[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (part 4)

 

Title                 :  Love by Accident

Author             :  Zatha Amanila

Casts               :  Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau

Genre              :  Romance

Rating             :  General

Length             :  Chaptered

 

~~~~~

 

CHAERIN’S POV

 

Donghae mematikan mesin mobilnya. Kami baru saja memarkir mobil di sebuah parkiran di apartemen megah yang menjadi dorm Super Junior. Aku mengikuti Donghae dari belakang masuk ke lobi apartemen. Mataku berkeliaran memandang ornamen-ornamen unik dan mewah yang ada di sana. Tidak banyak orang berlalu-lalang.

Hei, bukankah itu Wonbin? Aktor serial Endless Love itu? Waaahh aku tidak menyangka dia setampan ini. Apa dia juga tinggal di apartemen ini ya?

Zlep!

Kurasakan telapak tanganku hangat. Begitu aku menoleh, ternyata Donghae sedang menggenggam tanganku. Omo! Ada sesuatu yang mengalir di dalam jantungku sekarang. tapi tunggu, dia membawaku menuju lift. Aigoo, eotteohkhae? Aku tidak mau naik lift. Aku takut.

”Jankkamanyo,” kutarik sedikit lengan Donghae. Dia menoleh.

”Wae?”

”Ng… aku mau… ke toilet sebentar.”

”Toilet?”

Kuanggukkan kepalaku cepat, berharap Donghae segera menyetujui permintaanku.

”Di dorm saja.”

Eh? Di dorm?

”Andwae!”

”Kau ini kenapa? Kau mau ke toilet kan? Di dorm saja. Aku tidak akan mengintip, di sana juga tidak ada CCTV. Tenang saja.”

Aish… bukan itu maksudku! Ikan ini, bagaimana cara aku bisa menjelaskannya?

Ting! Pintu lift terbuka. Mataku membulat saat menangkap dua orang pria keluar dari lift. Donghae kembali menarik tanganku. Dengan berat hati, kulangkahkan kakiku memasuki lift yang sudah terisi dua wanita dan satu pria itu.

Pintu lift tertutup dan lift mulai bergerak naik.

Astaga! Jantungku berdegub kencang. Kupejamkan kedua mataku. Tiba-tiba saja bayangan kejadian di kantor Appa dulu berputar di benakku seperti sebuah slideshow. Donghae masih menggenggam tanganku. Bahkan semakin erat. Aku gugup. Kugapit lengan Donghae untuk menahan rasa takutku.

”Kau tidak apa-apa, Chaerin-ah?” tanya Donghae. Pasti dia menyadari gapitan tanganku yang terlewat erat.

”Ah, a-aku.. aku tidak-apa-apa.” jawabku, berusaha menekankan nada yang biasa saja.

Donghae tidak menjawab. Mungkin senyumku barusan terlihat sia-sia. Dia pasti menyadari ketakutanku, karena dia menarik tangan yang sejak tadi digenggamnya ke depan perutnya. Tubuhku terantuk tubuhnya.

Ting!

Pintu lift terbuka tepat di angka 12. Donghae terasa cepat-cepat menarikku keluar lift. Kini aku bisa bernapas lega.

”Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Donghae dengan raut cemas.

”Ne?”

”Apa kau takut naik lift? Kenapa tidak mengatakannya padaku?”

”Aku bukannya takut. Hanya saja…”

”Lihat keringatmu itu. Aku tahu kau ketakutan, Chaerin-ah. Jangan mengelak lagi.”

Ucapan Donghae begitu menancap hatiku. Dia mengkhawatirkanku. Aku senang. Yah, senang karena ada laki-laki yang mengkhawatirkan ketakutanku terhadap lift.

”Kau benar. Aku memang takut terhadap lift. Aku takut kalau tiba-tiba lift itu mati dan pintunya tidak bisa terbuka sampai akhirnya aku… aku…”

Parau. Aku tahu suaraku sedang menunjukkan hal itu. Kejadian itu sudah cukup lama, tapi aku tetap tidak bisa melupakannya. Aku memang hanya terjebak lift selama lima menit. Tapi dalam lima menit itu aku sendirian dan suaraku tidak bisa diajak berteriak karena tenggorokanku yang sedang sakit. Sinyal ponsel pun tidak ada. Meski sudah menekan tombol permintaan bantuan, staf kantor itu tidak segera menolongku.

Ah, sudah. Aku tidak ingin mengingatnya lagi!

Donghae tiba-tiba menggenggam pundakku. Matanya menatapku dalam. Ada sorot kekhawatiran di sana.

”Mianhae,” ucapnya. ”Aku tidak tahu kalau kau memiliki fobia terhadap lift. Pasti karena itu kan di lobi tadi kau ingin ke toilet? Kalau saja kau langsung mengatakan tentang fobiamu, aku tidak akan mengajakmu ke sini. Aku pasti akan menyuruh semua member turun dan menemui kita di lobi.”

”Aniya. Aku tidak apa-apa. Tidak perlu berlebihan seperti itu.”

”Apa aku berlebihan kalau mengkhawatirkan istriku sendiri?”

”M-mwo?”

Donghae melepaskan genggamannya di pundakku sambil mengembangkan senyumnya. Tangannya terangkat mengacak pelan rambutku. Oh, aku tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya oleh namja manapun. Ternyata sangat nyaman.

”Pulang nanti, kita naik tangga saja.”

Ya, itu yang seharusnya terjadi. Ide yang sangat bagus.

”Ayo masuk. Semua member sudah menunggu kita.” Ajaknya. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam sebuah unit apartemen yang di sebut Donghae sebagai Dorm.

Sepi. Itulah kesan pertama begitu aku masuk.

”Duduklah di sini. Aku akan memanggil mereka di ruang latihan.”

Kuletakkan tas sekolahku di atas sofa lembut berwarna merah hati itu. Mataku kembali berkeliaran. Aku menemukan banyak foto yang terpajang di dinding. Aku pun berdiri dan menghampiri foto-foto itu.

Ah, ini pasti foto debut mereka. Kuno sekali. Hahaha… rambut Donghae benar-benar jelek.

Aku beralih ke foto di sebelahnya. Ada sebuah tulisan yang cukup besar di sana. Attack on the Pin Up Boys. Ini pasti film yang mereka bintangi. Donghae sudah lebih baik di sini. Aku rasa dia pemeran utamanya.

Kakiku beranjak satu langkah ke samping kiri dan menatap foto di depanku. Aku tahu foto ini. Eomma pernah memiliki posternya. Di sana tertulis, ’the 3rd Album of Super Junior, Sorry Sorry’. Saat itu, dengan bangga eomma mengatakan, ”Aku adalah fans berat Donghae. Dia tampan kan di sini?”. Dulu aku tidak menjawabnya dengan kata ‘ya’. Tapi sekarang, begitu melihat foto itu lagi, aku berani megatakan kalau Donghae memang tampan.

Bukankah seharusnya aku bangga punya suami seorang idola tampan dan terkenal seperti dia?

Kakiku kembali bergeser satu langkah menuju foto berikutnya. Foto itu hanya ada tiga orang. Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi kurasa, mereka juga termasuk member Super Junior. Tapi kenapa fotonya terpisah?

”Itu foto Kangin hyung, Hankyung hyung, dan Kibum.”

Aku membalikkan tubuhku saat mendengar suara Donghae dari arah belakang.

”Kangin hyung sedang wamil saat ini. Kibum sedang konsentrasi dengan dunia aktingnya. Sementara Hankyung hyung… dia sudah keluar dari grup.” ucapnya lagi. Suaranya terdengar sedih. Dia pasti merindukan ketiga member itu.

”Hei, kau pasti Han Chaerin.”

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

 

”Hei, kau pasti Han Chaerin. Benar kan?” tanya Leeteuk dari belakang Donghae. Chaerin terkesiap.

”Ah, ne. Aku Han Chaerin. Apa kabar, oppa?”

”Aku baik. Ah, tidak perlu bersikap formal begitu. Anggap saja kami ini keluargamu.” jawab Leeteuk seraya menarik senyumnya.

”Omo! Inikah istrimu, Hae?” seru Eunhyuk yang muncul bersama Ryeowook, Sungmin, Shindong, Kyuhyun, Yesung, Heechul, dan Siwon. Donghae mendekati Chaerin yang terlihat kikuk.

”Benar. Ini istriku, Lee Chaerin.” jawab Donghae sambil menaruh tangannya di pundak Chaerin, membuat Chaerin tersentak dan memandangnya kaget. ”Chaerin-ah, ini Eunhyuk dan Leeteuk hyung. Di belakangnya itu Kyuhyun, Heechul hyung, Shindong hyung, Siwon, Ryeowook, dan Sungmin.”

Chaerin membungkukkan sedikit badannya. ”Annyeong haseyo, oppa. Senang bertemu kalian.”

”Kami juga senang bertemu denganmu, Chaerin-ssi.” sahut Ryeowook yang sedari tadi memandang Chaerin hampir tidak berkedip. ”Donghae hyung bilang kau tidak cantik. Tapi ternyata, setelah aku melihatmu langsung, aku tahu dia pasti bercanda.”

Pletak!

”Aw! Hyung, kenapa kau menjitak kepalaku? Appo,”

Heechul menatap tajam Ryeowook yang memegangi ubun-ubunnya. ”Kau sudah tertular penyakit evilnya Kyuhyun ya? Kenapa berbicara seperti itu?”

”Gwaenchana, oppa. Itu sama sekali tidak menyinggungku.” lerai Chaerin. Ia menatap tajam Donghae meski bibirnya itu tersenyum. Tatapan yang seolah berbicara aku-akan-membunuhmu-setelah-ini itu membuat Donghae hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

”Chaerin-ssi, kau pasti akan kesepian kalau Donghae pergi ke Indonesia selama tiga hari. Bagaimana kalau kau ikut? Kebetulan, pacar Heechul dan Sungmin juga ikut.” tawar Leeteuk. Chaerin menoleh pada Donghae sekilas.

”Joesonghamnida, oppa. Tapi aku harus sekolah.”

”Ah, iya aku lupa. Kalau begitu, mungkin kau bisa meminta izin pada kepala sekolahmu untuk libur?”

Lagi-lagi Chaerin menoleh ke arah Donghae lalu tersenyum pada Leeteuk.

”Akan aku usahakan nanti,”

Donghae mendelik tak percaya. Dia menarik sebelah pundak Chaerin untuk menghadapnya.

”Hya! Kau serius? Bukankah tadi kau bilang…”

”Aku berubah pikiran.” potong Chaerin dengan nada ketusnya. Sementara Donghae mengerjap-erjapkan matanya lalu menyunggingkan senyum.

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

 

Aku dan Chaerin sudah sampai kembali di rumah. Hari sudah gelap. Kutilik jam di pergelangan tanganku. Pukul 21:15. Selama di dorm, Chaerin hanya memperhatikan aku dan para member yang sedang latihan. Pasti dia sangat bosan. Hal itu terlihat jelas dari wajahnya yang lesu dan sikap pendiamnya. Aku hanya bisa ikut terdiam tanpa menanyakan apa-apa padanya. Kurasa, aku sudah bisa menyikapi semua sifatnya sekarang.

”Kau tidak mau mandi dulu sebelum tidur?” tanyaku pada Chaerin yang sudah ambruk di atas ranjang dengan seragam dan tas sekolahnya. Dia pasti lelah.

”Udaranya dingin, aku malas mandi.” jawabnya tanpa membuka mata. ”Kalau kau merasa terganggu, kau boleh tidur di sofa malam ini.”

”Apa?”

”Kau itu kan ikan super higienis. Pasti kau merasa risih satu kamar dengan gadis yang belum mandi.”

Bicara apa dia? Aku sama sekali tidak punya pikiran seperti itu. Walaupun aku sangat cinta kebersihan, tapi aku tidak separah itu memaksa dia untuk mandi, kalau aku tahu dia sangat lelah.

”Setidaknya gantilah baju sekolahmu itu. Apa perlu aku yang menggantikan?”

”ANDWAE!!!”

Aku tersentak kaget melihat Chaerin tiba-tiba bangun dan berteriak. Hahaha… gadis ini memang sangat lucu.

”Tidak perlu sepanik itu. Aku juga tidak bernafsu melihat tubuhmu yang kurus.”

”BO?”

”Ya sudah, aku akan keluar dari sini. Gantilah bajumu dan segera tidur.”

Blam!

”Aaaaarrgghh…!” Kudengar teriakan keras Chaerin di dalam kamar. ”Ikan menyebalkan!!!”

”Hya, jangan berteriak seperti itu. Nanti kalau tetangga kita mendengarnya, mereka akan mengira aku melakukan yang tidak-tidak padamu.”

Chaerin hanya mendelik tajam ke arahku.

”Awas kau ikan! Aku akan… aw!”

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

 

Chaerin menyentuh keningnya yang membiru. Ia nampak kesakitan karena kepalanya berdenyut cukup hebat.

”Kau baik-baik saja? Biar kulihat lukamu.”

”Shireo!” Chaerin menepis keras tangan Donghae yang berusaha menyentuh keningnya.

”Jangan begitu. Kalau terjadi apa-apa pada kepalamu bagaimana? Akan kuambilkan air hangat untuk mengompres keningmu.”

Donghae langsung melesat menuju dapur. Dengan sigap, ia menuangkan air panas dan dingin dalam satu wadah. Lalu meraih handuk kecil yang biasa ia gunakan untuk mengelap keringat saat konser.

Chaerin meringis. Donghae mulai meremas handuk yang sudah basah itu lalu menempelkannya pelan di kening Chaerin.

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

 

”Kau ini kebal penyakit ya?” ujar Donghae di hadapanku. Wajahnya begitu serius menempelkan handuk hangat itu di keningku yang membiru. Wajah kami sangat dekat. Aku bisa melihat setiap lekuk wajahnya dengan jelas.

”Sejak kemarin kau tidak makan dan kau sama sekali tidak merasakan sakit pada perutmu. Lalu sekarang, keningmu membiru seperti ini, kau bilang sudah tidak apa-apa, tapi nyatanya ini masih sakit. Bagaimana bisa ada orang sepertimu.”

Aku membisu. Dia benar. Apa yang baru saja dikatakannya itu tidak salah. Aku sendiri juga heran dengan tubuhku. Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama. Aku sudah sering mengalaminya.

”Kau harus mengubah kebiasaan ini kalau kau tidak ingin aku khawatir.”

Apa? Jadi dia benar-benar mengkhawatirkanku?

”Mianhae, Donghae-ya.” ucapku lirih. Aku tidak merasakan nyeri lagi pada kepalaku begitu mendengar Donghae mengkhawatirkanku. Hhh… perasaan apa ini sebenarnya?

”Sekarang bagaimana? Apa masih terasa sakit?”

Aku menggeleng. ”Sudah tidak apa-apa,” jawabku. Donghae tersenyum. Senyumnya itu sangat manis. Bibir tipisnya melengkung sempurna. Kenapa aku baru menyadarinya?

”Kalau begitu, ganti baju dan tidurlah.” tukas Donghae sambil mengusap pelan pipiku. Hei, apa dia sekarang sudah mulai suka menyentuhku? Dan kenapa aku tidak mengelak? Aku kan tidak suka namja ini.

Donghae beranjak keluar dari kamar. Setelah pintu benar-benar tertutup, aku menyentuh pelan pipiku yang baru saja diusap Donghae. Aish… aku ini sedang apa!

 

>>>>>

 

Hari ini cuaca cerah. Musim semi sudah tiba. Aku sangat suka musim ini. Musim yang menurutku sangat indah dan penuh kebahagiaan. Semoga saja kebahagiaan itu juga selalu menghampiriku.

Aku berhasil tidur pulas semalam hingga tidak bangun terlambat. Donghae kembali mengantarku ke sekolah. Kali ini aku tidak bisa menolaknya lagi, karena dia beralasan dengan mengantarku ke sekolah, dia akan bisa menyetir tanpa was-was lagi. Aku pikir itu bagus juga. Jadi aku tidak harus menyetir mobil untuknya setiap pergi ke Seoul.

”Aku akan pulang larut malam. Mungkin juga besok pagi. Hati-hati saat naik subway nanti. Jangan lupa makan. Arasseo?”

“Iya, baiklah. Aku mengerti. Sudah sana!”

Donghae menutup kaca mobil dan melaju. Aku memandangi mobilnya hingga hilang di tikungan, lalu beranjak masuk ke dalam sekolah.

 

>>>>>

 

”Chaerin-ah, aku boleh main ke rumah paman dan bibimu di Mokpo?” tanya Yeonhee saat bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Nafasku tercekat seketika.

”Untuk apa kau ke sana?”

“Aku ingin melihat kakak sepupumu itu.”

”Apa?”

”Iya. Aku ingin kau mengenalkan aku pada kakak sepupumu. Dia tampan kan?”

Astaga, Yeonhee ini selalu membuatku terkejut. Aku tidak mungkin mengiyakan permintaannya itu. Kalau dia tahu kakak sepupu yang dimaksud itu Donghae Super Junior, bisa gawat.

”Ng… mianhae, Yeonhee-ya. Tapi kakak sepupuku itu sudah kembali lagi ke Jepang tadi pagi.”

”Sudah kembali ke Jepang?”

Aku mengangguk, berusaha membuat Yeonhee yakin. Dan sepertinya aku berhasil. Dia menghela nafas menyesal lalu menggigit lolipop bundarnya.

”Baiklah, aku mengerti. Mungkin lain kali kau bisa mengenalkanku padanya.”

Lain kali? Ck, aku harap tidak ada lain kali untuk urusan ini.

”Yeonhee-ya, aku duluan ya! Annyeong!”

Aku melengos melewati Yeonhee dan berlari keluar gedung sekolah menuju stasiun skereta bawah tanah. Ini pertama kalinya aku naik subway dari sekolah. Ternyata banyak juga yang menggunakan angkutan ini untuk berpergian. Selama ini aku selalu menggunakan sepeda dan bus untuk perjalananku.

Untunglah masih tersisa tempat duduk untukku. Jadi aku bisa bersantai menikmati perjalanan ke rumah. Hhh… Donghae sedang apa ya? Apa dia sudah makan? Kalau dia tidak syuting, dia pasti sudah menjemputku di sekolah. Kuputuskan untuk mengiriminya sms.

Kau sedang apa? Aku berada di dalam subway sekarang. Tiba-tiba saja aku teringat padamu, jadi kuputuskan untuk mengirimimu sms.

Ah, apa yang baru saja kuketik? Ini terlalu berlebihan. Ani, aku harus mengganti kata-katanya.

Kau sedang apa, ikan jelek? Gara-gara kau syuting, aku jadi harus berdesakkan di dalam subway -,-

Send…

Ya, begini lebih baik.

Kuhela nafas panjang. Suasana subway ini cukup hening, membuat pikiranku melayang.

Hari ini aku berhasil meminta izin pada wali kelasku untuk tidak masuk selama lima hari mulai besok dengan alasan menjenguk kakekku yang sakit keras di Incheon. Ck, rasanya geli sendiri mendengar alasan itu. Bagaimana tidak? Aku sudah tidak punya kakek lagi. Hanya ada satu nenek dari pihak eomma. Tapi setidaknya, aku tidak benar-benar berbohong. Nenekku itu memang tinggal di Incheon bersama keluarga besar eomma.

Drrt…

Ponselku bergetar. Pesan balasan dari Donghae.

Aku baru saja istirahat. Kau masih di sekolah? Sudah makan? Mianhae, Chaerin-ah, aku terpaksa tidak menjemputmu L 

Ck, emoticon apa ini? Apa dia benar-benar sedih tidak bisa menjemputku di sekolah?

Aku ada di subway sekarang. Sampai rumah aku akan makan. Hei, tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku mengerti kesibukanmu. Hwaiting! ^^

Send…

Omo! Apa yang baru saja kukirim padanya? Chaerin babo! Ikan itu pasti akan tertawa membacanya. Aigoo, kemana harga diriku selama ini?

Drrt….

Hahaha gomawo, istriku. Aku senang kau sudah mulai mengerti aku sekarang. Tunggu aku nanti malam ya!

SEE? Dia pasti mengetik sms ini sambil tertawa puas. Pasti! Aaarrgghh… kau ini kenapa, Han Chaerin? Keumanhae! Hentikan semua kegilaanmu sekarang juga! Jangan sampai kau menemukan cinta dihatimu untuk Donghae. Andwae! Itu tidak boleh terjadi!

 

-TBC-

Waaahh setiap part nya kependekan ya? Mianhae >,

Author usahain cepet publish deh. Sebenernya udah selesai sih, tapi banyak yang harus di edit jadi suka lama publishnya hehehe

Keep waiting ya readers ^^

 

>published by.yooNkyu

 

Advertisements

3 thoughts on “[DONGHAE] || SERIES Love by Accident (part 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s