[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (Part 11)

 

Title : Love by Accident

Author : Zatha Amanila

Casts : Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau, Yoon Hara

Genre : Romance

Rating : General

Length : Chaptered

Waktu bikin part ini, author terus-terusan dengerin lagu T-ara yang Cry Cry sama FT Island yang Because I Don’t Know How To Love. Langsung berasa feelnya sama FF sendiri. Hohoho… Kalau kalian mau dapet feelnya juga, author saranin, waktu baca kalian dengerin lagu-lagu yang sedih juga ^.^

~~~~~

Now I know that it’s the end. I know that it’s all just foolisness. I’m just disappointed in myself for not being able to get a hold of you because that pride. Now I erased all of you. I emptied out all of you. But, when the rain falls again, all the memories of you I hid with effort, it all comes back. It must be looking for you. (B2ST – On Raining Days)

DONGHAE’S POV

Aku mengatakannya. Akhirnya aku mengatakan padanya kalau aku mencintainya. Dia nampak terkejut. Tentu saja. Karena kami menikah bukan karena cinta. Tapi karena perjodohan aneh dan tidak masuk akal. Ya, seperti itu. Setidaknya sampai detik ini aku masih menganggapnya begitu.

”Ini gila.” umpat Chaerin sambil memalingkan tubuhnya membelakangiku. Kau benar Chaerin-ah. Ini memang gila. Anhi, aku yang gila. Gila karena bisa jatuh cinta padamu.

”Yeoja itu membutuhkanmu. Tidak ada gunanya kau bicara seperti itu padaku.” ujarnya. ”Apapun yang terjadi, kita akan tetap bercerai.”

Apa? Kenapa begitu? Sedalam itukah cintanya pada Henry sampai-sampai dia tetap meminta cerai dariku? Aku baru saja mengatakan sesuatu yang dulu menurutku haram padanya. Tapi dia tidak mengubah keputusannya. Astaga! Harga diriku langsung jatuh saat ini juga.

”Apa yang kausukai dari Henry, hah? Dia itu hanya…”

”Sudah kubilang ini bukan karena Henry! Kenapa kau terus menyalahkan dia?” seru Chaerin sambil memutar tubuhnya menghadapku lagi. Sorot matanya tajam, seolah-olah ingin menegaskan kata-katanya.

Ada sebening cairan yang membasahi jantungku. Dan itu membuatku lemas.

”Chaerin-ah…”

“Pulanglah.”

Dia tiba-tiba melangkah masuk dan menutup pagar. Aku hanya bisa mematung. Rahangku menguat untuk menahan rasa sakit di hatiku saat ini.

”Bukan Hara yang membutuhkanku. Tapi aku yang membutuhkanmu, Han Chaerin. Aku membutuhkanmu…”

>>>>>

CHAERIN’S POV

Blam!

Aku menutup pintu kamarku perlahan. Kulangkahkan kakiku mendekati ranjang dan duduk di tepinya. Pikiranku masih belum pulih. Donghae, wajahnya, tubuhnya, sorot matanya, masih nampak jelas di anganku. Aku sempat merasa menyesal telah mengatakan ingin bercerai darinya tadi. Dia sudah mengatakan kalau dia mencintaiku. Apa itu salah?

Ah, tidak. Itu tidak salah. Dia berhak mengatakan itu. Hanya saja aku masih tidak percaya. Dia mungkin sedang mabuk tadi.

Haaaaahhh…

Pikiranku kalut! Benar-benar kalut! Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Rasanya mungkin tidak akan berguna lagi kalau aku melakukan sesuatu. Ya Tuhan, kenapa jadi serumit ini?

>>>>>

DONGHAE’S POV

Aku berjalan menyusuri pinggir sungai Han. Angin semilir menggerakkan apapun yang dilaluinya. Kurasakan tengkukku dingin. Angin itu masuk melalui berbagai celah pada kaus panjang tipisku. Aku kedinginan, tapi aku tidak peduli. Itu tidak penting sekarang.

Perasaanku bercampur aduk. Pikiranku tidak menentu.

Bercerai. Bercerai. Bercerai.

Hanya kata itu lah yang selalu menghantui pikiranku. Apa dia tidak merasakan hal yang sama denganku? Apa dia tidak mencintaiku juga? Kami sudah hidup bersama selama hampir lima bulan. Meski untuk sebagian orang itu hanya sebentar, tapi bagiku, lima bulan adalah waktu yang panjang.

Untuk mengenal Chaerin lebih jauh, untuk mengubah sifat angkuhnya, untuk membuatnya nyaman berada satu rumah denganku, untuk membuat jantungku berdebar saat melihat dia tersenyum, dan untuk membuat aku jatuh cinta padanya. Itu adalah waktu yang sangat lama.

Kutatap air sungai Han yang tenang dan berhias kerlip lampu gedung-gedung pencakar langit di depanku. Aku ingin bernafas normal tapi nampaknya dadaku terlalu sesak untuk itu. Mungkin aku sudah rapuh sekarang. Rapuh hanya karena seorang gadis ingusan seperti Han Chaerin.

Kukeluarkan sebuah kalung perak berbandul kepala panda yang sedang tersenyum dari saku celanaku. Aku membeli kalung ini untuk Chaerin di Jepang kemarin, di sebuah toko aksesori. Dia sangat suka panda. Aku rasa dia juga akan menyukai kalung ini.

Entah aku bisa benar-benar memberikannya pada Chaerin atau tidak. Setelah kejadian ini dan kondisi Hara yang sedang amnesia, aku mungkin tidak bisa bertemu Chaerin lagi. Mataku panas mengingat hal itu. Kudongakkan kepala agar air mataku tidak jatuh dan semakin membuat buruk perasaanku.

Aku rasa, aku akan tetap di sini sampai perasaanku kembali normal.

>>>>>

HENRY’S POV

Begitu aku keluar dari kamar, aku melihat Leeteuk hyung berjalan mondar-mandir di ruang tamu dorm dengan ekspresi cemas pagi ini. Eunhyuk hyung ada di sofa sambil menyilangkan kakinya dan berlipat tangan memandang meja di depannya. Dia juga nampak cemas.

”Apa Donghae hyung masih belum pulang hyung?” tanyaku.

”Belum.” jawab Eunhyuk hyung tanpa memandangku. Dia mendesah berat. Aku memutuskan untuk mengambilkan air putih untuk kedua hyungku itu.

”Minumlah dulu, hyung.” kuletakkan dua gelas air putih itu di meja. Leeteuk hyung langsung menyambar dan meneguknya hingga habis tak tersisa. ”Aku yakin Donghae hyung tidak apa-apa. Sebentar lagi dia pasti akan pulang.”

Aku duduk di samping Eunhyuk hyung. Dia menoleh sekilas. ”Aku harap juga begitu.”

Leeteuk hyung nampak menempelkan ponsel di telinganya. Dia mendesah kesal. ”Ponselnya tetap tidak aktif! Sebenarnya dia kemana? Di rumah sakit tidak ada. Di rumah Chaerin juga tidak ada. Apa dia tidak tahu kalau kita mengkhawatirkan keadaannya? Aiisshh…”

Di rumah Chaerin? aku rasa memang tidak. Hubungan mereka sedang tidak baik sekarang. Mana mungkin Donghae hyung ada di sana. Tapi tidak salahnya untuk memastikannya lagi sekarang.

”Hyung, aku keluar dulu.”

Blam!

Sambil berjalan menuju lift, aku menekan nomor Chaerin di ponselku.

”Yoboseyo?” Chaerin menyahut dari seberang telepon.

”Pasta-chan? Kau di rumah sekarang?”

”Tidak. Aku di sekolah.”

Ah, bodoh sekali! Pagi-pagi begini dia memang sedang belajar di sekolah.

”Ada apa?” tanyanya.

Aku berhenti di depan lift yang sedang bergerak naik dari ground floor. ”Apa kita bisa bertemu setelah kau pulang sekolah?”

Sepi. Chaerin tidak menjawab apapun. Tapi aku bisa mendengar desah napasnya dari telepon.

”Halo? Pasta-chan?”

”Maafkan aku, Henry-ah.”

Ting!

Pintu lift terbuka. Aku baru akan melangkah masuk saat kudengar suara Chaerin kembali menyahut dari seberang telepon.

”Aku tidak bisa bertemu denganmu sampai ujian kelulusanku selesai.”

Kakiku berhenti bergerak. Aku mencoba menetralisir ucapannya. dia tidak bisa bertemu denganku sampai ujian kelulusannya selesai. itu alasan yang sederhana. Tapi kenapa perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak?

”Songsaenim sudah datang. Aku harus menutup teleponnya sekarang.”

Pip.

Sambungan telepon terputus. Aku masih membatu di depan lift, sementara pintu lift bergerak menutup. Aku hanya ingin menanyakan keberadaan Donghae hyung padamu, tapi sikapmu sepertinya…. Han Chaerin, apa kau mulai mencoba menghindariku sekarang?

>>>>>

DONGHAE’S POV

Kubuka pintu kamar rawat Hara di rumah sakit. Aku terperanjat saat melihat dia berdiri di samping ranjang sambil merapikan selimutnya. Perban di kepalanya belum dilepas, tapi dia sudah beranjak dari ranjang.

”Eh? Donghae oppa? Kau sudah datang rupanya.” seru Hara dengan senyum merekahnya. Aku berjalan mendekatinya.

”Kenapa kau sudah berdiri? Kau harus istirahat yang cukup agar cepat sembuh.”

”Aniyo, oppa. Aku baik-baik saja. Kepalaku juga tidak terasa sakit. Kau tenang saja.” jawabnya. ”Kau darimana saja, oppa? Aku meneleponmu sejak semalam tapi ponselmu tidak aktif. Astaga! Kau pucat sekali!”

Hara menyentuh kedua pipiku. Tanganku reflek menurunkan tangannya.

”Aku hanya tidak bisa tidur semalaman karena terlalu lelah. Jadwalku cukup padat kemarin.” jawabku asal.

“Jadi begitu?” Hara mengagguk-anggguk pelan. ”Oppa, aku ingin pulang hari ini juga. Aku sudah tidak tahan tinggal di rumah sakit. Aku tidak betah.”

”Kau yakin?”

”Hmm.” Hara mengangguk mantap.

”Kalau begitu aku bicarakan dengan dokter dulu. Kau tunggu sebentar di sini.”

”Ne.”

Aku segera keluar dari kamar rawat Hara menuju ruang dokter. Dalam perjalanan ke sana aku merasa kepalaku pusing.

Hatcih!

Ah, aku kena flu. Ini pasti karena terlalu lama berada di tempat terbuka. Begitu sampai dorm, aku harus tidur.

>>>>>

CHAERIN’S POV

Waaahh… cuaca hari ini benar-benar bagus. Sejak pagi aku tidak merasakan dingin sedikitpun. Matahari juga terus memancarkan sinarnya yang hangat. Kuhirup udara dalam-dalam begitu aku keluar dari gedung sekolah. Aku harus pergi jalan-jalan sekarang. Tidak seru kalau aku hanya diam di rumah saja.

”Chaerin-ah!” panggil seseorang dari kejauhan. Aku membalikkan badan dan mendapati Yeonhee sedang berlari kencang ke arahku.

”Ada apa?”

Yeonhee mengatur nafasnya yang tersengal-sengal di depanku sambil membungkuk.

”Aku ingin… pinjam… bukumu…”

”Pinjam buku? Buku apa?” tanyaku bingung. Yeonhee menegakkan tubuhnya. Tapi nafasnya masih terdengar memburu.

”Buku kumpulan toefl yang pernah kaubawa ke sekolah waktu itu. Aku ingin belajar toefl karena aku akan kuliah di Amerika.”

”Jinjja? Whoaaaaa kau hebat sekali, Yeonhee-ya!” aku menepuk-nepuk bahu Yeonhee pelan. ”Arasseo. Besok akan kubawakan bukunya untukmu.”

”Ah, kau baik sekali, Chaerin-ah. Gomawo,”

”Ne. Tidak usah sungkan.” jawabku. ”Aku harus pulang sekarang, annyeong!”

Aku segera beranjak pergi menjauhi Yeonhee. Hari ini aku tidak membawa sepeda, aku menggunakan bus sebagai gantinya. Untuk itu, aku berjalan menuju halte yang paling dekat dengan sekolahku.

Astaga! Aku melupakan sesuatu. Buku kumpulan toefl itu kan ada di rumah. Ah, maksudku rumah Donghae di Mokpo. Aku sudah berjanji akan membawa buku itu besok. Aiiisssshh mau tidak mau, aku harus pergi ke Mokpo sekarang juga.

Kubalikkan tubuhku dan berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah.

>>>>>

DONGHAE’S POV

”Terima kasih sudah mengantarku, oppa.” ucap Hara begitu aku menghentikan mobil tepat di depan rumahnya.

Saat dokter mengatakan kalau Hara sudah boleh pulang, dia langsung memintaku untuk mengantarnya ke rumah. Karena aku tidak membawa mobil, jadi aku menelepon Hyukkie untuk mengantarkan mobilku ke rumah sakit.

”Kalian tidak mau mampir dulu?” tanya Hara padaku dan Hyukkie.

”Mungkin lain kali. Kami masih ada recording hari ini.” jawabku. Hyukkie hanya menganggauk-angguk membenarkan ucapanku.

”Geurae? Arasseo.” Hara menyunggingkan senyumnya.

”Hara-ya, sampaikan salamku pada kedua orangtuamu ya.”

”Baiklah, akan kusampaikan nanti. Oppa, jangan lupa telepon aku kalau kau sudah sampai di dorm ya!”

Aku sedikit terperanjat. Dulu Hara memang selalu menyuruhku untuk meneleponnya saat kami berpisah seperti ini. Tanpa kusadari, aku sudah kembali ke waktu itu, di mana aku dan Hara masih berpacaran. Dan entah kenapa, aku tidak suka ini semua.

”Arasseo. Cepat masuk ke dalam!”

”Ne.”

Hara membuka pagar rumahnya dan tersenyum sebentar padaku. Hyukkie langsung meloncat ke sampingku begitu pintu pagar tertutup.

”Donghae-ya, dia kena amnesia kan? Aku rasa masalahmu sangat berat sekarang. bagaimana kau menyelesaikannya? Kasihan sekali kau ini.” ucap Hyukkie seraya menepuk-nepuk pundakku.

”Hyukkie-ah, antar aku ke Mokpo sekarang. Kau yang menyetir!”

”Bo?”

>>>>>

CHAERIN’S POV

Aku berjalan pelan menuju rumah. Langkahku terhenti di depan pagar mungil warna putih ini. Kupandangi sejenak rumah itu. Ini rumah impianku. Rumah yang ingin kubangun begitu aku sudah bekerja dan menjadi orang yang sukses. Tapi impianku kandas tiba-tiba karena Donghae. Dia yang mewujudkan impianku ini tanpa sengaja. Ya, aku tahu dia tidak sengaja membeli rumah yang sesuai dengan rumah impianku.

Kubuka perlahan pintu pagar itu lalu melangkah masuk. Sudah berhari-hari aku tidak kemari. Begitu aku membuka pintunya, hawa pengap menghinggapi indera penciumanku. Aku reflek menutup hidung. Agaknya aku harus membersihkan rumah ini lebih dulu baru mencari buku kumpulan toefl yang dipesan Yeonhee.

Kuletakkan tas dan kubuka blazer seragam sekolahku di atas sofa ruang tamu. Aku mulai membersihkan lantai dengan menyapu dan mengepelnya. Sambil mendengarkan acara musik yang sedang disetel oleh salah satu tivi swasta, aku beranjak menggerak-gerakkan kemoceng untuk membersihkan meja, rak hias, dan jendela. Huaaahh… kotor sekali!

Uhuk! Uhuk!

Aku menepuk-nepuk dadaku. Debu-debu ini membuatku batuk. Lebih baik kuhentikan. Lagi pula aku sudah lelah. Keringat membasahi kemeja putihku. Rambut yang kuikat nampak berantakan. Setidaknya rumah ini sudah lebih baik dari sebelumnya.

Aku beranjak ke dapur dan menuangkan segelas air putih dari dalam kulkas. Kuteguk air itu hingga habis. Aku terduduk lemas di kursi makan. Kubiarkan kepalaku terkulai di atas meja. Mataku memandang jendela di depan kompor. Aku menghembuskan nafas berkali-kali. Aku baru akan memejamkan mata saat kudengar seseorang memanggil namaku.

Aku terperanjat.

”Donghae?”

Aku melihat Donghae sedang membuat segelas susu di hadapanku. Aku berdiri.

”Sejak kapan kau ada di sini?” tanyaku. Tapi Donghae tidak menggubris pertanyaanku. Dia tetap asik membuat susu sambil sesekali menguap.

”Donghae-ya! Aku sedang bertanya padamu!” kukencangkan suaraku. Mungkin dengan begitu, dia bisa menjawabku. Tapi dugaanku salah. Dia benar-benar mengacuhkanku.

”Aduuhh…”

Aku mendengar suara seorang yeoja yang meringis kesakitan. Kubalikkan tubuhku. Aku terperanjat lagi. Yeoja itu kan… aku.

”Gwaenchanayo? Sini, biar kulihat lukamu.” Donghae menghampiriku, ah bukan, tapi menghampiri yeoja yang mirip denganku itu sambil menyentuh keningnya.

”Aniyo, aku baik-baik saja. Ah, kalau tidak cepat-cepat, aku akan semakin terlambat!”

Yeoja itu pergi ke kamar dengan langkah tergesa-gesa. Sementara Donghae kembali ke meja makan, membereskan kotak susu dan kantung plastik yang entah isinya apa.

”Dasar ceroboh!” umpatnya sambil mengaduk susu. Dia mengatakan itu sambil tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum difoto yang tersebar di internet itu.

Tiba-tiba sosok Donghae memudar dari pandanganku.

Aku terpaku. Astaga! Apa yang baru saja kulihat? Apa aku sedang berhalusinasi sekarang? kejadian yang baru saja terjadi di depan mataku adalah kejadian saat aku dan Donghae baru saja pindah ke rumah ini. Aku menyentuh keningku. Tidak terasa sakit.

Tentu saja, karena luka akibat terbentur rak hias itu sudah tidak ada lagi. Dadaku tiba-tiba sesak. Aku kembali terduduk di atas kursi. Aku tidak sedang sakit saat ini. Tapi kenapa aku bisa berhalusinasi seperti ini? Apa yang terjadi padaku sebenarnya?

Mataku panas. Rasanya paru-paruku nyeri saat aku mencoba bernafas normal. Aku tidak mengerti diriku sendiri. Sungguh. Mungkin saja aku memang sedang gila.

”Ani, ini pasti karena aku terlalu lama berada di sini. Aku harus segera pergi dari sini.”

Aku bangkit dan berjalan menuju kamar untuk mengambil buku kumpulan toefl. Saat mengobrak-abrik lemari yang berisi buku-bukuku, aku menemukan kotak persegi berukuran sedang warna merah di sana. Ini adalah kotak rahasiaku. Aku tertegun memandangnya. Di dalam sini tersimpan semuanya tentang Henry.

Kuputuskan untuk membukanya. Kotak ini memiliki kode. Setelah kutekan beberapa angka yang merupakan tanggal lahir Henry, kotak itu terbuka. aku langsung menemukan foto masa kecilku di California bersama Henry. Ini foto saat aku merayakan ulang tahun yang ke 10. Henry mencium pipiku.

Aku sangat malu setelah Henry melepaskan bibirnya dari pipiku. Aku langsung menganggap kalau dia menyukaiku saat itu. Tsk, pemikiran yang benar-benar polos kan? Henry melakukan itu karena orangtuaku yang menyuruhnya.

Selain foto itu, masih ada foto-foto lain. Tapi aku tidak tertarik melihat foto-foto itu lebih lama. Aku mengambil sebuah buku diary pink bergambar barbie. Buku diary itu berisi keseharianku di California hingga aku akhirnya pindah ke Korea. Semuanya ada di dalam buku mungil itu.

Lagi-lagi aku tidak berniat untuk membuka, apalagi membacanya. Entah berasal darimana sugesti itu. Padahal aku sudah lama sekali tidak membuka kotak ini.

Karena merasa tidak ada gunanya, kututup kembali kotak itu. Aku akan membawanya ke rumah Appa dan Eomma. Ah ya, aku kekurangan baju ganti juga di sana. Lebih baik aku membawa semua bajuku. Aku tidak akan tinggal di sini lagi karena aku akan melayangkan surat cerai pada Donghae secepatnya.

Kubuka lemari dan menaruh koper dalam keadaan terbuka di atas ranjang. Tanganku mulai bergerak memindahkan semua bajuku ke dalam koper. Aku tertegun melihat satu kaus v-neck warna putih berada di tumpukan paling atas baju-bajuku. Ini bukan kausku, tapi kaus Donghae.

Kuambil kaus itu, berniat untuk menaruhnya kembali ke dalam lemari. Tapi hidungku menemukan bau yang lain secara tiba-tiba. Bau Donghae. Aku yakin kaus ini yang memancarkan baunya. Astaga, bau ini benar-benar menyengat. Kudekatkan kaus itu ke wajahku, dan tanpa sadar, aku tenggelam dalam lembutnya kaus itu.

Bau ini membuat hatiku sakit. Aku seolah merasakan keberadaan Donghae di sini. Di dekatku. Ya Tuhan, apa aku sedang merindukan Donghae? Apa aku merindukan suamiku itu?

>>>>>

AUTHOR’S POV

Eunhyuk menekan pedal gas hingga seratus km/jam di jalan tol sambil sesekali menoleh ke arah Donghae yang setengah tertidur di sampingnya. Wajah Donghae pucat. Keringatnya bercucuran di dahi. Eunhyuk panik sendiri. Donghae tiba-tiba seperti itu sejak mengantar Hara ke rumah gadis itu tadi.

”Kau benar-benar tidak ingin kuantar ke rumah sakit, Hae? Kau pasti demam.”

”Ani. Aku hanya ingin kembali ke rumah, Hyuk.” jawab Donghae dengan mata yang tertutup.

”Di rumahmu tidak ada siapa-siapa, Hae. Bagaimana kau bisa sembuh? Jadwal kita masih padat, kau harus sehat secepatnya.”

Donghae tidak menjawab. Dia menggigil.

”Astaga. Apa yang harus kulakukan?”

>>>>>

Eunhyuk menghentikan mobilnya di depan rumah Donghae. Dia segera turun dan membukakan pintu untuk Donghae. Namja itu memapah Donghae yang terlihat lemas meski dia masih bisa berjalan.

”Kau bawa kunci rumahmu?” tanya Eunhyuk.

Donghae terkesiap. ”Aku lupa kalau kunci rumah kuberikan pada Chaerin.”

”Aiissshh lalu bagaimana caranya kita bisa masuk?” protes Eunhyuk. ”Apa aku harus menelepon Chaerin untuk mengantarkan kuncinya sekarang?”

”Jangan. Lebih baik kau jangan mengganggunya lagi karena aku.”

Eunhyuk menatap penuh arti pada Donghae. ”Lalu, bagaimana sekarang? aku bilang juga apa. Lebih baik kita ke rumah sakit dulu tadi. Kau sudah seperti orang sekarat, Hae.”

Donghae diam. Eunhyuk terus mencari cara bagaimana bisa masuk ke dalam rumah itu.

”Hei, kau dengar sesuatu? Sepertinya ada suara tivi dari dalam.” Eunhyuk mendekatkan telinganya di pintu. Kening Donghae mengerut.

”Apa jangan-jangan… ada hantu di rumahmu ini? Hiiiiyy…” Eunhyuk bergedik ngeri.

Pletak!

Satu jitakan melayang ke kepala Eunhyuk dengan tidak sukses, karena tangan Donghae yang sedang lemas.

”Tidak ada yang seperti itu di rumahku, Hyuk.”

”Lalu siapa? Tidak mungkin kan…” Eunhyuk menggantung kata-katanya. ”Ah, benar! pasti Chaerin-ssi ada di dalam. Coba kubuka.”

Ceklek!

”Benar kan!” seru Eunhyuk gembira. Ia masuk ke dalam rumah, disusul Donghae yang mengikutinya dengan langkah gontai.

Eunhyuk mengambil blazer sekolah Chaerin yang ada di atas sofa. ”Bukankah ini blazer milik Chaerin-ssi? Aaahh… ternyata aku ini memang sangat jenius! Kekeke~”

Eunhyuk terkekeh sendirian, sementara Donghae berjalan ke kamarnya. Dia terperanjat begitu mendapati istrinya sedang menenggelamkan wajahnya di atas kaus miliknya.

”Chaerin-ah,” panggil Donghae lirih. Yang dipanggil mendongak dengan ekspresi terkejut.

”Donghae-ya?”

-TBC-

Bagaimanakah sejauh ini FF-nya? Konfliknya berasa nggak? Ayo commeeeeeeeeeeent ^o^

Advertisements

3 thoughts on “[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (Part 11)

  1. Wahh senangnya,,akhirnya bisa baca ff Donghae oppa myPrince ini dipart selanjutnya 🙂 tapi kenapa pendek amat yak,? Author panjangin lg dong ffnya^^ #puppyeyes Nunggu ff ini jg smpe lumutan,,sm kaya nunggu ff kyuhyun oppa -,-

  2. Donghae udah bilang cinta sama chaerin, tapi chaerin tetap aja minta cerai.. Wuah, hara amnesia, makin sulit juga kisah cinta donghae sama chaerin.. Chaerin pulang kerumah, donghae punya feeling kali ya kalau istrinya ada di rumah..

  3. Chaerin minta cerai tapi menyakiti hatinya sendiri dan donghae..ku harap chaerin tidak keras kepala meminta cerai terus…semoga pertemuanya dengan donghae bisa memperbaiki hubungan mereka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s