{Twoshoot} A Liar Par 2B (END)

 

 

 

Tittle : A Liar

 

Author : Secret HS

 

Twitter : @elfina407

 

Cast : Lee Sung Min, Sung Ha In, Cho Kyu Hyun, Lee Hyuk Jae, Jung Eun Mi, Other.

 

Genre :  Romance, Married Life, AU!

 

Rating : PG-15

 

Lenght : Twoshoot

 

Disclamer : ini asli buatan saya, kalau ada kesamaan nama, tempat, apalagi alur itu cuma kebetulan semata. Typo pasti bertebaran, kritik dan sarannya selalu ditunggu yah 🙂 mohon maaf apabila masih ada penulisan dan kata yang tidak sesuai EYD ^^

Ini req. Dari teman saya, maaf  mengecewakan 😀

 

Part 1 >>  http://www.facebook.com/notes/super-junior-fanfiction/twoshoot-a-liar-part-1/603492426366033

 

Part 2A >> https://www.facebook.com/notes/super-junior-fanfiction/twoshoot-a-liar-part-2a/611622308886378

 

 

 

Happy Reading ^^

 

 

 

_Now, She’s My Everything_

 

_Who Are You? A Lover Or Just A Liar?_

 

 

 

Flashback

 

Sung Min POV

 

Aku membenarkan letak dasi kupu-kupu dileherku sambil menatap pantulan diriku di depan cermin, sebentar lagi acara pernikahan ini benar-benar akan dimulai. Dan sebentar lagi pula kau akan menjadi milikku seutuhnya, yang harus aku lakukan selanjutnya adalah melindungimu dan membuatmu juga mencintaiku.

 

“Ehem..” aku tersadar dengan sebuah deheman seseorang dibelakangku, dengan segera aku berbalik dan mendapati seorang pria paruh baya yang kuketahui dia adalah ayah Ha In.

 

Ahjussi,” sapaku dan tersenyum, ia juga tersenyum sebagai balasan.

 

“Panggil saja aku ayah, sebentar lagi kau akan menjadi suami Ha In. walau dia bukan puteri kandungku, tapi aku sudah menganggap dan menyayanginya seperti anakku sendiri.”

 

“Ne?” aku sedikit terhenyak mendengar ucapan ahjussi Kim, kulihat beliau mulai duduk di sofa yang berada diruangan ini. Dan melirikku, seolah-olah mengisyaratkan untuk mengikutinya duduk disofa yang sama.

 

“Saat umurnya masih 6 tahun, ia kehilangan ayahnya –Sung Yong Hee yang juga merupakan sahabatku sendiri karena sebuah kecelakaan.” Dia mulai bercerita dengan serius

 

“Semenjak itu ibunya menjadi sibuk mengurusi perusahaan yang ditinggali oleh suaminya, membuat Ha In kecil merasa kesepian. Ia menganggap dirinyalah penyebab kematian ayahnya, ditambah perubahan ibunya yang selalu sibuk dan hampir melupakannya. aku berusaha membantu keluarga tersebut dan akhirnya menikahi ibunya dua tahun kemudian, sikapnya berubah setelah itu, menjadi penutup dan tak perduli dengan sekitar. Aku tau dia sebenarnya anak yang sangat baik, dia selalu menganggap aku merebut posisi ayahnya padahal posisi tersebut tak kan pernah bisa berpindah kepadaku. Karena aku tau ibunya juga masih sangat mencintai mendiang suaminya sampai saat ini, tak pernah ibunya berpaling dari ayahnya dia hanya butuh sandaran dan mempercayakannya padaku. Jauh sekali dengan prasangka Ha In selama ini,”

 

Aku membeku ditempat setelah mendengar cerita panjang dari Ahjussi Kim, sedikit tak percaya dengan semua ini. benarkah itu cerita Ha In ku? Jika iya maka biarkanlah aku Tuhan untuk menjaganya dengan segala yang aku miliki sampai akhir nafas ini, aku tersadar saat sebuah tepukan mendarat dibahuku.

 

“Sung Min-ah, maka dari itu aku mohon padamu untuk menjaga dan mencintai Ha In dengan sepenuh hati, karena aku sudah mempercayakannya padamu.” Tidak! Tanpa di pinta pun aku akan melaksanakannya, aku tersenyum dengan tulus.

 

“Ne, aku berjanji untuk itu. Karena mulai sekarang dan seterusnya dia adalah segalanya untuku,”

 

Flashback End

 

 

 

 

 

Ha In POV

 

Aku merentangkan tangan dan menutup mata rapat menikmati angin menerpa kulit putihku, dari sini aku dapat menikmati pemandangan pantai dibawah sana. Yah sekarang aku sedang berada di balkon hotel kami menginap di Pulau Jeju, tempat yang disediakan Sung Min sebagai tempat honeymoon kami. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar dipinggang rampingku, sentak membuatku terkejut dibuatnya. Ditambah dengan kehangatan yang begitu nyaman menjalariku, membuat detak jantungku berantakan.

 

“Kau tak ingin istirahat, hum?” gumam suamiku tepat ditelingaku, siapa lagi kalau bukan dia.

 

“Aku ingin menikmati pemandangan dan angin segar disini sejenak, lebih baik kau mandi duluan saja Sung Min-ssi.”

 

“Hei sekarang aku suamimu, panggil aku Oppa!

 

Op-ppa? Aku tak terbiasa menggunakan panggilan itu.” jawabku jujur, entah kenapa tiba-tiba aku menjadi gugup dan pipiku memanas. Kala bayangan tentang ciuman pertama kami kemarin terlintas begitu saja, ya Tuhan apa yang aku pikirkan?

 

“Nanti juga terbiasa—Chup- aku menyayangi mu Ha In-ah.” sekali lagi tubuh ini membeku tanpa bisa melakukan apa-apa saat kalimat itu terlontar begitu saja darinya, setelah mencuri kecupan singkat di pipi kiriku. Kurasakan pelukan ditubuhku mulai melonggar dan terlepas, ia pun berjalan menuju kamar mandi. Aku memandangi punggung tegap Sung Min yang mulai menghilang di balik daun pintu kamar mandi, aku bingung dengan dirimu sebenarnya. Kau siapa dan seperti apa? Benarkah kau menyayangiku tanpa berbohong?

 

**

 

 

 

 

 

Setelah menyegarkan diri dan beristirahat sebentar, aku dan suamiku—Sung Min sepakat untuk makan bersama diluar. Bukan restoran di hotel ini, melainkan rumah makan yang ada dipinggir pantai. Kami berdua berjalan beriringan diatas hamparan pasir putih dan dibawah taburan bintang yang tampak bersinar indah, tangan kami pun bertautan. Aku tak tau kenapa genggaman tangan darinya begitu erat, seakan-akan ia tak ingin kehilanganku.

 

Kami telah tiba ditempat tujuan, dia menggiringku menuju salah satu meja.

 

“Ha In-ah, kau ingin memesan apa?” tanyanya entah kenapa akhir-akhir ini suara itu selalu merdu ditelingaku

 

“aku ingin udang bakar,” dia lantas melemparkan senyuman kepadaku sekilas, sebelum beralih kepada seorang pelayan wanita itu.

 

 

 

Setelah beberapa saat pesanan kami datang, dia terlihat menikmati makanannya tanpa beban. Jauh berbeda denganku yang tengah berkutat dengan banyak pikiran, seperti pertemuan pertama kami diklub malam. Dan hari-hari yang aku lalui dengannya dikampus, sampai taruhan yang membuat kami menikah. Kenapa semuanya terdengar janggal? Salahkah aku berpikir dia mempermainkan ku, bukankah dulu aku selalu menyebut seorang pembohong? Namja cassanova yang tiba-tiba bertransformasi menjadi Namja  pintar yang baik dan sempurna di kampus dan di depan keluargaku? Aku benar-benar gila rasanya! Dengan cepat aku menuangkan Soju kegelas kecil dan meneguknya, mengabaikan udang bakar dan hidangan lainnya yang belum sepenuhnya habis kumakan.

 

“Yak Ha In-ah! Kenapa kau meminum itu, kau harus ingat kau tak bisa minum!” aku melihat ekspresi khawatir diwajahnya, dia benar aku tak bisa minum. Buktinya dengan segelas kecil ini pun sudah dapat membuat kepalaku sakit dan sedikit mabuk, tapi aku mengenyampingkan semuanya karena semua rasa frustasiku. Aku tak tau ini perasaan apa? Aku merasa kecewa jika benar namja dihadapanku ini memang hanya mempermainkan, dia jahat telah menyeretku terlalu dalam dengan pesonanya.

 

“Hentikan semuanya Lee Sung Min!” bentak ku sambil menepis kasar tangan yang berusaha mencegah tegukkan keduaku.

 

“Kau kenapa?” aku menatapnya dengan sayu, yah aku sadar ini pengaruh Soju dan rasa kefrustasianku yang tak berdasar ini.

 

“Seharusnya aku yang bertanya kau kenapa? Kau seperti apa? Kau telah membuatku bingung dengan sikapmu belakangan ini, kau ingin mempermainkanku? Menjeratku dengan tali pernikahan untuk balas dendam dengan perlakuanku yang memalukan dirimu di pertemuan pertama kita huh? membuatku melayang dengan sikap dan kata-kata manismu itu, dan akhirnya menghempaskan ku begitu saja?” aku menyuarakan isi hatiku dengan begitu lancar, aku mengambil dan meneguk gelas ketigaku.

 

“Ayo kita pulang,” dia berkata dengan lembut, dan menarik tanganku dengan lembut pula.

 

“Jawab aku, jebal. Jangan buat aku tersiksa dengan semua ini, aku tak ingin merasakan kecewa untuk sekian kalinya. Apa alasanmu sebenarnya? Aku-ak—kuu”

 

“Aku mencintaimu Sung Ha In, tepat pertama kali kita bertemu. Maaf aku membuatmu salah paham dengan perlakuan kurang ajarku waktu itu, sungguh itu pertama kalinya aku melakukan itu dengan dasar tantangan dari Hyuk Jae. Maaf jika aku menyiksamu sejauh ini,Jeongmal Saranghaeyo.” kepalaku semakin pening dan akhirnya semuanya terasa gelap, yang aku ingat terakhir kali adalah tubuh ini terangkat ke punggung tegap yang hangat. Dan aku yakin Sung Min lah yang menggendongku, aku tau ini terlalu cepat. Tapi…, Nado Saranghaeyo Lee Sung Min.

 

**

 

 

 

Author POV

 

Kicau burung dan desiran ombak terdengar saling bersahutan, mengiringi mentari yang mulai kembali melakukan tugasnya untuk menyinari bumi. Hari ini tampak cerah, bahkan angin saat ini juga mulai nakal bermain-main dengan dedaunan dan gorden yang menutupi jendela sebuah kamar hotel yang menjulang tinggi. Membuatnya bergerak-gerak sesuai angin menginginkannya, sukses membuat sinar mentari menerobos masuk mengusik seorang gadis yang tengah terlelap.

 

“Eughh. . .” lenguhnya, ia merasa pergerakannya terkunci. Dan benar saja saat ia membuka mata indahnya yang ia dapati adalah seorang Namja tampan yang terlihat damai dalam tidurnya tanpa melepas pelukannya, dengan perlahan ia menyingkirkan tangan itu dan duduk dibibir ranjang sebelum berlalu menuju kamar mandi.

 

Didalam kamar mandi ia hanya memandang pantulan dirinya dicermin, mengacak rambutnya asal dengan frustasi. Ha In tak tau kenapa ia bisa lepas kendali seperti semalam dan membiarkannya mabuk dan mengatakan semuanya begitu saja, dia memang mabuk tapi masih cukup sadar untuk mengingat pengakuan suaminya –Sung Min- semalam.

 

Seketika ia mengingat kembali pernyataan cinta Sung Min, entah kenapa ia merasa senang dan lebih tenang sekarang.

 

“Aku tak tau kenapa bisa secepat ini perasaan itu hadir, tapi aku akan berusaha membuat cerita kita lebih indah. Kumohon jangan kecewakan aku Lee Sung Min, karena aku sudah benar-benar jatuh hati kepada mu” gumamnya dan memilih merendamkan dirinya di Bath-up guna menyegarkan kembali dirinya

 

 

 

Sementara diluar kamar mandi, terlihat Sung Min yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ia menguap serta merenggangkan ototnya yang pegal, tunggu! Ada seseuatu yang kurang.

 

‘Ha In dimana?’ gumamnya takut, saat mendapati sisi ranjang disebelahnya telah kosong.Namja tersebut mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, ah tidak tidak! Aku tak boleh begini, yakinnya sebelum mencari siluet istrinya tersebut keseluruh sudut kamar sampai kamar mandi pun tak luput dari sapuan mata Sung Min.

 

“Lee Ha In, kau didalam?” tanya Sung Min sedikit berteriak namun tak ada yang menyahut, dengan keyakinan penuh ia mulai meraih gagang pintu dan—

 

 

 

“AAGGGHHHH!!” teriak mereka bersamaan.

 

**

 

 

 

Suasana meja makan tersebut terlihat hening, mereka nampak menikmati saja sarapan dalam diam. Ha In memotong roti bakarnya mencoba melupakan kejadian memalukan tadi pagi, sementara Sung Min nampak sibuk dengan gelas susunya sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk memecahkan keheningan ini.

 

“Ehem, soal kejadian tadi—“ kata mereka bersamaan, Sung Min memilih diam untuk memberikan kesempatan Ha In untuk berbicara.

 

“Seharusnya kau mengetuk pintu kamar mandi terlebih dahulu,” lanjut Ha In

 

“Aku sudah melakukannya, tapi kau terlalu asyik dengan duniamu. Seharusnya kau mengunci pintu kamar mandi.”

 

“Apa? Kau mencoba menyalahkan ku, aissh, untung tadi aku sudah berbalut handuk yah walaupun hanya sebagian tubuhku saja yang tertutupi. Lalu bagaimana jika aku tak menggunakan baju sama sekali eoh?”

 

“Aku kan suami mu, jadi apa salahnya?” jawab Sung Min santai, membuat Ha In tak bisa menjawab lagi.

 

“Aiss kau tetap seorang yang menyebalkan Lee Sung Min!” kata Ha In kesal dan penuh penekanan, sedangkan Sung Min hanya tersenyum kecil. Melihat sosok Ha In yang kembali seperti Ha In yang ia kenal, yang suka mengomel lebih baik dibandingkan Ha In yang kacau seperti semalam.

 

“Aku tau kau masih ingat pernyataanku semalam, jadi kuharap kau bisa mempercayainya jika aku benar-benar tulus mencintaimu.” kata Sung Min seketika menghentikan gerakan mengunyahnya Ha In

 

“Ne, aku akan berusaha.” jawab Ha In gugup

 

“Kalau begitu Kajja kita melakukan kencan pertama kita, dihari terakhir kita di pulau Jeju ini” ajak Sung Min dengan semangat dan tersenyum, dengan ragu Ha In juga membalas senyuman tersebut dan merasakan sesuatu yang aneh lagi-lagi terjadi pada hatinya. Ditambah dengan gengaman tangan Sung Min di pergelangan tanganya, menariknya untuk memulai kencan mereka.

 

“Kita kemana?” tanya gadis tersebut

 

“Bersepeda mengelilingi pantai,” jawab Sung Min

 

**

 

 

 

“YAK!! Pelan-pelan Sung Min-ssi!” jerit Ha In yang duduk di jok belakang sepeda yang Sung Min kayuh

 

“Tidak akan, sebelum kau memanggilku oppa!” jawab Sung Min yang masih dengan semangat mengayuh sepedanya dengan cepat

 

“Kau bisa membuat kita jatuh, bodoh!” Ha In mulai memukul-mukul pelan pundak Sung Min

 

“huh?”

 

“pelan-pelan OPPA!” jawab Ha In dengan penuh penekanan, Sung Min tersenyum kecil dan mulai mengurangi kecepatan laju sepedanya.

 

“Kau tak lelah apa?” tanya Ha In

 

“Tidak, selama kau bersamaku.” jawab Sung Min sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Ha In bergidik melihat kebiasaan Sung Min sebelum mereka menikah masih ada.

 

“Perhatikan jalan, aku tak ingin mati muda oppa” kata Ha In mencoba mengalihkan pembicaraan, saat Sung Min masih tetap memandanginya.

 

“Kau malu ya?” goda Sung Min

 

“Mwo? Yak kau ini—AGHHH”

 

“AGHHH”

 

 

 

BRUKK

 

 

 

Mereka jatuh bersamaan dihamparan pasir pantai, karena tak memperhatikan jalan Sung Min tak melihat ada sebuah batu yang ia tabrak. Sung Min segera bangkit dan membantu Ha In berdiri, ia nampak sangat khawatir mendengar Ha In yang tengah mengaduh kesakitan.

 

“Sudah ku bilang ‘kan untuk merhatikan jalan, bukannya—“

 

Gwenchana?” potong Sung Min dengan nada khawatir, Ha In tertegun beberapa saat memandangi wajah Sung Min sedekat ini.

 

“Aku tidak apa-apa” jawab gadis itu akhirnya, lagi-lagi ia tertegun melihat sebuah senyum yang tercetak dengan sempurna dibibir Sung Min.

 

“Syukurlah, maafkan aku karena tak hati-hati tadi. Sekarang lebih baik kita kembali ke hotel saja, nanti kita bisa kembali lagi kesini.”

 

“Ne,” Ha In dengan ragu membalas gengaman tangan kiri Sung Min, sedangkan tangan kanan pria tersebut ia gunakan untuk menuntun sepeda mereka sepanjang pinggir jalan.

 

 

 

**

 

 

 

Ha In POV

 

 

 

Aku terlihat ragu keluar dari mobil lamborghini putih milik Sung Min, sedangkan Sung Min tetap setia menungguku didepan pintu mobil yang baru saja ia buka.

 

“Apa lagi yang kau tunggu, humm?” tanyanya, aku menggeleng dan meraih tangan suamiku tersebut.

 

“Tidak ada, kajja.” Dan benar sesuai dugaanku, kami menjadi perhatian sepanjang koridor. Tentu saja karena kami datang berdua kekampus dengan memakai kemeja yang sama, kemeja kotak-kotak perpaduan warna hitam dan merah. Pasti menjadi pertanyaan besar bagi mereka tentang hubungan kami, ya kami memang tak menyebarkan berita pernikahan kami dan juga tak merahasiakannya. Toh, buat apa?

 

Aku baru menyadari pagi ini bahwa Sung Min memiliki bakat yang luar biasa dalam membuat aegyo, saat ia memohon kepadaku yang berusaha menolak memakai kemeja couple ini. karena menurutku sangat kekanak-kanakan, dan pada akhirnya aku yang mengalah.

 

“Setelah jam kuliah berakhir, aku dipinta Jung songsengnim menemuinya. Kau tak keberantan ‘kan?” Tanyanya padaku, aku pun menggeleng

 

“Tidak, lagi pula aku akan kerumah sebentar untuk mengambil sesuatu.” Jawabku, setiba kami dari pulau Jeju. Kami memang tinggal diapartemen yang telah disiapkan orang tua Sung Min, sebagai tempat tinggal baru kami.

 

“Baiklah, tapi jangan tinggalkan aku arra? Aku akan menjemputmu di cafe untuk makan siang bersama, sebelum mengunjungi makam Abeoji.”

 

Arra,” sepulang dari kampus kami memang berniat mengunjungi makam appa bersama, selain hari ini peringatan kematian appa. Aku juga akan memperkenalkan Sung Min padanya disana, sebagai suamiku tentu saja.

 

 

 

**

 

 

 

Aku menapaki satu persatu anak tangga yang menghubungkan dengan kamarku dulu, lantas meraih gagang pintu saat telah berdiri didepan kamarku dan memutarnya.

 

 

 

CEKLEK

 

 

 

Pintu ini pun terbuka, aku terkejut mendapati eomma yang berada dikamar ini sambil memandangi bingkai foto kami bersama appa dulu. Aku melangkah mendekat, rupanya beliau belum juga menyadari keberadaanku disini.

 

Eomma,” beliau nampak terkejut, terlihat jelas dari gerakan memutar tubuh dengan cepat. Terlihat bekas air mata dikedua pipinya yang tak terlalu kencang lagi, menyadari aku memperhatikannya. Beliau lantas menghapusnya cepat dengan telapak tangan, dan tersenyum.

 

“Sayang,” panggil eomma

 

“Apa yang Eomma lakukan disini?” tanyaku

 

“Aku hanya merindukan ayahmu, dan juga kau tentunya” aku tersentuh seketika mendengar penuturan itu, benarkah eomma merindukanku?

 

“Kalau eomma rindu padaku, kenapa tak memintaku untuk memeluk eomma?” tanyaku hati-hati

 

“Bolehkah?” jawab beliau terkejut, aku pun mengangguk dan memeluk tubuh itu. Tanpa terasa air mata ini menetes begitu saja, demi apapun aku sangat merindukan pelukan ini. “Sayang,” gumam eomma, seraya mengusap pelan punggungku.

 

Eomma sangat merindukanmu, maafkan eomma yang selama ini tak terlalu memperhatikanmu. Eomma menyayangimu, sungguh.”

 

Kata-kata tulus itu menyadarkanku dengan sesuatu, bahwa eomma tak pernah tak perduli padaku. Aku menyesal selama ini menganggap eomma telah melupakanku dan appa, aku yang harusnya minta maaf eomma.

 

“Tidak eomma, tak ada yang perlu dimaafkan disini. Eomma tak salah, aku juga sangat menyayangi eomma” balasku, dan hatiku terasa lebih lega sekarang.

 

 

 

**

 

Aku melangkahkan kakiku dengan ringan, setelah selesai dari rumah. Aku pun dengan cepat pergi menuju cafe dimana Sung Min berjanji menungguku disana, dengan sebuket bunga lili putih. Bunga yang sangat berarti bagi appa—dengan alasan ini bunga kesukaaneomma, yang aku beli di toko bunga yang ada di seberang jalan.

 

 

 

KRING

 

 

 

Lonceng yang bergantung di atas pintu berbunyi, saat aku membukanya. Aku menyapukan pandangan pada seluruh sudut cafe, mencari sosok pria tampan yang telah menjadi suamiku tersebut. Aku memincingkan mata bulatku saat mendapati sosok itu tak seorang diri, melainkan dengan seorang yeoja dengan dress berwarna peach yang menurutku kependekan! Dengan smirk yang kupelajari dari Kyu Hyun, aku melangkahkan kakiku dengan pasti.

 

 

 

“Aku tak tau kenapa aku sangat merindukanmu, oppa” suara centil itu semakin terdengar jelas ditelingaku saat aku semakin dekat dari meja mereka, terlihat jelas kalau yeoja dengan make-up berlebihan ini berniat mengambil perhatian suamiku, ck, jangan harap!

 

“Apakah aku membuat lama menunggu, oppa?” tanyaku pada Sung Min dengan senyum semanis mungkin, dan duduk tepat disampingnya. Kulihat yeoja centil itu sangat terkejut, menyaksikan aku yang mengecup singkat pipi Sung Min. Ditambah kemeja kami yang sama, haha rasakan!

 

“Ha In-ah,” kata Sung Min dengan kaget, tapi dia tetap tersenyum dengan manis. “tidak juga, aku bahkan belum memesan makanan” lanjutnya

 

“Ehem, dia siapa oppa?” yeoja itu bertanya dan memandangku sinis, dengan senang hati aku membalas tatapan sinis itu.

 

“Dia Sung Ha In, ah tidak. Dia Lee Ha In, istriku.”

 

“MWO?” telingaku sedikit berdengung mendengar teriakan yeoja ini

 

“Kenapa kau tak bilang padaku eoh?” tanyanya dengan mata yang memerah, apa dia akan menangis?

 

“Aku tidak bermaksud seperti itu Ji Min-ah,” kata Sung Min tidak enak

 

“Maaf, kurasa tak sepenuhnya salah suamiku disini. Bukankah kau tak bertanya sebelumnya Ji Min-ssi?” tambahku

 

“Aku pergi dulu, hikss” ucapnya berderai air mata, dan berlari keluar cafe.

 

“Park Ji Min!” Sung Min mencoba memanggil Ji Min, namun dia tetap pergi, Hah berlebihan sekali, aku memandang Sung Min malas. Dengan cepat aku menggeser tempat dudukku agar menjauh darinya, entah datang dari mana perasaan kesal ini.

 

“Kau kenapa sayang?” tanya Sung Min, aku menghembuskan nafas malas.

 

“Aku lapar tentu saja, lebih baik kita cepat memesan makanan. Setelah itu kita pergi ke makam appa

 

“Kau pesan apa?”

 

“Apa saja” jawabku malas

 

“Hei! Begini jika Ha In sedang cemburu, eoh?”

 

“Ne? Siapa dan kepada siapa yang kau sebut cemburu?” kilahku

 

“Tapi tak apa, jika kau cemburu berarti kau juga mencintaiku. Bukan?” tanpa terasa pipiku memanas, dengan segera aku mengubah ekspresi senormal mungkin.

 

“Yak jangan sembarangan menyebut aku cemburu! Kau lihat pria yang berdiri dibelakang kasir tersebut eoh? Dia pemilik cafe ini, namanya Kim Ye Sung. Dia adalah namja yang sudah terang-terangan bilang suka padaku, cah lihat bahkan dia tersenyum.” Aku menatapsunbae-ku dulu, yang tengah tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Dengan senang hati aku membalasnya.

 

MWO?” Sung Min sedikit menaikan suaranya dengan wajah yang sangat lucu sekali, membuat aku tak kuasa untuk menahan tawa.

 

“BWAHAAHA, aigoo Lee Sung Min. Seperti itu eoh caramu cemburu?” aku tertawa puas telah berhasil menipunya, tawaku terhenti saat dia mulai memajukan wajahnya dengan wajahku.

 

“Ke—napa?” tanyaku gugup

 

 

 

CHU~

 

 

 

Mataku terbalak sempurna saat bibir itu menempel dibibirku, hanya seperkian detik! Namun mampu membuat kinerja otak ku tertunda, lebih parahnya jantungku juga hampir melompat dibuatnya.

 

“Jangan mencoba membuat aku cemburu, jika kau tak ingin mendapatkan hukuman seperti tadi! Karena bibir itu milik ku, jadi jangan pernah biarkan orang lain menyentuhnya selain aku. Ah tersenyum kepada namja lain juga tak boleh, arra!” aku menelan salivaku dengan payah, tadi apa maksudnya?

 

 

 

 

 

END

 

 

 

**Epilog**

 

 

 

Author POV

 

 

 

“Anyeong Abeoji,” sapa Sung Min dan memberikan hormat, di depan pusara ayah Ha In.

 

“Anyeong appa,” lanjut Ha In

 

“Aku Lee Sung Min, seorang yang mencintai puterimu yang sekarang telah menjadi suami yang sangat tampan untuk Ha In.”

 

“MWO? Yak! Kau jangan sembarangan!”

 

“Apanya yang salah eoh? Aku benar kan?” tanya Sung Min dengan watados

 

“Ck! Aku rasa aku sudah gila appa, bisa menikah dengan namja seperti dia.” Gumam Ha In sambil meletakkan bunga lili putih yang ia bawa, tepat disamping pusara ayahnya.

 

“Hei aku mendengarnya!” protes Sung Min

 

“Aku bahkan lebih gila lagi, bisa mencintai suami seperti dia appa!” lanjut Ha In tanpa menghiraukan Sung Min

 

“NE? Kau bilang apa? Coba ulangi,” pinta Sung Min sambil memutar badan Ha In dengan cepat

 

“Tidak mau!”

 

“YA! Kau ingin aku hukum, eoh?” ancam Sung Min

 

“AKU MENCINTAIMU LEE SUNG MIN!” kata Ha In penuh penekanan tepat didepan wajah Sung Min, beberapa saat hening menghinggapi kedua insan tersebut. Sampai akhirnya, tubuh Ha In tertarik kedalam pelukan Sung Min.

 

“Terima kasih, sekali lagi gomawo chagy. aku sangat mencintaimu, jeongmal!” kata Sung Min tanpa melepas dekapan itu, dengan keyakinan penuh Ha In juga membalas pelukan itu dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sung Min.

 

“Aku juga mencintaimu, oppa!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya END juga, walaupun jelek dan aneh. Author tetap minta komentarnya ya, buat bahan pelajaran kedepannya. ThanKYU buat yang udah RCL, bye bye~ ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s