Difficult pregnancy – Part 1

Genre          : Romance

Length         : Two shoot

Rated          : 15

Cast            : – Lee Haerin

–          Kim Ryeowook

–          Other Cast

Author         : Ririn Kim

Twitter       : @Rinriza

Fb               : Rizza Ramadhani Elf

 

FF ini murni dari pertapaan author, kalau ada persamaan cerita atau karakter, itu bukan kesengajaan, mohon maaf. ff ini udah lama dibuat, jadi maklum deh kalau ceritanya gak relevan sama masa sekarang dan udha lama dipost di wpku 😀 Watch Out!! Typo bertebara n 😀 Happy read ^^

Jam waker berbunyi, waktu menunjukkan pukul 6 pagi kst. Haerin terbangun dan segera mematikan jam waker tersebut lalu menyingkirkan tangan yang melingkar di pinggangnya. Tangan siapa? Tentu saja tangan suaminya Ryeowook yang selalu memeluknya saat tidur sejak mereka mulai menggunakan kamar yang sama.

“Yeobo Wook… Ireona.” Haerin menggoyang-goyangkan tubuh Ryeowook agar suaminya itu bangun, namun Ryeowook tidak bergeming dan malah melingkarkan tangannya lagi di pinggang Haerin.

“Aish…kau ini. Bangun Wook… aku harus kuliah, siapkan sarapan. Aku ada kelas pagi.” Gerutu Haerin berusaha menyingkirkan tangan Ryeowook tapi Ryeowook masih enggan melepaskan pelukannya.

“yang kuliah kau, kenapa aku yang harus ribet bangun pagi-pagi.” Ucap Ryeowook cuek masih dengan mata terpejam dan malah mengencangkan pelukannya.

“Aish…. Kau ini, jangan seperti ini. Aku tidak boleh telat. Kajja bangun.” Pinta Haerin setengah merengek.

“Kau belum sebutkan kata sandinya, aku tidak akan bangun sebelum kau sebutkan kata sandinya.”

“mwo? Jangan bercanda. Andwae!”

“Kalau begitu aku akan seperti ini terus.” Ucapnya masih dengan posisi mata tertutup.

“AIsh!!!! Ne ne ne…. saranghae Ryeowook Oppa suamiku yang paling tampan se-asia!! Sudah! Palli bangun!!” ucap Haerin kesal.

“Ani, kau menggunakan nada yang salah. Password ditolak.” Ucap Ryeowook lagi, yang sebenarnya sakit perut menahan tertawa, namun ditutupi dengan baik. Haerin memandang Wook dengan tatapan membunuh, lalu ia menghela nafas.

“Ne ne ne baiklah.. Selamat pagi… saranghae Ryeowook Oppa suamiku yang paling tampan se asia…” ucap Haerin lembut lalu mencium pipi Ryeowook. Ryeowook tersenyum lalu segera duduk dan menunjukkan senyum kemenangannya.

“begitu dong.. ya sudah kajja siap-siap, aku akan siapkan sarapan untukmu.” Ucap Ryeowook sambil memeluk istrinya dari samping lalu mencium kening Haerin.

“Bagaimana mau mandi kalau dipeluk bagini.” Ucap Haerin tersenyum.

“Ah iya.. cah.. sudah aku lepas. Mandilah, aku siapkan sarapanmu dulu.” Ryeowook melepaskan pelukannya  sambil tersenyum lalu bergegas meninggalkan kamar menuju dapur.

***************

Ryeowook dan Haerin menyantap sarapannya bersama dengan Haerin yang sudah bersiap-siap ke kampus, mereka mengobrol seru selama sarapan hingga tiba-tiba

“Huek…hummmppp..”Haerin tiba-tiba menutup mulutnya dan segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ryeowook yang khawatir segera menghampiri Haerin dengan membawa segelas air hangat.

“Chagiya, gwencana?” tanya Wook khawatir. Haerin berkumur-kumur lalu keluar dari kamar mandi.

“Ne, gwencana.” Jawabnya lemas.

“Apa masakanku tidak enak?” Wook memberikan air hangat kepada Haerin yang langsung ia minum.

“Ani, tidak begitu. Masakanmu selalu nomor 1, mungkin hanya masuk angin, jangan khawatir ya” jawab Haerin lalu tersenyum di akhir kata-katanya.

“Kalau begitu tidak usah kuliah, istirahatlah dulu.”

“Ani Yeobo, nan gwencana. Jeongmal.”

“Baiklah, kalau begitu jangan menyetir, biar aku yang mengantarmu. Aku siap-siap dulu.”

“Ne yeobo..”

*************

Ryeowook POV

Sudah satu minggu ini Haerin selalu muntah tiap pagi. Apa dia sakit parah? Apa lambungnya sakit? atau karena kecapean mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam? Ne, Haerinku sering sekali memaksakan diri mengerjakan tugas hingga larut malam padahal pulang kuliahnya juga lama. Tidak jarang aku menemukannya tertidur di meja saat aku pulang siaran dan terpaksa aku gendong ke tempat tidur. Aku harus membujuknya mengunjungi dokter hari ini, harus. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya.

“Chagiya..” aku duduk di sampingnya yang sedang asik menonton kartun.

“Hm.. wae?” tanyanya tanpa mengganti fokusnya dari tv.

“Kajja kita ke dokter. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa, aku mohon.” Pintaku sambil membelai lembut rambutnya.

“Ani, nan gwencana. Haerin tidak mungkin sakit. percaya padaku.” Ucapnya masih dengan fokus yang sama.

“Kau muntah-muntah tiap pagi, bagaimana mungkin kau baik-baik saja? Kita ke dokter ya chagiya.” Dia menatapku dengan tatapan yang err…. Agak membunuh.

“Kau meremehkanku, huh? Aku hanya masuk angin biasa yeobo wook.. percayalah. Kau sudah berapa lama hidup denganku? Harusnya kau tahu betapa kuatnya istrimu ini. Aku tidak sakit, bahkan penyakit takut hanya baru melihat wajahku.” Ucapnya panjang lebar. Aku tidak boleh lemah padanya kali ini. Aku menatapnya tajam dengan tatapan yang marah, tentu saja hanya pura-pura.

“Terserahmu saja.” Ucapku dingin. Lalu pergi meninggalkannya dan pergi ke kamar. Kita lihat bagaimana reaksinya. Aku naik ke tempat tidur dan memejamkan mataku. Tidak lama kemudian aku dengar suara pintu terbuka.

“Yuhu…. Yeobo wook.. kau marah ya?” tanyanya. Aku tetap diam dan menutup mataku. Aku rasakan dia naik ke tempat tidur.

“Yeobo wook… mian ya membuatmu marah, tapi aku benar-benar tidak apa-apa, sungguh. Aku tidak butuh dokter.” Katanya dengan suaranya yang polos itu. bukannya menjawabnya, aku malah membalikkan tubuhku membelakanginya dan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhku.

“Aish…. Yeobo wook…. Jangan begini.jebaaaal….” dia mengguncangkan tubuhku manja. Hahahahaha… rasanya ingin tertawa, tetapi tetap aku tahan, dia harus pergi ke rumah sakit.

“Jangan menggangguku kalau tidak mau ke rumah sakit.” Ucapku dingin. Dia terdiam.. 5 detik kemudian..

“NE!!! KAJJA KE RUMAH SAKIT!!!! PUAS?????” teriaknya tepat di telingaku. Aku langsung terlonjak kaget dan langsung duduk menghadapnya memamerkan senyum kemenangan.

“Begitu dong.. ini baru nona kim J” aku mencium pipinya, dia mengerucutkan bibirnya. Lucu sekali.

“Padahal kan aku tidak sakit.”

“O…mau mulai lagi? Mau tidak bicara padaku?” tanyaku sambil mencubit hidungnya gemas,

“Ne ne.. aku siap-siap dulu ya…” aku memperhatikannya berjalan malas-malasan menuju kamar mandi. Hahahaha.. lucu sekali dia.

***********

“Bagaimana Dok? Istriku sakit apa?” tanyaku penasaran karena sudah sedari tadi menunggu hasil pemeriksaannya. Dokter malah tersenyum. Ada apa? Apa dokternya gila? Apa aku salah rumah sakit? apa ini orang gila yang menyamar jadi dokter? Omo…. Jangan gila wook.. ini dokter kaluargamu dan sudah jadi doktermu sejak kau sma.

“Chukaeyo Ryeowook-ga, kau akan jadi seorang appa, istrimu hamil 2 minggu.” Aku benar-benar tekejut.

“M..mwo? Dokter tidak bercanda kan?” tanyaku meyakinkan dan aku lihat Haerin sama penasarannya sepertiku. Terlihat dari wajahnya yang sepertinya sedang berpikir.

“Tentu saja aku tidak bercanda. Aku rekomendasikan kalian ke dokter kandungan. Sekali lagi selamat ya.. jaga Haerin agar selalu makan tepat waktu dan istirahat yang cukup.” Ucap dokter.

“Ne dok, gomawo..” Ucap kami bersama-sama. Jeongmal… ini kebahagiaan yang luar biasa, tidak pernah terbayang sebelumnya tuhan akan memberikan kebahagiaan yang begini besar padaku. Begitu kami memasuki mobil, aku sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak memeluk Haerin. Langsung aku raih tubuhnya dan menahannya dalam dekapanku yang hangat.

“Jeongmal gomawo sayang.. jeongmal gomawo..” Ucapku lalu mencium keningnya lembut dan kembali memeluknya erat. Terasa di bahuku dia menyandarkan kepalanya dan tangannya menepuk lembut punggungku.

“jangan berterima kasih.. kita sama-sama bahagia yeobo wook.” Aku melepaskan pelukan kami lalu mengelus perutnya yang masih rata.

“Anak appa, annyeong.. J tumbuh yang sehat ya nak di dalam.” Lalu aku mencium perutnya.

“hahahahahaha.. ne appa..” haerin tertawa melihat ulahku.

*************

Haerin POV

Ryeowook oppa… dia jadi perhatian 7x lipat, dan protective 8 x lipat sampai-sampai aku bingung dibuatnya. Seperti kemarin, aku mau membawa piring kotor ke westafel, dia langsung merebut piringnya dari tanganku. Yang paling parah adalah, dia mau membawakan tas kuliahku sampai ke kelas, tentu saja tidak aku izinkan. Bisa bisa orang-orang menertawaiku, dan yang terburuk, bisa-bisa dia keluar dari kampusku dengan keadaan tidak utuh karena fans mengejarnya. Haerin sayang jangan lupa minum susu.. haerin sayang jangan terlalu capek.. haerin sayang jangan tertidur di meja.. haerin sayang jangan sentuh piring kotor.. haerin sayang..jangan lupa minum vitamin.. haerin sayang..jangan main arung jeram lagi.Haein sayang….haerin sayang…. Huaaaaah aku bisa gila dibuatnya. Bahkan dia menggendongku dari ruang tv saat aku bilang aku mengantuk waktu kami nonton tv bersama.

Ponselku berdering tanda pesan masuk. From Yeobo Wook.

“Haerin sayang.. sudah minum susu? Janga telat makan malamnya, ne? :*” dia benar-benar perhatian padaku, sejujurnya memang aku kaget di awal, tapi semakin ke sini aku semakin menyukai caranya, itu artinya dia mencintaiku dan lama-lama ini menjadi seru untukku.

***********

Ini sudah memasuki bulan ke 3 kehamilanku. Celaka, aku semakin tidak bisa jauh dari Ryeowook, dan semakin manja padanya. Aku bahkan menempel terus padanya sejak dia pulang kerja sampai dia pergi lagi keesokan paginya. Benar-benar ingin bersamanya terus.

 

Author POV

Ryeowook sedang akan pergi makan siang dengan henry ketika ponselnya berdering. Diambilnya ponselnya dari saku celana dan terlihatlah foto haerin sedang mencium pipinya. Yup, yang menelepon adalah Haerin.

“Yoboseyo chagiya….” Kata ryeowook sambil tersenyum.

“Yoboseyo…… yeobo.. eoddiseoyeo?” tanya Haerin manja.

“Aku sedang di gedung sm, baru saja akan pergi keluar makan siang. Kau sudah makan sayang?” Ryeowook memasuki mobilnya diikuti Henry.

“ani, belum, aku tidak mau makan kalau tidak kau suapi. Aku ke sana ya sekarang, waktu istirahatku lama kok. Aku pergi sekarang.”

“Mwo? Tapi chagiya, setelah makan aku akan langsung pergi dengan Henry untuk mengisi acara di MBC.”

“Ani, aku tidak akan melarangmu pergi. Yasudah ya aku berangkat sekarang.” Tut tut tut. Haerin langsung memutuskan sambungan dua arah tersebut.

“Waeyo?” tanya Henry.

“Istriku, dia mau meneyusulku ke sini, mau makan siang bersama.”

“Oh… hahahahah.. bawaan janin ya? yasudah kita tunggu saja dia.” Ucap Henry sambil tersenyum. Setelah beberapa saat akhirnya mobil Haerin terlihat di gedung SM.

“Mm… Henry ssi, kau bawa mobilku ya, biar aku yang menyetir mobil Haerin.” Ryeowook lalu turun dan segera berjalan ke mobil istrinya. Haerin langsung berpindah ke sisi penumpang. Begitu Ryeowook masuk ke mobil, dia langsung memeluk suaminya itu erat-erat.

“Yeobo…….. bogoshippoooooooo……” ucapnya manja. Ryeowook tersenyum melihat tingkah istrinya yang sebenarnya agak terlihat aneh. Karena tidak biasanya Haerin seperti ini, dia menjadi 10 x lipat lebih manja dari pada biasanya.

“geurae? Padahal tadi pagi kan kita bertemu. Mmm aku tahu, anak kita merindukan appanya ya?” tanya Ryeowook sambil tersenyum dan mulai menjalankan mobil Haerin. Haerin mengangguk dan kemudian berkata,

“eommanya juga..”

Setelah makanan datang, haerin langsung menyerahkan makanan pesanannya pada Ryeowook.

“Suapi aku ya..” ucapnya sambil memamerkan senyum aegyonya yang selalu bisa membuat Ryeowook luluh.

“ne ne chagiya.. makan yang banyak ya biar anak kita tumbuh sehat.” Ryeowook tersenyum kemudian menyuapi Haerin. Henry tersenyum melihat mereka lalu menyantap makanannya sendiri.

***********

“Yeobo Wook… jebal ireona.. ireona..” Haerin mengguncang-guncangkan tubuh Ryeowook agak kuat hingga yang bersangkutan membuka mata.

“Wae? Kau belum tidur?” Tanya Ryeowook  sambil mengucek matanya.

“Aku ingin makan ramen.. buatkan..” pinta Haerin agak merengek.

“Aigoo… ya! kau tidak lihat ini jam berapa? Jam 2 pagi Haerin sayang.. besok saja ya..” pujuk Ryeowook.

“Aniya… aku mau sekarang. Besok sudah tidak selera lagi. Ayolah Wook…. Ini permintaan anakmu..” Haerin memasang tampang memohon.

“Aigoo.. ne ne.. kajja, aku buatkan.” Akhirnya Ryeowook mengalah dan HAerin pun menunjukkan senyum kemenangannya kemudian mengikuti Ryeowook ke dapur. Ryeowook memasak sambil mengantuk karena memang jadwanya cukup padat seharian dan sangat membutuhkan istirahat.

“Ini sayang, makanlah.” Ucap Ryeowook tersenyum lalu memberikan semangkuk ramen pada Haerin.

“Gomawo yeobo Wook… selamat makan….” Ucap Haearin tersenyum seperti anak kecil kemudian menyantap ramennya. Ryeowook memperhatikan samba tersenyum. Haerin selalu bersemangat setiap makan makanan cepat saji. Kalau saja ini bukan karena ngidam, dia pasti tidak akan mengizinkan.

“Selesai…” ucap Haerin lalu meminum beberapa teguk air.

“ya! kenapa tidak dihabiskan? Aku kan sudah capek masaknya sambil mengantuk.” Protes Ryeowook melihat sisa ramen di mangkuk Haerin.

“aku kan hanya ingin makan, bukan mau menghabiskan. Aku sudah tidka mau makan, kalau kau mu, makan saja.” Jawab Haerin polos.

“Aish.. kau ini. Yasudah, kajja kita tidur lagi. Aku sangat mengantuk.” Ryeowook agak cemberut lalu berjalan mendahului Haerin.

“Hehehehe.. ne…. kajja. Jangan cemberut begitu, guling bisa lebih tampan darimu kalau wajahmu seperti itu.” Ucap Haerin lalu menjulurkan lidahnya. Ryeowook tersenyum lalu mengacak rambut HAerin gemas.

*************

Ryeowook POV

Hari ini aku akan bertemu dengan sutradara dan producer pementasan drama musical. Aku menerima tawaran bermain di drama musical bersama rekan satu agencyku Luna fx dan rekan-rekan yang lain. Pemeran utama, yup, aku adalah salah satu pemeran utama. Sesuatu hal yang aku tunggu-tunggu dan tidak mungkin aku lewatkan. Aku belum mengatakan ini pada Haerin, karena selama ini dia fine fine saja dengan pekerjaanku, jadi aku rasa ini akan aman-aman saja.

“bagaimana? Kau setuju dengan kontraknya?” tanya Produser Jung.

“Hmm ne, aku sudah membaca semua isi kontrak dan naskahnya juga membuatku tertarik. Aku terima tawaran kalian.” Jawabku ramah. Setelahnya kami saling menandatangani kontrak, dan sekarang ini lah aku,, pemeran utama drama musical ‘high school musical.” Kalau haerin tahu, dia pasti akan bangga padaku, namun belum saatnya dia tahu. Aku akan memberitahunya nanti.

 

Author POV

Haerin sedang mencuci piring ketika Ryeowook memasuki apartemen.

“Aku pulang…” seru Ryeowook ketika memasuki rumah. Ryeowook langsung masuk ke kamar untuk mencari Haaerin sekaligus meletakkan tasnya, namun ia tidak menemukan Haerin. Jadi ia putuskan untuk berkeliling rumah mencari Haerin.

“Chagiya…. Eoddiseo??” ucapnnya setengah menjerit.

“Aku di dapur yeobo Wook!!!!!” Ryeowook langsung bergegas ke dapur dan terkejut melihat HAerin sedang mencuci piring.

“Yakk!!! Haerin Kim! Sudah berapa kali aku bilang, jangan sentuh piring kotor! Aigoo….” Ryeowook langsung merebut piring dari tangan Haerin, meletakkannya di westafel dan membilas tangan Haerin yang bersabun. Setelahnya ia dorong Haerin agar menjauh dari westafel dan melanjutkan pekerjaan istrinya itu.

“Ya! Kau ini kenapa sih? Kalau hanya mencuci piring aku masih sanggup. Jangan berlebihan yeobo…” ucap Haerin protes.

“Ani ani. Kau ini, kita kan baru anak pertama, jadi kita harus menjaga anak kita dengan baik”. Jelas Ryeowook sambil menyalesaikan pekerjaannya.

“Ne…… arasseo…………..” jawab Haerin malas. Ryeowook tersenyum melihat ekspresi istrinya.

“Yeobo.. tadi aku belajar masak spaghetti, enak deh. Setelah ini kita makan ya..” ajak Haerin semangat dan dijawab Ryeowook dengan anggukan.

Ryeowook duduk di kursi meja makan sambil menunggu Haerin menghidangkan spaghetti.

“Ini dia…. Spaghetti lezat untuk suamiku tercinta. Silakan dimakan yeobo..” Ucap Haerin semangat.

“Waaaah… kelihatannya enak. Aku makan ya chagiya..” Ryeowook menyendokkan spaghetti ke mulutnya. Namun ternyata rasa spaghetti masakan Haerin tidak senak tampilannya. Mienya kurang kenyal dan rasanya lumayan hambar. Meskipun begitu Ryeowook tidak mau mematahkan semangat istrinya yang sudah bersusah payah memasakkan ini untuknya, maka ia memasang wajah bahagia.

“Mm…. mashitta.. istriku hebat sekali. Aku suka.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Jinja??? Waaaaaaah.. aku kira kau akan marah karena rasanya tidak enak.” Haerin tersenyum riang di akhir kata-katanya.

“Kau bercanda? Hahaha tentu saja aku tidak akan marah, ini enak. Tapi.. lain kali mie nya direbus lebih lama ya, dan bumbunya ditambah sedikit dan jangan terlalu banyak air. Pasti akan lebih enak lagi.” Haerin mengangguk semangat lalu memperhatikan Ryeowook yang dengan semangat menghabiskan spaghetti buatannya yang sebenarnya sulit untuk dihabiskan.

Haerin menyiapkan Piyama untuk Ryeowook yang sedang mandi. Setelahnya ia membongkar tas milik Ryeowook yang selalu dia lakukan setiap hari dan menemukan map coklat yang berisi kontrak drama dan naskah. Dikeluarkannya naskah tersebut dan membacanya. Wajahnya yang semula dihiasi senyuman berganti menjadi wajah killer yang selalu Ryeowook lihat kalau istrinya itu sedang kesal. Dengan kasar ia meletakkan naskah tersebut di meja lalu segera naik ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Hebat Kim Ryeowook. Kau hebat. Di saat istrimu hamil seperti ini dan sedang semanja ini, dan mudah cemburu kau malah menerima tawaran drama. Seenaknya saja kau mau berciuman dan menggendong yeoja lain. Hebat kim ryeowook, kau hebat.” Omel Haerin dengan mata yang berkaca-kaca. Dia langsung menutup matanya rapat-rapat di bawah selimut ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka.

“Chagiya.. kenapa tubuhnya ditutup selimut begitu? Nanti kau susah bernafas loh, terus aku susah dong mau memelukmu.” Kata Ryeowook sambil memakai piyamanya. Namun Haerin tidak bereaksi apapun. Ia tetap pada posisi semula.

“Chagiya…. Kau sudah tidur ya?” Ryeowook naik ke tempat tidur lalu membuka selimut Haerin. Dia tersenyum melihat Haerin yang sepertinya terlelap kemudian mencium pipi istrinya lembut.

“Jaljayo Haerin kim istriku tersayang..” ia lalu melingkarkan tangannya di pinggang Haerin untuk memeluknya, namun betapa terkejutnya dia karena dengan cepat Haerin langsung menyingkirkan tangan Ryeowook.

“Jangan peluk aku.” Ucapnya dingin.

“Chagiya… wae? Aku melakukan kesalahan?” tanya Ryeowook namun tidak dijawab oleh Haerin. Ryeowook kembali duduk dan berpikir kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai membuat Haerin semarah ini. Matanya tertuju pada naskah yang sedikit berantakan yang terletak di meja.

‘Apa karena itu?’ tanyanya dalam hati.

“Haerin sayang… kau marah ya karena aku menerima tawaran drama musical tanpa memberitahumu?” tanya Ryeowook lembut sambil mengelus lembut rambut istrinya tapi Haerin lagi-lagi menyingkirkan tangan Ryeowook dengan kasar.

“chagiya… jebal.. jangan begini.. aku tidak memberitahumu karena aku mau membuat kejutan untukmu dengan pekerjaan baruku. Demi tuhan bukan karena tidak mempertimbangkan kehadiranmu, sungguh sayang..” ucap Ryeowook menjelaskan. Haerin tiba-tiba duduk dan menatap wajah Ryeowook dengan tatapan membunuh andalannya yang selalu membuat Ryeowook tersudut.

“Membuatku terkejut?? NE!!! AKU TERKEJUT!! SANGAT TERKEJUT!!! KAU PUAS???????!!!!!!!! AKU SEDANG MENGANDUNG ANAKMU KIM RYEOWOOK!! TEGA-TEGANYA KAU MENGAMBIL PERAN YANG MEMBUATKU MARAH!!!! AKU TERKEJUT!! KAU PUAS?!” Haerin membanting bantal dan selimut ke lantai kemudian turun dari tempat tidur. Ryeowook tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa memperhatikan dan pasrah. Karena kalau dia menjawab kata-kata istrinya, hal itu hanya akan membuat suasana semakin keruh. Dia hanya bisa pasrah Haerin akan menghukumnya tidur di lantai malam ini. Namun dugaannya salah, Haerin bukan menghukumnya untuk tidur di lantai, tapi melakukan hal yang lebih membuatnya hampir gila. Haerin turun dari tempat tidur tanpa memandangnya sedikitpun kemudian berbaring di lantai dengan posisi memunggungi ryeowook.

“Cha….chagiya.. jebal jangan lakukan itu. aku saja yang tidur di lantai, jangan kau.. jebal.. nanti kau dan anak kita bisa sakit.” pinta Ryeowook lirih.

“DIAM KAU!!! TIDUR SANA!!!” Haerin menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ryeowook terdiam kemudian membaringkan tubuhnya menghadap Haerin namun tidak tidur. Ia menunggu sampai Haerin benar-benar terlelap agar bisa memindahkannya ke tempat tidur, karena biasanya Haerin tidak sadar apa-apa kalau sudah terlelap. Kelopak matanya sudah begitu berat dan memaksa untuk tertutup, dia benar-benar mengantuk, namun ia berusaha tetap bertahan sampai bisa memastikan Haerin benar-benar sudah terlelap. Beberapa saat kemudian ia turun secara perlahan dari tempat tidur dan membuka selimut yang menutupi kepala Haerin secara perlahan.

“Sudah tidur rupanya.” Ucapnya sambil tersenyum kemudian menggendong  Haerin perlahan dan membaringkan tubuh istrinya itu ke tempat tidur dan menyelimutinya.

“Tidur yang nyenyak ya chagiya.. biar aku yang tidur di lantai.” ia tersenyum di akhir kata-katanya dan menatap wajah Haerin sejenak kemudian mencium kening Haerin lembut. Setelahnya ia kembali ke tempat Haerin berbaring tadi dan membaringkan diri di situ hingga tertidur.

 

Haerin POV

Aku terbangun dan menemukan tubuhku berbaring di tempat tidur. Namja bodoh ini, pasti dia yang memindahkan aku tadi malam. Aku merangkak ke tepian tempat tidur dan menemukan dia berbaring di lantai di tempat aku berbaring tadi malam. Kasihan dia, dia kan capek, kenapa malah tidur di lantai? Padahal tadi malam aku tidur di lantai bukan karena sedang marah, tetapi karena memang aku ingin tidur di lantai. Maklum.. bawaan janin. Sejak hamil, keinginanku aneh-aneh. Mulai dari ingin mendaki gunung fuji, memanjat menara namsan, main arung jeram, terbang layang dan tentu saja, satu pun tidak ada yang dikabulkan oleh si ryeong ini. Bagaimana pun aku masih kesal, aku masih tidak terima dan tidak bisa merelakan tangannya akan menyentuh yeoja lain. Aku lihat jam waker di meja tempat tidurku.  Pukul 06.30 pagi kst. Aku turun dari tempat tidur dan menghampiri tubuh namja babo ini. Bagaimana pun dia sudah menghukum dirinya. Harusnya aku yang sadar, itu resikoku menjadi istri artis. Kalau aku tahu akan seperti ini, seharusnya aku tidak usah jatuh cinta pada artis. Harusnya dulu aku kabur saja dari rumah saat pernikahan dan pergi ke luar negeri menjalani hidup dengan tenang di sana.

“Ryeowook ssi, ireona.. sudah pagi.” Ucapku sambil sedikit mengguncangkan tubuhnya. Bukannya bangun, dia malah menarik selimutnya, dia agak tersenyum. Namja babo, aku tahu kau sudah bangun.

“Ryeowook ssi, jebal ireona…” dia tetap tidak bergerak. Aku tahu, dia menunggu aku menyebutkan password. Jangan harap aku akan mengatakannya namja babo.

“Ne ne.. terserah kau saja. Tidur saja terus. Aku akan masak sarapanku sendiri.” Ucapku datar lalu beranjak bangkit meninggalkannya.

“Chagiya changkaman. Aigoo…” dia buru-buru bangkit dari tidurnya dan menyusulku ke pintu.

“jangan masak, biar aku saja. Kau harus dapat sarapan yang baik tiap pagi.” Dia mencium pipiku, dan seketika itu juga aku gunakan punggung tanganku untuk menghapus bekas ciumannya dari pipiku. Wajahnya Nampak kecewa melihat yang aku lakukan.

“Waeyo?kenapa dihapus? Kau masih marah ya? chagiya jebal… mianhae…” dan sekarang dia berlutut di hadapanku.

“Kau mau masak atau tidak? Kalau tidak biar aku siapkan sendiri sarapanku.” Ucapku datar. Dia buru-buru bangkit dan segera pergi ke dapur.

 

Author POV

Kehamilan Haerin sudah memasuki bulan ke empat dan Ryeowook sudah mulai  menjalani latihannya untuk drama musical. Dan 2 minggu lebih sudah Ryeowook merasa kesepian karena Haerin bersikap dingin padanya bahkan memanggilnya dengan sebutan formal yang selalu dia gunakan jika sedang marah pada suaminya. Namun Ryeowook masih bersyukur, karena Haerin tidak melanggar aturan makannya dan selalu memakan makanan yang dimasak oleh suaminya. Di saat marah seperti ini, dia masih memperhatikan kesehatan janinnya, karena biasanya Haerin akan mogok makan masakan suaminya kalau sedang marah. Ryeowook terus berusaha agar Haerin memaafkannya, mulai dari memberikan bunga setiap hari, memasak masakan kesukaan Haerin, membuat kue permintaan maaf dan mengucapkan mianhae setiap haari. Namun sikap Haerin tetap sama.

Mereka menghabiskan makan malam dalam diam dan terus begitu hingga mereka pergi ke kamar untuk tidur. Ryeowook terus memandangi punggung istrinya, tidak sabar rasanya ingin memeluk istrinya lagi. Namun setiap kali ia mencoba untuk memeluk Haerin, Haerin akan menghempaskan tangannya dengan kasar. Dia terkejut ketika tiba-tiba Haerin memandangnya.

“Yeobo….” Panggil Haerin yang kemudian memeluk Ryeowook manja. Jantung Ryeowook seketika itu juga berdetak cepat. Rasa bahagianya membuncah melihat sikap Haerin dan dia pun langsung memeluk istrinya itu.

“Ne chagiya?”

“Aku memaafkanmu, karena ternyata anak kita terus mendesakku agar berdekatan denganmu lagi.”

“Jinja? Anak pintar.” Ucap Ryeowook tersenyum.

“Hm… bogoshippo yeobo Wook..”

“Nado chagiya.. gomawo ya sudah mau memaafkanku.”

“Hmm…” HAerin tersenyum.

“Yeobo Wook….. aku punya permintaan. Boleh ya… jebal..”  Haerin melepaskan pelukannya pada Ryeowook dan beralih memandang mata suaminya.

“Ne? apa itu chagiya?”

“Aku ingin ikut ke tempat latihanmu. Aku mau melihat nampyonku berlatih. Boleh ya? jebal….” Haerin menggunakan nada memelas pada kata-katanya.

“Kau yakin mau ikut?” tanya Ryeowook dan dijawab dengan anggukan oleh Haerin.

“baiklah.. kau boleh ikut.” Kata Ryeowook sambil tersenyum.

“Jinja?????????? Huaaaa gomawo yeobo Wook….” Haerin tersenyum riang seperti anak kecil yang diberi permen.

“hmmm… boleh aku mencium anak kita?” tanya Ryeowook sambil mengelus lembut rambut Haerin dan lagi-lagi Haerin menjawab dengan anggukan. RYeowook mengarahkan wajahnya mendekat pada perut Haerin lalu menciumnya.

“Jaljayo jagoan appa… saranghae..” Haerin tersenyum melihat tingkah Ryeowook.

 

Ryeowook POV

Aku fokus pada stirku sambil sesekali melirik Haerin. Aku senang dia ikut denganku ke tempat latihan, namun sesungguhnya aku juga khawatir. Belakangan ini dia sangat sensitive, mungkin karena bawaan janin. Yang aku khawatirkan adalah, dia cemburu lantas menjambak rambut luna atau yeoja lain tiba-tiba tanpa sepengetahuanku. Aigooo menakutkan. Tapi apa dia separah itu? aku rasa tidak, dia pasti akan bersikap baik.

“Fokus saja pada stirmu.” Ucapnya tiba-tiba yang sukses membuat pikiran sejenakku buyar.

“Arasseo nona.” Kataku tersenyum menanggapi kata-katanya.

Akhirnya kami tiba di gedung latihan. Tempat latihanku ada di lantai 3. Aku menggenggam tangannya selama perjalanan menuju lantai 3. Banyak orang menyapanya dan dia terlihat senang sekali, bahkan dia selalu menunduk memberi hormat ketika orang-orang menyapanya. Manis sekali sikapnya, tidak seperti di rumah, kkk.

“Yeobo Wook, ternyata orang-orang di sini mengenalku ya, heheheh…”

“hahahhahaha.. tentu saja, karena suamimu ini terkenal chagiya, jadi kau pun tertular ketenaranku, kkk..” dia menjitak kepalaku tiba-tiba.

“Jangan pamer tuan kim!”

“Oppa……!!!” luna menjerit dari kejauhan sambil melambaikan tangannya dan aku balas dengan lambaian tangan juga dan sambil tersenyum tentunya. Aku lirik Haerin sekilas, wajahnya mendadak datar, aigoo… semoga tidak ada sesuatu buruk yang akan terjadi.

“Kenapa datang lebih lama Oppa? Biasanya setengah jam sebelum latihan kau sudah di sini.” Tanya Luna ketika sudah sampai di dekat kami.

“Ne, tadi aku..”

“Tadi dia menyuapiku makan dulu, makanya lama.” Belum sempat aku menjawab, Haerin sudah menyambar terlebih dahulu. Semoga ini bukan pertanda buruk. seharusnya aku jangan mengiyakan permohonannya kemarin malam, bukan apa-apa, aku takut dia kenapa-kenapa kalau dia kesal, karena yang aku tahu dari dokter, janin dapat merasakan kemarahan eommanya, aku tidak mau istri dan anakku kenapa-kenapa.

“Kau Haerin ya? senang bertemu denganmu, Oppa sering cerita tentangmu. Akhirnya kita bisa bertemu.” Sapa luna.

“Benarkah? Semoga dia  tidak menceritakan hal yang aneh2 tentangku padamu. Nado bangapseumnida.” Respon Haerin sambil tersenyum.

“Kajja..kajja semuanya berkumpul, kita akan segera memulai latihan.” Sutradara mulai mengupulkan kami semua. Aku merangkul Haerin agar ikut denganku ke ruang latihan. Aku meminta Haerin duduk di kursi yang dekat dengan tempat duduk tim yang belum mendapat giliran latihan. Aku mencium pipinya sebelum kemudian bergabung dengan yang lain untuk briefing.

Author POV

Haerin memperhatikan jalannya latihan dengan seksama, walau terkadang dia merasa bosan karena ini bukan hal yang dia sukai sebenarnya. Sesekali dia meminum air mineral yang diberikan Wook padanya. Dia terus memperhatikan Ryeowook selama latihan. Sesekali dia meremas jari-jarinya ketika melihat Ryeowook beradegan dengan yeoja lain.

“A…. mian, kamar mandi di mana ya?” tanyanya dengan nada agak keras ketika Ryeowook akan beradegan menaiki tangga dengan Luna di hadapannya. Sontak orang-orang yang sedang serius melihat ke arahnya.

“Eh.. hehe… mian, aku hanya ingin buang air kecil. Di mana kamar mandinya? Yeobo, bisa temani aku?” ucapnya dengan wajah memelas.

“Yasudah Wook, antarkan Haerin dulu.” Ucap Sutradara.

“Ah ne hyung.” Ryeowook meninggalkan lokasi latihan lalu pergi  menemani Haerin ke kamar mandi.

“jangan lama-lama ya chagiya, latihanku masih panjang.” Ucapnya tersenyum dan Haerin segera memasuki kamar mandi tanpa melakukan apa-apa. Hanya bercermin dan menahan tawanya.

“anakku kenapa iseng sekali? Sampai di kamar mandi perutku baik-baik saja..” ucapnya.  Setelahnya dia kembali keluar dan menggandeng Wook kembali ke tempat latihan.

Haerin berusaha menahan diri ketika melihat adegan yang tertunda tadi dilanjutkan. Setelahnya Ryeowook harus melakukan adegan dimana dia akan menggendong yeoja yang menjadi cheerleader, seketika itu juga perutnya kembali tidak nyaman.

“Aw… err… mian, Yeobo.. bisa bantu aku sebentar? Perutku tidak nyaman.” Suaranya kembali merusak konsentrasi orang-orang. Ryeowook sedikit menghela nafas melihat tingkah Haerin.

“Yasudah Wook, lihat Haerin dulu.” Ucap sutradara. Ryeowook menurut lalu menghampiri Haerin.

“Kajja chagiya, kita keluar dulu sebentar.” Haerin menuruti Ryeowook. Mereka duduk di ruangan ganti.

“Kenapa perutnya chagiya?” tanya Wook lembut.

“Molla, agak sakit. Mungkin setelah kau sentuh dia akan baik, mungkin anak kita ingin bicara dengan appanya.” Jawab Haerin polos.

“Ah.. geurayo..” Ryeowook tersenyum lalu mengelus perut Haerin lembut,

“Anak appa kenapa? Jangan nakal dong sayang, kasihan eommanya, lagi pula appa kan harus latihan. Jagan nakal ya nak..” ucapnya lalu mencium perut Haerin yang sudah terlihat agak membuncit. HAerin tersenyum.

“Bagaimana? Sudah enakan?”

“Ne, gomawo ya..”

“Hm.. kalau begitu kita kembali ke sana lagi ya, orang-orang sudah menunggu, latihanku masih panjang chagiya.”

“Hm.. kajja.” Haerin mengikuti Ryeowook kembali ke tempat latihan.

Latihan berlanjut. Setelah melewati beberapa adegan yang sukses membuat Haerin menahan perutnya yang agak nyeri dan membuatnya meremas jari-jarinya sendiri untuk mengatasi rasa cemburunya, akirnya tiba adegan dimana Ryeowook harus mencium pemeran utama wanita. Ryeowook memegang kedua bahu Luna dan bersiap menciumnya, namun tiba-tiba..

“ANDWAE!!!” teriak Haerin. Orang-orang langsung melihat ke arahnya.

“Ada apa Haerin ssi?” tanya salah satu kru.

“A… ani.. mian, aku hanya sedang melamun tadi. Silakan lanjutkan.” Ucapnya. Ryeowook sedikit menghela nafas melihat tingkah Haerin. Dia merasa Haerin sengaja karena tidak mau dia melakukan adegan ciuman ini. Adegan diulang. Ryeowook bersiap akan mencium pemeran utama, dan saat bibir mereka hampir bertemu, Haerin berlari ke arahnya dan menarik tubuhnya menjauh dari yeoja tersebut dan segera mencium bibir Ryeowook. Perbuatannya sukses membuat orang-orang terkejut.

“Ada apa dengan Haerin?” tanya salah satu kru. Haerin segera melepaskan ciumannya dengan pipi yang bersemu merah.

“eh.. hehhe.. mian, boleh aku menggantikan luna untuk adegan ini?hehehehe.. “ Beberapa orang tertawa melihat tingkahnya, mereka merasa maklum karena Haerin sedang hamil, mungkin kehamilan membuatnya menjadi sensitive, namun beberapa yang lain mmerasa agak kesal karena merasa latihan jadi terganggu.

“Hm… mian mian, aku hanya terbawa emosi, heheheh.. jadi.,apa bolah aku menggantikan? Hehehehe..” ucap Haerin lagi sambil sedikit menggaru kepalanya yang tidak gatal.Haerin melihat sekilas ke arah Wook ingin melihat senyum kemenangan Ryeowook yang akhirnya bisa membuat Haerin menciumnya di depan umum. Haerin selalu menolak melakukannya selama ini walaupun mereka sedang makan di resto yang sepi karena merasa hal itu menggelikan. Namun bukannya tersenyum, Ryeowook malah menatapnya dengan tatapan tajam dan marah.

“Kau pikir itu lucu?” tanyanya dingin. Dia langsung menarik tangan Haerin kasar dan menyeret Haerin keluar dari ruangan latihan. Orang-orang hanya bisa diam karena tidak mau ikut campur dengan masalah rumah tangga mereka, namun beberapa yang lain merasa Ryeowook terlalu keras.

“Yeobo.. apha.. jangan tarik tanganku seperti ini.” Ratap Haerin, namun Ryeowook tidak peduli dan tetap menarik Haerin dengan kasar dan berjalan cepat meninggalkan tempat latihan dan Haerin hampir terjatuh karenanya. Ryeowook melepaskan tangan Haerin dengan kasar hingga Haerin hampir terbanting. Genggamannya pada pergelangan Haerin sukses membuat pergelangan tangan istrinya itu memerah.

“Sakit Yeobo..” Haerin memegangi pergelangan tangannya.

“PUAS KAU SEKARANG, HUH?? LATIHANKU BERANTAKAN!! ITU KAN MEMANG YANG KAU MAU?! ITU KAN TUJUANMU MENGIKUTIKU KE SINI??!!!” bentak Ryeowook tiba-tiba yang sukses membuat Haaerin terkejut dan matanya seketika itu juga berkaca-kaca. Ryeowook belum pernah membentaknya sekeras ini sebelumnya.

“Ani..bukan begitu..aku..”

“MWO?! KAU APA? HUH?! KAU ITU PENGGANGGU!! KAU TAHU ITU?! Sudah kuduga akan jadi seperti ini. ITU SEBABNYA AKU TIDAK MAU KAU IKUT! KAU TAHU ITU,HUH?!”

“Pengganggu? Aku pengganggu?” tanya Haerin yang berusaha menahan air matanya.

“NE! KAU PENGGANGGU!! KAU JUGA MENYUSAHKAN!! KAU MERUSAK SEMUANYA!! KAU ITU KEKANAK-KANAKAN LEE HAERIN!!!”

“JANGAN BERTERIAK PADAKU!!!!”

“WAE?? KAU TIDAK SUKA? ITU PANTAS UNTUK PENGGANGGU SEPERTIMU!!”

“Begitu? Baiklah.. aku pergi.” Haerin segera pergi meninggalkan Ryeowook dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi. Tidak ada orang yang pernah membentaknya sekeras ini sebelumnya.

“PERGILAH!! JANGAN MENGGANGGU KEGIATANKU LAGI!!” Ryeowook agak terengah di akhir kata-katanya. Haerin segera meninggalkan gedung latihan dengan menaiki taksi. Sepanjang jalan dia menangis. Tidak pernah terbayang sebelumnya olehnya Ryeowook akan memarahinya sekeras itu di depan orang-orang, sementara pergelangan tangannya masih sangat sakit akibat genggaman Ryeowook tadi. Sesampainya di apartemen, dia langsung meminum segelas air untuk menenangkan diri dan kemudian mengambil kunci gudang di dapur. Diambilnya seluruh perlengkapan camping yang ia simpan di gudang. Peralatan-peralatan itu sudah tidak pernah ia gunakan sejak dia memutuskan berusaha menjadi yeoja feminim demi suaminya. Dia mulai mengeluarkan keril (ransel tanpa resleting yang berukuran besar), tenda doom ukuran 2 orang, sandal gunung, sepatu dan perlengkapan lainnya. Dia juga mengambil pakaian-pakaian semi namjanya yang sudah lama tidak dia pakai. Setelah semua perlengkapan lengkap dan siap, dia membawa semuanya ke mobilnya dan pergi meninggalkan apartemen dengan pikiran yang kacau. Hatinya benar-benar sakit dan tidak ingin bertemu dengan Ryeowook.

thanks for read.. jangan lupa Like and comment ^^

-tbc-

Advertisements

4 thoughts on “Difficult pregnancy – Part 1

  1. Emg sihh Hae Rin itu ngidamnya aneh…tp Wookie Oppa jgn bentak Hae Rin Kasian dia..terus Hae Rin mau pergi camping ke gunung ?

  2. critanya bagus,haerin terlalu manja sama terlalu sensitive tp kan dia lg hamil,wookie oppa hrusnya gak bentak” haerin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s