Nae Yeoja Baboya (Part 6)

Title               : Nae Yeoja Baboya (Part 6)

Author      : Arisa Dwi Amalia

Genre            : Comedy Romance (maybe)

Rating            : PG13

Maincast        :

-Lee Hyuk Jae

-Lee Seonya

Annyeong^^

Saya kembali dengan abang Eunhyuk!

Ada kah yang masih inget dengan FF ini?

Sebelumnya saya mau jawab beberapa komentar yang katanya FF ini terbitnya lama dan sekalinya di post malah pendek banget. Haha

Kalo soal lama atau nggak itu tergantung mood dan inspirasi yang datang aja 😀 dan kalo soal panjang pendeknya setiap part FF ini, itu murni karena kemalasan saya menulis panjang-panjang 😀 #ditabok readers

Yang pasti saya berterima kasih banyak buat yang udah RCL dan nunggu FF ini 😉 hehe

Dah langsung aja deh ya 😀 Happy reading ^^

 

Flashback part 5

“Kita mau kemana?” Tanyanya lagi saat kami sudah berada dimobil.

“Aish~ kan sudah kubilang kau ikut saja.”

“Tapi sekarang yang duduk di kursi kemudi itu aku Nyonya Lee! Jadi aku harus tahu dulu kemana kita akan pergi baru aku bisa jalankan mobil ini.” Bentaknya  tidak sabar. Aku pun hanya nyengir gaje.

“Hehe iya juga ya. Yasudah kita makan saja dulu, kau lapar kan? Tempatnya terserah padamu saja.” Ujarku penuh semangat. Sedangkan Eunhyuk hanya mendengus sebal dan sesekali menggerutu.

 

 

Part 6 start

-Author POV-

Dengan tampang kusut seperti sarjana yang tidak dapat kerja, Eunhyuk dan Seonya menatap sendu kearah sebuah rumah makan yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka. Tadinya Eunhyuk bermaksud mengajak Seonya makan disitu karena di tempat itu makanannya murah dan enak, tapi ternyata tempat itu sekarang sudah tutup. Kini Eunhyuk dan Seonya saling berpandangan diiringi hembusan angin yang memang sangat dingin pada dini hari seperti ini.

“Apa kubilang tadi. Sekarang kau lihat kan kalau tempat ini memang sudah tutup?” Desis Seonya penuh penekanan. Ditatapnya dengan garang Eunhyuk yang berada tepat disampingnya.

“Ya~ aku kan tidak tahu.” Bela Eunhyuk.

“Makanya kalau tidak tahu itu jangan ngotot. Harusnya tadi kau ikuti saja saranku kan?” Kini Seonya mengeratkan mantelnya karena udara yang dingin. Yeoja itu kembali kesal mengingat bagaimana pertengkarannya dengan Eunhyuk di mobil sebelum kemari tadi yang akhirnya di menangkan oleh Eunhyuk.

“Aish~ yaudah sih tinggal ke tempat lain aja, kkajja.”

“Tidak usah. Kita ke Supermarket itu saja.” Tunjuk Seonya pada sebuah bangunan ruko yang masih menyala menandakan tempat itu masih buka.

“Untuk apa kesitu? Kita kan bisa makan ditempat lain.”

“Tidak perlu, biar aku saja yang memasak untukmu.” Tanpa menunggu Eunhyuk, Seonya langsung berjalan menuju Supermarket yang jaraknya tidak sampai 20 meter itu dari tempat mereka berdiri.

“Ya~ tadi katanya mau mengajakku kesuatu tempat? Kalau kau memasak sendiri berarti kita harus langsung pulang dan tidak jadi ke tempat itu dong?” Rajuk Eunhyuk sambil mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Seonya yang terlihat sangat bersemangat.

“Soal itu tenang saja, aku tidak lupa dengan janjiku kok.” Jawab Seonya sambil mengeluarkan senyum manisnya. Sejenak Eunhyuk tertegun menatap yeoja itu sambil meraba dada kirinya yang mendadak menjadi berdebar lebih cepat. “Kkajja.” Ajak Seonya lembut saat kini mereka telah berada didepan pintu Supermarket.

“A…ani…aku tunggu diluar saja.” Jawab Eunhyuk agak gagap.

“Baiklah.” Tanpa terlalu memperdulikan Eunhyuk, Seonya segera melenggang kedalam Supermarket dan segera memilih bahan makanan yang kira-kira ia butuhkan. Sementara Eunhyuk hanya menatap punggung Seonya yang menjauh sambil masih memegangi dada kirinya.

“Kenapa ini sering terjadi saat aku bersama yeoja itu? Apa mungkin…aish~ mana mungkin aku punya perasaan pada yeoja yang selalu membully ku itu. Haha kau pasti sudah gila kalau memang menyukainya Hyuk Jae.” Gumam Eunhyuk mencoba meyakinkan hatinya sendiri. Karena bosan hanya berdiri didepan Supermarket seperti patung selamat datang, akhirnya Eunhyuk pun memutuskan untuk pergi membeli kopi panas diujung jalan saja.

 

~oooOooo~

 

-Seonya POV-

Setelah memastikan semua belanjaan yang aku butuhkan sudah lengkap, aku segera membayar dikasir dan keluar. Namun aku langsung menghentikan langkahku saat menyadari Eunhyuk tidak ada di tempatnya berdiri tadi. Apa dia diculik? Tapi memangnya ada yang mau menculiknya? Haha tidak mungkin. ‘Hmm mungkin dia ke mobil duluan’. Pikirku yakin.

Dengan agak repot karena membawa cukup banyak belanjaan, aku melangkahkan kakiku menuju tempat dimana mobil Eunhyuk terparkir tadi. Tapi saat sudah dekat, aku sadar kalau Eunhyuk tidak ada didalam sana. “Aish~ namja itu kemana sih?” Sedikit gusar karena tempat ini yang begitu sepi, aku segera mengambil ponselku untuk menghubungi Eunhyuk setelah meletakkan dulu belanjaanku di bawah.

“Mencariku?” Tanya seorang namja dengan dua gelas kopi ditangannya. Aku agak terkejut melihat kemunculannya yang tiba-tiba. Huuffhh…namja ini selalu bisa membuatku khawatir karena memikirkannya. Ck!

“Kau darimana sih? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?” Tanyaku sebal.

“Ini untukmu. Aku tadi pergi membeli ini.” Ujarnya sambil mengulurkan sebuah gelas kopi padaku. Tanpa menunggu ditawari lagi, aku langsung mengambil kopi hangat itu dan meminumnya. Kulihat dari sudut mataku Eunhyuk tersenyum menatapku yang sedang minum. Kenapa dia?

“Apa ada yang salah dengan wajahku?”

“Kau pasti sangat kedinginan kan diluar sini menungguku?” Tanyanya tiba-tiba.

“Tentu saja aku kedinginan. Dasar babo! Makanya lain kali kalau mau pergi tu bilang-bilang dulu, kau kira enak apa ak…”

Chup~

Aku tidak melanjutkan kata-kataku karena kurasakan kini sesuatu yang hangat dan lembut membungkam bibirku. Namja itu, Eunhyuk, kini wajahnya tepat didepan wajahku dengan mata yang tertutup dan terlihat tenang. Beda sekali dengan reaksiku yang sekarang melotot dan kaget tidak karuan. Apa-apaan dia? Kenapa dia…? Mendadak wajahku memanas dan detak jantungku berpacu sangat cepat, seperti habis berlari beratus-ratus kilometer jauhnya. Ada apa denganku? Ada apa juga dengan namja didepanku ini?

“Kata orang, ciuman dibibir bisa menghangatkan tubuh sedikit, aku hanya membantumu.” Eunhyuk berujar pelan saat bibirnya baru saja ia lepaskan dari bibirku. Sedangkan aku hanya bengong karena memang masih cukup shock dengan apa yang baru saja dilakukannya tadi.

“Dan aku rasa itu memang benar, buktinya sekarang wajahmu memerah, pasti karena panas kan? Baiklah lain kali akan kucoba lagi padamu.” Kini seringai mesum tergambar jelas dibibir Eunhyuk. Ingin sekali aku menendang namja didepanku ini, tapi entah kenapa aku tidak melakukannya, aku hanya diam. Kurasa kerja otakku jadi lambat karena udara dingin, aku bahkan tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang.

 

-Eunhyuk POV-

Seonya masih bengong karena aku menciumnya tadi. Ekspresi wajahnya sangat aneh! Haha aku benar-benar senang mengerjainya. Kalau bukan karena tidak ingin ketahuan ini hanya acting, aku jamin sekarang aku pasti sudah tertawa sampai guling-guling di aspal. Huahahaha~ mengerjai yeoja ini memang ternyata mendatangkan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Aku rasa aku harus sering-sering melakukannya kalau mau awet muda.

Diperjalanan ke rumah, kami hanya diam. Sesekali kulirik Seonya yang terlihat masih mempertahankan ekspresi bengongnya yang aneh itu. Apa dia benar-benar sangat shock karena ciuman tadi? Ck, jangan-jangan itu ciuman pertamanya? Waktu itu kan Appa nya pernah bilang dia tidak pernah punya pacar sebelumnya. Aish~ kenapa tiba-tiba aku jadi ingin menciumnya lagi? Apa aku ketagihan(?) dengan bibirnya?

“Kita sudah sampai.” Ujarku sambil tersenyum manis. Kulihat Seonya hanya bergidik ngeri lalu segera keluar dari mobil dan berjalan kearah rumah. Aku pun mengikuti dengan setia dibelakangnya. Namun saat sudah hampir mencapai pintu, Seonya menghentikan langkahnya yang reflex membuatku ikut berhenti. Ia kemudian berbalik kearahku tapi tidak menatapku.

“Kenapa berhenti?”

“Kau, cepat buat api unggun disebelah sana.” Mataku kini mengikuti arah telunjuk Seonya yang menunjuk kehalaman rumah kami yang agak belakang.

“Mwo? Apa kau mau menyuruhku tidur diluar lagi?” Teriakku shock. Masa’ dia tega melakukan ini hanya gara-gara aku menciumnya tadi sih?

“Sudahlah lakukan saja.” Tanpa menunggu jawabanku, Seonya langsung saja menutup pintu rumah yang kemudian disusul dengan suara pintu yang dikunci. Aigo~ apa lagi ini?

 

~oooOooo~

 

-Author POV-

Plakk! Plakk! Plakk!

Berulang kali terdengar suara orang yang sedang memukul-mukul tubuhnya sendiri, ya dia Eunhyuk. Sudah hampir 1 jam dia berada diluar karena tidak diizinkan masuk oleh Seonya. Jadi wajar saja kalau dari tadi ia melalui pertarungan yang sangat seru melawan puluhan ekor nyamuk yang menyerbu kulit putihnya. Sering kali ia menggerutu saat tidak berhasil membunuh nyamuk dengan tepukannya. Tetapi tidak jarang juga ia berteriak kegirangan saat nyawa dari nyamuk yang menggigitnya itu berhasil direnggutnya dengan sekali tepuk.

Tanpa sepengetahuan Eunhyuk, ternyata dari jendela dapur Seonya selalu mengawasi setiap gerakan Eunhyuk sambil cekikikan geli. Tidak dipedulikannya Eunhyuk yang sedang kesulitan melawan nyamuk-nyamuk itu. Seonya bahkan lebih memilih untuk tetap menonton Eunhyuk dari jendela dapur daripada membawakan makanan yang sebenarnya sudah jadi karena memang ia hanya membeli makanan yang siap saji saat di Supermarket tadi kepada Eunhyuk. Sesekali diarahkannya kamera digital miliknya untuk memotret gerakan-gerakan Eunhyuk yang menurutnya unik.

“Seorang machine dance yang bertarung melawan banyak nyamuk didepan api unggun yang membara. Kalau foto-foto ini aku jual pada para ELF, aku jamin aku akan kaya dalam sehari. Hahaha.” Tawa Seonya pelan karena takut ketahuan Eunhyuk. Setelah puas, Seonya beranjak kekamar untuk menyimpan kamera miliknya itu.

“Sudah 1 jam. Mungkin sebaiknya aku keluar sekarang.” Putus Seonya setelah melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dengan santai Seonya berjalan melalui pintu belakang sambil membawa sebuah keranjang piknik serta tikar untuk tempat ia dan Eunhyuk duduk. Tidak lupa juga disertakannya sebuah selimut tebal dan obat semprot pengusir nyamuk dan serangga. (Bukan baygon ya, tapi yang kayak soffel spray itu :D)

“Kau sedang apa?” Tanya Seonya santai saat kini ia sudah berada dibelakang Eunhyuk. Refleks Eunhyuk langsung berbalik menatap Seonya garang.

“Bisa-bisa nya kau bertanya sesantai itu hah? Kau tahu dari tadi aku…” Omelan Eunhyuk langsung berhenti saat matanya tertuju pada benda-benda ‘tidak biasa’ yang sedang dibawa Seonya. Keningnya berkerut dan kini matanya menatap bergantian kearah mata Seonya dan barang-barang yang dibawa Seonya. “Kau…ini…untuk apa?”

“Dasar babo! Tentu saja ini untuk piknik, masa’ begini saja kau tidak tahu.” Jawab Seonya.

“Ya~ justru karena aku tahu ini peralatan untuk piknik makanya aku bertanya. Memangnya ada orang waras yang piknik malam-malam ditengah udara yang sangat dingin ini hah?” Sembur Eunhyuk kesal. sedangkan Seonya langsung menggembungkan pipinya serta memonyongkan bibirnya kesal.

“Maksudmu aku tidak waras apa?”

“Ya Tuhan, berikanlah kesabaran lebih pada hambamu yang tampan ini.” Ratap Eunhyuk kemudian menghembuskan nafas kuat-kuat.

“Mana mau Tuhan mengabulkan permohonan namja yang hobby nya mengoleksi blue film, cih.” Desis Seonya tajam.

“Aish~ sudahlah lupakan. Jadi kita mau kemana?”

“Ke tempat ini, ya maksudku rumah ini.”

“Mwo? Tapi tadi kan kau bilang…”

“Aku bilang akan mengajakmu ke suatu tempat, ya rumah ini lah tempatnya.” Jelas Seonya diiringi senyum lebar dibibir tipisnya.

“Kau bercanda? Jadi maksudmu kita akan piknik ditengah malam yang sangat dingin dihalaman rumah kita sendiri yang penuh nyamuk dan tidak ada indah-indahnya ini?” Tanya Eunhyuk tidak percaya. Dia mulai berfikir jangan-jangan Soo Man rela menjodohkannya dengan Seonya yang sangat cantik ini karena anak gadisnya ini memang ‘agak-agak kurang’.

“Jangan berlebihan.” Tanpa mengacuhkan omelan Eunhyuk, Seonya langsung melenggang menuju suatu tempat dibelakang rumah mereka. Eunhyuk yang mendadak pusing pun hanya bisa mengikuti dibelakang Seonya dalam diam. Hanya suara perut Eunhyuk yang laparlah yang dari tadi mengisi kesunyian malam ini.

“Menurutku, tempat ini adalah tempat yang paling indah untuk melihat matahari terbit.” Ujar Seonya sambil merentangkan tikar yang dibawanya tadi ke tanah. Eunhyuk yang baru tahu kalau ternyata ada tempat yang seperti bukit ini dibelakang rumahnya, masih terlihat takjub akan pemandangan di tempat ini.

Ternyata di rumahnya dan Seonya yang selama ini dia anggap biasa saja, tersimpan sebuah panorama indah yang letaknya tersembunyi dibelakang rumah mereka. Dari tempat Eunhyuk berdiri sekarang, ia dapat melihat rangkaian perbukitan yang tidak terlalu tinggi namun tampak sangat indah karena bermandikan cahaya bulan dan terlihat beratap bintang yang memang bertabur mempesona diatas langit malam ini. Ia juga baru sadar kalau dibelakang rumahnya ini, yang tanahnya agak menurun, terdapat sebuah perkebunan yang dia tidak ahu apa karena memang sekarang sudah gelap.

“Ya!” Teriak Eunhyuk tiba-tiba saat dirasakannya sebuah gigitan kecil di lehernya. Dengan keras ditepuknya leher putihnya sambil menggerutu kesal. “Aish~ banyak sekali nyamuk disini.”

“Pakai ini.” Seonya menyodorkan anti nyamuk dan serangga semprot yang tadi dibawanya. Terlihat kini Seonya sudah duduk manis dengan sebuah kotak bekal yang berisi cukup banyak kimbap didalamnya.

“Gomawo~” Kini Eunhyuk ikut duduk disebelah Seonya setelah sebelumnya menyemprotkan anti nyamuk dan serangga yang diberikan Seonya tadi ke beberapa bagian tubuhnya yang terbuka. Pandangannya tak lepas dari kimbap yang terlihat sangat menggoda baginya itu.

“Kau lapar? Makanlah…” Tawar Seonya. Tanpa menunggu lagi Eunhyuk langsung saja memakan hampir semua kimbap yang ada dengan rakus. Wajar saja, karena dia memang sudah tidak sanggup lagi menahan rasa lapar yang dari tadi menderanya. Seonya yang melihat kerakusan Eunhyuk hanya tersenyum tanpa berkomentar apa-apa.

“Eh, kau mau?” Tanya Eunhyuk saat kini ia sudah hendak memasukkan kimbap terakhir ke mulutnya.

“Cih, kimbap nya tinggal satu baru kau berniat menawariku.”

“Kau kan yeoja, jadi makan tidak usah banyak-banyak.”

“Alasan. Yasudah habiskan saja semua, aku tidak lapar.” Ucap Seonya akhirnya. Gummy smile Eunhyuk yang khas pun langsung terkembang dibibirnya. Tanpa ragu dimasukkannya kedalam mulut kimbap terakhir itu.

“Mashita…”

“Tentu saja.”

“Eh ngomong-ngomong kita mau ngapain disini. Kau mau mengajakku melakukan hal yang tidak-tidak ya?” Tanya Eunhyuk penuh selidik.

PLETAKK!

“Bisakah kau tidak berbicara tentang hal-hal yadong denganku?” Sengit Seonya setelah berhasil melayangkan jitakannya di jidat Eunhyuk.

“Aish~ sakit tahu.” Dengan cepat Eunhyuk mengelus jidatnya yang habis kena jitak. “Jadi kita mau apa disini? Lalu kenapa tadi kau menyuruhku membuat api unggun dihalaman samping? Kenapa juga kau bawa-bawa selimut keluar?”

“Kita akan menunggu matahari terbit disini. Kalau api unggun itu sebenarnya bukan apa-apa, hanya saja aku kan masak didalam, jadi tidak adil rasanya kalau kau tidak melakukan apapun.”

“Mwo? Ja…jadi itu hanya supaya aku ada kerjaan saja?” Tanya Eunhyuk tidak percaya. “Kau tahu membuat api unggun itu penuh perjuangan. Belum lagi kulitku yang sangat berharga ini digigiti nyamuk. Tenagaku juga terkuras untuk melawan nyamuk-nyamuk itu. Dan perutku juga, perutku ini ikut menjadi korban menahan lapar sangat lama padahal dia sama sekali tidak bersalah.” Protes Eunhyuk atas ketidakadilan yang diterimanya.

“Kau berlebihan sekali sih. Sudahlah diam dan ikuti saja yang aku katakana, aku jamin kau tidak akan menyesal duduk disini denganku saat ini.” Kini Seonya melirik Eunhyuk dengan agak ragu. “Mendekatlah.” Ujar Seonya akhirnya setelah menimbang-nimbang semua kemungkinan buruk.

“Untuk apa?”

“Tadi aku sudah mencari-cari di lemari, tapi ternyata selimut yang cukup tebal tinggal satu ini. Yang lainnya masih di laundry dan kotor. Jadi mau tidak mau kita harus memakai satu selimut ini berdua.” Sambil menahan malu, Seonya mengucapkan kata-katanya dengan lancar.

“Mwo? Ja…jadi maksudmu? Malam ini…kita…” Telunjuk Eunhyuk menunjuk-nunjuk tak jelas antara dirinya dan Seonya bergantian. Seonya hanya mengerinyitkan dahinya tanda tidak mengerti. “Aish~ kenapa kita tidak tidur didalam seperti biasa saja sih? Kau ini ribet sekali. Eh, atau jangan-jangan kau memang sengaja supaya bisa semalaman berduaan denganku ya?”

“Mwo? PD sekali kau? Yasudah kalau tidak mau. Aku bisa pergi kekamar tanpa harus repot-repot memperlihatkan matahari terbitku yang berharga yang sebenarnya hanya milikku dan Eomma itu padamu.” Amuk Seonya mulai emosi. Padahal dia sudah susah-susah menyiapkan semua ini untuk menunjukkan pada Eunhyuk tempat terbaik dan terindah menurutnya untuk menghilangkan kesedihan Eunhyuk. Tapi sekarang namja itu malah berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.

“Andwae…” Tangan Eunhyuk kini menahan lengan Seonya yang sudah ingin pergi. “Ini sudah tanggung Seonya-ya, aku ingin melihatnya bersamamu.” Ujar Eunhyuk pelan. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa berharga karena kini Seonya mau menunjukkan sesuatu yang sebelumnya hanya ‘milik’ Seonya dan almarhumah Eomma-nya kepada Eunhyuk yang bisa dibilang suami jadi-jadian (?)

Seonya pun kembali duduk. Tapi sekarang posisinya lebih rapat dengan Eunhyuk. Dengan cekatan Eunhyuk mengambil selimut tebal yang tadi dibawa Seonya dan melilitkannya ditubuh mereka berdua. Sejenak tatapan dua insan itu bertemu yang langsung menciptakan debaran menyenangkan dalam hati masing-masing. Keduanya kini berusaha menyembunyikan rona wajah mereka yang memerah karena rasa hangat yang berbeda yang kini melingkupi keduanya. Kini mereka hanya diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali Eunhyuk melirik-lirik kearah Seonya yang membuat debaran dihatinya kembali muncul.

“Kenapa melirikku seperti itu?” Tanya Seonya yang sepertinya mulai sadar akan tatapan Eunhyuk.

“Ani. Hmm…aku hanya heran, kenapa disini terasa begitu hangat? Padahal rumah kita ini daerah yang cukup tinggi, belum lagi ini malam hari dan sudah hampir masuk musim dingin.”

“Molla…”

“Apa mungkin karena kau berada didekatku? Makanya aku merasa hangat.” Ucap Eunhyuk sambil menatap mata yeoja disebelahnya itu. Seketika Seonya jadi salah tingkah dan membuang pandangannya kearah lain. Bibirnya komat-kamit merutuki wajahnya yang entah kenapa mendadak memanas mendengar penuturan Eunhyuk.

“Kau sedang menggodaku, eh?” Tanya Seonya sekenanya. Dengan malas ditatapnya kembali wajah namja disampingnya itu.

“Ani. Malah menurutku kau lah yang sedang menggodaku dengan wajah malu-malu mu yang memerah dan menggemaskan itu.”

 

-Seonya POV-

“Ani. Malah menurutku kau lah yang sedang menggodaku dengan wajah malu-malu mu yang memerah dan menggemaskan itu.”

“A…apa kau bilang?” Aku yakin mulutku sekarang pasti menganga sangking kagetnya mendengar ucapan Eunhyuk. Sejak kapan namja ini jadi seperti ini? Dia sedang merayuku bukan?

“Hahaha. Kau itu benar-benar membuatku ingin menerkammu.”

“M…mwo? Ya~ jangan macam-macam!” Ancamku. Tanpa pikir panjang aku langsung berusaha untuk menjauhkan diriku dari namja disampingku ini. Tapi kurasa keputusanku itu salah besar karena aku lupa kalau saat ini kami berdua sedang dililit dalam satu selimut.

“Kkyyyaaa…” Teriakku nyaring saat kini aku terjatuh dan posisiku menjadi berbaring. Dan si Eunhyuk itu, wajahnya kini tepat berada didepan wajahku, hidung kami sudah bersentuhan. Lebih tepatnya, tubuhnya kini berada diatas tubuhku, posisinya seperti menindihku.

Untuk beberapa lama kami terdiam karena shock dengan kejadian tidak terduga ini. Wajahku memanas dan jantungku berdebar cepat, aku yakin dia juga merasakan hal yang sama. Wajahnya memerah dan terlihat sedang menahan nafas, sama sepertiku yang tidak berani untuk bernafas karena posisi kami yang sama sekali tidak menguntungkanku.

“Bi…bisakah kau menyingkir dari situ? Berat.” Ujarku akhirnya. Aku tidak mau keadaan ini berlanjut dan malah membuat kami melakukan hal-hal yang tidak diharapkan.

“Haahh…” Eunhyuk menghembuskan nafasnya keras dan segera menyingkir dari tubuhku. Dengan cepat ia duduk dan menyandarkan kepalanya pada batang pohon dibelakang kami.

“Waeyo?” Tanyaku sambil ikut duduk disebelah Eunhyuk dan bersandar dipohon. Kutunggu beberapa saat tapi Eunhyuk tidak menjawab juga. Wae? Aku salah apa? Bukankah yang kulakukan itu benar? Aku hanya menghentikan keadaan yang memang ‘berbahaya’ itu saja kok. Apa dia marah?

“Oppa…” Panggilku sambil mendorong bahunya pelan, tapi dia tetap diam saja. Beberapa detik kemudian aku mendengar sebuah dengkuran halus yang berasal dari sebelahku. Dia tidur?

“Aish~ aku kira kau marah.” Senyumku pun mengembang secara tiba-tiba. Dengan cekatan kuambil selimut tadi dan kembali menyelimuti tubuh kami berdua. Kuputuskan untuk tetap terjaga dan membangunkannya nanti saja saat matahari sudah mau terbit.

 

~oooOooo~

 

-Eunhyuk POV-

“OPPAAAAAA….!”

“Yak!” Mendengar sebuah suara dari samping membuatku langsung terbangun seketika. Bagaimana tidak? Yeoja disampingku ini baru saja berteriak dengan sangat keras persis didepan telinga kananku. Mungkin kalau aku punya penyakit jantung aku sudah mati sekarang.

“Ya~ kau itu kenapa berteriak sekeras itu hah? Kau ada keturunan orang utan ya?” Tanyaku sambil mengelus telinga kananku yang rasanya masih berdengung. Kepalaku pun juga mendadak pusing karena harus bangun tiba-tiba.

“Aish~ siapa suruh kau tidur seperti orang mati.” Ujarnya sambil mengucek-ngucek matanya. Aku baru sadar ada lingkaran hitam disekitar matanya. Eh apa dia tidak tidur dari tadi? “Lihatlah…” Pandanganku langsung beralih dari matanya menuju kearah timur yang berulang kali ditunjuknya dengan senyum yang mengembang.

Sejenak aku tertegun mengagumi indahnya matahari yang terbit di ufuk timur sana. Mataku yang tadinya agak ngantuk perlahan membuka sempurna. Di antara perbukitan yang membentang terlihat sebuah sinar yang amat terang naik perlahan. Langit yang awalnya gelap tadi perlahan berubah cerah karena mendapat hujaman cahaya dari sang surya yang sudah siap untuk kembali menguasai hari. Aku sudah pernah beberapa kali melihat sunrise, tapi aku rasa inilah yang paling indah.

“Eotteokhe?” Pertanyaan Seonya membuat perhatianku beralih kearahnya. Kini ia sedang tersenyum sumringah kearahku.

“Neomu areumdawo…” Ucapku bimbang antara memuji keindahan sunrise yang kami lihat atau karena senyum manis Seonya yang menurutku sangat mempesona.

“Kau tidak sedih lagi kan?” Kini kurasakan kepala Seonya menyandar di bahuku yang kokoh.

“Ne, gomawo…” Dengan tampang malu-malu aku kembali mengarahkan pandanganku kearah timur tempat matahari terbit. ‘Aish~ kenapa dia bersandar seperti ini? Bagaimana kalau dia bisa merasakan dan mendengar detak jantungku?’ Pikirku khawatir karena posisinya sekarang. Tubuh kami yang sangat dekat membuatku dapat dengan jelas mencium aroma shampoo dari rambutnya yang jatuh tergerai. Dan seperti biasa, detak jantungku menjadi seperti berlomba sangat cepat jika sudah berada cukup dekat dengannya.

“Seonya-ya…”

“Hmm?”

“Boleh aku mengatakan sesuatu?” Tanyaku agak ragu. Sekarang batinku sedang berperang sengit karena sebuah perasaan yang selalu menggangguku belakangan ini.

“Malhaebwa…” Suruhnya pelan.

“Ngg…jeongmal gomawo untuk sunrise ini. Aku tahu pasti ini sebenarnya adalah harta berharga yang sebelumnya hanya milikmu dan almarhum Eomma-mu. Tapi sekarang kau juga mau berbagi hal ini padaku, jadi aku pikir…yaaa mungkin kau merasakan sesuatu terhadapku. Aku memang belum terlalu yakin dengan perasaan ini, tapi…kurasa…” Sejenak aku menghembuskan nafas berat sebelum melanjutkan kata-kataku. Dengan perasaan berdebar aku mencoba memantapkan hatiku yang rasanya sudah ingin meledak.

“Kurasa…aku…mulai mempunyai perasaan terhadapmu. Naneun…ngg…saranghaeyo Lee Seonya…”

 

-TBC-

Gimana? Gimana?

Makin aneh kah? 😀 haha mianhae ya readers kalo jelek, soalnya aku buat part ini emang rada bingung karena banyak yang request adegan romantic -___- padahal saya nggak bisa. Hahaha

Tapi makasih ya buat yang udah mau baca J ditunggu pendapatnya tentang part ini ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s