Poor My Baby – Part 1

 

Title : Poor My Baby Part A

Genre : sad, Romance, Family

Rated : PG-15

Length : twoshort

Cast : Kim Ryeowook

Lim Min Rin

Lim Hyun Ji

Author :  S.F.

Tw: @SafiraGyu

Disclaimer : semua cats milik orang tua mereka dan tuhan mereka..

Warning!!!!: menimbulkan gejala kaku otot wajah,mual-mual, sakit perut dan gejala lainnya. Selain karena isi ff nya dan juga typo(s) nya

 

The typo… typo… typo… typo… typo… *bergema

 

Note: ini ff tercipta asbab dan sebabnya karena seorang chingu sesama ELF ‘Lutfia adinda’ meminta ku untuk membuatnya, maaf ya say ff nya gaje dan alurnya kecepetan, soalnya aku kurang bisa bikin ff reques, but!!! Thanks ya Allah karena akhirnya ff ini tercipta…. maaf ya chingu ‘Lutfia’ ff ku ini kurang membuat mu suka… jeongmal miahae..hope you like this ff…

‘maaf jika seluruh informasi yang disampaikan oleh Author salah, karena saat ini guru author hanya miss Google’

And.. thanks to dini islami sesaria, my favorite chingu kikiki… yang udah buatkan Cover super cantiknya ^^

 

 

 

 

 

 

………………………………….

 

“POOR MY BABY PART A”

 

“Aigoo.. Hyun Ji kyoppta.. hemm..”, gemas seorang wanita mencubit pipi bayinya, bermain bersama seorang bayi kecil yang cantik, matanya bulat bibirnya tipis dan hidungnya yang mancung, bayi itu terlihat sangat lucu dan manis, sedangkan ibunya juga tak kalah cantik, wajahnya putih, senyumnya menawan, dan rambutnya panjang berikal.

 

Jika dilihat, maka wanita ini tampak seperti gadis periang yang hidup didalam keluarga yang hangat, namun hal itu tak benar adanya, Lim Min Rin -gadis itu- adalah seorang gadis malang yang bernasip menyedihkan, senyumnya tampak bahwa ia sangat lembut, namun sebenarnya ia rapuh.

 

Musim semi ini terlihat menyedihkan memang, semuanya lengkap untuk membuat Min Rin bertambah terpuruk dengan keadaan, ia memeluk Hyun Ji dan mengusap punggung anaknya lembut, entah mengapa setetes air matanya terjatuh, gadis ini menghapusnya dengan cepat, dilihatnya kebun strowberry itu lalu kembali tersenyum, ahh… dia benar-benar wanita keras kepala.

 

Bagaimana bisa Min Rin bisa setegar ini? Ia sudah mengalami kecelakaan sehingga mengandung Hyun Ji yang ia pun tak mengetahui nama namja malam itu. Seorang namja yang tak sengaja bertemu dengannya di Pub dalam keadaan sangat mabuk.

 

Saat ia tahu bahwa ada detak jantung kecil diperutnya, rasanya ingin bunuh diri. Semua orang menghindar, termasuk keluarganya yang lebih memilih mengusir si cantik Min Rin yang tak bersalah, membuat wanita itu harus mengurus Hyun Ji sendiri hingga saaat ia bertemu Jung Seo Moon ajumma yang siap sedia merawatnya dan Hyun Ji, membawa wanita ini kerumahnya dan menganggap Min Rin sebagai anaknya, apalagi Seo Moon tinggal sendiri dirumah.

 

Awalnya memang terlihat baik-baik saja, hingga suatu hari, Hyun Ji terserang sakit, dan mengharuskannya masuk kerumah sakit Seoul untuk diperiksa, dan pada akhirnya… petaka kembali membebani pundak Min Rin, bayi kecilnya terserang penyakit kanker Leukimia, yang membuat senyuman Min Rin perlahan semakin memudar.

 

“Kau disini rupanya”

“Eoh? Eomma..”, ujar Min Rin tersenyum seadanya, memandang seorang wanita renta yang ikut tersenyum terhadap wanita ini, ia sudah terbiasa melihat senyuman Min Rin, jadi baginya senyuman termanis wanita cantik ini, adalah benda termahal.

“Aigoo.. Hyun Ji mengantuk ya?”, tutur Seo Moon, menutup mulut mengaga Hyun Ji yang sedang menguap dengan dua jarinya. Dilihatnya mata sedih Min Rin, lalu ia kembali tersenyum.

“Gwenchanna”, ujar Seo Moon menenangkan Min Rin, ia tahu bahwa ketika Hyun Ji tertidur, disitulah rasa khawatir yang terbesar menderu Min Rin, ia takut kalau anaknya tertidur untuk selamanya, hal itu adalah ujian terberat yang ia bayangkan selama ini.

 

Seo Moon mengusap lembut lengan wanita itu, lalu memeluknya pelan, berusaha memberi semangat hidup pada gadis ini.

 

“Sudah lah, jangan seperti ini lagi Min Rin-ya..”

“Aku takut eomma”

“Tuhan… Tuhan selalu bersama mu sayang”

 

Min Rin menutup matanya, menyesap seluruh kehangatan ibu angkatnya yang sudah ia anggab sebagai ibu kandungnya itu.

“Sudah lah, kajjah.. kita pulang”, Seo Moon menarik lengan Min Rin, sedangkan wanita ini tersenyum dan mengangguk.

 

Mereka berjalan menelusuri jalan setapak didesa itu, berjalan pelan sembari menikmati semburat jingga keunguan langit yang semakin lama semakin tampak indah, burung pun terlihat berterbangan kembali kesarang mereka.

 

Semuanya terlihat sepi, begitu juga keluarga kecil ini. Min Rin mengelus pipi tomat anaknya, menidurkan si bayi kecil yang berada disampingnya, terkadang menepuk-nepuk punggungnya membuat Hyun Ji tidur dengan nyenak.

 

“Ahh…” lengguhnya panjang, ia menatap wajah Seo Moon yang datang dengan semangkuk sup tau yang hangat, Seo Moon lalu mengangguk, menyuruh wanita ini untuk makan.

“Obatnya sudah habiskan?”

“Eoh?”

“Besok pagi belilah obat untuk Hyun Ji”

“Tapi eomma, aku malu selalu mengunakan uang eomma”

“Kau ingat kata-kata ku? Mulai sekarang kau adalah anak ku, jadi aku berhak memukul mu jika kau nakal, berhak untuk memasakkan mu makanan, dan berhak untuk membeli obat untuk mu dan Hyun Ji jika kalian sakit.. arraseo?”

“Eomma” panggil Min Rin lembut, ia langsung beringsut mendekat dengan Seo Moon dan memeluknya erat.

“Gomawo”, bisik wanita ini ditelinga ibunya. Begitu juga Seo Moon yang mengangguk, mengusap lengan Min Rin yang melingkar dilehernya.

“Sudah lah.. kajahh makan”

“Hemm..”

 

Malam semakin menggelap, langit tampak tak secerah biasanya, bintang pun engan menampakkan keindahannya, bulan? Bulan hanya malu untuk melihatkan dirinya malam ini…

 

Dan hujan pun menghiasi bumi, rintikan tetesan air itu terdengar bising. Suhu menjadi sejuk menusuk tulang. Namun wanita ini masih betah duduk diteras rumahnya, rumah kayu perdesaan yang terkesan damai dan sederhana.

 

Min Rin mengayun-ayunkan kakinya, membiarkan ritikan mutiara bening itu membasahi kulit kakinya, dan membiarkan hawa dingin itu menyeruak hatinya yang panas. Ia lelah, itu sudah pasti. Namun juga bosan, dan hal itu tak boleh terjadi. Jika rasa bosan datang, itu pertanda buruk.

 

Tatapannya lurus menjurus sebuah objek yang indah, sebuah bunga Azela berwarna merah muda, bergerak-gerak karena hembusan angin dan rintikan hujan yang membasahinya.

“Kau percaya takdir?” tiba-tiba Min Rin berujar, seakan mengajak bunga Azela ikut berbicara.

“Aku? Aku takut dengan takdir”, wanita ini tersenyum ketika mendengar jawabannya sendiri, yahh.. ia takut dengan takdir.

Ia mendongak menatap langit hitam kelam yang dipenuhi dengan ritikan hujan itu, ia lagi-lagi tersenyum tipis.

“Dan bisakah kau beri tahu aku? Dengan cara apa aku bisa menyelamatkan Hyun Ji?”

“Percaya dengan takdir” mendadak suara Seo Moon terdengar, membuat pandangan Min Rin teralih kewajah teduh ibunya.

“Kau harus percaya dengan takdir..”

“mwe?”

“Karena, takdir mu akan sangat indah dimasa yang akan datang”

“Tapi aku takut dengan takdir”

“Kau selalu meyakini takdir mu selalu buruk…. yakin lah takdir mu itu indah Rin-ah..”

“Arraseo eomma.. Gomawo”

 

 

 

 

 

…………………………………………………………

 

 

 

 

“Hemm.. kau masih sibuk? Kim Uisanim?”, tanya seseorang berbaju jas putih panjang kepada temannya yang sedang menyesap kopi hangat ditanganya, yang ditanya menoleh, memandang temannya tadi lalu dengan malas mengangguk. Wajahnya sama sekali tak beseri, padahal suasana kafetaria rumah sakit ini cukup menyenangkan.

“Aku kira aku masih ada 1 operasi lagi”, lanjut namja itu, lagi-lagi menyesap kopinya.

“Hemm.. memang memelahkan menjadi uisa jelek disini”

“Yakkk.. apa maksud mu Cho uisanim?”

“Hahaha.. ani.. aku hanya bercanda hyung”, ujar lelaki tadi lalu meminum jus jeruknya.

“Tak usah memanggilku hyung saat jam kerja”, ujar namja ini mengelak.

“Aishh.. arraseo Ryeowook-ah”

“Heyy!!! Itu sama sekali tidak sopan Cho uisanim!”

“Ck.. Kim Uisa terlalu posesif, berlatih lah untuk bersabar” ujar Kyu Hyun.

“Ahh.. akhir-akhir ini aku selalu merasa ada sesuatu yang memberatkan hati ku Kyu”

“Hemm.. tadi tidak boleh memanggil seperti itu saat jam kerja, aishh namja ini” bisik Kyu Hyun pada dirinya.

“Kau sepertinya perlu liburan hyung”

 

 

Setelah perdebatan singkat itu, Ryeowook mulai memikirkan kata-kata Kyu Hyun soal ‘liburan’, sepertinya menyenangkan. Apalagi kalau dirinya sedang merasakan kekhawatiran yang luar biasa, entah dengan siapa ia pun tak tahu.

 

Hari ini tampak terlihat berat dari biasanya, entah mengapa ada sesuatu yang menganjal dan terasa aneh dibenak seorang dokter muda Kim Ryeowook. Sudah beberapa minggu ini ia selalu merasakan hal itu, rasanya selalu khawatir dan selalu risau akan sesuatu yang ia pun tak tahu penyebabnya. Namun untung saja pekerjaannya selalu berjalan dengan lancar.

 

Beberapa hari ini ia berencana untuk berlibur, hanya sekedar menenangkan diri dirumah, mendiamkan diri dan bersantai, libur dari memegang gunting, jarum, dan benda-benda berbau rumah sakit lainnya. Bisa dibilang refreshing pikiran dan juga sesuatu yang menganjal itu.

 

Memang hari-harinya lebih terlihat membosankan, namun Ryeowook cukup senang karena bisa tidur cukup lama dari sebelumnya. Terkecuali perasan tidak enaknya, ia selalu merasa bahwa ada sesuatu yang memang benar-benar tidak dapat dihindari.

 

Ryeowook kembali bertemu dengan Kyu Hyun, saat sore menjelang, dan disaat pertengahan liburan Ryeowook dari kesibukan rumah sakit. Bertemu.. sebenarnya hanya untuk menenangkan rasa jenuh dan bosan pada dirinya.

 

“Kenapa kesini?”

“Aku bisa mati bosan karena duduk diam dirumah sendiri”

“Cepatlah menikah”, ujar Kyu Hyun

“Kau sudah seratus kali mengatakan hal itu Kyu” ujar Ryeowook meminum kopi nya,

 

Kafe itu sangat klasik, terlihat elegan dan menawan, membuat siapa saja yang datang akan betah berlama-lama dan tanpa sadar uang mereka habis. Kyu Hyun sengaja meluangkan waktunya untuk hyungnya yang satu ini, kasihan Ryeowook, walau sudah libur cukup lama, ia masih merasa ada sesuatu yang akan membebaninya. Namun Kyu Hyun hanya bisa menemani dan mendengar keluh Ryeowook.

 

Libur mungkin masih ada dua minggu lagi, dan keputusan itu sepertinya cukup membuat Ryeowook menyesal. Ternyata tak begitu menyenangkan duduk diam dirumah sendiri, memang benar kata namja muda bermarga Cho itu agar Ryeowook cepat-cepat menikah, namun entah apa yang membuatnya selalu menolak kedekatan dari seorang yeoja, bahkan suster dan beberapa pasien cantik yang mendekatinya, ia menolaknya dengan lembut membuat Kyu Hyun sedikit geram.

 

“Sabar lah..” Kyu Hyun berucap disela keheningan melanda mereka.

“Arra..”

“kau tak mau pergi hyung?”

“Sepertinya nada suara itu pertanda mengusir ku”

“Ayolah hyung.. keluar dan cari wanita untuk kau jadikan bantal guling mu”

“Shiroyo”

“Ya tuhan.. aku berdoa supaya kau mendapat seorang janda hyung, sudah aku pergi, keluar dan cari seorang WA-NI-TA!!” tegas Kyu Hyun menekan setiap suku kata itu. Ia berdiri dan mengambil jas putih yang tergeletak dimeja mereka, lalu bergi meningalkan namja menyedihkan itu. Ryeowook menghela nafas, dengan segera pula ia berdiri dan menarik kunci mobilnya, membenarkan sedikit topinya dan berjalan keluar dari kafe.

 

“sepertinya persediaan makanan dirumah sudah mau habis..” ujar namja itu basa basi pada dirinya.

 

 

Ditempat lain…….

 

 

Sore ini tak tampak cerah di Busan, langit diatas desa tepian Busan itu gelap dan bergemuruh, angin pun terus mendesir menghembus membuat semua manusia di desa menutup pintu dan berteduh dibawah atap rumah mereka.

 

Memang hari ini tak menyenangkan bagi Min Rin, dari pagi tadi Hyun Ji selalu menangis dan badannya panas, membuat desiran ombak khawatir Min Rin kembali mengambang. Seo Moon juga terlihat khawatir dari tadi.

 

“Omona.. eomma.. eomma!! Hyun Ji mimisan.. eottokae?” teriak Min Rin, ia baru sadar bahunya merah karena mimisan Hyun Ji yang sedang ia gendong, membuat keringat dingin dan matanya berkaca-kaca, bersiap-siap untuk menangis mungkin.

 

“Ya tuhan.. cepat kau bawa Hyun Ji ke rumah Shin uisa, palliwa”, desak Seo Moon sembari tergesa-gesa mengambil jaket hangat untuk Hyun Ji dan Min Rin, namun wanita itu hanya memakai jaket hangat Hyun Ji dan tak memperdulikan dirinya yang tanpa jaket karena terlalu tergesa-gesa.

 

Min Rin mengendong Hyun Ji dan memeluknya erat, ia sedikit berlari ke arah rumah Shin uisa, untuk menangani anaknya yang tiba-tiba mimisan untuk pertama kalinya setelah dikatakan mengidam penyakit Leukimia.

 

Hujan tiba-tiba turun, membuat Min Rin sedikit kesusahan dan menpercepat daya larinya, ia melindungi anaknya dari tetesan air hujan, dan membiarkan tubuhnya menjadi payung bagi Hyun Ji, semuanya remang bagai hari sudah cukup petang saat itu, rasa khawatir seorang ibu pun terus menderu dan menusuk-nusuk batin Min Rin.

 

“Bersabarlah sayang, eomma akan menyelamatkan mu” akhirnya ia menangis.

 

Tokk.. tokk.. tokk..

 

Ceklekk..

 

“Uisanim…”

“Ya tuhan… Min Rin-ya.. ada apa dengan mu?” ujar uisa itu melihat keadaan Min Rin yang basah, sedang mengendong Hyun Ji .

“T..tt..tolong anak ku uisa”, Min Rin bergetar karena merasa hawa dingin kembali menusuk tulangnya, ia menyerahkan Hyun Ji kepada Shin uisa.

“Dia mimisan, sebaiknya kita harus segera membawanya ke rumah sakit, ia harus diperiksa”

“Ne?”

“Gwenchanna, aku akan menelpon ambulan, kita akan segera ke rumah sakit sore ini”

“Baiklah”

 

 

 

 

 

 

 

……………………………………………….

 

 

 

 

 

 

“Hemm..hemm…hemm” senandung merdu suara deheman Ryeowook mengumam pelan, ia sibuk melihat-lihat sayuran di Super Market untuk keperluan rumahnya. Bosan memang, tapi ia berusaha untuk menikmatinya. Ryeowook menarik troli itu, dan bukan mendorong. Ia sengaja, karena namja ini sudah terbiasa melakukan hal itu.

 

Tringgg…tring…

 

“Aww…” Ryeowook terperanjat, ia memegang kakinya yang terhimpit roda troli yang ia tarik karena ia tiba-tiba berhenti untuk mengangkat telepon.

“Ne?” ujar namja ini sedikit meringis karena rasa sakit dijari kakinya, ia mengusap kakinya perlahan saat itu.

“Anyyeong uisanim.. uisa harus segera kerumah sakit karena harus melakukan operasi mendadak”

“Tapi aku sedang libur”

“Ini penting uisa.. semua dokter sedang sibuk, memang setelah Kim uisa libur kami sedikit kuwalahan menangani pasien yang akan melakukan operasi”

“Iya.. tapi aku sedang libur”

“Tolong lah uisanim..”

“Bukankah masih ada Kang uisa dan yang lain?”

“Kang uisa sedang melakukan operasi saat ini”

“Aishhh..”

“Uisanim..”

“Arra arra.. aku akan segera datang”

 

Ryeowook bergegas meninggalkan barang-barang belanjaannya dan segera berlari keluar Super Market, menancap gas mobilnya dan melesat menuju Rumah sakit. Saat ini memang sudah menjelang malam, langit sudah jingga dan membiru kelam, angin pun menghembus kencang karena sesaat lagi akan turun hujan.

 

Tiba-tiba rasa khawatir menderu benaknya, kepalanya sedikit melayang memikirkan hal-hal yang membuatnya ingin sekali minum saat ini. Ryeowook beberapa kali mengeleng berusaha menfokuskan dirinya dan terus melaju menembus gerimis hujan saat itu, Ryeowook sadar setelah namja ini menginjak lantai rumah sakit maka ia akan menjadi seorang uisa yang harus merelakan kehidupan pribadinya diluar terlupakan. Ia harus tetap profesional dalam berkerja.

 

Namja ini segera turun dari mobil. Saat dirinya masuk ke dalam rumah sakit, awan pembawa hujan dari daerah tepian Busan akhirnya terbang dan membasahi kota Seoul. Ryeowook segera berlari dan menuju tempat ruang opersi dan langsung mengunakan pakaian operasinya.

 

Operasi saat ini memang cukup lama dan menegangkan, Ryeowook pun beberapa kali sedikit kewalahan menangani pasiennya. Operasi saat ini cukup panjang, namun setelah operasi berlangsung, semuanya menghasilkan kelegaan, Ryeowook tersenyum didepan keluarga pasien lalu segera beranjak, lalu menganti pakaiannya.

 

Ryeowook dengan malas berjalan menuju pintu rumah sakit, kalaupun berlama-lama disini, Kyu Hyun tidak ada karena sedang sibuk dan tentunya semua terlihat sangat sibuk. Ia berjalan pelan menatap lurus pintu rumah sakit, sedikit menghela nafas karena jenuh, namun saat ia tepat satu meter didepan, tiba-tiba suster membuka pintu, menarik cepat kasur dorong rumah sakit yang sedang ditiduri seorang bayi berumur 10 bulan yang pinsan, dihidungnya terlihat bekas darah, namun tak ada satu pun uisa disana, Ryeowook sedikit termenung memandang kedatangan pasien itu, entah apa yang membuatnya seperti merasa aneh dibenaknya ketika melihat bayi kecil tersebut, namun kesadarannya kembali datang karena salah satu suster menarik lengan Ryeowook dan meminta namja ini untuk memeriksa pasien tadi. Dengan cepat pula Ryeowook mengangguk dan berlari menuju kasur itu, ia memeriksa sang bayi sejenak lalu memandang perempuan yang menangis disamping sang bayi, Ryeowook sedikit kasihan, perempuan itu tampak basah. Mungkin karena kehujanan, pikir Ryeowook.

 

“Jeongseohamnida agassi, anak ini kenapa? dan sakit apa?” tanya Ryeowook hati-hati, dilihatnya rambut wanita itu yang basah, meneteskan air diujung-unjung rambutnya. Namja ini mengambil inisiatif sendiri, lalu segera menarik selimut dari kasur pasien sebelah yang kosong, lalu menyelimuti wanita itu.

 

Wanita yang tak lain adalah Min Rin terkejut dan segera menatap siapa yang berani memberinya selimut, namun tatapan bertanyanya berubah menjadi tatapan terkejut dan shok, ia bertambah bergetar dan bibirnya pun ikut bergetar, air matanya yang juga sudah menimpah ruah bertambah berlinang karena rasa pilu itu kembali menusuk benaknya, rasa sangat membenci itu kembali menyeruak didalam hatinya. Dokter ini, namja malam itu.

 

“Ya tuhan.. kau?” kejut Ryeowook seakan tersadar saat melihat wajah pilu sang wanita, ia memang terkejut namun entah mengapa ia tiba-tiba menjadi takut.

“T..ttu.. tuan..” gumam Min Rin memandang kedua mata Ryeowook, ya.. Ryeowook adalah namja yang bersamanya malam itu, namja yang membuatnya harus keluar dari keluarganya yang kaya, dan namja yang membuatnya tersenyum karena mendapatkan seorang bayi manis seperti Hyun Ji.

 

Ryeowook membulatkan matanya karena baru ingat akan sesuatu, ia menatap seorang bayi kecil yang terbaring lemas dikasur, lalu kembali menatap wanita itu, ‘ini … ini anak ku?’ begitulah arti dari tatapan Ryeowook pada Min Rin.

 

Dengan cepat pula Min Rin memegang tangan Ryeowook dan kembali menangis, ia menunduk dan sedikit bergumam.

 

“Tuan harus bertanggung jawab” ujar gadis ini, dan Ryeowook bertambah merasa  terkejut,’bertanggung jawab?’ ohh.. Ryeowook harus bagaimana sekarang?

“Aku mohon tuan.. aku mohon” ujar Min Rin bernada lirih dan menyakitkan. Ryeowook segera menepis gengaman Min Rin, lalu ia mengeleng dengan rasa takut yang menghantuinya.

“Tidak…” ujar namja ini segera meninggalkan Min Rin yang menangis pilu, tak memperdulikan kesibukan orang-orang dirumah sakit.

“Aku harus bagaimana lagi, Tuhan?”

 

Min Rin sudah mengetahui caranya agar Hyun Ji segera sembuh, ia tahu saat Shin uisa memberitahunya ketika mereka berada di Ambulan. Namun hal itu bagai hal mustahil bagi dirinya. Karena salah satu caranya ialah ia harus memiliki bayi lagi agar plasenta sang bayi baru dapat digunakan untuk Hyun Ji namun sialnya Plasenta tersebut harus dari sang ibu dan ayah kandung dari Hyun Ji. Sedangkan sekarang, ayah bayi kecil ini tidak mau untuk bertanggung jawab.

 

 

 

 

 

………………………………………..

 

 

 

 

 

“Aaggkkhhh…..” Ryeowook mengacak rambutnya, keningnya mengkerut karena rasa beban itu bertambah memberatkan hidupnya akhir-akhir ini, kemana hidunya yang menyenangkan selama ini?

 

Ryeowook memandang langit-langit kamarnya, yang paling sangat membuatnya merasa frustasi saat ini hanya wajah wanita itu, wajah menangisnya yang memilukan dan menyakitkan, entah mengapa Ryeowook merasakan sesuatu yang aneh didalam benaknya, tapi… bertanggung jawab? Yang benar saja. Hal itu lah yang sangat ia benci saat ini, namun kesalahannya pula malam itu sehingga wanita tadi menderita. Jadi Ryeowook harus berbuat apa sekarang? namja ini lagi-lagi mengacak rambutnya dan memejamkan mata, mencoba untuk tertidur tanpa alkohol saat ini, mencoba menenangkan pikiran dan segalanya. Ia tahu jika sekarang ia adalah namja pengecut.

 

 

 

 

 

“Min Rin-ah”

“Eomma…” sahut Min Rin ketika dilihatnya tubuh ibunya berjalan mendekat, ia masih menangis, entah kapan air mata ini kering. Seo Moon memeluk dan merangkul tubuh kurus Min Rin, mengusap pelan punggung anaknya ini, memberi sejuta kekuatan yang ia miliki.

“Eottae?” tanya Seo Moon.

“Hyun Ji semakin parah, aku… ak.. aku harus … segera mempunyai anak”

“Ahh… bagaimana ini?”

“Eomma, sebenarnya aku sudah bertemu dengan ayahnya Hyun Ji”

“MWO!!? Jeongmal?”

“Tapi, dia `tidak mau bertanggung jawab”

“Kau bertemu dengannya dimana? Biar eomma yang memintanya untuk bertanggung jawab” ujar Seo Moon memegang kedua bahu Min Rin, namun wanita itu segera menggeleng dan menunduk lemas.

“Aku bertemu dengannya saat dia memeriksa keadaan Hyun Ji, mungkin ia dokter disini”

 

Seo Moon memandang Min Rin sendu, ia mengusap air mata Min Rin dengan ibu jarinya, lalu kembali memeluk wanita itu.

 

“Kita mempunyai kesempatan untuk memintanya membantu mu, dan uisa itu… pasti akan membantu” tutur lembut Seo Moon.

“Aku berharap dia uisa yang baik eomma”

“Nado” Seo Moon menangis, rasanya beban Min Rin sedikit membuatnya merasakah hal itu juga.

 

Musim gugur tak terasa sudah hampir pertengahan, membuat pohon Sakura dihalaman belakang Rumah sakit itu berguguran dan mulai mengering membentuk deburan bunga merah muda yang lembut. Min Ri memandang guguran itu dari jendela ruang Hyun Ji. Pikirannya melayang entah kemana. Namun yang pasti ia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk membuat ayah Hyun Ji akan membantunya menyelamatkan anak mereka, hanya itu.

 

Min Rin tersenyum, ia berbalik, berjalan menghampiri Hyun Ji, dan memegang tangan anaknya.

 

 

 

 

“Kau tidak melanjutkan liburan mu hyung?” tanya Kyu Hyun pada Ryeowook, mereka berjalan dilorong rumah sakit menuju ruang mereka masing-masing, namun Ryeowook sedari tadi hanya diam tak berbicara sedikit pun. Yahh.. pikirannya hanya wanita itu.

“Yakk hyung aku berbicara dengan mu..” Kyu Hyun mulai kesal tampaknya, namun setelah dirinya mengatakan hal itu, mendadak tubuh Ryeowook berhenti, membuat Kyu Hyun mengernyit bingung, dilihatnya mata Ryeowook yang memandang didalam ruangan pasien yang terbuka, Kyu Hyun pun mengikuti arah tatapan Ryeowook dan mulai mengerti.

“Ohh… ibu pasien dari si kecil Hyun Ji” ujar Kyu Hyun mengangguk, sontak membuat mata onyx Ryeowook membulat dan menatap Kyu Hyun.

“Kau mengenal mereka?” ujar namja ini terkejut.

“Ne.. bayi Hyun Ji pasien ku, kasihan dia”

“Kau.. ikut aku” titah Ryeowook berjalan cepat menuju ruangnya, namun Kyu Hyun menurut dan ikut berjalan dibelakang Ryeowook.

 

Blamm…

 

Pintu ruangan Kim uisa tertutup, Ryeowook lalu duduk disofanya dan menatap Kyu Hyun serius membuat namja tampan itu semakin tak mengerti.

 

“Jadi… siapa nama ibu anak itu?”

“Siapa? Ohh… ibunya Hyun Ji maksud mu?”

“Akhh.. cepatlah beri tahu aku”

“Arraseo.. arraseo.. nama ibu anak kecil itu Lim Min Rin, dan anaknya yang sakit itu Lim Hyun Ji”

“Anak kecil itu sakit apa?” Ryeowook mulai takut, bagaimana pun juga ia merasakan hal aneh dengan si bayi Hyun Ji.

Dan oke.. dia jujur, sebenarnya Ryeowook mulai khawatir dengan anak itu.

“Huftt… anak itu menderita Leukimia, dan sekarang sudah mulai parah, anak itu tak mungkin melakukan kemotrapi kan, jadi, agkhh… ibunya hanya menunggu anaknya untuk pergi”

 

Ryeowook mulai terperangah terkejut, timbul kerutan halus dikeningnya, ia menyandarkan tubuhnya disofa dan mengurut pelan keningnya yang terasa sangat sakit, ohh.. kenapa rasanya sangat tersiksa ketika mendengar anak itu menderita Leukimia?

 

“Kau kenapa hyung?”

“Bukankah cara cepat untuk menyelamatkan anak itu dengan plasenta bayi baru orang tua nya?”

“Hemm… aku tahu, tapi aku dengar, ibu bayi itu adalah single parents, jadi… dengan siapa dia akan melakukannya? Ayahnya saja tidak tahu pergi kemana”

“Ohh.. ya tuhan” Ryeowook memegang kepalanya, matanya terpejam, dibenaknya dia sangat kasihan, tapi apa benar anak itu bayinya? Tapi…

“Kau tahu hyung? Wanita cantik itu selalu menangis, aku jadi kasihan, coba saja ayahnya mau datang untuk membantu” ujar Kyu Hyun ikut menyandarkan bahunya disandaran sofa. Ditatapnya wajah Ryeowook yang entah apa yang ada dipikiran namja itu.

“Hyung? Kau kenapa? Ceritalah dengan ku” bujuk Kyu Hyun, namun Ryeowook masih tetap diam.

“Ck.. ya sudah lah.. aku pergi dulu, anyyeong” Kyu Hyun berdiri meninggalkan ruangan Ryeowook, mencoba untuk tak memperdulikan pemikiran namja yang tiba-tiba menjadi pendiam itu. Ryeowook lagi-lagi mengacak rambutnya frustasi.

“Aku sudah seperti mau gila” ujarnya.

 

Ia tak tahu harus mempercayai hatinya atau tidak tapi Ryeowook selalu berfikir kalau anak itu adalah anaknya. Kalau bukan, kenapa Min Rin harus meminta pertanggung jawaban darinya? Sungguh saat ini Ryeowook tak tahu harus berbuat apa, nafasnya terasa sesak dan perasaannya bercampur aduk. Memang benar jika Ryeowook merasa khawatir terhadap Hyun Ji tapi terutama kepada Min Rin, entah mengapa Ryeowook merasa ada sesuatu ditatapan mata wanita itu.

 

Ryeowook terlihat buru-buru berdiri dan membenarkan baju jas putih panjangnya lalu segera membuka pintu ruangannya.

 

Ryeowook berjalan pelan menuju ruang inap Hyun Ji kecil, hanya untuk memastikan hal apa yang sedang dilakukan oleh Min Rin dan setelah satu meter didepan pintu ruang inap itu, tiba-tiba keluar seorang wanita yang sudah pasti adalah Seo Moon, ia keluar dari ruangan dan sepertinya untuk membeli makanan untuknya, hal itu merupakan kesempatan Ryeowook untuk melihat Min Rin.

 

Perlahan Ryeowook mengintip dipintu, dilihatnya Min Rin sedang memandang wajah Hyun Ji dan mengusapnya pelan, ia kali ini tak menangis mungkin saja air matanya sudah habis ataupun ia dalam keadaan baik saat ini. Ryeowook terdiam sejenak, tanpa sadar ia terpesona dengan senyuman Min Rin dan suara senandung wanita itu, ia bernyanyi pelan untuk menidurkan Hyun Ji, memang dibenak Min Rin ia sangat takut melihat Hyun Ji tidur namun akan lebih baik jika gadis kecil berusia 10 bulan itu tertidur untuk sejenak.

 

Merasa ada yang melihatnya, Min Rin memandang kesamping dan tanpa ia sadari, sepertinya ia melihat wajah namja, namun namja itu segera berlari setelah Min Rin menoleh. Yahh.. ia yakin namja itu adalah ayah Hyun Ji, Min Rin segera berdiri, mengejar seseorang yang melihatnya dibalik pintu. Saat membuka pintu, Seo Moon sudah berada disana namun Min Rin tak mengubris teriakan Seo Moon dan terus mengejar orang itu, ia melihat baju putih yang berlari dan mungkin itu adalah Ryeowook.

 

Ryeowook yang cukup terkejut keberadaannya disadari oleh Min Rin, segera bergegas menuju ruangannya, menutupnya pelan lalu segera duduk dikursi besarnya, ia menarik nafas sejenak namun…

 

Ceklekk…

 

“Eo..eoh..” Ryeowook seketika melemas, dilihatnya tatapan Min Rin, air mata wanita ini kembali mengalir.

“Tuan..” ujar Min Rin, Ryeowook pun berdiri, namun tatapannya tak dapat digambarkan.

“Aku mohon..” ujar Min Rin menunduk, dirinya tanpa aba-aba berlutut dan terus menunduk, bahunya bergetar, air matanya membasahi wajah dan bajunya, wanita ini memang benar-benar pasrah, ia sanggub menjadi rendah hanya untuk keselamatan Hyun Ji.

“Aku mohon, bantu aku menyelamatkan anak ku” tutur Min Rin lagi, Ryeowook memang sudah tahu apa yang dimaksud wanita itu, namun pikirannya masih sangat kacau, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Saat itu juga suasana hening, hanya suara tangis Min Rin yang terdengar.

 

“Geurae.. baiklah.. kau tak harus menikahi ku, tapi tolong aku” akhirnya wanita ini menatap mata Ryeowook yang kembali menjadi shok. Wanita ini rela menjadi wanita kotor, yahh.. ia rela. Min Rin berdiri dengan tubuh yang bergetar.

 

“kau.. yakin?” akhirnya suara Ryeowook terdengar, Min Rin lalu mengangguk lemas menanggapi pertanyaan bodoh Ryeowook, yang benar saja? Harga diri dipertaruhkan disini.

Dengan langkah ragu Ryeowook melangkah mendekat kearah Min Rin. Memang benar, Ryeowook sudah menetapkan hatinya untuk keputusannya yang akan menjawab pertanyaan yang berada dibenaknya.

 

Namja ini mendekat kearah Min Rin. Memegang tangan kanan wanita yang bergetar dan terus mengeluarkan air mata ini, namja ini menariknya hingga kakinya menyentuh sofa, perlahan Ryeowook membalikkan tubuh mereka, dan mendorong tubuh Min Rin pelan hingga wanita ini terduduk disofa. Kaki sebelah kiri Ryeowook menumpu diatas sofa, kedua tangannya, memegang sandaran sofa itu dan tubuhnya pun perlahan mendekat kearah tubuh Min Rin, menghapus jarak diantara wajah Ryeowook dan juga Min Rin.

 

Min Rin memilih untuk terpejam saat itu juga.

“Maafkan eomma, Hyun Ji”

Tiba-tiba Ryeowook mendengar suara bisikan Min Rin dan seketika itu juga, namja ini menjauhkan wajahnya dan melangkah mundur satu langkah.

“Tidak, aku tidak bisa” Ryeowook berucap kala itu.

 

Min Rin membuka matanya, ia menatap wajah Ryeowook sendu, jadi… harus bagaimana?

 

“Tuan..” gumam wanita itu, Ryeowook segera memegang tangan kanan Min Rin, ia tersenyum, mendapati wanita didepannya ini, ternyata Min Rin bukanlah perempuan biasa yang selama ini ia ketahui tentang seorang wanita, Min Rin adalah perempuan yang berbeda.

“Besok, kita menikah” Ryeowook tersenyum.

 

TBC~

 

Aneh?

Tapi yg udh terlanjur baca harus like dan komen ya….

Advertisements

One thought on “Poor My Baby – Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s