Nae Yeoja Baboya (Part 8-end)

Title             : Nae Yeoja Baboya (Part 8)

Author         : Arisa Dwi Amalia

Genre          : Romance, Comedy (?)

Rating          : PG13

Maincast      :

-Lee Hyuk Jae

-Lee Seonya

 

Annyeong^^

Saya kembali dengan abang Eunhyuk!

Ada kah yang masih inget dengan FF ini? Haha

Ohiya buat yang belum baca part sebelumnya, bisa liat di link dibawah ini

Happy reading aja deh ya 😀

Flashback Part 7

“Saranghaeyo Lee Seonya…” Ujar Eunhyuk pelan sesaat setelah ia melepaskan ciumannya. Seonya yang bertambah kaget hanya bisa diam dan makin tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Kau tidak perlu cemburu dengan dancer itu. Aku bisa melakukan lebih padamu kalau kau mengizinkannya. Otte?” Tanya Eunhyuk serius, berharap Seonya mengizinkannya kali ini. Seonya yang sedang cemburu bercampur bisikan setan pun tanpa sadar mengangguk mengiyakan ajakan Eunhyuk.

 

 

Part 8 Start

 

-Seonya POV-

Tubuhku sedikit menggeliat saat merasakan hembusan nafas yang lembut menerpa leherku. Dengan malas kubalikkan tubuhku kekiri sementara mataku masih terpejam. Perlahan kubuka mataku dan mendapati seorang namja sedang tertidur lelap. Wajahnya persis di depan wajahku menyebabkan hidung mancungnya sudah hampir menyentuh hidungku. Mendadak wajahku memanas mengingat kejadian semalam bersama namja ini. Tanpa sadar kedua tanganku bergerak menutupi wajahku yang memerah karena malu.

“Kau sudah bangun?” Pertanyaan mendadak dari namja itu sukses membuatku salah tingkah. Aish~ sejak kapan sih dia bangun?

“Begitulah…” Ujarku sambil menyingkirkan telapak tanganku yang tadi menutuppi wajahku. Mataku langsung tertuju pada matanya yang sedang menatapku dan bibirnya yang terus tersenyum kearahku. OMO~ kenapa jantungku jadi berdebar secepat ini?!

“Aku baru tahu ternyata istriku bisa secantik ini saat bangun tidur.” Kini tangannya menarikku lebih dekat kearahnya sampai hidung kami bersentuhan.

CHUP~

Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lembut mendarat dibibirku. Ya, itu bibirnya, ia mengecup bibirku lembut dan cukup lama. Aku hanya bisa diam karena kaget dan pasrah. Entahlah, rasanya semua perlakuan lembutnya selalu berhasil membuat tubuhku tidak berfungsi dengan baik. Setiap sentuhan lembutnya membuatku merasa sangat nyaman berada didekatnya.

“Morning kiss untuk istri-ku tercinta. Kau milikku seutuhnya sekarang.” Dengan senyum yang terus mengembang lagi-lagi namja ini sukses membuat jantungku berdebar tak karuan. Aish~ kenapa aku jadi lemah begini didepannya.

“Ngg…ngomong-ngomong, kau ke Jepang dengan pesawat jam berapa?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Kini kulihat pandangannya beralih ke jam dinding di kamar ini.

“OMO~ 1 jam lagi pesawat kami berangkat!” Serunya tiba-tiba. Ia langsung melepaskanku dari pelukannya dan turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. Ya ya~ bukankah itu…dia…

“KYYYYAAAAAA! PAKAI BAJUMU!”

 

~oooOooo~

 

Sudah 3 hari ini Eunhyuk pergi ke Jepang. Haahhh…ternyata dunia ini sepi sekali tanpa namja itu. Apa kabarnya ya? Apa dia baik-baik saja? Kenapa aku jadi sangat ingin melihat wajah bodohnya itu? Apa aku merindukannya? Tapi, apa dia merindukanku juga? Aish~ pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dia harus merindukanku! Masa’ aku saja yang rindu padanya?

“Si babo itu, harusnya kan dia pulang hari ini, tapi kenapa dari tadi pagi tidak menghubungiku?” Tanyaku pada diriku sendiri.

“Ya~ jangan melamun terus.” Mendengar suara yang sudah aku kenal lama membuatku langsung menoleh ke arah pintu kamarku. Aku kemudian tersenyum kearahnya, dia Appa-ku Lee Soo Man. Sepertinya dia baru pulang kerja karena kulihat ia masih memakai jas saat ia pergi tadi.

“Siapa yang melamun? Aku hanya sedang mencari inspirasi.” Jawabku asal. Appa kemudian duduk di pinggir kasur di sebelah kiriku, kemudian tangan kanannya mengusap lembut rambutku.

“Jincha? Inspirasi untuk apa?”

“Aku sedang mencari inspirasi tentang bagaimana membuat skripsi yang bagus! Aish~ Appa bahkan tidak tahu kan sebentar lagi aku sudah tamat dan sekarang sedang menyusun skripsi.” Jawabku pura-pura ngambek. Kugembungkan pipiku supaya Appa yakin aku ngambek, tapi Appa hanya tertawa melihat tingkahku.

“Ne.ne, mianhae. Kau tahu kan Appa…”

“Ya aku tahu, Appa sangat sibuk dengan semua urusan kantor, teman bisnis, dan artis-artis SM kan?” Potongku langsung. Aku bahkan sudah hapal apa yang akan Appa katakan saat aku menanyakan tentang kesibukannya. Appa hanya mengangguk-angguk dengan wajah sedikit kesal karena omongannya aku potong.

“Appa, kenapa tidak pensiun saja? Appa kan sudah cukup umur.”

“Lalu bagaimana dengan SM? Kau mau menggantikan Appa mengurusnya?” Tanya Appa. Ya benar juga sih, aku mana mau mengurus perusahaan sebesar itu, aku takut malah akan membuat perusahaan itu bangkrut.

“Kan ada Eunhyuk!” Seru ku tiba-tiba. Appa hanya tersenyum mendengar jawabanku.

“Hahaha akan Appa pertimbangkan.” Jawab Appa sambil tertawa sangat keras. Aku rasa dia tidak terlalu menganggap serius ucapanku. Ck!

“Ohiya, kapan kau akan pulang ke rumahmu?” Tanya Appa mengalihkan pembicaraan.

“Aish~ untuk apa aku pulang? Toh tidak ada orang juga dirumahku itu.”

“Setidaknya kau kan bisa menyambut suamimu saat dia pulang nanti.”

“Appa berniat sekali sih mengusirku.” Ujarku kesal.

“Mana mungkin Appa berniat mengusir anak Appa yang cantik ini. Hanya saja hari ini kan Eunhyuk pulang, dia pasti akan senang begitu melihatmu dirumah saat dia tiba dirumah nanti.”

“Mana mungkin. Dia bahkan belum menghubungiku hari ini. Dia pasti sudah lupa padaku.” Tiba-tiba aku merasa kesal sendiri karena sekarang sudah sore tapi Eunhyuk belum juga mengabarkan kalau dia akan pulang. Ck!

“Kenapa tidak kau duluan saja yang menghubunginya?” Sejenak aku terdiam mendengar pertanyaan Appa. Ia juga ya, kenapa tidak aku saja yang menghubunginya? Bukankah hubungan kami sudah makin dekat sejak ‘malam itu’?

“Baiklah, tapi Appa harus keluar dulu.” Usirku sambil mendorong-dorong punggung  Appa agar turun dari kasurku.

“Ya~ memangnya kenapa kalau Appa disini?”

“Pokoknya aku tidak mau ada Appa.” Kini aku menarik lengan Appa sampai keluar dari pintu kamarku. “Annyeong Appa…” Ucapku manis kemudian langsung menutup pintu kamarku dan menguncinya. Sayup-sayup kudengar suara Appa yang sepertinya ‘sedikit’ marah-marah. Haha mianhae Appa~

Penuh semangat aku kembali duduk dikasur dan langsung mencari kontak dengan nama “Hyukjae” untuk menelfonnya. Senyumku mengembang saat melihat namanya. Aish~ kenapa aku jadi berlebihan seperti ini sih? Masa’ hanya gara-gara melihat namanya aku jadi senyum-senyum sendiri. Ck! Dengan agak tergesa-gesa aku segera menempelkan ponselku di telinga kiriku. Tidak sampai sedetik sudah ada jawaban dari seberang sana.

“YEOBO-AH~ CEPAT JEMPUT AKU, MEREKA MENINGGALKANKUUUU. HUUAAAAA.” Refleks aku menjauhkan ponselku dari telingaku karena teriakannya yang tiba-tiba. Aish~ namja ini kenapa lagi sih?

“Ditinggal bagaimana?” Tanyaku santai.

“Sudah jemput saja nanti akan aku jelaskan semuanya. Hiks…hiks…”

“Yak! Kau menangis?” Tanyaku tidak percaya.

“CEPATLAAAHHH…!!” Teriaknya lagi tak sabaran.

“Aish~ baiklah, kau dimana?” Setelah dia menjelaskan lokasi tempat ia berada, aku langsung mengambil mantel dan kunci mobil Eunhyuk untuk menjemputnya. Ya selama dia pergi dia memang mempercayakan mobilnya padaku. Aku mengendarai mobilnya dengan sedikit ngebut karena bagaimana pun juga aku jadi agak khawatir mendengarnya menangis berlebihan seperti itu.

“Aish~ aku bahkan lupa minta izin pada Appa. Ah yasudahlah, saat pulang nanti saja izinnya.”

 

~oooOooo~

 

-Author POV-

“HUAHAHAHAHA…dasar babo! Lee Hyuk Jae babo! Neomu neomu neomu neomu BABOYA! HUAHAHAHAHA…” Tawa Seonya tidak mau berhenti sejak Eunhyuk menceritakan apa yang baru saja menimpanya. Eunhyuk yang sedang lelah pun hanya bisa menahan malu sambil merutuki dirinya sendiri yang kenapa bisa dengan bodohnya tertinggal di Pom Bensin.

Awalnya Eunhyuk hanya berniat untuk buang air kecil saat van yang membawa mereka dari Bandara tadi mengisi bahan bakar. Tapi mungkin karena ia terlalu banyak makan pisang di pesawat tadi, ia jadi ingin buang air besar juga. Sayangnya para member yang sudah lelah bahkan ada yang tidur tidak lagi mengingat bahwa Eunhyuk sedang ke toilet. Jadi, tanpa rasa bersalah mereka semua langsung menyuruh supirnya cepat-cepat jalan dan ngebut supaya mereka bisa segera sampai di Dorm kemudian istirahat.

“Ya~ suamimu ini sedang lelah, berhentilah tertawa!” Perintah Eunhyuk sama sekali tidak dihiraukan Seonya.

“Mana bisa aku tidak tertawa kalau mengingat kebodohanmu. Memangnya ada hah orang lain yang tertinggal di Pom Bensin selama 2 jam tanpa bisa menghubungi siapapun? Kau satu-satunya! Huahahaha…”

“Bagaimana bisa aku menghubungi orang lain? Aku bahkan tidak punya pulsa.” Jawab Eunhyuk lemas. Seonya yang mendengar penuturan Eunhyuk kembali tertawa terpingkal-pingkal. Ia memegangi perutnya sambil sesekali memukul-mukulkan tangannya ke dashbor mobil Eunhyuk.

Wajah Seonya sudah sangat merah sama seperti wajah Eunhyuk. Tapi bedanya wajah Seonya memerah karena terlalu seru mentertawakan Eunhyuk sedangkan wajah Eunhyuk memerah karena malu ditertawakan Seonya. Tapi Eunhyuk yang malang hanya bisa diam dan terus focus pada jalanan didepannya karena dia sadar kalau dia memang sangat konyol saat ini. Sesekali ia hanya melirik kearah Seonya yang terlihat asyik dengan tawanya.

“Kau tahu, saat tertawa begitu kau terlihat sangat menggemaskan.” Ucapan Eunhyuk yang tiba-tiba membuat Seonya sedikit menghentikan tawanya.

“Maksudmu?” Eunhyuk tidak menjawab pertanyaan Seonya. Setelah sebelumnya memastikan jalanan yang mereka lewati sepi, Eunhyuk malah meminggirkan mobilnya keluar jalan dan mematikan mesinnya.

“Ya! Ya! Apa yang kau lakukan?” Teriakan Seonya tidak digubris Eunhyuk. Dengan gerakan cepat Eunhyuk menarik bahu Seonya kearahnya sampai bibir mereka bersentuhan. Perlahan dilumatnya bibir Seonya lembut, menyalurkan rasa rindunya yang sudah tidak bisa ditahannya 3 hari ini. Seonya yang juga merindukan Eunhyuk pun kini membalas ciuman Eunhyuk, ia juga menggeser sedikit posisi duduknya kearah Eunhyuk agar mempermudah ciuman mereka, mereka berciuman cukup lama.

“Berhentilah tertawa.” Ucap Eunhyuk saat bibirnya baru saja ia lepaskan dari bibir Seonya. Seonya yang seperti terhipnotis hanya mengangguk sebagai jawaban.

Kini Eunhyuk dan Seonya kembali ke posisinya semula. Eunhyuk baru menghidupkan kembali mesin mobil sedangkan Seonya masih sibuk mengendalikan detak jantungnya yang berpacu cepat.

“Yeobo-ah…” Panggil Eunhyuk manja sebelum menjalankan mobil.

“Hmm?” Sahut Seonya sambil menoleh kearah Eunhyuk.

CHUP~

“Neomu bogoshipeo…” Sekilas Eunhyuk kembali mencium bibir Seonya lalu tersenyum puas saat melihat wajah Seonya yang menegang. Eunhyuk sangat yakin kalau tempat ini terang, pasti ia dapat melihat dengan jelas kalau wajah Seonya juga memerah.

“Nado…” Jawab Seonya seadanya. Ia terlalu sibuk dengan suasana hatinya yang mendadak menjadi tidak menentu saat ini.

“Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan diluar dulu?”

“Terserahmu saja.”

 

~oooOooo~

 

-Eunhyuk POV-

Sesampainya dirumah, aku dan Seonya langsung terduduk lemas di sofa. Tidak ada yang bicara karena kami sama-sama merasa sangat lelah sekarang. Apalagi aku, gara-gara tertinggal di Pom Bensin tadi…aish~ kenapa kejadian seperti itu harus terjadi dalam hidupku yang sudah sempurna ini sih? Memalukan sekali!

Dddrrrtttt…ddrrrtttt…

Dengan malas aku mengambil ponselku yang bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Mendadak aku tambah kesal melihat dari siapa pesan itu.

 

Hyuk Jae? Apa kabarmu? Mianhae tadi kami meninggalkanmu, kami benar-benar lupa.

From ~Donghae~

 

“Cih…dasar ikan.” Dengan kesal aku menutup pesan dari Donghae tanpa berniat membalasnya. Katanya couple? Tapi kenapa semudah itu dia melupakanku?

“Dari siapa?”

“Donghae. Kau tahu, aku rasa mereka baru sadar sekarang kalau tadi aku tertinggal. Huh biarkan saja nanti mereka mengkhawatirkanku, pokoknya aku tidak akan mau membalas pesannya itu.” Deungusku sebal. Kuperhatikan sekarang Seonya sedang menahan tawanya sehingga bibirnya hanya membentuk sebuah senyuman. Kenapa dia?

“Bukannya kau memang tidak bisa membalas? Kau kan tidak punya pulsa? Huahahaha…” Aish~ yeoja ini.

“Yak! Apa kau tidak puas hah menertawaiku di mobil tadi? Tertawa saja terus sampai tahun baru monyet! Huh.” Dengan kesal aku melangkah meninggalkan Seonya yang masih tertawa menuju kamar mandi di kamarku untuk mandi. Mungkin mandi adalah cara paling tepat untuk menghilangkan semua kekesalanku saat ini.

 

~oooOooo~

 

Selesai mandi dan berpakaian, aku berniat langsung tidur. Namun niatku itu kuurungkan saat melihat Seonya yang sekarang sedang memasang tampang manis dan duduk rapi di pinggir kasurku. Aku yakin dia pasti mau minta maaf. Cih~ jangan harap kali ini aku akan memaafkanmu dengan mudah Lee Seonya.

Tanpa memandang kearahnya aku langsung membaringkan tubuhku dikasurku yang empuk. Ah~ nyaman sekali rasanya.

“Ya~ Oppa jangan mengacuhkanku.” Rajuk Seonya dengan nada manja. OMO~ dia ini sedang kesurupan apa? Aku jadi merinding sendiri melihatnya yang tiba-tiba berubah manis seperti ini.

“Oppaaa…” Dengan manja Seonya menarik-narik lenganku sampai posisiku jadi duduk sekarang.

“Tidak usah bersikap manis seperti itu, aku tetap tidak akan memaafkanmu.” Ucapku datar. Dalam hati aku berseru senang karena berhasil membuatnya merayu ku sampai seperti ini. Haha.

“Maksudmu? Memangnya aku salah apa?” Dahi Seonya mengerinyit heran mendengar pernyataanku. Mwo? Apa ini berarti dia sama sekali tidak mau minta maaf? “Aku hanya mau menagih oleh-oleh kok. Bukankah tadi saat di restaurant Oppa bilang akan memberikan oleh-oleh padaku kalau aku bersikap manis? Sekarang, mana oleh-olehnya?” Dengan muka polos ia mengulurkan kedua telapak tangannya tepat dihadapanku.

‘Sabar…Hyuk…’ Batinku berkali-kali pada diriku sendiri. Aku mengambil nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan sebelum menjawab pertanyaannya. Tanpa kuminta sebuah ide cemerlang muncul begitu saja di otakku yang yadong ini. Aku pun kini tersenyum sedikit kearah Seonya.

“Apa kau benar-benar menginginkan oleh-oleh dari ku itu, eh?”

“Ne, tentu saja.” Jawabnya penuh semangat. Dianggukkannya kepalanya berulang kali sambil tersenyum cerah. DEG! Aigo~ jantungku ini kenapa lagi sih? Kalau aku sedang senang-senangnya bersama Seonya jantung ini selalu saja mendadak berdebar tidak karuan. Membuatku jadi salah tingkah saja.

“Aish~ kau itu berlebihan sekali sih, seperti tidak pernah diberi oleh-oleh saja sebelumnya.”

“Memang tidak pernah.” Jawabannya membuatku agak kaget. Masa sih dia? “Appa sering bepergian tapi tidak pernah sempat untuk membelikanku oleh-oleh. Ya seperti yang kau tahu dia sangat sibuk.” Kini keceriaan yang tadi sempat memancar (?) sedikit memudar dari wajahnya. Aish~ aku jadi tidak enak sudah mengatakan hal tadi.

“Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Aku tidak akan memberinya sebelum kau tersenyum lagi seperti tadi.” Ancamku padanya. Sebenarnya sih aku sama sekali tidak bermaksud mengancamnya, hanya saja aku tidak suka melihat wajahnya yang muram begitu. Perasaanku jadi tidak enak kalau melihatnya murung.

“Baiklah…” Kini sebuah senyum kembali terukir dari bibir tipisnya. Tanpa sadar aku ikut tersenyum karena terbawa oleh senyumannya. Ah~ baiklah, kurasa aku tidak jadi menjalankan ide yadong tadi.

Perlahan aku bangkit dari kasurku dan berjalan ke meja rias tempat aku meletakkan tas plastik kecil yang tadinya terus berada di saku mantelku. Untung saja aku tidak meletakkan yang satu ini didalam tas. Kalau tidak, pasti benda ini akan meninggalkanku juga seperti teman-temanku yang melupakanku tadi itu.

Aku baru sadar ternyata dari tadi mata Seonya tak lepas mengawasi gerak-gerikku. Dengan semangat ia langsung mendekat saat aku sudah duduk lagi di kasur.

“Ini…bukalah…” Sambil tersenyum, aku menyerahkan kantung plastik berwarna biru tadi kepada Seonya. Ia langsung menerimanya dengan senyum manis, benar-benar manis.

“Waahhh…topi rajutan. Hmm…hangat.” Ujarnya sumringah sambil menggosok-gosokkan pipinya di syal itu. “Gomawo…”

“Cepat lihat yang lainnya juga.”

“Masih ada?”

“Tentu saja.” Kini wajah Seonya kembali berbinar.

“Apa ini?” Dengan heran Seonya memperhatikan baik-baik benda yang aku berikan itu.

“Itu jimat pelindung yang aku dapat dari Jepang. Ngg…kalau tidak salah namanya Omamori.” Jawabku setelah berhasil mengingat nama jimat itu.

“Gunanya untuk apa?”

“Ya~ kau itu bodohnya jangan kelewatan juga. Kan sudah aku bilang itu jimat pelindung.”

“Hehe iya juga ya.”

“Aku juga punya yang sama denganmu. Kau tahu kan aku bukan suami yang selalu bisa berada di dekatmu untuk melindungimu. Aku berjanji padamu akan selalu melindungimu semampuku, tapi aku rasa itu masih belum cukup. Aku masih saja suka terlalu khawatir kalau jauh darimu. Ya setidaknya aku harap jimat ini benar-benar bisa membantu. Hehe.”

CHUP~ Tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang lembut mendarat sebentar di pipiku. Bisakah itu diulang? Rasanya benar-benar seperti mimpi. Tadi itu…Seonya…ya aku yakin aku tidak salah. Seonya baru saja mencium pipiku?! OMO~ ini pertama kalinya dia menciumku!

“Gomawo, Oppa. Kau benar-benar suami yang baik.” Senyuman dan ucapannya kini membuatku membeku. Aku masih terdiam tidak menjawab selama beberapa detik seolah masih diawang-awang.

“Eh? Ah, ne, gomawo.” Balasku akhirnya. “Ohiya, aku masih punya satu lagi untukmu.”

“Eh? Ada lagi?”

“Ini yang terakhir.” Dengan gugup aku menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna merah pekat yang sudah cukup lama aku simpan di bawah bantalku kepadanya. Ia lalu menerimanya dan segera membuka kotak itu.

“Cincin?”

“Begitulah, apa kau suka? Sebenarnya itu bukan oleh-oleh dari Jepang. Aku sudah cukup lama membelinya tapi tidak menemukan waktu yang tepat untuk memberikan itu padamu. Cincin saat kita menikah dulu itu kan orang tua ku dan ayah mu yang memberi, bukan aku. Hehe.” Aku tertawa garing sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, salah tingkah.

“Maksudmu, kau membelikan cincin ini sebagai cincin pernikahan kita yang sebenarnya begitu?” Seonya mengerinyitkan dahinya heran.

“Ya begitulah. Waeyo? Jelek ya? Kau tidak suka?” Tanyaku khawatir. Ini pertama kalinya aku memberikan cincin pada seorang yeoja. Aish~ jangan-jangan aku salah pilih lagi.

“Ani, ini sangat bagus. Gomawo, neomu joha.” Lagi-lagi senyum itu. Aish~ kalau sudah begini aku hanya bisa menunduk malu didepan yeoja ini. Kumohon Seonya-ya, jangan menatapku dengan lembut seperti itu terus, aku jadi merasa kikuk.

“Apa cincin ini mau dibiarkan di kotaknya terus?” Pertanyaan Seonya membuatku langsung mendongak dan tersenyum kearahnya.

“Kemarikan tangan kirimu.” Tanpa menunggu jawabannya aku segera menarik tangan kirinya dan menyematkan cincin mas putih yang menurutku terlihat makin indah di jari manisnya.

CHUP~

Tanpa menunggu senyum dibibirnya hilang, aku langsung mendekatkan tubuhku kearahnya dan mencium bibirnya lembut. Ia membalas ciumanku yang kini telah menjadi lumatan-lumatan kecil di bibir manisnya. Kami berciuman cukup lama sampai akhirnya dia melepaskan ciuman kami. Kurasa dia kehabisan nafas, hehe.

“Bukankah aku belum melakukan ini saat kita menikah waktu itu?” Aku tersenyum menggoda kearahnya. Sedangkan Seonya hanya tertunduk malu.

Tanpa sadar kini aku mulai memperhatikan Seonya lekat. Kupandangi setiap inchi tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia benar-benar sempurna, aku merasa nafsuku sedikit bangkit sekarang, apalagi sepertinya keadaan sangat mendukung.

Perlahan aku menyentuh dagu Seonya dan mengangkat wajahnya. Bibirku kembali menciumi bibirnya dan tangan kananku merengkuh pinggangnya. Kurasakan kedua tangan Seonya kini memeluk leherku mesra, membuatku semakin merasa ingin menyentuhnya.

 

~oooOooo~

 

2 bulan kemudian…

 

-Author POV-

“Jebal…yeobo-ah, sekali iniii saja.” Dengan nada dibuat-buat Eunhyuk kembali menarik tangan Seonya untuk duduk di meja makan. Ia baru saja membuatkan makanan ‘spesial’ untuk Seonya karena kemarin Seonya baru saja berhasil mendapatkan gelar Sarjana nya.

“Aku tidak mau. Nanti kalau aku keracunan bagaimana? Sia-sia saja kan gelar Sarjana yang baru aku dapat kemarin ini.” Seonya yang masih mengingat jelas bagaimana seekor kucing yang muntah-muntah setelah memakan masakan Eunhyuk beberapa bulan yang lalu itu pun masih bersikukuh menolak niat baik suaminya.

“Ya~ kau tidak kasihan ya denganku yang sudah capek-capek membuatnya?” Kini Eunhyuk mulai memasang tampang memelas. “Lagipula tadi aku meminta petunjuk Wookie kok saat memasaknya, jadi aku yakin ini pasti enak.” Rayu Eunhyuk lagi. Ia sengaja membawa embel-embel ‘Wookie’ karena sebelumnya Seonya sudah pernah mencoba hasil masakan namja itu dan langsung memujinya habis-habisan.

“Aish~ baiklah.” Seonya yang akhirnya luluh pun kini duduk di kursi makan tepat didepan sepiring omelet yang kelihatannya sih enak. Eunhyuk mengikuti istri nya itu dan kini duduk di hadapan Seonya dengan senyum yang mengembang.

Dengan perlahan Seonya mengambil pisau dan garpu kemudian mulai memotong omelet buatan Eunhyuk. Sejenak bibirnya terlihat komat kamit berdoa sebelum memasukkan omelet itu kedalam mulutnya. Berulang kali ditatapnya Eunhyuk yang terlihat sangat bersemangat. Akhirnya dimasukkan Seonya juga omelet itu kedalam mulutnya.

“Hmm…” Gumam Seonya pelan saat mengunyah makanan itu dalam mulutnya. Dia baru hendak melontarkan komentar tentang masakan Eunhyuk saat tiba-tiba perutnya terasa sangat mual.

“Emmpphh…” Seonya terlihat sedang menahan muntah. Tangan kirinya menutup mulutnya sedangkan tangan kanannya meremas perutnya sendiri. Dengan gerakan cepat ia berlari ke westafle dan memuntahkan isi perutnya disana.

“Uuueekkk…uueeekkk…” (ceritanya ini suara muntah ya ._.v)

Melihat istrinya yang muntah-muntah wajah Eunhyuk langsung berubah khawatir. ‘OMO~ apa yang sudah kulakukan? Aku meracuni istriku sendiri!’ Pikir Eunhyuk kalut. Dengan cepat ia menghampiri Seonya dan mengurut leher belakang yeoja itu diiringi perasaan bersalah yang mendalam.

“Mianhae yeobo…seharusnya aku sadar aku memang tidak bisa memasak.” Sesal Eunhyuk disela-sela rasa khawatirnya yang menjadi.

“Ani. Aku hanya…masakan itu…uueekkk…” Seketika Eunhyuk menjadi makin kalut melihat keadaan Seonya. Ia langsung berlari mengambil mantelnya dan mantel Seonya untuk segera memeriksakan keadaan yeoja itu.

“Ayo kita ke rumah sakit.”

 

~oooOooo~

 

Keringat tak berhenti mengalir dari pelipis Eunhyuk. Wajahnya sudah sangat pucat karena khawatir. Tadi saat masuk ke rumah sakit, ia bahkan harus memapah Seonya karena yeoja itu terus mengeluhkan perutnya yang mual. Mendadak Eunhyuk menyesali kebodohannya sendiri yang memaksa Seonya memakan makanan buatannya yang seharusnya sudah bisa ia prediksi dapat menyebabkan keracunan.

Sekarang bagaimana Seonya? Apa dia akan baik-baik saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Bagaimana kalau dia sampai meninggal karena hal ini? Berbagai macam pertanyaan tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi terus berputar di kepala Eunhyuk. Berulang kali ditatapnya pintu tempat Seonya masuk tadi, berharap Seonya segera keluar dalam keadaan baik-baik saja.

CKLEK!

Sontak Eunhyuk langsung menghampiri pintu tempat Seonya masuk tadi saat melihat seorang Dokter keluar dari ruangan Seonya.

“Bagaimana istri saya Dokter Han?” Tanya Eunhyuk khawatir. Tapi kekhawatirannya sedikit memudar saat melihat Seonya ternyata mengikuti dibelakang Dokter Han. Wajahnya terus menunduk.

“Kenapa anda terlihat sangat khawatir Tuan Lee?” Tanya Dokter Han dengan senyum ramah.

“Tentu saja saya khawatir Dok, Istri saya kenapa? Keracunan kah Dok?”

“Mwo? Hahaha kalian berdua pasangan yang lucu. Tadi istri anda juga mengira kalau ia keracunan.”

“Jadi? Maksud Dokter? Seonya tidak keracunan?”

“Aish~ tentu saja tidak. Kau saja yang dari tadi khawatir berlebihan.” Sembur Seonya yang kini.

“Aigo…jadi intinya tadi itu kau kenapa?” Tanya Eunhyuk lagi.

“Ngg…aku…aku hamil.” Jawab Seonya sambil menunduk malu. Reflex Eunhyuk melotot mendengar penuturan Seonya.

“MWO?!”

 

-END-

 

Gimana endingnya? GAJE ya? Huahahaha maklum ya author nya lagi stress -____-

Sebenarnya sih masih mau lanjut ini FF, tapi karena kesibukan author yang makin sibuk (?), jadi di end kan saja lah dulu, kalo author udah ada waktu yang cukup lagi, akan ada sequel nya FF ini. Hehe

Mianhae ya atas kegajean author ._.v *deepbow

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s