Difficult Pregnancy – Part 2-END

Genre          : Romance

Length         : Two shoot

Rated          : 15

Cast            : – Lee Haerin

–          Kim Ryeowook

–          Other Cast

Author         : Ririn Kim

Twitter       : @Rinriza

Fb               : Rizza Ramadhani Elf

 

FF ini murni dari pertapaan author, kalau ada persamaan cerita atau karakter, itu bukan kesengajaan, mohon maaf. ff ini udah lama dibuat, jadi maklum deh kalau ceritanya gak relevan sama masa sekarang dan udha lama dipost di wpku 😀 Watch Out!! Typo bertebara n 😀 Happy read ^^

Ryeowook POV

Akhirnya latihan selesai dan aku harus bersiap-siap pada aktivitas berikutnya. Pikiranku tidak bisa terlepas dari istriku Haerin. Apa aku terlalu kasar padanya tadi? Apa aku menyakiti perasaannya? Lalu apa pergelangan tangannya sudah baikan? Aish…. Aku memang keterlaluan. Tidak seharusnya aku berkata sekasar itu padanya tadi. Dia pasti marah besar padaku. Para kru benar, harusnya aku memahaminya, dia sedang mengandung anakku dan usianya masih sangat muda untuk mengandung anakku, dia pasti mengalami masa-masa sulit dan jadi lebih sensitive. Harusnya aku menjaganya dan bersabar menghadapinya, bukan membentaknya seperti tadi. Tapi rasanya sekarang aku ingin mengulang kejadian tadi, dia menciumku di depan semua orang. Akhirnya dia melakukannya juga, sudah lama aku menanti saat-saat seperti itu. tapi aku keterlaluan, bukannya senang, eh malah memarahinya. Lebih baik aku menghubunginya untuk meminta maaf. Aku keluarkan ponselku dari saku celana lalu meneleponnya.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”

Mwo? Dia mematikan ponselnya? Aish.. dia pasti benar-benar marah. Rasanya ingin segera pulang ke rumah, tapi kegiatanku masih padat.

*************

Setelah siaran, aku langsung melajukan mobilku menuju apartemen tanpa memperdulikan ajakan Henry yang mengajakku minum bersama. Sebelum sampai di rumah, aku sempatkan membeli sebuket mawar merah jambu dan makanan kesukaannya.

“Chagiya… aku pulang..!!!” teriakku saat memasuki apartemen, namun tidak ada jawaban.

“chagiya.. eoddiseo? Chagiya? Suamimu yang paling tampan se asia sudah pulang..” tetap tidak ada jawaban. Aku mencarinya di kamar, mungkin sudah tidur. Dia tidak ada, di kamar mandi, di dapur, balkon, dan semua ruangan di apartemen, dia juga tidak ada. Di mana dia sebenarnya? Aigoo.. apa dia pulang ke rumahnya? Aku langsung menghubungi ahjuma yang bekerja di rumah eomma mertua, karena kalau menghubungi mertuaku dan ternyata Haerin tidak ke sana, mertuaku akan panic.

“Yoboseyo… ahjuma, apa istriku ada di sana?”

“Ani Tuan, dia sama sekali tidak ke sini.”

“Benarkah? Aish… kalau dia di sana, tolong beritahu aku ya, tapi jangan katakan pada eomma mertua kalau aku mencarinya.”

“Ne tuan.” Gawat. Dia tidak ada. Aku mencoba menghubungi ke rumahku, dia juga tidak ada. Aku menghubungi semua teman-temannya, namun tidak ada yang tahu kemana dia.

“chagiya…. Kau dimana ? mianhae chagiya.. jebal kembalilah..” lirihku sambil memijat keningku.

 

Haerin POV

Akhirnya aku sampai di pegunungan Bukhansan, tempat favoritku sejak dulu. Tempat yang tenang dan benar-benar bisa membuat suasana hatiku tenang.

 

“Sayang eomma.. kita di sini saja ya. kan kata appa kita pengganggu, kita pergi jauh saja dari appa ya. kita buktikan pada appa kita bisa tanpa appa, ne?” ucapku sambil mengelus perutku lembut. Setelahnya aku mulai menurunkan barang-barangku, membangun tenda, dan menyiapkan perlengkapanku yang lain. Aku berbaring di dalam tenda dengan pintu tenda yang terbuka. Udara di sini segar sekali. Hah… menyebalkan, kenapa harus teringat pada kata-kata Ryeowook padaku siang tadi? Tanpa ku komandoi, air mataku menetes. Rasanya tidak pernah sesakit ini. Dia jahat, benar-benar jahat.

Hari sudah mulai larut, aku memutuskan duduk di ambang pintu tenda dengan sebelumnya menghidupkan api unggun kecil. Sebenarnya aku membawa lampu, hanya saja cahaya yang seperti ini entah kenapa membuatku lebih tenang. Aku memandangi bintang di langit, cahaya mereka yang bagaikan mutiara berserakan di langit membuat suasana nyaman tersendiri. Semoga saja anakku bisa merasakan kenyamanan yang sama seperti yang sedang aku rasakan ini. Aku tidak merencanakan akan tinggal berapa lama di sini, aku benar-benar senang berada di sini. Dia tidak akan mencariku, ne, Ryeowook oppa tidak akan mencariku. Aku yakin itu, karena dia sendiri yang mengatakan aku adalah pengganggu. Malam sudah semakin larut dan rasa dingin semakin menusuk ke tulang. Aku putuskan menutup tendaku dan membaringkan diri di dalam sleeping bag agar anakku tidak kedinginan di dalam.

“Jaljayo sayang..” aku mengecup telapak tanganku lalu meletakkannya di perutku, dan setelahnya aku membawa diriku ke alam mimpi.

 

Ryeowook POV

Sudah tiga hari istriku Haerin menghilang, dan selama itu juga lah aku kehilangan fokusku pada pekerjaan. Pekerjaanku jadi terasa 5x lebih berat dibandingkan hari-hari yang lain karena harus memberiikan fokus yang lebih dalam setiap pekerjaan. Aku juga berbohong pada eomma dan hyungdeul. Mereka bertanya padaku kenapa Haerin tidak bisa dihubungi. Aku katakan pada mereka ponselnya rusak dan aku selalu lupa menyampaikan pada Haerin untuk menelepon kembali ketika aku sudah pulang. Kalau mereka tahu Haerin menghilang, habislah aku. Tapi aku tidak bisa begini terus, aku harus bertanya pada oppanya, siapa tahu mereka tahu kemana Haerin pergi biasanya.

Donghae hyung terlihat sedang berlatih dance dengan hyuk hyung di ruang latihan SM. Aku tahu ini gila bertanya pada mereka berdua sekaligus, mengingat betapa mereka menjaga Haerin dengan baik.

“Hm… Hyung, maaf mengganggu. Ada yang ingin aku tanyakan.” Tanyaku hati-hati.

“Mwo? Kami sedang latihan. Kau tidak lihat?” kata Hae Hyung dan mereka tetap melanjutkan aktivitasnya.

“Tapi ini sangat penting. Ini tentang Haerin.” Mereka langsung berhenti.

“Mwo? Ne baiklah. Sini duduk.” Mereka duduk di tempat mereka latihan tadi dan aku mengikuti mereka duduk.

“Kenapa Haerin? Kau apakan dongsaeng  angkatku?” tanya Hyuk Hyung.

“mm…. Hyung ah, mianhae.. Haerin.. Haerin menghilang.”

“MWO????” Mereka berdua terkejut.

“Kenapa bisa begitu??? Kau apakan dia??” tanya Hae Hyung yang sepertinya err…marah.

“aku membentaknya kemarin, lalu dia pergi dan ketika aku pulang dia sudah tidak ada. Aku cari ke rumah eommaku, eomma mertua, rumah haraboji yang di gangnam, dia tidak ada. Aku juga sudah menghubungi chingu-chingunya tapi tidak ada yang tahu dia kemana.” Jelasku dengan nada menyesal. Aku lihat kedua hyungku menghela nafas.

“Yasudah tidak apa-apa. Biar dia menenangkan diri dulu. Nanti juga pulang. Kalau tidak pulang selama seminggu, biar aku yang menjemputnya.” Kata Hae enteng.

“MWO?? Tidak apa-apa kau bilang???? Dia sedang mengandung anakku, Lee Donghae!!” Bentakku dan seketika itu juga dia memukul kepalaku.

“Ya! Panggil aku hyung! Dasar tidak sopan!”

“Ne, biarkan saja dulu dia. Kalau hamil memangnya kenapa? Sebenarnya kau khawatir pada yodongsaengku atau anakmu sih???” tanya Hyuk Hyung.

“Neo micheyoseo? Tentu saja keduanya. Aku tidak bisa hidup tanpa Haerin!!”

“Kau payah sekali, sudah hampir setahun kau bersamanya, tapi tidak tahu kemana dia pergi. Payah, benar-benar payah..” Hyuk menggelengkan kepalanya. Sial, berarti kedua namja tengik ini tahu dimana istriku.

“Di mana dia? Jebal beritahu aku hyung… jebaaaaaaaaaaal…………..” pintaku sedikit memaksa.

“Kau benar-benar mau tahu? Hahahahahahaha… tidak ada yang gratis di muka bumi ini Kim Ryeowook.” Kata donghae Hyung sambil memainkan kukunya. Mereka ini benar-benar…..

“Ya!! Kalian masih bisa bercanda di saat seperti ini?! Palli katakan!!” Paksaku.

“Aish… kan Hae sudah bilang, tidak ada yang gratis di muka bumi ini Kim Ryeowook.” Sambung Hyuk Hyung dengan wajah yang benar-benar menyebalkan.

“Ne ne ne… baiklah. Apa yang kalian inginkan?” tanyaku ngotot dan mereka langsung menunjukkan senyuman evil mereka yang benar-benar memuakkan.

“hahaahahahaha… traktir saja kami makan, di restoran Italy, itu sudah cukup. Tapi yang VIP ya..” Hyuk hyung… kau benar-benar menyebalkan.

“Ne, baiklah. Kalau begitu di mana Haerin?” tanyaku tidak sabar.

“Cari dia di daerah pegunungan Bhukansan. Dia pasti di sana, dia selalu melarikan diri ke sana kalau sedang marah atau sedih.” Jawab Hae Hyung.

“Dia camping??? Aish.. Haerin Kim… kau ini benar-benar. Yasudah, aku pergi dulu.”

“Heh!!!!!! Jangan memarahinya, kalau kau berani memarahinya, kau berurusan denganku.” Ucap Hyuk hyung. Aku langsung pergi tanpa meng-iyakan kata-katanya.

 

Author POV

Haerin sedang menyeduh ramen untuk makan malamnya sambil menikmati udara malam yang sejujurnya begitu menusuk ke tulang, tapi dia menggunakan sweater yang sangat hangat saat ini.

“Sudah matang.. kajja kita makan sayang..” ucapnya sambil menyetuh perutnya.

“Jangan makan itu. itu tidak sehat.” Haerin terkejut, dan ketika melihat ke sumber suara ternyata Ryeowook sudah duduk di ambang pintu tenda. Ekspresi  Haerin yang tadinya bahagia langsung berubah 180 derajat. Haerin mengurungkan niatnya untuk kembali ke tenda, dia lebih memilih duduk di dekat api unggun dengan tubuh membelakangi Ryeowook tetapi menghadap ke api. Dengan lahab disantapnya mi ramen yang sudah sedari tadi diseduh.

“Enak ya nak? Benar-benar lezat.”

“sudah aku bilang jangan makan itu.” Ryeowook menghampirinya dan merampas ramen dari tangan Haerin.

“Kau tahu, mengganggu orang yang sedang makan itu tidak sopan. Kembalikan makananku.” Ucap Haerin dingin.

“ini, makan ini. Ini jauh lebih bergizi dari ramenmu. Kau harus makan ini, aku yang masak.” Ryeowook menyerahkan kotak bekal makanan pada Haerin.

“Apa hakmu mengaturku?” tanya Haerin dingin tanpa sedikitpun melihat kea rah Ryeowook. Ryeowook merasakan sesuatu menghantam jantungnya seketika.

“Chagiya.. aku tidak mengaturmu, aku hanya ingin menjaga pola makanmu. Kau sedang mengandung anak kita, kau ingat?” ucapnya hati-hati dan mulai mengambil posisi duduk di samping Haerin.

“Cih. Siapa yang kau panggil Chagiya tuan? Kau bilang apa tadi? Anak kita? kapan aku punya anak denganmu? Bahkan suamipun aku tidak punya. Anak ini.. anak ini tidak punya Appa. Appanya tidak menginginkan kehadiran kami, karena kami dianggap pengganggu. Aku sudah putuskan merawat anakku ini sendiri. Jadi.. jangan mengakui ini anakmu. Aku bahkan tidak tahu kau ini siapa.” Haerin memegang perutnya saat mengatakan itu, lalu segera beranjak meninggalkan Ryeowook namun Ryeowook menahan tangannya.

“Aku tidak serius pada kata-kataku waktu itu. itu hanya karena aku terbawa emosi. Mianhae chagiya, jeongmal mianhae.” Ucap Wook lirih.

“Ah…. Terbawa emosi? Lantas karena terbawa emosi bisa menyakiti orang sesukamu? Oh iya, memangnya kau pernah mengatakan apa padaku? Bahkan ini pertama kalinya kita bertemu. Lepaskan tanganku.”

“Haerin jebal… mianhae.. aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Tapi aku bisa hidup tanpamu. Jadi apa masalahnya?” Serasa ribuan Kristal es menyerang tubuh Ryeowook, dia pun langsung melepaskan tangan Haerin dan Haerin langsung melangkah pergi meninggalkan Ryeowook yang terdiam di tempat. Sedetik kemudian Ryeowook bangkit dari duduknya, ia menghampiri Haerin dan segera memeluk Haerin dari belakang seerat yang dia bisa. Haerin terdiam. Jujur pelukan ini adalah pelukan yang begitu ia rindukan beberapa hari ini, tapi hatinya terlalu sakit untuk membalikkan badan dan membalas pelukan Ryeowook.

“Mianhae.. jeongmal mianhae.. kau tahu, aku tidak pernah berniat menyakitimu, tidak ada yeoja lain yang aku cintai. Walaupun aku mencium luna di drama itu, itu hanya sekedar ciuman, tidak pernah ada perasaan, hanya tuntutan peran. Setiap malam aku tidak bisa tidur karena tidak mendengar suaramu, tidak mendengar omelanmu, tidak melihat wajahmu, tidak merasakan pelukanmu, aku hampir gila karena kehilanganmu. Sejak aku memutuskan untuk mencintaimu, segala yang aku lakukan selalu berpusat padamu, setiap detik waktuku hanya untuk memikrkanmu. Aku mohon.. kembalilah..” Haerin berusaha tegar dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air matanya.

“Sudah? Atau ada lagi kebohongan yang ingin kau katakan? Artis dimana-mana sama saja. Kalau tidak ada lagi, aku mau tidur. Oiya, tendaku walaupun kelihatannya besar, tapi tidak cukup untuk kita berdua. Tidur saja di mobil, aku tidak mau menghabiskan malamku yang tenang dengan pembohong sepertimu.” Ucap Haerin dengan nada yang masih sama. Ryeowook segera membalikkan tubuh Haerin dan langsung menciumnya tepat di bibir. Haerin hanya bisa terdiam, air matanya menetes. Ryeowook memeluknya erat agar Haerin tidak bisa melepaskan diri. Haerin tetap diam dengan air mata yang semakin deras keluar. Setelah beberapa saat Ryeowook akhirnya melepaskan ciumannya dan menatap mata Haerin. Hatinya sakit, benar-benar sakit karena harus melihat yeoja yang paling dicintainya menangis. Haerin me-lap bibirnya dengan punggung tangannya beberapa kali.

“Bibirmu kotor, bibirmu bekas yeoja lain. Masih berani menciumku. Dasar tidak tahu malu.” Ryeowook benar-benar syok mendengar kata-kata haerin dan hanya bisa membiarkan Haerin memasuki tendanya. Haerin langsung mengunci pintu tendanya dan air matanya seketika itu juga mengalir sederas-derasnya.

Dia tidak bisa tidur, hanya bisa duduk s      ambil memeluk lututnya. Pikirannya tidak bisa lepas dari Ryeowook. Dia memberanikan diri mengintip Ryeowook dari jendela tenda, dan terlihat olehnya Ryeowook tertidur di atas rumput tanpa mantel.

“Namja babo. Udara sedingin ini kenapa tidak memakai mantel?” Haerin mengambil selimutnya yang paling tebal kemudian keluar dari tenda dengan mata yang sangat sembab akibat menangis berjam-jam. Dihampirinya Ryeowook lalu ditutupinya tubuh Ryeowook yang meringkuk kedinginan dengan selimut yang ia bawa.

“Aish.. ini tidak akan banyak membantu. Oppa… ireona.. pindahlah ke tenda, di sini dingin.” Haerin memberanikan diri mengguncangkan sedikit badan Ryeowook. Ryeowook membuka matanya dan tersenyum kepada Haerin.

“Kau sudah memaafkanku?” dia pun duduk menghadap Haerin.

“Aku bilang pindah ke dalam. Aku tidak mengatakan aku..hmpp..” Ryeowook segera membungkam Haerin dengan mencium bibirnya. Haerin langsung mendorong tubuh Ryeowook agar menjauh dan melepaskan ciumannya.

“aku kan sudah bilang bibirmu itu bekas..”

“Bekas istriku. Aku kan tadi menciummu, berarti bibir yang sekarang ini bekas bibir istriku. Tidak boleh dihapus, ara?” Haerin menghela nafas.

“Kajja, di sini dingin. Anak kita bisa kedinginan.” Haerin berusaha tersenyum di akhir kata-katanya, Ryeowook menurut dan akhirnya mengikuti Haerin masuk ke dalam tenda. Mereka duduk berdampingan di dalam tenda, sunyi.. tidak ada yang saling membuka suara.

“Oiya, bekal yang kau bawakan tadi sudah aku makan. Tadi aku lapar, ramenku kan sudah kau buang.” Haerin berusaha mencairkan suasana.

“ne, gwencana. Sudah seharusnya seperti itu. hm.. chagiya, apa kau sudah memaafkanku?” Ryeowook melihat kea rah Haerin yang sama sekali tidak melihat ke arah Ryeowook.

“mollayeo.. kata-katamu masih terngiang di otakku. Sakit wook, benar-benar sakit.”

“Ne, aku tahu. Aku benar-benar keterlaluan, seharusnya aku tidak mengatakan kata-kata yang tidak pantas dikatakan oleh suami kepada istrinya, harusnya aku bisa memahamimu, tentu tidak mudah bagimu hamil di usia semuda ini. Aku yang bodoh, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal.”

“karena kau babo, makanya bisa begitu. Yasudah jangan dipikirkan lagi.” Haerin tersenyum sambil menepuk pipi Ryeowook agak keras.

“Sakit Chagi..”

“biarin, biar kita impas,hahahahaha.” Ryeowook tersenyum, akhirnya ia bisa melihat tawa Haerin lagi.

“Jadi.. besok kita pulang ke Seoul kan Chagi?”

“Ha? Kenapa pulang? Tinggallah sehari lagi di sini, aku mohon..” Haerin memasang wajah memelasnya.

“Tapi chagiya… aku kan harus kerja, aku juga harus latihan..” Kata Wook sambil mengelus rambut Haerin lembut.

“Yasudah. Pulang lah ke Seoul besok. Aku mau di sini.” Haerin masuk ke dalam sleeping bagnya dan berbaring membelakangi Wook. Wook hanya bisa menghela nafas dan akhirnya mengalah.

“Ne, baiklah. Kita sehari lagi di sini ya..”

“Jinja? Kalau begitu matikan ponselmu. Aku tidak mau acara camping kita terganggu.” Haerin membalikkan tubuhnya menghadap Wook.

“Ne.” Ryeowook tersenyum lalu mematikan ponselnya.

****************

Mereka sudah kembali ke Seoul. Haerin langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan langsung terlelap tanpa melepaskan mantelnya. Ryeowook sibuk membereskan barang-barang yang dibawa kabur oleh Haerin dan ketika semuanya sudah selesai, dia bergegas ke kamar dan terlihat olehnya haerin yang sudah terlelap tanpa mengganti pakaiannya.

“Ckckck.. pasti dia sangat lelah..” Ryeowook mengambil pakaian Haerin di lemari kemudian menggantikan pakaian Haerin. Haerin tentu saja tidak bergeming karena dia tidur seperti orang mati, tidak akan sadar apa-apa. Setelahnya, ia membersihkan diri kemudian pergi kerja.

 

 

Haerin POV

Entah siapa yang mengirimiku tiket pertunjukan drama musical Ryeowook. Dasar tidak berguna, sampah seperti ini dikirim padaku. Apa maksudnya? Antis benar-benar kacau, setiap hari mereka memberikan foto Ryeowook yang beradegan mesra dengan yeoja lain di drama musical, mereka mengirim foto-foto tersebut ke akun twitterku, bahkan mereka mengirimi link videonya. Bahkan aku terpaksa mengganti nomor ponselku karena entah siapa, selalu mengirimiku foto ciuman ryeowook melalui MMS. Lelah sekali menghadapi semua ini, tapi setiap aku menceritakan ini pada Ryeowook, dia hanya bilang ‘kalau begitu jangan buka twitter.’ Bagaimana pun aku berusaha untuk tidak menunjukkan kecemburuan ataupun kemarahanku padanya, aku tidak mau mengganggu pekerjaannya. Akibat ini semua, aku jadi tidak fokus pada tugas kuliahku dan sering sekali demam karena kelelahan harus mengerjakan tugas dengan ekstra konsentrasi dan tidak bisa ku hindari, air mataku selalu menetes kala teringat pada foto ciuman si Wook. Tapi aku tidak pernah mengatakan pada Wook kalau aku sering sakit belakangan ini, aku tidak mau mengganggu pekerjaannya karena konsentrasinya harus terpecah padaku, kalau wajahku pucat, aku selalu menutupinya dengan lipice. Sebisa mungkin aku hindari membuka segala hal tentang Wook yang membuatku cemburu.

Belakangan ini orang-orang sering mengirimiku fakta kedekatan Luna dan Ryeowook, mulai dari artikel, foto sampai video-video kedekatan mereka, aku menghindari tapi terkadang juga penasaran, jadi aku buka. Sakit sekali rasanya sebenarnya, tapi yasudah lah. Ini juga kesalahanku, kenapa aku membuka kiriman-kiriman itu.

“Yeobo… aku ingin jalan-jalan ke taman, bisa temani aku?” tanyaku pada Wook yang sudah mulai memejamkan matanya.

“kapan? Kalau besok aku tidak bisa, aku harus perform chagi, lalu latihan untuk super show Tokyo.”

“kalau besoknya lagi? Aku benar-benar ingin jalan-jalan ke sana yeobo.. permintaan bayi kita..”

“Mian chagiya, aku ada pementasan. Mian ya.. kalau besoknya lagi eottoke? Sore hari akan aku kosongkan jadwalku.” Kini dia membuka matanya dan menghadap ke arahku.

“kita ada janji dengan dokter, lagi pula kau akan berangkat ke jepang besoknya kan?”

“gwencana, kita pergi sebentar, ne? sekarang tidurlah, kau harus istirahat.” Dia mencium keningku, sudah satu minggu tidak dia lakukan.

“Haerin, kau membohongiku ya? aku sudah curiga dari awal, kenapa kau tiba-tiba suka pakai lip ice bahkan saat akan tidur, kau sakit? keningmu hangat saat ku cium.” Kini dia duduk dan melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan, antara marah dengan khawatir. Aku hanya bisa diam, menahan air mataku agar tidak menetes, aku tidak mau mengganggunya dengan segala kegundahanku.

“Kenapa membohongiku? Kau sedang sakit, kenapa tidak memberitahuku? Kau pikir kau sekuat itu? tidak perlu perawatanku lagi?eoh?”

“jangan marah.. kalau sudah tau aku sakit, jangan semakin dimarahi. Aku kuat kok, lagi pula kalau aku mengadu padamu, apa yang bisa kau lakukan? Menonton tv denganku saja sudah tidak sempat. Yasudah, tidurlah, besok aku kan kuliah,, jadwalmu juga full kan? Kajja tidur, jaljayo..” aku terus menahan air mataku dan tersenyum di akhir kata-kataku. Dia tetap melihat ke arahku dengan tatapan yang kini sepertinya antara marah dan menyesal. Aku tidak peduli dan hanya memejamkan mataku dan memaksakan diriku untuk tidur.

 

Ryeowook POV

Apa yang sudah aku lakukan sebenarnya? Kenapa bisa lalai mengawasinya? Kecintaanku pada pekerjaan membuatku lupa bahwa ada seseorang yang saat ini benar-benar butuh perhatianku. Aku selimuti tubuhnya lalu turun mengambil ipadnya. Aku membuka akun twitternya dan terkejut melihat apa yang dikirimi fansku padanya. Apa ini juga jadi salah satu faktor yang membuat dia jadi sakit begini? Kasihan istriku. Aku kembali berbaring di sampingnya dan memperhatikan wajahnya yang sudah terlelap. Aku lupa kalau yeoja kuat yang ada di hadapanku ini juga yeoja yang lemah yang harus aku lindungi. Aku peluk tubuhnya hangat di dalam dekapanku.

“Aku akan lebih menjagamu, aku janji.” Aku kembali mencium keningnya dan tidur.

 

Haerin POV

Aku tersenyum sambil memoleskan lip ice pada bibirku, aku tatap wajahku di cermin.

“Tidak begitu buruk..” ucapku sambil tersenyum lalu mengelus perutku yang sudah membuncit.

“Sayang… hari ini kita jalan-jalan sama appa, appa udah janji akan menemani kita jalan-jalan dan memeriksakanmu ke dokter sayang, anak eomma senang? Kita hubungi appa dulu ya..” aku raih ponselku dan menghubungi namja tercintaku.

“Yoboseyo chagiya…” ucapnya dari seberang sana.

“Yeobo wook babo.. kau tidak lupa kan kita ada janji? Sudah jam 4, aku sudah siap, jangan terlambat menjeputku ya..” aku tersenyum, rasanya tidak sabar ingin pergi dengannya.

“mwo? Aigoo.. mian chagiya, aku lupa sore ini harus perform di kbs. Mian ya sayang, jeongmal mianhae, bagaimana kalau pergi dengan Henry? Aku akan memintanya menemanimu.” Wajah senangku langsung berubah jadi sedih, selalu begini, selalu harus mengalah pada pekerjaannya.

“Geurae? Mm…. tapi kan kau sudah janji..”

“Ne, tapi aku benar-benar tidak bisa, maafkan aku.. gwencana?” suaranya agak menyesal.

“mm.. kalau begitu aku pergi dengan Sungha saja, nan gwencana yeobo.. bekerjalah dengan baik.”

“ne… sudah dulu ya, sudah mau berangkat, saranghae..”

“nado..” aku putuskan sambungan 2 arah tersebut dan lagi-lagi aku kehilangan diriku yang selalu tegar. Air mataku menetes lagi.

“sayang.. kita pergi berdua saja ya, appa sedang sibuk,, tapi appa janji akan menemani kita kok nanti. Jangan sedih ya anak eomma..” ucapku sambil mengelus perutku. Aku lap air mataku lalu memutuskan pergi sendirian.

 

Author POV

Haerin pergi dan menyetir sendirian hingga larut malam. Setelah memeriksakan kandungannya ke dokter, dia memutuskan untuk jalan-jalan ke taman dan ke tempat-tempat yang bisa membuatnya tenang tanpa dia sadari ada yang mengikutinya. Sambil menyetir, sesekali dia melihat ke ponselnya.

“Hebat kim ryeowook, tidak menghubungiku? Lain kali menikah saja dengan pekerjaanmu, jangan menikah dengan yeoja pilihan eommamu.” Ucap Haerin pada ponselnya. Tiba-tiba 2 buah mobil menghadangnya dan beberapa orang yeoja turun. Haerin yang marah karena hampir kecelakaan gara-gara mereka pun langsung turun tanpa mengenakan mantelnya.

“Ya!!!!! kalian gila ya? mau membunuh orang??? Belum pandai menyetir??” ucapnya sambil menghampiri mereka.

“Ya! hanya begini Lee Haerin?? Rendah sekali selera wook oppa. Kami peringatkan kau, jangan seenaknya pada Ryeowook oppa, masih untung dia mau menikah denganmu. Dasar yeoja tidak tahu diri, bisanya menyusahkan Ryeowook oppa dan membuat fansnya sedih.”

“O.. aku mengerti, kalian antis? Ckckck… kasihan sekali suamiku punya fans seperti kalian. Dengar, aku minta maaf kalau kalian terganggu pada kehadiranku,aku benar-benar minta maaf, aku tidak tahu kalau menyetujui perjodohan akan menyakiti kalian semua, jeongmal mianhae.. aku janji tidak akan menghalangi apapun pekerjaan ryeowook. Kalau begitu, izinkan aku pergi, jangan mengikutiku lagi, aku sedang hamil, jebal..”

“ne, pergilah.. pergi sana pakai kakimu, hahahahaha…” yeoja-yeoja tersebut segera kembali ke mobil masing-masing.

“Ya!! apa maksud kalian?” mereka meninggalkan haerin tanpa memperdulikan pertanyaan Haerin dan tanpa Haaerin ketahui, seseorang dari mereka masuk ke mobil Haerin dan membawa pergi mobilnya.

“Ya!!!!!!! kembalikan mobilku!!!! Dasar pencuri!! Ya!!!!!!!!!!!” Haerin berusaha mengejar mobilnya namun tenaganya tidak cukup kuat untuk mengejar, lagi pula dia ingat pesan dokter, dia harus menjaga kandungannya. Buru-buru ia keluarkan ponselnya dan menelepon Ryeowook, namun tidak ada jawaban, ia menghubungi lagi dan terus seperti itu hingga 20 x. tubuhnya kini bergetar karena kedinginan. Dia tidak mau menghubungi eommanya untuk menjeputnya karena khawatir eommanya akan memarahi Ryeowook kalau tau membiarkannya pergi sendiri. Dia semakin tidak tahan, tubuhnya semakin kedinginan dan bibirnya membiru. Dia kembali menghubungi Ryeowook namun tetap tidak ada jawaban. Dia terus berusaha bertahan dan berjalan mencari halte namun sudah hampir sejam mencari, halte tetap tidak terlihat, dan sialnya dompetnya tertinggal di mobil. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia kembali menghubungi Ryeowook.

“Yoboseyo chagiya… mian ya, aku tidak memegang ponselku dari tadi. Kau dimana? Sudah pulang?”

“Yeo..bo… jeput aku..” suara Haerin bergetar.

“Chagiya? Gwencana? Kau di mana?? Chagiya??” Belum sempat menjawab pertanyaan Ryeowook, Haerin sudah terjatuh dan pingsan. Ryeowook panic. Ia langsung mengambil kunci mobil dan meminta hyungnya untuk membantunya mencari haerin. Segera ia masuki mobilnya dan melajukannya membelah jalanan seoul yang begitu dingin. Sudah dua jam ia mencari, namun belum juga menemukan istrinya hingga ia teringat sesuatu.

“Taman. Ne, dia pasti ke sana.” Gumamnya lalu segera melajukan mobilnya menuju taman yang ingin Haerin kunjungi. Ia menelusuri jalan di sekitar taman pelan-pelan dan  menghentikan mobilnya saat menemukan kerumunan orang-orang di pinggir jalan. Dia langsung turun dari mobilnya dan langsung menghampiri orang-orang tersebut. Dia begitu terkejut saat melihat siapa yang sedang dikerumuni oleh orang-orang tersebut. Dia tidak kuasa menahan air matanya dan segera menggendong Haerin ke mobilnya.

“Chagiya… bertahanlah.. aku mohon..” Ryeowook langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Begitu tiba di rumah sakit, Haerin langsung dibawa ke ruang icu dan ditangani oleh dokter. Ryeowook tidak bisa tenang, air matanya tidak bisa ia tahan untuk tidak mengalir.

“mian tuan. Anda kerabat dari nona kim Haerin? Dokter ingin bicara.”

“ah ne, aku suaminya. Apa istriku baik-baik saja?” tanyanya panic.

“Kajja, saya antar ke ruangan dokter, agar dokter yang menjelaskan.” Ryeowook mengikuti suster tersebut ke ruangan dokter.

“Bagaimana istriku? Dia tidak apa-apa kan? Anak kami tidak apa-apa kan?? Palli jelaskan padaku.” Tanyanya panic.

“tenang dulu tuan, istri anda sudah aman, tidak sampai kritis. Dia hanya kedinginan, dan sekarang demam tinggi. Tapi kami sudah tangani. Sekarang ini masih belum sadar, biarkan dia istirahat dulu. Kami sudah memindahkannya ke ruang rawat. anda bisa menemuinya di sana. Kandungannya.. kalau saja anda tadi terlambat membawanya, anak anda mungkin tidak bisa diselamatkan karena kondisi eommanya yang begitu lemah, tapi sekarang ini masih bisa diselamatkan. Anda harus lebih ketat menjaganya.”

“Jeongmal gomawo dok, kalau begitu, aku temui istriku dulu, jeongmal gomawo..”

Ryowook POV

Aku tatap wajah pucatnya, senyum cerianya pudar dari pandanganku. Haerinku terbaring lemah saat ini, ini karena aku. Aku mengingkari janjiku untuk menjaganya. Aku hampiri tubuhnya dan menggenggam tangannya.

“Chagiya… ireona.. aku di sini..” ucapku dan kembali, air mataku tidak bisa aku bendung. Aku marah, benar-benar marah pada diriku yang tidak bisa menjaganya. Pekerjaanku membuat aku lupa bahwa dia, yeoja lemah yang ada di hadapanku ini membutuhkanku lebih dari biasanya. aku terus memandangi wajahnya, wajah cantiknya tertutupi dengan bibirnya yang pucat, bibirnya yang membiru. Aku tidak pernah membayangkan semuanya akan jadi seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa pingsan di sana?

“Yeobo… temani aku ke taman, hanya ke taman, tidak lebih..” ucapnya tiba-tiba.

“Chagiya, kau sudah sadar?” aku tatap wajahnya, ternyata dia ngelindur. Sebegitu inginnya kah dia pergi denganku? Aku kecup keningnya lembut berharap dia tahu kalau aku ada di sini.

“sayang.. appa sibuk, tapi appa berjanji akan menemani kita.” ucapnya lagi, aku terus mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya sambil mengelus lembut rambutnya.

“jangan sentuh ryeowookku, dia milikku. Yeobo.. kau cinta aku atau pekerjaanmu? Menikah saja dengan pekerjaanmu, jangan menikah dengan yeoja pilihan eommamu.” Mwo? dia benar-benar cemburu pada pekerjaanku ternyata. Aku memang salah, tidak menyisakan waktuku untuknya.

“Mianhae.. cepatlah bangun, jadi kita bisa pergi ke taman besama.” Ucapku di telinganya lalu mengecup keningnya lagi.

****************

Aku merasakan sesuatu bergerak dalam genggamanku, aku terbangun. Aku lihat Haerin memainkan tanganku seperti anak kecil, aku melihatnya dan dia tersenyum. Secercah kelegaan memenuhi hatiku.

“Kau sudah bangun?” tanyaku tersenyum.

“Mm… kau di sini rupanya..” jawabnya tersenyum.

“Ne, aku menjagamu semalaman. Demamnya sudah lumayan turun. Aku khawatir sekali chagiya..” ucapku sambil memperhatikannya tetap memainkan tanganku.

“Jinjayo? Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Ini sudah resikoku. Lagi pula, aku bisa ke taman atau kemana pun sendiri. Kehamilanku membuat aku jadi gila, bisa-bisanya aku semanja itu padamu, manja yang tidak beralasan, sangat menggelikan.” Suaranya agak bergetar, tapi dia tersenyum. Kau bukan pembohong yang baik Haerin, aku tahu kau menahan tangisanmu.

“siapa yang bilang tidak beralasan? Justru aku suka kau manja, kita jadi lebih dekat sejak kau hamil. Aku merasa kau benar-benar membutuhkanku.” Kini aku tarik tanganku perlahan lalu mengelus rambutnya lembut.

“Kita dekat? Ne, kita semakin dekat pada 3 bulan pertama, selebihnya? Kau lebih suka menghabiskan waktumu dengan pekerjaanmu dari pada denganku.”

“Tidak begitu chagi..”

“Begitu. Memang begitu. Buktinya kau sama sekali tidak khawatir aku pergi ke dokter sendiri, kau hebat, tidak menghubungiku selama empat jam padahal aku pergi sendirian, seperti tidak tertarik dengan hasil pemeriksaan dokter. Mataku panas, sepertinya suhu tubuhku naik lagi.” Dia mulai meneteskan air matanya. Aku benar-benar tersudut dan merasa bersalah sekarang, semua yang dikatakannya benar walaupun tidak sepenuhnya benar. Aku peluk tubuhnya, berusaha menyampaikan rasa bersalahku padanya, memeluknya senyaman mungkin.

“kau tahu betapa aku merasa menyesal sekarang? Rasa menyesalku tidak dapat terlukiskan dengan kata-kata, walaupun kata maaf tidak cukup, tapi aku akan tetap mengatakannya. Mianhae chagiya… jeongmal mianhae..”

“fansmu… mereka membawa kabur mobilku dan membiarkan aku kedinginan tadi malam. Karena itu aku seperti ini. Tapi jangan salahkan mereka, salahkan aku yang sudah memasuki hidupmu. Kau lebih butuh mereka dari pada aku, aku hanya pengganggu.”

“mwo?? aigoo chagiya… kenapa ini jadi begitu sulit? Mianhe chagiya..”

“sudahlah, lupakan. Aku memaafkanmu. Yeobo… kau lihat kan aku sedang sakit dan ini bukan karena ulahku. Aku benar-benar membutuhkanmu sekarang, aku benar-benar lemas. Jadi bisakah tidak ikut ke jepang dan menemaniku di sini?” dia melepaskan pelukanku dan menatap mataku. Ini sungguh berat. Mana mungkin aku tidak ikut dalam super show sementara ini adalah konser yang sangat penting?

“chagiya dengar.. bukan aku lebih meentingkan konser dari pada kau, tapi aku tidak mungkin meninggalkan konser ini.” Dia menatapku sejenak dengan mata sayunya dan beberapa saat kemudian, dia langsung berbaring membelakangiku. Isakan pun mulai terdengar, dia tidak boleh menangis. Menangis akan membuat suhu badannya naik lagi. Aku peluk punggungnya dan mencium pipinya.

“Chagiya.. aku akan berada di sini sampai saatnya berangkat nanti, dan aku akan segera menemuimu ketika kembali dari jepang. Aku akan selalu menghubungimu setiap ada kesempatan, ne?”

“terserahmu saja. Aku mendukung apapun yang kau lakukan walaupun sulit untukku.” Aku tidak menanggapi kata-katanya hanya mempererat pelukanku. Aku terus menemaninya hingga siang dan mengelus rambutnya hingga ia tertidur. Aku sempatkan mencium keningnya sebelum berangkat ke jepang.

 

Haerin POV

Setibanya di jepang dia menghubungiku untuk memintaku menjaga diri dan menunggunya dan sampai sekarang dia belum meneleponku lagi. Hari ke 3 setelah dia pergi. Aku tidak tahu kabarnya dan tidak mau juga mencari tahu. Menghubunginya? No way, nanti dia merasa besar kepala. Ryeowook namja babo, jangan harap aku akan menghubungimu. Tapi sejujurnya aku merindukannya, amat sangat merindukannya. Untungnya tubuhku cepat pulih, sudah aku bilang kan, lee haerin tidak mungkin sakit. tidak ada penyakit yang akan betah berlama-lama di tubuhku.

Sudah lama aku tidak tidur di kamarku ini, kamar kesayanganku, markas besarku sejak aku berumur 8 tahun. Poster-poster rocker dan band-band western lain yang dipajang di dinding sudah berubah menjadi poster super junior dan poster Donghae. Tidak perlu mencari tahu siapa yang menggantinya, sekali lihat saja sudah tahu. Pasti ini kerjaan si ikan busuk itu. dia pikir super junior kecintaannya itu siapa?berani-beraninya memajang posternya di kamarku. Kalau saja tidak ada wajah suamiku di situ, pasti aku lepas semuanya dan aku serahkan pada elf elf yang ada di kampus.

Siapa sih yang memencet bel? Kenapa tidak ada seorang pun yang membukakan pintu? Kemana ahjuma? Eomma juga, kemana?

“Haerin sayang… tolong bukakan pintunya nak, eomma sedang repot di dapur!” kata eomma agak berteriak dari dapur.

“Ahjuma kemana ma? Aku lemas..”

“Ahjuma sedang eomma suruh keluar. Palli bukakan pintunya nak, kasihan tamu kita.” aku menghela nafas dan akhirnya mengalah. Aku berjalan malas menuju pintu dan membukanya. Rasanya senang sekali, benar-benar senang, bahagia sekali melihat orang yang aku rindukan berdiri di hadapanku, tapi aku menahan diri untuk tidak menghambur ke pelukannya walaupun dalam hati sudah sangat ingin. Dia berdiri di hadapanku dengan setelan kemeja dan menyembunyikan satu tangannya di belakang.

“Annyeong nae Haerin.. bogoshippo..ini untukmu chagiya.” Dia tersenyum, senyum favoritku dan di saat yang sama dia mengeluarkan tangannya yang tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. Sebuket mawar putih kini berada di genggamannya dan diserahkan padaku. Aku mengambilnya, menghirup wanginya sambil tersenyum lalu segera menghambur ke pelukannya dan memeluknya dengan erat.

 

Author POV

Sore hari Ryeowook membawa Haerin pulang ke apartemen mereka. Haerin sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya pada lengan ryeowook kecuali saat Ryeowook pergi mandi dan menyiapkan makan malam. Ryeowook kini tengah menata makanan kesukaan Haerin di meja makan yang akan mereka santap untuk makan malam. Setelahnya dia menghampiri Haerin yang sedang berbaring di sofa bed ruang tv.

“Chagiya… kajja makan dulu, makanan sudah siap. Semuanya makanan kesukaanmu.” Ajak Wook sambil tersenyum kemudian duduk di tepian sofabed dan dijawab oleh Haerin dengan gelengan kepala.

“Loh, wae? Kan sudah jam makan malam. Kajja makan dong.”

“Aniya, aku tidak lapar yeobo.. aku tidak selera makan.” Jawabnya manja. Ryeowook tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya pada perut Haerin dan mengelusnya lembut.

“Annyeong anak appa, sedang apa?” tanyanya lalu ia merapatkan telinganya pada perut Haerin.

“Mworago? Anak appa kelaparan? Mwo? Suruh eomma makan? Ne ne, kita akan makan ya nak, sabar ya nak.. tuh kan chagiya, anak kita kelaparan. Kajja makan.” Ajaknya lembut.

“Aish… kau ini, yasudah, kajja.” Haerin bangkit dari posisi berbaringnya dan berjalan mengikuti wook dengan tangannya digenggam oleh Ryeowook.

Setelah menghabiskan makan malam, Ryeowook mengajak Haerin ke ruang kerjanya dan mengambil posisi pada piano lalu meminta Haerin untuk duduk di sampingnya.

“Dengarkan lagu ini, aku hanya akan memainkannya secara klasik untuk istriku yang paling special di dunia ini.” Ryeowook berkata sambil tersenyum dan dijawab anggukan oleh Haerin. Ryeowook mulai menekan tuts tuts piano dan menyanyikan lagu gomawo. (super junior: Gomawo)Haerin mendengarkan dengan seksama. Ryeowook menyanyikan lagu tersebut dengan penuh perasaan, menggambarkan betapa ia begitu beruntung mempunyai istri seperti Haerin dan berterima kasih pada haerin yang mau mengerti keadaannya. Setelah lagunya selesai, Ryeowook menatap Haerin dan menggenggam tangannya lembut.

“Chagiya mianhe… mianhae karena gara-gara aku kau harus mengalami beberapa bulan yang sulit, mianhae karena aku kurang memperhatikanmu, mianhae karena aku mengingkari janjiku untuk selalu ada kapan pun kau membutuhkanku dan gomawo.. gomawo sudah memberikan kebahagiaan yang tidak terhingga padaku juga gomawo karena selalu mau memaafkanku dan mengerti keadaanku. Jeongmal saranghae..”

“Jangan begitu, aku tidak butuh hanya sekedar maaf, aku tidak butuh janjimu, aku hanya butuh bukti. Dan kau jangan terlalu menghawatirkanku lagi, sudah saatnya aku belajar untuk memahami pekerjaanmu. Cukup dukung aku.”

“akulah yang harus belajar memahamimu , bagaimana pun kau sedang mengandung buah cinta kita. aku akan menjagamu dan tidak akan mengingkari janjiku lagi karena kau adalah harta yang sangat berharga bagiku yang harus aku jaga.saranghae, jeongmal saranghae..” Ryeowook mendekatkan wajahnya pada wajah Haerin kemudian mencium bibir Haerin lembut.  Setelah beberapa saat, Ryeowook melepaskan ciumannya kemudian menatap mata Haerin sambil mengelus pipi istrinya lembut.

“Besok aku sendirian lagi, aku ingin denganmu, aku ingin kau tidak bekerja besok.” Pinta Haerin manja.

“ne, aku akan menemanimu chagiya…”

“Jinja?? Tapi kan kau harus kerja yeobo wook..”

“Aku mengosongkan jadwalku seminggu ini, sudah saatnya pekerjaanku yang mengalah pada istri dan anakku.” Kata Ryeowook masih mengelus pipi Haerin lembut.

“Jinja??? Huaaaa aku senang sekali. Gomawo ya yeobo..” Haerin memeluk Wook erat dan mendapat perlakuan yang sama dari Wook.

“saranghae..”

 

-End-

 

 

Thanks banget untuk yang udah baca, apa lagi yang ngelike and comment ^^ mian ya kalo gak bagus, karena memang ini dibuatnya waktu itu mepet banget dan dalam rangka stres sama urusan kampus 😀

 

Advertisements

4 thoughts on “Difficult Pregnancy – Part 2-END

  1. Mianhae baru komen semalem kuota’a kehabisan jd g bisa coment dech
    yg d part 1 ngebayangin wook marah,ngebentak istrinya rasanya g ada dlm bayanganku,wkwkwkwkwkkkkk
    hmmmm
    orang hamil emang lebih sensitif yg sabar ya n jlharis lebih aling ngerti…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s