[DONGHAE]|| SERIES Love by Accident (Part 2)

 

Title : Love by Accident

Author : Zatha Amanila

Casts : Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau

Genre : Romance

Rating : General

Length : Chaptered

 

Di part ini Henry masih belum muncul. Author munculin dia di part 6. Jadi, bagi readers yang fansnya Henry mochi, mohon sabar ya! (^.^)v

Enjoy reading! ^ ^

 

~~~~~

 

CHAERIN’S POV

 

”Aku akan pindah ke rumah yang Donghae beli hari ini. Tempatnya berdekatan dengan rumah eomonim, jadi eomma tidak perlu khawatir karena aku semakin jauh dari eomma dan appa…, ne, eomma. Nanti aku akan kirimkan alamatnya pada eomma…, ah, aniyo eomma. tidak ada apa-apa. Donghae sudah terlanjur membeli rumah jadi dia ingin kami tinggal di rumah saja. Kalau di apartemen aku sering merasa kesepian…, baiklah, kau tutup dulu teleponnya.”

Pip!

Hhhh… aku menghela napas panjang sambil memandangi ponsel. Di sampingku sudah ada koper besar yang siap untuk aku bawa pergi. Aku sedih bukan karena harus pindah dari apartemen mewah ini, tapi karena aku harus jauh dari eomma dan appa. Mereka di Seoul, sedangkan aku pindah ke Mokpo, tempat kelahiran Donghae. Aish… kenapa nasibku jelek sekali?

Aku tidak akan bisa menggunakan sepeda kesayanganku lagi untuk pergi ke sekolah. Jelas saja, karena jarak Mokpo ke Seoul cukup jauh dan aku harus menggunakan subway sebagai gantinya.

Aaaaarrrgghh…!!! padahal tinggal beberapa minggu lagi aku menjadi murid SMU!

”Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Donghae yang ternyata ada di pintu kamarku dengan setelan kemeja hijaunya. ”Kita harus segera pergi. Aku masih ada syuting nanti siang.”

Aku mendelik sebal. Selain sok bersih, manja, penakut, dan cengeng, ikan ini juga senang menyuruh-nyuruh orang sembarangan. Tanpa membalas perkataannya, kutarik batang koper dan keluar dari kamar seraya menyenggol lengan Donghae dengan kasar.

”Aish, kau ini! Kenapa harus menyenggolku?”

Cih! Baru disenggol sedikit saja sudah meringis. Laki-laki lemah!

Kutaruh koper besarku di bagasi mobil dan masuk ke jok belakang mobil audy hitam milik Donghae.

”Kenapa kau duduk di situ? Memang aku supirmu? Cepat pindah ke depan!”

”Tidak mau.”

”Hya, Han Chaerin! Kalau aku bilang pindah kau harus pindah!”

Apa-apaan ikan ini? Dia berani membentakku?

”Kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau!”

”Bo? Aish…”

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

 

Apa maunya gadis ingusan ini? Dia benar-benar menganggapku supir? Keterlaluan! Kubuka pintu mobil dengan kasar.

”Kalau kau tidak mau duduk di depan, lebih baik kau turun dari mobil ini. Cari saja kendaraan lain untuk mengangkut dirimu dan kopermu itu!”

Kudengar desah berat dari mulutnya. Matanya mendelik tajam, menyiratkan kekesalannya pada sikapku. Tidak kusangka, aku mendapatkan istri yang keras kepala seperti dia ini.

”Baiklah, aku akan duduk di depan. Kau puas?”

Ya, amat sangat puas. Keras memang harus dihadapi dengan keras juga kan? Kekeke~ Aku pun mulai menghidupkan mesin mobil. Aigoo, aku melupakan sesuatu. Aku memang sudah bisa menyetir mobil, tapi kalau sampai sejauh Mokpo, aku bahkan tidak bisa menjamin keselamatan diriku sendiri. Bagaimana ini?

”Kenapa tidak jalan?” tanya Chaerin. Aku menoleh memandangnya.

”Tentu saja aku akan jalan. Tapi… ”

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

 

IKAN MENYEBALKAN! Bagaimana bisa dia tidak mahir menyetir? Ini kan mobilnya? Setiap hari ke tempat syuting dengan mobil ini. Seharusnya dia sudah mampu. Aish, benar-benar membuatku kesal!

”Kau haus?” tanya Donghae sambil mengulurkan sebotol minuman ringan tepat di depan wajahku.

”Hya! Singkirkan tanganmu, ikan! Kau menghalangi pandanganku! Bagaimana kalau aku sampai menabrak? Dasar babo!”

”Eh? Mian,”

Apa? Mian? Dia pikir cukup hanya dengan meminta maaf? Aku sudah mau menyetir mobil padahal aku belum memiliki SIM. Tentu saja risiko ini sangat besar. Selain ditangkap polisi, aku juga akan didenda. Ikan ini memang sangat tidak berguna!

”Kalau kau lelah, aku bisa menggantikanmu.” tawar Donghae.

”Ck, aku masih ingin hidup di dunia ini lebih lama. Tidak akan aku biarkan kau menyetir selama aku ada bersamamu di dalam mobil.”

”Hya! Aku tidak separah itu. Walaupun aku tidak mahir menyetir mobil, tapi aku berani menjamin keselamatanmu.”

Benarkah? Kenapa rasanya aku tidak bisa percaya dengan ucapannya?

”Sudahlah, kau duduk tenang saja ditempatmu. Aku akan mengantar kita berdua dengan selamat sampai rumah.”

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

 

Mobil Audy hitam itu memarkir rapi di depan sebuah rumah sederhana nan asri. Chaerin mematikan mesinnya dan melepas sitbealt yang mengikat badannya. Ia menggeliat sejenak untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang tegang. Ujung matanya menangkap Donghae yang sedang tertidur pulas.

”Ck, bisa-bisanya dia tidur pulas seperti itu. Apa dia tidak tahu kalau aku mengerahkan semua tenaga untuk menyetir mobil ini? Menyusahkan!” gumam Chaerin. Ia hendak membuka pintu mobil sebelum akhirnya…

”Aku tidak tidur. Hanya memejamkan mata.”

Chaerin terkesiap. Ia memandangi Donghae yang kini sudah membuka mata dan tersenyum ke arahnya.

”Gomawo sudah menyetir mobil untukku. Aku tahu kau pasti lelah.”

”Ini bukan untukmu, aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa di jalan kalau kau yang menyetir.” jawab Chaerin dengan nada yang lebih terkesan lembut daripada ketus. ”Benar ini kan rumahnya?”

Donghae memandang bangunan di luar kaca mobil. ”Benar. Ini rumah baru kita. Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam.”

Setelah turun dari mobil, Chaerin memperhatikan rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya itu dengan seksama. Tak ia sadari, segurat senyum tertarik di bibirnya. Sementara itu Donghae mengambil koper miliknya dan Chaerin dari bagasi mobil.

Rumah sederhana itu berlantaikan kayu dengan desain modern. Cukup besar jika ditempati dua orang. Halamannya luas. Ada sebuah ayunan dengan kursi panjang di sana. Tanaman hias menambah suasana asri halaman itu. Dan yang paling membuat Chaerin terpesona adalah pagar kecil dari kayu yang menjadi pelindung rumah itu.

”Kau suka rumah ini?” tanya Donghae di samping Chaerin.

”Ne. Rumah ini sangat mirip dengan rumah impianku selama ini. Sepertinya aku akan betah tinggal di sini.” jawab Chaerin tanpa menoleh pada Donghae dan terus memandangi rumah itu. Tanpa Chaerin sadari, Donghae menatapnya sambil tersenyum.

”Ayo masuk. Kau harus melihat bagaimana isinya.”

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

 

Deg! Deg! Deg!

Jantungku berdegub kencang saat Donghae membuka pintu rumah itu. Akankah isinya seperti yang kuharapkan selama ini? Semoga.

Ceklek!

Beberapa sofa cokelat tua dan sebuah rak hias berukuran sedang, menyambutku. Aku sedikit terperangah.

”Gunakan sandal rumahmu.” pinta Donghae yang sudah lebih dulu masuk dan sibuk menarik koper kami ke samping sofa. Aku menunduk untuk melihat sandal rumah yang dia maksud. Wah, lucu sekali! Sandal berwarna putih dengan boneka kepala panda. Darimana Donghae tahu aku menyukai panda? Apa sebelumnya dia sudah menyiapkan kepindahan ini?

Setelah memakai sandal rumah itu, perhatianku kembali teralih pada kondisi rumah. Sebuah pintu berwarna cokelat itu kuyakini sebagai kamar. Dan di sebelahnya adalah dapur serta ruang makan yang digabung menjadi satu. Rak hias berukuran sedang yang kumaksud tadi menjadi pemisah ruang tamu dan ruang televisi. Ruang itu dihiasi sofa santai berbentuk persegi panjang dengan motif kotak-kotak coklat.

Dan ruang paling belakang adalah kamar mandi. Tidak mewah seperti kamar mandi di apartemen Donghae, tapi sangat bersih dan juga wangi. Aku rasa, ini cukup mirip dengan yang kuimpikan. Ya, walaupun tidak mirip seratus persen. Tapi setidaknya rumah ini sangat nyaman untuk ditinggali.

”Apa kau ingin makan?” tanya Donghae dari arah dapur. Aku baru saja menghempaskan tubuh di atas sofa ruang tamu sambil memijat kening.

”Memangnya sudah ada makanan di dapur?”

”Tidak ada. Donghwa hyung pergi sejak seminggu yang lalu ke Seokcho untuk bekerja. Dia pasti sengaja mengosongkan isi kulkas. Kita bisa makan di luar kalau kau mau.” jawab Donghae seraya berjalan ke arahku dan meletakkan segelas air mineral dingin di atas meja. Tanpa pikir panjang, aku langsung meneguk air mineral yang disuguhkannya sampai habis.

”Hei, kau ini haus atau apa?”

”Tentu saja aku haus. Kau pikir tidak lelah menyetir mobil selama dua jam tanpa berhenti?” jawabku ketus. Dan Donghae tertawa kecil menanggapinya. Apa-apaan ikan ini? Dia kira aku sedang melawak?

”Mianhae, Chaerin-ah. Karena itulah aku ingin menraktirmu makan siang sebelum aku pergi ke lokasi syuting. Hitung-hitung sebagai permintaan maafku. Bagaimana?”

Hei, kenapa sikapnya jadi selembut ini?

”Tentu saja kau harus menraktirku. Bukan hanya hari ini, tapi juga seterusnya. Kau memiliki tanggung jawab penuh terhadap diriku. Karena aku adalah istrimu.”

”Jadi kau sudah menganggapku sebagai suamimu?”

Astaga! Apa yang baru saja aku katakan? Dasar Chaerin bodoh!

”Mm… bu-bukan begitu. Aku hanya…”

”Hahaha…, sudahlah tidak usah kau jawab. Aku tahu kau tidak bisa menjawabnya.”

Aku mendelik menatap sosok ikan tampan di depanku ini. Dia benar-benar membuatku kesal. Wajahnya itu penuh dengan ekspresi kemenangan. Tapi tunggu, apa yang baru saja kukatakan tadi? Ikan tampan?

”Yoboseyo?… Ah maafkan aku, noona. Aku baru saja pindah rumah…, iya, aku pindah ke Mokpo…, ah, tidak ada apa-apa sebenarnya. Ibuku yang menyuruhnya. Lain waktu kau bisa datang kemari untuk melihat rumahku yang baru. Ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu juga…., hahaha rahasia. Nanti kau juga akan tahu. Baiklah noona, aku akan segera ke lokasi syuting…, ne.”

Pip.

Kulihat Donghae berdiri sambil meraih syal dan mantel musim dinginnya. Hei, kenapa dia tidak memberitahu dengan siapa dia bicara tadi? Jelas-jelas aku mendengar pembicaraannya.

”Aku harus pergi sekarang. Kru sudah menungguku. Kalau kau lapar, kau bisa berjalan ke minimarket di seberang. Di sana buka dua puluh empat jam.”

Apa-apaan ikan ini?

”Hya! Kau tega membiarkan aku berjalan-jalan di daerah yang asing ini? Di mana perasaanmu, Lee Donghae?” semprotku geram.

”Kau tidak akan tersesat kalau hanya berjalan ke minimarket di seberang. Lagi pula kau kan sudah dewasa. Usiamu sudah dua puluh tahun.”

Apa? Dua puluh tahun? Hya! Aku ini masih delapan belas tahun, ikan!

”Aku pergi dulu. Jangan lupa mengunci pintu. Oh ya, mungkin aku akan pulang larut malam, karena besok ulang tahun Eunhyuk. Aku dan member akan membuat kejutan untuknya. Jangan menungguku, arasseo?”

BLAM!

Aish… siapa juga yang mau menunggu ikan menyebalkan seperti dirimu. Lihat saja, Lee Donghae, aku tidak akan membukakan pintu untukmu saat kau pulang nanti.

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

 

Chaerin baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut sebahunya dengan handuk. Hari sudah gelap. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah ditinggal Donghae tadi siang, mau tidak mau Chaerin harus membereskan kopernya sendirian. Tak lupa baju-baju Donghae yang ada di kopernya pun ia bereskan.

Karena sudah seminggu ditinggal oleh Donghwa, rumah itu nampak berdebu. Maka, Chaerin pun menyapu dan mengepelnya. Rasa lelah karena menyetir selama dua jam tak lagi dihiraukannya. Insting kebersihannya berhasil mengalahkan segala kemalasan yang menggelayuti dirinya.

Krukk… krukk…

”Aish, sepertinya aku memang harus makan.”

Chaerin meraih mantel dan syalnya. Sebelum tangannya menyentuh kenop pintu, sebuah pesan singkat datang dari ponsel layar sentuhnya.

Kau sudah makan?

”Cih! Ikan ini sok memperhatikanku.”

Sesaat kemudian, Chaerin mengetikkan pesan balasan untuk Donghae lalu menaruh ponselnya di saku mantel dan pergi.

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

 

Drrt…

Ah, cepat sekali dia membalasnya. Kutekan tombol ’baca’ tanpa basa basi lagi.

Tidak usah sok perhatian! Bekerjalah yang rajin dan hasilkan uang yang banyak untukku.

Astaga. Apa yang dia katakan? Aku sudah mencoba memperbaiki hubungan kami tapi kenapa tidak ditanggapi dengan baik oleh gadis ingusan ini? Tidak tahukah dia aku cukup mengkhawatirkan keadaannya di rumah.

”Donghae-ya,” panggil Leeteuk hyung dari arah belakang. Aku sedang berada di dorm untuk merencanakan kejutan ulang tahun Hyukkie. ”Apa kau sudah membeli hadiah untuk Eunhyuk?” tanyanya.

”Ne. Aku sudah membeli hadiahnya sejak dua hari yang lalu. Dan akan kuberikan besok setelah aku syuting.”

”Besok? Waeyo?”

Bagaimana menjelaskannya pada Leeteuk hyung ya? Dia dan para member belum mengetahui kalau aku sudah menikah. Dan saat ini, aku mengkhawatirkan keadaan istriku di rumah yang jauh dariku.

”Ada apa, Donghae-ya? Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan.” ujar Leeteuk hyung. Dia memang selalu tahu kalau aku menyembunyikan sesuatu.

”Hyung,”

”Hm?”

”Sebenarnya aku… aku sudah menikah.”

”BO???”

Aku pasrah saja mendengar reaksi Leeteuk hyung. Sebentar lagi pasti akan ada yang menghampiri kami dan bertanya ada apa.

”Hyung, ada apa? Kenapa berteriak?”

Gotcha! Si eternal magnae, Ryeowook, kini sudah berada di belakang aku dan Leeteuk hyung dengan celemek yang menempel dibagian depan tubuhnya. Jarak antara teras dan dapur cukup jauh. Tapi kenapa bocah ini bisa mendengarnya? Ryeowook memang sangat ajaib.

”Kau serius, Donghae-ya? Kau benar-benar sudah menikah?”

”Apa? Donghae hyung sudah menikah?”

Aku menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya pada mereka berdua. Ya, sudah saatnya rahasia yang kupendam selama tiga bulan ini kubongkar. Ryeowook dengan sigap duduk di sebelahku dan memasang telinganya.

”Ne, hyung. Aku sudah menikah selama tiga bulan. Dan maaf, aku tidak memberitahu kalian mengenai pernikahanku.”

”Gwaenchana, Donghae-ya. Aku mengerti. Lalu, siapa gadis yang menjadi istrimu? Apa kami mengenalnya?”

”Apa dia cantik seperti Sunye noona, hyung? Atau jangan-jangan kau memang menikahi Sunye noona?”

”Aigoo, Wookie-ah, biarkan Donghae menceritakan semuanya dulu.”

”Oh? Mianhae, hyung.”

Aku hanya bisa tersenyum melihat Ryeowook yang mulai mengeluarkan sifat real magnaenya. Kuhela nafas panjang lagi.

”Kalian tidak mengenalnya. Dia bukan dari kalangan artis dan dia juga tidak cantik seperti Sunye.” ucapku. Entah ini pikiranku yang sedang gila atau apa. Tiba-tiba saja aku memikirkan wajah Chaerin dan sikap-sikap ketusnya.

”Namanya Han Chaerin. Dia masih SMU. Tahun ini adalah tahun terakhirnya sebagai murid SMU. Kami menikah karena kesepakatan dua keluarga sebelum aku dan dia lahir. Appa sangat menyayangi Chaerin sampai-sampai dia menyuruhku untuk menikahinya sebelum Appa meninggal. Aku menurutinya sebagai bukti penghormatanku pada Appa.” paparku.

”Apa Chaerin sendiri juga langsung menyetujuinya?”

”Tentu saja dia langsung menyetujuinya, hyung. Donghae hyung kan tampan dan terkenal. Gadis mana yang tidak mau dengannya.” cecar Ryeowook.

”Anhi, Wookie-ah. Begitu mendengar bahwa dia akan menikah denganku, dia langsung menolaknya. Kalian pasti tidak percaya kalau dia sama sekali tidak mengenalku sebagai anggota Super Junior.”

”Benarkah? Apa kita kurang mempesona ya?” ucap Leeteuk hyung seraya melihat tubuhnya sendiri. ”Lalu bagaimana denganmu? Apa kau memiliki perasaan padanya?”

”Perasaan?”

Ah, iya. Selama ini aku tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku pada Chaerin.

”Aku sendiri tidak tahu, hyung. Chaerin itu sangat ketus dan angkuh. Dia bukan tipe wanita idealku. Bahkan sangat jauh.” jawabku masih dengan memikirkan Chaerin. ”Kau tahu bagaimana tipe wanita idealku, hyung. Berambut panjang, memiliki sifat keibuan, lembut dalam berbicara, penampilannya elegan, dan tidak terlalu tinggi. Semua itu tidak ada dalam diri Chaerin sedikit pun.”

Leeteuk hyung nampak mengangguk-angguk. Entah apa yang dipikirkannya.

”Omo! Aku lupa kalau sedang memasak tofu!” seru Ryeowook. Ia beranjak dan lari menuju dapur.

”Lalu, apa masalahmu sekarang? Kenapa kau mau memberikan hadiah untuk Eunhyuk besok?”

Ah, iya. Aku lupa kalau cerita ini bermula karena pertanyaan itu.

”Aku dan Chaerin baru saja pindah ke Mokpo tadi siang. Dan sekarang aku meninggalkan dia sendirian di rumah padahal aku tahu, Mokpo adalah daerah asing baginya. Aku khawatir padanya, hyung.”

”Ah, jadi begitu. Aku mengerti sekarang. Kalau begitu, kau pulanglah saja. Nanti biar aku yang memberitahu yang lain.”

”Jeongmalyo, hyung? Tapi bagaimana dengan kejutan ulang tahun Hyukkie? Aku rasa dia akan kecewa kalau aku tidak hadir.”

”Dia pasti akan mengerti begitu aku menceritakan yang sebenarnya. Sudah sana! Chaerin pasti sedang menunggumu sekarang.”

Chaerin menungguku? Ck, aku rasa itu tidak mungkin.

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

 

Aish… kenapa daerah ini sepi sekali. Padahal masih jam delapan malam. Seharusnya masih banyak orang yang berlalu-lalang.

Aku merapatkan mantelku dan mempercepat langkahku menuju rumah. Ikan kurang ajar! Dia bilang minimarketnya dekat, tapi kenapa aku harus berjalan selama lima belas menit untuk sampai ke sana? Lihat saja nanti, aku akan memberinya pelajaran!

Krukk… Krukk…

Astaga. Perut ini benar-benar tidak bisa dikompromi. Hei perut! Diamlah sedikit. Aku tahu kau minta makanan, tapi cobalah mengerti keadaanku sekarang. Udara yang dingin ditambah suasana sepi ini membuat bulu kudukku berdiri. Sial! Seharusnya aku tidak takut seperti ini. Bukankah aku sudah sering menonton film-film horor?

”Tenanglah Han Chaerin. Sebentar lagi kau akan sampai di rumah dengan selamat. Tidak akan ada yang terjadi padamu. Oke? Tenang… tenang…”

Drap! Drap!

Eh? Suara apa itu? Seperti suara langkah kaki. Apa ada yang sedang mengikutiku?

Aku pun mencoba menolehkan kepala. Tidak ada siapa-siapa di sana. Baiklah, aku harus meneruskan perjalananku. Tetap tenang, Han Chaerin.

Drap! Drap!

Ya Tuhan. Suara itu lagi. Sebenarnya siapa yang sedang mengikutiku? Sial! Bulu kudukku semakin berdiri. Tengkukku dingin, meski sudah dilapisi syal tebal. Kupercepat langkahku. Aku tidak ingin menoleh ke belakang lagi. Aku takut….

”Kyaaaaaaaaaaa…!!!”

BUKK!

Seseorang menangkap tubuhku. Ya, aku merasakannya dengan jelas. Dadanya bidang dan hangat. Pelukannya pun erat. Membuatku nyaman dan… hei, siapa yang sedang melakukan ini padaku?

”Donghae hyung, kalian mesra sekali. Dia pacarmu?”

Eh? Donghae?

”Bukan, Joon-ah. Dia istriku.”

Benar, orang yang sedang memelukku ini Donghae. Aku hafal suaranya itu.

”Istri? Wah, kapan kalian menikah? Kenapa tidak mengundangku?”

”Mianhae. Kami menikah disela-sela kesibukanku, jadi tidak sempat membuat pesta besar-besaran.”

”Uh!”

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

 

”Uh!”

Chaerin melepaskan pelukan Donghae dengan kasar. Matanya menatap Donghae tajam. Dan beberapa saat kemudian tatapannya beralih pada anak laki-laki yang dipanggil Donghae ’Joon’.

”Kau… kau yang mengikutiku kan? Benar kan? Kau mau menakut-nakutiku, hah?” seru Chaerin keras. Joon hanya memandang Chaerin dengan pandangan heran.

”Aku tidak mengikutimu. Aku juga tidak menakut-nakutimu, noona. Aku ingin pulang. Rumahku ada di sana.” jawab Joon sambil menunjuk ke sebuah rumah yang tak jauh dari posisinya.

”Hya! Jangan berbohong padaku! Aku tahu kau punya niat jahat padaku. Ayo mengaku saja!”

”Sudah kukatakan aku tidak mengikutimu, noona. Aku tadi memang berjalan di belakangmu. Aku tahu kau warga baru di desa ini jadi aku berniat menyapa dan mengenalkan diri padamu, tapi kau malah lari sambil berteriak. Justru aku yang takut dengan kelakuan mendadakmu itu.”

”Bo?”

”Chaerin-ah, Joon benar. Kau tiba-tiba berlari sambil berteriak seperti orang ketakutan. Mungkin kau akan terus berlari ke sana kalau saja aku tidak datang dan menahanmu.” ujar Donghae. Chaerin kini mendelik tajam pada suaminya itu.

”Kau juga, kenapa tiba-tiba datang dan memelukku? Mau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ya?”

”Hei, sudahlah jangan dipermasalahkan lagi. Lebih baik kita pulang sekarang. Kau belum makan kan? Aku membeli ayam goreng barusan. Kaja!”

Donghae menarik tangan Chaerin menuju rumah mereka. Sementara Joon hanya menggelengkan kepalanya.

>>>>>

Ceklek!

Donghae membuka pintu rumah dan masuk terlebih dahulu sebelum Chaerin. Gadis itu berjalan cepat dengan sandal pandanya menuju kamar.

BLAM!

Pintu kamar tertutup, sementara Donghae terpelongo ditempatnya.

”Chaerin-ah, kenapa masuk kamar? Ayo kita makan.” seru  Donghae tepat di depan pintu kamar.

”Aku tidak lapar!” sahut Chaerin kencang. Donghae mendesah sebal.

”Hya! Aku sudah merelakan keikutsertaanku untuk kejutan ulang tahun Eunhyuk hanya untuk membelikanmu makanan. Kau tidak bisa bersikap seperti ini pada suamimu. Cepat keluar, Chaerin-ah!”

Sepi. Tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Donghae menghela napas panjang. Nampaknya ia sudah lebih sabar menghadapi kelakuan Chaerin sekarang.

Donghae membalikkan badannya hendak duduk di sofa sebelum ujung matanya menangkap sesuatu yang berbeda dari meja di samping sofa. Tiga buah foto berpigura putih terpajang di sana. Donghae meraihnya.

”Sejak kapan foto-foto ini ada di sini?” gumam Donghae. Ia tersenyum lembut menatap foto di tangannya sekarang. Dalam foto itu nampak dirinya dan Chaerin dengan baju pengantin sedang tersenyum menatap kamera.

”Hei, lihat senyummu itu. Tidak manis seperti senyumku.” ucap Donghae dengan telunjuk yang mengetuk-etuk wajah Chaerin di dalam foto.

Ia pun meletakkan kembali foto tersebut ke tempat semula kemudian meraih dua foto yang lain. Chaerin dengan keluarganya, dan Donghae dengan keluarganya pula. Ia tersenyum sedih saat menatap foto keluarganya.

”Appa, bagaimana kabarmu di sana? Apa kau bahagia?” ucap Donghae parau. ”Aku sudah menuruti keinginanmu untuk menikahi Chaerin. Aku harap kau senang meski sebenarnya hal itu sudah menyakiti hati Chaerin. Aku merindukanmu, Appa. Sangat rindu…”

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

 

Aku duduk di pinggir ranjang dengan kedua tanganku melipat di depan dada. Aku tidak peduli teriakan Donghae dari luar sana. Aku benar-benar kesal. Kesal karena dia meninggalkanku di rumah yang asing sendirian. Dia juga membiarkan aku kelaparan sejak siang. Aaaarrrgghh… ikan menyebalkan!

Eh tapi, kenapa aku tidak mendengar suara Donghae lagi? Kemana perginya ikan higienis itu? Jangan-jangan dia kembali ke dorm dan meninggalkanku sendirian? Ah, andwae!!!

Kudekati pintu dan hendak membukanya sebelum akhirnya aku mendengar sesuatu.

”Hei, lihat senyummu itu. Tidak manis seperti senyumku.”

Ternyata Donghae masih ada di luar. Tapi, apa maksud dari perkataannya? Dia bilang senyumnya manis? Kuputuskan untuk membuka sedikit pintu kamar dan kudapati Donghae berdiri di depan meja sambil menatap sebuah foto. Aku yakin, foto itu adalah foto pernikahan kami yang baru saja kupasang saat beres-beres.

Sebenarnya aku tidak mau, tapi karena takut eomonim tiba-tiba datang dan melihat tidak ada satu foto pernikahan pun di sini. Bisa-bisa aku disemprot lagi. Sekarang Donghae mengambil fotoku bersama keluargaku dan foto Donghae bersama keluarganya.

”Appa, bagaimana kabarmu di sana? Apa kau bahagia? Aku sudah menuruti keinginanmu untuk menikahi Chaerin. Aku harap kau senang meski sebenarnya, hal itu sudah menyakiti hati Chaerin. Aku merindukanmu, Appa. Sangat rindu…”

Astaga, apa dia sedang menangis sekarang? Aku tahu dia sangat menyayangi appanya. Setiap akan tampil di acara musik, aku juga tahu dia selalu berdoa untuk meminta restu dari appanya agar acara itu berlangsung lancar.

”Donghae-ya,” tak sadar, aku memanggilnya lirih.

”Chaerin-ah? Sejak kapan kau ada di situ?”

Eh? Kenapa dia bisa menyadari kehadiranku? Apa suaraku yang memanggilnya tadi terdengar olehnya?

”Aku… aku mau ke dapur.” jawabku cuek sambil melangkahkan kaki ke dapur. Aku sendiri bertanya-tanya, apa yang akan kulakukan di dapur? Aish…

”Chaerin-ah, makanlah. Nanti perutmu sakit. Besok pagi kau harus sekolah, kan?”

”Aku hanya haus, bukan lapar.”

Glek… glek…

Kuteguk habis air putih yang kutuang tanpa niat. Aku beranjak menuju kamar lagi sebelum akhirnya kurasakan lenganku tertahan.

”Jangan bersikap seperti ini. Aku tahu aku salah, untuk itu… maafkan aku.” tukas Donghae. Aku membeku. Bukan karena ucapannya, tapi karena sentuhan tangannya yang menahan lenganku. Ini pertama kalinya kami bersentuhan dan aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dalam jantungku.

”Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri di rumah walaupun aku tahu, kau cukup berani untuk tinggal di sini sendirian.”

Aish, ikan ini. Sok tahu sekali! Aku tetaplah gadis yang punya rasa takut meski hanya sedikit. Aku juga butuh seorang laki-laki yang membuatku merasa aman.

”Gwaenchana. Aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi.” tukasku. Aku melihat Donghae tersenyum sambil melepaskan tangannya dari lenganku.

”Gomawo,”

Aku menatapnya sekilas. Dia nampak begitu lega. Kini perasaanku sudah membaik sejak melihatnya menangis di depan foto keluarganya. Lebih baik sekarang aku tidur, karena besok aku harus berangkat sekolah satu jam lebih cepat dari biasanya.

Tapi tunggu, kamar di rumah ini hanya satu. Ranjangnya pun hanya satu. Lalu, bagaimana caranya kami tidur?

”Donghae-ya,”

”Ne?”

”Bagaimana caranya kita bisa tidur?”

 

-TBC-

Jangan lupa RCL ya, readers! Mianhae kalau part ini tidak memuaskan. Hehehe…

Gamsahamnidaaaaaa ^ ^

 

 

>published by.yooNkyu

 

Advertisements

One thought on “[DONGHAE]|| SERIES Love by Accident (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s