[Ryeowook] Twoshot – Unstoppable Memories (Part 2-END)


Tittle               : Unstoppable Memories Part 2

Author            : Sarasenia / Banhanaa Cubbeiy

Twitter / FB   : @BanhanaaCubbeiy

Lenght            : Twoshoot

Cast                :

– Kim Ryeo Wook

–  Shin Hyo Rin

–  Kim Jong Woon

–  Others

Genre             : AU!, Romance, General.

Rate                : PG 13, General

Disclaimer      :

Halooooo…. Udah lama aku gak nulis FF neh?! Terakhir akhir tahun 2013 dan itupun FF Chapter yang tak berujung. Na kebetulan otak sedang kebalik maka menetaslah FF ini.

FF ini murni hasil jerih payah saya, berasal dari otak saya yang sedang sengklek. Dan FF ini saya dedikasikan untuk Shin Hyo Rin, entah mengapa pengen menggunakan nama dia sebagai main cast. This FF belong to me and Kim Ryeowook belong to me, hahahaha Tidak, Kim Ryeowook dan Super Junior milik mereka sendiri(?).

Oke, happy reading   Dan typos in every where 😀

***

***

Suasana dikediaman keluarga Shin sepi seperti biasanya. Meski sehari – hari suasana itu sepi, tapi kali ini seakan sepi itu lebih sepi dari biasanya. Dingin itu lebih dingin dari biasanya. Dan Shin Hyo Rin membenci itu. Bahkan dalam kamarnya yang dipenuhi dengan berbagai macam aksesoris, berbagai macam boneka, berbagai macam peralatan hiburan dari TV hingga satu set home theater, dari radio hingga alat karoke, dari barang pinggir jalan hingga barang branded limited edition.

“Rinnie, bersabarlah, ini yang terbaik untukmu.”

“Tapi aku tidak merasa ini terbaik untukku, Oppa!” Shindong mengerti ucapan adiknya itu. Tapi mengerti itu lebih menyiksa dibandingkan tidak bisa melakukan apa – apa sama sekali.

“Kau membencinya?”

“Aku tidak bilang membencinya!”

“Lantas apa yang membuatmu menolak Lee Hyuk Jae?”

“Aku juga tidak menolaknya!”

Begitulah Hyo Rin. Meski ceria, dia termasuk seseorang yang keras kepala.

“Lantas apa?!”

Oppa, aku tidak membenci Hyuk Jae, aku tidak bisa bilang aku tidak menyayanginya. Aku menyukainya, suka terhadap sesama rekan, sesama sahabat seperti yang selama lima belas tahun ini terjalin. Tapi ketika tali persahabatan itu mulai dirasuki rasa cinta itu aneh menurutku, ditambah tali itu dengan sengaja dikaitkan lalu disimpul mati. Aku tidak bisa membayangkan jika aku bertemu dengannya suatu saat nanti. Ah, aku tidak tahu!”

“Ya sudah, tenang saja, Rinnie. Lagipula Oppa senang kau akhirnya kembali.” Shindong memeluk adiknya hangat.

You are the best Oppa!” ujar Hyo Rin senang. Sudah lama ia tak bermanja ria dengan kakaknya yang lucu ini. Sungguh dari semuanya, yeoja itu sangat merindukan sosok Shindong yang selalu menghiburnya, selalu mengerti keadaannya dan yang pasti selalu menyayanginya.

***

Eomma, jebal! Aku tidak mau!”

“Kau anak kesayangan Eomma, jangan kecewakan kami, Rinnie.”

“Pernahkah Eomma mengerti perasaanku?” ujar Hyo Rin sambil membanting garpu serta sendoknya, membuat suara berdenting terngiang di ruang makan kediaman keluarga Shin tersebut.

Suasana masih pagi, tapi entah mengapa hawa panas sudah merasuki tubuh Hyo Rin. Kesal, tentu saja. Inilah yang paling tidak disukainya, berdebat dengan kedua orang tuanya sendiri. Apalagi perdebat mengenai rencana pertunangannya dengan Lee Hyuk Jae.

“Sudahlah, bukankah saat makan kita harus tenang?” sahut Shindong menimpali, disetujui oleh Tuan Shin yang saat itu memeilih diam.

“Baiklah, “ ujar Ibu Hyo Rin, suaranya berwibawa namun terdengar sangat tegas. “Kau boleh mengajukan satu permintaan, ingat, hanya satu, Rinnie.”

“Benarkah?”

“Tentu saja, tapi tetap JANGAN KECEWAKAN Eomma!”

“Pasti! Pasti! Aku sayang Eomma!” teriak Hyo Rin gembira sambil berlari menuju Eommanya dan menciumnya.

***

“Boleh aku bekerja disini?”

Sebuah pertanyaan yang sangat tolol ditengah padatnya pelanggan kafe dan jelas – jelas pengumuman di depan kafe menjelaskan jika tidak ada lowongan untuk menjadi pegawai di kafe ini.

“Kau ini bodoh atau ap−?” suaranya tercekat ketika mendapati sosok yang selama ini selalu dirindukan namja cute itu. Hyo Rin.

“Hei, aku serius!”

“Yang jelas aku tidak memperkejakan pegawai yang kabur dari rumahnya!” Hyo Rin lantas tertawa terbahak saat mendengar jawaban Ryeowook. Jadi ini bentuk cemburu sekaligus kesal dari seorang Kim Ryeowook?

“Kau tidak merindukanku?” tanya Hyo Rin lirih yang sukses membuat gelas ditangan mungil Ryeowook  hampir meleset.

“Bagaimana kalo kita kencan?”

Ini pertanyaan tolol lainnya? Bagaimana bisa Shin Hyo Rin mengajak seorang Kim Ryeowook kencan? Dari yang Ryeowook dengar,bukankah Hyo Rin akan melangsungkan pertunangan? Karena itulah yeoja cantik keras kepala itu kabur dan meresahkan hidup Ryeowook. Bisa – bisa Shindong serta Yesung Hyung mencekiknya sampai mati jika itu terjadi, mengingat Shindong juga turut andil dalam investasi kafenya.

“Kau gila!”

“Ya aku memang gila!”

“Hei, sadarlah, Hyo Rin-ah!”

“Aku sudah sangat sadar saat ini. Entah denganmu,” sahut Hyo Rin.

“Bagaimana dengan pertunanganmu?”

“Jadi kau lebih suka aku bersanding dengan lelaki lain?”

“Bukan itu tapi…”

“Ku tunggu besok di Namsan Tower. Jangan terlambat, bye...” Hyo Rin pergi meninggalkan Ryeowook yang melongo.

Benar – benar zombie!

***

Wajahnya yang cantik hilang sudah, yang ada hanya wajah yang ditekuk akibat kesal. Mengapa Ryeowook membawanya kemari? Bukankah rencana awal akan berkencan di Namsan Tower? Melihat pemandangan indah, membeli gembok lalu memasangkannya bersama? Argh! Dasar Kim Ryeowook bodoh!

“Ini…” Ryeowook menyodorkan satu bungkus es krim vanilla kesukaan Hyo Rin. Tepat sekali di saat cuaca panas begini, tapi Hyo Rin sudah terlanjur kesal dengan namja imut nan bodoh itu!

“Tidak mau? Yasudah aku−“

“Jangan!” Hyo Rin segera menyambar es krim vanilla di tangan Ryeowook. Yang benar saja, kesempatan emas disia – siakan. Masa bodoh dengan rasa kesalnya pada Kim Ryeowook, yang penting pelepas dahaga diterimanya secara gratis!

Keduanya kini duduk di bangku taman dekat wahana komedi putar seraya asyik menikmati es krim mereka, tak peduli lalu lalang orang sekitar yang lewat dan menatapnya sambil bergumam ‘seperti anak kecil’. Ya, saat ini Kim Ryeowook dan Shin Hyo rin berada di Lotte World, wahana bermain yang terkenal di Seoul.

“Yak, mengapa kau mengajakku kemari?”

“Aku ingin bermain. Itu saja.” Hyo Rin mencibir kesal. Persis seperti anak kecil jika medengar jawaban namja umut satu ini.

“Aigo~ padahal aku ingin ke Namsan Tower, kau malah membawaku kemari.” Masih bersungut – sungut disela jilatan es krimnya, membuat bibir ranum Hyo Rin penuh dengan es krim.

“Ck, lihatlah kau jadi seperti anak kecil disana?” Ryeowook menunjuk anak kecil sekitar empat atau lima tahun yang tengah menikmati es krim namun meleleh kemana – mana. “Sini,” tambahnya kemudian mengusap sudut bibir Hyo Rin yang penuh dengan es krim dengan ibu jarinya.

Hyo Rin kaget setengah mati. Fokusnya saat itu tengah menatap anak kecil yang Ryeowook bicarakan, namun detik berikutnya ia seakan mati kutu dengan sentuhan Ryeowook. Satu menit serasa satu jam yang sangat memabukkan, belum lagi jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Ya Tuhan kenapa ini?!

“Nah, sudah!” kata Ryeowook kalem, namun berefek besar pada Hyo Rin. Entah, namja cute itu menyadarinya atau tidak, yang jelas saat ini wajahnya yang putih sudah berubah kemerahan, persis seperti kepiting rebus.

“Setelah ini ingin ber..main apa?” Sial, Shin Hyo Rin mengapa kau jadi gugup sendiri? Runtuknya dalam hati.

“Entahlah, istirahat dulu mungkin.”

Benar, mereka sudah dua jam mengintari tempat luas ini, sudah berbagai wahana hampir dicoba kedua makhluk yang statusnya saat itu sedang berkencan, wajar saja jika namja bermarga Kim itu lelah dan ingin beristirahat.

“Hyo Rin-ah, bagaimana pertunanganmu?”

Bibirnya mengulas senyum, menambah pesona cantik  di wajah Hyo Rin, “menyebalkan, tapi Eomma memberiku satu permintaan yang akan dipenuhinya.”

“Benarkah?” Balas Ryeowook antusias, dalam hati merasa bersyukur . “Apa itu?”

“Permintaanku sedang terkabul, tepatnya hari ini, berkencan denganmu.” Sungguh, jika tidak tahu malu, tubuh mungil Ryeowook sudah berlari kegirangan. Tuhan, inikah jawabanmu?

“Kau tidak sedang bercanda, kan, nona Zombie?”

Dasar bodoh, pertanyaan bodoh yang Hyo Rin dengar. Argh! Kim Ryeowook kenapa kau sebodoh itu, huh?!

“Sudahlah, aku ingin bermain!”

“Hei, kenapa tiba – tiba? Kau ingin bermain apa?”

“Itu!” Jawab Hyo Rin mantap membuat Ryeowook pucat seketika. Roller coaster!

Selama bermain wahana yang mampu membuat siapa saja jantungan itu, bibir mungil milik namja imut itu terus berkomat kamit. Menyebut, bergumam, memohon, berserah, dan apapun itu namanya agar dirinya yang takut ketinggian itu selamat. Sebenarnya ia dengan keras menolak, namun bujuk rayu Hyo Rin terus saja terlontar membuat Ryeowook mau tak mau menyetujui untuk ikut naik wahana yang menantang adrenalin tersebut.

Pucat. Bahkan rona diwajahnya yang mulus seakan sirna, matanya menatap kosong, persis seperti orang yang dihisap kebahagiaannya oleh makhluk bernama dementor. Ryeowook berjalan lunglai, benar – benar wahana pencabut nyawa! Bagaimana bisa Hyo Rin justru bersemangat dan ingin menaikinya lagi? Sedangkan dirinya, oh jangan ditanya jika seorang Kim Ryeowook naik kembali Roller Coster, tamat sudah riwayatnya.

“Baiklah, kau tunggu disini saja, jangan kemana – mana aku ingin naik sekali lagi!” Titah Hyo Rin kemudian berlari meninggalkan Ryeowook yang terduduk lunglai tak berdaya di bangku tak jauh dari wahana mematikan itu.

Sudah hampir satu jam Ryeowook menunggu, namun sosok Hyo rin tak kunjung menampakkan diri.  Haish, kemana perginya nona Zombie itu?! Dengan terpaksa Ryeowook beranjak dari duduknya dan mulai mencari Hyo Rin. Tanpa di ketahui, dari arah yang berlawanan Hyo Rin muncul. Namun sayang tak menemukan Ryeowook.

Berteriak, bertanya, bahkan acap kali salah memanggil orang sudah Ryeowook lakukan. Namun hasilnya nihil, ia tak menemukan Hyo Rin dimanapun. Mungkinkah ia pulang atau…? Dan hari mulai menjelang sore, Lotte World perlahan ditingkalkan oleh pengunjung yang sudah mulai lelah, sehingga suasana tak seramai tadi.

Oppa! Oppa!” Telinga Ryeowook berdengung mendengar suara teriakan kecil yang tak asing, tapi sepertinya mustahil jika itu Hyo Rin, toh yeoja itu tak pernah memanggilnya dengan sebutan Oppa. Tanpa digubrisnya, Ryeowook terus saja berjalan, berusaha mencari Hyo Rin.

“Oppa! Ryewoook Oppa!” Sungguh kali ini tak salah dengar, itu namanya, nama yang dipanggilnya. Dengan cepat tubuh mungil Ryeowook berbalik dan tepat pada saat itu juga Hyo Rin sudah berada di hadapannya. Dan kini keduanya berhadap – hadapan.

“Kau tega!” suaranya lirih akibat hembusan napasnya yang tak teratur. “Kenapa seperti ini, eoh? Kau tega Oppa, harusnya ini hari kita, kencan kita, mengapa harus seperti ini. Huh?!”

Ryeowook tergugu, meski tak nampak, namun ia yakin Hyo Rin terisak tanpa mengeluarkan air mata. “Hyo Ri-ah maaf.”

“Kau tahu bagaimana hari ini tercipta? Hari dimana kesempatan sekali dalam seumur hidup, hari kencan kita. Apa kau tak senang, Oppa?”

Hyo Rin-ah? Ada apa? Mengapa kau sepertinya kecewa? Aku senang, bahkan ini hari yang indah selama aku hidup. “Maaf, sekali lagi maaf, Shin Hyo Rin.” Dari sekian banyak kata yang ingin diucapkan Ryeowook, hanya maaf yang akhirnya terlontar. Kemudian, tangan mungil Ryeowook merengkuh tubuh Hyo Rin, memeluknya, mengusap punggungnya. Sungguh ia tak bermaksud merusak hari indah ini, tak bermaksud merusak kencan ini.

“Oppa, sudahlah. Lebih baik antar aku pulang.” Tanpa menjawab, Ryeowook berjalan beriringan sembil terus menggandeng tangan Hyo Rin. Tangannya tertaut, tak ingin ia lepas bahkan untuk sedetikpun.

“Aku senang hari ini, karena inilah permintaanku yang dikabulkan oleh Tuhan dan juga Eomma. Aku senang hari ini, karena ini aku menghabiskannya dengan orang yang kusayangi. Aku senang hari ini karena kencan ini merupakan kencan yang sangat langka.”

“Ya, aku juga senang karena hari ini ada. Terima kasih, Hyo Rin-ah.” Balas Ryeowook diiringi genggaman tangannya yang semakin erat.

“Hanya itu?” Hyo Rin berhenti melangkah, ia menoleh dan memandang Ryeowook dalam. Dalam hatinya ingin mendengar kata – kata yang lebih dari sekedar terima kasih.

Langkah kakinya ikut terhenti lalu membalas tatapan Hyo Rin dengan penuh tanya. “Aku senang karena aku bahkan tak membayangkan jika hari ini ada. Terima kasih Hyo Rin-ah.”

Hening. Hanya ada seulas senyum tipis dari bibir ranum Hyo Rin setelah beberapa detik tak ada suara dari keduanya. Ya, itu, memang hanya itu yang di ucapkan Ryeowook dan itu sudah menjawab  semuanya.

Keduanya pulang ditemani matahari yang perlahan kembali keperaduan. Entah apa yang terjadi esok, tidak ada yang tahu.

***

Cantik. Pantulan sosok cantik itu terus meneliti lewat cermin. Hyo Rin tak hentinya tersenyum gembira melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Gaun selutut berwarna biru laut membalut tubuhnya yang putih, wajahnya dirias dengan kesan natural namun Hyo Rin terlihat semakin cantik. Rambutnya yang panjang digelung dengan sederhana, dibubuhi hiasan rambut berbentuk bunga lily putih dengan mutiara ditengahnya.

Omo! Rinnie, adik kesayayangan Oppa sungguh cantik!” sebuah suara membuyarkan kegiatan Hyo Rin. Dilihatnya Shindong Oppa tengah masuk dan menghampiri adik semata wayangnya. Shindong tak kalah tampan dengan tuxedo melekat pada tubuhnya yang tambun.

Oppa, kau juga tampan!”

“Tapi sayang tak seberuntung kau, Rinnie!” jawabnya dengan ekspresi murung yang dibuat – buat.

Aigo~ Oppa, kau harus menyusulku segera!”

“Tenang saja.” Jawab Shindong seraya mengedipkan sebelah matanya.

“Baiklah, sudah siap, tamu sudah menunggu kedatanganmu?” Shindong bertanya kemudian mengulurkan tangannya.

“Siap!” jawab Hyo Rin mantap sambil membalas uluran tangan kakaknya itu.

Di sisi lain, namja berjas hitam dengan dasi senada tengah dilanda kegugupan yang luar biasa. Pasalnya, ia tak pernah mengalami ini seumur hidupnya.

“Ayolah Kim Ryeowook!” Gumamnya menyemangati, namun apa daya sepertinya hatinya belum siap akan hal ini.

“Ryeowook, kau harus bisa!” Kembali ia bergumam pada dirinya sendiri seraya menatap pada cermin yang memantulkan dirinya. Tak ada yang kurang. Rapi, tampan, bahkan sempurna. Namun tetap saja ia merasa gugup.

Tanpa sengaja, fokusnya menatap sebuah undangan yang tergeletak tak jauh dari tempatnya bercermin. Ryeowook menyambarnya dan memastikan untuk kesekekian kalinya. Benar, tak ada yang salah dengan undangan ini. Bahkan undangannya terlihat sangat bagus, tapi sayang undangan bagus itu hanya mencantumkan namanya sebagai tamu. Hingga akhirnya, ia menatap pada secarik kertas yang terselip pada undangan itu dan membacanya kembali.

Dear Kim Ryeowook

Hai, namja imut nan bodoh!

Apa kau merindukanku? Apa kau masih mencintaiku seperti dulu?

Kau tahu, kau itu memang bodoh! Dan sialnya aku jatuh cinta pada namja bodoh sepertimu.

Sungguh tiga minggu bersamamu adalah tiga minggu yang berharga untuk hidupku, dan aku yakin untuk hidupmu juga.

Dan melalui surat ini aku ingin mengucapkan

 

Maaf membuatmu kaget saat awal pertemuan kita…

Maaf telah merepotkanmu dan Yesung Hyung…

Maaf telah telah mengganggu hidupmu selama ini…

Maaf telah lancang dan selalu bersikap tak sopan terhadapmu…

Maaf untuk segalanya….

 

Terima kasih untuk menjagaku selama aku tinggal di rumhamu…

Terima kasih telah memberiku kasih sayang yang tak terduga olehku…

Terima kasih telah mencintaiku….

Terima kasih untuk satu hari penuh cintamu saat kita kencan…

Terima kasih untuk waktumu yang selalu ada untukku…

Terima kasih… Terima Kasih…. Terima Kasih…

Dan Terima kasih untuk segalanya…

 

Aku tak tahu harus menulis apa lagi, aku tak paham dengan kisah ini. Kau ingat saat kita kencan? Itu adalah kesempatan terakhirku untukmu yang Eomma berikan. Kesempatan untuk bersama denganmu satu hari penuh, dan kesempatan untuk kau mengutarakan cintamu.

 

Tapi entah mengapa kau tak melakukannya. Bodoh! Memang, itulah dirimu. Aku tahu kau mencintaiku entah sejak kapan dan aku juga mulai menyayangimu sejak kita mulai melakukan kegiatan selalu berdua.

Hingga hari indah itu tiba, hingga waktu yang terus berputar tak pernah pernah berhenti sedetik saja untukku, hingga akhirnya denting waktu mengingatkanku dan pada akhirnya inilah takdirku. Aku yang mencintaimu tapi juga aku yang harus bersanding dengan Hyuk Jae.

Menolak, aku sudah melakukannya lebih dari seratus ribu kali tapi tetap saja.

Dan kini, hari ini, hari dimana pertunangan ini akan berlangsung dan hari ini pula aku akan belajar menyukai Lee Hyuk Jae, sahabat sekaligus tunanganku.

Sekali lagi maaf dan terima kasih, Kim Ryeowook.

 

With Love,

Shin Hyo Rin

Rahangnya mengeras, dadanya terasa sesak, bahkan sebulir air mata sukses menampakkan diri dari matanya yang kecil setiap kali membaca surat dari Hyo Rin. Bodoh! Tentu saja, jika tidak saat ini bukan Hyuk Jae yang berdiri disamping Hyo Rin dan menyematkan cincin ke jari manisnya, melainkan dia. Ryeowook sedikit merasa kesal, mengapa dulu ia tak menyatakan langsung bahwa ia mencintai Hyo Rin? Ia sudah terbuai oleh kencan mereka, terbuai oleh kencan indah yang berujung perpisahan.

Dan hari ini, ia melakukan hal bodoh lainnya. Berdandan sedemikian rupa, tapi pada akhirnya ia hanyalah tamu yang ditunjuk untuk membawakan cincin dalam pertunangan yeoja yang dicintainya dengan pria lain, atau lebih tepatnya penonton. Sungguh, terkadang dunia ini tidak adil. Terkadang ketidak adilan itu justru datang dari keputusan yang salah. Ya, mulai hari ini dan seterusnya cintanya kepada Shin Hyo Rin adalah kenangan. Cinta dalam kenangan yang tak terbendung.

FIN!

Hohohohohoooo….. Aneh yah? gaje yah? Absurd yah? Ya begitulah saya *plak* jangan protes endingnya kek gini, tapi Itu, jitak aja Kim Ryeowook yang gak mau menyatakan perasaannya pada Hyo Rin. Kekekekeyapi makasih yang udah mau baca :DSampai ketemu di FF selanjutnyaaa 😀

Advertisements

One thought on “[Ryeowook] Twoshot – Unstoppable Memories (Part 2-END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s