If…Someday – Part 2 END

Title                 : If…Someday

Author             : Valuable94

Genre              : Romance, sad, frienship

Rating              : PG-17

Lenght             : Twoshot

Cast                 : Ahn Yeosin               (OC)

Kim Ryeowook         (SJ)

Choi Siwon               (SJ)

Disclaimer       : Ini part kedua sekaligus part akhir, semoga readers suka sama endingnya.

 

Happy Reading!!

 

Normal POV

 

Rasanya Siwon hampir pingsan mendengar ucapan Ryeowook. Dia… dia ingin memiliki Yeosin-nya, apa yang harus ia katakan? Mungkinkah ia rela melepaskan Yeosin untuk namja tanpa cacat di depannya ini. Memangnya siapa Yeosin? Dia bukanlah miliknya! Mereka dekat namun jauh, jauh terpisah oleh benteng persahabatan yang memilukan. Ya, persahabatanlah yang membuatnya tak bisa memiliki Yeosin.

 

Lalu perasaan apa yang ia miliki untuk Hyori? Tidakkkah ia egois ingin memiliki keduanya. Ia mencintai Hyori namun menyayangi Yeosin.

 

Siwon menghela napas beratnya kemudian menatap Ryeowook yang nampak tengah menunggu jawaban Siwon.

 

“Apa yang bisa kau lakukan untuk Yeosin-ku. Apa kau bisa melindunginya? Tak membuatnya terluka, selalu membuatnya bahagia. Apa kau bisa lakukan itu, hUH?” Suara amarahnya teredam karena ia sadar tak seharusnya ia begini.

 

“Bagaimana jika aku bisa melakukan semua yang kau sebutkan tadi? Apa kau akan mengijinkanku untuk memilikinya?” Tantang Ryeowook dengan nada yang begitu tenang.

 

“Bisakah kau sebut itu janji? Kalau memang iya, aku butuh jaminan. Jika kau tak bisa memenuhi janjimu itu, apa yang akan kau berikan sebagai kompensasinya?”

 

“Aku akan melepasnya, dan jika kau sudah sadar akan apa yang kau rasakan. Tinggalkan Hyori dan jagalah Yeosin saat aku tak bisa menepati janjiku. Itu kompensasi sekaligus permintaanku padamu,”

 

Siwon terhenyak.

 

“Apa maksudmu dengan kata ‘sadar’ itu?” Tanya Siwon lantang. Ia mencoba menyembunyikan raga gugupnya tatkala ia berpikir bahwa mungkin saja hubungannya dengan Yeosin tak murni persahabatan saja.

 

“Kita sama-sama namja dan jika aku jadi kau…” Ryeowook menunjuk tepat di depan wajah Siwon yang menegang, “aku tidak mungkin tak jatuh cinta pada Yeosin,” Ryeowook menepuk pelan bahu Siwon kemudian seraya tersenyum kemudian di balas dengan senyuman miris Siwon. Ia kalah telak jika berdebat masalah Yeosin.

 

“Kau benar-benar namja tanpa cacat yang mengagumkan. Kalau kau bisa merebutnya dariku, silahkan!” Ujar Siwon dengan nada sedikit mengejek.

 

Ya! Bukan hanya dia yang akan kurebut, tapi juga hatinya.” Ryeowook meninju pelan bahu Siwon yang hanya ditanggapi Siwon dengan pukulan kecil di kepalanya. Mereka tersenyum, mungkin ini bukankah persaingan antara Ryeowook dan Siwon, tapi ini adalah perjuangan Ryeowook mengambil Yeosin dan hatinya dari Siwon.

 

 

 

At Cafe

 

Ryeowook mengarahkan pandangannya di pintu Caffe, menunggu Yeosin –sebenarnya Siwon juga- di sebuah meja untuk makan malam.

 

Setelah mendapat lampu hijau dari Siwon ia merasa leluasa mengungkapkan perasaannya pada Yeosin. Yah, meskipun tak lewat kata-kata. Hanya sebuah tindakan yang barangkali bisa menggoyahkan hati Yeosin.

 

Beberapa saat kemudian, terlihat seorang gadis berambut hitam panjang terurai dengan setelan mantel putih dan sepatu bootnya berjalan mendekati Ryeowook. Gadis ini nampak bertambah cantik berjuta kaLi lipat saat hidungnya memerah karena udara dingin.

 

Yeosin duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Ryeowook. Sejurus kemudian ia membalas sesaat senyum yang dilayangkan Ryeowook padanya untuk kemudian beralih memandangi senang berbagai jenis  makanan panas di depannya.

 

Lumayan untuk menghangatkan perut. Pikir Yeosin girang.

 

Tanpa mempedulikan Ryeowook lagi,  gadis ini langsung menyantap makanan yang ada hingga membuat Ryeowook protes karena gadis itu belum menyapanya dan hanya dibalas cengiran oleh Yeosin.

 

Ryeowook menanyakan Siwon yang tak bersamanya, Yeosin hanya diam sejenak menelan makanannya yang masih tersisa di mulut kemudian mengatakan bahwa Siwon tengah menjenguk Hyori yang sakit.

 

“Kau, tidak cemburu?”

 

Pertanyaan Ryeowook hampir saja membuat mata Yeosin keluar dari kelopaknya. Yeosin mengerjap cepat seraya menegak air putih untuk membantunya menelan makanan dengan susah payah.

 

Kenapa namja ini bisa menanyakan hal seperti itu. Batin Yeosin.

 

Yeosin mulai terdiam, berpikir. Ia mulai meraba dadanya yang tak lagi menimbulkan suara degupan keras seperti dulu. Karena tak tahu apa yang harus ia katakan pada Ryeowook, akhirnya ia hanya diam dan mengalihkan pembicaraan mereka, membuat Ryeowook hanya menghela napas panjang kemydian mulai menanggapi topik yang dibicarakan Yeosin.

 

Selesai makan mereka memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah mulai sore. Mereka memilih berjalan kaki karena rumah Ryeowook tak jauh dari caffe tempat mereka janjian dan memang awal rencana mereka –bertiga- akan berkunjung ke rumah Ryeowook.

 

Mereka berjalan pelan di sepanjang trotoar, beriringan. Yeosin tampak begitu menikmati hujan salju yang tak begitu lebat, menengadahkan tangannya seolah berusaha mengumpulkan salju di telapak tangan kecilnya. Mata Ryeowook tak pernah lepas memandang Yeosin, ia bahagia melihat Yeosin yang tersenyum, Yeosin yang manis, Yeosin yang ceria. Melihat hidung Yeosin yang semakin memerah, Ryeowook mulai melilitkanscraftnya di leher Yeosin dengan lembut. Yeosin sedikit tersipu menerima perlakuan Ryeowook padanya.

 

Tak lama kemudian Yeosin merasakan hangat di telapak tangannya menjalar ke seluruh tubuhnya yang sedikit menegang karena Ryeowook. Namja itu kini tengah mendekap Yeosin dengan telapak tangan yang baru saja ia gosok-gosokkan, ia mencoba menyalurkan hangat tubuhnya pada Yeosin. Gadis itu hanya terdiam, pikirannya melayang entah kemana karena perlakuan itu. Nyaman.

 

Sampai di rumah Ryeowook, Yeosin melepas mantelnya dan menggantungnya di dekat pintu. Ia berjalan di belakang Ryeowook kemudian mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu rumah itu. Ryeowook bergegas menyalakan penghangat ruangan kemudian membuat cokelat panas untuk Yeosin dan dirinya. Hujan salju di luar semakin lebat.

 

Yeosin melihat sekeliling rumah itu dan mendapati beberapa rak buku yang penuh dengan novel, komik, dan beberapa buku filosofi dunia. Tak lama kemudian Ryeowook datang dengan membawa 2 cangkir cokelat panas dan duduk di samping Yeosin. Yeosin beranjak dari duduknya kemudian meraih sebuah gitar di saping televisi rumah tersebut dan duduk kembali disamping Ryeowook.

 

“Mau memainkan sebuah lagu untukku?” Ryeowook hanya tersenyum kemudian menyambut gitar yang diberikan Yeosin dan memetiknya seraya menyanyikan sebuah lagu.

 

 

 

Jeolmeul naren jeolmeumeul moreugo

 

Saranghal ttaen sarangi boiji anhatne

Hajiman ije dwidoraboni

Urin jeolmgo seoro sarangeul haetguna

 

 Nunmul gateun siganui gang wie

Tteonaeryeoganeun geon han dabarui chueok

Geureohke ije dwi doraboni

Jeolmeumdo sarangdo aju sojunghaetguna

 

Eojenganeun uri dasi mannari

Eodiro ganeunji amudo moreujiman

Eonjenganeun uri dasi mannari

Heeojin moseup idaero 

 

 

Yeosin terpaku mendengarkan permainan gitar Ryeowook yang begitu apik disertai suara Ryeowook yang ternyata begitu merdu.

 

“Ajari aku bermain gitar!”

 

Yeosin meraih gitar dari pangkuan Ryeowook kemudian bersiap memainkannya. Selang beberapa menit ia hanya diam karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Mencoba apa yang dilakukan Ryeowook pun suara gitarnya malah berubah menjadi aneh dan itu membuat Ryeowook terbahak.

 

Yeosin mendengus sebal mendengar tawa Ryeowook, ia mempoutkan bibir plumnya tanda ia sedang kesal seraya memangku gitar tersebut. Tiba-tiba terasa ada seseorang yang membenarkan posisinya bermain gitar. Kehangatan menyalur keseluruh tubuh Yeosin saat dirasa punggungnya menempel dada Ryeowook, wajah Ryeowook berada sangat dekat di sisi kiri wajahnya, sangat dekat bahkan jika Yeosin bergerak sedikit saja maka wajah mereka akan benar-benar menempel.

 

Dengan telaten Ryeowook menuntun jemari Yeosin menekan setiap kunci nada. Yeosin sendiri malah tak begitu memperhatikan ajaran Ryeowook. Ia sibuk menghitung detak jantungnya yang bahkan tak mampu lagi ia hitung, terlalu cepat.

 

Merasa tak diperhatikan Yeosin, Ryeowook menghentikan permainannya dan menoleh kearah Yeosin. Merasa terlalu diperhatikan, Yeosin akhirnya menoleh kearah Ryeowook yang malah membuat pipinya bersentuhan langsung dengan bibir Ryeowook.

 

Tak ayal kecanggungan pun semakin menyelimuti mereka, Yeosin menunduk malu dengan apa yang baru saja terjadi namun Ryeowook malah mengangkat dagunya membuat ia mau tak mau menatap namja itu. Tangan kanan Ryeowook menekan tengkuk Yeosin hingga ia merasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya. Yeosin memjamkan matanya, kini tangannya beralih mengelus dada bidang Ryeowook, saling melumat, merasakan kehangatan masing-masing. Saling memberikan kenyamanan, itulah yang mereka rasakan saat ini.

 

Bugh.

 

Suara gitar jatuh itu akhirnya membuat mereka tersadar dengan apa yang mereka lakukan. Dengan terpaksa mereka melepaskan tautan lembut itu dan kecanggunganpun kembali terasa. Yeosin masih menunduk meskipun kini ia tengah menghadap Ryeowook, dengan lembut Ryeowook menggenggam tangan Yeosin, mengelusnya pelan dan mengecup punggung tangannya.

 

“Aku mencintaimu,” Lirih Ryeowook. Membuat Yeosin terhenyak dan membisu seketika.

 

“Maukah kau menerima apa adanya aku seperti ini, maukah kau menyempurnakan hidupku, maukah kau melengkapi hidupku?” Sekali lagi Yeosin membisu. Tak mampu mentap mata Ryeowook yang kini tengah menerjangnya dengan tatapan meneduhkan khas dirinya yang mampu menghangatkan Yeosin.

 

Yeosin masih menunduk, sejurus kemudian ia mendongakkan wajahnya menatap Ryeowook dan betapa kagetnya yeoja ini tatkala melihat darah mengalir dari hidung Ryeowook. Entah mengapa airmata Yeosin tiba-tiba meleleh tanpa komando, ia buru mengelap darah itu dengan kedua tangannya.

 

Gwaenchana?” Tanya Yeosin dan hanya dijawab gelengan oleh Ryeowook.

 

“jawab pertanyaanku” Ryeowook menggenggam erat tangan Yeosin yang ternodan darahnya sendiri.

 

“Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi penyempurna hidupmu, bagaimana jika aku yang tidak bisa melengkapi hidupmu. Kau sudah terlalu sempurna,” Ryeowook kembali menggeleng, airmatanya pun meleleh mendengar penolakan halus Yeosin.

 

“Apa kau masih memikirkan Siwon sampai saat ini” Siwon? Ya, benar… kenapa? bagaimana bisa saat-saat bersama Ryeowook ia sama sekali tak mengingat Siwon saat ini. Sang pangeran tampan pujaannya, apa hatinya sudah menghapus nama itu?. Yeosin menggeleng.

 

“Aku tidak tahu,” lirih Yeosin seraya menggeleng pelan.

 

Ryeowook menghambur kepelukan Yeosin, menyandarkan kepalanya pada dada gadis itu, mendengarkan detak jantungnya yang tak beraturan membuatnya tersenyum bahagia.

 

“Kau menyukaiku, iya kan?”

 

Masih dalam pelukan Yeosin, ia merasakan tubuh Yeosin menegang dan detak jantungnya semakin mengencang. Mungkin jantungnya akan segera copot jika itu buatan manusia.

 

Perlahan tangan Yeosin mengelus rambut Ryeowook, mengusapnya lama seakan dengan usapannya itu ia bisa membuat Ryeowook tertidur. “Gomawo.” lirih Ryeowook namun masih terdengar oleh Yeosin dan kini bibi plum itu tertarik menampakkan senyum anggunnya yang belum pernah ia perlihatkan pada siapapun. Entah mengapa rasa hatinya begitu lega kini.

 

 

At School

 

“Wonie-yaaa!!!” pekikan Yeosin dikelas Siwon membuat hampir semua siswa disana menoleh padanya namun ia tetap tak mempedulikan mereka. Ia berlari menghampiri namja yang tengan sibuk dengan psp-nya tersebut.

 

Wae?” tanyanya masih dengan mata menatap psp.

 

Itu membuat Yeosin kesal dan merebut paksa psp-nya kemudian menyembunyikan benda itu dibelakang tubuhnya. Dengan terpaksa Siwon menatap Yeosin yang tengan tersenyum didepannya, senyum ini. Belumpernah ia perlihatkan padanya. Senyuman yang…entahlah, terasa sangat berbeda dari 11 tahun lalu.

 

“Kau sedang bahagia?” Yeosin mengangguk semangat. Siwon menunggu jawaban Yeosin yang masih terlihat bingung mau mengatakan apa. Saat Yeosin akan membuka mulut, Ryeowook datang kemudian duduk disebelah Yeosin.

 

“Kau sudah mengatakannya?”

 

“Aku baru saja mau mengatakannya, tapi kau keburu datang,”

 

YaYa! Ada apa ini sebenarnya, batin Siwon. Ia masih diam saja menunggu kedua sahabatnya yang hanya senyum-senyum itu.

 

“Wonie-ya, kami sudah resmi berkencan kemarin,” ujar Yeosin penuh semangat. Entah ekspresi apa yang harus Siwon tunjukkan, namun ia hanya bisa menyungginggkan senyumnya untuk kebahagiaan kedua sahabatnya.

 

Bel masuk sekolah berdering memecahkan ketegangan ketiga murid ini dan itu tandanya mereka harus kembali ke kelas masing-masing. Sebelum Ryeowook berhasil menyusul Yeosin yang sudah keluar kelas terlebih dahulu, Siwon menahan bahunya hingga membuat ia berbalik. Ia hanya tersenyum pada Ryeowook.

 

“Kau mendapatkannya, jagalah dia, aku percaya padamu” Ryeowook mengangguk senang. Ia berhasil mendapatkannya dan ia tak mungkin melepasnya.

 

***

 

6 bulan ini persahabatan mereka benar-benar dipenuhi dengan cinta, mereka masih tetap bersahabat dengan baik. Meskipun tanpa dipungkiri ada hati yang tersakiti *ceileehh

 

Mereka tengah menghabiskan waktu di perpustakaan bersama mempersiapkan ujian akhir mereka. Belum sampai satu jam Ryeowook sudah meminta ijin ke toilet berkali-kali. Wajahnya juga terlihat pucat, berkali-kali Yeosin membantu mengelap keringat yang ada di dahinya. Melihat kondisi Ryeowook yang memang sudah kelihatan tak baik dari tadi, Siwon beranjak menggeret Ryeowook ke ruang kesehatan namun Ryeowook selalu menolaknya.

 

Setelah beberapa kali dibujuk oleh Yeosin akhirnya ia menurutinya.

 

Mereka menunggu disamping Ryeowook diperiksa, saat dokter selesai memeriksanya Siwon mengikuti dokter keluar tempat periksa sementara Yeosin tetap menunggu Ryeowook yang masih berbaring. Sesekali Ryeowook melontarkan senyum dan candaannya berusaha menunujukkan pada Yeosin bahwa ia memang baik-baik saja tapi Yeosin tetap mengkhawatirkan Ryeowook.

 

Sementara itu diluar Siwon nampak berbincang serius dengan dokter mengenai keadaan Ryeowook. Jujur dokter sendiri belum bisa memastikan penyakit yang diderita Ryeowook sebelum hasil tes tadi keluar.

 

***

 

Dengan tergesa Siwon melangkah menuju kelas Ryeowook, wajah tampannya berubah garang, tangan kanannya terkepal meremas secarik kertas putih dari dokter.

 

Melihat wajah Ryeowook yang tampak tengah bercanda dengan teman sekelasnya ia bertambah garang, ia menarik kerah Ryeowook kasar kemudian menyeretnya keluar meuju lorong dibawah tangga dekat kelas Ryeowook. Ia menghempaskan tubuh Ryeowook kasar.

 

“Aku tahu kau sudah mengetahui ini sejak awal, kenapa kau menyembunyikannya dari kami. KENAPA? Kau anggap apa kami selama ini, kau bilang kau ingin jadi bagian dari kami, tapi apa yang kau lakukan sekarang, HA?” Ryeowook hanya diam menunduk.

 

“JAWAB AKU BODOH! Kau pikir kami tidak akan sakit jika tahu salah satu bagian kami sakit. Kenapa kau menyembunyikannya? Kau ingin menyakiti Yeosin?” napasnya memburu setelah melontarkan semua unek-uneknya hari ini.

 

“Justru karena aku tidak mau kalian juga sakit. Apalagi Yeosin, heh…tapi sepertinya aku salah kali ini” Siwon ikut bersandar lemah disamping Ryeowook. Ia menunduk kemudian memeluk erat Ryeowook, sahabat terbaiknya. Ia bahkan tak sungkan mengeluarkan isakannya kali ini.

 

“Aku tidak mau tahu, kau harus sembuh, kau harus membahagiakan Yeosin, kau tidak boleh menyerah” ia menepuk punggung Ryeowook sedikit keras. Namun Ryeowook hanya menjawabnya dengan gelengan.

 

Ani, tolong jaga uri Yeosin. Maafkan aku karena aku tak bisa menepati janjiku. Kau bisa mengambil kompensasimu” Siwon hanya menggeleng, kemudian ia melepaskan pelukannya.

 

“Aku tidak mau tahu, kau harus katakan pada Yeosin yang sebenarnya. Aku tahu bagaimana Yeosin, dia pasti bisa mengerti” Ryeowook menolak ajakan Siwon untuk mengatakan semuanya pada Yeosin, ia terlalu takut melihat wajah khawatir yeojachingunya itu.

 

“Besok aku berangkat ke kanada, aku harus menjalani terapiku disana. Tolong jaga uri Yeosin, untukku,”

 

SHIREO!!!” bentak Siwon.

 

“Jebaal.” lirih Ryeowook seraya memberikan secarik surat pada Siwon. Ia meminta Siwon untuk memberikannya pada Yeosin namun Siwon menolaknya. Ia merasa tidak perlu melakukannya, kenapa Ryeowook tak mau mengatakannya secara langsung saja.

 

***

 

Yeosin nampak sibuk memasang tali sepatunya, sementara Siwon sudah menggerutu dari tadi karena menunggunya terlalu lama. Selesai memakai sepatunya ia bergegas masuk kedalam mobil Siwon, tanpa membuang waktu lagi Siwon melajukan mobilnya membelah jalanan kota Seoul pagi ini.

 

Didalam mobil Yeosin nampak begitu tak tenang, ia memikirkan Ryeowook. Apakah ia mau menemuinya? Semalam Siwon menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ryeowook, ia menangis, tentu saja. Bahkan rasanya hari ini airmatanya tak mampu mengalir lagi karena sudah habis semalam.

 

Sampai dibandara mereka langsung mencari Ryeowook diterminal keberangkatan internasional, mereka hampir putus asa mencarinya ditengah orang-orang yang berlalu lalang hingga akhirnya mata hitam Yeosin berhasil menemukan sosok namja manis, tinggi namun berperawakan kecil, tengah duduk seraya menunjuk. Membolak-balikkan beberapa dokumen ditangannya.

 

Yeosin menggeret lengan Siwon seraya menunjukkan tempat Ryeowook berada. Mereka bergegas memanggil Ryeowook saat namja tersebut hendak beranjak dari duduknya karena pengumuman bahwa pesawatnya akan berangkat 15 menit lagi.

 

Ia menoleh, nampak raut kaget bercampur senangnya melihat kedua sahabatnya datang, menghantar keberangkatannya. Namun ekspresi yang ia nampakkan saat ini malah ekspresi kesal. Ia ingin membuat yeojanya itu membencinya, kalau perlu selamanya.

 

“Untuk apa kalian kemari, pergilah. Sebentar lagi pesawatku akan berangkat,”

 

Mereka bertiga hanya terdiam, Yeosin nampak hanya menunduk tak berani menatap wajah Ryeowook. Sejurus kemudian Ryeowook berbalik hendak masuk kedalam pesawat dan saat itu juga ia merasakan hangat itu memenuhi tubuhnya lagi.

 

Yeosin, kini ia tengah mendekap erat tubuh Ryeowook dari belakang. Ia terisak, menyembunyikan wajah sendunya dipunggung Ryeowook begitupun Ryeowook, ia tengah mengadahkan wajahnya berusaha menghalau cairan tak berwarna itu keluar dari matanya.

 

“Pergilah! Tapi katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku. Kumohon Wookie-ya,”

 

“Pulanglah bersama Siwon!” jawabnya berusaha tenang, Yeosin menggeleng.

 

Ani, aku tahu bukan itu yang ingin kau katakan padaku,”

 

Ryeowook menghela napas sejenak kemudian melepaskan pelukan Yeosin, tanpa menoleh Yeosin ia berjalan menjauhinya.

 

Tubuh Yeosin luruh, kakinya sudah tak mampu menyangga berat tubuhnya. Ia bahkan menangis meraung tanpa mempedulikan pandangan orang disekitarnya.

 

“Maafkan aku jika aku tak bisa menjadi sempurna didepan matamu, maaf jika selama ini aku tak bisa menjadi pelengkapmu tapi aku mencintaimu..aku mencintaimu bagaimanapun dirimu” ia semakin terisak, terlihat sangat buruk dengan rambut yang berantakan karena frustasi, frustasi karena ditinggal namja yang ia cintai.

 

Lama ia bertahan dengan posisinya hingga ia merasakan seseorang mengangkat tubuhnya bangkit. Ia bisa merasakan tangan kekarnya, ini bukan tangan halus Ryeowook-nya. Siwon membantunya berjalan, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan bandara.

 

Tiba-tiba terasa sebuah tangan menghentikan pergerakan mereka. Ryeowook menggenggam tangan Yeosin kemudian memeluknya. Siwon pun akhirnya melepaskan genggamannya pada Yeosin membiarkanya menyelesaikan urusan mereka.

 

“Tunggu aku!” Yeosin masih terdiam mendengar pernyataan Ryeowook.

 

“Aku akan kembali, jika kau memang benar-benar mancintaiku tunggu aku. Jika kau benar-benar mencintaiku, kau masih milikku saat aku kembali nanti. Berjanjilah” Yeosin mengangguk pasti, seberkas senyum kembali terkembang diwajah sendunya. Ryeowook memeluk Yeosin seraya menatap tajam Siwon, sementara Siwon hanya melontarkan senyum tipisnya.

 

 

4 years later

 

Yeosin menikmati pemandangan dibelakang kampusnya yang terletak cukup dekat dengan laut, merasakan semilir angin yang menerpa wajah cantiknya. Seorang namja menghampirinya seraya membawakan dua botol cola.

 

Ya…setelah lulus sekolah menengah mereka memutuskan untuk sekolah di kampus dan jurusan yang sama. Mereka semakin tak terpisahkan, bahkan setelah 2 tahu hubungan Siwon dengan Hyori akhirnya mereka putus karena Hyori merasa Siwon terlalu memperhatikan Yeosin.

 

“Kenapa waktu berlalu begitu cepat, aku masih merasa baru kemarin Ryeowook meninggalkan kita tapi ternyata sekarang sudah tahun keempat kita kuliah, bahkan sebentar lagi kita akan lulus”

 

“Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa kalau Ryeowook begitu dekat dengan kita,” ia menghela napas seraya mengoyang-goyangkan botol colanya.

 

“Memangnya apa yang akan kau lakukan jika dia benar-benar berada di dekat kita,” Siwon menegak colanya lagi.

 

Molla, mungkin aku akan langsung menidurinya. Berani sekali dia menyuruhku menunggunya selama ini. Tanpa kabar, kurasa dia benar-benar ingin aku jadi perawan tua,”

 

Candaan Yeosin itu mendapat tanggapan berlebihan dari Siwon. Ia menginjak keras kaki Yeosin hingga membuatnya meringis kesakitan. ‘dasar gadis mesum’ pikir Siwon.

 

“Ada seorang namja dari jurusan design grafis yang mencarimu, katanya ia ingin bertemu denganmu. HaaH… aku heran kenapa masih banyak namja yang mengejarmu sampai sekarang padahal kau selalu menolak mereka,”

 

“Katakan padanya aku tak akan menemuinya,” Yeosin membereskan tasnya kemudian beranjak meninggalkan Siwon.

 

“Kau akan menyesal jika tak menemuinya kali ini,” ia berbalik menatap tajam Siwon.

 

“Kalau dia seorang Kim Ryeowook, maka aku akan langsung menemuinya,”

 

“Dia memang Kim Ryeowook,” cihh..Yeosin mendengus tak percaya.

 

“Berhenti mempermainkankau Siwon-ssi,”

 

Siwon hanya mengedikkan bahunya kemudian mengarahkan bahunya kebelakang Yeosin, iapun mengikuti arah yang Siwon maksud hingga matanya tak mampu berkedip melihat seorang namja tengah bersender di tiang bangunan belakang fakultas mereka seraya melipat kedua tangannya didepan dadanya.

 

Perlahan ia berjalan mendekati Yeosin yang masih terbengong melihat kehadirannya yang begitu tiba-tiba. Ia memasukkan kedua tangannya dikedua sisi saku celananya kemudian menarik bibirnya membentuk senyuman yang benar-benar Yeosin rindukan.

 

Yeosin berlari mendekat kearah Ryeowook yang sebenarnya sudah tak terlalu jauh darinya, ia langsung memeluk namjanya erat. Menghirup feromon namja yang lama meninggalkannya itu. Ia kembali…ya, Kim Ryeowook-ku telah kembali. Pekik Yeosin dalam hati.

 

“Nona Ahn Yeosin apakah kau masih milikku saat ini?” tanya Ryeowook seraya menatap Siwon yang berjalan mendekati mereka kemudian merenggangkan pelukan mereka, menciptakan jarak beberapa centi.

 

“Tenang saja, Yeosin masih milikmu. Haah~ betapa bodohnya gadis didepanmu ini. Dia menolakku setahun lalu karena menunggumu. Padahal didepannya sudah ada pangeran tampan dan kaya yang bersedia mencintainya”

Yeosin mempoutkan bibirnya kesal kemudian memeluk Ryeowook lagi.

 

“Kapan kau pulang?”

 

“Seminggu yang lalu,”

 

“Kenapa tidak memberiku kabar sama sekali”

 

“Aku sudah memberitahu Siwon”

 

“Kenapa tidak memberitahuku juga”

 

“Surprise,” jawab Ryeowook asal.

 

Ya! Bermesraannya nanti saja lagi, jja~ kita kerumahku! Kita main Winning Eleven lagi dan kau nona Ahn Yeosin, kau harus memasak untuk kami, karena kami akan bermain seharian ini.”

 

Siwon menarik Ryeowook berlari meninggalkan Yeosin yang masih terbengong mendengar ucapan Siwon yang tak tahu diri itu. Setelah ia menyadari bahwa kedua namja itu sudah cukup jauh darinya sejurus kemudian ia berlari menyusul kedua namja itu.

 

“YA! CHOI SIWON, KEMBALIKAN RYEOWOOK-KU!!!”

 

 

‘Apa yang orang-orang katakan tentang kesempurnaan. Mungkin ukuran orang sempurna yang mereka tahu hanyalah berparas tampan atau cantik, hidup yang berkecukupan, perangai yang baik. Yah…aku akui mereka termasuk syarat orang sempurna tapi satu hal yang terkadang tak kau dapatkan dari mereka. Kebahagiaan. Lalu apakah mereka masih bisa di anggap sempurna?.

Terkadang orang sempurna bukanlah orang yang memiliki sebagian besar syarat tersebut karena kau malah bisa mendapatkan kesempurnaan itu dari kekurangan. Sadarkah? Terkadang kekuranganlah yang membuat kita sempurna. Tak ada manusia yang mempunyai kelebihan tanpa kekurangan dan itu memang sudah paket lengkap.’

Aku mendapatkan seorang sahabat yang awalnya kucintai namun aku tersadar bahwa aku lebih pantas bersahabat dengannya daripada mencintainya dan itu terasa lebih indah. Aku juga sudah mendapatkan siapa sosok sempurna itu, setidaknya di mataku dia orang yang teramat sangat sempurna. Aku bahagia. Ya, hanya dengannya aku bisa merasakan kebahagiaan. Namja yang tak pernah kusangka kehadirannya malah membuat hidupku kini makin sempurna. Kau tau? Betapa indahnya hidup ini saat ada seseorang yang berada di sampingmu. Melengkapi hidupmu.’

(Ahn Yeosin)

 

 

 

END

 

 

Udah selesai ya, hehehe

gini nih kalo ngetiknya malem-malem jadinya end-nya gak karu-karuan. Semoga suka dengan cerita dan endingnya.

Gomawo buat yang udah baca, ditunggu rcl nya ^^

Advertisements

One thought on “If…Someday – Part 2 END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s