku membisu. Tidak ada yang bisa kusangkal dari ucapannya. Dia benar, sampai detik ini aku masih istrinya yang sah.

”Aku cemburu, Chaerin-ah…” ucapnya. ”Karena itu aku memukul Henry. Bukankah itu wajar?”

Aku tidak bisa berkata apapun lagi sekarang. Dia cemburu, dia mencintaiku, dia membutuhkanku, sudah cukup itu semua! Aku tidak ingin mendengarnya lagi.

“Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya. Tidak ada alasan lagi untuk menolak. Keputusanku sudah bulat.”

”Aku tidak mau bercerai!”

”Ini harus, Lee Donghae!”

Dia menatapku semakin tajam. Bisa kulihat rahangnya menguat dan air matanya jatuh, namun buru-buru di cekanya.

”Kau betul-betul menyiksaku.”

”Kau yang menyiksaku!” tiba-tiba saja aku teringat seseorang yang menelepon Donghae waktu itu. Yeoja yang mengaku sebagai yeoja chingu Donghae itu sudah membuatku seperti ini. Dia membuatku semakin yakin untuk bercerai.

Kau sudah membohongiku, Lee Donghae.

”Baiklah,” dia bersuara lagi. ”Lakukan apa yang kau inginkan, nona Han Chaerin.”

Deg! Tubuhku membatu seketika. Donghae menerima keputusanku. Ya, seharusnya ini berita yang bagus. Tapi kenapa hatiku justru menganggap ini berita buruk? Aku akan berpisah dengan Donghae. Tidak akan ada lagi namja yang menyebalkan di dekatku.

Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku? Kenapa hatiku terasa nyeri?

Donghae berbalik dan berjalan meninggalkanku. Kutatap punggungnya yang nampak sedih. Satu tetes air mataku kembali jatuh. Kutekan kuat-kuat dadaku yang begitu sesak menatap punggungnya.

 

>>>>>

 

HENRY’S POV

”Anda sudah boleh pulang. Jangan lupa minum obat dan istirahat yang cukup.” ucap seorang dokter yang baru saja mengobatiku.

”Ne. Gomapseumnida.”

Dokter itu pun keluar dari bilik rawatku. Kusentuh pelan sudut bibir dan pipiku yang agak bengkak karena pukulan Donghae hyung tadi. Donghae hyung begitu marah. Tentu saja. Itu karena aku memeluk istrinya. Tapi aku bisa memahami kemarahannya. Sekarang nyerinya sudah berkurang. Tapi aku mungkin akan sering makan bubur sampai luka ini sembuh.

”Dokter sudah membolehkanmu pulang?” aku mendongakkan kepala. Yeoja itu masih di sini rupanya.

”Sudah.” jawabku singkat.

”Apa mau kuantar pulang?”

Aku memandangnya heran. Kenapa dia justru mengkhawatirkan aku? Bukankah dia tidak mengenalku? Kami bahkan baru bertemu tadi.

”Tidak perlu. Terima kasih atas tawaranmu.”

Aku segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan melalui Hara.

”Hya!” kudengar dia berteriak. ”Kau yakin tidak mau kuantar pulang?”

Aku hanya menghentikan langkahku tanpa menoleh padanya. ”Aku yakin.”

”Oh, geurae? Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan!”

Kepalaku bergerak ke kanan sedikit. Aku bisa mendengarnya sedang menggerutu.

”Aiiissshh kemana Donghae oppa? Kenapa dia hilang begitu saja? Menyebalkan!”

Donghae hyung. Gadis itu pasti bersamanya sebelum memukulku tiba-tiba. Kusadari sesuatu, posisiku mungkin sama dengan posisi Yoon Hara. Sama-sama menjadi pihak ketiga dalam rumah tangga Donghae hyung dan Chaerin.

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

Petir tiba-tiba menggelegar, seperti akan membelah angkasa. Awan hitam mulai bermunculan dan menutup bintang-bintang yang bertebaran di langit. Aku bisa mencium hujan yang mungkin akan turun sebentar lagi.

Kakiku terus menuntun tubuhku untuk melangkah tanpa tujuan. Pandanganku nanar. Tiba-tiba mataku menangkap Donghae bersama seorang yeoja di depan pagar. Oh, aku tahu ini pagar rumahku. Jadi aku sudah sampai rumah?

”Chaerin-ah, kau tidak benar-benar ingin bercerai dariku kan?”

Aku mendengar suara Donghae yang sedikit serak.

”Aku serius.”

”Kenapa? Apa karena Henry?”

”Aku tidak mencintaimu, Lee Donghae. Sejak dulu aku tidak menyukaimu. Aku merasa perasaan itu memuncak sekarang, untuk itu aku ingin kita bercerai.”

”Ani. Itu bukan alasanmu yang sebenarnya.”

”Itu alasan yang sebenarnya!”

”Kau mencintai Henry! Itu alasanmu.”

”Kita harus bercerai.”

”Aku tidak mau!”

”Jangan egois, Lee Donghae!”

”Aku mencintaimu, Han Chaerin!”

Aaaahhh… kepalaku tiba-tiba berdenyut hebat. Sosok donghae dan yeoja yang tak lain adalah aku itu memudar. Kutekan kepalaku agar rasa sakitnya berkurang. Tapi sia-sia. Sekarang seluruh tubuhku sakit. Hatiku, bahkan jiwaku pun terasa remuk.

Aku terduduk di depan pagar. Air mataku mengalir deras.

”Aku benci padamu, Lee Donghae…”

Kurasakan satu tetes air mengetuk kepalaku. Tak lama kemudian, tetesan itu berubah menjadi brutal dan membasahi rambutku. Hujan turun menemani kesedihanku karena seorang namja yang sudah membuat hidupku berubah.

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

Suara musik keras memenuhi ruangan itu. Kerlip lampu yang berwarna-warni menghiasi ruangan dengan banyak orang di dalamnya. Semuanya sedang menikmati alunan musik yang diatur oleh seorang DJ. Namun tidak bagi namja itu. Dia terduduk didepan meja bar dengan satu botol vodka yang sudah habis setengahnya. Matanya sayu. Sesekali ia meletakkan kepalanya di meja bar.

”Donghae-ya, hentikan minumnya. Kau sudah mabuk berat.” ucap seorang bartender pria yang sejak tadi memperhatikan Donghae.

”Tsk, bisakah kau tidak cerewet, Hyung? tenang saja, aku tidak akan membuat kerusuhan di sini.” jawab Donghae dengan wajah telernya. Dia kembali menuangkan vodkanya ke dalam sebuah gelas kecil, lalu meminumnya sampai habis.

”Aku tahu kau tidak akan membuat kerusuhan, tapi aku tidak mau kau tertidur di sini karena mabuk berat. Itu bisa menyusahkanku, Donghae-ya.”

”Kau lupa, Hyung?” Donghae mengeluarkan ponsel di dalam saku mantelnya dan menunjukkannya pada bartender tersebut. ”Aku bisa menelepon Leeteuk hyung atau Eunhyuk untuk menjemputku di sini. Tidak ada yang sulit bagiku, Hyung.” tambahnya.

Donghae kembali menuangkan vodkanya. Sementara itu, sang bartender menggelengkan kepalanya prihatin.

”Kau sungguh kasihan, Donghae-ya.” ucapnya.

Kepala Donghae tergeletak di atas meja. Setetes air matanya keluar dari sudut dan menggenangi meja bar.

”Chaerin-ah… Aku mencintaimu… sangat mencintaimu…”

Bartender itu mendengar suara Donghae yang lirih. Sebuah ide muncul di benaknya. Dia mengambil ponsel Donghae dari genggaman namja itu, lalu mulai mencari nama Chaerin dalam buku teleponnya.

”Ah, lebih baik bukan dia yang kutelepon. Lee Donghae ini pasti sedang ada masalah dengannya. Biar kutelepon orang lain saja.”

Bartender itu kembali mencari nomor telepon orang yang sering menghubungi Donghae di daftar panggilan masuk. Namun tiba-tiba, ponsel itu berbunyi. Incoming call, Yoon Hara.

”Yoboseyo?”

”Oppa! Kau kemana saja? Aiiiissshh kenapa di situ berisik sekali?”

”Joesonghamnida, apa kau teman Donghae?”

”Ne? Jadi ini bukan Donghae oppa? Lalu kau siapa?”

”Namaku Oh Joon Gu.” ujar bartender itu. Matanya melirik Donghae sekilas. ”Bisakah kau datang ke bar ku sekarang? Donghae sedang mabuk berat.”

 

>>>>>

 

Gadis berrambut panjang warna cokelat itu menutup pintu mobilnya dengan keras. Dia segera melangkahkan kakinya cepat memasuki sebuah bar mewah. Kepalanya berputar mencari-cari sosok yang sudah sangat terpatri di otaknya begitu ia masuk. Donghae.

”Oppa!” teriaknya saat ia menangkap sosok yang ia cari tengah meletakkan kepalanya di atas meja bar.

”Kau nona Yoon Hara?” tanya Joon Gu yang sedikit kaget melihat kedatangan Hara yang begitu cepat.

”Benar, aku Yoon Hara. Sejak kapan dia mabuk seperti ini?”

”Satu jam yang lalu. Dia sudah menghabiskan vodka hampir satu botol.”

Hara menatap botol vodka yang ada di sebelah Donghae. Botol itu isinya tinggal seperempat lagi. Hara menghela napas berat.

”Oppa, bangunlah. Ayo kita pulang.” seru Hara di telinga Donghae. Namun namja itu tidak menggubris sedikitpun suara Hara. Ia hanya menggeliat pelan.

”Bawalah dia pulang. Aku sangat tidak enak pada Bosku karena kehadiran dia di sini.”

Hara mengangguk-angguk. ”Joha, akan kubawa dia pulang. Terima kasih sudah memberitahuku.”

Hara pun menggangkat tangan kanan Donghae ke atas bahunya. Ia sedikit meringis karena Donghae sedikit sulit diajak berjalan. Tak lama kemudian, Hara berhasil membawa Donghae keluar bar.

”Aiiissshh oppa! Kenapa kau mabuk seperti ini? Kau kan tidak kuat minum. Apalagi vodka.” gerutu Hara.

Gadis itu terus membawa Donghae mendekati mobil Hyundai putih miliknya di tempat parkir. Satu tetes keringat mengalir dari dahinya yang putih.

”Chaerin-ah…” Donghae mengingau. Hara mendongakkan kepalanya, kaget.

”Hya! Kenapa kau memanggil nama dongsaengmu itu, oppa? Aiiissshh…”

”Chaerin-ah… mianhae…”

Hara mencoba tak mempedulikan igauan Donghae. Ia menganggap namja itu hanya mengigau tak jelas karena mabuk berat. Namun tiba-tiba, beberapa orang yang membawa mic dan kamera berhampburan mendekati Donghae dan Hara.

”Donghae-ssi, apa ini istrimu?”

”Tolong kau ceritakan tentang wanita di sampingmu ini. Benarkah dia istrimu?”

”Bagaimana kisah kalian sebenarnya?”

”Apakah kalian menikah karena cinta? Dan bagaimana caranya kalian bertemu?”

”Donghae-ssi, bisakah kau jelaskan semuanya?”

Hara memandang kumpulan wartawan itu dengan pandangan heran. Sesekali ia menyipitkan matanya karena flash kamera. Donghae menaikkan wajahnya. Lampu yang berasal dari kamera wartawan itu menyorot wajahnya dengan sangat jelas.

”Donghae-ssi, benarkah wanita disampingmu ini adalah istrimu? Sejak kapan kalian menikah? Tolong jelaskan pada kami.”

”Joesonghamnida, aku tidak mengerti dengan pertanyaan kalian. Donghae juga sedang tidak sehat. Biarkan kami keluar dari sini.”

”Benar.” tiba-tiba Donghae bersuara. Matanya masih sayu. Seringaiannya keluar begitu saja. ”Dia ini istriku, Lee Chaerin.”

Hara terpekik. Dia tidak bisa berkata apapun lagi karena syok. ”Op… pa…”

”Aku dan Chaerin sudah menikah lima bulan yang lalu. Tapi dia tidak mencintaiku… bahkan dia ingin menceraikanku… kalian tahu? Aku sangat sedih dengan keputusannya itu. Hatiku benar-benar sakit. Bisakah kalian memberitahunya untuk tidak menceraikanku?”

Hara memandang Donghae tak percaya. Suara para wartawan itu memburu dan membuat kepala Hara berdenyut.

”Joesonghamnida, biarkan kami lewat. Donghae sedang mabuk, ucapannya tadi hanya igauannya yang tidak jelas. Permisi.”

Hara kembali membawa Donghae yang tertidur lagi ke dalam mobilnya. Dengan susah payah, gadis itu memasukkan tubuh Donghae ke dalam mobil dalam keadaan terburu-buru. Para wartawan itu terus meneriaki nama Donghae hingga mobil yang dikendarai Hara melaju dengan kecepatan tinggi.

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

”Mwo? Kau ingin bercerai dari Donghae?”

Aku mengangguk lemah di atas ranjangku. Aku baru saja mengutarakan keinginanku untuk menceraikan Donghae pada Eomma. Dia terlihat kaget.

”Kenapa? Apa ada yang terjadi antara kau dan Donghae?”

Kutelan ludahku. ”Banyak, Eomma. Sampai-sampai, aku tidak mau menceritakan semuanya padamu. Aku akan segera ke pengadilan untuk mengurus surat cerainya begitu Eomma setuju.”

Kudengar desah napas Eomma yang begitu berat. Aku tahu dia sangat menyayangkan ini semua. Mengingat dulu dialah yang paling bersemangat menjodohkanku dengan Donghae.

”Kau yakin?” tanya Eomma.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Eomma mendesah lagi.

”Tidak bisakah kau menyelesaikan masalahmu baik-baik? Eomma rasa, itu semua karena kau masih sangat muda. Seiring berjalannya waktu, kau akan ter-”

”Tidak, Eomma.” potongku. ”Itu bukan karena aku belum dewasa. Aku sudah cukup mengerti untuk membedakan mana kebahagiaan dan penderitaan. Lagipula, aku ingin mewujudkan cita-citaku sebagai sutradara dan bisa membuat Eomma serta Appa bangga.”

Eomma menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Satu tangannya terangkat mengelus pipiku.

”Eomma tidak tahu kalau kau menderita setelah menikah dengan Donghae. Maafkan Eomma.”

Aku menggapai tangannya yang mengelus pipiku lalu tersenyum padanya. ”Gwaenchana, Eomma. Semua itu bukan salahmu.”

Dia ikut tersenyum sambil menghapus air matanya yang entah sejak kapan menetes. ”Baiklah, kalau itu yang kau mau. Eomma setuju.”

Tiba-tiba aku merasa sesuatu menendang-nendang perutku, membuat aku mual dan ingin muntah.

Hoek!

”Chaerin-ah, kau kenapa?”

Kubekap mulutku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera turun dari ranjang. Tujuan utamaku adalah kamar mandi.

Hoek!

Aneh! Tidak ada yang keluar dari mulutku. Hanya air ludah yang sedikit kental. Kunyalakan kran wastafel di kamar mandi. Ah, rasanya mual sekali.

Hoek!!

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

Bruk!

Gadis itu menurunkan seorang namja di atas tempat tidurnya yang luas. Ia pun mengatur napasnya yang tidak teratur karena menuntun namja itu. Sesaat kemudian, dia terduduk di pinggir ranjangnya, memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di bar itu.

”Ah!”

Hara menyentuh kepalanya yang berdenyut.

”Kenapa sakit sekali? Ah!!”

Hara segera keluar dari kamarnya menuju dapur. Di ambilnya segelas air mineral, lalu diteguknya sampai habis. Dia terduduk di kursi makan.

”Apa yang terjadi sebenarnya? istri apa? Donghae oppa membohongiku? Tapi sejak kapan dia menikah dengan orang lain? Ya Tuhan…”

Gadis itu menangis sambil menahan nyeri di kepalanya. Tiba-tiba ponsel Donghae di dalam kamar berbunyi nyaring. Hara terkesiap dan langsung meraih ponsel itu sesaat setelah ia tiba di kamarnya. Donghae tertidur pulas.

”Yoboseyo?”

”Eh? Kau…”

”Aku Yoon Hara. Kau Leeteuk Super Junior kan?”

”Ah, benar. Aku Leeteuk Super Junior. Ngomong-ngomong, kemana Donghae? Dia bersamamu?”

Hara melirik Donghae sekilas. ”Dia ada di kamarku sekarang. Mabuk berat.”

”Geurae? Pasti dia merepotkanmu. Biar aku menjemputnya. Kau bisa memberikan alamat rumahmu?”

 

>>>>>

 

Leeteuk menekan bel rumah Hara. Tak lama kemudian, gadis itu menyumbul dari pintu dengan senyum yang nampak dipaksakan.

”Masuklah, oppa.”

”Ne.”

Leeteuk segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu rumah Hara yang bergaya minimalis modern. Sofa panjang dan nampak empuk itu berwarna merah marun dengan aksen hitam. Mewah, pikir Leeteuk.

”Donghae ada di kamarku. Dia sedang tidur pulas.” ucap Hara memecah keheningan.

”Kamarmu ada di-”

”Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” potong Hara dengan nada serius. Leeteuk memandangnya bingung. ”Siapa sebenarnya Lee Chaerin itu?”

Tanpa menunggu jawaban Leeteuk, Hara langsung menyodorinya dengan pertanyaan yang membuat namja berlesung pipi satu itu skakmat.

”Apa benar dia istri Donghae oppa?” tanyanya lagi.

”Hara-ssi…”

”Aku tidak apa-apa, oppa. Kau bisa menceritakan semuanya padaku sekarang juga. Semuanya, tanpa ada yang harus kau tutup-tutupi.”

Leeteuk memandang Hara kasihan. Dia bingung harus menceritakan keadaan yang sebenarnya atau tidak, mengingat gadis ini mengalami amnesia dan otaknya harus benar-benar dijaga.

 

>>>>>

 

”Namanya Han Chaerin,” ujar Leeteuk memulai pembicaraannya dengan Hara di taman samping rumah. Mereka duduk di sebuah ayunan panjang berwarna putih.

”Usianya masih delapan belas tahun. Dia dan Donghae menikah karena dijodohkan. Sebelum Ayah Donghae meninggal, beliau sudah berpesan agar Donghae segera menikahi Chaerin. Untuk menghormati Ayahnya, Donghae pun bersedia menikahi Chaerin, meski gadis itu tidak menyukainya.” papar Leeteuk.

Hara terdiam di sebelah Leeteuk, menunggu kelanjutan cerita yang akan dibeberkan oleh namja itu.

”Usia pernikahan mereka sekarang memasuki enam bulan, namun hubungan mereka nampaknya semakin buruk akhir-akhir ini. Aku tidak begitu tahu apa masalahnya, yang aku tahu, Donghae sangat mencintai Chaerin.”

Angin malam berhembus cukup kencang, membuat tengkuk Leeteuk merinding. Hara masih menyimak cerita Leeteuk dalam diam.

”Kalian, ah maksudku, kau dan Donghae, bertemu sebulan yang lalu di bandara saat kami baru saja tiba dari Indonesia. Yang kutahu, saat itu kalian sudah dua tahun tidak berhubungan. Kalian kembali dekat. Di saat yang sama, hubungan Donghae dengan Chaerin sangat buruk. Wartawan menangkap basah kalian sedang berada di sebuah butik. Sejak itulah, kabar mengenai pernikahan Donghae menyebar luas.”

”Kau mengalami amnesia, Hara-ssi. Seseorang telah melempar batu ke kepalamu hingga membuat ingatanmu sebatas dua tahun yang lalu. Dan kebetulan, saat itu Donghae masih menjadi namja chingumu.”

”Ah!”

Leeteuk tersentak lalu menoleh ke samping. Dia mendapati Hara sedang menekan kepalanya kuat-kuat.

”Gwaenchana, Hara-ssi?”

”Kepalaku… sa… kit… oppa…” jawab Hara terbata-bata.

”Hara-ssi, mianhae. Aku tidak bermaksud-”

”AAAAAHHH!!!”

”HARA-SSI!!!”

 

-TBC-

 

 

>published by.yooNkyu

 

 

Advertisements

5 thoughts on “[Donghae] || SERIES Love by Accident (Part 14)

  1. Oh to my the God.. Chaerin udah ada tanda 2 tuh klau ia hamil.. Akhirnya hara tau kenyataannya klau donghae menikah. Lanjut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s