[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (Part 6)

Title : Love by Accident

Author : Zatha Amanila

Casts : Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau

Rating : General

Genre : Romance

Length : Chaptered

Yeay! Sampai juga di part 6 ya. Si ”pengganggu” yang imut dan tampan bakalan muncul nih! Jeongmal mianhae kalo masih kependekan. Hehehe…

Happy reading ^ ^

~~~~~

DONGHAE’S POV

Aku terbangun saat mendengar dengan samar-samar suara tawa Leeteuk hyung yang sangat khas. Kucoba membuka mataku meski begitu berat. Setelah sekuat tenaga membuka mata, akhirnya aku benar-benar sudah sadar. Kurasakan bahu kananku berat. Aroma sampo yang wangi langsung menyengat hidungku.

Kutolehkan kepala dan mendapati Chaerin sedang tertidur dibahuku. Aku tersenyum. Wajahnya sangat lugu saat tidur dan ini adalah pertama kalinya aku melihatnya tidur.

Aku menggeliat sedikit. Otot-ototku terasa kaku. Ingin sekali pergi ke spa untuk merilekskan tubuhku. Tapi manajer pasti tidak akan mengizinkanku pergi ke mana-mana selama di Indonesia. Kutilik jam di pergelangan tanganku. Pukul lima sore. Ternyata aku tertidur selama enam jam.

Aku meraih air mineral di dalam botol dan meneguknya setengah. Ujung mataku menangkap Heechul hyung sedang memeluk yeoja chingunya sambil tidur. Suara tawa Leeteuk hyung kembali menggema. Dia mungkin sedang bercanda dengan yesung hyung dan eunhyuk karena aku juga mendengar suara mereka berdua.

Kuletakkan botol air mineral tadi ke tempat semula. Kuraih tangan Chaerin dan menggenggamnya. Memori otakku kembali memutar kejadian beberapa jam yang lalu sebelum pesawat take off.

Chaerin nampak sangat terpukul saat menceritakan tentang kecelakaan pesawat yang menimpanya. Lima tahun yang lalu, dia masih kelas dua SMP. Masih sangat kecil untuk mengalami kecelakaan tragis seperti itu.

Aku sama sekali tidak menyangka, gadis angkuh dan bisa segalanya seperti dia ini ternyata memiliki kekurangan juga. Aku pikir dia tidak takut terhadap apapun, tapi aku salah dan aku baru menyadarinya. Chaerin juga manusia. Punya kelebihan dan kekurangan.

Mungkin aku saja yang terlalu iri padanya. Iri karena dia bisa memasak, bisa mengurus rumah dengan baik, memiliki otak yang encer, tidak cengeng, tidak takut menonton film horor, dan mandiri. Ck, Chaerin begitu sempurna sebagai seorang yeoja. Hanya saja aku tidak menyadarinya, karena dia bukan tipe wanita idealku.

Sunye, dialah wanita idealku. Secara fisik, salah satu member Wonder Girls itu memenuhi semua kriteria yang kuinginkan. Tapi, saat aku dan dia mengisi acara yang sama, aku tahu, banyak sifatnya yang tidak sesuai denganku dan itu membuatku tidak nyaman. Aku tidak menginginkan wanita yang tidak membuatku nyaman berada di sisinya.

Kepala di bahuku bergerak. Nampaknya Chaerin sudah terjaga. Kulepaskan genggaman tanganku.

”Ah, aku tertidur.” ucap Chaerin lirih sambil mengucek kedua matanya.

”Gwaenchana. Perjalanan panjang seperti ini, akan sangat membosankan kalau kau tidak tidur. Aku juga baru bangun. Apa kau ingin minum?”

Chaerin menoleh ke arahku. Matanya sembab dan merah.

”Tidak. Jam berapa kita akan mendarat?” tanyanya.

”Sebentar lagi.”

Chaerin mengangguk mengerti. Semoga hatinya sudah lebih tenang sekarang.

>>>>>

AUTHOR’S POV

Soekarno – Hatta International Airport, Indonesia

Semua member Super Junior turun dari pesawat yang mereka naiki. Mulai dari Leeteuk hingga yang terakhir, Donghae, berjalan masuk ke terminal kedatangan luar negeri. Suara riuh ELF menggema di bandara kebanggaan masyarakat Indonesia itu. Mereka meneriakkan nama para member satu persatu.

Berbagai macam banner dan poster dilambai-lambaikan. Kebanyakan di antara mereka mungkin sudah mendapat tiket untuk menonton konser, tapi karena tidak puas hanya melihat saat konser, mereka juga mendatangi bandara untuk memuaskan hati mereka masing-masing.

Chaerin tidak ikut rombongan member. Ia bersama Jung Hyori, pacar Heechul, dan Goo Eunmi, pacar Sungmin, keluar dari bandara terlebih dahulu bersama beberapa staf konser dan manajer Super Junior. Mereka menaiki mobil yang sudah di persiapkan panitia promotor Indonesia menuju hotel The Ritz Carlton. Mereka keluar lewat jalur biasa dan melewati banyak ELF di sana. Namun, tidak ada satu pun ELF yang menyadari bahwa mereka bertiga memiliki hubungan khusus dengan tiga member Super Junior.

Sementara itu, semua member tengah mengadakan briefing singkat sebelum menampakkan diri di depan ELF yang sangat membludak itu. Keamanan mereka harus terjaga. Panitia tidak membawa mereka ke jalur khusus untuk menghindari ELF atas permintaan para member sendiri.

Mengingat setahun yang lalu saat sebuah acara di Jakarta mengundang Super Junior sebagai bintang tamu, banyak ELF Indonesia yang kecewa pada para member karena tidak berhasil melihat mereka secara langsung di bandara. Hal itulah yang mengetuk hati Leeteuk untuk mengajak semua dongsaengnya menyetujui usulnya untuk menampakkan diri di depan ELF saat berada di bandara.

Teriakan histeris langsung menggema saat Leeteuk keluar sambil melambaikan tangan dan menyunggingkan senyum manisnya. Setelah Leeteuk, disusul Siwon dan member lainnya yang juga melakukan hal yang sama dengan leader mereka. Para member berhenti sejenak dan berjejer membentuk satu barisan kemudian meneriakkan slogan grup mereka. Bandara menjadi sangat ramai dengan kehisterisan para ELF.

Panitia promotor langsung mengajak para member untuk masuk mobil yang sudah di sediakan. Ada tiga mobil yang terparkir rapi menyambut mereka. Bodyguard yang dikerahkan cukup banyak. Hal itu membuat ELF tidak dapat menjangkau tubuh para member saat mereka berjalan menuju mobil. Begitu semuanya sudah masuk, mobil itu langsung melaju menuju hotel.

>>>>>

CHAERIN’S POV

Aku turun dari mobil begitu sampai di sebuah hotel mewah bersama Hyori eonni, Eunmi eonni, dan para staf. Sepanjang perjalanan, aku yang lebih banyak bercerita mengenai hubunganku dengan Donghae setelah menikah. Aku menceritakan semuanya, tapi tidak untuk pisah kamar kami saat masih di apartemen dan juga kerenggangan hubungan kami yang tidak wajar sebagai suami-istri. Itu sangat memalukan bukan?

”Chaerin-ssi, pelayan ini akan mengantarkanmu ke kamarmu.” ucap seorang staf yang aku lupa siapa namanya. Aku memandang pelayan dengan balutan seragam hitam dengan aksen guratan unik di beberapa sisinya. *maksudnya teh batik, readers* Pelayan itu tersenyum ke arahku.

”Ah ne. Gomapseumnida, eonni.”

Pelayan itu pun mempersilakan aku untuk jalan menuju lift. Aku terdiam sejenak di depan lift.

”Excuse me, is there elevator here? I wanna go with elevator than lift. Can I?” tanyaku.

”I’m so sorry, Miss. There isn’t elevator here. You must go with this lift to your room. Is there any problem that you have, Miss?”

Oke. Aku tahu semua ini akan terjadi sejak aku pindah ke apartemen Donghae dulu. Aku harus naik lift dan pesawat yang selalu kuhindari. Ya Tuhan, bagaimana ini?

Kupejamkan mata sesaat untuk menghilangkan rasa takutku. Kuyakinkan dalam hati bahwa tidak akan terjadi apa-apa di dalam lift. Han Chaerin, kau pasti bisa mengalahkan ketakutanmu. Pasti bisa! Harus bisa!

Ting!

Pintu lift membuka. Aku terkesiap. Seorang namja dengan rambut merah kecokelatan dan earphone yang menggapit telinganya muncul dari dalam lift. Namja ini…

”Pasta-chan?”

Namja ini memanggilku. Dia masih mengingat nama sayangnya padaku saat aku kecil. Aku benar-benar tidak percaya kalau ini dia. Ya Tuhan, aku bertemu dengannya lagi. Bertemu dengan guardian angel-ku lagi. Aku senang, Tuhan. Sangat senang.

”Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya begitu keluar dari lift. Pelayan di sebelahku tadi kembali mengajakku untuk masuk lift. Aku tersadar.

“Ah, wait a minute. I want to talk with this man first. Can you wait me?”

Pelayan itu mengangguk mengerti. Aku kembali memandang namja di depanku. Dia begitu dekat sekarang. Wajahnya hampir tidak ada yang berubah. Hanya rambutnya saja yang tidak hitam lagi seperti sepuluh tahun lalu saat aku bertemu dengannya di California. My guardian angel, Henry.

”Ng… lama tidak bertemu.” ucapku gugup.

”Benar. Ng… sepuluh tahun kan? Kau sudah berubah ya, Pasta-chan.” jawab Henry sambil tersenyum. Aku terhenyak. Aku tahu kalau aku sangat merindukan senyum ini.

”Hei, kenapa diam saja? Oh ya, apa yang kaulakukan di sini? Liburan?”

”Eh? Aku… ah, tidak. Aku sedang…, menemani sepupuku.” jawabku berbohong. Astaga Chaerin, kau ini kenapa selalu menganggap Donghae itu sepupumu? Dia kan suamimu.

Henry mengangguk perlahan.

”Kau sendiri? Sedang apa ada di sini?”

”Aku? Ah, aku ingin menghadiri konser.”

”Konser?”

”Ne. Konser Super Junior.”

Super Junior? Jadi, Henry adalah fans dari grup ikan itu? Aigoo, aku tidak menyangka.

”Henry-ssi! Apa kau sudah menemukan kamarmu?” tanya seorang namja paruh baya dengan balutan jaket cokelatnya.

”Ne, aku baru saja dari kamarku dan sekarang aku ingin ke kantin sebentar untuk memakan sesuatu. Perutku lapar sekali sejak di pesawat tadi.” jawab Henry. Ah, aku sudah mengganggunya ternyata.

”Ng… Henry-ah, aku harus pergi. Lain kali kita bicara lagi. Annyeong!”

”Tunggu!”

”Eh? Ada apa?” aku tersentak saat Henry menahan lenganku. Membuat tubuhku berbalik menghadapnya.

”Ini. Aku ingin kau menghubungiku nanti. Bisa kan?”

Henry memberikan secarik kertas bertuliskan beberapa digit nomor. Aku menerima kertas itu. Ah iya, kenapa aku lupa meminta nomor ponselnya? Untung saja dia mau memberikan nomornya.

”Arasseo. Akan kuhubungi nanti. Sampai jumpa!”

Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam lift. Tidak ada ketakutan sedikit pun. Bahkan aku sudah lupa terhadap fobiaku itu. Henry sempat tersenyum padaku saat pintu lift menutup. Senyum yang hangat, sama seperti dulu.

Kami akan bertemu kembali di konser Super Junior nanti. Aigoo, kenapa aku menjadi bersemangat seperti ini?

>>>>>

”This is your room, Miss.” ucap pelayan yang mengantarku ke sebuah kamar yang cukup luas dan hmm… wangi.

“If you need help, you can call me with this phone. You just press number 1 and sudden, you will connected with me or other servants. Any question, miss?”

Aku tersenyum pada pelayan ramah itu. Bahasa inggrisnya sangat lancar dan tanpa bercampur dengan logat Indonesia.

”I think, it’s enough. Thank you for your help.”

“Your welcome, Miss. Enjoy your room.”

Blam!

Pelayan itu keluar dari kamar. Kuhamburkan diri di atas ranjang yang lebar dan hangat. AC bertiup dingin dan membuatku sedikit merinding. Udara di Jakarta ini sangat panas, wajar saja mereka memasang AC pada setiap kamar. Kalau di Seoul, aku lebih sering menyalakan pemanas ruangan atau ondol. Karena cuaca di sana dingin, apalagi saat musim salju tiba.

Pikiranku melayang pada pertemuan tidak sengaja dengan Henry di depan lift. Rasa lelah selama di dalam pesawat hilang begitu saja. Kutegakkan tubuhku. Aku mulai mengutak atik ponsel untuk memasukkan nomor ponsel Henry. Eh, ini kan nomor Korea. Apa sekarang dia tinggal di Korea?

Ting! Tong!

Suara bel kamar mengagetkanku. Aku beranjak membukakan pintu.

”Donghae?”

>>>>>

DONGHAE’S POV

Begitu turun dari mobil bersama Eunhyuk, Siwon, dan Ryeowook, kami segera masuk ke dalam hotel untuk menghindari pengejaran ELF. Fans memang selalu cerdik. Mereka akan terus mengejar idolanya tanpa lelah. Aku sangat menghargai perjuangan mereka, karena itu tidak mudah.

Chaerin pasti sudah ada di kamarnya. Atau mungkin dia sudah tidur dengan nyaman di sana. Aku harap, manajer menempatkan aku di kamar yang sama dengan Chaerin. Bagaimanapun juga, kami kan sudah menikah. Kekeke~

”Donghae-ya!” kudengar seseorang memanggilku. Ternyata Hwasung noona, salah satu staf SM Entertainment. “Kau sekamar dengan Chaerin-ssi. Kamar nomor 1510 di lantai lima belas. Aku sudah mengantar Chaerin-ssi ke sana.”

Ya Tuhan, cepat sekali Kau mengabulkan doaku.

”Gomapseumnida, noona. Aku akan pergi ke kamar dulu.”

”Hei, kau tidak lupa jadwal hari ini kan?”

Aku tersenyum. ”Aku ingat, noona. Jangan khawatir.”

Aku segera beranjak menuju lift. Melihat lift ini, aku jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Chaerin ketakutan hingga berkeringat dan mungkin jantungnya berdetak cepat. Aku harus berusaha menghilangkan rasa takutnya itu. Entah dengan cara apa.

Ting!

Lift membuka. Aku keluar dan mulai mencari kamar nomor 1510. Ah, ini dia. Kutekan bel dan sesaat kemudian, sosok Chaerin menyumbul dari pintu.

”Donghae? Kenapa kau ke sini?”

Aku mengerutkan alis. Pertanyaan macam apa itu?

”Ini kamarku juga.”

”Bo? Kamarmu?”

”Ne. Manajer membolehkan aku tinggal satu kamar denganmu. Bukankah itu wajar? Kita kan sudah…”

”Aaaa baiklah baiklah, arasseo.”

Chaerin nampak sebal. Ia berbalik badan dan masuk ke dalam kamar. Aku tersenyum. Ternyata dia bisa kalah debat juga. Hihihi~

Kujatuhkan tubuhku di atas ranjang. Dingin dan nyaman. Chaerin nampak mengubrak-abrik isi kopernya. Mungkin dia mau mandi atau ganti baju.

”Kau mau mandi?”

Dia tidak menjawab. Hanya gumaman yang keluar dari mulutnya. Apa gadis ingusan ini benar-benar marah padaku?

”Sebentar lagi manajer mengadakan makan malam di restoran hotel. Mereka minta kau ikut.”

Sepi. Dia tidak menjawab lagi. Sebenarnya aku berbicara dengan siapa sih? Aish… baiklah, anggap saja dia marah padaku. Terserah dia mau apa sekarang.

>>>>>

CHAERIN’S POV

Donghae sudah rapi dengan kaus pink tua dan jas putih. Rambutnya yang hitam terlihat sedikit berantakan. Pasti selama ini dia tidak pernah menata rambutnya sendiri. Aku masih asik menonton film, ah bukan, ini mungkin sejenis drama di korea karena aku sempat melihat ada tulisan ’episode 10’ saat drama ini mulai. Aku sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia. Tapi karena judulnya aku sedang kesal, terpaksa kusetel drama ini sebagai bentuk pengalihan dari Donghae.

”Kau benar-benar tidak mau ikut?” tanya Donghae sambil duduk di sampingku. Aish, parfumnya menyengat sekali.

”Shireo.” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari tv.

”Kau yakin? Sayang sekali, padahal Yoorim noona mau mengenalkan keponakan perempuannya yang tinggal di Indonesia padaku. Dia bilang, keponakannya itu menyukaiku.”

Eh? Apa maksudnya? Ikan ini sedang memanas-manasiku? Cih! Itu tidak ampuh, ikan jelek. Tapi… kalau keponakan Yoorim eonni itu lebih cantik dariku dan Donghae juga menyukai dia, bagaimana? Andwae! Aku tidak bisa membiarkannya!

”Baiklah, kalau kau tidak mau ikut. Baik-baik di sini ya!”

”Tung-tunggu!” aku berteriak dengan maksud menghentikan langkahnya yang akan keluar kamar. Tapi Donghae tidak menggubris teriakanku. Dia hampir membuka kenop pintu.

“Aku bilang tunggu, Lee Donghae!”

Astaga, kenapa aku jadi seagresif ini memintanya menungguku? Ini bukan gayaku. Haahh… Ikan itu pasti sedang menertawaiku sekarang.

”Cepat ganti bajumu. Nan gidarisseoyo.”

>>>>>

AUTHOR’S POV

Donghae dan Chaerin masuk ke sebuah restoran yang masih berada di wilayah hotel The Ritz Carlton. Sudah ada beberapa orang di sana, termasuk para member Super Junior. Mereka tengah menikmati hidangan yang disajikan oleh koki restoran. Pihak SM Entertainment sengaja membooking restoran itu untuk makan malam para staf dan member. Tidak ada makanan korea di sana. Semuanya makanan indonesia. Dan itu atas permintaan manajer Super Junior sendiri.

”Donghae-ya! Di sini!” teriak Leeteuk dari mejanya. Donghae menoleh ke asal suara lalu mengangguk.

”Kaja!” ajak Donghae pada Chaerin. Gadis itu mengenakan balutan dress cream berrenda cokelat muda seatas lutut. Rambut sebahunya ia urai dengan hiasan bando pita besar warna cream juga. Donghae berpikir kalau istrinya saat ini begitu cantik.

Chaerin dan Donghae duduk di meja bundar bersama Leeteuk, Kyuhyun, Ryeowook, dan Yesung.

”Hyung, kenapa kau jadi lelet sekali setelah menikah?” cecar Kyuhyun dengan wajah datar.

”Aish… kau ini bicara apa. Aku tidak lelet. Hanya saja tadi…” Donghae melirik Chaerin di sampingnya.

”Kalian melakukan itu dulu ya?”

Pletak!

Satu jitakan keras melayang di kepala Ryeowook. Leeteuk yang melakukan itu. Dan yang terkena jitakan pun meringis kesakitan.

”Kau ini masih kecil, Wookie-ah. Jangan bicara tentang hal dewasa seperti itu.” omel Leeteuk. Donghae dan Chaerin saling lirik malu.

”Aniyo. Tadi aku ketiduran makanya lama.” jawab Donghae.

”Hei, sudah. Sekarang kita ambil makanan saja. Aku sudah lapar sejak tadi.” ujar Yesung sambil memegangi perutnya.

Leeteuk, disusul Yesung, Kyuhyun, dan Ryeowook, beranjak menuju meja panjang yang penuh dengan makanan di tengah-tengah ruangan. Donghae baru akan mengikuti mereka saat menyadari Chaerin seperti tidak berniat untuk berdiri dari kursinya.

”Kau tidak mau makan?” tanya Donghae.

>>>>>

CHAERIN’S POV

Grrrrrrrrrrr

Apa maksud pertanyaan Ryeowook tadi? Aku dan Donghae melakukan apa? Aish… aku belum punya pikiran untuk melakukan itu sekarang. Lulus SMU saja belum. Lagi pula, aku tidak menyukai Donghae. Itu berarti, aku tidak akan melakukannya dengan ikan higienis itu.

”Kau tidak mau makan?” tanya Donghae membuyarkan lamunanku.

”Ah, ne.”

Aku menyusul Donghae di belakangnya. Dia mulai mengambil piring dan sendoknya. Aku baru saja akan melakukan hal yang sama saat kulihat Henry menghampiri Donghae dan menyapanya. Aku tercengang. Tubuhku membatu di tempat. Satu kata yang dapat kutangkap dari ucapan Henry pada Donghae.

Hyung.

Apa mereka… saling kenal?

-TBC-

Yuhuuuuu… akhirnya Henry keluar juga. Komenlah readers tentang kemunculan Henry ini ^ ^

Advertisements

2 thoughts on “[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (Part 6)

  1. Ya ampun chaerin grup suaminya sendiri ga tau siapa aja membernya..kasian donghae dianggap sepupu terus jika ditanya tentang dia padahal donghae mengenalkan dia sebagai istrinya..apakah henry cinta pertama chaerin dan akankah donghae cemburu setelah tau chaerin dan hanry saling mengenal dan akrab..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s