[ DONGHAE ] || SERIES Love by Accident (Part 1)

Title :  Love by Accident

Author :  Zatha Amanila

Casts :  Lee Donghae, Han Chaerin, Henry Lau

Genre :  Romance

Length :  Chaptered

 

Rating : General

Disclaimer : It’s only fiction. If any similar story, that’s unexpected. So, don’t bashing me (^_^)v

 

Ini FF keduaku yang dipublish di page ini, setelah sebelumnya lahir (?) FF pertamaku di sini yang judulnya A BITTER SPACE, hohoho… aku bikin FF ini udah dari bulan februari kemarin. Selesainya baru bulan ini saking sibuknya *sibuk ngamen maksudnya readers, hahaha*

Yesungdahlah, cekidot aja deh! Happy reading ya! Hope you like it ^ ^

 

~~~~~

 

CHAERIN’S POV

 

Drrt… Drrt…

Ponselku bergetar panjang dari saku jas sekolahku. Aku merogohnya dan menilik siapa yang tengah meneleponku.

“Yoboseyo?”

“Kau sudah pulang sekolah?” tanya seseorang yang akhir-akhir ini dekat denganku.

“Ne. Waeyo?”

“Bisakah kau cepat pulang? Aku lapar sekali dan ingin segera makan.” ucapnya. Alisku mengerut. Kalau lapar, kenapa tidak membeli makanan? Dia kan punya banyak uang.

“Baiklah. Aku akan segera pulang.”

Pip!

Aku pun menaiki sepeda yang sedari tadi kutuntun dan melaju ke apartemen. Dia, yang meneleponku tadi, adalah Donghae. Lee Donghae. Salah satu anggota Super Junior yang sangat terkenal saat ini. Mungkin penggemarnya akan membunuhku kalau mereka tahu aku memiliki hubungan khusus dengannya. Tapi untungnya, sampai saat ini, mereka tidak ada yang tahu. Bisa dibilang, aku aman untuk sementara dan aku harap untuk selamanya.

Beberapa menit kemudian, aku sudah sampai di halaman apartemen dan mulai memarkir sepedaku dengan rapi bersama jejeran motor. Aku berjalan menaiki tangga hingga lantai 10. Meskipun ada lift, tapi aku tidak suka menggunakannya karena rasa takutku terhadap kejadian mengerikan di lift kantor Appa dulu. Sekalipun aku tidak ingin mengalaminya lagi.

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

 

Aku segera berlari menuju dapur dan membuka kulkas begitu menyadari perutku sangat kelaparan sejak tampil di KBS 3D Show tadi. Aish, kenapa tidak ada satu pun yang bisa kumakan? Apa Chaerin tidak mengisi kulkas ini dengan makanan?

Kuraih ponsel di atas meja makan dan mulai menekan nomor Chaerin di sana.

“Kau sudah pulang sekolah?” tanyaku begitu ia mengangkat teleponnya. “Bisakah kau cepat pulang? Aku lapar sekali dan ingin segera makan.”

Pip!

Dia menutup ponselnya setelah mengatakan akan segera pulang. Baiklah, aku bisa tenang sekarang. Aku harap dia tidak akan lama, karena perutku ini benar-benar merepotkan. Kuputuskan untuk duduk di atas sofa sambil mendengarkan lagu dari ipod.

Ting… Tong…

Ah! kenapa dia cepat sekali? Padahal aku baru saja duduk di sofa beberapa menit. Aku segera beranjak untuk membuka pintu. Wajahnya menyumbul dengan ekspresi datar seperti biasanya.

“Kau menggunakan pesawat jet Siwon ya? Kenapa cepat sekali?” tanyaku saat ia mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Tidak ada jawaban. Ia langsung melengos kearah dapur dan mulai sibuk membuat makanan. Aku memperhatikannya. Dari mana dia mendapat bahan makanan itu? Bukankah di kulkas tidak ada makanan apapun?

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

 

“Kau menggunakan pesawat jet Siwon ya? Kenapa cepat sekali?” kudengar suaranya yang sepertinya ingin bercanda denganku. Tapi aku tidak peduli. Aku merasa kini dia menganggapku seperti pembantunya yang kapanpun harus siap saat dia butuh. Hahhh… Donghae menyebalkan!

Aku membuka lemari kecil di bawah kompor dan mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk membuat jjangmyeon setelah meletakkan tasku di atas meja makan.

”Kau menyimpan bahan makanan itu di sana? Bukankah di sana sangat kotor?”

Aish namja itu! Aku tahu dia sangat higienis. Tapi tidak bisakah diam sedikit?

”Aku akan mencucinya dengan bersih. Kau tidak usah khawatir, tidak akan ada kuman yang menempel.” jawabku malas.

”Memang seharusnya seperti itu.”

Apa? Dia bilang apa? Aish… benar-benar menyebalkan si ikan itu!

”Tapi ngomong-ngomong, terima kasih… istriku.”

>>>>>

Malam merambat. Tidak terasa aku sudah berada di depan laptop selama lima jam untuk mengerjakan tugas mengarang bahasa inggris. Besok aku harus membacakan karangan tentang idola ini di depan kelas. Kalian tahu aku menceritakan siapa? Anggota Super Junior yang menyebalkan, Lee Donghae. Ya, semua itu terpaksa. Karena aku tidak memiliki satupun idola. Dan yang paling membuatku mual, aku harus browsing tentang Donghae di internet. Selama ini aku tidak tahu apa-apa mengenai ikan super higienis itu. Aku hanya tahu kalau dia suka makan ikan sehingga dijuluki Fishy. Itu juga karena Eomma yang memberitahukannya.

Setelah aku mencari tahu mengenai Donghae, jujur saja aku seperti mendapat pencerahan tentang siapa suamiku itu di mata penggemarnya. Donghae adalah laki-laki romantis. Benarkah? Kenapa aku seperti ingin muntah membacanya? Tapi mungkin saja. Karena aku hanya tahu dia laki-laki menyebalkan. Ah ya, dan terlalu higienis.

Kami, aku dan Donghae, menikah karena sesuatu yang menurutku aneh. Orangtuaku bilang sejak lahir aku sudah ditunangkan dengan Donghae melalui kesepakatan kedua keluarga saat kami belum lahir. Sangat tidak logis kan? tapi itulah yang terjadi padaku. Dan aku menyebutnya itu sebuah kecelakaan yang membuatku menderita.

Aku sudah menolaknya mentah-mentah tapi si ikan higienis itu justru menyetujuinya dengan alasan menghormati permintaan terakhir mendiang ayahnya. Aku sempat berpikir kalau dia mungkin menyukaiku sehingga tidak menolak untuk menikah denganku. Tapi, melihat sikapnya yang seperti menganggapku pembantunya, aku harus menelan dalam-dalam pikiran itu.

Usiaku tahun ini 18 tahun. Berbeda tujuh tahun dengan Donghae. Tapi aku tidak memanggilnya dengan embel-embel ’oppa’, karena embel-embel itu tidak pantas untuk dirinya yang manja dan cengeng. Sudah tiga bulan aku menyandang gelar sebagai istri Donghae. Selama ini kami tidak pernah berbicara layaknya suami-istri. Jangankan berbicara, tidur pun kami berpisah kamar. Benar-benar seperti orang asing.

Sejauh ini belum ada wartawan dan penggemarnya yang mengetahui pernikahan kami. Bagaimana tidak, kami tidak pernah melakukan adegan mesra di jalan seperti pasangan artis pada umumnya. Aku menghabiskan waktu di sekolah dan rumah. Sesekali aku bermain ke rumah temanku untuk melepas jenuh.

Hoooooooaaaammmm

Jam berapa sekarang? Rasanya mataku sangat berat. Kuputuskan untuk mematikan laptop dan beranjak tidur. Tapi tenggorokanku sangat kering. Lebih baik aku minum dulu sebelum tidur. Aku berjalan menuju dapur dan menuangkan segelas air putih dari kulkas. Ah, segar sekali.

Aku harus cepat tidur. Besok aku benar-benar harus bangun pagi untuk mempersiapkan presentasi bahasa inggrisku. Tapi tunggu! Kenapa pintu kamar Donghae terbuka? Apa dia ada di sana? Bukankah dia tadi pergi ke dorm?

Aku melangkah menuju kamar Donghae dan melongokkan kepalaku. Mataku mendapati Donghae sedang bergerak-gerak dengan kaus tipis hitam dan celana piyamanya. Di kepalanya tergapit headset yang tersambung pada ipod di dalam saku celananya. Ah, aku tahu, dia pasti sedang berlatih dance untuk konsernya. Ternyata dia gigih juga. Eh? Apa yang baru saja aku katakan? Gigih?

Aku menggelengkan kepala cepat.

”Sedang apa kau di sini?”

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

 

Five, six, seven, eight…

Five, six, seven, eight…

Ah, kenapa gerakan di bagian ini sulit sekali? Sepertinya aku harus belajar dari Hyukkie. Dia pasti sudah menghafalnya.

Kriek…

Deg! Suara apa itu?

Bulu kudukku langsung berdiri begitu mendengar bunyi pintu yang sepertinya bergerak itu. Jantungku berdegub cukup kencang. Sial! Aku benci dengan perasaan seperti ini. Perlahan, kuhitung satu sampai tiga dalam hati sebelum membalikkan badan.

Satu… dua… ti…

Chaerin?

”Sedang apa kau di sini?”

”Eh? Aku… mm… tadi aku haus lalu aku mengambil minum di dapur. Karena melihat pintu kamarmu terbuka, aku mencoba memeriksanya. Aku pikir kau ada di dorm sekarang.” jawabnya dengan gugup.

Fiuh~

Aku pikir siapa. Untung saja bukan makhluk yang tidak kuinginkan. Eh tapi, memang aku menginginkan Chaerin? Ah, tidak tidak tidak. Satu-satunya wanita yang aku inginkan hanya Sunye. Chaerin yang masih kecil itu bukanlah tipeku. Dia terlalu angkuh dan… yah, sedikit manis sih. Ah, aku ini apa-apaan sih!

”Geurae? Kalau begitu, bisakah kau sekalian mengambilkanku minum? Aku sangat haus.”

Aku bisa melihat ekspresi sebalnya. Dan aku suka itu. Kekeke…

”Aku ngantuk. Besok aku ada presentasi pagi-pagi. Kalau kau ingin minum, ambil saja sendiri. Bukankah kau punya kaki dan tangan yang lengkap?”

Brak!

Hya! Apa yang dia lakukan? Aku kan suaminya. Sudah seharusnya dia melayaniku. Aish! Lihat saja, Han Chaerin. Apa yang bisa aku lakukan padamu nanti.

>>>>>

Bunyi jam weker membangunkanku dari tidur. Jam berapa sekarang? Kenapa pagi-pagi buta begini jam wekerku sudah berbunyi? Aish, menganggu orang tidur saja!

Hooooooaaaaaamm

Aku mencoba meraih jam weker di meja sebelah kiri tempat tidur dan mematikannya. Jam tujuh pagi. Kuerjap-erjapkan mataku berkali-kali. Rasanya mataku masih sangat berat. Semalam aku tidur pukul setengah tiga pagi untuk menghapal gerakan dance yang baru saja diajarkan oleh koreografer kami.

Hari ini aku bersama para hyung dan dongsaengku akan menghadiri sebuah penghargaan musik. Kami meremix lagu-lagu yang menjadi lagu andalan disetiap album, yaitu Twins, Don’t Don, Sorry Sorry, Bonamana, dan Mr. Simple. Selain lagu, dance-nya pun diremix. Ada beberapa bagian yang diubah dan itu yang membuat aku harus kerja keras diantara kepadatan syuting dramaku untuk menghapalnya.

Hooooaaaammmm

Aku mencoba beranjak dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Tapi kenapa sepi sekali? Apa jangan-jangan Chaerin belum bangun? Ah, who’s care?

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

 

Hari ini benar-benar menyebalkan! Begitu aku bercerita di depan kelas tentang si ikan higienis itu, semua orang yang ada di kelas langsung menertawaiku. Bagaimana tidak? Aku hanya menulis tentang dirinya setengah lembar saja. Tepatnya tujuh kalimat, lima baris. Apa itu bisa disebut seorang penggemar? Begitu kata mereka. Tapi mereka memang benar. Kalau aku mengidolakan seseorang, seharusnya aku bisa menceritakan lebih banyak tentang idolaku.

Aaaarrgghhh!!! Semuanya gara-gara ikan menyebalkan itu! Dia harus bertanggung jawab mengembalikan mukaku yang imut ini!

”Hya! Han Chaerin.” panggil seseorang yang aku kenal betul suaranya. Aku hanya meliriknya sekilas. Aku tahu apa yang akan dia katakan.

”Tidak akan kuizinkan kau menyukai Donghae oppa. Dia adalah idolaku, dan aku tidak ingin gadis ketus dan angkuh sepertimu menyukainya.”

Cih! Benar kan. Ini sudah entah yang keberapa kalinya dia mengatakan hal itu padaku sejak presentasi tadi pagi. Dasar si muka tebal!

”Hya! Kau mendengarku atau tidak??”

”Kalau aku tidak mendengarmu memangnya kenapa?”

Gotcha! Aku menangkap mata yang tajam itu mendelik sebal.

”Awas saja kalau kau berani menyukai Donghae oppa! Hidupmu tidak akan tenang, kau tahu?”

”Oh ya? Hiiiyyy takuuut…”

”HYA! HAN CHAERIN!!! KAU BENAR-BENAR… AAAARRRGGHHH…!!!”

Kuputuskan untuk segera pergi dari hadapan gadis bersuara cempreng dan bermuka tebal itu. Kenapa aku bisa menyebutnya ’muka tebal’? kalian lihat saja sendiri bagaimana dia memoles wajahnya dengan bedak dan make up yang entah berapa kilogram dihabiskannya dalam sehari. Membuat wajahnya seperti ondel-ondel. Sangat memprihatinkan. Dan lebih kasihan lagi kalau Donghae sampai menyukai penggemar seperti Minkyung itu.

Drrt… Drrt…

Ponselku tiba-tiba bergetar. Dari eomonim. Ah, maksudnya dari Ibu mertuaku, Ibunya Donghae.

”Yoboseyo?”

”Kau… CEPAT PULANG SEKARANG JUGA!”

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

 

”Cut!” teriak sutradara Park ketika aku selesai menjalani adegan menangisku. ”Bagus, Donghae-ssi. Ekspresimu sangat sempurna! Good job!” ujarnya. Aku tersenyum sambil menyeka air mata dengan tisu.

”Gomapseumnida, sutradara Park.”

”Adeganmu untuk hari ini selesai. Kita bertemu lagi besok.”

”Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu.”

Aku beranjak meraih tas yang kutitipkan pada manajerku, Song Yoorim.

”Ini ponselmu. Ada telepon dari eomma-mu barusan. Kau disuruh menelepon balik.” ucap Deomi noona.

Ah rupanya eomma merindukanku. Baiklah, akan kutelepon dia.

”Yoboseyo? Eomma? Kau meneleponku barusan? Mianhae, tadi aku…”

”Eomma ada di apartemenmu sekarang. CEPAT PULANG!!!”

Pip.

Aish, eomma ini kenapa membentakku seperti itu? Tidak seperti biasanya. Dia ada di apartemen sekarang. Ternyata eomma benar-benar merindukanku. Kekeke… tapi tunggu! Di apartemen? SEKARANG???

Sial!

”Noona, kau duluan saja ke dorm. Aku ada urusan penting!”

 

>>>>>

 

CHAERIN’S POV

 

Aku sungguh tidak mengerti, kenapa eomonim datang ke apartemen? Belum lagi dia meneleponku dan menyuruh untuk pulang dengan begitu galaknya. Apa jangan-jangan sesuatu telah terjadi? Ah, entahlah.

Aku memarkir sepedaku di tempat parkir seperti biasanya, lalu berjalan menuju kamar apartemenku dan Donghae. Perasaanku tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Jantungku juga berdegub dengan kencang. Aigoo, apa yang terjadi?

Aku berjalan setengah berlari menuju kamar apartemen dan mendapati pintunya terbuka. Donghae memang memberikan kata sandi pintu apartemen pada eomonim agar eomonim bisa masuk ke dalam kapan saja dia mau tanpa harus menelepon aku atau Donghae.

”Annyeong haseyo, eomonim. Kau sudah lama?” sapaku begitu aku mendapati eomonim sedang duduk di sofa dengan lipatan tangan di dadanya. Aku kikuk sendiri melihat wajahnya yang nampak tidak ramah itu. Kuputuskan untuk mengambilkannya minum.

”Aku kemari bukan untuk minum.” serunya ketus. Langkahku terhenti di pintu dapur. Aku kembali ke ruang tamu dengan jantung yang semakin berdetak kencang.

”Ah, kalau begitu mungkin eomonim ingin…”

”Aku juga datang bukan untuk makan.” potongnya cepat. Aku menggigit bibir bawahku. ”Ada sesuatu yang harus kau jelaskan padaku.”

”Eomma??”

Aku menoleh ke arah pintu. Donghae ada di sana dengan napas terengah-engah. Kedua alisku mengerut heran. Kenapa Donghae ada di sini? Apa Eomonim juga meneleponnya?

 

>>>>>

 

AUTHOR’S POV

 

Tik! Tok! Tik! Tok!

Suara jam dinding di ruang tamu berbunyi lirih namun terdengar membelah suasana yang hening dan sepi di sana. Donghae dan Chaerin duduk berdampingan menghadap nyonya Kim, ibu Donghae yang duduk dengan tatapan kesal luar biasa. Chaerin meremas-remas tangannya yang basah oleh keringat gugupnya. Sementara Donghae  berulang kali menghela nafas tidak teratur.

”Sejak kapan apartemen ini memiliki dua kamar?” tanya nyonya Kim dingin.

Chaerin melirik Donghae sekilas.

”Sejak pernikahan itu terjadi, eomma.” jawab Donghae takut-takut. Nyonya Kim menghembuskan napas panjang.

”Aku tahu betul seluk beluk apartemen ini. Dan kau menempati gudang itu sebagai kamarmu sekarang.” ucap nyonya Kim mengarah ke Chaerin yang tertunduk takut. ”Sudah tiga bulan lamanya kalian menikah tapi kalian sama sekali tidak pernah tidur bersama. Pengantin apa kalian ini!”

”Ini adalah kesepakatan kami, eomma.”

”Kesepakatan apa yang kau maksud?”

Donghae menoleh pada Chaerin sejenak. ”Sejak Chaerin pindah ke sini, kami sepakat untuk berpisah kamar sampai waktu yang belum ditentukan.”

”Bo?”

”Dia masih belum terbiasa ada laki-laki selain appanya di rumah. Maka dari itu, kami membuat kesepakatan ini.” jawab Donghae dengan nada yang sudah lebih baik.

”Ck, itu sangat tidak masuk akal, Donghae-ya.” sahut nyonya Kim. Kini pandangannya tertuju pada Chaerin yang masih belum mampu mendongakkan kepalanya. ”Chaerin-ah, kau dan Donghae sudah menikah. Sudah seharusnya kau tidur di ranjang yang sama dengan Donghae. Mau tidak mau kau harus membiasakan dengan kehadiran Donghae sebagai suamimu.”

”N-ne, eomonim.” jawab Chaerin, gagap.

”Hhhh… begini saja. Karena apartemen ini jauh dari rumahku, bagaimana kalau kalian pindah saja dari sini?”

”NE?” Seru Donghae dan Chaerin bersamaan.

”Kenapa kami harus pindah, eomma?”

”Supaya aku bisa mengawasi kalian berdua! Donghae-ya, kau kan punya rumah yang baru saja kau beli untuk Donghwa. Karena dia sering pergi ke luar kota, lebih baik kau dan Chaerin saja yang tinggal di sana. Kalau nanti Donghwa pulang, eomma akan menyuruhnya untuk tinggal lagi bersama eomma. Eottae?”

Tanpa sadar, Donghae dan Chaerin saling memandang, meminta pendapat masing-masing lewat interaksi mata.

”Hya! Apa yang sedang kalian lakukan?”

Donghae menyengir.

”Eomma, kami sudah betah tinggal di sini. Jangan suruh kami pindah ya?”

Pletak!

Satu jitakan keras melayang di kepala Donghae. Yang kena jitakan meringis kesakitan. Chaerin tertawa kecil melihat kejadian itu. Diam-diam Donghae meliriknya dan dia mengganti ringisan itu dengan senyuman.

”Eomma tidak mau tahu! Besok pagi, kalian harus pindah dari sini!” sahut nyonya Kim sambil berlalu keluar dari apartemen.

Brak!

Suasana kembali hening. Donghae mengelus-elus kepala yang terkena jitakan eommanya.

”So, what should we do now?”

”Hya! Jangan berbicara dengan bahasa planet itu denganku!”

”Memangnya kenapa? Kau tidak mengerti ya? Hahaha…”

 

>>>>>

 

DONGHAE’S POV

 

”Memangnya kenapa? Kau tidak mengerti ya? Hahaha…”

Deg!

Dia tertawa? Gadis ingusan ini tertawa di depanku? Aku benar-benar tidak percaya. Tawanya begitu renyah dan terasa menyenangkan.

Aish, Lee Donghae! Kau ini kenapa? Baru melihatnya tertawa saja sudah seperti orang bodoh. Dia itu sedang menertawaimu, tahu!

”Aku memang tidak bisa bahasa inggris. Memang kenapa? Apa itu memalukan?”

Dia menghentikan tawanya dan memasang wajah ketus seperti biasanya.

”Gwaenchana. Orang seperti dirimu memang tidak pantas berbicara dengan bahasa inggris atau bahasa asing yang lain.”

”BO? Apa maksudmu, aku ini bodoh?”

”Aku tidak bilang begitu. Tapi kalau kau merasa kau itu bodoh, aku akan mengakuinya.”

Sial! Gadis ingusan ini benar-benar membuatku kesal! Mulut ketusnya itu harus kuberi pelajaran suatu saat nanti.

”Kita pindah besok pagi!”

Aku meraih jaket kulitku dan berlalu keluar apartemen.

”Hya! Lee Donghae! Kau belum mendengar pendapatku! Kenapa kau memutuskan semuanya sendiri? HYA!!!”

Hahaha… aku puas sekarang. Kalau aku pindah dari sini, kau tidak mungkin tidak ikut pindah kan, Han Chaerin?

 

-TBC-

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya! Kritik dan sarannya author terima dengan senang hati ^ ^

Gamsahamnidaaaaaa

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[ DONGHAE ] || SERIES Love by Accident (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s