[DONGHAE] SERIES Love by Accident (Part 13)

 

Title : Love by Accident

Author : Zatha Amanila

Casts : Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau, Yoon Hara

Genre : Romance

Rating : General

Length : Chaptered

~~~~~

DONGHAE’S POV

Aiiisshh… siapa yang telpon jam segini? Mengganggu saja!

Aku tersadar dari tidurku saat samar-samar kudengar suara dering ponsel. Tanganku mencoba untuk menggapai ponsel yang entah ada di mana itu. Dengan mata terpejam, tanganku meraba-raba ranjang kosong di sebelahku. Eh? Kemana Chaerin? bukankah semalam dia tidur di sini bersamaku?

Mataku membuka. Kutegakkan tubuhku dan mulai meraih ponsel yang ternyata ada di meja samping ranjang. Aigoo, untuk apa kunyuk ini meneleponku pagi-pagi?

”Wae?”

”Hya! Kenapa lama sekali? Aku sudah meneleponmu seratus kali, tahu!” semprot Hyukkie kesal. Aku tersenyum kecil. Berlebihan sekali monyet ini. Aku tahu dia tidak akan mau menelepon seseorang sampai berkali-kali. Dasar pelit! Dia lebih sayang baterai ponselnya.

”Aku baru saja bangun. Ada apa meneleponku?”

”Hya! Ikan jelek! Di sini banyak sekali wartawan.”

Apa? wartawan?

”Ini mengenai hubunganmu dengan Yoon Hara. Sudah satu jam mereka menunggu di depan dorm kita. Cepatlah kemari! Berikan klarifikasi untuk mereka. Aku harus pergi ke suatu tempat. Kalau masih ada mereka di sana, aku tidak bisa keluar!”

Yoon Hara?

Oh, astaga! Aku lupa dengan gosip itu.

Chaerin? ah, di mana dia sekarang?

Aku melangkah keluar kamar dan mulai menelisik seluruh ruangan di dalam rumah untuk menemukan sosok istriku itu.

Eobsseo. Nihil. Aku bahkan tidak menemukan satu pun barang-barangnya di sini, kecuali buku-bukunya yang masih tertata rapi di rak. Han Chaerin? kenapa kau meninggalkanku?

>>>>>

Kututup dengan kencang pintu taksi yang kunaiki dari Mokpo. Aku berada satu meter dari dorm. Ini sudah dua jam berlalu sejak Hyukkie mengabarkan kedatangan wartawan itu, tapi kenapa mereka masih saja di sini?

Kurapikan letak masker, kacamata, dan topi yang menutupi sebagian besar wajahku. Aku berjalan pelan dan berusaha untuk tidak menimbulkan kesan aneh saat aku masuk ke lobi apartemen.

Gotcha! Aku berhasil. Setelah melewati lobi, aku segera berlari menuju lift. Ah, aku jadi teringat kejadian beberapa minggu yang lalu. Chaerin, dia berkeringat saat berada di dalam lift. Tangannya mencengkeram lenganku kuat. Itu pertama kalinya aku mengetahui kalau dia memiliki fobia terhadap lift.

Ting!

Pintu lift membuka di angka 11. Aku segera berlari ke dorm sebelum kemudian ponselku berdering panjang. Aku tertegun sejenak membaca namanya di layar ponselku.

”Yoboseyo?”

”Chagiya, kau di mana sekarang?”

Chagiya? Kenapa Hara… ah, aku lupa kalau dia amnesia.

”Aku ada di dorm sekarang. Hara-ya, neon gwaenchanayo?”

”Aku? Sepertinya tidak. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Dan kita harus bertemu.” jawab Hara dengan nada tegas.

”Bertemu?”

”Hmm. Kau di dorm kan? Aku akan ke sana sekarang juga.”

”Mianhae, Hara-ya. Untuk saat ini, lebih baik kita tidak bertemu dulu. Aku sedang ada masalah. Kalau masalah itu sudah selesai, aku akan menghubungimu.”

”Kenapa begitu? Aku tahu kau sedang tidak sibuk sekarang. Pokoknya kita harus bertemu hari ini juga! Kalau kau tidak mengizinkanku untuk menemuimu di dorm, kau harus menemuiku di coffe shop. Kau mengerti?”

”Hara-ya…”

”Kau tahu kan aku tidak suka menunggu? Jadi…”

”Baiklah, aku akan menemuimu nanti. Tapi, jangan sekarang. aku benar-benar sedang dalam masalah besar. Aku mohon kau mengerti, Hara-ya.”

Sepi. Tidak ada jawaban dari Hara.

”Yoboseyo?”

”Arasseo. Asal kau menghubungiku lagi nanti, aku akan menunggumu datang.”

Pip. Sambungan telepon itu tiba-tiba putus. Kuhembuskan nafas berat. Ini sama seperti dua tahun lalu. Hara selalu memerintahku seenaknya dan membuatku kesal. Tapi sekarang keadaan tidak seperti dulu. Hara menganggapku namja chingunya karena amnesia itu, dan ini membuatku jauh lebih sulit.

“Donghae-ya!”

Kudongakkan kepala untuk melihat siapa yang memanggilku.

“Yoorim noona?”

>>>>>

Kopi espresso yang biasa Siwon minum setiap pagi itu mengepulkan uap panasnya di depanku. Membuat aku enggan meminumnya sebelum mendingin. Yoorim noona meniup-niup perlahan lattenya. Lalu meringis sesaat setelah latte itu menyentuh lidahnya.

Kami sedang berada di sebuah coffee shop yang ada di apartemen. Beruntung tempatnya masih berada di dalam, jadi aku dan Yoorim noona tidak perlu keluar untuk mengobrol.

Sekilas mataku menangkap wallpaper ponsel yang ada di atas meja. Foto Chaerin dengan pose senyuman menawannya yang sengaja kuambil dari akun Twitter miliknya. Aku tidak tahu ke mana perginya dia pagi ini. Selagi di taksi, aku berulang kali meneleponnya dan hasilnya nihil. Dia mematikan ponselnya.

Haaaahh… sebenarnya apa yang terjadi?

”Jadi, bagaimana kejadiannya?” tanya Yoorim noona meleburkan lamunanku.

”Maksud noona mengenai…”

”Yoon Hara. Apa kau selingkuh dengannya?”

”Ck, dari mana noona punya pemikiran seperti itu? dia mantan pacarku.”

”Mantan pacar?”

”Benar. Kalau kau ingin minta klarifikasiku tentang foto yang beredar di internet itu, sia-sia saja. Noona pasti sudah tahu jawabannya.”

Kuseruput sedikit espresso-ku yang sudah tidak panas lagi.

”Baiklah, aku memang sudah tahu jawabannya. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang haus berita itu? sejak pagi buta tadi, ah bukan, sejak kemarin siang mereka terus datang ke dorm untuk meminta klarifikasi langsung darimu. Untung saja mereka tidak ada yang mengenaliku sebagai manajermu, kalau tidak, aku mungkin akan diserang duluan.” papar Yoorim noona.

”Maafkan aku, noona. Tapi aku tidak ingin menemui mereka. Chaerin menghilang, dan itu yang memenuhi pikiranku saat ini. Tidak ada celah sedikitpun untuk memikirkan masalah lain.”

Yoorim noona memandangku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Cukup lama.

”Kau terlalu mencintainya, Donghae-ya.” ujarnya. Aku tahu itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. ”Yah, aku akui masalahmu ini sangat rumit. Bahkan aku pun bingung bagaimana cara untuk menyelesaikannya.”

Kau benar, noona. Bahkan jauh lebih sulit dari yang kaubayangkan. Kuteguk lagi espressoku sambil memandang jalan raya yang ramai di luar jendela kafe.

”Dia amnesia, noona.”

”Siapa?”

”Yoon Hara. Beberapa hari yang lalu, ada orang… mungkin fansku, yang melempar batu ke kepalanya. Itu membuat dia terkena amnesia sebagian. Yang lebih parahnya lagi, ingatannya hanya sampai dua tahun yang lalu. Dan saat itu, aku masih menjadi namja chingunya.”

Yoorim noona nampak berpikir. Mungkin mencerna kata-kataku barusan, kemudian dia mengangguk-angguk mengerti.

”Boleh aku memberimu perintah?”

Eh? Perintah?

Manajerku itu menangkupkan tangannya di atas meja, sedikit lebih maju dari posisi sebelumnya.

”Yoon Hara nomor satu, dan Han Chaerin nomor dua.”

”Mwo?”

”Itu perintah. Jangan menolak atau aku tidak akan memberikan gajimu.”

Yoorim noona melengos pergi sambil menenteng tas kulitnya. Aku mengerjap-erjapkan mata sambil terus berpikir. Yoon Hara nomor satu, dan Han Chaerin nomor dua. Apa maksud…

Ah, ternyata begitu!

>>>>>

CHAERIN’S POV

’Lee Donghae, salah satu anggota Super Junior itu masih menjadi buronan media hingga detik ini. Berita mengenai pernikahannya dengan seorang wanita berambut panjang yang tertangkap kamera beberapa waktu lalu menggemparkan publik Korea, terutama fans Super Junior itu sendiri. Belum diketahui identitas sebenarnya dari wanita tersebut, namun baru-baru ini beredar kabar bahwa wanita itu bukan dari kalangan artis dan masih belajar di sebuah universitas ternama.’

Kuletakkan sumpit yang sedari tadi kupegang. Kupingku terasa panas mendengar ucapan-ucapan yang dilontarkan si reporter di televisi itu. Sementara mulutku penuh dengan nasi kimchi yang kupesan dari ahjumma pemilik kedai ini. Kunyahanku terhenti begitu berita mengenai Donghae itu menggema. Tenggorokanku rasanya tercekat dan ingin sekali kumuntahkan nasi ini.

Ah, tidak. Aku harus makan nasi ini. Hanya gara-gara Donghae, aku tidak boleh menderita. Besok aku ada ujian kelulusan sekolah yang sangat menentukan masa depanku. Ya, ini bukanlah masalah yang besar. Aku tidak perlu melayaninya. Semangatlah, Chaerin!

Kusendokkan lagi nasi kimchi itu hingga memenuhi mulutku lagi. Ah, aku lupa belum menghubungi eomma lagi. Lebih baik, aku menelepon eomma sekarang.

Kuraih ponsel di dalam tasku. Aku belum menyalakannya sejak tadi pagi. Sengaja kumatikan, karena aku tidak ingin berbicara dengan siapapun. Kutekan tombol penghidup ponsel layar sentuhku yang tipis itu. Sesaat kemudian, muncul 20 missed calls dari nomor yang sama. Sudah kuduga, dia akan menghubungiku.

-flashback-

”… Aku ini Yoon Hara, yeoja chingu Donghae oppa.”

”APA?”

”Aku ingin bicara dengan pacarku itu secepatnya! Berikan ponselnya padanya!”

Aku tertegun di tempat, tidak bergeming. Kudengar orang di seberang telepon itu terus mengoceh meminta bicara dengan Donghae. Yeoja ini… benarkah dia pacar Donghae? Jadi selama ini Donghae sudah membohongiku? Dia sudah punya pacar tapi menikahiku? Ya Tuhan, hatiku terasa ditusuk ribuan pisau yang tajam. Sakit sekali!

”Hya! Kau tidak dengar, hah? Cepat berikan ponselnya!”

Aku mendengar teriakannya yang begitu memekakkan telinga.

”Apa kau benar-benar yeoja chingunya Donghae?” tanyaku dengan suara sedikit bergetar menahan tangis yang sebentar lagi pecah.

”Tentu saja. Kami sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Untuk apa kau menanyakan hal itu? ah iya, memang kau ini siapa? Aku tidak pernah tahu Donghae memiliki adik bernama Chaerin.”

Astaga, adik? Dia bilang aku ini adiknya Donghae?

”Aku bukan adiknya.”

”Mwo? Kau bukan adiknya? Lalu kau siapa?”

”Tidak ada gunanya kau tahu, yang pasti aku ini bukan adiknya. Lebih baik kau telepon lagi nanti. Dia masih sangat pulas.”

Pip. Kuputus sambungan telepon itu. tanpa bisa kucegah, air mataku jatuh. Rasanya tubuhku benar-benar lemas. Kutolehkan kepalaku untuk memandang Donghae yang masih terlelap.

Perasaanku baru saja membaik, tapi kini aku harus kembali membencinya. Membenci namja yang sedang tidur di sebelahku ini. Namja yang orang-orang bilang adalah suamiku. Dia sudah membohongiku. Dan itu membuat hatiku sakit.

Kuhapus air mata di pipiku lalu beranjak mengganti baju. Aku harus berangkat sekolah sekarang, meski keadaanku tidak memungkinkan. Aku akan pergi sekarang juga. Bukan untuk sementara, tapi untuk selamanya. Aku tidak ingin bertemu Donghae lagi setelah ini.

Ikan jelek, jangan cari aku.

-flashback end-

Drrt… Drrt…

Kurasakan ponselku bergetar. Sempat takut kalau-kalau saja Donghae yang menelepon. Mataku membulat begitu membaca nama yang muncul dilayar ponsel. Rasanya sudah lama aku tidak berhubungan dengannya.

”Yoboseyo?”

”Pasta-chan, kau baik-baik saja?”

Henry. Jujur aku merindukan suaranya. Beberapa hari ini aku mencoba menghindarinya karena tidak ingin dia khawatir dengan suasana hatiku yang buruk belakangan ini.

”Ne, aku baik-baik saja.”

”Kau di mana? Bisakah kita bertemu?”

Bertemu. Lebih baik tidak, Henry-ah. Aku ingin sendiri.

”Aku sedang belajar untuk ujian penting besok. Mianhae,” jawabku.

”Kenapa?”

”Apa?”

”Kenapa kau berbohong padaku?”

Deg!

”Kau sedang tidak belajar kan? Kau sedang makan, ah bukan, kau sedang memaksa mulutmu untuk menelan nasi yang kausendokkan. Benar kan?”

”Henry-ah…”

”Kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku meski hanya satu menit?”

Aku terdiam. Aku tahu dia sedang mengawasiku sekarang, tapi aku tidak ingin mencarinya.

”Aku merindukanmu, Han Chaerin.”

>>>>>

HENRY’ POV

Ya, mataku tidak mungkin salah. Dia benar-benar Chaerin. Gadis yang duduk di salah satu meja lesehan di kedai itu adalah Pasta-chan ku. Dia sedang makan kan? Tapi kenapa aku melihat dia sedang memaksakan makanan itu masuk ke mulutnya? Chaerin, kau baik-baik saja kan?

Kuputuskan untuk meneleponnya saat kulihat dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas sekolahnya.

”Yoboseyo?” terdengar suara sapaan lemah di seberang teleponku. Mataku tetap awas memperhatikannya dari jendela kedai.

”Pasta-chan, kau baik-baik saja?”

”Ne, aku baik-baik saja.”

”Kau di mana? Bisakah kita bertemu?”

Dia nampak menghembuskan napas panjang.

”Aku sedang belajar untuk ujian penting besok. Mianhae,”

Kau bohong, Chaerin-ah.

”Kenapa?”

”Apa?”

”Kenapa kau berbohong padaku? Kau sedang tidak belajar kan? Kau sedang makan, ah bukan, kau sedang memaksa mulutmu untuk menelan nasi yang kausendokkan. Benar kan?”

”Henry-ah…”

”Kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku meski hanya satu menit?”

Dia diam. Tapi aku tidak bisa terus membendung apa yang ingin kusampaikan padanya.

”Aku merindukanmu, Han Chaerin.”

Sepi. Bisa kulihat dari jarak sejauh ini kalau dia terpaku menatap nasi di hadapannya. Cukup lama.

”Aku juga merindukanmu, Mochi-ah. Tapi, aku benar-benar tidak bisa bertemu denganmu sekarang. Neomu mianhae,” ucapnya.

Aku menarik napas dalam, berusaha untuk memahaminya. Aku tahu, perasaannya pasti sedang buruk. Tapi, aku harus bagaimana kalau aku ingin sekali bertemu dengannya dan menatap mataya yang indah itu?

”Besok aku kembali ke Beijing.” ujarku.

”Geurae?”

”Setelah ini mungkin kita tidak bisa bertemu lagi.”

Dia diam… lagi. Dadaku tiba-tiba sesak mengingat kenyataan itu. Memang seharusnya aku berada di Beijing untuk melanjutkan karier sebagai anggota Super Junior-M. Aku berada di Korea sebulan ini hanya karena Chaerin, karena perasaan cintaku terhadapnya.

”Apa kau tetap tidak mau bertemu denganku sekarang?” tanyaku sekali lagi.

”Baiklah. Aku akan selesaikan makanku dulu. Kita bertemu di Namsang park setengah jam lagi.” sahutnya.

Pip. Kuputus sambungan telepon itu. Dari jendela kedai, aku bisa melihatnya kembali memakan makanannya.

”Makanlah yang banyak, Chaerin-ah. Kau butuh kekuatan untuk menghadapi yang terjadi selanjutnya. Sendirian… tanpaku.”

>>>>>

DONGHAE’S POV

Kulangkahkan kakiku memasuki coffe shop yang cukup ramai. Aku tidak pernah kemari setelah hubunganku dengan Hara kandas. Dan hari ini, aku kembali menginjakkan kakiku di sini dengan alasan yang sama seperti dulu. Menemui Hara.

Mataku menangkap sosok gadis dengan rambut panjang ikal kecokelatan di pojok meja. Pandangannya terlempar ke luar jendela kaca di sebelahnya. Aku segera menghampirinya.

”Kau sudah lama?” tanyaku sambil duduk di kursi seberangnya. Hara menoleh dengan wajah tanpa senyum. Dingin.

”Kalau aku bilang sudah lama, apa itu berguna?” jawabnya ketus. Baiklah, lebih baik aku diam saja.

”Oppa, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

”Apa itu?”

”Siapa gadis yang bernama Lee Chaerin itu?”

”Lee Chaerin?”

”Apa hubunganmu dengannya?”

Hara menatapku tajam. Ini tatapan saat dia merasa cemburu dan mencurigaiku. Aku masih sangat hafal tatapannya yang seperti itu.

”Dari mana kau tahu tentang dia?” tanyaku.

Hara menyenderkan punggungnya sambil melipat kedua tangannya di depan perut.

”Tadi pagi aku meneleponmu, tapi yang mengangkat telepon itu dia, si Lee Chaerin itu. Aku tanya apa dia adikmu. Tapi, dia bilang dia bukan adikmu.”

Apa? Chaerin mengangkat telepon Hara tadi pagi? Jangan-jangan karena itu…

”Lalu dia bicara apa lagi?”

”Hya! Oppa! Itu tidak penting! Aku mengajakmu bertemu hanya untuk mendengar penjelasan darimu tentang siapa gadis itu! kau bahkan belum menjawabnya sekarang.” protes Hara. ”Aku ingin kau menjawabnya dengan jujur.”

Hara mulai menunjukkan wajah seriusnya. Aku berpikir keras, sebaiknya aku katakan yang sebenarnya saja atau tidak.

’Kau harus menjaga ingatannya. Sekali saja dia mendengar kabar yang membuatnya shock, itu akan berakibat fatal untuk kepalanya.’

Ucapan dokter yang merawat Hara waktu itu terngiang lagi di telingaku. Kalau aku mengatakan bahwa Chaerin itu adalah istriku, aku yakin dia akan sangat shock. Aku akan mendapat masalah besar karena ini. Bagaimana pun juga, kecelakaan yang menimpanya adalah kesalahanku dan aku harus bertanggung jawab untuk itu.

”Oppa!”

”Dia sepupuku.”

”Sepupu?”

”Ne. Selama ini dia tinggal di Amrik untuk sekolah. Karena dia sudah dinyatakan lulus dari SMU-nya, dia memutuskan untuk kembali ke Korea dan melanjutkan kuliah di sini.”

”Geurae?”

”Sekarang kau percaya kan?”

Hara menggigit bibir bawahnya malu.

”Jadi… dia bukan selingkuhanmu?” tanyanya polos.

”Bukan.”

Hara menyeruput kopinya. ”Baiklah, aku percaya sekarang.”

Memang seharusnya seperti itu, Hara-ya.

”Oppa, kau sedang tidak ada jadwal kan?Ayo kita jalan-jalan!”

Aku meliriknya enggan. ”Kau mau kemana?”

”Ng… Namsang Park!”

>>>>>

CHAERIN’S POV

Kupandangi ujung sepatuku yang sedang melangkah beriringan dengan Henry. Tidak banyak orang berlalu-lalang di taman ini, mungkin karena cuaca sedang panas. Sejak bertemu setengah jam yang lalu, kami belum berbicara serius. Hanya terdiam sambil terus berjalan berkeliling taman.

Aku cukup terkejut saat dia mengatakan akan kembali ke Beijing besok. Dan yang lebih mengejutkan, dia bilang aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Kenapa begitu? Aku rasa aku bisa kapan saja ke Beijing untuk menemuinya. China da Korea tidaklah jauh.

”Kau… berangkat jam berapa besok?” tanyaku memecah keheningan kami.

”Jam tujuh malam.”

”Kalau begitu, aku bisa mengantarmu ke bandara setelah ujian selesai.”

”Tidak usah kaupaksakan. Kau mau menemuiku saat ini saja itu sudah cukup.”

”Aniyo. Aku sama sekali tidak keberatan untuk mengantarmu besok. Aku bahkan akan sampai di sana lebih dulu darimu.” aku mencoba tersenyum lebar padanya.

Langkahku terhenti saat kusadari Henry pun berhenti. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan.

”Mochi-ah, kau kenapa?”

Henry tidak menjawab. Dia tiba-tiba menarik tubuhku ke pelukannya. Aku terkejut.

”Apa kau pernah mencintaiku, Han Chaerin?”

Deg!

”Mak-maksudmu… apa?”

”Karena aku merasa tidak mau kehilanganmu. Aku benar-benar membutuhkanmu, Pasta-chan. Sejak dulu sampai detik ini.”

Ya Tuhan, jantungku serasa berhenti. Aku sangat terkejut dengan pengakuan ini. Henry ternyata… juga mencintaiku.

”Aku tahu belakangan ini kau menghindariku, dan itu membuatku menderita.”

”Henry-ah…”

”Sekarang kau bukan lagi Han Chaerin yang gemuk dan punya dua kunciran. Han Chaerin yang sejujurnya membuatku rindu. Kau adalah Han Chaerin yang cantik dan bisa segalanya. Tapi meski kau begitu berubah, aku tetap bisa mengenalimu. Karena kau tetap memiliki senyum yang sama seperti dulu. Senyum yang sangat aku sukai.” papar Henry.

Dia masih belum melepaskan pelukannya. Justru dia mempererat lingkarannya di punggungku. Tanganku masih ada di samping tubuhku, entah kenapa aku tidak bisa membalas pelukannya yang sebenarnya sangat nyaman ini.

”Kau bahkan sudah menjadi istri orang, istri hyung-ku. Aku bisa menerima itu. Aku akan bahagia kalau kau juga bahagia.” tambahnya.

”Chaerin-ah, saranghae…”

Deg! Jantungku kembali berdetak cepat. Bahkan kini rasanya ingin copot. Aku senang. Ya, seharusnya aku senang. Tapi kenapa perasaanku biasa saja? Apa mungkin karena…

Ya Tuhan, ini tidak mungkin!

Mataku baru saja menangkap sosok dirinya yang tak jauh dari posisiku. Dia menatapku tajam dalam posisinya yang tak jauh dariku.

Donghae melihat Henry memelukku.

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “[DONGHAE] SERIES Love by Accident (Part 13)

  1. Astaga.. Konfliknya parah banget.. Manager donghae bilang kalau chaerin jadi nmr 2… Chaerin kasian banget..

  2. Chaerin selalu menyangkal perasaanya terhadap donghae…semoga donghae ga salah paham lg dan pergi begitu saja setelah melihat henry memeluk chaerin…hara jg yg bikin hubungan donghae dan chaerin sulit gara2 amnesia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s