SERIES ll My Life with Destiny and Your Baby [PART 17] END

 

Title           : My Life with Destiny and Your Baby [PART  17]

Author      : fanpie hyunzy a.k.a fania

Rate          : PG 17

Leight       : Chaptered

Genree     : Romance, friendship and family

Facebook : Fanpie Hyunzy Jooyoon

Twitter     : @FaniaRyeong9 (follow me^^)

Main Cast

  • Cho Kyuhyun
  • Han Soojin / Cho Soojin
  • Cho Hyunsoo (Baby’s^^)

Support cast

  • Kim Ryeowook
  • Shin Hyemi
  • Lee Hyukjae
  • Park Hyerin
  • Kang Seorin
  • Lee Sungmin
  • Lee Seungmi
  • Han Jiwoo (soojin’s oppa)
  • Han Jino (soojin’s namdongsaeng)
  • Etc temukan sendiri ya J

Disclaimer :

This story is MINE, cerita ini murni hasil kerja otak saya tanpa bantuan siapapun kecuali anugerah(?) dari Tuhan YME. Jadi jangan seenak jidatnya mem-PLAGIAT dan meng-COPAS karya saya ini karena saya akan menuntut balas dan dosa di akhirat tanggung sendiri :3

Langsung ke cerita!

 

—————————————————–Happy Reading————————————————————-

 

“Katakan, siapa yang menelponmu?” lagi, desak Kyuhyun dengan pelan namun terkesan memaksa.

Soojin segera beranjak dari tempat itu, menghindari kekacauan lebih jauh. Ia memutuskan pergi ke dapur dengan sambungan telepon yang masih menyala. Kyuhyun hanya bisa memperhatikan Soojin yang memilih berjalan pergi ke dapur, ia tak mencegah dan tidak pula mengikuti yeoja itu. Lagi pula ia bisa puas bertanya saat nanti Soojin telah selesai menelepon.

 

Ketika tak terdengar lagi suara Soojin, Kyuhyun mulai bergerak menuju ke dapur. Soojin dapat mendengar derap langkah kaki Kyuhyun, ia pun berbalik saat Kyuhyun tepat berada di belakangnya.

“Nugu?” tanya Kyuhyun.

Soojin meneguk ludahnya sulit, ia meremas erat ponsel di genggamannya. Meski ia tahu Kyuhyun tak akan marah, tetapi entah mengapa hatinya berdegup kencang.

“Jiwoo oppa, dia menanyakan kapan aku berangkat ke Jepang. Eottokhe?” aku Soojin dengan raut berubah drastis.

“Mwo?”

“Aku tidak mau ke jepang, Jiwoo oppa harus tau keadaan disini sudah lebih baik” lanjut Soojin.

“Biar aku bicara pada Hyung” tangan Kyuhyun bergerak ingin mengambil ponsel di tangan yeoja itu, tapi Soojin mengelak.

“Andwe,  Jiwoo oppa sedang marah padamu ”

“Lalu aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku membiarkanmu  pindah ke Jepang, itu tidak akan  pernah terjadi” Kyuhyun frustasi dengan ucapannya sendiri.

“Siapa bilang? Aku juga tidak ada niat seperti itu” balas Soojin menenangkan suaminya. Kyuhyun menatap Soojin, mengelus pipi yeoja itu dengan tangannya sendiri.

“Kau tidak akan pernah pergi lagi kan? Aku tidak bisa hidup tanpamu” ujar Kyuhyun. Tatapan Soojin yang teduh menangkap kekhawatiran yang mendalam dari wajah Kyuhyun. Ya… dengan begini, namja itu benar-benar membuktikan bahwa ia memang mencintai Soojin. Ia takut yeoja itu akan menghilang dari kehidupannya.

“Tidak, demi Hyunsoo aku berjanji tidak akan meninggalkanmu” ucap Soojin sungguh-sungguh.

“Kita pikirkan jalan keluarnya besok, mandi dan setelah itu kita makan”

**

 

Sungmin menopang wajahnya dengan tangan di atas meja. Otaknya memberi sinyal untuk lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi atas semua hal yang secara kebetulan selalu melibatkannya sehingga ia bertemu dan bahkan kenal dengan yeoja bernama Shin Hyemi itu. Jadi lah ia sekarang duduk berhadapan dengan Hyemi di rumah yeoja itu.

“Jadi kau tidak kuliah?” tanya Sungmin menarik kesimpulan setelah mendengar cerita yeoja berambut panjang itu.

“Tidak, setelah lulus kuliah aku langsung ke luar negeri untuk penyembuhan penyakitku”

Sungmin hanya bergumam mengiyakan kemudian bersandar ke belakang dan melipat tangan ke dada. Hyemi seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia nampak ragu-ragu.

“Sungmin-ssi, maaf atas tindakanku selama ini. aku tahu, aku kasar. Tidak pernah bicara baik padamu. Aku benar-benar minta maaf” ucap Hyemi perlahan.

“Ya, kau benar. Kau yeoja kasar, sedikit angkuh, pintar menceramahi orang soal sopan santun tapi kau sendiri tak memiliki itu, pemarah dan apa lagi… ah… aku tidak bisa mengingatnya” ungkap Sungmin dengan nada mengeluh. Hyemi meringis kecil mendengar itu semua, ia hanya dapat memaklumi keluhan yang menggambarkan dirinya itu.

“Mianhae” ulang Hyemi.

“Dan ah… ya! Kita bahkan belum pernah berkenalan secara resmi, kau tahu namaku dari name tag di kemejaku saat malam aku menolongmu. Dan aku sendiri tahu namamu dari adikku, Seungmi” tambah Sungmin mencoba mengingat.

“Apa kau mau kita mengulang berkenalan?” tanya Hyemi hati-hati.

“Ide bagus, kajja” Sungmin langsung berdiri semangat. Hyemi tak menyangka kalau namja itu akan benar-benar merespon ucapannya. Hyemi menatap cengo pada Sungmin, hingga namja itu menariknya untuk berdiri.

“Perhatikan aku” titah Sungmin.

“Lee Sungmin imnida” namja itupun membungkukkan badannya sesaat. Ia memberi kode agar Hyemi mengikutinya. Yeoja itu bergerak dengan gerakan kaku.

“Shin Hyemi imnida”

Tiba-tiba Sungmin bertepuk tangan dan sedikit bersorak.

“Kau sangat manis jika bertingkah sopan begini” ujar Sungmin sembari tertawa. Mau tak mau Hyemi juga ikut tersenyum melihat namja itu.

**

 

Keesokan harinya, tepat pukul enam pagi Kyuhyun dan Soojin sampai di kediaman keluarga Cho. Seharusnya kemarin mereka sudah ada disini, tetapi berhubung kemarin sore adalah hari yang melelahkan akhirnya mereka baru bisa berangkat dini hari tadi.

“Apa Hyunsoo tidak apa-apa? Ini sangat dingin” tanya Kyuhyun melirik pada Hyunsoo yang sedang di gendong Soojin, bayi itu di balut dengan kain super tebal, hingga hanya menampakkan wajahnya.

“Entahlah, tapi ku rasa ia tidur” jawab Soojin. Kyuhyu menarik sebuah koper, beberapa pembantu rumah terlihat keluar dari rumah besar itu menghampiri mobil Kyuhyun untuk menurunkan beberapa tas dan koper lagi dari dalam bagasinya. Tak lama kemudian keluarlah Nyonya Cho menyambut anak, menantu dan cucunya dengan sebuah senyuman. Wanita tua itu langsung memeluk Kyuhyun dengan sangat erat, namja itu juga membalasnya. Bagaimanapun, ia juga merindukan wanita yang dulunya membenci istrinya itu.

“Eomma sangat merindukanmu Kyuhyun-ah, apakah selama ini kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Cho dengan kekhawatiran yang sangat jelas. Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum.

“Eomma bagaimana? Apakah sakit punggung eomma sering kambuh? Apalagi sekarang sedang musim dingin” balas Kyuhyun bertanya.

“Sekarang sudah lebih baik”

Soojin yang ada di samping kedua orang itu hanya bisa memperhatikan anak dan ibu itu saling melepas rindu.

 

Nyonya Cho kemudian mengalihkan tatapannya pada yeoja di samping Kyuhyun. Perlahan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum yang di arahkan pada Soojin. Wanita itu mendekat, lalu memeluk Soojin, membuat yeoja itu sedikit terkejut.

“Apa kabar? Apa kau baik-baik saja?” Nyonya Cho seakan mengerti dengan yang ada di fikiran Soojin, karena itu ia berinisiatif bertanya duluan.

“Ah cucuku, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sedang tidur?” ibu Kyuhyun menyentuh pipi Hyunsoo. Soojin menoleh pada Kyuhyun, namja itu mengangguk menanggapi tatapan Soojin.

“Aku baik-baik saja eomma” ucap Soojin akhirnya menjawab pertanyaan dari ibu suaminya itu.

“Kita mulai semuanya dari awal, kau mau kan?” tanya Nyonya Cho menatap Soojin. Yeoja itu mengangguk sebelum akhirnya tersenyum pertanda setuju.

“Kita akan hidup bersama setelah ini” Nyonya Cho merangkul leher Kyuhyun dan Soojin secara bersamaan.

 

“Ehm… ada apa ini?” tiba-tiba Tuan Cho datang dari arah belakang istrinya.

“Annyeong appa” sapa Kyuhyun dan Soojin beriringan.

“Ah kalian, kenapa berdiri disini? Bagaimana kalau Hyunsoo sakit? Cepat masuk” ujar Tuan Cho menyuruh semuanya masuk ke dalam.

**

Soojin POV

Ini sudah berjalan tiga hari sejak aku pindah ke sini, ke rumah keluarga Cho. Tidak ada lagi yang membebani fikiranku selain telepon dari Jiwoo oppa, dia terus menanyakan kapan aku berangkat ke Jepang. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan oppa nanti saat tahu aku tidak jadi pergi, sekarang tepat menunjukkan pukul 9 malam. Aku merebahkan diri di tempat tidur sembari menunggu Kyuhyun pulang setelah menidurkan Hyunsoo terlebih dahulu. Posisiku menghadap ke sebelah kanan membelakangi pintu kamar, karena box Hyunsoo berada di sisi kanan ranjang. Dan tentang masalah desakan Jiwoo oppa aku ataupun  Kyuhyun tidak memberi tahu eomma dan appa, kami cemas mereka akan melibatkan diri dan membuat masalah menjadi buruk. Sebisa mungkin kami akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Di saat fikiranku tengah melayang entah kemana aku merasakan ranjang ini sedikit bergoyang dan sesuatu terasa hinggap di pinggangku, seperti sebuah rengkuhan.

“Kau memikirkan itu lagi, hm?”

Aku tahu itu suara siapa, hembusan nafasnya kuat menerpa kulit leherku. Ini kebiasaannya, untuk selalu mengganggu tidurku sejak tinggal disini. Memelukku dari belakang hingga matanya terpejam.

“Otakku tidak bisa bebas dari itu” jawabku mengubah posisi di hadapannya.

“Mandi… jangan langsung  memelukku saat pulang kerja” seru ku yang mendapat jawaban dengkuran darinya, tapi aku tahu itu hanya pura-pura! Mana bisa ia langsung tertidur setelah baru beberapa detik berada disini.

“Tidak mau, aku lelah dan tidak punya tenaga lagi” jawabnya memelas dengan masih memejamkan mata.

“Ya! Sejak kapan kau menjelma menjadi anak-anak begini? Cepat mandi!” seruku lagi.

“Sejak kau lebih sayang Hyunsoo dari pada diriku” balasnya. Astaga alasan macam apa itu, Cho Kyuhyun dia benar-benar… aku baru tahu ia memiliki sisi manja seperti sekarang ini.

“Kau cemburu pada bayi?” tanyaku dengan menaikkan sebelah alis, aku tahu ini hanya lelucon. Mana mungkin ia benar-benar merasa Hyunsoo merebutku darinya, anak yang selalu di bangga-banggakannya, begitu ia cintai sepenuh hati hingga ia terlambat ke kantor karena keasyikan bermain dengan bayi itu

 

Punggungku bersandar pada sandaran tempat tidur, begitupun dirinya. Pancaran matanya nampak lebih redup dari biasanya, pandangannya sedikit sayu. Aku mencoba mamahami tiap arti pandangannya, menjadi tempat ia bersandar di kala lelah.

“Kau kenapa? Ada masalah di kantor?” tanyaku pelan. Kepalanya bergerak ke samping membalas tatapanku.

“Tidak sama sekali” jawabnya seraya membuang nafas yang nampaknya sedikit ia tahan-tahan.

“Lalu kenapa? Kau terlihat berbeda hari ini, jangan membuatku cemas”

Ia menyunggingkan senyum lemah mendengar sederet kalimatku tadi.

“Besok aku akan berangkat ke Jepang, aku perlu melakukan survey pada perusahaan binaan yang ada di Tokyo”

Dengan gerakan cepat aku menoleh padanya, menghadapkan wajahku tepat di depannya.

“Kenapa harus kau? Bukankah banyak yang lebih berpengalaman di banding dirimu?” tanyaku tanpa pikir panjang. Aku tidak tahu apakah perkataanku tadi menyinggungnya dalam hal kemampuan, lidahku reflek berucap seperti itu karena aku tidak ingin berpisah darinya barang sedetikpun. Salahkan dirinya yang selalu berhasil membuatku terbuai dan hanyut dalam perlakuannya yang lembut. Selalu membuatku jatuh dalam pesona dirinya dalam bentuk dan keadaan apapun, hingga aku ketergantungan dan tidak biasa menjalani hidup tanpa sosoknya di sampingku.

 

“Pikirkan hal positifnya Soojin-a” jawabnya yang lantas mendapat tanggapan keheranan dariku.

“Apa maksudmu?” intonasiku sangat mendesaknya.

“Aku akan menemui Jiwoo Hyung disana dan menjelaskan tentang permasalahan kita, jadi kau tidak perlu lagi kesana”

Perkataannya benar dan masuk akal, tapi apakah harus berpisah? Apakah aku harus mengatakan aku tidak bisa hidup tanpanya walaupun hanya sehari agar ia mengerti perasaanku? Mengapa nada bicaranya sedari tadi terdengar tenang? Apakah ia tak merasakan sesuatupun jika berpisah denganku?

“Berapa lama?” tanyaku lemas. Aku mengambil guling yang ada di sampingku dan memeluknya.

“3 bulan”

“Mwo? Ti-tiga bulan? Kenapa harus selama itu?” ada sesuatu yang rasanya ingin keluar dari dadaku, rasa kesal mungkin.

“Selain survey, disana akan di adakan suatu pengawasan produksi hasil barang untuk menilai rata-rata laju produksi tersebut dalam kurun waktu percontohan selama 3 bulan itu”

Ku tenggelamkan wajahku di bantal setelah mendengar penjelasan yang cukup ku mengerti. Tubuhku beringsut turun dan memposisikannya untuk tidur, kepalaku bedenyut. Selanjutnya aku menarik selimut menutupi tubuhku dari ujung kaki hingga kepala dan berbalik arah membelakanginya. Sudah cukup aku mendengar penjelasannya, ku dengar atau tidak ia akan tetap pergi besok.

 

Beberapa detik setelah itu, ada yang menarik selimut di bagian kepalaku hingga terbuka sampai batas dada.

“Aku bisa saja menolak perjalanan bisnis ini demi dirimu, tetapi karena dirimu juga aku tidak bisa menolaknya. Ini bukan karena pekerjaan tapi ini karena Jiwoo Hyung, kita harus menyelesaikan semuanya disini. Mengertilah, aku tahu kau marah dan kesal. Aku juga tidak mau berpisah denganmu dan Hyunsoo. Setelah aku menjelaskan semuanya pada Jiwoo Hyung, aku akan pulang dan selanjutnya kita akan hidup bahagia tanpa satupun masalah”

Ku buka mataku yang merapat selama mendengar ucapan darinya. Aku sedikit lega mendengar itu semua. Ku balikkan tubuh menghadapnya, sekarang wajahnya tepat berada di atas wajahku.

“Kau berjanji akan pulang secepatnya setelah masalah pekerjaan dan masalah dengan Jiwoo oppa selesaikan?” tanyaku yang butuh sedikit lagi penegasan darinya.

“Apapun untukmu” ujarnya pelan sambil menurunkan wajahnya hingga otomatis wajah kami semakin dekat. Tangan sebelah kanannya bertumpu di samping kepalaku hingga menekan bantal dan satunya lagi terasa membelai rambut serta pipiku.

“Bolehkah…?” tanya-nya yang tidak ku mengerti sebelumnya, hingga ia menyentuhkan telunjuknya di bibir bawahku. Aku mulai mengerti maksud ucapnnya, inilah yang menjadikanku sangat mengaguminya. Tidak, bahkan semakin mengaguminya, ia tidak pernah memaksakan kehendaknya. Hanya meminta sewajarnya, sesuatu yang memang menjadi kewajibanku untuk memenuhinya.

 

Perlahan bibirnya menyentuh bibirku, dengan pergerakan kecil namun lembut membuatku merasa tidak menginjak daratan. Selalu begini, terbuai oleh permainannya yang sering mendominasi. Aku tahu ia lelah, tetapi untuk hal ini sepertinya ia seolah memiliki tenaga lebih. Tanpa sadar, gerakannya menjadi lebih menuntut, aku terus memberi balasan sebisaku. Besok ia akan melakukan perjalanan jauh, jadi apa salahnya jika aku memperlakukannya lebih. Tangannya mulai meraba tengkukku dan berusaha menekannya saat aku tahu ia semakin terlarut menikmati semua ini. ketika mataku yang terpejam mulai terbuka di tengah-tengah sensasi memabukkan ini, ruangan ini sudah gelap entah sejak kapan tangannya meraih lampu tidur yang berada di atas nakas di samping tempat tidur ini dan mematikannya. Aku tidak tau, yang aku tau perlahan-lahan aku akan gila karena perlakuannya. hanya Tuhan dan dirinya yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

“Aku menginginkanmu” selanya berhenti sejenak dengan seruan nafas memburu.

**

Author POV

Meski udara dingin kicauan burung tetap melantun dan di perdengarkan oleh alam pagi ini. Ryeowook, namja itu dengan rambut acak-acakan terbangun sembari memijit pangkal hidungnya untuk mengumpulkan kesadarannya.

“Yeoboseyo?”

Ya! Kau baru bangun Wookie-a?”

“Nde eomma, waeyo?”

Mana janjimu? Kau bilang ingin mengenalkan seorang yeoja? Atau kau mau eomma carikan yeoja huh? Kau ini sudah besar tapi sekalipun belum pernah mengenalkan yeoja manapun pada eomma

“Aish… ne… ne… eomma lihat saja nanti, akan ku bawa yang paling cantik. Sudah, aku harus kuliah dulu. Nanti ku telepon lagi, muaaach” secepat mungkin Ryeowook mematikan panggilan itu. Ia memang terkenal sangat menyayangi orang tuanya terlebih ibunya yang cerewet, mungkin ini juga karena faktor dirinya anak tunggal. ia menghempaskan tubuhnya ke belakang, kembali berkutat dengan bantal dan selimut hangatnya. Tangannya ia gunakan sebagai alas kepala dengan wajah menatap ke langit-langit kamarnya.

Kang Seorin, wajah yeoja itu seolah yang ia lihat di atas sana. selain bingung dengan permintaan ibunya ia juga bingung terhadap perasaannya. Awalnya ia memang ingin meminta bantuan Seorin atau lebih tepatnya memanfaatkan yeoja itu untuk memenuhi permintaan ibunya. Namun, ada sesuatu yang mengatakan itu semua tidak benar, bukan karena suruhan ibunya ataupun karena alasan lainnya. Melainkan desakan dari hatinya sendiri, entahlah ia bahkan tak tahu harus mengatakannya dari mana yang jelas dan yang ia tahu ia hanya membutuhkan Seorin untuk saat sekarang dan seterusnya.

**

#2 week later#

Di sebuah rumah tuhan yang terletak tak jauh dari keramaian kota elit Seoul berlangsung suatu acara penyatuan dua manusia. Seorang namja yang berdiri dengan tegapnya menghadap ke depan, meski dari kejauhan ia terlihat rileks namun pada kenyataannya ia gugup bukan main. Hyukjae namja itu tengah menunggu Hyerin di altar.

 

Soojin yang berdiri tak jauh di belakang Hyukjae nampak sesekali memberi semangat namja itu ketika Hyukjae sebentar-sebentar melirik ke belakang untuk memastikan keadaan baik-baik saja. Soojin datang bersama Hyunsoo dan kedua mertuanya Tn dan Ny Cho.

“Kau datang dengan siapa?” tanya Soojin pada yeoja di sampingnya yang tak dan tak bukan adalah Seorin.

“Aku datang dengan Ryeowook, kau ingin bertemu dengannya? Tadi dia mengatakan kesana sebentar” jawab Seorin sembari menunjuk ke salah satu tempat. Soojin menggeleng dan tersenyum.

“Tidak, aku hanya ingin tahu kau datang dengan siapa. Jangan membuatnya patah hati” ujar Soojin lagi.

Sesaat Seorin terdiam dan mencerna arti kata yang di katakan oleh Soojin, tak mungkin ia tak mengerti maksud Soojin.

Matanya Soojin kemudian menangkap sosok Hyunsoo yang berada di gendongan mertuanya, setidaknya ia bisa wajah Kyuhyun yang hampir seratus persen di turuni oleh bayi itu.

Acara inti sedang berlangsung, semua orang diam dalam keheningan yang damai. Hingga suara tepukan menggema saat Hyukjae dan Hyerin telah resmi menjadi suami istri secara hukum dan agama. Keduanya tersenyum sumringah, saling memberikan senyuman terbaik. Semuanya menjadi sangat tegang saat Hyukjae tanpa aba-aba mencium bibir pink Hyerin, para tamu undangan pun semakin bersorak karena itu.

 

Di saat Soojin tengah menikmati hidangan yang tersedia bersama pasangan pengantin baru Hyukjae- Hyerin dan Ryeowook serta Seorin, kedatangan seseorang membuatnya terhenti sejenak dari kegiatan yang sedang di tekuninya. Dari pintu gerbang masuk muncul Hyemi, ini memang sedikit terlambat namun tak mengurangi rasa bahagia Hyukjae saat tahu Hyemi masih datang di acara pernikahannya.

“Chukkae atas pernikahan kalian” Hyemi memberi selamat pada Hyukjae dan Hyerin. Ia memeluk Hyukjae sebentar kemudian Hyerin.

“Mianhae, aku terlambat. Acara belum selesaikan kan?” tanya Hyemi.

“Tentu saja belum, duduklah” sambut Hyukjae menggiring Hyemi untuk duduk.

Semuanya melebur dalam perbincangan mereka yang terkadang mengundang tawa, seolah ini merupakan awal perkenalan mereka setelah sekian lama terbelenggu dalam suatu masalah yang saling mengaitkan masing-masing dari diri mereka.

 

“Kau mencari Kyuhyun?” Soojin datang secara tiba-tiba mengejutkan Hyemi yang tengah menolehkan kepalanya kesana-kemari. Sementara yang lain masih asyik mengobrol.

“Anni-eo” jelas Hyemi sembari tersenyum. Soojin mengerti, sedikitpun ia tidak marah ataupun takut jika Hyemi pada kenyataannya memang mencari Kyuhyun.

“Aku akan kembali ke Paris, lusa” ujar Hyemi yang langsung saja membuat Soojin tercengang.

“Kau akan pergi lagi? Kenapa? Kau masih tidak menerima dan memaafkan semua yang telah terjadi ini?” seru Soojin yang nampaknya tak setuju. Hyemi mengambil tangan Soojin lalu menggenggamnya.

“Tidak seperti itu, percayalah bukan karena itu. Aku ingin melanjutkan pendidikanku disana, aku ingin mencari suasana baru tapi bukan berarti aku ingin melupakan yang disini, masih ada eomma di Seoul” tutur Hyemi.

“Kau tidak berbohongkan Shin Hyemi?”

“Tidak, aku serius. Tapi soal tadi aku memang berbohong, aku minta maaf. Aku memang berniat mencari Kyuhyun untuk mengatakan selamat tinggal” aku Hyemi jujur.

“Sayang sekali, Kyuhyun tidak disini. Dua minggu yang lalu ia pergi ke Jepang”

Bukannya menunjukkan kekecewaannya, Hyemi malah tersenyum dan mencoba menerima segala sesuatu dengan lapang dada.

“Sampaikan salamku jika ia sudah pulang, kau mau kan?”

“Aku tidak punya alasan untuk menolak permintaanmu, pasti ku sampaikan” balas Soojin. Selanjutnya Hyemi memeluk Soojin dalam.

“Selamat tinggal, aku pasti akan merindukanmu” ucap Hyemi.

“Aku juga akan sangat merindukanmu, jaga diri baik-baik. Jangan lupakan aku”

Setelah melepaskan pelukannya Hyemi berjalan menjauh. Satu hal yang tidak di ketahui oleh Soojin ketika Hyemi telah berbalik membelakanginya, yeoja itu menitikkan air mata entah karena kesalahannya selama ini atau karena akan berat berpisah dengan Soojin.

 

Tiba saatnya di penghujung acara, karena acara ini di mulai agak sore hari maka dari itu pesta ini berakhir malam hari. Hyerin sudah tak menggunakan high heels-nya lagi sebagai alas kaki berjalan karena itu membuat tubuhnya limbung. Alhasil Hyukjaelah yang kini memegangi sepatu hak tingginya itu. Semua orang membentuk kerumunan terutama kaum wanita, Soojin tak ikut. Ia hanya berdiri di sisi kerumunan itu sembari menggendong Hyunsoo yang dari tadi sore sudah berkali-kali rewel, menangis dan bertingkah.

“Soojin-a sebaiknya kau pulang, ini sudah malam. Hyunsoo pasti sangat ingin istirahat” ujar ibu Kyuhyun cemas menatap cucunya yang di timang Soojin. Yeoja itu tampak sedikit memelas, tinggal sedikit lagi acara ini akan berakhir dan tak mungkin ia melewatkan itu bila mengingat pengorbanan Hyukjae dan hyerin selama ini pada dirinya.

“Setelah bagian pelemparan bunga aku berjanji akan langsung pulang, aku mohon”

Ibu Kyuhyun menghela nafas pasrah kemudian mengangguk.

“Baiklah, halmeoni dan harabeoji akan menemani Hyunsoo dan eommanya disini sebentar lagi” putus ayah Kyuhyun yang mendadak telah berdiri di samping Soojin. Lelaki tua itu terlalu tak tega membiarkan menantunya pulang malam-malam sendirian. Sekarang posisinya adalah Soojin berdiri di tengah, di antara ayah dan ibu Kyuhyun dengan Hyunsoo di gendongannya. Sementara itu mata mereka tak lepas memandang orang-orang yang berkerumun di depan sana menanti Hyerin melepar bunga pernikahan bersama Hyukjae di sampingnya. Soojin bisa melihat teman-temannya berkumpul semua malam ini dengan tawa yang menghiasi wajah mereka masing-masing. Betapa ini akan lebih sempurnanya bila Kyuhyun juga ada disini. Soojin berpikir dalam hati namun ia tetap bahagia bisa berkumpul bersma yang lainnya malam ini, benar-benar hari yang sempurna.

 

“Hana… dul… set…” ucap Hyukjae dan Hyerin bersamaan sebelum melempar bunga yang mereka pegang ke depan. semua yeoja yang ada disana berteriak histeris, karena menurut cerita yang berkembang dari masa ke masa, siapa saja pasangan yang berhasil menyambut lemparan bunga dari sang pengantin maka ialah yang akan menikah selanjutnya.

*HAP*

Hyemi dan Seorin saling melirik satu sama lain, tangan mereka sama-sama memegang satu benda yang sama. Yaitu bunga yang di lempar oleh pasangan pengantin tersebut. Tak heran karena mereka tadi memang berdiri berdampingan dan entah sengaja atau tidak Hyukjae dan Hyerin malah melempar ke arah mereka berdua. Seorin sengaja melepaskan tangannya dan mendorong bunga itu pada Hyemi, lantas Hyemi kaget dengan tindakan Seorin.

Semuanya menyoraki Hyemi dan bertepuk tangan.

“Siapa namjachingu temanku ini? cepat ke depan dan nikahi Shin Hyemi sekarang juga” teriak Hyukjae tak malu sambil berjalan mendekati yeoja tersebut. Tak urung Hyemi melayangkan pukulan kecil ke lengan namja yang kini sedang tertawa itu.

“Ya! Apa yang kau katakan,  kau membuatku malu” gerutu Hyemi yang di hadahi tawaan dari Hyukjae, namja itu berhigh-five dengan Seorin. Hyerin datang menghampiri Soojin dengan gaun panjangnya yang sangat menyusahkan.

“Kyaaa temanku akhirnya menikah, chukkae!” seru Soojin berteriak ringan.

“Chukkae… aku senang akhirnya kau bisa menemukan kehidupan yang kau inginkan” ujar Hyerin balik menyelamati Soojin. Yeoja itu tersenyum tipis, ia merangkul pundak Hyerin setelah melepaskan Hyunsoo ke tangan kakeknya bayi itu yang berdiri tak jauh dari sana bersama neneknya juga.

“Aku harap semuanya akan selalu seperti ini hingga esok dan seterusnya lagi sampai kita menua”

“Jadi kau suka seperti ini? tanpa Kyuhyun?” serang Hyerin tak percaya.

“Ah, bukan begitu. Maksudku kita bisa selalu bahagia seperti keadaan sekarang tanpa ada lagi perselisihan dan masalah apapun” jelas Soojin baik-baik. Hyerin mengangguk paham dan mengakhiri pesta malam ini dengan  senyum yang menghiasi wajahnya.

**

“Kajja, kita pulang. Ini sudah sangat malam” Ryeowook menyikut kecil lengan yeoja yang ada di sampingnya. Seorin melirik ke teman-temannya lalu balik membalas Ryeowook dengan anggukan.

Setelah berpamitan keduanya langsung pergi dari sana, Ryeowook menggenggam tangan Seorin tanpa ada niatan untuk di lepaskan.

“Aku sangat senang hari ini” tiba-tiba Ryeowook mengeluarkan sepatah kata itu.

“Aku juga” balas Seorin. Di bawah langit yang terdapat gumpalan awan itu mereka berjalan untuk mencapai tempat parkiran. Ryeowook menghentikan jalannya menghadang jalan Seorin kemudian menatap yeoja itu dari atas sampai bawah.

“Aku tidak salah pilih, gaunnya cocok denganmu”

“Mwo? Kau… jangan-jangan…” tanggap Seorin mendelik.

“Apa? Kau mau protes? Tapi kau suka gaun ini kan?” Ryeowook mencubit pelan hidung yeoja itu. Seorin menjadi salah tingkah karena itu, untung saja ini malam hari, jika tidak mungkin namja itu bisa melihat rona di kedua pipinya.

“Besok aku akan ke Incheon lagi, ku harap kau mau ikut” Ryeowook berdegup sendiri setelah mengutarakan hal itu. Seorin tidak tahu harus berkata apa, ia juga rasanya ingin terbang tiap kali namja itu membahas soal itu lagi. Ia kembali merasa tegang.

“Itu pilihan atau perintah?” tanya Seorin.

“Jika itu pilihan apa kau akan menolak?”

“Apa yang ku tolak?”

“Kau berbelit, aku jadi pusing”

“Baiklah, itu perintah. Bukan pilihan” ralat Ryeowook akhirnya.

“Aku tidak mengerti dengan yang kau bicarakan”

“Ini caraku menyatakan perasaan, kenapa kau tidak mengerti juga?” jawab Ryeowook cepat, karena ia sangat malu mengucapkan kata itu. Seorin tercengang, berkedip saja ia tidak bisa. Ryeowook meraih tangan Seorin menyatukan dengan tangannya.

“Besok pagi aku akan menjemputmu ke rumahmu, jika kau mau ikut denganku, ku anggap itu sebagai balasan darimu atas  perasaanku malam ini. Tapi jika besok kau tidak mau ikut, aku tidak akan memaksa, itu berarti kita ha..nny…”

“Sttt…” Seorin menyuruh namja itu diam dengan meletakkan ujung telunjuknya di bibir Ryeowook.

“Jangan teruskan, aku akan pergi bersama-mu besok ke Incheon” sambung Seorin yang secara tak langsung telah menerima ajakan serta pernyataan cinta Ryeowook. Seketika senyum merekah di bibir keduanya.

*GREP*

“Gomawo” ujar Ryeowook sambil membawa Seorin ke pelukannya.

**

Seorang namja memasukkan kunci mobilnya dengan tergesa-gesa. Dua kali kunci itu terjatuh saat akan pas masuk pada lubangnya, untuk yang ke tiga kalinya namja itu berhasil. Dengan segera ia menuju ke tempat yang sangat harus di datanginya sebelum terlambat dan tak memiliki kesempatan kedua.

Di lain tempat Hyemi tengah duduk menunggu giliran pemeriksaan, ia berada di bandara. Ya… tepat dua hari setelah pesta pernikahan Hyukjae dan Hyerin hari itu,  sesuai perkataannya pada Soojin hari ini ia akan berangkat.

Setelah semuanya beres saat Hyemi baru akan berdiri, lengannya malah di cegat oleh sebuah tangan. Orang itu terengah-engah menatap Hyemi, seperti habis berlari maraton jarak jauh.

“Sungmin-ssi?” lirih Hyemi nyaris tak terdengar.

“Neo! Nappeun yeoja…! kenapa tidak bilang padaku kau akan pergi?” ucap Sungmin dengan nada kesal tak terima. Hyemi memang tak memberi tahu Sungmin soal ini, karena ia berpikir dirinya bukan siapa-siapa bagi namja itu. Tak lebih hanya seorang teman yang baru di kenalnya. Jadi ia merasa Sungmin tak akan mementingkan dirinya akan pergi atau tidak

“Mi…an… Apa yang kau lakukan! Ya!” teriak Hyemi kaget saat Sungmin menarik tangannya berlawanan arah dari tempat yang semestinya di tuju Hyemi untuk segera menaiki pesawatnya.

“Membawamu pulang”

Mata Hyemi membola tak percaya.

“Kau gila, aku akan pergi. Lepaskan tanganmu, eommaku akan marah”

“Aku sudah minta ijin pada ahjuma” jawab Sungmin santai sembari berhenti mendadak hingga Hyemi yang berada di belakangnya sukses menabraknya. Namja itu menatap Hyemi yang sedikit mengusap dan membetulkan poninya yang kusut.

“Jadi apa masalahnya sekarang? Tidak ada kan!” Sungmin berujar seraya mengangkat bahu.

“Mwo?” belum sempat hyemi melayangkan aksi protesnya, tangan Sungmin telah lebih dulu mengambil alih pergelangan tangannya untuk di seret lagi.

**

#3 Mounth Later#

Hyunsoo menggerayang-gerayang di atas tempat tidur, tubuhnya sudah wangi. Bedak menempel di wajahnya tanpa aturan. Bayi itu baru saja selesai mandi, ia mengangkat-ngangkat tangannya sembari memperhatikan ibunya yang sedari tadi berlari-lari kecil bolak-balik di kamar yang berukuran lumayan luas itu. Soojin, yeoja itu tengah berlari kelimpungan kesana-kemari mengejar yang satu dan yang lainnya. Inilah susahnya kuliah sambil memiliki anak, tepat sekitar dua bulan yang lalu saat di bukanya tahun ajaran baru, Soojin memutuskan untuk menyambung sekolahnya di salah satu universitas yang ada di Seoul. Awalnya, keputusannya ini di tentang ibu Kyuhyun karena merasa Hyunsoo masih sangat kecil untuk di tinggalkan oleh ibunya untuk pergi kuliah. Namun, terlambat. Hasil tes telah lebih dulu keluar dan menyatakan Soojin lulus masuk universitas. Itulah yang membuat ibu Kyuhyun berpikir ulang hingga akhirnya ia mengizinkan menantunya tersebut mewujudkan keinginannya.

 

Soojin memasang sepatunya tergesa-gesa, setelah selesai ia mematut dirinya di depan cermin beberapa saat. Celana jins dan kemeja yang lengannya hingga siku serta rambut yang di kucir satu, tak terlihat sedikitpun bahwa yeoja ini pernah melahirkan.

“Hyunsoo main sama halmeoni, ne? Jangan bertingkah, eomma hanya pergi sebentar. Arra?” tanya Soojin sembari melebarkan matanya menatap Hyunsoo yang sudah berada di gendongannya. Kemudian yeoja itu keluar dari kamarnya dengan langkah cepat, ia hampir terlambat!

**

 

Soojin berjalan di lorong gedung kampusnya, tidak terasa sudah berjalan 3 bulan semenjak Kyuhyun pergi. Mungkin beberapa hari ke depan namja itu akan pulang, namun Soojin tak tahu pasti hari itu kapan karena Kyuhyun tak lagi membalas emailnya dari seminggu yang lalu. Sebenarnya ada sedikit kecemasan di hatinya, tetapi ia berusaha memungkiri itu dan fokus pada kuliahnya.

“Dia pasti akan pulang” tepat setelah menggumamkan itu, Soojin berbalik arah ke belakang saat ia merasa ada tangan yang menyentuh pundaknya.

“O-oppa?” betapa kagetnya yeoja itu saat mendapati Jiwoo berada di belakangnya. Ia menutup mulutnya sendiri menggunakan tangannya. Jiwoo yang memakai kaca mata berlensa itu nampak biasa-biasa saja.

“Kau mau berdiri disitu sampai kapan? Tidak mau memeluk oppa-mu ini?” tanya Jiwoo pura-pura merajuk.

“Kyaaaa oppaaa” langsung saja Soojin menghambur di pelukan kakaknya dengan manja. Tentu saja, mereka tidak bertemu setelah berbulan-bulan.

“Aku sangat merindukanmu” ucap Soojin masih memeluk Jiwoo erat-erat.

“Nado Soojin-a”

“Eoh sejak kapan oppa pakai kacamata? Mata oppa minus berapa? “ Soojin melepas pelukannya kemudian mengganggu letak kacamata Jiwoo.

“Tidak seberapa, sebagian besar ini karena style pria kantoran” jawab Jiwoo sembari melepaskan benda itu dan memasukkannya ke saku jas. Yeoja itu malah terkikik mendengar ucapan Jiwoo.

“Tapi oppa terlihat lebih keren dengan kacamata itu” lanjut Soojin.

“Benarkah? Kalau begitu, selain di kantor oppa juga akan menggunakannya saat berada di rumah” balas Jiwoo mengiyakan pandapat adiknya.

**

“Oppa, apa yang akan kita lakukan disini?” alis Soojin menyatu bingung ketika Jiwoo memaksanya masuk ke sebuah butik khusus baju pengantin. Namja itu tak menjawab apapun selain mendorong Soojin untuk tetap masuk ke ruang ganti, di dalamnya sudah ada karyawan yeoja  yang akan membatu Soojin mengganti pakaiannya. Soojin tak bisa mengatakan apa-apa selain terus bertanya pada karyawan butik tersebut kenapa ia harus mengenakan gaun pernikahan. Namun seakan telah menerima suapan karyawan yeoja itu hanya bungkam dan tak membiarkan Soojin tahu apa-apa.

 

“Neomu yeoppo…” Jiwoo mengitari adiknya dan tersenyum sumringah. Jiwoo lanjut menyalakan mesin mobil dan siap menuju suatu tempat. Soojin kesal, ia menekuk wajahnya. Untuk apa ia memakai gaun pernikahan dan di dandani seperti ini?

“Oppa! Kita mau kemana? Kenapa dari tadi tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Soojin hampir membentak.

“Menikahkanmu!” balas Jiwoo singkat.

“Mwo? Oppa! Apa yang kau katakan? Menikah apa?” jerit Soojin tak terima. Jiwoo diam saja, Soojin sudah pucat duluan. Oppa-nya tega sekali! Ia tahu Jiwoo tidak pernah menyukai Kyuhyun, tapi tidak seperti ini juga, setidaknya ini harus ada penjelasan terlebih dahulu. Kyuhyun! Hyunsoo bagaimana dengan kedua orang itu? Apakah Kyuhyun tak berhasil menyelesaikan masalah dengan oppa-nya itu? Hingga berakhir dengan pertengkaran dan membuat Jiwoo menyuruh Kyuhyun menceraikan Soojin dan menikahkan dirinya dengan namja lain pilihan Jiwoo? Kalau benar begitu lebih baik mobil mereka tabrakan saja sekarang, dan Soojin mati biar Jiwoo puas sekalian dan takkan ada lagi masalah.

 

Air mata Soojin mulai menetas satu-persatu, beberapa kali di usap dengan punggung tangannya. Hati dan fikirannya hanya tertuju pada Kyuhyun dan Hyunsoo. Tetapi Jiwoo tak terpengaruh sedikitpun dengan itu, ia malah terlihat lebih santai dari sebelumnya.

“Bersihkan air matamu, kau jelek kalau menangis” tanpa pemberitahuan Jiwoo menggaet lengan Soojin dan mengajaknya masuk ke sebuah gereja. Soojin tak dapat menahan air matanya hingga ia terus-terusan menangis dan merengek.

“Oppa… Kyuhyun akan marah padaku hiks… oppa jebal…” jika bukan sedang menggunakan gaun, mungkin Soojin bisa melarikan diri dari sini. Tak ada lagi tersisa kesempatan, pintu besar tempat ia dan Jiwoo menginjakkan kaki telah terbuka lebar.

 

Seseorang dengan setelan jas putih nan jauh di depan sana tampak menghadap dan mendongak ke depan sebelum ia memutar tubuhnya melihat ke arah pintu yang terbuka. Kemudian seorang bayi yang berada di dekapan seorang pria tua yang tak lain dan tak bukan adalah Tuan Cho. Nyonya Cho berada di sebelahnya dengan senyuman yang indah. Dan… satu lagi bocah yang baru menginjak masa SMA-nya, Jino juga hadir disana yang sangat tampan dengan jas hitam yang semakin menambah kesan dewasanya. Soojin terkejut bukan main, ia seperti menjadi lelucon, bahan tawaan semua orang yang ada di situ. Soojin melirik Jiwoo sekilas kemudian meremas lengan oppa-nya itu. Sedangkan Jiwoo sendiri sudah dapat di pastikan ia sedang menahan tawanya yang mungkin saja akan meledak setelah acara kecil ini selesai. Saat Kyuhyun berbalik untuk menanti Soojin sampai di hadapannya, yeoja itu malah tak berani menantang mata namja itu. Ia lebih memilih menunduk dan melihat lantai, entah ini karena telah berpisah lumayan lama. Soojin jadi merasa lain.

“Jaga Soojin baik-baik, aku menyerahkannya padamu” ucap Jiwoo dengan nada serius saat memberikan tangan adiknya pada Kyuhyun. Kyuhyun bisa merasakan tangan Soojin yang dingin saat menyentuh tangannya.

“Jangan gugup, aku disini” bisik Kyuhyun halus, bukannya tenang,itu malah makin membuat Soojin tegang karena sudah lama tak mendengar suara Kyuhyun secara langsung.

 

Ini tentu jauh berbeda dengan dulu yang pernah mereka lakukan. Saat itu tuan dan Nyonya tidak hadir, orang yang paling penting di acara ini. tapi sekarang semuanya sudah lengkap, bahkan sekarang bertambah pulan dengan si kecil Hyunsoo. Dengan keseriusan yang terbalut dalam ketulusan Kyuhyun dan Soojin kembali mengucapkan janji sehidup semati itu.

 

Saat keduanya membalikkan badan, mereka di sambut oleh senyum ayah dan ibu Kyuhyun serta Jiwoo dan Jino. Soojin tersenyum penuh haru, untuk pertama kalinya setelah kepergian ibunya dulu, ia kembali merasa memiliki keluarga yang lengkap.

**

Setelah memastikan semuanya selesai, Tuan dan Nyonya Cho pulang duluan ke kediaman mereka. begitu pula dengan Jiwoo dan Jino mereka juga akan beristirahat di rumah keluarga Han yang dulu sebelum kembali ke Jepang.

“Samchon pulang ne?” Jiwoo menarik jarinya yang di genggam oleh Hyunsoo. Sejak dua jam yang lalu bayi itu baru bisa bertemu dengan kedua samchon-nya. Jino yang menggendong Hyunsoo tak mau melepaskan bayi itu.

“Hyung… kita baru bertemu dengan Hyunsoo, kenapa harus pergi sekarang?” rengek Jino.

Kyuhyun yang melihat itu sebenarnya sudah tak tahan, ia juga ingin menggendong, memeluk dan bermain dengan Hyunsoo. Tak bisa di bayakangkan bagaimana rindunya namja itu terhadap putranya tersebut.

“Kalau kau ingin lebih lama dengan Hyunsoo, menginap di rumah Hyung saja?” tawar Kyuhyun sembari mengacak rambut Jino. Jiwoo langsung menolak, bukannya apa-apa ia hanya tidak ingin menganggu waktu Kyuhyun dan Soojin, yang ia tahu selama ini mereka selalu di timpa masalah. Lalu Jiwoo mengambil Hyunsoo dari Jino dan memberikannya pada Soojin.

“Pulanglah, kalian pasti lelah. Besok kami akan berkunjung” ucap Jiwoo menatap Kyuhyun dan Soojin.

“Hyung tidak ikut dengan kami?” tanya Kyuhyun, Jiwoo menggeleng dan tersenyum.

“Samchon yang itu memang sadis, aish… besok kita bertemu lagi Hyunsoo, jangan lupakan samchon” Jino benar-benar sulit melepaskan tangan Hyunsoo.

 

“Oppa kau berhutang padaku, awas saja jika nanti kau akan menikah. Aku juga akan mengerjaimu habis-habisan” bisik Soojin pelan namun sangat mengancam.

“Oke, kita lihat nanti apakah ancamanmu masih berlaku jika aku nantinya akan menikah di Jepang”

“Ya! Tidak boleh, harus di Korea! Hormati mendiang eomma dan appa”

“Iya, kau cerewet! Sudah sana, Kyuhyun menunggumu”

“Oppa janji besok akan ke rumah ibu dan ayah mertua ku kan?” nada Soojin sangat pelan berbeda dengan tadi. ia masih saja baru merasa beberapa menit bersama kakak dan adiknya tersebut.

“Ne, jaga dirimu baik-baik setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu untuk waktu yang lama. Ini adalah yang terakhir kalinya sebelum lima tahun berikutnya oppa bisa mengambil cuti dari kerja dan pulang kesini. Tapi tidak perlu khawatir, sekali-sekali oppa akan mengirim jino saat liburan sekolahnya kesini”

“Ya Hyung! Memang aku barang seenaknya di kirim” celutuk Jino.

“Ah dan satu lagi, aku benar-benar lega telah menyerahkanmu pada orang yang tepat. Jangan mengecewakannya, dia laki-laki yang baik” pesan Jiwoo sambil melirik Kyuhyun yang berdiri tak jauh di belakang Soojin.

“Oppa… Jino kemari” mereka bertiga saling merangkul

**

Hyunsoo sudah terbang melayang di alam mimpinya, sementara mobil masih melaju. Kyuhyun menoleh ke samping.

“Sudah tidur? Padahal aku sangat merindukannya” Kyuhyun terdengar mengeluh.

Soojin diam saja tanpa menjawab, bukan karena alasan serius. Hanya saja hari ini sangat melelahkan, mengenakan gaun pernikahan sudah cukup membebaninya, belum lagi harus menggendong Hyunsoo yang pertambahan beratnya sangat cepat dari waktu ke waktu. Ia berharap ini adalah yang terakhir kalinya mengenakan gaun pengantin.

“Ya… Hyunsoo mungkin juga lelah” ujung-ujungnya Soojin tetap menjawab. Sebenarnya sangat banyak yang ingin di tanyakan oleh Soojin, tapi mulutnya seakan juga ikut lelah untuk melakukan kegiatan introgasi tersebut. Kyuhyun yang terdiam sembari mengendalikan kemudi malah mengira Soojin marah padanya, sebab yeoja itu yang tak bicara sedikitpun padanya sejak tadi.

 

Mesin mobil telah mati sepenuhnya, Kyuhyun memutar tubuhnya ke samping.

“Kemarikan Hyunsoo, kau bisa jatuh karena gaunmu dan membahayakan Hyunsoo” ujar Kyuhyun merentangkan tangannya. Soojin menyerahkan bayi itu, kemudian turun sendiri dari mobil tanpa di bantu. Sedangkan Kyuhyun ia keluar dari mobil dengan menggendong Hyunsoo. Soojin melepas desahan nafasnya, ini semua terasa berbeda dari sebelum Kyuhyun pergi ke Jepang.

**

 

Angin malam yang bertiup cukup kencang seakan tak di hiraukan oleh yeoja itu. Setelah makan malam ia langsung mengungsi ke taman belakang tempat biasa ia duduk menunggu rasa kantuk datang menghampirinya. Kyuhyun berdiri berkacak pinggang di sekitar ruang tamu, berkali-kali ia menoleh namun yang di carinya tak kunjung tampak.

“Kyuhyun-ah, kau mencari Soojin? Dia pasti di taman belakang” ibu Kyuhyun mendadak muncul dan sedikit mengagetkan putranya itu.

“Ah… ne eomma” jawab Kyuhyun kikuk. Ibu Kyuhyun hanya dapat tersenyum mengerti dan membiarkan Kyuhyun pergi dari sana.

 

“Kiriman paket!” Kyuhyun datang dengan langkah sigap di hadapan Soojin sembari menyodorkan sebuah bingkisan berwarna biru kelap-kelip lengkap dengan pitanya, persis seperti pengantar barang. Soojin mendongak lantas tangannya terulur menyentuh bingkisan itu.

“Apa ini?” tanya-nya.

“Buka saja”

Tanpa menunggu lagi Soojin membukanya. Pandangannya sedikit berbinar ketika menemukan sebuah gaun yang dirasanya sangat indah di dalam sana.

“Ini sebenarnya akan ku kirim sebelum pernikahan Hyukjae dan Hyerin. Aku ingin kau menggunakan gaun pilihanku, tapi pekerjaan tak memberiku sedikit waktu untuk mengurusi hal-hal seperti ini. dan akhirnya aku hanya bisa membawa gaun ini saat kepulanganku” jelas Kyuhyun yang saat itu telah duduk di samping Soojin. Ia terlihat menyesal, Soojin merasa bersalah lalu ia menarik tangan Kyuhyun, meletakkan dagunya di bahu namja itu.

“Tidak apa-apa, aku menyukai gaun ini. sangat suka”

Sangat terasa perubahannya setelah Soojin mengucapkan itu, Kyuhyun meresponnya lebih. Ia balas memeluk Soojin lebih erat.

“Aku sangat merindukanmu, kenapa aku tak pernah mendengar kau mengucapkan itu padaku huh?” tuntut Kyuhyun yang baru saja menyadari akan hal itu.

“Aku terlalu kaget dengan semua yang terjadi hari ini. kau, eommnim, abeonim, Jiwoo oppa dan Jino bersekongkol mengerjaiku hingga aku tampak seperti orang bodoh saat di gereja tadi” Soojin melepaskan pelukannya Kyuhyun dengan gerakan sedikit menyentak.

“Itu kejutan untukmu. Kau tahu? Kami sedikit kesulitan saat menyusun kejutan itu” balas Kyuhyun tak kalah memenangkan suaranya.

“Aku kira kau sudah melupakanku” ucap Soojin yang tiba-tiba berbelok arah menjadi murung. Kyuhyun membalasnya tajam, ia tidak suka kata-kata itu.

“Ulangi kata-katamu tadi? aku ingin mendengarnya sekali lagi” Kyuhyun meredam volume suaranya yang terasa akan meninggi. Pulang-pulang bukannya mendapat sambutan hangat, tetapi malah di hadapkan pada sikap Soojin yang menurutnya berubah cukup drastis begini. Sebelum pergi bukankah yeoja itu yang terus mengingatkannya untuk pulang cepat setelah pekerjaan di sana selesai. Tapi sekarang, Soojin malah berputar arah dari apa yang pernah di katakannya dulu.

 

“Aku kira kau sud… mmph…” secepat kilat Kyuhyun membungkam mulut Soojin agar tak melanjutkan kata-kata itu lagi. Ia melumat ringan meski sebenarnya namja itu menginginkan lebih. Soojin tak bereaksi namun tak juga menolak, ia hanya sedikit kaget dengan perlakuan Kyuhyun ini.

“Kau diam? Kenapa?” Kyuhyun melepaskan tautan bibir mereka dan bertanya dengan tidak bersemangat sebab ia tak merasakan Soojin membalas sentuhan bibirnya.

“Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya lupa dan tidak ingat bagaimana harus membalasmu. Kau terlalu lama meninggalkanku” jawab Soojin pelan sembari meremas tangannya sendiri.

“Kau yakin? Aku tidak suka kebohongan. Aku sangat mencintaimu, bahkan suatu hari nanti apapun yang terjadi, termasuk jika kau sudah tak mencintaiku lagi dan ingin lari dariku , maafkan aku karena ku pastikan dari sekarang aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Aku tidak mudah melepaskan sesuatu yang telah menjadi hak milikku.  Namun saat sesuatu menjadi milikku ketika itulah aku berjanji di hidupku untuk selalu melindunginya sampai aku mati” Kyuhyun berucap sungguh-sunggguh, ia menatap lembut Soojin.

*TES… TES… TES…*

Rintik air yang volumenya makin membesar tiap pergantian detik itu turun membasahi bumi. Tak ayal kedua orang itu segera berdiri, Soojin segera menyelamatkan bingkisan berisi gaun dari Kyuhyun. Sementara Kyuhyun ia sibuk menutupi kepala Soojin dari hujan menggunakan tangannya. Yeoja itu merasa tak tega ia menarik turun tangan Kyuhyun yang memayunginya.

“Kalau kau sakit, aku juga sakit. Lebih baik basah bersama-sama” Soojin tersenyum di antar jatuhan air hujan yang membasahi wajahnya begitupun Kyuhyun. Akhirnya mereka sama-sama berlari masuk ke rumah dengan kehujanan.

**

Soojin duduk berselunjur di atas ranjang sambil membaca majalah. Ia baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya yang tadi basah. Ia menurunkan kaki ke lantai kemudian berjalan menuju box Hyunsoo. Sebuah senyum meluncur dari bibirnya saat di lihatnya bayi itu tidur dengan lelap, siapa yang menyangka bayi yang rasanya baru kemarin di lahirkannya itu telah berusia tiga bulan.

“Dia tumbuh dengan cepat, aku sudah tidak sabar menunggunya masuk ke sekolah” sambar Kyuhyun yang telah berdiri tak jauh dari Soojin. Masih terdapat tetes air dari ujung rambutnya, Kyuhyun menggunakan kaus putih polos dengan bawahan celana tidur panjang. Kulitnya berwarna pucat dan sangat dingin, Soojin merasakan itu saat Kyuhyun mulai lagi memeluknya dari arah belakang.

 

“Aku juga, melihatnya berlari itu impianku saat ini” jawab Soojin.

Kyuhyun membawa Soojin duduk di tempat tidur mereka. kemudian ia memposisikan dirinya tiduran dengan kepala berbantalkan paha Soojin.

“Aku lelah, tolong usap kepalaku” tutur Kyuhyun seraya mengarahkan tangan Soojin ke puncak kepalanya. Matanya sesaat terpejam merasakan kebahagiaan yang di rasakannya sekarang. Soojin menurut, ia membelai tiap jengkal rambut Kyuhyun yang masih sedikit basah.

 

“Menurutmu apa yang akan terjadi besok?” tanya Soojin mencoba mengisi kekosongan ini.

“Munculnya adik Hyunsoo” goda Kyuhyun asalan. Tanpa sadar karena kesal Soojin malah menjambak rambut namja itu. Sebenarnya itu hanya candaan saja, karena Kyuhyun tau bahwa Soojin baru memulai kuliahnya. Ia tidak sungguh-sungguh dengan kata-kata tadi.

“Pipi-mu memerah lagi. Kapan kau akan berhenti malu saat membicarakan hal-hal seperti ini denganku?” Kyuhyun semakin menjadi menggoda yeoja itu. Ia bangkit dari posisi tidurannya.

“Siapa yang malu? Cih, aku tau ini hanya alibi-mu untuk mendapatkan yang kau mau” balas Soojin mencibiri Kyuhyun. Ia ingat ketika malam saat dirinya mengatakan akan melakukan apapun yang Kyuhyun mau yang semuanya berawal dari godaan namja itu sebab ia menuding bahwa Soojin selalu malu setiap kali berada di keadaan seperti sekarang ini. Soojin tidak mau tertipu untuk yang kedua kalinya. Bisa-bisa ia terjerat dalam gombalan maut yang berakhir mengenaskan untuk masa depan kuliahnya itu. Ia benar-benar tak ingin kuliahnya kacau.

“Kenapa kau bicara seolah aku ini singa yang siap menerkam? Ckck”

“Kau memang begitu”

“Benarkah? Baiklah, kalau begitu aku tidur saja! Jaljayo” ungkap Kyuhyun pura-pura merajuk dan bersiap tidur dengan membelakangi Soojin.

“Ya! Kau membiarkanku sendiri? Cho Kyuhyun, mana boleh begitu? Kau baru saja kembali tapi malah melewatkan hari ini dengan biasa saja” protes Soojin dengan suara tinggi. Kyuhyun terkikik, akhirnya Soojin luluh juga, ia sedikit bingung. Sebenarnya apa yang yeoja itu mau? Tadi sok jual mahal tapi sekarang ia seperti meminta sesuatu.

 

“Mendekatlah” perintah Kyuhyun. Setelah melakukan yang di suruhnya, Kyuhyun menarik pelan kepala Soojin dan menyandarkan di dadanya. Kemudian dengan segenap cinta dan kelembutan ia mengecup puncak kepala yeoja itu beberapa detik. Sontak tangan Soojin mulai melingkari pinggang Kyuhyun.

“Tidak ada sesuatu yang lebih besar di dunia ini untuk menggambarkan seberapa besar aku mencintaimu dan Hyunsoo” ungkap Kyuhyun mengeluarkan isi hatinya. Tangannya tak berhenti mengelus rambut lurus istrinya itu. Soojin merasakan hatinya berdebar kencang, kata-kata itu akan selalu di ingatnya meski suatu hari nanti usia akan memakan semua memorynya bersama Kyuhyun.

 

“Aku ingin kesederhanaan, menjalani hidup lalu kemudian mati di sampingmu”

“Gomawo” sebagai perempuan Soojin merasa sangat di hargai, walau pada awalnya dulu ia pernah merasa menjadi manusia paling rendah karena kejadian yang mempertemukannya dengan Kyuhyun dulu.

“Mulai dari detik ini hiduplah dengan bahagia dengan itu aku juga akan hidup tenang. Bagiku tidak ada kebahagiaan saat senyummu memudar. Maaf jika aku pernah melakukan sesuatu yang dulu seringmembuatmu menangis, aku merasa bodoh saat aku tidak menyadari ketika aku mulai menyukaimu, mencintaimu dan malah pergi untuk yeoja lain” tanpa sengaja Kyuhyun mengingat masa-masa buruk di rumah tangga mereka saat itu. Tak ada penyesalan paling dalam selain mengingat hal itu.

“Berhenti mengingatnya, semuanya sudah berlalu. Sekarang ini, disini, di hadapanmu hanya ada aku yang bahagia karena dirimu. Aku sudah melupakan semua sakit itu” Soojin menyentuhkah tangannya di dada Kyuhyun karena semua yang di jabarkannya murni tanpa ada terselip suatu kemunafikan walau hanya untuk membuat namja itu merasa lebih baik. Ia tau, bahkan sangat tau kalau Kyuhyun begitu menyesal hingga itulah yang membuatnya semakin mencintai namja itu.

 

“Dengarkan lagu ini, sedikit banyak mungkin inilah arti dirimu untukku” ujar Kyuhyun. Soojin mengangguk antusias. Ia bahagia, sangat bahagia memiliki seseorang seperti Kyuhyun

 

 

na oerowododoe neol saenggakhalddaen

misoga naui eolgule beonjyeo

na himdeuleododoe niga haengbokhalddaen

sarangi nae mam gadeukhi chaewo

 

oneuldo nan geochin sesangsoke saljiman

himdeuleodo nungameumyeon ni moseubbun

ajikgo gwitgae deulryeooneun kkumdeuli

naui gyeoteseo neol hyanghae gago itjana

 

nae salmi haruharu kkumeul kkuneun geotcheoreom

neowa hamgge majubomyeo saranghalsu itdamyeon

dasi ileoseol geoya

 

naege sojunghaetdeon gieoksokui haengbokdeul

himdeun sigan sokeseodo deouk ddaseuhaetdeon

huimangeun naegen jamdeulji aneun kkum

 

neul naui gyeoteseo geurimjacheoreom

joyonghi neoneun naegero waseo

na apahaneunji maeil oerounji

geuriumeuro neoneun naege danyeoga

 

sesangi nal ulge haedo naneun gwaenchana

hangsang niga naui gyeote isseunigga

meonjicheoreom chueoki byeonhaeseo ddeonalgga

geujeo useumyeo maeumeul dalraeeo bwado

 

sueobsi neomeojyeo biteuldaedo

naneun ireohgeseo itjana

nae mam hanabbuninde

himdeul ddaemyeon niga ireohge himi dwaejulrae

neoreul hyanghae yeongwonhi

 

ireohge sangcheo soke seulpeumdeuleul samkinchae

miso jitneun nae moseubeul neoege boyeo julge

ijeneun apeuji ana

 

eonjena neowa hamgge irugopeun kkum ango

galsu eobdeon jeopyeoneseo neoreul bulreobolgge

nae maeum dahae saranghaneun neoreul

 

(

Tidak masalah jika aku kesepian. Setiap kali aku teringat padamu

 

Senyum menyebar di wajahku.

Tidak masalah jika aku lelah. Setiap kali aku melihatmu senang

Hatiku penuh dengan cinta.

 

Hari ini aku

 bisa hidup di dunia yang keras lagi.

Bahkan jika aku lelah, ketika aku menutup mata, aku hanya melihat wajahmu.

Mimpi yang masih terngiang di telinga ku Apakah kau juga berfikir demikian. Setiap hari hidup ku seperti mimpi.

Jika kita dapat melihat satu sama lain dan saling mencintai

Aku akan berdiri lagi.

Bagi ku, kebahagiaan adalah kenangan berhargaAkan lebih hangat selama masa-masa sulit.

Bagi ku, harapan adalah mimpi yang tidak pernah tidur.

Seperti bayangan di sisiku kau selalu

Diam-diam datang kepada ku.

Untuk melihat apakah aku sakit, untuk melihat apakah aku kesepian setiap hari

Dengan perasaan kerinduan, kau datang kepadaku.

Bahkan jika dunia ini membuat aku menangis, aku baik-baik saja.

Karena kau selalu di sisiku.

Seperti debu, mereka akan berubah dan meninggalkan kenangan?

Aku akan tetap tersenyum untuk meringankan hati ku.

Tidak peduli berapa kali aku tersandung dan jatuh

Aku masih berdiri seperti ini.aku hanya memiliki satu hati.

Saat aku lelah kaumenjadi kekuatan ku.

Hatiku untuk mu selamanya.

Jadi aku menelan sakit dan kesedihan.aku hanya dapat tersenyum.

Bahkan aku jadi tidak merasakannya.

aku akan selalu berpegang pada mimpiku bersamamu

aku akan mencoba untuk memanggil mu di tempat dimana aku tidak bisa bersamamu

Aku mencintaimu dengan segenap hati ku)

 

Soojin menutup matanya dan mengakhiri hari ini dengan satu tarikan senyum kebahagiaan di bibirnya. Telinganya masih setia mendengar suara indah Kyuhyun yang melantun kecil, tangannya semakin mengerat di pinggang namja itu. Tak peduli jika Kyuhyun akan merasa pegal, namun Soojin hanya ingin seperti ini. Memeluk dan tidur di dada suaminya hingga esok pagi, paginya esok dan pagi seterusnya sampai kehendak Tuhan memisahkan mereka karena maut.

“Saranghae” gumam Soojin di sela-sela tidurnya

 

END

 

Kyaaaa END juga #tarik nafas lega^^

Readers sampai disini perjumpaan kita, ini part terkahir so jangan rindukan author #di tendang. Terima kasih yang sedalam-dalamnya(?) atas semua dukungannya selama ini *Bow* saya merasa bangga ketika kalian begitu menghargai karya yang tak seberapa(?) ini. maaf jika ending tak sesuai harapan, authornya Cuma pengen semuanya berakhir manis, semanis senyuman maut Cho Kyuhyun,eh? *di bantai wookie* saya harap readers mau memberi maaf jika selama di cuap-cuap author ada salah2 kata yang menyinggung hati dan sanubari(?) dari td perasaan byk tanda tanya(?) dech =,= author lagi stres sama tugas2 school yg datang silih berganti. Kalo datangnya atu2 ga pa2 tapi ini datangnya gerombolan kaya pasukan gajah ngamuk(?) #nah lhoh curcol again -___-# sekian kata-kata perpisahannya, saya senang akhirnya bisa menamatkan MlwDaYB karena ini adalh ff series pertama saya ^^ jadi ga punya utang lg dech :D.  Gomawo juga buat admin Aoi yang dari dulu publish ff ini dari jaman dahulu kala(?) klo ga salah dari maret lalu dech XD . ini sekedar info bagi yang mau publish ulang ff ini di suatu FP or Page (No acount fb pribadi) tolong konfirmasi izin dari saya dulu selaku author. Saya ga akan pelit kok, kan emang ini ff di bikin untuk di publish J malahan saya senang kalo semakin banyak yang kenal ff abal-abal ini. nah seterusnya silahkan berikan komentar apapun berhubung ini adalah tempat penyampaian unek-unek, protesan serta saran dari readers untuk saya yang terakhir. Ah iya, boleh tau ga apa Part favorit readers? Kalo author jujur, paling suka part 7, 12 & 15 😉

 

Hehehe Good bye! Saya pamit! *tebar kisseu

Annyeong

 

Advertisements

16 thoughts on “SERIES ll My Life with Destiny and Your Baby [PART 17] END

  1. yeeeeeeee happy ending…..happy family….setelah mereka Melalui semuanya dengan cinta…mereka bisa mendapatkan kebahagiaan yang ditunggu….love this FF & see you next FF authornim :)…*bow*

  2. Helo salam kenal
    Ak baru baca ni ff, langsung dari part 1 sampe ending.
    Bagus banget critanya, pinter ngaduk2 emosinya

  3. Critanya bgs..cuma..kliatan bgt kl author pst blm prnh hamil and pny anak (or ngrawat anak)..fyi,bayi ngga bs makan yg laen slaen susu s.d usia 6bulan (umur aman untuk bayi mulai makan slain susu),dan umumnya s.d minimal 40hr ibu yg baru mlahirkan ga akan bhub dgn suaminya krn masa nifas..saran aj,next time kl bwt crita ttg mslh rmh tgg (hub suami istri and sputar anak),survey2 dikit dl biar bhn critanya trasa lbih realistis..
    Keep writing y thor!

  4. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION KYUHYUN | phoenixaelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s