[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (Part 12)

Title :  Love by Accident

Author :  Zatha Amanila

Casts :  Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau, Yoon Hara

Genre :  Romance

Rating : General

Length :  Chaptered

 

For your info : konflik FF ini bakal panjang, jadi yang sabar aja ya bacanya. Ada saatnya nanti adegan-adegan romantis bakal muncul seperti yang readers mau. Stay tune terus ya! ^ ^

Enjoy reading…

 

~~~~~

 

Menyukai seseorang tidaklah sama dengan mencintai seseorang. Karena sesungguhnya, perasaan suka itu bukanlah cinta. Dua rasa itu berbeda. –Author-

 

CHAERIN’S POV

Aku buru-buru mendongakkan kepala saat seseorang memanggil namaku dengan lirih. Aku tersentak melihat sosok yang sedang kupikirkan saat ini ada di depan pintu kamar dan memandangku.

”Donghae-ya?”

Aku memandangnya balik. Seperti itu terus hingga beberapa detik.

”Kau sedang apa? Uh? Chaerin-ssi? Aha! Benar kan yang kubilang, dia pasti ada di sini. Haaahh… syukurlah.”

Pandanganku teralih pada sosok namja di sebelah Donghae. Eunhyuk oppa? Dia di sini juga?

”Chaerin-ssi, aku datang untuk mengantar Donghae.” ucap Eunhyuk oppa seperti mendengar pertanyaan di dalam batinku. ”Eh? Kau sedang berkemas? Mau pergi ke mana?”

Aku terkesiap. Rupanya aku baru saja kembali ke alam sadarku setelah beberapa detik seperti terbius di tempat. Kaus Donghae yang sejak tadi pun masih ada di tanganku. Kulirik Donghae sekilas, dia memandang kaus di tanganku ini.

Buru-buru kuletakkan kaus itu di lemari dan mulai menutup koper.

”Aku ingin memindahkan semua baju dan bukuku ke rumah Appa dan Eomma. Hari ini aku hanya akan membawa baju-bajuku. Besok aku akan kembali untuk mengangkut buku-bukunya.” jawabku.

”K-kau…?”

Eunhyuk oppa nampak bingung sambil memandangiku dan Donghae bergantian. Sesaat kemudian, Donghae beranjak pergi.

”Ah, Chaerin-ssi, lebih baik kau tunda dulu berkemasnya. Donghae… dia sedang demam sekarang.”

Apa? Donghae sedang demam?

”Aku harus kembali ke dorm sekarang. Kuserahkan Donghae sepenuhnya padamu. Annyeong!”

Eunhyuk oppa melambaikan tangannya padaku lalu pergi. Kudengar dia juga berpamitan pada Donghae. Aku keluar kamar dengan langkah pelan.

”Aku ikut denganmu saja, Hyuk.” ucap Donghae di depan pintu.

”Hya! Istrimu ada di sini. Untuk apa kau ikut denganku. Kau sedang sakit, Hae! Sudah sana masuk ke dalam. Besok kau harus sembuh.” suara Eunhyuk oppa terkesan memerintah.

Kemudian, terdengarlah suara mesin mobil dinyalakan. ”Aku pulang dulu. Teleponlah aku kalau kau ingin dijemput.”

Mobil terdengar melaju dan suaranya semakin hilang. Aku kembali masuk kamar dan memindahkan koperku di lantai.

Haaatciiihh!

Aku mendengar suara bersin Donghae. Dia pasti kena flu. Mungkin lebih baik aku tinggal di sini dulu sampai dia sembuh. Hitung-hitung sebagai pengabdian terakhirku pada Donghae sebelum kami bercerai.

Aku keluar dari kamar dan mendapati Donghae sedang bersender di sofa ruang tamu sambil memejamkan matanya ke langit-langit. Lampu yang bersinar terang membuat wajahnya terlihat jelas. Astaga! Dia pucat sekali!

Kuputuskan untuk mendekatinya meski rasanya sangat canggung.

”Kau demam?” tanyaku sambil duduk di sampingnya. Dia tidak menjawab. Kuletakkan telapak tanganku di keningnya. ”Ya Tuhan! Panas sekali! Pindahlah ke kamar. Aku akan mengambil air kompres dulu.”

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

”… Pindahlah ke kamar. Aku akan mengambil air kompres dulu.”

Aku mendengar suaranya yang panik. Dia berlari ke dapur dengan langkah cepat, kurasa. Aku masih memejamkan mata, tidak ada keinginan untuk pindah dari sini karena tubuhku benar-benar lemas.

Apa dia benar-benar mengkhawatirkan kondisiku sekarang?

Kubuka mataku. Chaerin datang dan memeras handuk kecil disebuah baskom.

”Berbaringlah. Kalau posisimu seperti ini, tubuhmu akan sakit. Kau tidak akan cepat sembuh.” ucapnya lembut namun masih terdengar panik.

Aku tersenyum padanya lalu meraih tangannya yang sedang memegang handuk itu. Kutuntun tangannya ke keningku.

”Letakkan saja. Aku tidak punya tenaga untuk pindah dari sini.” jawabku.

Kurasakan keningku dingin karena handuk yang basah itu. Chaerin menatapku.

”Bagaimana kau bisa sakit?” tanyanya. Ada perasaan lega yang tiba-tiba saja menggelayutiku. Aku senang dia bertanya seperti itu. Aku anggap itu sebuah perhatian istri pada suaminya.

”Aku lelah. Bahkan sangat lelah.”

”Akan kupanggilkan dokter sekarang.”

”Andwae!”

Aku menahan tangan Chaerin saat dia berdiri. Dia terduduk kembali di sampingku.

”Aku tidak membutuhkan dokter. Yang kubutuhkan adalah istriku. Aku ingin dia yang merawatku.”

Chaerin nampak terkejut. Matanya membulat. ”Donghae-ya…”

”Kajima.” ucapku. ”Jangan pergi dariku sejengkal pun. Kau mengerti?”

Dia membisu. Mungkin kata-kataku tidak dapat ternetralisir olehnya. Tapi itulah yang ingin kukatakan padanya saat ini. Hanya dia yang menjadi kekuatanku sekarang. Baru kusadari, aku mulai tergantung pada gadis ini. Kalau mataku tidak bisa menangkap sosoknya, aku pasti akan rapuh.

”Kalau begitu, tidurlah di kamar. Aku akan di sini sampai kau bangun.”

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

Aku berdiri di depan kompor membuatkan bubur dan susu jahe untuk Donghae. Dia tidak ingin minum obat, jadi kubuatkan minuman ini untuk menghangatkan tubuhnya. Aku pernah meminumnya saat flu, dan ini sangatlah ampuh. Semoga saja, hal itu berlaku juga untuknya.

Kutilik jam dipergelangan tanganku. Sudah malam ternyata. Setelah memastikan Donghae tertidur pulas di kamar, aku pergi ke minimarket dan membeli beberapa bahan makanan. Sudah hampir enam jam dia tidur. Aku yakin sekali dia sangat kurang tidur beberapa hari ini.

Donghae tidak pernah demam sebelumnya. Yah, mungkin pernah sebelum menikah denganku. Dia adalah namja yang punya fisik kuat. Kebal terhadap penyakit meski jadwalnya sangat padat. Mungkin karena dia sangat menjaga kebersihan makanan yang dimakannya. Ada bagusnya juga sifat cinta kebersihannya itu.

”Sip. Sudah selesai sekarang. tapi dia belum bangun. Apa lebih baik kubangunkan saja ya?”

”Aku sudah bangun.”

”Eh?”

Aku terkejut melihat Donghae berdiri menyender di tembok yang tak jauh dariku. Dia tersenyum. Sepertinya dia sudah baikan.

”Kau membuat bubur untukku?” Donghae menghampiriku dan menilik mangkuk bubur di depanku.

”Ne. Kau harus makan agar cepat sembuh.” Donghae menatapku tajam sesaat. Aku bingung mengartikan tatapannya. ”Ah, duduklah. Setelah makan bubur, kau harus minum susu jahe ini. Aku jamin flumu akan segera hilang.”

Donghae terpaku sejenak sebelum akhirnya duduk juga. Dia mulai menyendokkan bubur itu ke mulutnya. Aku tertegun saat sendok yang penuh bubur itu berhenti di depan mulutnya.

“Eh? Kenapa tidak jadi kaumakan?”

Donghae menoleh padaku yang duduk di sebelahnya. ”Aku ingin disuapi istriku.”

”Mwo?”

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

”Ne. Kau harus makan agar cepat sembuh.”

Apa? Sembuh? Aku ingin. Tapi sekarang, setelah melihat kau begitu perhatian padaku, rasanya aku tidak ingin sembuh. Aku ingin terus sakit kalau itu membuatmu ada di sisiku, Han Chaerin.

”Ah, duduklah. Setelah makan bubur, kau harus minum susu jahe ini. Aku jamin flumu akan segera hilang.” ucapnya yakin.

Benarkah? Aku belum mendengar tentang susu jahe yang bisa menyembuhkan flu sebelumnya. Apa ini eksperimen terbarunya?

Aku pun duduk dan mulai menyendok bubur itu. Uap panasnya masih tebal. Sepertinya baru saja matang.

Hei, kenapa aku tidak memanfaatkan kesempatan ini?

”Eh? Kenapa tidak jadi kaumakan?”

”Aku ingin disuapi istriku.”

”Mwo?”

”Tanganku lemas, tidak bisa mengangkat sendok ini.”

Astaga, aku sadar sesadar-sadarnya kalau alasan ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Bagaimana tidak? Aku baru saja mengangkat sendok itu ke depan mulutku dan aku sudah jauh lebih baik sekarang. sama sekali tidak merasa lemas. Kulihat Chaerin mendelik. Dia pasti menganggapku aneh. Biarlah, yang penting aku ingin dia menyuapiku.

”Arasseo. Aku akan menyuapimu karena kau sedang sakit sekarang.”

Aku tersenyum puas. Dia mulai mengambil mangkuk bubur di depanku dan menyendokkan bubur itu. Aku membuka mulut lebar-lebar dan…

Hap!

Bubur itu pun berhasil masuk ke dalam mulutku. Aku meringis karena bubur itu terasa membakar lidahku sekarang.

”Wae geurae?” tanya Chaerin.

”Bu-burnya… pa-panas…”

”Bo? Huahahahahaha.”

Tawa Chaerin meledak. Hei, apa-apaan gadis ini? Aku sedang kepanasan dia malah tertawa seperti itu.

”Hya! Cepat ambilkan aku minum!”

Dia masih tertawa sampai memegangi perutnya. Aiiissshh… sebegitu lucunyakah aku sekarang?

”Hya!”

”Arasseo, arasseo, akan kuambilkan minumnya sekarang. hahaha…”

Chaerin beranjak menghampiri kulkas dan mengambil satu botol air dingin dari sana. Sambil terus tertawa, dia menuangkan air itu ke dalam mug. Sementara aku, aigoo~

Aku rasa lidahku benar-benar terbakar!

”Ini,”

Tanpa babibu lagi, segera kuteguk air putih itu hingga tak bersisa. Huuuaaah… aku aman sekarang. rasa terbakar itu sudah hilang.

”Apa apinya sudah padam?”

”Mworago?”

Chaerin tertawa lagi. Kali ini lebih kencang dan puas dari sebelumnya. ”Kau benar-benar lucu, Donghae-ya. Wajahmu itu polos sekali. Hahaha…”

Aku tertegun. Mataku terus memandangnya yang sedang terpingkal-pingkal. Baru kusadari, aku menikmati pemandangan yang ada di depanku ini. Aku jarang melihatnya tertawa. Bahkan hampir tidak pernah. Sekarang, disaat hubungan kami merenggang, aku masih bisa melihatnya tertawa puas seperti ini. Aku senang.

”Kau cantik kalau sedang tertawa.”

”Ne?”

Chaerin memandangku dan perlahan tawanya hilang. Aku tetap tersenyum padanya.

Tiba-tiba suara Justin Bieber dari ponsel Chaerin menggema. Sedikit membuatku kaget karena musiknya yang besar. Dia segera merogoh ponselnya.

”Ne, eomma?”

Oh, ternyata dari ibu mertuaku. Sedikit lega, karena bukan Henry yang meneleponnya.

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

”Ne, eomma?… ah, mianhae aku lupa memberitahumu. Pulang sekolah aku langsung ke Mokpo untuk mengambil satu buku yang ingin dipinjam temanku… baiklah, aku akan pulang sekarang ju- eh? Apa yang kaulakukan?”

Aku terkejut begitu Donghae merebut ponselku dengan kasar. Apa maksudnya?

”Yoboseyo? Eomonim?”

Kini Donghae berbicara pada Eomma ditelepon. Mimiknya serius. Aku menggeleng-geleng tak mengerti dengan perbuatannya ini.

”Ne, ini aku, menantumu. Aku ingin Chaerin menginap, karena sudah malam. Aku tidak  bisa membiarkannya pulang sendiri.”

Bo? Apa sebenarnya yang dia inginkan? Kenapa aku harus menginap? Eomma sudah menyuruhku pulang sekarang, aku tidak bisa menolaknya. Aiiissshh… ikan menyebalkan!

”Hya! Cepat berikan ponselku!” aku mencoba menggapai ponselku ditangannya, tapi dia justru menjauh dan terus mengoceh.

”Aku sedang tidak sehat sekarang, jadi aku tidak bisa mengantarnya pulang. Untuk itu, tolong izinkan Chaerin menginap malam ini.”

Haaaahh… aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Pikiranku pasti akan kacau. Ini tidak bisa kubiarkan.

”Ah, gomapseumnida, eomonim. Kalau begitu, tutuplah dulu teleponnya… ne.”

Aku berlipat tangan di depan perut saat Donghae menurunkan ponselku dari telinganya.

”Percuma saja kau mengatakan itu pada Eomma. Aku akan tetap pulang malam ini juga!”

Aku baru saja membalikkan badan sebelum tiba-tiba aku merasakan punggungku hangat. Aku terkesiap. Donghae memelukku dari belakang. Astaga! Jantungku berdetak sangat cepat sekarang! aku bisa merasakan hembusan nafas Donghae dileherku. Nafasnya panas, mungkin karena dia sedang demam.

”Kajima.”

Apa?

”Aku mohon jangan pergi, Chaerin-ah. Aku membutuhkanmu.”

Ya Tuhan, apa lagi ini? Setelah dia bilang kalau dia mencintaiku, sekarang dia pun bilang kalau dia membutuhkanku.

Donghae mengeratkan lingkaran tangannya di tubuhku. Hembusan napasnya semakin terasa panas di leherku. Aku memejamkan mata sejenak, tidak tahu apa yang harus kujawab. Aku menikmati perlakuannya ini.

”Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi yang pasti, sejak kau bilang ingin bercerai dariku, aku merasa perasaan ini semakin besar.” ucapnya dengan suara yang sedikit serak.

”Bisakah kau melupakannya dan mulai memandangku?”

Glek!

Aku terkesiap. Pandanganku nanar. Kata-kata Donghae barusan terngiang berkali-kali di telingaku. Dia memintaku melupakan Henry dan mulai… mulai mencintainya? Apa benar dia berkata seperti itu?

Kuhembuskan napas panjang.

”Tolong jangan bersikap seperti ini, Lee Donghae. Aku tidak bisa,” ucapku lirih. ”Aku mohon lepaskan aku.”

Hening. Tidak ada respon apapun dari Donghae. Tanganku mengangkat, mencoba melepaskan tangannya yang memelukku erat. Dia tidak menolak. Aku ingin membalikkan badanku tapi rasanya benar-benar berat. Aku tidak mau melihat wajah Donghae sekarang.

”Aku tetap tidak akan membiarkanmu pergi, Han Chaerin.”

Dia bicara lagi. Ucapannya itu terkesan tegas.

”Kita tidak akan bercerai.”

Spontan, aku langsung membalikkan badanku untuk memandangnya. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan menghadap ke arah lain.

”Kenapa begitu? Aku sudah-”

”Perceraian ini sepihak. Mereka tidak akan mudah menceraikan kita. Untuk itu, lupakan mengenai perceraian ini mulai sekarang.”

”Apa?”

”Kau boleh terus menolak, tapi aku tidak akan pernah membiarkan kita bercerai.”

Aku menatapnya tajam. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di dalam otaknya. Kemarin dia pasrah dengan keputusanku untuk bercerai darinya. Tapi sekarang? ini di luar dugaanku.

Ah, kenapa hatiku terasa sakit sekarang?

”Terserah kau saja!” aku beranjak mengambil tas dan blazerku di atas sofa, lalu keluar dari rumah.

Zaaaaassshh…

Hujan? Kenapa aku tidak tahu kalau turun hujan? Kalau begini, aku tidak bisa pulang ke Seoul.

Kugigit bibir bawahku. Mataku tiba-tiba saja panas. Aku sudah menahan emosiku sejak tadi, dan sekarang mungkin aku sudah tidak dapat menahannya lagi. Aku ingin menangis.

”Ini alasannya kenapa aku menahanmu di sini.” kudengar suara Donghae di belakangku. ”Hujannya lebat, sebaiknya kau masuk. Ini rumahmu.” tambahnya.

Aku tidak bergeming. Pandanganku hampa. Hanya suara hujan yang menyentuh tanah memenuhi otakku. Akhirnya aku menangis. Ya, air mataku mengalir deras sekarang.

”Chaerin-ah? Kau…?” Donghae membalikkan tubuhku. Aku tetap menunduk dan tidak ingin membiarkan dia melihat wajahku yang kusut ini.

”Jangan begini, Donghae-ya. Aku mohon…” ucapku lirih. Kugigit bibir bawahku kuat-kuat untuk menahan tangisan yang terlanjur pecah. ”Aku sudah tidak kuat dengan semua ini. Aku hanya ingin kau melepasku. Itu saja…”

Tiba-tiba tangan Donghae mengangkat daguku. Kini aku bisa memandang wajahnya dengan jelas meski sinar lampu di teras rumah ini redup.

Donghae menatapku dalam. Kedua ibu jarinya mengusap air mata di pipiku. Dia kemudian menempelkan keningnya di keningku. Ujung hidung kami pun beradu. Aku tidak berontak. Hatiku tidak memerintahnya sama sekali.

”Maafkan aku, Chaerin-ah…”

”Nappeun namja. Kau jahat, Lee Donghae.” ucapku sambil memukul pelan dadanya. Tanganku seperti tidak memiliki tenaga lagi untuk berontak. Aku hanya ingin menangis. Menumpahkan semua beban pikiranku.

Donghae tidak menjawab. Aku tahu dia juga menangis. Suara rintik hujan memenuhi gendang telingaku. Kami terdiam beberapa saat, hingga bibirku terasa hangat.

Mataku membelalak. Wajahnya jauh lebih dekat sekarang. Dia menciumku, sangat lembut. Entah setan apa yang sedang merasuki pikiranku saat ini, aku memejamkan mata. Dia menarik tengkukku dan mulai menggerakkan sedikit bibirnya hingga bibirku pun ikut bergerak.

Aku lupa bahwa dia sedang flu. Mungkin setelah ini aku juga akan bersin-bersin dan demam.

 

>>>>>

 

Aku berjalan beriringan dengan seorang laki-laki yang sudah resmi menjadi suamiku beberapa menit yang lalu. Lee Donghae. Kami berjalan keluar gereja dengan sebuket bunga putih digenggamanku. Langkahku begitu berat, mengingat aku tidak menginginkan pernikahan ini. Sesekali eomma menyenggol lenganku untuk menyunggingkan senyum. Ah, benar-benar menyusahkan!

Aku memandangi tanganku yang melingkar di lengan Donghae. Kuhembuskan nafas panjang. Aku masih tidak percaya ini semua. Aku sudah berubah status sebagai seorang istri. kau tahu? I-S-T-R-I. Dan lebih parahnya lagi, usiaku masih 17 tahun. Ini benar-benar gila!

”Silakan masuk, permaisuriku.”

Suara itu meleburkan lamunanku. Donghae sedang membuka pintu mobil warna putih yang berhias bunga di bagian depannya itu. senyumnya mengembang.

Tapi dia bilang apa tadi? Permaisuriku?

”Chaerin-ah, ayo cepat masuk!” eomma menyenggol pinggangku.

”Ne, ne, aku masuk.”

Kakiku melangkah ke dalam mobil mewah yang kuyakini milik Donghae itu. sesaat kemudian pintu mobil menutup dan Donghae duduk di sebelahku. Ku pandangi kedua orang tuaku diluar kaca, eomma menitikkan air matanya dan itu membuatku sedih.

”Eomma… uljima…” ucapku lirih.

Mobil pun melaju menjauh dari area pernikahan.

”Kita akan ke apartemenku sekarang.” ujar Donghae. Aku memandangnya.

”Tidak bisakah aku tetap tinggal bersama Appa dan Eomma?” tanyaku setelah aku mengusap air mataku yang menetes.

”Tidak bisa. Kita sudah menikah dan yang bertanggung jawab atas dirimu adalah aku, mulai sekarang.”

Kuhela nafas pasrah. Aku tahu, hidupku akan berubah setelah pernikahan ini. Entah berubah baik atau mungkin… buruk.

 

>>>>>

 

Mataku mengerjap begitu telingaku menangkap suara ponsel yang berbunyi nyaring. Ternyata aku baru saja bermimpi. Setelah tiga bulan berlalu sejak hari itu, inilah pertama kalinya aku memimpikan hari pernikahanku dengan Donghae. Rasanya aneh, tapi juga menyenangkan.

Hooooooaaaaaamm

Aku menguap sambil mengucek mataku yang rasanya masih berat. Setelah nyawaku terkumpul, aku baru menyadari keberadaan Donghae di sebelahku. Tangannya berada di bawah kepalaku dan melingkar memeluk punggungku. Aku mencoba mengingat kejadian semalam. Ah, malu sekali sebenarnya mengingat hal itu. Aku bahkan masih tidak percaya kalau aku bisa melakukannya dengan namja ini. Tapi, entah kenapa aku senang.

Aku mendongakkan kepala untuk melihat wajah suamiku. Dia masih tidur, begitu pulas dan sangat tenang. Aku menyunggingkan senyumku, lalu melingkarkan tanganku di perutnya yang tanpa dibalut sehelai benangpun. Kali ini lebih erat. Ah, nyaman sekali. Aku bisa menghirup bau tubuhnya.

Kunaikkan tubuhku agar sejajar dengan kepalanya lalu membenamkan wajahku di lehernya.

”Donghae-ya, aku pasti sudah gila kan?” ucapku lirih. Kalau dia sadar, aku yakin dia akan tergelitik dengan napasku di lehernya. ”Tapi inilah yang terjadi padaku sekarang. aku sudah bisa memilih siapa yang kusukai dan siapa yang kucintai. Aku baru sadar kalau dua rasa itu berbeda.”

Dia bergerak-gerak. Aku panik dan mulai menjauhkan diri dari tubuhnya. Aigoo, jantungku berdetak cepat sekali! Kalau dia tahu aku baru saja memeluknya seperti itu, mau ditaruh mana mukaku?

Ah, tapi untuk apa aku panik? Toh semalam…

Suara ponsel Donghae berbunyi lagi. Aku terkesiap dan langsung menoleh ke arah Donghae. Ternyata dia hanya bergerak sebentar lalu tidur lagi. Aku segera meraih ponsel itu.

”Yoon Hara?” gumamku. ”Yoboseyo?”

”Eh? Ma-maaf, bukankah ini nomor ponsel Lee Donghae?” tanya seorang yeoja di seberang telepon.

”Benar. Nuguya?”

”Aku… Ah, seharusnya aku yang tanya, kau ini siapa? Kenapa kau yang mengangkat ponsel Donghae oppa?”

Aku mengerutkan alis. Kulirik Donghae sekilas.

”Aku Han Chaerin. Ah bukan, Lee Chaerin.”

”Lee Chaerin?”

”Ne. Donghae masih tidur, jadi aku yang mengangkatnya.”

”Apa?”

”Jadi kau ini siapa? Ada hubungan apa dengan Donghae?”

”Hei, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Kau tidak tahu? Aku ini Yoon Hara, yeoja chingu-nya Donghae oppa.”

”APA?”

 

-TBC-

Ada yang bisa nebak nggak FF ini sampe part berapa? Kalo ada yang bener, author lempar biasnya masing-masing deh. Ottae? ^^

 

>published by.yooNkyu

 

Advertisements

4 thoughts on “[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (Part 12)

  1. Astaga.. Donghae benar2 plinpan belum bisa memutusin harus yg mana.. Yoon hara nelpon dan yg angkat chaerin.. Chaerin kaget banget tuh…

  2. Baru jg baikan kesalah pahaman muncul lg…semoga chaerin ga minta cerai dan donghae mau ngejelasin kesalah pahaman siapa hara itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s