[Ryeowook] Twoshot – Unstoppable Memories (Part 1)


Cover by : Me, Sarasenia.
 

Tittle               : Unstoppable Memories

Author            : Sarasenia / Banhanaa Cubbeiy

Twitter / FB   : @BanhanaaCubbeiy

Lenght            : Twoshoot

Cast                :

– Kim Ryeo Wook

–  Shin Hyo Rin

–  Kim Jong Woon

–  Others

Genre             : AU!, Romance, General.

Rate                : PG 13, General

Disclaimer      :

 

   

Halooooo…. Udah lama aku gak nulis FF neh?! Terakhir akhir tahun 2013 dan itupun FF Chapter yang tak berujung. Na kebetulan otak sedang kebalik maka menetaslah FF ini.

            FF ini murni hasil jerih payah saya, berasal dari otak saya yang sedang sengklek. Dan FF ini saya dedikasikan untuk Shin Hyo Rin, entah mengapa pengen menggunakan nama dia sebagai main cast. This FF belong to me and Kim Ryeowook belong to me, hahahaha Tidak, Kim Ryeowook dan Super Junior milik mereka sendiri(?).

            Oke, happy reading  Dan typos in every where 😀

***

Ryeowook mengecek semua sudut kafe, berharap tak melewatkan satupun sebelum akhirnya kafe ini ditutup. Hari sudah mulai larut, bahkan bisa dibilang lewat tengah malam, namun itu tak membuat namja bermarga Kim tersebut takut ataupun merasa kesepian. Ia justru sudah terbiasa dengan kedaan yang seperti ini.

Kim Ryeowook memang membuka usaha kecil sebuah kafe, Hilarious, di daerah Hongdae, selain pangsa pasar yang menjanjikan kerena daerah tersebut selalu ramai dan dipenuhi remaja serta mahasiswa yang menuntut ilmu di Hongik University, tempat tersebut juga tempat yang paling dekat dengan rumah flatnya yang berda di ujung jalan. Sudah dua tahun ini Ryeowook menjalankan bisnisnya sebagai pemilik kafe, tentu saja bersama Hyung kesayangannya, Kim Jong Woon. Tapi sepertinya hari ini Yesung, sapaan akrab Hyungnya itu tengah absen, sehinga mau tidak mau Ryeowook mengurus semuanya sendirian malam ini.

“Baiklah, sepertinya beres,’ ucap Ryeowook pada diri sendiri sambil mengedarkan pandangannya kepenjuru kafe. “Tinggal mengunci pintu belakang dan mematikan semua lampu, maka selesai sudah pekerjaanku kali ini.”

Sepuluh menit berlalu, saat ini Hilarious sudah tutup, tak ada aktifitas lain selain seseorang yang tengah mengunci pintu masuk kafe tersebut. Ryeowook melakukan semuanya sendiri, sehingga malam ini ia harus ekstra teliti.

Ya, changkaman! Tuan apa kau punya segelas air?”

Sebuah teriakan menginterupsi indra pendengaran namja imut itu, Ryeowook menoleh dan mendapati sesosok yang tengah berjalan lunglai kearahnya, seperti zombie yang perlaham mendekat kearahnya. Dengan wajah pucat pasi, Ryeowook berusaha menjernihkan pikirannya seraya menatap lurus sosok tersebut yang masih remang akibat pencahayanaan yang redup.

“Tuan, boleh aku minta segelas air?” sebuah suara serak namun menggema ditelinga Ryeowook bersamaan dengan sosok yeoja yang tengah menatapnya lelah. Jarak mereka berdua kini hanya satu meter dan Ryeowook menatap wajah yeoja tersebut pucat pasi. Dan tiba – tiba tubuh lunglai yeoja tersebut kehilangan keseimbangan, dan

Bruuuk!

Tubuh itu ambruk, dengan segera Ryeowook menangkapnya sebelum tubuh itu membentur trotoar jalan.

“Hei, agashi, gwencahana? Yak, ireona!” teriakan nyaring nan merdu Ryeowook seolah hanya angin lalu, yeoja itu tetap tak sadarkan diri.

Aigo, agashi gwencahna?” Kini telapak tangan Ryeowook menepuk pelan pipi yeoja itu, berharap ia segera membuka matanya namun tetap saja nihil.

“HAISH! Kenapa dengannya? Kenapa juga mesti tengah malam begini? Argh, eottokhae?!”

Dengan panik akhirnya Ryeowook membawa yeoja itu pergi, berharap tak terjadi apa – apa dan tak dicurigai. Untuk kali ini, namja imut itu bersyukur kawasan Hongdae selalu ramai setidaknya membantunya menemani perjalanan menuju rumahnya

*****

“Wookie, kau yakin dia bukan mantan pacarmu yang mencarimu untuk bertanggung jawab?”

“Yak, Hyung apa yang kau bicarakan, huh?!” Teriak Ryeowook sambil melemparkan serbet makan yang tadi dipakainya untuk mengelap piring pada Yesung.

“Ah, bisa saja kau diam – diam memiliki mantan yang tak sedikit!”

Hyung, jaga bicaramu!” Yesung terkekeh, sedikit terhibur dengan perdebatannya dengan dongsaengnya itu. Hari ini ia ijin karena harus kerja ekstra karena akhir audit perlengkapan kafe maupun bahan pangan untuk kafenya dan itu membuatnya sedikit frustasi.

“Jadi Hyung, bagaimana keadaanya?” tanya Ryeowook khawatir, lalu berjalan mendekati Yesung yang duduk di meja makan. “Dia baik – baik saja, kan?”

“Aku bukan dokter, Wookie! Tapi sepertinya ia hanya dehidrasi dan lelah karena sepertinya ia tak makan selama dua atau tiga hari.” Yesung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju sebuah kamar, memang ia bukanlah dokter, namun sedikit banyak ia mengerti pertolongan pertama karena dulu ia pernah mengikuti pelatihan itu.

“Ah, syukurlah.”

“Untuk lebih jelasnya lebih baik besok kupanggilkan dokter. Aku khawatir juga jika terjadi apa – apa dengannya.”

“Ya, Hyung. Bisa panjang urusannya jika terjadi sesuatu dengannya,” gumam Ryeowook yang sudah berdiri di dekat Yesung. Keduanya mamandang pada satu objek, sosok yeoja yang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri. “Sudah larut, Hyung, sebaiknya istirahat.”

“Kau juga, dan maaf aku tak ingin berbagi kamar denganmu.” Ejek Yesung yang berlalu menuju kamarnya.

Rumah flatnya memang kecil, hanya untuk menampung dua oarang saja, dan kamar Ryeowook dipakai oleh yeoja tadi sehingga mau tak mau ia harus tidur di sofa depan TV.

“Baiklah, lagipula aku juga berjaga siapa tahu ia terbangun nanti.” Sahut Ryeowook dan mulai memposisiskan dirinya pada sofa yang terletak di depan TV. Sepuluh menit kemudian, namja cute itu telah berkelana dalam alam bawah sadarnya.

***

Jam menunjukkan pukul 13.00 KST dan Ryeowook belum bernajak dari tempat duduk. Namja bermarga Kim itu masih setia duduk disamping tempat tidur kamarnya, sesekali mengecek napas yeoja yang tengah berbaring tak sadarkan diri. Sudah tiga hari ini Ryeowook selalu ijin pulang pada jam istirahat guna melihat keadaan yeoja yang sampai saat ini belum diketahui namanya. Jangankan untuk menanyakan nama, bangun dari pingsannya pun tidak.

Kim Ryeowook gusar, pasalnya dokter yang memeriksa yeoja itu  dua hari lalu mengatakan bahwa ia akan segera sadarkan diri, tapi sampai saat ini yeoja itu tak menunjukkan tanda – tanda untuk bangun dari tidurnya.

“Hei, kau tak ingin bangun?” gumamnya seraya mengibas ngibaskan telapak tangan mungilnya di hadapan yeoja itu.

“Sudah tiga hari, dan kau membuat kami frustasi nona Zombie,” Ryeowook masih melanjutkan dan kini julukan zombie melekat pada yeoja itu. Memang baik Ryeowook maupun Yesung merasa frustasi karena sudah tiga hari ini tak ada satu orangpun yang mencari yeoja ini, bahkan polisi yang berpatroli di kawasan Hongdae pun sepertinya tak mengetahui bahwa ada salah satu penduduknya hilang.

Sejujurnya Ryeowook lebih frustasi. Ia merasa bertanggung jawab atas yeoja itu, dan entah mengapa tanpa komando, dengan telaten namja itu merawat yeoja itu dengan telaten. Setiap pagi ia bangun lebih awal, karena selain harus mempersiapkan segala keperluannya, ia juga harus merawat yeoja itu. Seperti siang ini, sudah tiga hari jam makan siang selalu dikorbankan oleh Kim Ryeowook hanya untuk mengecek keadaan sosok yeoja yang terbaring lemah ataupun hanya sekedar mengganti air yang selalu disediakannya setiap pagi.

“Hhhm…,” tanpa sadar Ryeowook menguap, lalu mulai bergumam tak jelas. “Hei, nona sadarlah, sampai kapan kau betah tidur, eoh? Jika lebih lama lagi, bukan hanya kami yang frustasi, tapi tubuhmu juga akan mulai dipasang berbagai macam selang. Hhhm, jadi nona zombie cepatlah kau sadar, eoh?”

Kim Ryeowook kembali menguap lelah. Hari ini tubuhnya merasa sedikit lelah akibat pengunjung yang datang lebih dari biasanya. Hingga tanpa sadar kelopak mata kecil itu menutup secara perlahan.

***

Secercah cahaya mulai mengusik, berusaha menembus kelopak mata yang menutupi manik mata yang sudah tiga hari ini selalu tertutup. Napasnya mulai teratur,  yang pendek dan lambat. Kini perlahan bola mata itu sedikit bergerak, kentara sekali dibalik kelopak matanya, hingga perlahan ia mencoba membukanya karena menyerah pada cahaya yang terus saja mengusiknya. Pelan, pelan, sangat pelan. Ia mulai mengerjap – ngerjapkan matanya, menyesuaikan indra penglihatannya pada satu objek yang sangat bercahaya. Akhirnya, ia paham apa objek bercahaya itu, sorotan cahaya yang datang dari jendela disamping tempat tidur.

Ia menghirup oksigen sebanyak banyaknya, mencoba mengisi kekosongan paru – parunya yang terasa sesak, dan sesekali menimbulkan suara dengusan pelan. Setelah dirasa cukup, kini fokusnya beralih, merasa ada sesuatu yang mengusiknya dari samping kiri tempat tidur. Hingga yeoja itu sadar bahwa bukan hanya dirinya yang berada diruangan ini.

“Hah, kau sudah sadar?!” Selang beberapa menit suara nyaring Ryeowook terdengar. Namja itu akhirnya terbangun setelah tadi sempat ketiduran. Ada perasaan lega dalam sorot matanya saat melihat yeoja itu akhirnya sadarkan diri.

Gwenchana? Siapa namamu? Apa yang kau rasakan?” Sosok itu hanya menatap Ryeowook bingung. Selain bingung siapa sebenarnya namja imut yang duduk disamping tempat tidur, ia juga bingung pertanyaan mana dulu yang harus ia jawab.

“Kenapa aku disini?” Tanyanya sambil berusaha bangun. Kini posisinya setengah duduk, dengan punggung bersandar pada headbed.

“Yak! Kau lupa, eoh!” Ujar Ryeowook sedikit kesal. “Tiga hari yang lalu kau pingsan di depan kafeku, sehingga aku membawamu kemari.”

“Benarkah?”

“CK! Kau amnesia atau apa? Jelas – jelas kau berjalan seperti zombie dan menghampiriku sambil menayakan apakah aku memiliki segelas air?”

Yeoja itu memiringkan kepalanya sedikit, seakan menerawang kembali perkataan Ryeowook. “Ah, ya! Maaf merepotkanmu, Tuan.” Lanjutnya setelah mengingat kejadian tempo hari. “Dan, yah namaku Hyorin, Shin Hyorin.”

“Baiklah nona Shin, dimana alamat rumhamu? Mungkin aku bisa mengantarmu pulang.”

“Ck, tidak perlu,” jawab Hyo Rin cepat, merasa tersinggung atas pertanyaan Ryeowook yang terlalu dini. “Aku bisa pulang sendiri.” Lanjutnya kemudian bangkit dan berusaha berdiri, namun detik berikutnya justru ia merasa lemas yang teramat dalam tubuhnya hingga tubuh Hyorin terhuyung.

“Hei, hati – hati!” sahut Ryeowook yang dengan sigap memegang lengan Hyo Rin agar tidak terjatuh. “Kau ini baru sadar, jadi istirahatlah dulu.”

“Aku sudah istirahat selama tiga hari, ingat?! Dan seperti permintaanmu, Tuan, aku akan pulang segera jika merepotkanmu.”

“Panggil saja Ryeowook, Kim Ryeowook. Dan maaf atas ucapanku tadi.”

Hening. Hyo Rin hanya diam tak menyahut.

“Oke, kau duduk saja disini dan aku akan membawakan bubur untukmu, “ titah Ryeowook sambil memapah Hyo Rin duduk di tepi tempat tidur lalu berjalan menuju dapur.

Sambil membuka kulkas, Ryeowook menggeleng frustasi. Ah, kau bodoh Kim Ryeowook, mengapa pertanyaanmu kaku sekali. Jelas – jelas ia baru saja sadar, dan kau malah menyarankan pulang?!

***

“Jadi benar dia sudah sadar, Wookie?” Tanya Yesung saat memasuki rumha flatnya. Kakak Ryeowook itu meyakinkan kembali jika Hyo Rin memang benar – benar sudah sadar.

Ne, Hyung dan sepertinya ia masih dikamarnya.” Ryeowook mengekor di belakang Yesung lalu menutup pintu. Sebelum kembali ke kafe, Ryeowook sempat berepesan pada Hyo Rin agar tidak keman – mana.

“YAK, Kau sedang apa?!” Yesung berteriak kaget saat menuju dapur. Pasalnya namja berambut hitam itu mendapati sosok aneh tangah berlutut di depan kulkas yang sedang terbuka.

“Hyung, ada ap−?” Seketika Ryeowook melongo lebar saat melihat Hyo Rin di depan kulkas.

Hyo Rin hanya nyengir lebar, menampilkan deretan giginya yang putih. Oke, salahkan saja Ryeowook yang tadi pergi hanya meninggalkan semangkuk bubur, dan itu sudah delapan jam yang lalu saat Ryeowook meninggalkannya untuk kembali ke kafe.

“Aku lapar, jadi yah mencoba bertahan hidup dengan mencari makanan, heee…” ujar Hyo Rin dengan wajah polos cantiknya.

Yesung menggelang pasrah, habis sudah persediaan makanan untuk bulan ini. Ryeowook tak kalah frustasi, dia yang paling jago dalam hal mengolah makanan sekaligus membuat daftar menu bulanan, kini menatap pasrah kulkasnya sudah diinfeksi oleh Hyo Rin. Ya, Yesung yang membeli semua bahan makanannya sesuai dengan anggaran mereka, sedangkan adiknya, Ryeowook bertugas mengolah serta memikirkan segala cara agar makanan tersebut awet selama satu bulan tapi mereka dapat menyantap makanan yang lezat.

“Ah, Mianhae. Maaf tapi untuk urusan perut ini tidak bisa dibendung lagi.” Suara Hyo Rin membuyarkan lamunan stress kedua kakak beradik itu.

“Hyung, selama dua minggu kita harus hemat.”

“Ah, Shin Hyo Rin imnida,” sahut Hyo Rin tiba – tiba kepada Yesung. Sebelumnya yeoja cantik berambut panjang itu belum melihat Yesung setelah sadar.

“Baiklah, sudah jam 23.00 KST. Kau lebih baik istirahat, nona Shin,” ujar Yesung menyarankan. Lalu ia berbalik menatap Ryeowook, “Wookie kau juga karena besok weekend dan kafe kita pasti ramai.”

Sebelum semuanya kembali ke tampat masing – masing untuk tidur malam, Hyo Rin berkata, “Bolehkah aku ikut ke kafe besok? Aku janji tidak akan berbuat macam – macam.”

Ryeowook hanya menatap Yesung penuh arti. Memang kafe itu milik mereka, tapi Ryeowook masih menghormati Yesung sebagai Hyungnya, dan terlebih sebagian ini kerja keras Yesung. Jadi pertanyaan Hyo Rin, semua kepurusan ada di tangan Yesung.

Yesung berbalik, menatap Hyo Rin intens dari ujung kepala sampai ujung kaki. Yeoja dengan tinggi 162 cm, wajah cantik, rambut panjang sepunggung, mata bulat, cocok untuk dijadikan….

“Baiklah, kau boleh ikut dan membantu waiters lainnya bekerja besok.” Sahut Yesung diikuti senyum lebarnya, membuat Hyo Rin menciut seketika. Ryeowook yang melihatnya hanya menahan tawanya yang akan menyembur.

“Jaa~ Jalja, besok bangun pagi sekali, bahkan sebelum ayam berkokok! Hahahaha!” Lanjut yesung tertawa puas sambil berlalu menuju kamarnya.

Oke, Shin Hyo Rin tamatlah riwayatmu!

***

Sesekali tersenyum, bahkan terlalu sering tertawa bagi namja bermarga Kim tersebut. Matanya yang kecil seolah tak membatasi lapang pandangnya untuk terus melirik Hyo Rin. Bahkan sifatnya yang ceria kini tambah ceria sejak Shin Hyo Rin bekerja sebagai pagawai di kafenya dua minggu yang lalu. Entah apa yang direncanakan Tuhan, yang jelas hidup Ryeowook berubah sejak Hyo Rin bekerja dikafenya, ah tidak sejak Hyo Rin datang secara tidak sengaja di hadapannya. Entah disengaja atau tidak, yang jelas sejak kejadian Hyo Rin pingsan di depan kafenya, ah lebih tepatnya pingsan di pelukan Ryeowook, sejak itupula hidup Ryeowook berubah. Namja berambut cokelat itu semakin ceria dan bersemangat.

Selama dua minggu ini pun Hyo Rin selalu bekerja dengan giat, bahkan keramahannya membuat pelanggan kafe semakin nyaman dibuatnya. Sungguh, sebuah nilai plus untuk Shin Hyo Rin. Bahkan sepertinya penggemar Ryeowook beralih kepada Hyo Rin, baik yeoja maupun namja. Tapi sepertinya hidup Ryeowook tak selamanya indah sejak Hyo Rin datang, bahkan terkadang namja itu kesal.

“Yak, Hyo Rin mengapa kau mengikutiku, eoh?!”

“Heehee, yah aku masih lupa dimana letak penyimpanan soju,” Hyo Rin hanya nyengir bersalah. Memang sudah dua minggu ia bekerja di kafe ini, tapi untuk penyimpanan Soju, yeoja itu sepertinya terkena amnesia jangka pendek. Bahkan terkadang ia malah mengeluarkan wine yang jelas – jelas selalu disimpan dengan baik di kafe ini kecuali jika ada yang memesan.

“Aigoo~ Kau ini kena manesia atau bagaimana? Itu, Soju ada diujung ruangan, setelah lemari pendingin jalan tiga langkah maka kau akan menemukan tempat penyimpanannya.” Dengan Kesal Ryeowook memberikan arahaan yang entah sudah keberapa kali. Dengan sebal, Ryeowook kembali menuju dapur, untuk mengambil segelas air putih.

“Aduuh, Hyo Rin, mengapa masih mengikutiku? Kau ini benar – benar zombie, eoh!”

“Kenapa senang sekali memanggilku zombie?!” balas Hyo Rin tak mau kalah. “Lagipula aku memang haus, jadi aku kesini untuk mengambil minum!” Dengan gerakan cepat ia mengambil segelas air dan beranjak dari dapur dan bergegas menuju teras kafe.

Hyo Rin kesal sambil bersungut – sungut menatap gelasnya. Entah sudah berapa kali Ryeowook selalu memanggilnya zombie, bahkan terkadang namja cute itu lupa memanggil namanya dan malah memanggil ‘zombie’. Aduh, ada apa sih dengan Ryeowook, apa salah Hyo Rin sehingga julukan mayat hidup yang jelek itu selalu disebutnya.

Saat pertama kali bertemu, kau berjalan terseok – seok sebelum akhirnya pingsan. Dan kau selalu berjalan tengah malam untuk mencari cemilan, terlebih kau selalu jalan mengikutiku. Apalagi namanya jika bukan, zombie?’ Cih, alasan yang  aneh, batin Hyo Rin saat mengingat jawaban Ryeowook mengapa ia dijuluki zombie.

Namun detik berikutnya, Hyo Rin justru tersenyum tertahan. Jika dingat – ingat semua yang Ryeowook katakan memang benar, awal pertemuannya, dan minggu pertama saat ia selalu terbangun tengah malam karena mimpi buruk dan malah mencari cemilan yang sayangnya gagal karena Yesung lebih pintar dari yang Hyo Rin kira. Dan yang paling penting, Hyo Rin selalu mengikuti Ryeowook saat tidak ada kerjaan, atau tanpa sadar. Entah seperti ingin tahu secara lebih pada adik Yesung itu. Tapi tetap saja, siapa sih yang ingin dipanggil zombie yang notabenenya mayat hidup yang berkeliaran? Hallo, Shin Hyo Rin itu yeoja cantik dengan mata bulat dan senyum cerianya. Mana bisa dibandingkan dengan zombie yang terkadang tak memiliki wajah.

***

“Sedang melamun apa malam – malam begini, Hyo Rin-ah?” Yesung muncul saat Hyo Rin tengah asyik melamun di teras kafe. Jujur, Hyo Rin sangat suka teras kafe ini, meski dipinggir jalan tapi tak terlalu ramai oleh lalu lalang kendaraan maupun orang.

Anniyo, Oppa. Hanya menikmati udara segar.”

“Jangan terlalu lama, nanti kau sakit.” Ujar Yesung mengingatkan tapi toh namja itu akhirnya ikut duduk menemani Hyo Rin.

Sejenak, Hyo Rin jadi teringat Oppanya yang selalu peduli kepadanya. Sungguh, Hyo Rin merindukan sosok Oppa yang lucu tapi penyayang itu.

“Malah melamun lagi. Ada apa?” Seketika Hyo Rin menunduk dalam. Merasa rindu berat sekaligus merasa bersalah dengan keberadaanya disini. Bersalah pada kedua bersaudara ini, dan yang pasti bersalah kepada orang tuanya.

“Kau rindu keluargamu?”

“Dari mana Oppa tahu?” Yesung bertanya tepat sasaran. Benar juga, siapa yang tak merindukan keluarga. Apalagi seorang Shin Hyo Rin yang masih berusia dua puluh tiga tahun.

“Aku sudah dua puluh tahun lebih hidup jauh dari orang tua. Bahkan Ryeowook yang terkenal dengan sikap kekanak – kanakkannya kini harus bersikap dewasa. Dia selalu ceria, namun aku tahu ia selalu merindukan eomma dan oppa.

“Ah ya, orangtua Oppa tinggal di Jepang, kan? Ryeowook pernah bilang kepadaku.”

“Ye. Kami bukanlah keluarga yang kaya, kami juga bukan keluarga miskin. Tapi kami harus bekerja keras untuk bertahan hidup.”

“Aku salut dengan Yesung Oppa, aku salut dengan kalian berdua.”

“Jadi apa yang membuatmu tak ingin pulang?” Yesung berusaha membacarakan hal yang seharusnya ia katakan begitu Hyo Rin sadar. Namun penolakan yeoja cantik ini, serta melihat Ryeowook merasa nyaman dengannya membuat namja berkulit putih itu mengurungkan niatnya.

Hyo Rin menghela napas. Ia tahu cepat atau lambat pembicaraan serius ini akan terjadi. Yah, walaupun sebenarnya acap kali Ryeowook menanyakan hal ini, tapi Hyo Rin selalu mengelak untuk menjawab atau memilih pulang.

“Kau tahu, sebenarnya Ryeowook khawatir jika kau mulai teriak saat tengah malam. Ia selalu mendengarmu, Hyo Rin-ah.”

Deg! Hyo Rin tersadar, selama ini Ryeowook memang tidur di sofa depan TV, yang berarti dekat dengan kamarnya. Dan namja itu menyadari jika Hyo Rin acapkali bermimpi buruk.

“Kalian sedang apa disini?” Tiba – tiba Ryeowook muncul, lengkap dengan peralatan bersih – bersihnya, lap dan kain pel. “Hyung, ayo bantu aku membersihkan kafe dan kita segera pulang!”

“Ah, ya, sudah jam 10 dan kafe sudah tutup. Baiklah.” Jawab Yesung kemudian berjalan masuk.

“Nona zombie, kau juga!”

“Ck jangan memanggilku zombie!”

“Hahahaha…”

***

“Asyiiikk kita libur!”

Hyung tumben tapi, boleh juga!”

Hyo Rin dan Ryeowook bersorak menanggapi hari libur mereka. Beberapa hari ini pelanggan ekstra banyak, dan itu membuat Hyo Rin capek bukan kepalang. Gila, seperti kerja rodi!

“Hanya beristirahat sejenak, sambil membeli bahan makanan. Lalu kita akan ke Seoul untuk menemui temanku yang tertarik membantu kafe kita.” Sahut Yesung sambil mengenakan jaketnya.

“Ah, yang penting libur kerjaa!”

“Benar, sepertinya pinggangku butuh istirahat!”

Yesung hanya menggeleng pelan, keduanya persis seperti anak kecil yang akan diajak piknik ke luar kota. Padahal hanya membeli sedikit keperluan kafe dan bertemu teman Yesung di Seoul.

“Sudah, ayok bergegas sudah jam 09.00!” teriak Yesung yang sudah diluar. Ryeowook segera keluar diikuti Hyo Rin dibelakangnya.

“Ryeowook, tunggu!” Hyo Rin berlari, berusaha mensejajarkan langkah Ryeowook yang cepat dan saat sudah dihadapan Ryeowook, yeoja itu menarik jaket Ryeowook.

“Kita itu bebas kemana saja, tapi bertemu di foodcourt dua jam lagi. Mengapa kau mengikutiku?”

Hyo Rin mengatur napasnya, sebelum akhrinya menjawab, “Aku tak tahu harus kemana.”

Sadar. Kim Ryeowook sadar, Hyo Rin memang gadis asing yang kini menjadi bagian dari kehidupannya bersama Yesung. Ya, setidaknya Shin Hyo Rin sudah tiga minggu tinggal dirumahnya, dan selama itu pula yeoja cantik itu menjadi bagian hidupnya. Seolah Hyo Rin sudah terbiasa mengikuti Ryeowook dan Ryeowookpun seperti tak ada beban dengan Hyo Rin selalu mengikutinya, disampingnya.

“Baiklah.” Hyo Rin tersenyum senang. Benar – benar merasa gembira jika berada di dekat Ryeowook.

Akhirnya keduanya memutuskan berkeliling mall dan menghabiskan sisa waktu libur kerja mereka dengan mengunjungi stand – stand, mengabsen setiap toko pakaian, memilah – milah aksesori yang lucu dan imut, berekspresi dalam foto box.

***

“Aigoo~ Kalian memborong, eoh?” Yesung menghampiri Ryeowook dan Hyo Rin. Mereka kini berada di foodcourt.

“Bukan aku Oppa, tapi Ryeowook yang membeli semua barang ini!” Balas Hyo Rin cepat sambil menunjuk Ryeowook yang hanya tersenyum lebar.

“Pemborosan, Wookie!”

“Hanya sesekali Hyung, lagipula aku juga membeli beberapa pakaian untuk Hyo Rin. Aneh jika dia terus memakai pakaianku.” Jawab Ryeowook bijak. Memang, selama ini Hyo Rin selalu mengenakan pakaian Ryeowook, yang artinya pakaian namja. Meski begitu pakaian itu terlihata cocok di tubuh Hyo Rin.

“Jadi, kita pulang?” tanya Hyo Rin.

“Hhm, itu jika kau mau menunggu lagi, karena aku akan mampir ke kantor temanku, Donghee, dia lupa membawa proposalnya.”

“Jadi kita menunggu lagi?” sahut Ryeowook dengan suara lengkingannya.

Yesung geram, “Yak! Aku bilang jika kalian ingin menunggu! Dan lagi kantornya tepat dua gedung dari mall ini.”

Hyo Rin berdiri cepat kemudian beralih menuju Yesung yang duduk di hadapannya tadi. “Aku ikut, Oppa!” sahut yeoja cantik itu sumringah.

Ryeowook kalah saing, sudah jelas!

***

“Ryeowook!” Dari kejauhan nampak Hyo Rin berteriak kencang sambil melambaikan tangan, namun Ryeowook bergeming.

“Hei, Kim Ryeowook ada taman kecil di belakang gedung ini, ayo kesana sambil menunggu Yesung Oppa!” Ryeowook hanya melirik Hyo Rin yang kini berdiri dihadapannya, merengek bak anak kecil itu. Dia kesal karena Hyo Rin selalu memanggil namanya tanpa embel – embel Oppa atau panggilan akrabnya, Wookie. Sungguh, terkadang yeoja cantik itu bersikap manis namun lebih banyak bersikap seenaknya.

“Ayoolah, aku ingin kesana! Pemandangannya indah, ada area bermain meskipun kecil dan terlebih banyak anak – anak lucu.” Hyo Rin masih berengek, persis seperti anak TK. Dan Ryeowook tentu saja tak tega dibuatnya.

“Baiklah!” Dengan enggan ia mengabulkan permintaan yeoja itu.

“Yeey! Gomawo Oppa. Kajja kita kesana!” Teriak Hyo Rin penuh semangat sambil mengaitkan tangannya pada lengan Ryeowook.

Tunggu ada yang salah. Ya, benar tentu saja ada sebuah kesalahan. Pertama, pendengaran Ryeowook seolah menangkap kata ‘Oppa’ dalam ucapan Hyo Rin. Kedua, tangan yeoja berambut panjang itu merangkul lengan Ryeowook. Ini harus segera dikoreksi!

“Apa yang kau bilang tadi, Hyo Rin-ah?”

“Eh, memangnya apa?” jawab yeoja cantik itu polos. Langkahnya terhenti tiba – tiba saat Ryeowook bertanya tadi. Kini kedua mata bulatnya menatap sepasang manik mata cokelat milik Kim Ryeowook.

Sial. Ada apa ini! Ryeowook mengumpat dalam hati. Mengapa wajahnya begitu dekat, ditambah kaitan tangannya yang terus menggelayut di lenganku? Dia memanggilku Oppa, tangannya menggelayut manja di lenganku, dan saat ini wajahnya begitu dekat sehingga aku bisa menatapnya secara rinci. Wajahnya yang cantik, kulit putihnya, mata hitam pekatnya yang bulat, hidungnya yang mungil, rona di pipinya yang cubby, bahkan bibir ranumnya terlihat cantik. Tuhan ada yang salah dengan penglihtanaku, tidak, ada yang salah dengan hatiku!

“Rinnie! Shin Hyo Rin!” Ryeowook menoleh, mendapati sosok namja dengan tubuhnya yang padat berjalan cepat menghampirinya.

“Rinnie sayang, kemana saja kau? Oppa sangat merindukanmu!”

Kini namja itu menarik Hyo Rin dan mendekapnya erat. Mengecup ujung kepalanya, mengelus pelan punggung Hyo Rin. Anehnya Hyo Rin tidak mengelak, di seolah pasrah dengan perlakuan namja yang terus saja memangilnya Rinnie.

Selama hampir satu menit, Ryeowook menatap bingung keduanya. Hyo Rin yang membeku dan pasrah saat tubuhnya berada dalam dekapan namja tinggi besar itu, sedangkan namja itu terus saja menghujami Hyo Rin dengan pelukan, sesekali kecupan di puncak kepala dan pipinya sambil terus bergumam tidak jelas. Ryeowook muak, satu menit itu menyiksanya!

“Maaf Tuan…,” seloroh  Ryeowook sambil menarik lengan Hyo Rin dengan paksa, membuat tubuh yeoja itu nyaris dalam dekapan Ryeowook. “Anda siapa, lancang sekali memeluk Hyo Rin dengan paksa.” Bravo! Sifatnya kekanakan, wajahnya yang imut serta suaranya yang selalu merdu itu sirna dalam diri Kim Ryeowook. Saat ini hanya ada Kim Ryeowook yang menatap dingin seolah berusaha melindungi Hyo Rin. Benar – benar gentle!

Disampingnya, Hyo Rin tergugu, pandangan matanya kosong, tubuhnya seolah tersengat listrik jutaan volt sehingga ia tak bisa menggerakkannya satu inchipun. Sedangkan sosok namja bertubuh tambun itu bingung menatap keduanya. Ia yakin, yeoja yang kini ada dihadapannya adalah Rinnie, adik semata wayangnya.

“Rinnie…, ini Oppa, Shindong Oppa….,’ ujar namja yang ternyata bernama Shindong itu. Suaranya lirih dan pasrah. “Shindong Oppa, beruangmu yang lucu, kau tidak ingat?”

Awalnya Hyo Rin menatap kosong sosok Shindong, hingga sebuah cairan bening sukses menetes dari kelopak matanya. Terdengar isakan kecil, dan Ryeowook menyadari itu. “Hyo Rin-ah, kau kenal dengannya?”

Pelan namun pasti, Hyo Rin mengangguk lemah. Deg!

“Maaf tuan, dia Rinnie adikku satu – satunya. Shin Hyo Rin.” Sahut Shindong cepat. Benar, namanya benar, Shin Hyo Rin. Jadi apakah orang yang bernama Shindong ini kakak Hyo Rin? Dan itu berarti…

“Boleh aku bicara dengannya dan membawanya pulang?” Tepat dugaan Ryeowook, suatu saat ada seseorang yang akan berbicara itu kepadanya. “Aku, Eomma serta Appa mencarinya selama hampir satu bulan ini.”

Pelan, tarik napas dan mengaturnya. Ryeowook berusaha membuka suaranya, “Ya, dia bilang bernama Shin Hyo Rin dan mengenai permintaan Anda, aku serahkan pada Hyo Rin sendiri.” Jawab Ryeowook tegas lalu menatap Hyo Rin, “Apa jawabanmu, Hyo Rin-ah

Tidak. Tidak ada suara sepatah katapun dari bibir ranum Hyo Rin. Hanya anggukan lemah sebagai tanda persetujuan jika ia akan ikut dengan Shindong pulang, dan itu sukses membuat Ryeowook sedikit sesak. Inikah perpisahannya dengan Hyo Rin?

Shindong berjalan maju mengampiri Ryeowook dan Hyo Rin kemudian perlahan tangan besarnya menggandeng lembut telapak tangan Hyo Rin, membimbingnya untuk berada disisi Shindong lalu memeluknya sejenak. Kini Shindong menatap Ryeowook dengan sorot mata sumringah dan penuh rasa terima kasih.

“Terima kasih banyak sudah merawat adikku yang satu ini. Maaf jika kelakuannya terkadang membuat pusing, tapi begitulah dia, begitu ceria.”

Seulas senyum hanya mampu dilemparkan oleh Ryeowook saat mendengar Shindong mengucapkan terima kasih yang berarti perpisahan untuk dirinya dengan Hyo Rin.

“Oh ya, siapa namamu?” Kali ini Shindong bertanya.

“Ryeowook. Kim Ryeowook, tapi tuan memanggilku Wookie.” Namja cute itu berusaha seramah mungkin pada Shindong.

“Jangan memanggilku Tuan, pakaian kantor ini mebuatku terlihat lebih tua. Panggil Hyung saja, lagipula umurmu tak jauh dari adikku, Rinnie?”

Ujung bibir mungilnya tertarik, “Ah ya, Hyungnim, tapi tetap saja secara pribadi tidak enak. Dan yah, Hyo Rin dan aku hanya terpaut dua tahun.”

“Sekali lagi terima kasih sudah merawat adikku. Sesekali boleh main kerumah kami,tak jauh dari sini atau mampir kemari. Kantorku di gedung ini.” Ryeowook mengangguk. Kantor yang beberapa jam lalu di masukki oleh Yesung Hyung.

“Ya, lain kali aku akan mampir, Hyung.”

“Baik, sampai jumpa!” Shindong langsung menggandeng Hyo Rin yang sedari tadi hanya diam.

Disisi lain Ryeowook menatap punggung Hyo Rin perlahan menjauh. Inikah perpisahannya dengan zombie yang selalu mengikutinya? Yeoja penuh semangat yang selalu memanggilnya dengan tidak sopan. Dan saat suara merdu Hyo Rin menyebut Oppa, dan saat itu juga sebutan pertama dan terakhir kalinya.

TBC…..

Sampai ketemu di part berikutnya ^^V

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s