[ONESHOOT/EUNHYUK] Happy Birthday Tn. Lee (Special Eunhyuk Birthday)

Tittle                      : Happy Birthday Tn. Lee

Cast                       : Lee Hyuk Jae, Lee Hye Seob, Lee Jae Seob, other member of SJ

Rated                    : 15+

Genre                   : Merried life, romance, little comedy

Author                  : Little_Monkey (Yum)

Fb                           : https://www.facebook.com/hyesup.lee.54

Twitter                 : https://twitter.com/YumLee97

Declaimer            : This fanfic is mine. Plot original from my imagination. Don’t like my story, OUT. Nobashing or other. Give me ur review. Thanks^^

 

 

Warning               : Just Typo

 

 

 

 

 

 

 

This fanfic for my Tn. Lee. Saengil chukkae^^

 

 

 

 

 

 

 

HAPPY READING

 

 

 

 

 

 

 

“Wae-yo?” pria tampan bermarga Lee itu kembali mengeluarkan kalimat yang sama. Baiklah, apa itu dapat dikatakan kalimat? Atau hanya sekedar kata? Bahkan pria ini tak sadar sudah berapa kali ia menyebutkan hal yang sama itu sejak kejadiannya.

 

 

 

 

 

 

 

“Ny. Lee..” sekali lagi, ia membujuk sang istri yang nampak merajuk padanya.

 

 

 

 

 

 

 

Hye Sup –sang istri, hanya menoleh sekilas. Di tatapnya tajam pria yang kini sukses mengisi seluruh hidupnya. Membawakan sebuah kebahagian yang tak pernah terbayangkan olehnya. Sungguh, jika membayangkan seperti apa pertemuan mereka. Ia bisa melihat seberapa memalukannya ia dulu.

 

 

 

 

 

 

 

Berawal dari sebuah kejadian aneh yang mengakibatkannya harus menikah muda. Okh, baiklah. Ia masih muda sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

“Ny. Lee, jangan seperti ini.” Eun Hyuk mulai merengkuh tubuh istrinya yang masih saja mengacuhkan dirinya. Sepertinya sudah sangat lama wanita ini mengacuhkanya.

 

 

 

 

 

 

 

“Apa ini karena efek wanita hamil?” hanya delikan sebal yang dibalas oleh wanita yang kini mulai bergerak untuk bangkit dari sofanya.

 

 

 

 

 

 

 

“Neo, eoddiga?”

 

 

 

 

 

 

 

Hyuk mulai ikut bangkit. Menuruti tubuh wanita yang dipujanya. Nampak kalau pria ini sedang kebingungan sekarang. Ayolah, harus bagaimana lagi Hyuk membujuk wanitanya? Bahkan ini sudah lebih dari jurus yang biasa ia lakukan untuk membujuk sang istri agar tak merajuk seperti ini.

 

 

 

 

 

 

 

Hye Sup menggapai kenop pintu kamarnya. Sekilas, ia melirik sosok pria yang masih saja berada dipuncak rasa penasaran. Ia tersenyum. Bukan, bahkan itu lebih terlihat seperti menahan tawa. Yah, Hye Sup menahan tawanya.

 

 

 

 

 

 

 

Pintu itu terbuka perlahan. Langkahnya kini membawanya memasuki kamar pribadinya dan suaminya. Akh, bahkan ini sudah 7 hari sejak kepergian sang suami untuk melaksakan konsernya di Jepang. Jadi, apakah Hyuk akan sangat merindukannya sekarang?

 

 

 

 

 

 

 

Hye Sup segera merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Pikirannya berputar membayangkan suatu hal. Suatu hal yang ingin sekali ia lakukan dengan Hyuk. Jadi, apakah ia bisa melakukannya nanti? Berharaplah iya.

 

 

 

 

 

 

 

Wanita ini merasakan ranjangnya sedikit bergerak. Ia tahu kalau Eun Hyuk kini sedang terbaring disampingnya. Dengan terpaksa, ia membelakangi sang suami. Menampilkan punggungnya yang menjadi pandangan untuk melepas rindu.

 

 

 

 

 

 

 

“YAK! NY. LEE. NEON WAE GEURE?” Eun Hyuk nampak sebal. Sungguh ia sudah benar-benar kesal dengan sikap Hye Sup yang tiba-tiba saja mendiaminya. Tak tahukah wanita ini kalau Eun Hyuk sungguh merindukannya? Berharap saat pulang dari tempatnya, ia akan disambut oleh pelukan hangat sang istri dan Jae Seob anaknya. Bahkan ia sempat berpikir hal lain. Baiklah, sepertinya cukup dirinya yang tahu tentang pikiran lain itu.

 

 

 

 

 

 

 

Eun Hyuk mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri. Melingkari tangannya pada pinggang ramping Hye Sup. mendekap kuat tubuh wanita yang sama sekali tak memberontak akan tindakannya.

 

 

 

 

 

 

 

“Yak, bodoh. Kau kenapa heoh! Tak tahukah kau aku sangat merindukanmu. Menyebalkan!” bisik Eun Hyuk. sekarang tangannya mengelus perut datar Hye Sup. “Apa di sini sudah ada adik Jae Seob? Kau sensitif sekali.” Lanjutnya dengan nada menggoda.

 

 

 

 

 

 

 

Tak ada jawaban. Hye Sup hanya diam menerima perlakuan sang suami. Ia terkekeh sekilas mendengar penuturran Hyuk tentangnya. Hamil? Bahkan pria ini tak tahu kalau saat ia pergi, Hye Sup baru saja kedatangan tamunya. Walaupun, sekarang tamu itu baru saja pergi.

 

 

 

 

 

 

 

“YAK!” pekik Hye Sup saat tiba-tiba Hyuk mencubit perutnya. Wanita ini segera membalikkan tubuhnya kearah Hyuk. menatap horor pria yang kini hanya tersenyum sumringah dengan tampang polos. Satu kata, MENYEBALKAN.

 

 

 

 

 

 

 

“Akhirnya kau bersuara. Ku kira sejak aku pergi untuk konser, kau mengalami penyusutan pada pita suaramu.”

 

 

 

 

 

 

 

“Berhenti berbicara dan tidurlah!” ketus Hye Sup dan mulai bergerak untuk membalikkan badannya.

 

 

 

 

 

 

 

Belum sampai ia benar-benar menunjukkan punggungnya pada Hyuk. pria ini sudah menahan bahunya dan kembali menariknya kearah Eun Hyuk. membuat wanita ini, mau tidak mau harus menatap sosok di hadapannya.

 

 

 

 

 

 

 

“Kau kenapa? Sensitif sekali.”

 

 

 

 

 

 

 

“Aku hamil. Kau puas!”

 

 

 

 

 

 

 

Eun Hyuk terdiam sesaat. Sedangkan Hye Sup. Okh, baiklah. Ia sudah mengeluarkan kalimat yang salah. Mati kau Lee Hye Sup. sekarang wanita ini bisa melihat ekspresi senang seorang Lee Hyuk Jae. Mata pria itu membulat.

 

 

 

 

 

 

 

“Aku akan menjadi appa?” pekiknya tak tertahankan.

 

 

 

 

 

 

 

“Kau memang sudah menjadi seorang Appa. Jangan lupakan Seobie. Dia anakmu juga.”

 

 

 

 

 

 

 

“Kau mau apa? Palli katakan!” Hyuk segera bangkit untuk duduk. Di susul oleh Hye Sup yang sekarang bergantian menatap sang suami keheranan.

 

 

 

 

 

 

 

“Aku tak menginginkan apapun.”

 

 

 

 

 

 

 

“Eee.. jangan berbohong. Aku tahu pasti banyak hal yang kau inginkan. Apa kau ingin aku cium? Kalau begitu ayo!” Hyuk memajukan bibirnya. Mendekatkan dirinya pada sang istri yang nampak kebingungan.

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah sentilan indah di kepalanya. Anak manis yang kini berdiri dibelakangnya menatap dingin pada seorang ayah yang berusaha untuk mencium sang ibu.

 

 

 

 

 

 

 

“Jangan berharap lebih. Eomma tidak hamil.” Jelasnya. “Dasar Tn. Lee. Tak bisakah kau menahan dirimu sendiri untuk tak menyentuh eomma?” Ironi terbaik dari little Lee. Jae Seob segera duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.

 

 

 

 

 

 

 

“YAK! DARI MANA KAU BELAJAR BERBICARA SEPERTI ITU?” pekik Eun Hyuk tak terima. Bagaimana bisa seorang anak berbicara tak sopan terhadap ayahnya sendiri? bahkan berani menyentil kepalanya?

 

 

 

 

 

 

 

“Dari setan paling muda diantara kalian.” Hye Sup terkekeh menahan tawanya. Sungguh anak yang pemberani.

 

 

 

 

 

 

 

“CHO KYU HYUUUNNN!” pekik Eun Hyuk saat kalimat ‘setan termuda’ meluncur pada bibir merah anak laki-lakinya.

 

 

 

 

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

Mentari nampak terbit di ufuk timur. Menampilkan sinar oranye khas berpadu dengan langit jingga pagi khusus. Hembusan angin pagi berhasil membelai setiap detil benda-benda di bumi. Menerbangkan apa yang ringan, dan menggoyangkan hal-hal lain seakan menari.

 

 

 

 

 

 

 

Di dalam sebuah kamar nan luas itu. Nampak seorang pria kini mulai bangkit dari ranjangnya. Direnggangkannya tubuhnya yang terasa sedikit kaku karena posisi tidurnya. Di hadapannya, sosok malaikat kecil yang menemani keluarganya. Sosok yang melengkapi kebahagian dirinya dan Hye Sup. sosok yang bahkan kehadirannya dulu dan sekarang begitu dinanti.

 

 

 

 

 

 

 

Eun Hyuk mengelus pelipis Jae Seob. Mengecupnya singkat. Bahkan kecupan itu sama sekali tak berpangaruh terhadap terganggu atau tidaknya tidur anak ini.

 

 

 

 

 

 

 

Matanya melirik liar segala sudut ruang kamarnya. Sosok yang amat diinginkannya. Bahkan sudah lebih dari 7 hari ia tak mendapat jatah pagi atau malam dari sang istri. Dan ia berjanji untuk menagihnya sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

Pria ini melangkahkan kakinya menuruni anak tangga kamarnya. Membawanya pada sebuah ruang. Segera tubuh pria ini bergerak menuju tempat yang kini menjadi tujuan pertamanya. Dapur. Yah, ia yakin wanitanya ada di sana sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

Senyum mengembang diwajah Eun Hyuk saat mendapati sang istri sudah nampak sibuk dengan perlengkapan memasaknya. Perlahan-lahan, Hyuk mendekati sang istri. Meminimalkan langkah kakinya. Berharap kalau sang istri tak akan mendengarnya.

 

 

 

 

 

 

 

“Cepat sekali bangunmu Tn. Lee.” Terdengar nada sindiran dari bibir Hye Sup.

 

 

 

 

 

 

 

Hyuk menghentikan langkahnya. Matanya menatap tak percaya kearah istrinya. Bagaimana Hye Sup bisa mengetahui keberadaannya?

 

 

 

 

 

 

 

“Kau mengetahuinya?” Hyuk mulai berjalan kesamping Hye Sup. sekarang, dapat dilihat pria ini kalau sang istri tengah disibukkan dengan pisaunya.

 

 

 

 

 

 

 

Pria bermarga Lee ini mulai menyentuh punggung tangan Hye Sup. menatap lembut wajah sang istri yang sama sekali mengacuhkannya. Jika boleh dikatakan, ia benar-benar bingung dengan sikap sang istri yang terus-terusan mengacuhkannya. Jadi, apa salahnya sekarang?

 

 

 

 

 

 

 

Hye Sup memalingkan wajahnya. menatap tajam kearah pengganggu. Mata mereka bertemu. Ditatapnya wajah dalam sang suami yang kini tersenyum manis. Sungguh, ia bisa merasakan bagaimana jantungnya berdetak. Seperti ada sebuah getaran hebat. Bahkan kau tak tahu seberapa lemasnya tulang lehermu hanya sekedar untuk mengalihkan pandangan. Desiran kuat yang mengalirkan darah-darahmu yang memanas. Okh, bahkan tak bisa disebutkan lagi seperti apa rasanya.

 

 

 

 

 

 

 

Wanita ini berusaha untuk mengalihkan pandangannya. Sial! Bahkan Hyuk sudah lebih dulu menahan kepalanya untuk tetap menatap wajah tampan sang suami. Mempertahankan posisi mereka untuk waktu yang lebih lama lagi.

 

 

 

 

 

 

 

Eun Hyuk mulai mendekatkan wajahnya. Berusaha menggapai bibir lembab Hye Sup yang nampak menggodanya. Ia merindukan benda lunak ini. Bahkan ia merasa begitu nyaman saat merasakan hembusan nafas Hye Sup yang putus-putus terhempas diwajahnya. Sungguh ia merindukan aroma susu vanila yang selalu tercium dari hembusan nafas wanitanya di pagi hari.

 

 

 

 

 

 

 

Belum sampai ia benar-benar mencium wajah Hye Sup. Wanita ini sudah lebih dulu menarik wajahnya. Memalingkannya untuk tak menatap Eun Hyuk. Dan itu, sukses menciptakan sebuah rasa kecewa pada diri Eun Hyuk. Apakah istrinya tak merindukannya?

 

 

 

 

 

 

 

“Kau sebenarnya kenapa?” Hyuk membelai rambut lebat Hye Sup. menatap sisi samping wanitanya sendu.

 

 

 

 

 

 

 

“Pergilah. Kau menggangguku.”

 

 

 

 

 

 

 

Hyuk menghentikan aktivitasnya. Menatap tak percaya kearah Hye Sup yang masih saja mengacuhkannya.

 

 

 

 

 

 

 

“YAK! JIKA ADA MASALAH KATAKAN SAJA! JANGAN SEPERTI INI!” sepertinya Hyuk sudah tak mampu lagi menahan emosinya. Satu hal, ia benar-benar tak suka dengan tingkah Hye Sup yang seolah-olah sedang menunjukkan kalau ia telah melakukan kesalahan besar. Hey ayolah, bahkan Hye Sup seharusnya mengatakannya saja. Tak usah bertingkah seperti itu.

 

 

 

 

 

 

 

“Apa kau tak bisa diam. Kau benar-benar pengganggu. Tak bisakah kau biarkan hidupku tenang.”

 

 

 

 

 

 

 

Sedikit kasar. Hyuk menarik tubuh Hye Sup untuk menghadapnya. Menatap langsung manik mata pria tampan yang kini harus menahan emosinya.

 

 

 

 

 

 

 

“Kau kenapa?” nada Eun Hyuk melemah. Ditatapnya wajah Hye Sup lembut. Tangannya terangkat untuk menyentuh kepala wanita yang dicintainya. Sungguh ia benar-benar tak mengerti dengan kondisi sang istri yang sepertinya begitu sensitif. Ditambah wanita ini juga menepis tangannya kuat. Bertingkah seolah ia tak boleh lagi untuk menyentuh tubuh wanita ini.

 

 

 

 

 

 

 

“Pergi dan jangan menggangguku!” Ketus Hye Sup dan segera pergi dari tempatnya meninggalkan Eun Hyuk yang masih belum mengerti dengan kondisi sang istri.

 

 

 

 

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

Mentari bergerak lambat menuju arah barat. Seolah ingin berlama-lama berdiam diri di atas puncak kepala. Cahaya silaunya menyinari bumi dengan sengatan panas khas musim semi.

 

 

 

 

 

 

 

Bunga-bunga bermekaran disekitar. Menyambut musim semi yang berhasil melelehkan salju sisa-sisa musim dingin. Serangga kecil berterbangan ria. Bumi seakan hidup kembali dengan warnanya yang baru.

 

 

 

 

 

 

 

Di dalam sebuah kamar dorm. Nampak seorang pria masih sibuk dengan pikirannya. Beberapa orang di luar menatap heran dirinya. Bukankah pria ini yang paling semangat untuk pulang saat itu? Tapi dia sendiri yang terlihat paling lusuh sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

“Kau kenapa Hyukkie?” seorang pria tampan mulai mendatanginya. Sosok yang mungkin bisa dijadikan sebagai tempat untuk mencurahkan perasaannya. Karena pria ini sudah memiliki sosok dewasanya.

 

 

 

 

 

 

 

Pria yang dipanggil Hyukkie itu bangkit dari tempatnya. Terduduk diatas ranjang. Mata pria ini sedikit sembab. Entahlah, bahkan ia tak sadar kalau ia sudah menangis untuk beberapa saat. Mengingat kata-kata Hye Sup tadi. Wanita itu dengan terang-terangan mengajaknya cerai.

 

 

 

 

 

 

 

“Hye Sup. Dia bilang ingin bercerai.” Lee Teuk. Pria tampan itu sedikit terkejut dengan pernyataan dongsaeng tersayangnya. Sedikit rasa tak percaya menyelimuti hatinya. Hey, bahkan ia harus mengakui kalau dirinya iri dengan sepasang suami istri ini. Meskipun mereka sudah menikah, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih labil yang lebih suka bercanda dan bermain.

 

 

 

 

 

 

 

“Apa dia sudah benar-benar yakin dengan ucapannya? Apa kau sudah mencoba untuk berbicara dengannya pelan-pelan?” Lee Teuk bertanya dengan nada lembutnya. Senyum mengembang diwajah malaikatnya. Menampilkan dua lesung pipinya yang memperindah wajah sempurnanya.

 

 

 

 

 

 

 

Tak ada jawaban. Hyuk membuka lacinya. Mengeluarkan sebuah map. Menjulurkannya pada Lee Teuk. Bermaksud agar pria itu melihatnya. Mungkin Hyuk ingin menunjukkan kalau masalahnya dengan Hye Sup sudah tidak bisa dibicarakan lagi. Karena map itu adalah bukti dari berakhirnya hubungan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

“Surat cerai?” Lee Teuk menautkan alisnya.

 

 

 

 

 

 

 

“Sudah tak bisa lagi dibicarakan. Bahkan ia sudah memberikannya padaku surat itu. Apa kau tak lihat Hyung? Dia sudah menandatanganinya.”

 

 

 

 

 

 

 

Lee Teuk mengembalikan map itu ke atas nakas. Tatapannya menatap Eun Hyuk iba. Pikirannya melayang kesebuah hal. Tanpa banyak bicara. Pria bernama asli Park Jung Soo itu bangkit dari tempatnya. Mengelus puncak kepala dongsaengnya itu dan mulai berjalan keluar. Entahlah, tiba-tiba saja ada sesuatu yang berputar diotaknya.

 

 

 

 

 

 

 

Disisi lain, seorang wanita nampak sibuk di dapurnya. Tangannya bergerak mengocok sebuah adonan tepung dan telur. Tubuhnya sedikit berantakan. Sesekali ia melirik jam yang perlahan-lahan mulai turun ke angka 3.

 

 

 

 

 

 

 

Seorang pria kecil nampak sibuk menatapi sang eomma yang sudah kewalahan. Sesulit itukah?

 

 

 

 

 

 

 

“Eomma, appa dimana?” tanya Jae Seob. Sepertinya anak laki-laki ini sudah merasa bosan karena hanya bisa duduk diam dan menatapi sang eomma. Tak ada pekerjaan yang menyulitkannya.

 

 

 

 

 

 

 

“Appamu sedang pergi chagi.”

 

 

 

 

 

 

 

“Eomma tak mengusirnya kan?”

 

 

 

 

 

 

 

“YAK!” Hye Sup menghentikan aktivitasnya. Jae Seob menutup kedua telinganya kuat. Tak sadarkah ia akan apa yang diucapkannya tadi?

 

 

 

 

 

 

 

“Heisshh, bagaimana bisa appa menikahi wanita sepertinya, dan bagaimana bisa aku terlahir dari rahim wanita galak sepertinya?”

 

 

 

 

 

 

 

Sekali lagi, sepertinya Jae Seob benar-benar ingin melihat sisi gelap eommanya yang menyeramkan. Akh baiklah, ia sudah hampir setiap hari melihat sosok eommanya yang begitu menyeramkan. Bahkan lebih menyeramkan dari pada singa kelaparan yang baru mendapatkan mangsanya.

 

 

 

 

 

 

 

“SEKALI LAGI KAU BERBICARA, EOMMA PASTIKAN KAU AKAN SEPERTI APPAMU!”

 

 

 

 

 

 

 

“Memangnya eomma ingin melakukan apa? Jika membuat wajahku seperti appa, aku tak mau. Dia jelek. Tapi jika seperti Si Won ahjussi, tak masalah. Pria itu tampan.”

 

 

 

 

 

 

 

“Aish..” Hye Sup terdiam. Okh baiklah, bagaimana bisa seorang anak menghina appanya sendiri secara terang-terangan dihadapan eommanya? Benar-benar seorang Lee Jae Seob. Sepertinya ia sadar dimana kesalahannya sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

Hening. Beberapa saat kedua orang itu nampak hening. Hye Sup kembali sibuk dengan aktivitasnya. Sedangkan Jae Seob, anak ini nampak lebih di sibukkan dengan memperhatikan seekor semut yang sepertinya tengah tersesat di atas meja.

 

 

 

 

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

“Jae Seob-ah. Pergilah ke tempat ini dan pastikan kau jangan kembali sebelum besok. Arratchi!” Hye Sup meletakkan selembar kertas di atas meja Jae Seob.

 

 

 

 

 

 

 

“Dasar kejam.” Hey ayolah, bahkan ia seorang anak. Kenapa bisa-bisanya ibunya itu mengatak hal-hal seolah ingin mengusirnya. Kenapa tidak bilang saja sekalian agar dirinya tidak pulang?

 

 

 

 

 

 

 

“Kau banyak sekali berkomentar. Benar-benar sama dengan appamu.”

 

 

 

 

 

 

 

“Kalian berdua memang sama.”

 

 

 

 

 

 

 

Melihat mata sang eomma yang sudah membulat menatap horor kearahnya. Jae Seob segera mengambil langkah seribu. Berlari keluar menuju seorang pria paruh baya yang sudah menantinya. Seorang supir sewaan yang akan mengantarkan Jae Seob ke alamat yang telah dituliskan Hye Sup. Sedangkan wanita ini, nampak kembali disibukkan dengan rumahnya. Adonan yang dibuatnya tadi sudah masuk kedalam oven beberapa menit yang lalu. Hanya tinggal menunggu adonan itu matang dan semuanya selesai.

 

 

 

 

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

Anak mungil ini mulai berjalan dengan gagahnya melewati beberapa pengunjung dewasa yang berlalu lalang disekitarnya. Baiklah, meski memang tak semuanya dewasa. Karena masih ada beberapa anak kecil seumurannya atau bahkan lebih tua juga berada di sebuah lobi utama ini. Tapi yang jelas, hanya dirinyalah yang berjalan seorang diri. Benar-benar anak yang miris. Bagaimana bisa anak yang baru berumur 5 tahun bulan September nanti sudah dibiarkan berkeliaran seperti ini?

 

 

 

 

 

 

 

Jae Seob berhenti tepat dihadapan sebuah pintu berwarna coklat. Tangannya berusaha menggapai bel yang ternyata tidak lebih tinggi dari appanya tapi tetap lebih tinggi dari padanya.

 

 

 

 

 

 

 

“Jwaeseonghamnida ahjumma. Bisakah anda menolong saya. Tolong pencetkan bel kamar ini.” pinta Jae Seob pada sosok wanita paruh baya yang kebetulan sedang lewat disekitarnya. Wanita itu menatap kearah anak laki-laki ini.

 

 

 

 

 

 

 

“Apa kau sudah mengenal orang di dalamnya?” Tanya ahjumma itu kembali dan dibalas dengan anggukan angkuh dari Jae Seob. Baiklah, apa benar ini anak seorang Lee Hyuk Jae dan Hwang Hye Sup? Bagaimana bisa sifatnya lebih menyerupai sosok Cho Kyu Hyun?

 

 

 

 

 

 

 

“Salah satu orang di dalam sana itu appaku.” Jawabnya dengan penekanan penuh disetiap kalimatnya. Wajah menggemaskan itu terangkat tinggi. Menampilkan sosok angkuh yang jauh berbeda dari sosok sang appa yang begitu hormat dan sopan pada orang tua.

 

 

 

 

 

 

 

Tak ada kalimat lagi yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu. Sekarang tangannya menurut untuk menekan tombol yang tadi di maksud oleh Jae Seob. Setelah beberapa detik, akhirnya pintu terbuka. Menampilkan sosok tinggi seorang pria tampan dengan senyum manis. Pria itu menundukkan kepalanya dalam pada sosok wanita di hadapannya. Tatapannya beralih pada anak kecil yang ia ketahui adalah anak couplenya. Lee Jae Seob.

 

 

 

 

 

 

 

“Apa benar kau mengenalnya?” tanya wanita paruh baya itu menunjuk sosok Jae Seob yang kini sudah berjalan masuk ke dalam dorm.

 

 

 

 

 

 

 

“Ah ye, aku mengenalnya. Dia anak Eun Hyuk. terimakasih sudah mengantarkannya.” Dong Hae, pria itu kembali menundukkan dalam kepalanya.

 

 

 

 

 

 

 

“Akh tidak perlu seperti itu. Aku hanya menekankan bel untuk anak itu. Ia datang kemari sepertinya sendiri. Karena memang tak ada orang lain selain dirinya tadi.” Jawab wanita itu lagi. Dong Hae tersenyum membalas senyuman wanita itu.

 

 

 

 

 

 

 

“Sekali lagi terimakasih.” Kembali Dong Hae membungkukkan badannya. Wanita itu juga ikut membungkukkan badannya dan mengangkatnya kembali. Membawa tubuh itu untuk berjalan meninggalkan dorm Super Junior.

 

 

 

 

 

 

 

“Bagaimana kau bisa datang kemari?” tanya Dong Hae yang sudah mendapati Jae Seob berada di dalam ruang tengah.

 

 

 

 

 

 

 

“Kyu Hyun hyung dimana?” anak ini bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Dong Hae terlebih dahulu.

 

 

 

 

 

 

 

“YAK! Aku bertanya padamu. Lagi pula apa itu? Kyu Hyun hyung? Dia itu samcheonmu. Ahjussi juga boleh.”

 

 

 

 

 

 

 

“Apa kau tak mendengarku ahjussi cerewet? Aku bertanya dimana Kyu Hyun hyung. Dan, kenapa kau menceramahiku? Aku di sini bukan untuk mendengar ceramah. Satu lagi. Jangan berteriak seperti itu. Kau pikir aku tuli.”

 

 

 

 

 

 

 

Skak. Dong Hae terdiam untuk beberapa saat. Benar-benar. Ia bahkan sempat berpikir apa saja yang diinginkan Hye Sup saat mengidam, sampai-sampai ia memiliki anak seperti Lee Jae Seob. Padahal yang ia ingat, Jae Seob anak yang manis dan polos –ia berubah sejak berteman baik dengan Kyu Hyun. Sepertinya pria bermarga Cho itu sudah meracuninya.

 

 

 

 

 

 

 

Dari arah kamar. Seorang pria keluar dengan tampang kusam. Matanya melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 06.00 p.m. matanya berhenti pada sosok anak laki-laki yang berada di ruang tengah bersama Dong Hae.

 

 

 

 

 

 

 

“Seobie. Bagaimana kau bisa kemari?” tanya Eun Hyuk kaget yang segera memeluk anaknya. Entahlah, ia merasa kalau ini akan menjadi hari terakhir ia melihat anaknya. Karena setelah ini, setelah status perceraian itu keluar. Mungkin ia akan kesulitan untuk bertemu dengan anak satu-satunya ini.

 

 

 

 

 

 

 

Jae Seob membalas dekapan sang appa. Kembali. Anak ini berubah menjadi Seobie polos dan manis. Tak berkata kasar ataupun bertingkah kurang ajar seperti tadi. Karena apa? Karena ia lebih sayang appanya dari pada siapapun. Termasuk eommanya. Meski terkadang ia tak dapat mengontrol kalimatnya.

 

 

 

 

 

 

 

“Eomma, hiks.. appa, eomma..” mata anak ini mulai memerah. Beberapa embun, perlahan-lahan turun di sudut mata kanannya.

 

 

 

 

 

 

 

“Waeyo? Apa eomma mu memarahimu lagi?” Eun Hyuk menghapus air mata anaknya lembut. Tersenyum menatap sang malaikat kecil yang entah bagaimana, sudah terlihat begitu besar dimatanya. Pasti ia akan sangat merindukan sosok Lee Jae Seob nantinya.

 

 

 

 

 

 

 

“Anni appa. Eomma sakit. Dia dirumah sendiri. aku tak bisa mengurusnya seorang diri.”

 

 

 

 

 

 

 

Mendengar penuturan sang anak. Hyuk merasakan sesuatu menohoknya. Pria itu tanpa disadari segera menggendong tubuh mungil sang anak. Membawanya kembali pulang menuju rumah mereka. Rumah yang seharusnya Jae Seob tidak pulang hari ini.

 

 

 

 

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

Hye Sup nampak sudah rapi dengan gaun merah mudanya. Rambutnya ia gulung ke atas. Menampilkan dirinya sebagai wanita dewasa yang diidam-idamkan suaminya Lee Hyuk Jae.

 

 

 

 

 

 

 

Yah, setelah persiapan semua rencananya. Mulai dari membuat surat perceraian palsu yang ia ketik sendiri. Menyiapkan segela perlengkapan pesta sebagai hadiah khusus untuk ulang tahun suaminya. Bahkan dengan tidak teganya, ia mengusir anaknya untuk tidak pulang malam ini. Menyuruh sang anak untuk menginap di dorm member Super Junior.

 

 

 

 

 

 

 

Matanya melirik pada jam dinding. 6.27p.m. Sekarang ia sudah benar-benar tak sabar. Pasti Hyuk sedang berada dalam perjalanan menuju kemari. Sungguh, ia sangat gugup sekarang. Baiklah, harus dimulai dari mana dulu?

 

 

 

 

 

 

 

Ting Tong Ting Tong #Anggap Suara Bel permirsah -_-

 

 

 

 

 

 

 

Hye Sup merasakan jantungnya semakin berdetak kuat. Kadar kegugupannya semakin bertambah saat setiap detik jarum jam berputar. Sekarang lampu-lampu sudah dimatikan. Sekali lagi, ia mecoba untuk melihat dirinya pada pantulan cermin dengan penerangan seadaanya. Sebuah cahaya ponsel.

 

 

 

 

 

 

 

Pintu itu terbuka. Sekarang suara langkah kaki sudah mulai terdengar mendekat ke arahnya. Baiklah, ini harus berhasil. Hye Sup meyakinkan dirinya sendiri. matanya terpejam. Ia gugup. Sangat.

 

 

 

 

 

 

 

Dan.. Tek #bunyi saklar dan lampu menyala.

 

 

 

 

 

 

 

“Saengil chukkae hamnida, saengil chukkae hamnida, sarang haneun nae Hyukkie, saengil chukkae..” kalimatnya terputus saat matanya berhasil terbuka dan menatap sosok di hadapannya. “YAK!” pekikknya tak terima.

 

 

 

 

 

 

 

Di hadapannya. Sosok mungil dengan tampang tak berdosa kini menatapnya. Menertawakan dirinya yang sekarang terlihat begitu bodoh dan memalukan sebagai seorang ibu –meski memang pada kenyataannya sudah memalukan.

 

 

 

 

 

 

 

Jae Seob tertawa lebar mengejek sang ibu. Sedangkah Hye Sup hanya menahan malunya pada anak semata wayangnya itu.

 

 

 

 

 

 

 

Diletakkannya kue hasil jerih payahnya itu ke atas meja yang sudah disusunnya sedemi kian rupa. Langkahnya bergerak lebar mendekati anaknya yang kini sudah berhenti tertawa. Ia tahu, pasti anaknya akan lari. Dengan sigap ia berlari, saat mendapati Jae Seob juga berlari menuju pintu keluar. Dan..

 

 

 

 

 

 

 

Bugh..

 

 

 

 

 

 

 

Tubuh Hye Sup menegang seketika saat dirasakan sebuah dekapan hangat ditubunya. Rasanya jantungnya hampir meledak saat itu juga. Meski sebenarnya, rasa jengkel juga meyelimutinya. Bagaimana tidak, bahkan pria ini masih menahan tawanya. Mungkin mengejek dirinya.

 

 

 

 

 

 

 

“Menyebalkan.” Lirih Hye Sup. kepalanya ia tenggelamkan pada dada bidang suaminya. Sungguh ia sangat malu. Karena anaknya, semua rencananya gagal.

 

 

 

 

 

 

 

“Hahaha. Mianhe Ny. Lee. Jangan salahkan aku. Bagaimanapun, ini juga rencana little Lee. Hahaha..” Eun Hyuk nampak tak bisa menahan tawanya. Sekarang ia benar-benar tertawa lepas sambil mendekap sang istri. Sedangkan Jae Seob. Anak nakal itu sudah lebih disibukkan pada kue yang dikhususkan untuk sang appa. Sepertinya ia yang mendapatkan potongan pertama dan meniup lilin. Mungkin hanya ada satu kata. Gagal. Yah, acara yang sudah dipersiapkan oleh Hye Sup matang-matang harus gagal karena ide gila anaknya sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

Langit malam bertabur bintang seolah tengah merayakan malam bahagia untuk Lee Hyuk Jae. Meski acara yang dibuat sang istri gagal karena rencana anak dan dirinya. Tapi tetap saja, ia terharu melihat Hye Sup yang sudah bersusah payah berusaha untuk membuat pesta kejutan ulang tahunnya. Meski sekali lagi harus ditekankan kalau pesta itu GAGAL.

 

 

 

 

 

 

 

Eun Hyuk mendekap tubuh mungil Hye Sup yang sudah digantikan dengan piyama tidur yang sama dengan miliknya. Dagu pria ini bertopang pada bahu Hye Sup. menenggelamkan kepalanya pada leher sang istri. Mengecupnya singkat. Menyebalkan, bahkan ia sudah sangat rindu tidak melakukan hal-hal seperti ini pada sang istri sejak beberapa hari yang lalu.

 

 

 

 

 

 

 

“Kalian benar-benar menyebalkan.” Bisik Hye Sup. Wanita ini sedikit menggerakkan kepalanya. Merasa geli dengan tindakan sang suami.

 

 

 

 

 

 

 

“Mianhe. Tapi itu sangat lucu.” Eun Hyuk menghentikan aktivitasnya saat dirasakannya, Hye Sup mencubit lengannya.

 

 

 

 

 

 

 

“Dan karena itulah acara yang ku buat hancur berantakan.”

 

 

 

 

 

 

 

Eun Hyuk membalikkan tubuh sang istri hingga menghadap kearahnya. Menangkup kedua pipi Hye Sup. Mendapati wajah kecewa Ny. Leenya.

 

 

 

 

 

 

 

“Kau marah?”

 

 

 

 

 

 

 

Hye Sup menatap horor kearah Eun Hyuk.

 

 

 

 

 

 

 

“Bagaimana aku tidak marah. Aku sudah bersusah payah menyiapkan semuanya. Kau tahu, aku melakukan itu sebagai kado ulang tahunmu. Dan sekarang, kau merusak sendiri kado ulang tahunmu Tn. Lee.”

 

 

 

 

 

 

 

Eun Hyuk tersenyum. Ia benar-benar gemas dengan wanita di hadapannya sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

“Kalau begitu, bagaimana kalau kadonya diganti dengan ini?”

 

 

 

 

 

 

 

Chup~

 

 

 

 

 

 

 

Eun Hyuk mengecup singkat daun bibir Hye Sup. Alhasil, itu sukses menciptakan rona merah pada wajah Ny. Lee. Mata Hye Sup melirik sesekali ke manik mata Hyuk malu.

 

 

 

 

 

 

 

Dipeluknya tubuh pria yang kini begitu amat dicintainya. Menyebalkan. Kenapa bisa ia begitu mencintai pria yang dengan sengaja mengacaukan pesta yang dibuat khusus untuknya –Eun Hyuk?

 

 

 

 

 

 

 

“Saengil chukkae-yo Tn. Lee.”

 

 

 

 

 

 

 

“Gomawo.” Hye Sup merasakan dekapan Hyuk menguat untuk beberapa saat sampai akhirnya, secara sepihak Hyuk melepaskannya. Pria itu, segera menyentuh wajah sang istri. Menahan agar wajah itu tak menghindar saat ia melakukan aksinya.

 

 

 

 

 

 

 

Hye Sup kembali harus merasakan jantungnya hampir mau meledak. Sungguh ia tak sanggup lagi menahan getaran hebatnya. Semuanya bertalu-talu kuat tak seirama.

 

 

 

 

 

 

 

“Boleh aku meminta kado ku lagi Ny. Lee?” pertanyaan Eun Hyuk kembali mencuatkan rona merah pada wajah Hye Sup. Wanita itu mengangguk sekilas. Anggukan itu berhenti sampai tanpa disadarinya, sebuah bibir sudah berhasil menempel pada daun bibirnya. Hanya menempelkan sampai akhirnya bergerak menyapu daun bibirnya. Melumatnya lembut seolah Hyuk tengah melumat permen manis kesukaannya.

 

 

 

 

 

 

 

=END=

 

 

 

 

 

 

 

Kagak perlu panjang kata. cuman bilang Gomawo for MIn Hikssie dan readersdeul. dont for get to RCL and say #HappyHyukDay hahaha

Published By Allison

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s