[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 14 END)

Title                                    :My Wife My Enemy# Last Conflict

The Real Inspiration by      :Dini De’Forest (FB)

The Original Story by         :She Spica Forest

Cast                                                :_Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun asHis self

_ Other cast

Genre                                  :Family and school life

Rating                                 :PG -17

The Link Before at             : http://hutanberlian.blogspot.com/

 

WARNING!
Saya melarang keras untuk membaca part ini. Anda masih punya kesempatan untukmenutup note ini sekarang juga. Jika anda mengabaikan saran saya, maka sayatidak bisa berkata apa-apa lagi, Jadi, please correction ~~

***************

JangMi Ran POV

 

Sudahlima belas menit ini aku duduk tanpa melakukan apapun. Secangkir milkshake coklatkesukaanku pun tak mampu memalingkan wajahku dari sosok yang duduk denganbegitu angkuh di depanku. Bahkan suasana kafetaria yang ramai pun seakanmenulikan telingaku. Membuatku harus menatap sorot tajam itu hanya dengankedipan rapuh.

“Kausudah mengerti kan, Jang Mi Ran?” suara gelas bergesekan dengan meja terdengarbegitu memilukan ketika Kim Ahjumma meletakkannya setelah menyesapisinya dengan anggun. Aku menatap gelas milkshake coklatku dengan miris.Pagi tadi ketika aku baru selesai mandi, Kim Ahjumma menghubungiku untukpertama kalinya dan berkata ingin bertemu denganku di kafe ini. Aku selalu tahubahwa Kim Ahjumma bukan orang yang ingin menemuiku hanya sekedar untukbasa-basi. Dia tak pernah menyukaiku, aku tahu itu. Dia bahkan tak pernah sekalipunmenganggap aku ada. Seharusnya aku sudah mempersiapkan hati ketika sudah jelasarah pembicaraannya kemana. Namun tetap saja rasa sakit itu tidak bisa hilangmenyergap hatiku, saat Kim Ahjumma bilang aku harus melepaskan anaknya.

“TuanJang sudah meninggal, begitu juga dengan ayahku, kakek Jong Woon. Jadi ku pikirtak ada lagi alasan untuk kalian melanjutkan pernikahan konyol ini. Bukankahbegitu?” suara Kim Ahjumma bagai beludru menimpa gendang telingaku. Aku takmengerti, tapi rasanya di kafetaria yang ramai ini aku hanya bisa mendengarsuara Kim Ahjumma. Semua kata-katanya, keinginannya, dan semua makianyang terselip di dalamnya, meski pun ia tidak dengan jelas mengutarakannya.

Tiba-tibadia menyodorkan sebuah foto ke atas meja, kehadapanku. Itu foto Jong Woon dengan seorang gadis, dan aku sangat mengenalnya.

“NamanyaShin Na Mi. Mungkin kau mengenalnya karena dia satu sekolah denganmu dan JongWoon.”

Akumenatap foto Jong Woon dan Na Mi yang tengah tertawa begitu ceria dengantatapan nanar. Jantungku tiba-tiba saja berdetak sangat kencang. Entah mengapaaku takut sekali dengan apa yang akan dikatakan Kim Ahjumma berikutnya.

“Kaubisa lihat sendiri, kan? Jong Woon dan Na Mi sudah berteman dari kecil, dan apakau pernah melihat tawa Jong Woon seperti itu?”

Akumenatap lekat gambar Jong Woon dan berpikir bahwa aku memang tidak pernahmelihatnya tertawa seceria itu di hadapanku.  Kim Ahjumma mencondongkan tubuhnya kearahku. “Mereka itu saling menyukai, hanya sajakeduanya tak pernah mengakui hal itu. Apa kau tahu itu, huh?”

Akutidak berani menatap Kim Ahjumma, tapi satu hal yangku yakini bahwa apa dikatakannya adalah benar. Tapi kenyataan itu tidak terdengarindah di telingaku. Rasanya menyebalkan karena tiba-tiba hadir rasa sakit yangmenyesakan dada.

Akumenggeser kursi ke belakang, berdiri dari tempatku, berniat pergi menghindariucapan Kim Ahjumma yang ku yakin kata-katanya setelah ini akan lebihmenyakitkan.

“Apakau tahu bahwa sekarang ini Na Mi begitu depresi?”

Akulantas terpaku. Dengan penuh keberanian aku menatap mata itu, mata yang begitumembenciku itu juga tengah menatapku dengan keegoisan seorang ibu.

“Jadiku mohon, Jang Mi Ran, tinggalkan Jong Woon dan biarkan dia bahagia menjalanihidup atas keinginannya.”

Setelahia pergi meninggalkanku seorang diri, aku terduduk kembali dengan lesu. Akumenggenggam gelas milkshake coklatku dengan erat. Dari etalasekafetaria, ku lihat Kim Ahjumma memasuki mobil lantas benar-benar berlalu darihadapanku. Aku lalu menatap ke arahlangit luas di luar jendela. Cuaca hari sangat cerah, dan matahari bersinar begitu terang.Awan-awan berarak dengan damai mencari tempat peraduan. Ku biarkan lidahkumenyesap manisnya milkshake coklat yang rasanya berbeda dari biasanya.Sama sekali tidak membahagiakan. Aku tersenyum miris, lalu kembali menataplangit luas, tepat ke arah matahari yang sinarnya membuat mataku panas.Teramat, hingga rasanya semua air mataku ingin keluar.

Lalu terbesit wajah Jong Woon. Wajahnya yang tertawabahagia dalam foto tadi membuat batinku bergemuruh. Dan akhirnya setetes airmata itu jatuh luruh membasahi pipiku.

**************

KimJong Woon POV

 

“JongWoon…” Na Mi memegang tanganku tiba-tiba ketika pikiranku melayang entahkemana. Aku memasang senyum terbaikku padanya. “Hmm?”

NaMi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memainkan jemariku dengan raut mukasedih.

“Jungsu…”lirihnya pelan. Saat itu aku tahu dan mengerti bahwa Na Mi sudah merelakankepergian Jungsu yang tak lagi ada di sampingnya saat ini. Aku berjongkok untukmensejajarkan posisiku dengannya yang tengah di kursi roda. Ku tatap lekat mataindah nan sayu seperti bunga yang merindukan matahari itu.

“Ayo kita melihat Jungsu,” ajakku yang langsung di responanggukan olehnya.

Langit mendekati senja kala itu. Di temani sinar matahariyang kian temaram di makan waktu, aku mendorong pelan kursi roda Na Mi menujubukit pemakaman. Kami membeli sebuket bunga Krisan putih yang sedari tadidipegang begitu erat oleh Na Mi. Butuh lima belas menit untuk mencapai kesana,ketika akhirnya kami tiba dan Na Mi tergugah menatap nama Jungsu terukir indahpada nisan batu yang menghiasi gundukan tanah yang masih basah itu.

Aku melepas pegangan kursi roda dan membiarkan Na Mimemutar kursi rodanya sendiri mendekati peristirahatan Jungsu untuk selamanya.Tiba-tiba Na Mi bangkit dari kursi rodanya. Aku baru akan menyanggahnya ketikaNa Mi langsung merangsek turun memeluk Nisan Jungsu dengan raut sedih.

“Jungsu…” lirihnya sambil meremas dadanya menahan rasaperih yang ku tahu sangat menyesakkan hati. Aku tertegun di tempatku ketika NaMi terisak setelah mungkin menyadari bahwa kekasihnya benar-benar telah pergi.Aku mendongak menatap langit sore yang berubah jingga. Matahari yang sedikithangat membuat mataku panas, membawa perasaanku melayang jauh pada Jang Mi Ran.Mungkin sama halnya dengan Na Mi, rasa kehilangan hanya akan ada ketika kita pernah merasa memilikinya. Dan aku selalu merasa bahwa Mi Ran adalahmilikku, kekasihku. Dan rasa sakit kehilangan sesuatu itu tak akan bisaterungkapkan lagi.

Setetes air mataku jatuh danlangsung sirna oleh angin yang berhembus tiba-tiba.

“Jungsuu…”suara isak Na Mi yang kian kencang memecah lamunanku. Ku dekati dia dan ku rengkuh dalam dekapanku. Na Mi masihberteriak memanggil-manggil nama sang kekasih sambil meremas dadaku. Akumemeluknya erat sambil sesekali mencium puncak kepalanya, berusaha menenangkan.Meski pada kenyataannya, air mataku sendirilah yang mengalir begitu derasmemikirkan Jang Mi Ran.

***********

Jang Mi Ran POV

 

Hari pengumuman kelulusan.

Riuh teriakan para murid Library School menggemasepanjang penjuru sekolah. Tak ayal mereka saling berpelukan danmelompat-lompat riang memamerkan tangis haru. Bahkan tak sedikit di antara paramurid laki-laki dan perempuan saling berciuman tanpa malu yang kemudianmendapat jitakan telak dari para wali kelas mereka yang masih berada di sanasetelah menyampaikan pengumuman.

Aku melirik ke barisan di depanku. Teman-teman kelaskuyang tak kalah heboh mengekpresikan kebahagiaan mereka walau beberapa diantaranya ada yang menangis sedih karena tidak mendapatkan kabar baik. Iniajaib! Sangat. Kelasku, kelas terburuk dengan murid-murid berprilaku sampah didalamnya, bisa lulus dengan presentase yang tak kalah besarnya denganmurid-murid yang tinggal di kelas brain smart.

Lalu aku?

Selembar kertas tergenggam erat di tanganku. Di tengah hirukpikuk, ku tatap langit biru yang tampak begitu cerah disertai kelopak-kelopaksakura yang bertebaran memenuhi udara. Semi sudah datang menjemput musim hujanuntuk pulang. Tiba-tiba wajah haraboji terlintas di langit biru, merekahkansenyumku. Dadaku sedikit lega untuk suatu alasan, dan untuk alasan lain,mendadak aku merasa akan begitu merindukan sekolah dengan banyak kenangan burukdi dalamnya.

Kakiku melangkah menjauhi kerumunan para murid, membawakuke bukit hijau belakang sekolah dimana kelopak-kelopak sakura yang berguguranoleh angin musim panas lebih banyak di sana. Aku berdiri di bawah pohon sakurasambil menatap aliran sungai yang tenang menyejukan mata. Tenang sekali, hinggasuara siulan kecil mengusikku.

Lagu little star.

Chukkae atas kelulusanmu…” Kyu Hyun, lelakibermata teduh itu berdiri di depanku, memasang senyum paling memukau dengangaya khasnya menyempilkan kedua telapak tangan ke dalam saku celana. Akuterdiam, menatapnya dengan kerinduan paling dalam. Lelaki ini, lelaki yangselalu menyanyikan lagu little star dalam mimpiku, rasanya ingin sekaliku rengkuh.

Sesaat itu ku rasakan waktu sekejap berhenti. Perasaanakan kehilangan dirinya setelah ini membuat jantungku berdebar takut. Dia,walau apapun keadaannya, selalu menjadi orang yang pertama kali melintas dibenakku kala ada masalah. Semua yang ada pada dirinya selalu berhasil membuatkubahagia.

“Nyanyikan lagu itu lagi untukku,” pintaku tanpa sadar. Laluaku kembali dibuatnya terpaku saat lagu penuh kenangan itu mengalir daribibirnya.

“Twinkle,twinkle, little star,

HowI wonder what you are.

Upabove the world so high,

Likea diamond in the sky.”

Hatiku terenyuh.

“Whenthe blazing sun is gone,

Whenhe nothing shines upon,

Thenyou show your little light,

Twinkle,twinkle, all the night.”

Sesuatu yang sudah lama mengendap di dalam hatikutiba-tiba membludak. Mendorongku untuk bisa lebih jujur mengenai sesuatu.

“Thenthe traveller in the dark,

Thanksyou for your tiny spark,

Hecould not see which way to go,

Ifyou did not twinkle so.”

Dan lagu yang diiringi oleh musik angin itu mengalunbersama perasaanku. Mengalun bersama semua kehendak hati yang menjerit ingindidengar, ingin diketahui, dan ingin memiliki.

“Inthe dark blue sky you keep,

Andoften through my curtains peep,

Foryou never shut your eye,

Tillthe sun is―”

“Aku menyukaimu.” Kata-kata itu meluncur begitu saja daribibirku. Membuatnya lantas terdiam dengan ekpresi terkejut. Menatapku lekatuntuk beberapa saat, untuk kemudian tersenyum kembali tanpa memikat. Aneh,perasaaanku lagi-lagi terasa aneh. Perasaaan melegakan ini tidak terasamembahagiakan. Sama sekali tidak terasa mendebarkan. Aku benar-benar terkejutdengan perasaan ini. Ada apa denganku? Ada apa dengan hatiku?

“Bukankah itu melegakan?”tanyanya. Aku menatapnya bingung. Tidak, aku hanya bingung dengan perasaanku.

“Kaumemang mencintaiku,” katanya lagi sambil menatap jauh ke langit biru. “Tapiperasaan itu sudah berlalu. Right?”

Akudiam. Bingung. Dan lagi-lagi merasa aneh bahwa hatiku mengiyakan hal itu.

“Tentusaja. Kau bukan lagi gadis cengeng yang selalu merengek di makam kedua orangtuamu. Kau bukan lagi gadis yang merasa seorang diri di dunia ini. Dansebenarnya, kau bukan lagi gadis yang membutuhkan lagu little stardariku. Karena…” ucapannya menjeda. Aku menatapnya. Menunggu sesuatu yang akandiucapkannya kemudian dengan hati berdebar-debar. Tapi lagi-lagi dia malahtersenyum. Mengacak rambutku sebentar lalu menghela nafas panjang, seolahpasrah akan sesuatu.

“Hatimu…bukan lagi berisi tentang aku. Tapi tentang Jong Woon, suamimu.”

Saatitu, angin cukup kencang berhembus mengibas helai rambutku. Menggugurkan banyakkelopak sakura yang melewati pandanganku. Membuatku tak jelas melihat sosok KyuHyun yang tersenyum begitu pilu. Aku tertegun untuk sesaat, dan tiba-tiba rasasakit akan kenyataan itu menyergapku. Untuk sejenak aku berpikir bahwa adabanyak sekali manusia di dunia yang merasa bahagia merasakan indahnya cinta. Tapikeindahan seperti inikah yang mereka alami? Mengapa rasanya sakit sekali?

Akutersenyum getir saat merasakan air mataku mengalir.

“Kaubenar, Cho Kyu Hyun. Aku memang mencintainya. Mencintai lelaki sempurna yangtelah menjadi suamiku. Tapi apa kau tahu?” alis Kyu Hyun mengeryit. Aku tertawamiris memamerkan sederet gigiku dengan bibir bergetar. Air mata sudah tumpahruah membasahi wajahku yang kini pasti tampak kemerahan. Lalu aku menatap KyuHyun sambil menghembuskan nafas kencang, berusaha terlihat melegakan didepannya.

“Jatuhcinta itu menyakitkan. Dan aku sungguh tidak menyukai rasa sakit ini.”

Lalusaat itu, tiba-tiba saja aku tahu apa yang harus ku lakukan.

***************

KimJong Woon POV

 

Bertemulahdenganku di taman sekitar namsan tower.

Akutak berhenti tersenyum di balik kemudi mengingat isi pesan Mi Ran yangdikirimkan padaku beberapa menit lalu. Sontak saja aku bergegas pergi darirumah Na Mi begitu ku lihat dia tengah tertidur pulas di kamarnya. Hatikuberbunga lebat seperti pohon-pohon sakura yang merekah musim ini. Sejak dulu,tepatnya sejak peristiwa kematian Jang Haraboji, aku selalu mencariseribu alasan untuk bisa bertemu dengannya secara kebetulan. Tapi tak satu punalasan bisa ku temukan mengingat terlalu banyak kesalahan yang telah kulakukan. Dan hari ini Mi Ran sendiri yang sengaja ingin bertemu denganku. Akusudah menyusun banyak sekali kalimat yang akan ku utarakanpadanya. Termasuk, kalimat bahwa aku teramat mencintainya. Bahwa aku tak inginlari dari perasaan cintaku padanya.

Akumemakirkan mobil di tempat yang cukup strategis dan keluar setelah ku lepas jaket biru yang ku kenakan dan bersiap menyambutudara musim panas yang hangat. Dengan setelan sepotong kaos berlengan pendek,aku mulai menyusuri taman. Tak butuhwaktu lama ketika ku lihat seorang gadis berdiri memunggungiku di sebuah kursitaman.

Akutahu itu dia.

Akutahu punggung tegap yang tampak rapuh itu miliknya.

Desirandi dadaku kian meletup, mencairkan rasa rinduku yang menggebu-gebu. Aku masihbertahan menatap punggungnya dengan rasa sesal dan ketidakberdayaan yangmenyiksa. Tubuh itu, seonggok jiwa di depanku yang tampak rapuh itu,begitu ingin ku sentuh, ku rengkuh dalam dekapanku.

“MiRan …”

Laluwajah menawan itu menoleh ke belakang. Menatapku dengan raut yang berbeda yangtak bisa ku terka maknanya. Lihatlah, bahkan jantungku kini berdetak lebihkeras dari biasanya. Aku tak tahu lagi bagaimana memulainya, namun kakikumembawaku berlari ke arahnya, merengkuhnya, memeluknya erat, hingga aromatubuhnya yang ku rindukan membuat mataku memanas.

“JangMi Ran…” lirihku menyebut namanya dengan perasaan terdalam. Aku lalu terkejut begitu MiRan membalas pelukanku, membuat rasa bersalahku kian menumpuk dalam butiran airmata yang kian deras.

“MiRan…” ku dekap dia lebih erat, hingga bahkan takan ku biarkan secuil angin punberada di antara kami. Hanya Jang Mi Ran yang bisa membuatku begini. Cinta yangmembuatku begini.

Laluaku mendengar Mi Ran terisak. “Jong Woon..” diamemelukku lebih erat, dan sikapnya membuatku kian tak ingin melepasnya, walausedetik saja.

Saatitu, dibawah lazuardi biru yang menatap kami dengan senyuman cerah, dan kelopak sakurayang berguguran menyapa kami dengan cinta, waktu memanduku untuk menikmatisegalanya. Membiarkan hasratku melampiaskan rasa rindunya, rasa kehilangannya.

Beberapamenit yang berlalu dalam keharuan itu pecah oleh ucapannya.

“Kitaakhiri saja, Jong Woon…”

Tanpasadar tanganku mencengkram tubuhnya dengan keras, mencoba mencernapendengaranku yang terasa menyakitkan.

“Apa?”aku melepas pelukanku. Mi Ran langsung mengambil satu langkah kebelakang begitutautan kami terlepas. Dia tersenyum, senyum yang sama sekali tanpa ekpresi.

“Kubilang, mari kita akhiri saja semuanya, Kim Jong Woon.”

Akumendengar gemuruh halilintar menyambar-nyambar benakku dengan sangat kejam.Membuatku tampak terpuruk, bahkan hancur menjadi abu yang akan membenamkankubersama buih lautan.

“Tidak!”aku mencengkram lengannya dengan pikiran kalut. “Kau tidak bisa melakukan inipadaku, Jang Mi Ran!”

MiRan menepis tanganku dengan halus sambil tersenyum getir. “Aku bisa, JongWoon,” katanya. “Kita sudah tidak memiliki alasan apapun untuk melanjutkanpernikahan ini. Terlebih, Haraboji sudah tidak ada lagi di dunia ini.Dan kita…” dia berhenti sejenak.

“Kitasudah tidak perlu melakukan sandiwara konyol ini lagi.”

Aku merasa kesulitan bernapas sekarang.Tiba-tiba semuanya tampak kelabu bagiku, bahkan langit biru di atas sana seakanmenimpa kepalaku. Aku tertunduk lemas.

“Akumencintaimu, Mi Ran…” sesalku. Dia menatapku tak percaya. Lalu sebaret senyumsinis menghinggapi bibirnya.

“Kautidak perlu mengatakan hal itu, Jong Woon. Itu sangat menggelikan.”

Kembaliku sambar lengannya dan mencengkramnya erat. “Aku serius, Mi Ran. Kau bisamembuatku melakukan apapun yang tak pernah ku lakukan. Bahkan, aku bisamembawamu ke tempat dimana hanya ada kau dan aku.  Hanya kita berdua. Takanku biarkan siapapun mencampuri kehidupan kita, termasuk eommaku.”

“Lalubagaimana dengan gadis itu? Bagaimana dengan sahabat kecilmu, Shin Na Mi, huh?”tatapan tajam Mi Ran menghunusku. Membuatku tertegun dan membiarkanpikiranku menormal menyadari sesuatu. Sesuatu yang selalu menjadi sesalku.

MiRan menghela nafasnya panjang. Sekarang tatapannya tampak marah padaku.

“Kaupikir dengan kitahidup berdua dan lari dari segalanya akan menyelesaikan masalah kita, huh? Kaupikir kita akan bisa hidup tenang tanpa persetujuan eommamu?? Apa kaupernah tahu bagaimana sulitnya hidupku bersama kedua orangtuaku dengan semuakebencian yang haraboji tujukan padaku? Dan apa kau pikir aku akanmembiarkan anak kita kelak mengalami hal yang sama denganku?!” Tatapannyamemanas, menghujam perasaanku yang hancur menjadi serpihan debu.

“Mi Ran..” lirihku seraya melepas cengkraman tangankudengan lemas.

“Cinta, tidak semudah pemikiranmu, Jong Woon.” Katanyapilu. “Cinta, tidak pernah sesederhana itu…”

Kami saling melempar tatapan sesal, tatapan pilu, dantatapan pasrah akan segala hal yang akan terjadi pada kami kemudian. Mi Ranmemalingkan wajah dariku, mengambil sesuatu yang tergeletak di atas kursi panjangdi samping kami.

“Aku sudah mengurus segalanya. Aku juga sudah membubuhkantanda tanganku di sana. Sisanya ku serahkan padamu. Aku percaya kau bisamenyelesaikannya dengan baik.”

Map berisi surat perceraian itu berpindah ke tanganku.Sesaat aku menatap kedua tangan kami yang saling bertemu ketika Mi Ran sengajamenautkannya untuk bersalaman. Dia tersenyum begitu tulus, senyum yang menyayathatiku.

“Selamat tinggal, Kim Jong Woon. Terima kasih sudahbersedia menjalani satu setengah tahun waktumu untuk hidup denganku. Mulaisekarang, hiduplah dengan baik, raihlah semua cita-citamu. Sudah tidak akan adayang mengganggu jalanmu lagi, karena kau sudah bebas mulai detik ini…”

Tak ada lagi kata yang mampu ku utarakan tentang semuaini. Separuh ruh-ku hilang. Jiwaku terguncang hingga semua sarafku menentangku,membuatku mematung di tempatku. Aku melihat senyum itu, senyum Mi Ran yangterukir lebih lama dari biasanya. Bahkan ketika tautan tangan kami terlepas, akumasih bisa melihat senyumnya belum pudar menjejalkan sesuatu yang abstrak didasar hati ini. Sesuatu yang sesak, muak, dan berduri. Dan rasanya, mati akanlebih baik daripada harus berada dalam mimpi buruk ini.

“Selamat tinggal..”

Lagi-lagi hanya kata itu yang tertangkap telingaku. Laludia menjauh, pergi memunggungiku bersama waktu yang seperti tengah mencekikku.Bibirku bergetar memanggil-manggil namanya, namun tidak ada satu suara pun yangterdengar. Semuanya lumpuh. Mati bersama perasaanku.

Mati bersama kelopak-kelopak sakura yang berguguran menghujanimataku.

 

And finally, it’s over __

 

Fuiiih…

#Lap keringat, amplas otak.

Akhirnya selesai juga!

Syukron katsiron wa thank you very much and terima kasih banyak dan jeongmalkamsahamnida buat semuanya! Buat d’4s_Kencana (khususnya Dini De’Forest)yang sudah memberikan saya inspirasi awal kisah ini yang akhirnya dapat selesaijuga, untuk Admin Ichen Aoi yang setia mempublish Ep-Ep abal-abal saya, sampaisemua sahabat maya yang selalu setia membaca dan menunggu Ep-Ep abal-abal ini.(jujur saya bingung kenapa kalian mau baca nih Ep-Ep -_-)

Ok, intinya, saya hanya ingin membuktikan sebuah pepatahyang mengatakan bahwa, “Akhir bahagia hanya ada di dalam cerita,” dan yap! Sayaberhasil. “Tidak semua cerita berakhir bahagia.” Hehehehe… alasannya:  pertama, dipikir bagaimanapun, JongWoon dan Mi Ran sulit untuk disatukan, kedua, I HATE HAPPY ENDING!Kekekekeke~~

Terima kasih untuk kritik dan sarannya. Terima kasihuntuk yang sering mengunjungi blog saya yang gak kalah abal-abalnya^^

Salam hangat,

@She_Spica

Publised by Allison

Advertisements

11 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 14 END)

  1. Takdir memang tidak selalu membuat kita bahagia…seperti Mi Ran hidup dengan penuh penderitaan…Jong Woon dengan segala aturan Eommanya..Dan kehidupan rumah tangga mereka yg hancur…Cinta Yg hrs dipendam sendirian…sebenernya pengen Happy Ending tp authornim sdh memutuskan seperti ini…Di tunggu FF selanjutny chinguu…

  2. anyeong thor!
    Aku sbenernya dah bca ff ini sblumnya,and im so sorry bru bsa koment skarang.
    Aku gak bsa brkata apa” thor ffmu memang patut diacungi jempol,karena critanya bener” ngena banget di hati,feelnya dapet bget. Aku gemes bget sama yg konflik soalnya sad ending tapi untunglah yg battle maupun yg epilog happy ending 🙂
    good job thor! Kutunggu karyamu brikutnya 🙂

  3. authooorr gimanapun teorinya, aku ttep lebih suka happy ending. dan aku ga terima sama endingnya ff iniiii..huuaaaaa *ngamuk ngamuk
    authoornim please..tolong selamatkan nae jong woon thoor… T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s