Unpredictable Meried – Part 1

Title                : Unpredictable Meried [part-1]

Author            : Hoonie

Cast                : Jung Eun Hoon, Kim Ryeowook, Choi Siwon and other member SJ

Length            : Twoshoot

Genre             : Romance

Rate                : PG 13

Disclaimer      : All of the cast belong to their God, their parent, their management and their self. But Hoonie and this fanfic is mine. Don’t bash if you don’t like and don’t copas.

 

Annyeonghaseyo….^_^

Hei readerdeul..^^ berjumpa lagi dengan saya. Semoga kalian tidak bosan dengan cerita-cerita yang saya suguhkan. Ini ff sebenarnya udah ff  lama yang udah jamuran di dalam note saya. So, kalau ceritanya rada absurb atau malah absurb banget harap maklum ne.^^

Untuk typo sesuatu yang bisa memperindah cerita ini karena termasuk seni yang tidak disengaja. Keke—^^ kalau tidak suka tidak usah baca dan tidak perlu ngebash. Buat yang suka aja, dan buat yang tidak suka, Silahkan menjauh sebelum menodai mata anda.

 

 

HAPPY READING……..^_^

 

 

Cinta….

Cinta itu kadang tak perlu diucap….

Cinta juga tak selalu berawal dengan manis….

Cinta tumbuh bukan melalui kata….

Tapi cinta tumbuh dari kedalaman hati….

 

Cinta sejati….

Cinta yang tak pernah mengharap lebih….

Cinta sejati selalu memberi dengan kerelaan hati….

Cinta yang selalu menanti…

Cinta yang suci dan murni….

Cinta sejati selalu bermuara pada sesuatu yang kekal abadi…

Karena cinta sejati….

Tak pernah salah memilih….

 

 

Author POV

 

“Hoonie..” panggil seorang yeoja pada yeoja lain yang kini tengah berjalan di sepanjang koridor kampus. Headphone warna putih melekat ditelinganya, bisa ditebak kalau yeoja itu asyik mendengarkan music.

“Yaakkk!! Jung Eun Hoon!!” pekik yeoja itu lagi saat panggilannya tak digubris (?). Setengah berlari, yeoja itu berhasil mengejar yeoja yang dia panggil tadi. Yeoja itu baru menyadari, saat lengan kirinya ditarik, dia kemudian menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.

 

 

“ Ji Eun-ah, apa kau habis ikut lomba marathon eoh?” tanya yeoja yang bernama Jung Eun Hoon itu tanpa dosa saat melihat yeoja yang dipanggil Ji Eun-ah itu sedang menormalkan pernapasannya. Bisa dilihatnya deruan na[as lelah keluar dari yeoja yang ia panggil Ji Eun itu.

“Isshhh… Kau ini!!” dengus yeoja itu kesal.

“Atur napas mu itu. Tarik napas yang dalam, lalu hembuskan. Ulangi beberapa kali!!” perintah Hoonie.

“Yaakk!! Kau pikir aku mau melahirkan apa?! Ini semua gara-gara kau pabbo!!”

“Mwo? Kau mengatai ku pabbo?”

 

 

“Wae? Aku sudah memanggil mu berkali-kali sampai pita suara ku ini mau lompat keluar, tapi kau seenaknya saja melenggang. Apa kau tuli eoh?”

“Yakk!! Mulut mu itu benar-benar!! Sudah mengatai ku pabbo, sekarang mengataiku tuli!! Ck!! Chingu macam apa kau ini?” Hoonie kembali berjalan meninggalkan Ji Eun.

“Aisshhh jinjja!! Kenapa kau malah meninggalkan ku?”

“Buat apa aku berdiri disana kalau hanya mendengarkan mu mengoceh huh? Kepala ku sudah terlalu pusing mendengarkan ocehan (?) Park seongsaenim. Dan sekarang, kau pun ikut-ikutan. Ck!! Sial sekali aku hari ini. Harus mendengarkan ocehan dari orang-orang yang bermulut besar!!”

 

Pletakkk—-

 

“Aww…appo!!” Hoonie mengelus kepalanya yang sudah dijitak Ji Eun.

“Mau lagi heum?”

“Yakk!! Kenapa kau menjitak kepala ku. Dasar nenek lampir!!”

“Mwo? Nenek lampir? Kalau aku nenek lampir, lalu kau apa? Ratu setan? Aiisshh jinjja!! Kenapa Jung ahjumma bisa melahirkan anak seperti ini. Kasihan sekali nasib mu, ahjumma!!”

“Jangan bawa-bawa eomma ku!! Sudahlah!! Kau, ada apa kau memanggil ku? Apa kau mau mentraktir ku eoh? Kajja?”

“Aisshh.. makan saja yang kau pikirkan. Aku mau  mengajak mu ke dorm. Yesung oppa tadi menyuruh ku ke sana.”

 

 

“Ck!! Pergi sendiri!! Aku tidak mau dijadikan obat nyamuk!!” Hoonie kemudian melanjutkan jalannya lagi setelah tadi dihentikan Ji Eun. Ji Eun kemudian menarik lengan Hoonie lagi.

“Ayolah Hoonie!! Bukankah hari ini sudah tidak ada jadwal kuliah lagi? Kau tahu kan kalau aku dan Yesung oppa belum lama pacaran. Aku takut kalau harus kesana sendirian. Jebal?”pinta Ji Eun dengan puppy eyesnya. Hoonie yang melihatnya mendengus kesal.

“Heishh! Kenapa kau tak menyuruhnya menjemput mu?”

“Yaak!! Kau mau melihat ku besok ada di koran dengan berita mati mengenaskan karena dibully fans-fansnya Yesung oppa eoh?”

“Apa peduli ku?”

 

 

“Aisshh jinjja!! Ayolah?! anti kau kan bisa berkenalan dengan oppadeul. Aku jamin kau bakal senang, mereka sangat baik kok. Mau ya?” Ji Eun mengerjap-ngerjapkan matanya penuh harap dengan senyum manis dibibirnya. Ji Eun sangat ahli bagaimana merajuk pada chingunya itu.

“Jangan perlihatkan wajah mu yang memelas itu lagi pada ku!!” cibir Hoonie pada Ji Eun yang masih memohon.“Palliwa!! Sebelum aku berubah pikiran.”

“Ah, gomawo nae chingu. Kau memang teman terbaik ku.” ucap Ji Eun memeluk Hoonie dari samping. Mereka lantas berjalan menyusuri koridor kampus menuju parkiran dan melesat pergi dengan Audi putih milik Hoonie.

^^^

 

“Annyeonghaseyo oppadeul” sapa Ji Eun saat masuk ke dorm Suju. Semua orang yang ada di ruangan itu pun memalingkan wajahnya ke arah suara. Ji Eun tengah berjalan dibelakang Yesung yang tadi membukakan pintu dorm untuknya.

“Oh, annyeong Eun-ah” jawab mereka bersamaan.

“Chagi, kau duduklah dulu. Oppa buatkan minum.” ucap Yesung. Ji Eun mengangguk dan tersenyum pada Yesung kemudian mendudukkan pantatnya di sofa disamping Leeteuk.

“Kau sendirian Eun-ah?” tanya Leeteuk

 

 

“Eh? Anni oppa. Aku tadi bersama nae chingu.” jawab Ji Eun. Ia menengokkan kepalanya dan mendapati kalau temannya itu telah raib entah kemana.”Aissh! Dimana yeoja pabbo itu?” gerutunya saat menyadari kalau Eun Hoon tidak ikut masuk bersamanya. Ji Eun hendak berdiri saat mendengar suara ribut dari arah depan. Bukan hanya Ji Eun, tapi semuanya mengarahkan matanya pada asal suara.

 

 

“Yaak! Kalau jalan pakai mata eoh!!”

“Heishh! Dimana-mana juga kalau jalan itu pakai kaki noona, bukan pakai mata. Kau saja jalan pakai kaki, bisa-bisanya menyuruh orang lain jalan pakai mata. Ck!!”

“Minggir, aku mau masuk!!”

“Aku juga mau masuk. Memangnya kau ini siapa noona? Tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini.”

“Tsk!! Kau sendiri siapa? Apa kau pedagang sayuran eoh?” ucap Hoonie karena melihat beberapa kantong plastik berisi kebutuhan dapur berada dikedua tangan namja itu.

 

 

“Mwo? Mulut mu noona, seenaknya saja kau bicara. Aisshh jinjja!! Palliwa, geser sedikit aku mau masuk!!”

“Hoonie..” seru Ji Eun yang menghampirinya.

“Wookie..” seru member suju yang berada di belakang Ji Eun.

Ji Eun dan member Suju lainnya melongo saat melihat Eun Hoon dan Ryeowook yang kini sama-sama berada diambang pintu dorm. Keduanya berniat ingin masuk, tapi karena mereka saling berebut dan tidak ada yang mau mengalah, jadilah tubuh mereka berdua tergencet memenuhi pintu. Tangan mereka berdua saling sikut, berusaha ingin menang sendiri untuk menunjukkan siapa diantara mereka yang paling kuat.

 

 

“Yaak!! Tidakkah kau mau mengalah pada seorang yeoja heum?” decak Hoonie pada Ryeowook.

“Naega wae? Harusnya kau noona. Apa kau tidak lihat kalau aku sudah kesusahan membawa kantong-kantong ini huh? Lagi pula aku duluan tadi yang sudah mau masuk, tapi kau seenaknya saja main serobot!!”

“Apa kau bilang?”

“Aish jinjja! Mau sampai kapan kalian akan berdiri disitu heh? Dari tadi membuat keributan!! Wookie, kau mengalah saja. Biarkan dia masuk duluan” ucap Leeteuk yang kesal karena melihat perdebatan yang tak ada ujungnya.

 

 

“Tap..tapi hyung?”

“Kau kan namja, mengalah pada yeoja tak berdosakan?!!” imbuh Leeteuk lagi. Hoonie tersenyum  kemenangan di sudut bibirnya.

“Hoonie, gwaenchana?” Ji Eun menghampiri Hoonie kemudian menariknya masuk. Keduanya – Eun Hoon dan Ryeowook – mendengus kesal. Terlebih Ryeowook yang harus mengalah pada Hoonie, yeoja yang baru saja dilihatnya itu.

Dasar yeoja menyebalkan!! Awas kau! Batin Ryeowook yang berjalan di belakang Hoonie.

 

Hoonie POV

“Dasar namja menyebalkan!! Memangnya siapa dia berani-beraninya pada ku. Awas saja kau!!” batin ku dalam hati.

Melihat namja itu, membuat suasana hati ku tambah kesal saja. Ini semua gara Han Ji Eun, ah yeoja itu. Kalau bukan karena dia chingu ku, aku pasti tidak akan mau diajak kesini. Dan lagi aku harus bertemu dengan namja itu tadi. Siapa tadi namanya? Wookie? Nama macam apa itu? Menggelikan.

Sudah badannya kecil, bicara seenaknya dan tidak mau mengalah lagi. Benar- benar hari tersial dalam hidup ku. Ji Eun bilang mereka baik, apa begini yang dikatakannya baik? Apa begini sambutan yang mereka berikan pada tamu? Kalau dipikir-dipikir, mereka kan tidak mengenal ku, jadi wajar saja. Ah, molla!!

 

 

“Hoonie, gwaenchanayo?” tanya Ji Eun saat aku duduk disampingnya.

“Nan gwaenchana.” jawab ku singkat. Biar saja dia tahu kalau aku kesal setengah mati.

Ku lihat, namja tadi, si kurus Wookie itu berjalan menuju dapur. Dia meletakkan kantong-kantong belanjaan di meja pantry. Dia menghembuskan napasnya beberapa kali, mungkin dia kelelahan karena bawaannya yang sangat banyak itu. Atau kesal karena disuruh megalah pada ku? Kasihan juga dia. Eh? Kenapa aku jadi memikirkannya? Mau lelah, mau enggak, bukan urusan ku juga.

 

 

Ryeowook POV

Sebenarnya siapa yeoja itu. Baru melihatnya sekali sudah membuat ku kesal setengah mati. Aargghh!! Awas saja kau yeoja menyebalkan!! rutukku dalam hati.

Apa hyungdeul mengenal yeoja itu? Mau-maunya mereka mengenal yeoja seperti itu. Lihatlah! Enak sekali dia sekarang duduk-duduk di sofa. Sudah membuat ku kesal, tidak mau mengalah, dia bahkan tidak menolong ku membawa belanjaan ku. Eh?? Tapi siapa juga yang mau ditolong olehnya? Buat apa juga aku harus memikirkannya. Lebih baik segera ku tata belanjaan ku dan bersiap memasak. Perut ku rasanya sudah seperti suara karnaval.

 

 

“Wookie, ada yang bisa ku bantu?” tanya Sungmin hyung disamping ku. Eh? Sejak kapan hyung ada disitu? Isshh sial!! Gara-gara yeoja satu itu, aku jadi tak konsen. Bahkan sampai aku tidak menyadari keberadaan Sungmin hyung.

“Eh? Boleh saja hyung. Aku mau menyiapkan bahan makanan buat makan malam. Hyung tolong simpan belanjaan lainnya ke lemari.”

“Ne.”

“Gomawo hyung”

“Cheonma.”

 

 

Author POV

Sementara Ryeowook tengah sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan dan peralatan dapurnya, yang tentu saja masih di bantu Sungmin, Hoonie kini tengah asyik dengan dunianya, apalagi kalau bukan mendengarkan musik lewat headphonenya. Hoonie duduk di balkon dorm, mengisolasikan dirinya dari riuh-riuh suara yang ada di dalam. Ji Eun sendiri tengah asyik bercanda tawa bersama kekasihnya, Yesung.

 

 

Hoonie memejamkan matanya menikmati lantunan nada yang memenuhi kepalanya. Rasanya dia tidak akan pernah peduli atau ambil pusing dengan keadaan sekitarnya jika sudah berkutat dengan headphone dan ipod. Mau ada badai atau gempa sekalipun, dia tidak akan sadar. Yah, yeoja itu bukannya tidak menyukai keramaian, tapi ia memang lebih senang menyendiri daripada harus berkumpul membahas hal-hal yang menurutnya tidak penting. Seperti yang biasa dilakukan yeoja kebanyakan, yang suka sekali bercakap-cakap sampai berjam-jam membahas sesuatu yang sebenarnya bukan hal yang penting untuk dibahas, atau bergosip.

 

 

“Hei, sedang apa kau disini?” sebuah suara membuyarkan ketentramannya. Hoonie mendongak keatas.”Kenapa disini? Apa kau tidak kedinginan? Kau akan mati beku jika disini terus?”

“Nde?”

“Masuklah, kita ngobrol didalam. Jangan menyendiri, nanti kesambet setan tau rasa kau!!”

“Eoh, siapa yang menyebut-nyebut nama ku?” teriak suara dari dalam. Mereka berdua sontak menengok. Dan mendapati Kyuhyun yang tengah melayangkan deathglarenya. Kening Hoonie mengkerut tanda tak mengerti.

 

 

“Hahahaa… Mianhae Kyu. Aku tak sadar kalau raja setan ada disini”

“Apa maksudnya?”

“Kyuhyun, dia kan terkenal sebagai rajanya segala setan gara-gara terlalu sering menjahili kami. Bahkan kadar kejahilannya itu sudah melebihi ambang normal. Leeteuk hyung saja sudah kewalahan. Setan satu itu cuma nurut sama Sungmin hyung.”

“Eum, begitu rupanya!!”

“Kau temannya kekasih Yesung hyung?”

“Ne. Aku kesini karena menemani Ji Eun. Itu juga karena terpaksa!!”

“Kekeke…. Gurae, sebaiknya aku memanggil mu siapa?”

“Hoonie, begitulah orang-orang biasa memanggil ku.”

“Ne. Kalau begitu kau panggil aku oppa, Haeppa. Arraseo? Aku kan lebih tua dari mu.”

“Ck!! Bangga sekali menyebut kata tua.”

 

 

Pletakkk—

 

“Appoo.” Ringis Hoonie mengusap kepalanya.”Yak! Kenapa oppa menjitak kepala ku?”

“Salah sendiri kenapa mengejek ku!!”

“Tsk!! Siapa yang mengejek. Aku kan cuma mengatakan kenyataan!!” kilah Hoonie mengerucutkan bibirnya kesal karena Donghae yang masih menertawakannya.

“Makan malam sudah siap!!” terdengar teriakan dari dalam yang memecah keributan mereka berdua.

“Sepertinya makanan sudah siap. Kajja kita ke dalam?” ajak Donghae pada Hoonie.

“Ah,kebetulan sekali cacing-cacing di perut ku sudah berteriak meminta suplai makanan.” Donghae terkekeh pelan saat mendengar ucapan Hoonie.

 

 

Beberapa detik yang lalu, yeoja ini tampak sangat pendiam dan cuek. Bahkan terlihat sangat aneh. Tapi saat mendengar makanan, wajahnya jadi berubah 180°. Yeoja yang menarik. Gumam batin Donghae tersenyum simpul.

^^^

 

 

Ke sembilan member suju, ditambah Hoonie dan Ji Eun, kini tengah duduk manis mengelilingi meja makan. Berbagai menu makanan telah tersaji di sana. Aroma masakan yang menusuk hidung, mampu menggugah hasrat dan menggelitik perut mereka untuk segera melahapnya. Tampilan makanannya pun juga sangat menarik. Hoonie yang memang tidak bisa menahan diri, kalau sudah melihat makanan, langsung mengambil mangkuk nasi yang ada di depannya. Dengan sumpit yang ada di tangannya, dia mengambil beberapa lauk dan menempatkannya di atas nasinya. Dia bahkan tidak menyadari tatapan-tatapan aneh dari orang-orang yang ada disitu, yang bahkan belum sempat mengambil lauk, tapi sudah didahului olehnya. Ji Eun yang memang sudah hapal dengan sifat Hoonie, segera menyikut tangannya.

 

 

“Mwo?” tanya Hoonie dengan mulut yang penuh makanan.

“Isshh kau ini!! Dasar tukang makan! Lihatlah kau sekarang ada dimana?” mendengar ucapan Ji Eun, Hoonie pun mengedarkan pandangannya ke sekitar, sepertinya dia mulai menyadari keberadaannya saat ini. Semua pasang mata mengarah padanya.

 

 

“Uuppssstt, mianhae?” ucapnya sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

“Bwahahahaaa…..” melihat tingkah Hoonie, mereka justru malah menertawakannya. Lucu? Jelas sekali. Apalagi melihat ekspresinya dengan pipi menggembung, karena terlalu banyak menampung makanan.

“Yaak! Jangan menertawakan ku!!” geram Hoonie setelah berhasil menelan seluruh makanan di mulutnya.”Bisakah kita lanjutkan saja makannya? Aku sudah sangat lapar!!”

“Baiklah.” Jawab Leeteuk.

 

 

“Selamat makan.” ucap mereka bersamaan. Mereka pun akhirnya menikmati makan malam mereka. Donghae yang berada di samping kiri Hoonie menahan tawanya saat melihat bagaimana cara yeoja itu makan.

“Mashita” seru Hoonie dengan penuh semangat membara memuji hasil masakan yang telah membuatnya kenyang.

“Tentu saja. Siapa dulu yang masak?” ucap Sungmin.

“Apa oppa yang memasak ini semua?” tanya Hoonie.

“Anniyo. Aku hanya membantu saja tadi.” sanggah Sungmin.

“Lalu, siapa yang memasak semua masakan ini? Neomu mashita!!” puji Eun Hoon mengacungkan ibu jarinya.

“Ryeowook, dia yang memasak ini semua.” jawab Leeteuk menunjukkan sumpitnya ke arah Ryeowook.

“Uhuk..uhhukk…” sepertinya Hoonie ikut menelan sumpitnya saat mendengar jawaban Leeteuk.

“Hoonie, gwaenchana? Makanya kalau makan pelan-pelan!!” ujar Ji Eun menyodorkan air putih. Hoonie segera menghabiskan segelas air putih itu.

“Gwaenchana Eun-ah.”

“Pelan-pelan. Kami tidak akan mengambil jatah makan mu” goda Eunhyuk.

“Heii monkey, kau jangan menggodanya. Lihatlah, mukanya jadi merah.” seru Yesung yang justru malah ikut menggoda Hoonie.

“Ne..ne..ne..”

“Gwaenchana?” kini Donghae yang bertanya cemas.

“Gwaenchana oppa.” Balas Hoonie mencoba tersenyum

 

 

“Dasar yeoja rakus!!” cibir Ryeowook lirih yang duduk tepat di depan Hoonie. Tapi ucapan Ryeowook itu masih bisa di dengar Hoonie yang kini menatapnya sinis.

“Apa kau bilang heh?” tanya Hoonie.

“Wae? Aku tak bilang apa-apa? Kau saja yang salah dengar!!” jawab Ryeowook datar.

“Cihh, masih mengelak. Jelas-jelas aku mendengar kau menyebut ku rakus” balas Hoonie tak terima.

“Kalau dengar, kenapa masih bertanya? Pabboya!” desis Ryeowook mengunyah makanan di mulutnya.

 

 

“Diam!!” Kangin menggebrak meja dengan satu tangannya. Mereka kemudian diam seribu bahasa, tak ada lagi yang berani bersuara.”Tidak bisakah kita makan dengan tenang?” tanyanya.”Diam dan lanjutkan makan kalian!!”

Mereka pun akhirnya melanjutkan makan malam mereka dalam kebisuan (?). Tak ada satu pun suara keluar dari mulut mereka. Hening!! Hanya suara sumpit dan sendok yang terdengar, hingga sebuah suara memecah keheningan itu.

 

 

“Aku pulang.” seru suara dari pintu depan.

“Siwon-ah, kau sudah pulang? Kajja kita makan bersama?” ujar Leeteuk saat melihat orang yang baru masuk dorm itu.

“Aku sudah makan tadi hyung.” balas Siwon saat dia mengambil air di kulkas. Saat menengguk air itu, ekor matanya menangkap sosok yeoja yang sepertinya tak asing baginya, yang kini tengah duduk disamping Donghae.

“Uhuk..uhhukk…” Siwon tersedak minumannya sendiri.

“Hati-hati kalau minum, Wonnie.” Ujar Leeteuk lagi.

 

 

“Hoonie!! Kau Jung Eun Hoon kan?” seru Siwon. Sementara Hoonie, dia sibuk mengamati wajah Siwon sampai menyipitkan matanya.

“Nuguya?”

“Tsk!! Kau lupa padaku heum perut karet?” Siwon mencubit sebelah pipi Eun Hoon.”Ini aku Siwon. Si Tuan Tampan!! Kau ingat?”

 

 

“Siwon? Si Tuan Tampan? Nugu” ulang Eun Hoon dengan kening mengkerut yang tampak berpikir keras mengingatnya.

“Kau melupakan ku? Tsk!”

“Kyaa.. Kau Siwon oppa? Oppa kuda ku?” Siwon  menggangguk.

“Oppa, bogoshippo!!” pekik Hoonie yang langsung berdiri dari kursinya dan memeluk Siwon. Siwon sedikit terkejut, tapi sedetik kemudian ia tersenyum yang memperlihatkan lesung pipinya yang sangat menawan.

“Nado bogoshippo nae Hoonie” balas Siwon. Sedangkan yang lain, menatap adegan peluk-pelukan ini dengan tampang cengo.

^^^

 

 

Dua bulan setelah pertemuan Hoonie dengan Siwon, rupa-rupanya telah membawa sedikit perubahan dalam alur kehidupan Hoonie. Yeoja itu tidak lagi hidup dalam dunianya yang selalu menyendiri. Yeoja itu kini menjadi sedikit lebih terbuka. Apalagi kalau bukan karena Siwon, Si Tuan Tampan. seperti saat ini, Hoonie tengah berada di dorm Suju, dan tentu saja bersama Siwon. Mereka berdua nampak asyik bercengkrama di depan tv, tak menyadari ada sepasang mata yang tengah menatap keakraban mereka dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

 

 

“Wookie, apa yang kau lihat?” tanya sebuah suara yang mengembalikan urat kesadaran Ryeowook. “Hoonie? Kenapa kau menatapnya seperti itu?” imbuhnya lagi.

Ryeowook menjadi gelagapan saat mendengar pertanyaan yang sangat tepat ditujukan kepadanya. Yah, sedari tadi Ryeowook memang selalu memperhatikan setiap gerak-gerik yeoja yang sangat menarik indera penglihatannya itu. Menyita seluruh perhatiannya pada satu titik fokus, Hoonie.

 

 

“Eoh, anniyo hyung.” elak Ryeowook dengan mengibaskan tangannya di depan mukanya.

“Jinjja? Aku mengenal mu bukan kemarin Wookie, tapi sudah bertahun-tahun kemarin. Bahkan tidur pun aku dengan mu. Aku sudah hapal semua sifat dan semua hal tentang mu. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Kau tidak pandai berbohong. Kau menyukai Hoonie kan?”

“Yesung hyung”

 

Ryeowook POV

 

“Jinjja? Aku mengenal mu bukan kemarin Wookie, tapi sudah bertahun-tahun kemarin. Bahkan tidur pun aku dengan mu. Aku sudah hapal semua sifat dan semua hal tentang mu. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Kau tidak pandai berbohong. Kau menyukai Hoonie kan?”

“Yesung hyung”

 

 

Hyung, kau memang hyung kesayangan ku. Kau bahkan tahu setiap detail tentang diri ku, hyung. Yang bahkan aku sendiri pun tidak terlalu menyadarinya. Seperti sekarang ini. Hoonie. Nama seorang yeoja yang awalnya sangat aku benci, yeoja yang sudah merusak hari ku. Tapi kini, nama yeoja itu seolah memiliki arti tersendiri di hati ku. Aku tidak tahu kenapa bisa begini. Kapan dan bagaimananya aku juga tidak tau. Yeoja itu telah membuat ruang tersendiri dalam hati ku dengan sendirinya.

 

 

Mendengar pertanyaan mu barusan, nampaknya aku harus berpikir ulang lagi hyung. Apa benar aku memang sudah menyukainya. Menyukai seorang yeoja yang bernama Jung Eun Hoon itu? Molla!! Tapi yang jelas, saat aku melihatnya, hati ku rasanya berdesir aneh. Seperti tersengat aliran listrik dengan tegangan yang sangat tinggi. Bahkan, hanya mendengar namanya pun, jantung ku berpacu tak pasti. Apa seperti ini bisa dikatakan kalau hati ku mulai terpaut padanya?

 

 

“Yaakk… Kim Ryeowook!! Kenapa kau malah melamun heh?”

“Eh?? Mianhae hyung. Ak..aku tidak melamun.”

“Jadi?”

“Mwoya?”

“Aisshh jinjja!! Jadi, apa dugaan ku benar? Kau menyukai Hoonie, heum?”

“Entahlah hyung!! Aku sendiri masih belum tahu dengan perasaan ku.” jawab ku mencoba mengelak, tapi sejujurnya aku memang belum yakin.”Aku sangat senang melihat dia tertawa. Tapi sayangnya tawa itu bukan untuk ku hyung. Disini, ya disini rasanya benar-benar sakit”

 

 

Aku meletakkan tangan kanan ku tepat didada ku. Menunjukkan rasa sakit di bagian tubuh ku yang aku rasakan saat melihatnya tertawa lepas bersama Siwon hyung.

“Kundae, melihatnya bisa tertawa saja aku sudah bahagia. Itu sudah lebih dari cukup hyung. Aku juga sudah bahagia.” Aku mencoba menampilkan senyum ku pada Yesung hyung. Dia melihat ku dengan tatapan sendu dan kasihan. Eh? Kasihan? Andwae hyung!! Aku tidak ingin dikasihani. Aku bukan orang sakit yang pantas dikasihani.

“Hyung, jangan menatap ku seperti itu hyung. Jangan menatap ku seolah-olah aku ini manusia yang paling menderita. Tsk!! Aku baik-baik saja hyung.”

 

 

Aku berusaha mengelak dan terus mengelak. Aku menundukkan wajah ku menghindari tatapan Yesung hyung yang sangat tidak aku suka, berusaha mengalihkan perhatian ku lagi pada kegiatan ku sebelumnya, membuat tropical fruit. Ah sial!! Gara-gara yesung hyung, aku jadi mengabaikan buah-buah ku yang manis ini. Ck!

Tapi tunggu, apa ini? Kenapa ada yang menetes di punggung tangan ku. Apa hujan? Tidak mungkin. Kalau pun hujan, tidak mungkin kan hanya setetes. Lagi pula aku sekarang sedang didalam ruangan. Apa atapnya bocor?-_-

Omo! Kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat? Lalu, apa ini? Yesung hyung. Wae hyung? Kenapa kau tiba-tiba memeluk ku? Yah, saat ini Yesung hyung sedang memeluk ku erat. Sedikit banyak, aku merasakan ketenangan berada dalam pelukan hyung ku ini.

 

 

“Wae hyung?”

“Diamlah!! Aku tahu kau sangat sakit. Mau berapa kalipun kau membantah, kau tak akan pernah bisa membohongi ku, terlebih membohongi hati mu Wookie.” Ku rasakan mata ku semakin memanas. Tes. Apa aku menangis? Apa tadi air mata ku? Kenapa aku menangis? Apa memang sesakit ini? Huh! Kenapa disaat seperti ini sifat cengeng ku mudah sekali keluar?Aisshh jinjja!!

 

 

“Uljima!! Menyukai seseorang itu memang berat. Tapi akan lebih berat lagi saat kau tak bisa mengatakan apa yang kau rasakan itu padanya. Apalagi harus melihatnya bersama dengan orang lain. Sangat sakit bukan? Kalau kau menyukainya, katakanlah!!” Yesung hyung menasehati ku dengan lembut. Aku tahu kalau Yesung hyung berusaha menjaga perasaan ku.

 

 

“Anniyo hyung. Tidak mungkin aku mengatakannya. melihat ku saja dia tidak mau. Kau juga tahu kan hyung? Jangankan berbicara, saat berpapasan dengan ku saja dia sudah memalingkan mukanya. Baginya, aku ini seperti sampah yang mengganggu pandangannya. Aku tidak layak buatnya hyung. Aku tidak ingin membuatnya tambah membenci ku. Cukup dengan mengaguminya dari jauh.”

“Pabbo!! Kalau kau tidak mengatakannya, bagaimana dia bisa tahu? Cobalah dulu?”

“Shireo!!”

“Yak! Mau sampai kapan kau akan memendamnya heum?”

“Sampai waktu berpihak pada ku hyung. Mungkin sampai aku tak bisa lagi membuka mata ku untuk menatapnya. Sampai aku tak bisa lagi menghirup udara yang sama dengannya. Sampai aku benar-benar hilang dari dunia ini.”

“Dasar kau dongsaeng keras kepala!”

 

 

“Hyung, lepaskan pelukan mu! Aku tidak bisa bernapas. Aku tidak mau Ji Eun salah paham, mengira kalau kau berselingkuh dengan ku.” Yesung hyung melepaskan pelukannya dan justru menjitak kepala ku. Tak ku sangka kalau jari mungilnya itu bisa menyakiti ku juga. Aku mencoba sedikit tersenyum, meskipunterpaksa. Tapi setidaknya, aku sudah merasa lebih baik. Ini semua karena Yesung hyung. Gomawo hyung. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa mu. Sekalipun aku tidak mengucapkan secara langsung, tapi ku harap kau bisa merasakan rasa terima kasih ku pada mu, hyung.

 

 

“Heishh! Kau pikir aku mau denganmu heh?” Ku lihat Yesung hyung mendengus kesal.”Apa sudah lebih baik?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk ringan.

“Gomawo hyung.”

 

 

Hoonie POV

Yakk! Apa-apaan mereka itu? Berpelukan seperti itu, apa mereka tidak malu? Orang memang biasa berpelukan, tapi yang satu ini terlihat sangat aneh. Bagaimana bisa dua orang namja saling berpelukan begitu erat? Cih!! Menjijikkan!! Yahh, saat ini aku memang sedang memperhatikan adegan romantis, tapi bukan sepasang kekasih yang sedang berpelukan. Tapi mereka, Yesung oppa dan namja menyebalkan itu. Siapa lagi kalau bukan Ryeowook. Mata ku tidak sengaja menangkap sebuah pemandangan (?) yang sedikit menarik perhatian ku dari arah dapur. Dua namja itu sedang berpelukan. Catat! Berpelukan. Aigoo!-_-

 

 

Tapi, tunggu dulu. Namja itu, si Wookie itu, kenapa dia? Sepertinya ada yang aneh dengannya. Tapi apa ya? Ku pertajam lagi mata ku mengamati mereka. Meskipun dari tempat ku duduk dengan dapur jaraknya cukup jauh, tapi mata ku ini masih bekerja dengan normal, seperti singa yang sedang mengintai mangsa. Apalagi posisi ku sekarang tepat mengarah pada sasaran.

 

 

Air mata? Aku bisa melihat dengan jelas kau namja itu mengeluarkan air bening dari matanya. Apa dia menangis? Ah, tidak mungkin. Aku pasti sudah salah lihat. Ku kucek (?) mata ku, siapa tahu saja ada belek (?) dimata ku ini jadinya aku salah lihat. Omo! Benar dia menangis. Tapi, kenapa tiba-tiba dia menangis.

Dan kenapa ini? Kenapa dada ku rasanya nyeri? Apa aku terkena serangan jantung? Apa aku terkena kanker payudara? Heishh! Hoonie pabboya!! Tidak mungkin aku punya penyakit yang mematikan secara mendadak. Ku pegang bagian dada ku yang nyeri dan mengelusnya pelan untuk mengurangi sakitnya.

Tapi kenapa rasanya tidak berkurang? Kenapa saat aku semakin melihatnya, dada ini rasanya semakin sakit. Ada apa dengan diri ku. Melihatnya menangis dengan air mata yang mengalir dari matanya, kenapa aku bisa merasa sesakit ini. Ya Tuhan, jangan begini. Aku tidak ingin merasakan sakit ini. Aku pun meremas dadaku dan menepuk-nepuknya beberapa kali.

 

 

Sekarang, ada apa dengan mata ku? Kenapa rasanya aku juga ingin menangis.? Rasanya aku sudah tidak kuat menahan desakan air yang memberontak di pelupuk mata ku. Andwae!! Aku tidak mau menangis disini. Akan tampak bodoh sekali kalau sampai itu terjadi. Menangis tanpa sebab yang jelas. Akan terlihat aneh. Apalagi kalau namja itu sampai melihatnya. Gwaenchana..gwaenchana.. aku baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa. Tenang Hoonie.

“Hoonie..”

“Nde?”

“Neo gwaenchana? Apa kau sakit? Ku lihat wajah mu pucat.”

“Nan gwaenchana oppa.” sejak kapan Siwon oppa sudah ada disamping ku lagi? Aku tidak tahu kalau dia sudah kembali dari toilet. Apa ini karena aku terlalu larut mengamati namja itu. Menyebalkan!! Kenapa hanya melihatnya saja aku jadi begini, bahkan aku sampai melupakan Siwon oppa. Huh!

 

Siwon POV

Ah, senangnya hati ku, riang bahagia selalu. Eh?? Kenapa aku malah bernyanyi? Tapi memang benar, itu lah perasaan ku saat ini. Sejak bertemu lagi dengan Si Perut Karet tukang makan itu, rasa-rasanya hari ku jadi lebih berwana. Disibukkan dengan seabrek jadwal membuat ku lelah dan penat, tapi sejak dia ada, beban ku tak pernah terasa lagi. Karena aku bisa bercerita panjang lebar dengannya. Bercanda tawa bersama. Rasanya lelah itu menguap tak berbekas.

 

 

Yeoja itu, dia memang tak pernah berubah. Bahkan setelah 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya. Dia masih saja sama, masih suka makan, masih asyik dengan dunia headphonenya, masih asyik menyendiri. Tapi begitulah dia, dia yang apa adanya yang selalu bisa membuat ku bahagia. Dia yang selalu bisa membuat ku menjadi diri ku sendiri. Dia yang selalu bisa membuat ku ingin selalu berada disampingnya, melindunginya dan menjaganya seumur hidup ku. Rasa itu, masih tersimpan rapat di hati ku. Rasa yang hanya ku berikan untuknya. Rasa yang selama ini aku tutup rapat tapi mulai aku buka lagi sejak sosoknya kembali. Si Perut Karet, yeoja yang telah berhasil membuat Choi Siwon Si Tuan Tampan ini jatuh hati padanya. Jauh, sejak aku mengenalnya di bangku SD, jauh sebelum aku menjadi Siwon yang sekarang dan sebelum dia pergi bersama orang tuanya ke luar negeri. Kini, saat dia kembali, aku tidak akan membiarkannya pergi lagi. Aku berjanji, aku tak akan melepaskan mu. Aku akan menjadikan mu milik ku, Jung Eun Hoon.

 

 

Saat aku kembali dari toilet, ku lihat wajahnya sendu. Kenapa dengannya? Apa sesuatu terjadi dengannya saat ku tinggal ke toilet tadi? Baru sebentar aku tinggal, kenapa raut wajahnya berubah jadi pucat begitu. Bukankah tadi dia baik-baik saja? Kenapa dia mencengkeram dadanya? Apa dia sakit? Tapi kenapa dia terus menatap ke dapur? Sebenarnya ada apa dengannya?.

 

 

Ku langkahkan kaki ku mendekatinya, saat sedang berjalan, aku mencoba melihat arah pandang matanya. Ku lihat Yesung hyung dan Ryeowook sedang berpelukan. Ada apa pula dengan mereka berdua? Kenapa mereka berpelukan? Lalu, apa hubungannya dengan Hoonie? Ah molla!! Lebih baik aku tanya saja padanya.

“Hoonie..”

“Nde?”

“Neo gwaenchana? Apa kau sakit? Ku lihat wajah mu pucat!!”

“Nan gwaenchana oppa”

Ku lihat dia berusaha membuat raut mukanya senormal mungkin. Mencurigakan. Apa benar tidak apa-apa? Yah, lebih baik saat ini aku mencoba percaya padanya.

 

Author POV

Semakin hari, Siwon semakin bertambah dekat dengan Hoonie. Setiap jadwalnya kosong, Siwon selalu menghabiskan waktunya dengan Hoonie. Beberapa member Suju mengira kalau mereka telah pacaran dan Siwon tidak mengelak atau mengiyakan. Sedangkan Hoonie, dia hanya menanggapinya dengan senyuman. Entah senyum itu tulus atau sekedar kamuflase belaka. Karena yang digoda hanya diam, membuat member suju itu lebih menggoda mereka berdua dengan candaan-candaan yang aneh-aneh. Mereka juga terlihat sangat merestui. Seperti yang mereka lakukan saat ini, mereka tengah berkumpul di ruang tengah. Dan Hoonie, lagi-lagi yeoja itu berada disana. Ikut larut dalam suasana hangat itu. Sepertinya Siwon sudah tak tahan mendengar ejekan-ejekan dari hyungdeulnya, terlebih ejekan si evil yang membuat telinga Siwon merah dibuatnya.

 

 

“Hoonie..” Siwon memandang Hoonie dan menggenggam kedua tangannya. Hoonie sedikit kaget dengan perlakuan Siwon, apalagi di depan banyak orang yang mengamati mereka dengan penuh harap. Sepertinya penonton pun telah siap dengan posisinya masing-masing. Mereka siap menyaksikan tontonan gratis. Kapan lagi bisa seperti ini? Ck!!-_-

“Selama ini kita sudah sangat dekat. Telah banyak waktu yang kita habiskan bersama. Aku senang akhirnya kau sudah kembali. Dan aku tidak ingin melihat mu pergi lagi. Berpisah dengan mu sudah selama sepuluh tahun ini membuat ku sakit. Karena itu aku tidak ingin berpisah dengan mu lagi. Aku ingin kau tetap berada disini, disisiku. Saranghae.” Hoonie membelalakkan kedua matanya mendengar pernyataan Siwon. Tak berbeda jauh dengan para member Suju yang ikut menjadi saksi penembakan (?) ini.

 

 

Hoonie tak mampu mengeluarkan suaranya. Lidahnya terasa kelu. Bagai terkena timpaan bongkahan batu yang sangat besar dikepalanya. Siwon yang masih setia menunggu jawaban pernyataan cintanya itu. Sementara Hoonie, dia justru sedang melihat ke satu sudut sofa tepat dimana Ryeowook tengah duduk dengan Yesung. Namja itu terpaku ditempatnya, dan Yesung tengah memeluk bahu Ryeowook dan menepuknya beberapa kali.

Hoonie masih terus menatap Ryeowook. Entah apa yang sebenarnya diharapkannya dengan terus menatap Ryeowook. Hoonie tak melepaskan tatapannya sedikit pun dari Ryeowook. Yesung yang berada disamping Ryeowook sepertinya menyadari hal itu. Aku harus menjawab apa? Kenapa kau hanya diam tidak bereaksi? Apa kau tak merasakan apa pun pada ku? Batin Hoonie berkecamuk.

 

 

Yesung melirik dongsaeng kesayangannya yang kini memilih menyibukkan diri dengan ipad ditangannya. Dia seolah mengacuhkan keadaan disekelilingnya. Tapi jelas sekali kalau sebenarnya dia tidak fokus dengan apa yang sedang dia lakukan. Meskipun matanya menatap ipad, tapi fokus pendengaran dan pikirannya tidak disitu. Dia terlihat acuh dengan candaan di ruangan itu. Apalagi setelah Siwon melontarkan pernyataan cinta didepan mereka. Yesung tahu betapa sakitnya hati dongsaengnya itu. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Yesung menatapnya iba. Dia menepuk bahu Ryeowook dua kali. Ryeowook memandangnya seolah berkata ‘aku baik-baik saja hyung’ dan Yesung juga seolah menjawab ‘aku tahu itu. Kau bukan namja lemah’.

 

 

Sampai akhirnya, Ryeowook tidak tahan lagi dan bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang tengah. Sakit!! Itulah yang dirasakan baik Ryeowook maupun Hoonie. Tapi kenapa? Bukankah seharusnya Hoonie bahagia? Yahh, sudah seharusnya dia bahagia karena saat ini Siwon sudah mengungkapkan pernyataan cintanya secara terang-terangan.

“Hoonie, ayo jawab?!” perintah Siwon yang membuyarkan lamunannya. Mengembalikan kesadarannya dari mahkluk yang telah berlalu pergi.

“Palli jawab Hoonie!!”

“Terima..terima..terima..”

Begitulah teriakan-teriakan yang terdengar memenuhi ruangan itu saat ini. Mereka seperti sedang menyaksikan sebuah pertandingan bola dengan memberikan dukungan yang penuh semangat juang. Mereka seoalah tidak sabar menantikan hasil akhir dari ini semua.

 

 

“Hoonie…” panggil Siwon lagi.

“Nde?”

“Saranghaeyo. Kau mau kan berada disisi ku? Menjadi kekasih ku?” Hoonie menatap kedua manic mata Siwon. Mata itu sangat jujur, tak ada sedikitpun kebohongan disana. Tapi Hoonie, entah kenapa ia ragu dengan keputusan yang akan ia ambil. Ia belum yakin dengan perasaannya sendiri. Karena sepertinya separuh hatinya telah terisi orang lain.

“Eum, berikan aku waktu oppa. Aku belum bisa menjawabnya sekarang.” Pinta Hoonie pada Siwon. Tidak bisa dipungkiri kalau Siwon kecewa, tapi ia tetap mencoba memberikan senyuman terbaiknya.

 

 

“Yaahhhh…..” terdengar nada kecewa dari penonton yang tadi sangat semangat kini jadi loyo.

“Ne. Oppa akan memberi waktu 1 minggu. Eotte?”

“Gomawo oppa.”

Ternyata, tanpa mereka sadari ada sepasang mata lagi yang sedari tadi melihat mereka dengan pandangan yang entah curiga merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres atau entah apa. Tapi yang jelas, kedua mata itu menatap dengan penuh tanya. Kedua mata itu menangkap sesuatu yang lain.

 

 

Donghae POV

Suasana dorm saat ini sangat ramai. Siwon tengah menyatakan cintanya pada Hoonie di depan semua member. Sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seorang Choi Siwon menyatakan cinta. Sesuatu yang langka tentunya. Terlebih selama ini, aku tak pernah melihatnya memiliki kekasih sebelumnya. Kalau aku ditanya apa aku cemburu. Tidak. Aku tidak cemburu sedikit pun. Aku sudah menganggap Hoonie sebagai yeodongsaeng kandung ku sendiri. Aku juga tidak punya perasaan cinta seorang namja pada yeoja. Aku menyayanginya sebatas kakak dan adik. Tidak lebih.

 

 

Siwon, sepertinya dia sangat menyukai Hoonie. Jelas sekali terlihat. Bagaimana Siwon menatap Hoonie, begitu teduh dan lembut. Bagaimana Siwon memperlakukan Hoonie dengan sangat manis. Walau kadang mereka saling mengejek, tapi jelas terlihat kalau Siwon begitu mengagungkan Hoonie.

Tapi saat aku melihat Hoonie, entah kenapa tatapannya sangat jauh berbeda dengan tatapan Siwon? Matanya itu tidak menunjukkan binar kebahagiaan. Selama ini, saat bersama Siwon, Hoonie memang bisa bercerita panjang lebar. Bahkan yeoja itu tidak malu saat tertawa dengan kerasnya. Tidak jaim dan apa adanya. Itulah sifat Hoonie.

 

Yeoja itu selalu tampil natural, tidak ada yang dia buat- buat sedikit pun. Disitulah letak kelebihannya.

Apa ini hanya perasaan ku saja? Tapi ini sangat mengganggu ku. Dari sorot matanya, aku dapat menangkap kalau dia sangat tersiksa. Bagaimana bisa? Seharusnya kan dia bahagia? Seperti yang aku lihat saat ini, ia seperti sedang memendam rasa yang menyiksa hatinya. Ini perasaan ku saja atau gimana, aku juga tidak tahu.

Dan yang membuat ku kembali bertanya-tanya, kenapa Hoonie menatap Ryeowook dengan sorot mata memohon begitu? Apa yang dia harapkan? Seharusnyakan dia menjawab pernyataan cinta Siwon. Aku benar-benar bingung dengan ini semua. Siwon, Hoonie, Ryeowook. Apa ada sesuatu dengan mereka bertiga? Saat menatap Ryeowook, mata Hoonie tampak lain. Sorot mata itu seperti mengharapkan Ryeowook untuk mengatakan sesuatu. Tapi yang ia harapkan justru hanya diam menunduk.

 

 

Semakin aneh lagi saat ku lihat Yesung hyung yang juga memperhatikan Hoonie dan Ryeowook. Kenapa dengan Yesung hyung? Kenapa dia memeluk bahu Ryeowook? Apa ada sesuatu yang aku tak tahu? Kalian mencurigakan.

 

 

Author POV

Batas waktu satu minggu yang diberikan Siwon pada Hoonie untuk berpikir ulang sebelum memberikan keputusannya terhadap pernyataan Siwon telah habis. Terbukti, saat ini mereka kembali duduk ditempat yang sama, diruangan yang sama dan dengan penonton yang sama. Eh??-_-

Yahh, saat ini mereka lagi-lagi tengah harap-harap cemas menantikan detik-detik penting dari seorang Jung Eun Hoon. Semua mata sudah menatapnya tajam. Mereka tak mau lagi kecewa seperti seminggu lalu. Hoonie sepertinya menyadari arti tatapan itu. Apalagi Siwon, namja itu tengah menatapnya dengan segunung harapan akan diterimanya cintanya.

 

 

Hoonie menatap mereka satu persatu sebelum mengeluarkan suara merdunya. Eh?? Sepertinya ada yang kurang disini. Kau tidak ada. Akan lebih mudah bagi ku mengatakannya kalau seperti ini. Pikir Hoonie kemudian menghembuskan napasnya.

“Eotte Hoonie?” tanya Siwon.

“Aku mau menjadi kekasih mu oppa”

“Jinjjayo?”

“Ne”

“Gomawo Hoonie. Saranghae” secara spontan Siwon memeluk Hoonie. Mendekapnya erat dalam tubuh tegapnya.

“Kyaaa….chukkaeyo!!” teriakan yang keluar dari mulut beberapa member Suju yang ada disitu. Menjadi saksi sejarah baru perjalan cinta dua anak manusia.

 

Hoonie POV

Siwon oppa, Si Tuan Tampan ini memeluk ku sangat erat. Aku sampai kesulitan untuk bernapas. Aku tidak percaya kalau sekarang aku sudah menjadi kekasih seorang Choi Siwon, member salah satu boyband terkenal seantero negeri. Bahkan kini aku tengah berada dalam dada bidangnya yang errr—seksi. Aku memang sudah lama mengenal Siwon oppa, bahkan sejak aku SD. Dulu aku sangat mengaguminya. Bukan hanya aku saja yang mengaguminya. Seluruh sekolah pun sangat memujanya, karena oppa memiliki kadar ketampanan yang melampaui batas. Sangat tampan. Aku bahkan bermimpi kelak suatu saat ini bisa bersanding dengan dirinya dipelaminan. Mimpi manis seorang gadis kecil kala itu. Aku dan Siwon oppa sangat dekat, apalagi kedua orang tua kami saling mengenal dan rumah kami juga berdekatan. Aku sudah tak sungkan lagi dengannya.

 

 

Pada akhirnya mimpi itu harus aku kubur dalam-dalam sejak orang tua ku membawa ku ke luar negeri karena appa harus mengurus perusahaannya di Perancis. Aku mulai berpikir kalau mimpi ku itu tidak akan pernah terwujud.

Ketika aku kembali ke Korea dan terpaksa berpindah dari kampus ku di Perancis dulu. Aku tak pernah berpikir kalau akan bertemu dengan Siwon oppa lagi. Tapi ternyata Tuhan masih berpihak pada ku, hingga mempertemukan kita lagi. Tapi semua ini bisa terjadi berkat Ji Eun. Kalau saja Ji Eun tidak berpacaran dengan Yesung oppa, aku juga tidak mungkin bertemu dengan Siwon oppa.

 

 

Untuk seorang seperti Siwon oppa, seorang yang sangat sempurna, tampan, pintar, taat beragama dengan sifat yang sangat baik tentunya, harusnya aku bahagia karena mimpi masa kecil ku menjadi kenyataan. Tapi aku merasakan sesuatu yang lain, perasaan yang tak lagi sama. Aku bahkan meminta waktu untuk berpikir sebelum menjawab pernyataan cintanya. Padahal dari dulu ini yang aku mau, ini yang aku harapkan, tapi kenapa aku sampai bertindak demikian. Saat aku akan menjawab pun, separuh diri ku meronta, untuk mengatakan tidak. Apa ini gara-gara namja menyebalkan satu itu?

 

 

Ya Tuhan, tolong jangan buat aku seperti ini. Tolong berikan aku keyakinan yang kuat kalau memang dialah yang terbaik untuk ku. Dia namja yang sangat baik. Aku tak ingin mengecewakannya.

 

 

Author POV

Pesta perayaan kecil-kecilan dibuat di dorm Suju. Untuk apalagi kalau tidak untuk merayakan hari jadian Siwon dan Hoonie. Berbagai macam makanan kecil dan minuman ada disitu. Semua tampak sangat bahagia.

“Annyeong. Aku pulang!!”

“Aku pulang.” Yesung masuk, diikuti Sungmin dan Ryeowook dibelakangnya. Tampak gurat-gurat kelelahan menghiasi wajah mereka.

“Eoh, kalian sudah pulang?” tanya Leeteuk menyambut mereka.

“Ne hyung.” jawab Yesung singkat seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa dan menyandarkan kepalanya

 

 

“Wahh, ada apa ini? Sepertinya kami ketinggalan sesuatu?” tanya Sungmin penasaran.

“Kau benar Minnie. Hoonie baru saja menjawab pernyataan cinta Wonnie. Pesta ini untuk merayakan jadian mereka” jawab Kangin semangat.

“Jinjjayo? Chukkae Wonnie. Chukkae Hoonie. Semoga kalian langgeng ne.” ucap Sungmin dan ikut bergabung dalam pesta itu.

 

 

Berbeda halnya dengan Yesung dan Ryeowook, mereka sangat terkejut mendengar penuturan Kangin barusan. Terlebih Ryeowook. Bak disambar petir disiang bolong saat mendengarnya. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Otaknya sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk sekedar mengucapkan selamat pun, bibirnya terkatup sempurna. Dadanya bergemuruh menahan luapan emosi yang siap meledak saat itu juga. Tapi untungnya, dia masih bisa menahan gejolak itu.

Yesung. Namja itu menatap lekat dongsaengnya yang masih berdiri membatu. Sebagai seorang hyung, dia sangat ingin membantunya. Tapi apalah daya, semua sudah terlambat. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dia tidak mungkin mengungkapkan semuanya, karena itu pasti akan lebih menyakitinya. Dan mungkin saja akan membuat situasi yang sangat tidak enak dengan Siwon.

 

 

“Yakk!! Kau mau kemana, Wookie?” sergah Leeteuk saat melihat Ryeowook melangkah tanpa ikut bergabung dengan mereka.

“Disini banyak minuman Wookie. Bukankah kau sangat suka minum? Jangan sia-siakan!! Mumpung gratis!!” seru Kangin degan mengacung-acungkan kaleng bir.

“Wookie, kajja ikut bergabung dengan kami.” kini Siwon yang berbicara.

“Anni hyung. Aku sangat lelah sekarang. Aku mau tidur.” balas Ryeowook yang langsung ngeloyor masuk kamar.

 

 

“Aku juga mau tidur. Kalian nikmatilah pestanya”

Yesung mengikuti langkah Ryeowook ke kamar. Dia tak akan membiarkan dongsaeng kesayangannya itu merana dan menderita seorang diri. Setidaknya, kehadirannya bisa mengurangi sedikit luka hatinya.

“Tsk!! Ada apa dengannya? Baru kali ini seorang Kim Ryeowook menolak minum. Biasanya sudah dilarang pun dia tetap akan menenggak minuman ini sampai mabuk. Apa dia sakit?” ujar Eunhyuk.

“Molla!! Mungkin dia memang kelelahan.”timpal Donghae. Donghae kemudian memandang Hoonie. Yap, yeoja itu kembali tertangkap basah oleh kedua mata Donghae. Hoonie menatap pintu kamar yang baru beberapa detik lalu tertutup dengan sempurna. Menyembunyikan penghuninya tanpa celah sedikit pun. Dilihatnya Hoonie yang mendesah kasar.

^^^

 

6 bulan kemudian___

Semburat jingga langit sore terhambar jelas menghiasi angkasa. Sekawanan burung beterbangan menuju arah tenggelamnya matahari. Hembusan angin yang tidak terlalu kencang menerpa wajah seorang yeoja yang tengah duduk bersandar di sebuah kursi kayu taman. Rambutnya yang tertiup angin, bergoyang-goyang tak tentu arah.

 

Sebagian jatuh menerpa wajahnya. Yeoja itu tampak sangat menikmati suasana sore ini. Dengan headphone yang bertengger manis dikedua telinganya. Merasakan semilir angin, diiringi lantunan music. Menentramkan sekali rasanya. Tapi apakah benar seperti itu?

Yeoja itu membuka matanya. Matanya mengarah ke atas menatap langit yang semakin memudarkan warnanya. Pikirannya menerawang jauh. Berkali-kali yeoja itu tampak membuang napasnya kasar.

“Haahh! Bagaimana ini? Apakah aku harus menerimanya?” lirihnya pelan. Kemudian dipejamkannya kedua matanya lagi. Kembali menikmati alunan lagu dalam kesendiriannya.

 

 

“Kau mulai asyik lagi dengan dunia mu, Hoonie?” sebuah suara dan sentuhan halus di bahunya mau tidak mau memaksanya harus membuka mata. Tanpa memalingkan wajah, dia sudah sangat mengenal suara itu.

“Yeaah, seperti yang oppa tahu, menyendiri itu sangat mengasyikkan Haeppa!!”

Donghae kemudian duduk disamping Hoonie. Dipandangnya wajah Hoonie. Dia sangat yakin kalau yeoja yang duduk disampingnya itu tengah menyimpan duka yang berusaha dia sembunyikan dibalik renyah tawanya.

“Ada yang mau kau ceritakan? Oppa siap mendengarkan semua!!” Hoonie mengerutkan keningnya tak mengerti.”Jangan dipendam sendiri. Semakin kau pendam,  kau akan semakin tersiksa”

 

 

“Nde? Kau sedang bicara apa oppa? Aku tak mengerti!!” kilah Hoonie yang mencoba tertawa. Bukannya tawa bahagia, tapi justru tawa merana yang keluar dari bibirnya.

“Jangan pura-pura Hoonie. Aku bukan namja ingusan yang tidak tahu menahu soal cinta. Bukankah aku sudah bilang kalau aku lebih tua dari mu. Perbedaan usia kita lima tahun. Aku jelas lebih berpengalaman soal cinta.”

“Cih!! Sok tahu sekali!! Dasar playboy!!”

 

 

“Jadi, bagaimana? Apa kau sudah menerima lamaran Siwon kemarin?”

Hoonie memandang Donghae dari samping, begitu pun dengan Donghae yang juga tengah memandangnya. Pandangan mereka bertemu sesaat hingga Hoonie memilih memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Donghae. Bertatapan dengan mata teduh itu akan sangat berbahaya untuknya.

“Belum!!” jawab Eun Hoon singkat.

“Wae?”

“Kedua orang tua ku masih di Perancis oppa. Aku baru akan menjawabnya setelah membicarakannya dengan mereka. Aku tak ingin terburu-buru. Lagi pula aku juga masih kuliah semester empat. Masih setengah perjalanan ku. Aku tak mau semuanya jadi kacau karena pernikahan.”

“Bagaimana perasaan mu pada Siwon?”

 

 

TBC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s