[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (Part 8)

 

Title : Love by Accident

Author : Zatha Amanila

Casts : Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau

Genre : Romance

Rating : General

Length : Chaptered

Ini mungkin bisa dibilang part spesial karena paling panjang dari sebelumnya dan setelahnya *desakan readers yang minta dipanjangin hehehe*

oh ya, ada pemeran baru di sini. check this out! ^ ^

~~~~~

Don’t try too hard to get far away. My body has already broken into pieces just like you wanted. I can’t go a step closer to you. Stop talking. I hate myself for knowing everything. Before you even opened your mouth, I wanted to lie and run away. But, your two eyes are telling me goodbye. (Super Junior – Storm)

DONGHAE’S POV

Chaerin menatapku. Kesal, sudah pasti. Dia mungkin sudah menganggapku gila sekarang. Tapi aku tidak peduli. Darahku naik begitu melihatnya. Bayangan dirinya saat dipeluk Henry langsung melintas di pikiranku. Aku tidak tahu ada hubungan apa mereka sebenarnya. Yang pasti, aku tidak rela melihat mereka berdua bersama. Aku marah tubuh istriku disentuh pria lain.

”Donghae-ya, jawab aku! Kenapa kau melakukan hal ini padaku? Kau sudah menyakitiku!” seru Chaerin.

”Bukan aku yang menyakitimu, tapi kau yang menyakitiku!”

”Apa?”

Astaga, apa yang baru saja kukatakan? Aku membentaknya.

Kuturunkan tanganku dan kubalikkan badan. Ini konyol! Tidak mungkin aku memiliki perasaan seperti itu pada gadis ingusan ini. Tidak mungkin aku cemburu!

”Mianhae, Chaerin-ah.”

”Kenapa? Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Aku menyakitimu apa?” nada suara Chaerin merendah. Sedikit bergetar. Kubalikkan lagi tubuhku ke arahnya.

”Aniyo. Aku hanya… salah ucap. Mianhae. Sekarang kita kembali saja ke hotel.”

”Jadi seperti ini kau sebenarnya?”

Kutatap mata Chaerin yang berkaca-kaca. Sial! aku mungkin sudah benar-benar menyakitinya.

”Kau memperlakukanku dengan kasar, Lee Donghae. Kau menarik tanganku dan mendorong tubuhku ke tembok. Apa kau tidak ingat aku ini seorang yeoja? Aku bahkan masih delapan belas tahun. Aku kecewa padamu, Donghae.”

Chaerin berlalu dari hadapanku. Suara derap langkahnya semakin lirih hingga akhirnya menghilang. Kukepalkan jari-jariku. Aku sudah gila! Lee Donghae, kau sudah gila!

Aaaaaaaaaaarrrgghhh…!!!

BUKK!

>>>>>

CHAERIN’S POV

Kuusap air mataku sambil terus berjalan menuju hotel. Aku tidak peduli banyak yang memandang aneh padaku. Aku hanya ingin segera pulang. Pulang ke Korea. Ke rumah Appa dan Eomma.

Ponselku bergetar panjang. Entah siapa yang meneleponku sekarang. Aku malas mengangkatnya. Pintu lift membuka. Rasa takutku terhadap lift ini mendadak hilang. Perasaanku bercampur aduk. Kesal, marah, sedih, semua menjadi satu. Dan Donghae yang sudah membuatku seperti ini.

Ting!

Aku melangkah keluar lift dan mulai mengeluarkan kartu yang menjadi kunci pintu kamar. Begitu pintu terbuka, aku segera masuk dan menguncinya dari dalam. Aku tidak ingin melihat Donghae di kamar ini sekarang. Aku ingin sendiri.

Kuhempaskan tubuhku di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Dadaku kembali sesak.

”Eomma… Appa… bogoshippo…”

>>>>>

Aku terkesiap begitu telingaku menangkap suara bel di pintu kamarku berbunyi. Kuerjap-erjapkan mata. Ternyata sudah pagi. Aku masih tengkurap di tempat yang sama seperti semalam. Rupanya aku tertidur tanpa mengganti bajuku.

Dengan malas, aku beranjak menuju pintu. Mungkin itu pelayan yang mengantarkan sarapan.

Ceklek!

”Good morning!” sapa pelayan hotel itu dengan ramah. Walau kesadaranku belum pulih benar, tapi aku tahu pelayan ini sama dengan pelayan yang mengantarku ke kamar ini beberapa hari yang lalu.

”This is your breakfast, Miss. There are Indonesian Fried Rice, apple and grape fruit, orange juice, and chocolate milk. Enjoy your breakfast!”

“Thank you,”

“Your welcome.”

Pelayan itu pergi setelah memberiku sarapan. Aku masuk ke dalam dan meletakkannya di atas meja makan. Aku tertegun sejenak. Sarapan ini ada dua porsi. Kecuali buah apel dan anggurnya yang disatukan disatu piring. Ini bagian Donghae. Tapi dia sedang tidak ada di sini sekarang. Dia mungkin tidur di kamar Leeteuk oppa atau member yang lain.

Kuraih ponsel di atas ranjang dan mulai mencari kontak Leeteuk oppa.

Klik, klik, klik, klik

Kenapa tidak ada? Aigoo, aku lupa. Aku memang belum menyimpan nomor telepon Leeteuk oppa dan member yang lain. Babo!

”Apa aku harus menghampiri kamar mereka satu per satu? Atau lebih baik Donghae kutelepon saja? Ah, tidak. Aku hampiri kamar mereka satu per satu saja.”

Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mencuci muka, lalu beranjak keluar kamar. Tujuan pertamaku, kamar Leeteuk oppa yang lebih dekat dengan kamarku dari pada member yang lain.

>>>>>

DONGHAE’S POV

”Kau tidak ingin pergi ke kamarmu, Hae?” tanya Hyukkie sambil mengeringkan rambutnya.

”Tidak mungkin untuk saat ini, Hyuk.” jawabku. Aku masih menatap pemandangan di luar jendela kamar Hyukkie dan Leeteuk hyung. Tulang jari-jari kananku terluka sehingga harus diperban. Ya, ini luka karena aku meninju tembok toilet semalam.

”Baiklah. Terserah kau saja. Tapi setidaknya, makanlah sarapanmu. Supaya kau tidak lesu seperti itu. Dan perhatikan juga luka di jari-jarimu.” tukas Leeteuk hyung. Dia sangat perhatian padaku. Aku beruntung memiliki leader grup seperti dirinya.

Semalam, setelah makan, aku meminta izin pada mereka berdua untuk tidur di sini. Aku tidak bercerita apapun tentang masalahku dengan Chaerin, karena mereka juga tidak bertanya. Aku rasa mereka sudah tahu kalau kami bertengkar.

”Apa luka di tanganmu masih sakit?” tanya Hyukkie.

”Sudah lebih baik sekarang. Lagi pula ini hanya luka kecil.” jawabku sambil terus memandang matahari yang sedang terbit dengan indahnya.

Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan menepuk pundakku pelan. ”Kau harus selesaikan masalahmu dengan Chaerin. Jangan menghindar seperti ini.”

Ternyata Leeteuk hyung.

”Aku bukan menghindar, hyung. Hanya ingin memberikan waktu bagiku dan Chaerin untuk merenungkan yang terjadi.”

”Kalau begitu temuilah dia sekarang.” tukas Leeteuk hyung. ”Aku rasa waktu semalam itu sudah cukup untuk merenungkannya.”

Aku terdiam sesaat. Dia benar. Aku jauh lebih tua dan dewasa dari pada Chaerin, seharusnya aku yang mengalah dan pergi menemuinya.

Ting! Tong!

Suara bel pintu kamar tiba-tiba berbunyi. Hyukkie beranjak membukanya. Aku tetap menatap ke luar jendela sambil berlipat tangan. Mungkin manajer.

”Chaerin-ssi?”

Apa? Chaerin?

Kubalikkan badanku dan benar, Chaerin ada di pintu.

>>>>>

AUTHOR’S POV

”Masuklah.” ajak Eunhyuk.

”Gomapseumnida, oppa.”

Chaerin melangkahkan kakinya masuk ke kamar. Ia berhenti begitu memandang Donghae yang juga sedang memandangnya.

”Chaerin-ssi, suruhlah Donghae makan. Semalam dia tidak makan. Dan sekarang pun dia tetap tidak mau makan.” ucap Leeteuk.

Chaerin tersenyum pada namja itu. ”Untuk itulah aku datang kemari, oppa.”sahutnya. Ia berjalan mendekati Donghae.

”Kita perlu bicara,” ucap Chaerin lirih. Donghae terdiam.

”Mianhae sudah membuat kalian repot. Aku harus membawa Donghae ke kamar kami.”

”Ah, ne, Chaerin-ssi. Gwaenchana.”

Chaerin lebih dulu keluar dari kamar, disusul Donghae sambil menenteng jasnya.

”Mereka benar-benar bertengkar, hyung?” tanya Eunhyuk setelah Donghae dan Chaerin benar-benar sudah keluar dari kamarnya.

Yang ditanya menggedikkan bahu. ”Aku tidak tahu. Tapi sikap Chaerin-ssi tadi sangat aneh. Kau merasakannya tidak?”

”Aneh?” Eunhyuk mengerutkan keningnya. Ia memandang makanan di depannya. ”Aku hanya merasakan nasi goreng ini pedas hyung. Jadi mana mungkin… aw!”

”Hya! Seriuslah sedikit, monyet!”

Eunhyuk meringis sambil mengelus ubun-ubunnya lalu menyendokkan satu suap nasi goreng.

>>>>>

Donghae dan Chaerin keluar dari kamar Leeteuk dan Eunhyuk. Mereka berjalan berdampingan dengan keadaan canggung.

”Ng… soal semalam…”

”Gwaenchana,” potong Chaerin. ”Kita tidak perlu membahasnya lagi. Walaupun aku tidak tahu alasan kenapa kau berbuat seperti itu padaku, tapi aku cukup paham untuk tidak menanyakannya.” tambahnya. Donghae hanya tersenyum sekilas.

”Gomawo.”

Suasana hening sesaat. Begitu sampai di depan pintu kamar mereka, Chaerin berhenti.

”Donghae-ya, ada yang ingin kubicarakan.”

>>>>>

CHAERIN’S POV

Aku tidak benar-benar paham sebenarnya. Donghae terlalu kasar semalam. Aku tetap tidak mengerti alasannya berbuat seperti itu padaku. Tapi, aku tidak ingin membahasnya sekarang. Ada hal yang lebih penting dari itu.

”Donghae-ya, ada yang ingin kubicarakan.”

Donghae membalas tatapanku. Kuperhatikan wajahnya sepintas. Dia terlihat lelah. Entah dia tidur dengan nyenyak atau tidak semalam.

”Kau ingin bicara apa?”

Kuhela napas panjang. ”Aku… aku ingin mengakhiri semuanya.”

”Apa? Mak-maksudmu apa, Chaerin-ah?”

”Aku ingin kita bercerai,”

Donghae nampak terkejut. Matanya sangat menunjukkan keterkejutan itu.

”Aku ingin meneruskan pendidikanku dan bekerja di bidang yang kusukai tanpa terbebani dengan status sebagai istri. Aku tahu, kau sangat memahamiku. Untuk itu, tolong kabulkan permintaanku ini.”

Donghae membuang muka seperti orang frustasi.

”Perutku lapar. Aku ingin makan dulu,”

Donghae beranjak masuk ke dalam kamar. Aku tidak berani menatap punggungnya yang menjauhiku. Aku tahu ini pasti terlalu mengejutkan untuknya. Tapi aku harus mengatakannya. Semua ini demi kebaikannya juga. Ya Tuhan, kuharap keputusanku ini benar.

>>>>>

DONGHAE’S POV

Astaga! Apa yang dia katakan? Bercerai?

Kuteguk habis air mineral yang kutuang di dalam gelas. Aku pikir dia sudah tidak marah. Tapi ternyata… ini jauh dari yang kupikirkan. Bagaimana mungkin Chaerin memiliki pikiran untuk meminta cerai dariku? Ya Tuhan…

Chaerin mendekatiku dengan canggung, sepertinya.

”Makanlah nasi goreng ini. Biar kukupas apelnya untukmu. Oh ya, hari ini kita akan kembali ke Seoul kan? Begitu sampai di sana, aku ingin mengunjungi Appa dan Eomma dulu.” ucap Chaerin sambil mengupas apel merah di depanku.

Kulirik dia sekilas. Setelah minta bercerai, dia masih bisa melayaniku seperti ini. Ah, dadaku sesak sekali!

Tanpa berkata apapun, ku lahap nasi goreng itu. Aku tidak ingin menyiksa diriku lebih lama lagi. Begitu habis tak bersisa, kuteguk jus jeruk. Sekarang perutku sudah terisi. Tapi pikiranku belum jernih. Suara Chaerin yang meminta cerai dariku masih terngiang dengan jelas, dan itu membuatku frustasi.

”Ini,” tangan Chaerin terulur, menyerahkan piring berisi apel yang sudah dikupas dan dipotong-potong. ”Setelah makan, kau harus mandi. Jam berapa pesawatnya berangkat?” tanyanya.

Kuambil satu potong apel dan memakannya. ”Jam sebelas.” jawabku cuek.

”Oh,”

Dia mengangguk-angguk dan ikut makan apelnya.

”Donghae-ya, aku serius.”

Kudongakkan kepalaku untuk memandangnya. Mulutku berhenti mengunyah. Rasa apel yang manis ini tiba-tiba hambar dan aku ingin memuntahkannya.

”Mengenai perceraian itu… aku serius. Kuharap, kau bisa memberikan jawabanmu secepatnya.”

Ya Tuhan, dia mengungkitnya lagi.

”Tinggal lah bersama eomma dan appa mu setelah kita sampai Seoul nanti. Aku akan tinggal di dorm sampai waktu yang belum bisa kutentukan.”

”Kau mau tinggal di dorm?”

Aku meliriknya sekilas. “Aku harus menyelesaikan syuting dan latihan untuk konser-konser selanjutnya.”

”Ah, baiklah.” Chaerin mengangguk-angguk lesu. ”Mungkin begitu lebih baik.”

Apanya yang lebih baik? Dia pikir aku tidak terkejut mendengar permintaan cerainya? Aku stres sampai ingin berteriak rasanya.

”Kita tidak bisa bertemu dulu untuk sementara ini.”

”Aku mengerti.”

Apa yang dia mengerti? Gadis ingusan ini sama sekali tidak mengerti apapun. Kuteguk air mineral di dalam gelas hingga habis tak bersisa.

Buk!

Gelas itu beradu dengan meja kaca dengan sangat keras. Emosiku keluar tanpa kusadari.

Aku beranjak ke kamar mandi. Kusandarkan punggungku di pintu. Apa ini harus? Apa ini yang terbaik? Tapi aku tidak rela. Aku tidak rela berpisah begitu saja. Semua itu karena satu hal.

Karena aku sudah mulai mencintainya.

>>>>>

CHAERIN’S POV

Incheon International Airport

Setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam dari Indonesia, akhirnya aku dan rombongan staf Super Junior sampai di Korea. Sepanjang perjalanan, Donghae sama sekali tidak mengajakku berbicara. Dia memasang earphone-nya dan tidur. Sementara aku, aku hanya diam menahan ketakutanku terhadap pesawat sendirian.

Aku sempat melihat perban di telapak tangannya. Aku tidak tahu dia terluka. Aku ingin bertanya, tapi aku enggan karena Donghae sepertinya mendiamkanku. Aku jadi ragu, apa keputusan meminta bercerai ini benar. Haaaahh… entahlah. Aku butuh udara segar untuk memikirkan ini semua.

Kudorong koperku keluar dari bandara. Donghae dan member lain masih berada di dalam. Aku sengaja memisahkan diri dari rombongan karena banyak fans di sini. Kutekan beberapa digit nomor ponsel Eomma.

”Yoboseyo?” sapa eomma di seberang telepon.

”Eomma, aku sudah di Korea sekarang.”

”Jeongmalyo? Ah, bagaimana perjalananmu? Kau pasti bersenang-senang kan di sana? Sekarang kau di mana?”

”Aku masih di bandara, eomma. Baru saja sampai. Aku akan naik taksi ke Seoul.”

”Kau mau ke Seoul? Donghae bagaimana?”

“Donghae… Donghae…” aku sibuk memikirkan alasan yang tepat untuk membohongi Eomma. Ah mianhae, Eomma. “Donghae akan tinggal di dorm selama beberapa hari. Sepertinya, jadwalnya akan sibuk sekali. Jadi, selama itu, aku ingin tinggal di Seoul saja bersama Eomma dan Appa. Lagi pula, aku harus mempersiapkan ujian masuk universitas.”

”Begitu. Baiklah, Eomma akan menunggumu. Kau hati-hati lah di jalan.”

”Ne, eomma.”

Pip.

Kumasukkan ponselku ke dalam tas. Kebetulan ada taksi lewat di depanku. Aku segera naik tanpa ragu lagi.

>>>>>

DONGHAE’S POV

”Hyung, kemana Chaerin? Aku tidak melihatnya lagi sejak di pesawat tadi.” Ryeowook menepuk bahuku saat kami berjalan keluar bandara. Aku menghela napas panjang.

Chaerin pasti sudah dalam perjalanan ke rumah orang tuanya sekarang. Meski dia tidak mengatakan apapun lagi padaku sejak tadi pagi, tapi aku tahu dia benar-benar akan ke sana.

”Dia meminta izin untuk pulang lebih dulu.” jawabku.

”Oh,” Ryeowook mengangguk-angguk.

Aku dan dia baru akan masuk ke dalam mobil sebelum sebuah suara mengagetkanku. Seorang yeoja berambut panjang dan tinggi kurus memanggilku dari belakang.

”Hara?”

>>>>>

”Gamsahamnida,”

Seorang pelayan baru saja meletakkan dua cup es krim cokelat di depanku. Aku sedang duduk berhadapan di kedai es krim dengan Yoon Hara saat ini. Dia adalah yeoja yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupku dulu. Dia mantan pacarku.

”Apa kabar, oppa? Kau semakin tampan saja.” godanya. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

”Seperti yang kau lihat sekarang. Aku sangat sibuk sampai-sampai sering jatuh sakit.” jawabku sambil menyendokkan satu suap es krim ke dalam mulutku. Kulihat, Hara juga melakukan hal yang sama.

”Aku bisa melihat itu. Setiap hari kau pasti berpindah-pindah lokasi perform. Apalagi sekarang grup-mu baru saja come back. Kau pasti sibuk sekali.” sahut Hara. Aku terkesiap. Apa sekarang dia baru mengerti kesibukanku? Dulu dia sangat egois dan keras kepala. Karena itulah aku dan dia putus.

”Oppa,”

”Hm?”

”Ini pertama kalinya kita bertemu setelah kita putus dua tahun yang lalu. Dan selama itu…aku selalu memikirkanmu.” perkataan Hara membuat es krim yang ingin kutelan tersangkut di tenggorokan. ”Mianhae, tidak seharusnya aku mengatakan hal ini padamu.”

Hara tertawa kecil sambil menyuapkan satu sendok es krimnya. Aku membisu sesaat.

Yoon Hara. Gadis cantik berambut panjang yang dulu sangat kucintai. Dia membuat hidupku lebih berarti lagi di hubungan kami yang berjalan selama setahun. Tapi hubungan itu harus berakhir karena masalah sepele. Dia tidak bisa menghargai pekerjaanku sebagai penyanyi. Dia selalu memaksaku untuk menemaninya saat dia minta untuk kutemani.

Hal itu membuatku tidak betah. Hingga puncaknya saat grup harus tampil di sebuah acara penghargaan musik, aku tidak bisa hadir karena Hara mencegahku pergi. Dia sedang sakit dan memintaku untuk terus menemaninya di rumah sakit. Manajer hyung memarahiku dan memberi dua opsi. Memutuskan hubungan dengan Hara atau keluar dari grup.

Aku bingung waktu itu. Leeteuk hyung memberi nasehat padaku untuk mengikuti hati kecilku. Akhirnya, aku memilih memutuskan Hara dari pada meninggalkan grup. Karena kupikir, grup jauh lebih penting dari apapun.

Sekarang, detik ini, di hadapanku, gadis itu kembali muncul.

”Kudengar kau kuliah. Di mana?” tanyaku memecah keheningan.

”Di Universitas Korea, jurusan seni perfilman.”

”Perfilman? Kau mau jadi sutradara?”

”Begitulah.” Hara tersenyum lebar. ”Aku ingin membuat drama yang bagus suatu hari nanti. Dan aku ingin drama pertamaku itu kau sebagai pemeran utamanya.”

”Benarkah? Kalau begitu, aku harus bersiap-siap menerima tawaran darimu nanti.”

Hara tertawa. ”Tentu saja. Dan kau tidak boleh menolak tawaranku nanti.”

Aku ikut tertawa. Gadis ini tidak berubah. Selalu bisa membuatku nyaman. Ini salah satu yang kusukai dari seorang Yoon Hara.

”Oppa, apa aku boleh bertemu denganmu lagi?”

”Ne?”

”Ah, kalau tidak boleh juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa.” Hara mengaduk es krimnya. Aku tersenyum.

”Kenapa harus tidak boleh. Kita kan berteman. Tidak perlu izin untuk bertemu.”

Hening sejenak. Aku menyuapkan es krimku lagi ke mulut.

”Teman ya?”

Kudengar Hara bergumam.

”Oh ya, siapa namja chingu-mu sekarang?” tanyaku santai. Hara nampak terkejut.

”Eobsseo. Aku tidak punya namja chingu sejak putus darimu. Sudah kukatakan bukan, aku selalu memikirkanmu selama ini. Jadi mana mungkin aku berpacaran kalau aku selalu memikirkanmu.”

Aku tertegun sesaat. Meski egois dan manja, Hara tidak pernah berbohong padaku. Apa ucapannya barusan menyatakan kalau dia menginginkan hubungan kami kembali seperti dulu?

”Oppa, berikan nomor ponselmu.”

”Ne? Ah, baiklah.” aku segera mengetik nomorku di ponsel Hara. ”Ini. Hubungi aku kalau kau ingin bertemu.”

”Oke. Akan segera kuhubungi. Oh ya, kau masih tinggal di dorm kan?”

”Anhi. Aku sudah tinggal di Mokpo sekarang.”

”Mokpo?”

”Ne. Aku pindah ke sana seminggu yang lalu. Tapi untuk beberapa waktu ke depan, aku akan tinggal di dorm lagi karena syuting dramaku belum selesai.”

”Geurae?” Hara mengangguk-angguk pelan.

”Sepertinya aku harus pergi sekarang. Nanti malam, aku harus perform di Musik Bank. Kau nonton ya!”

”Ah, tentu saja. Aku bahkan akan melihatnya langsung.”

”Begitu? Itu bagus sekali. Geureom, annyeong!”

”Ne, oppa.”

Aku bangkit dan beranjak keluar dari kedai es krim. Baru kusadari sesuatu, Hara muncul di saat hubunganku dengan Chaerin di ujung tanduk. Apa ini pertanda… sesuatu yang buruk akan terjadi?

>>>>>

CHAERIN’S POV

Aku baru sampai di rumahku, ah maksudku rumah Eomma dan Appaku. Hari sudah gelap. Angin musim semi berhembus cukup kencang hari ini membuat bulu kudukku berdiri.

Kutekan bel rumah. Sesaat kemudian wajah Appa muncul dari balik pintu. Kupeluk Appa erat. Dia semakin gemuk saja. Dan kepalanya yang botak setengah itu semakin lebar saja.

”Eomma eodisseo?” tanyaku saat aku baru saja duduk di sofa ruang tamu.

”Dia sedang di kamar mandi. Mungkin luluran karena sejak satu jam yang lalu belum keluar juga.”

Aku tersenyum. Eomma tidak berubah.

”Bagaimana?”

”Ne?”

”Bagaimana hubunganmu dengan Donghae? Apa kau bahagia tinggal dengannya?”

Aku tahu Appa akan menanyakan hal ini. Untuk itu, aku sudah menyiapkan semua jawaban yang kiranya bisa memuaskannya.

”Ne, Appa. Hubungan kami baik-baik saja.”

”Syukurlah.”

”Omo! Chaerin-ah, kau sudah datang!”

Eomma tiba-tiba muncul dari arah tangga. Aku menghampiri dan memeluknya.

”Eomma, bogoshippo.”

”Nado. Bagaimana perjalananmu? Ayo ceritakan, Indonesia itu seperti apa. Eomma ingin sekali pergi ke sana suatu hari nanti. Kau tahu Bali kan? Ah, eomma ingin sekali ke sana.”

Aish eomma, aku baru saja datang kau sudah menanyakan Indonesia padaku. Kau tidak ingin tahu kabarku selama tinggal dengan Donghae di Mokpo?

”Indonesia itu panas sekali, Eomma. Kau tidak usah ke sana.” jawabku malas.

”Panas? Benarkah? Ah, aku jadi semakin ingin ke sana. Yeobo, bulan depan kita ke sana ya?”

Astaga! Kenapa Eomma justru semakin ingin ke sana?

”Yeobo, anakmu baru saja datang. Kau jangan menanyakan hal yang tidak penting seperti itu dulu.”

Aaahh… Appa memang sangat mengerti aku.

”Tapi idemu tidak terlalu buruk juga. Bulan depan, kita ke sana.”

GUBRAK!

Appaaaaaaaaaaaaa…!!!

”Aku mau tidur,”

”Eh? Kau mau tidur? Sekarang masih belum malam. Duduk saja dulu. Kau tidak merindukan Eomma dan Appa?”

Kalau Eomma dan Appa sedikit perhatian padaku sejak tadi, mungkin aku akan dengan senang hati menuruti perintah Eomma.

”Aku lelah, Eomma. Aku tidak pernah naik pesawat sampai tujuh jam lamanya setelah Chaewoon oppa meninggal. Jadi, biarkan aku tidur sekarang.”

”Ah begitu. Baiklah, cepat tidur sana. Kau kan jarang ke sini lagi, jadi Eomma tidak akan memaksamu.” ucap Eomma dengan senyum sumringah dan centilnya.

Aku pun beranjak menggeret koperku ke dalam kamar di sudut rumah.

BLAM!

Kuhempaskan diri di atas kasur. Eomma dan Appa memang aneh. Tapi walaupun begitu, aku sangat merindukan mereka. Haaahh… aku juga rindu sekali dengan kamar ini. Rasanya sudah bertahun-tahun aku meninggalkannya.

Aku akan tidur di kasur ini selama beberapa hari. Aku senang. Tapi kenapa rasanya ada yang hilang? Aku sudah terbiasa ada Donghae di rumah. Yaaa meski kami tidak tidur di satu ranjang. Sekarang aku tidak akan menemukan Donghae di sini.

Ya Tuhan, aku tidak mengerti diriku sendiri. Aku ini kenapa? Tadi pagi aku sudah memutuskan suatu hal yang tidak sepele. Bercerai. Donghae tidak menyiksaku. Tidak ada perselingkuhan juga dalam rumah tangga kami. Salah satu alasanku ingin bercerai adalah Henry. Ya, dialah alasanku. Aku ingin benar-benar menjadi pengantinnya. Tapi apa itu alasan yang kuat?

Kugelengkan kepala cepat. Ani. Itu adalah alasan yang kuat. Aku tidak mencintai Donghae sama sekali. Aku hanya mencintai Henry. Ya, hanya dia. Aku tidak boleh ragu lagi.

Kuraih ponselku dan mencoba menghubungi Henry.

”Halo?” terdengar suara Henry di seberang telepon. Aku bangkit dan duduk di tepi ranjang.

”Mochi-ah, ini aku.”

”Pasta-chan? Kau di mana? Kenapa tadi langsung menghilang? Aku mencarimu.”

Apa? Henry mencariku? Astaga, aku senang sekali!

”Maafkan aku, Mochi-ah. Ada suatu hal yang tidak bisa kukatakan padamu. Sekarang aku ada di rumah orangtuaku.”

”Ah, syukurlah. Berarti kau di tempat yang aman. Aku ada di dorm sekarang. Aku akan tinggal di sini sampai sushow terakhir di Jepang selesai. Kita bisa bertemu lagi nanti.”

”Benarkah?”

Kugigit jari telunjukku. Ah, itu berita yang bagus sekali!

”Oh ya, Donghae hyung belum sampai di dorm. Tadi aku sempat melihatnya sedang mengobrol dengan seorang yeoja di bandara. Tapi aku tidak tahu siapa yeoja itu. Apa Donghae hyung menghubungimu?”

Apa? Donghae mengobrol dengan seorang yeoja? Siapa?

”Aniyo. Dia tidak menghubungiku sekalipun.”

”Geurae?”

Perasaanku tiba-tiba saja tidak enak. Berita bagus dari Henry tadi mendadak hilang. Otakku sibuk berputar memikirkan siapa yeoja yang mengobrol dengan Donghae. Kalau itu salah satu staf, Henry tidak mungkin tidak mengetahuinya. Yeoja itu pasti orang luar. Haaahh… tapi siapa? Jangan-jangan, yeoja yang bernama Sunye?

”Pasta-chan, kau masih disitu?”

Lamunanku buyar saat kudengar suara Henry di seberang telepon.

”Ah, n-ne. Aku masih di sini.”

”Kudengar kau akan masuk universitas tahun ini.”

”Begitulah, aku akan ikut ujian di Universitas Korea seminggu lagi.”

”Universitas Korea? Waw, itu bagus sekali. Jurusan apa yang kau pilih?”

”Aku… Seni perfilman.”

”Aaahh… kau ingin jadi sutradara ya? Aku pikir kau ingin jadi jadi chef. Kau ingat, dulu kau sering mengajakku bermain masak-masakkan.”

Henry tertawa. Aku hanya bisa tersenyum sekilas tanpa dia ketahui. Pikiranku sudah tidak fokus lagi. Astaga! Kutepuk keningku pelan. Apa yang terjadi denganku? Aku sudah sedekat ini dengan Henry sekarang. Ini tidak boleh kusia-siakan.

”Ah, itu Donghae hyung baru saja datang.”

Eh? Donghae sudah ada di dorm sekarang? apa aku ke sana saja ya? Aku ingin bertanya dengan siapa dia mengobrol di bandara tadi.

”Mochi-ah, aku harus menutup teleponnya. Eomma menyuruhku makan. Nanti kutelepon lagi. Bye!”

Pip.

Aku tertegun. Aissshh… apa yang baru saja kupikirkan? Aku tidak mau menurunkan harga diriku di depan ikan itu. Aku baru saja meminta cerai darinya. Sangat tidak etis kalau aku menanyakan yeoja yang mengobrol dengannya di bandara tadi. Nanti dia mengira aku cemburu.

Aaaaaarrrgghhh…!!! kenapa semuanya jadi begini???

>>>>>

DONGHAE’S POV

Aku baru memasuki dorm saat kudengar suara Henry di ruang tivi.

”Aaahh… kau ingin jadi sutradara ya? Aku pikir kau ingin jadi jadi chef. Kau ingat, dulu kau sering mengajakku bermain masak-masakkan. Hahaha…”

Sedang bicara dengan siapa dia? Main masak-masakkan? Seorang Henry? Ck, lucu sekali.

Kuletakkan tas dan jaket kulitku di atas kursi, lalu beranjak ke dapur untuk mengambil air mineral.

”Ah, itu Donghae hyung baru saja datang.”

Kudengar suara Henry lagi. Kenapa dia harus mengatakan kalau aku sudah datang? Bicara dengan siapa dia sebenarnya? Bukankah semua member sudah ada di sini sekarang?

Astaga! Aku hampir saja tersedak begitu menyadari sesuatu. Jangan-jangan dia berbicara dengan Chaerin!

Kuhampiri Henry yang tengah bergumam kesal.

”Kenapa dia langsung menutup teleponnya?”

”Siapa?”

”Ah, kau hyung. Aku baru saja menelepon Chaerin.”

Sial! Ternyata dugaanku benar. Kuhirup udara dalam-dalam. Tanganku sudah mencengkeram celanaku kuat-kuat.

”Dia ada di rumah orang tuanya sekarang.”

Aku tahu, Henry. Aku jauh lebih tahu tentang dia dari pada kau.

”Kau tidak menghubunginya ya, hyung?”

Cengkeramanku mengendur seketika. Chaerin… apa dia menceritakan semuanya pada Henry? Apa dia juga bercerita tentang perceraian itu?

”Henry-ah, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

Henry mendongakkan kepalanya sambil tersenyum. ”Kau ingin bertanya apa, hyung?”

Kuhembuskan napas panjang.

”Ada hubungan apa kau dengan Chaerin?”

Henry sempat menatapku beberapa detik. Aku tahu dia cukup terkejut dengan pertanyaan sederhanaku ini. Aku hanya ingin tahu lebih dalam mengenai hubungan mereka. Wajar bukan? Aku ini masih suami sah Han Chaerin. Meski dia sudah meminta bercerai dariku.

”Aku dan Chaerin adalah sahabat.”

Sahabat? Hanya sekedar itukah?

”Kau pasti tahu kalau aku pernah tinggal di California saat aku kecil. Chaerin juga pernah tinggal di sana. Dia adalah tetanggaku. Keluarga kami akrab karena kami sama-sama dari Asia. Chaerin kecil begitu gemuk dan rambutnya dikuncir dua.”

Henry nampak tersenyum.

”Dia sangat lucu saat itu. Tapi karena penampilannya itulah, dia justru tidak mendapat teman di sana. Untuk itu, aku menemaninya karena menurutku dia unik. Kami berteman dekat. Bahkan sangat dekat. Hingga suatu hari dia harus pindah ke Korea. Aku masih ingat dengan jelas wajahnya yang begitu sedih. Dia menangis. Dia bilang, dia tidak ingin berpisah denganku. Jujur saja, saat itu aku juga tidak ingin dia pergi.”

Tanganku kembali mencengkeram celana jeans yang kupakai dengan kuat. Telingaku sudah tidak kuat lagi sebenarnya. Tapi aku harus tahan untuk mendengar kelanjutan cerita itu.

”Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain melepaskannya. Kupikir, California bukanlah tempat yang cocok untuknya. Sejak saat itu, aku tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Keluarga Chaerin tidak memberikan nomor telepon mereka pada keluargaku. Hingga akhirnya, kemarin, di Jakarta, aku kembali bertemu dengannya. Dia jauh berbeda dari Chaerin tujuh tahun yang lalu. Aku baru menyadari kalau keputusanku untuk tidak mencegahnya pergi itu adalah keputusan yang tepat.”

Henry menghentikan ceritanya. Aku berusaha menarik nafas namun entah kenapa dadaku begitu sesak. Tidak kusangka hubungan mereka sedekat itu. Ternyata aku tidak tahu apapun mengenai Chaerin. Henry lah yang mengetahui semuanya.

”Kau tahu hyung, aku sangat lega karena dia sudah menikah sekarang. Dia menikah dengan laki-laki sepertimu. Kekhawatiranku selama ini sudah hilang.”

Aku tersentak. ”Kau senang?”

”Tentu saja. Selama aku mengenalmu, aku selalu berpendapat kalau kau laki-laki yang baik. Selamat ya atas pernikahan kalian! Mianhae, aku telat mengucapkan ini.”

Henry mengulurkan tangannya untuk berjabat. Aku terpaku. Aku tidak mengira Henry akan mengucapkan hal itu padaku.

>>>>>

HENRY’S POV

”Kau tahu hyung, aku sangat lega karena dia sudah menikah sekarang. dia menikah dengan laki-laki sepertimu. Kekhawatiranku selama ini sudah hilang.”

Aku mencoba tersenyum meski sebenarnya aku tidak yakin dengan perkataanku ini.

”Kau senang?” tanya Donghae hyung.

Ani, hyung. Aku tidak senang… sejujurnya.

”Tentu saja. Selama aku mengenalmu, aku selalu berpendapat kalau kau laki-laki yang baik.”

Ya, yang itu aku tidak bohong. Donghae hyung memang baik. Dia laki-laki yang ideal untuk menjadi suami dan Ayah.

Kuulurkan tanganku di depan Donghae hyung.

”Selamat ya atas pernikahan kalian! Mianhae, aku telat mengucapkan ini.”

Tapi yang ini, aku bohong. Sangat bohong! Aku tidak sungguh-sungguh ingin mengucapkan selamat padanya.

Donghae hyung nampak terkejut. Sesaat kemudian, dia membalas uluran tanganku.

”Gomawo, Henry-ah.”

”Ani, tidak perlu berterima kasih padaku.” jawabku sambil terus berusaha untuk tersenyum. Ah, ini benar-benar menyiksa. Hatiku sungguh sangat menolaknya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

”Hyung,”

”Hm?”

”Aku harap kau tidak menyakiti Chaerin.”

Donghae hyung sempat terdiam beberapa detik. ”Apa maksudmu, Henry-ah?”

”Aku tidak akan segan mengambil Chaerin darimu kalau dia tidak bahagia bersamamu.”

-TBC-

Eottae? Udah puas? Apa malah enek musti baca banyak kalimat? Hehehe

Sekedar cerita, ini sebenarnya dibagi jadi dua part tadinya. Karena salah satu part amat sangat sedikit *11 lembar aja masih diprotes hohoho* jadi author putusin untuk gabungin partnya. Jadilah part 8 spesial ini. Hehehe

Semoga memuaskan yaaaa ^ ^

Advertisements

2 thoughts on “[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (Part 8)

  1. Chaerin cemburu denger donghae ketemu cewe..akankah chaerin ketemu mantan pacar donghae di universitas..konflik mulai muncul…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s