[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 13)

Title                                    :My Wife My Enemy# Conflict 13

The Real Inspiration by      :Dini De’Forest (FB)

The Original Story by         :She Spica Forest

Cast                                                : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun asHis self

_ Other cast

Genre                                  :Family and school life

Rating                                 :PG -17

The Link Before at             : http://hutanberlian.blogspot.com/

Terima kasih atas waktu luangnya ^^

please correction~~~

*************

 

Kim Jong Woon POV

 

Aku tergagu. Jasadku terpaku melihat pemandangan di hadapanku. NaMi, dengan perban di kepalanya, terus menerus meronta seperti kerasukan arwah.Seorang dokter dan dua orang perawat terus mencoba menenangkannya.

“Jungsuuuu!!” dia berteriak histeris, dan dia sama sekali tidakseperti Na Mi yang ku kenal selama ini. Na Mi yang cantik, murah senyum, dantak pernah menangis, mengapa sekarang dia menjadi seperti ini?

Tubuhku seketika bergetar.

“Na Mi~a… ku mohon jangan begini..” Ahjumma Shin sudahsedari tadi bercucuran air mata dengan dirangkul suaminya. Aku benar-benartidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi di sini??

“Jong Woon..” tiba-tiba eomma menarik tanganku keluar ruangrawat Na Mi.

Eomma, apa yang sebenarnya terjadi pada Na Mi?” tanyaku takmengerti sama sekali. Eomma meraih tanganku dan menggenggamnya erat.

“Jong Woon..” katanya lirih sambil menggigit bibir, getir. “Setelahkita mengantar Na Mi pulang, Kekasihnya, Park Jungsu, datang dan mereka pergi mengendarai sepeda motor.Keduanya lalu mengalami kecelakaan, dan…” cerita eomma terhenti.

“Dan apa, eomma?” tanyaku penasaran.Tampak eomma menghela nafas berat. “Park Jungsu meninggal seketika dalamkecelakaan itu, dan Na Mi, seperti yang kau lihat sekarang, dia depresi.”

Tubuhku membeku. Langit seketika terasa runtuhdi atas kepalaku. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Jika Park Jungsumeninggal, bagaimana Na Mi bisa hidup setelah hatinya sudah terpaut terlalujauh pada pria itu?

“Jong Woon,” Eomma mengeratkangenggamannya lagi padaku. Aku menatap eomma dengan pucat pasi seakan akumemang sudah tak memiliki ekpresi apapun lagi.

Eomma mohon, Jong Woon… janganpernah tinggalkan Na Mi yang sudah begitu eomma anggap sebagai anaksendiri.”

Kedua tanganku langsung terkulai ke bawah. Akumerasakan beban begitu berat menimpa pundakku. Dengan langkah lunglai dan kaku,aku kembali memasuki ruangan Na Mi. Dia, gadis yang pernah sangat ku cintaiitu, masih saja meraung-meraung perih memanggil-manggil nama kekasihnya. Hatikutersayat. Tak ada lagi yang bisa ku pikirkan selain dapat merengkuhnya saatini. Maka aku pun melakukannya. Memeluknya seerat mungkin meski diaberkali-kali meronta.

“Tenanglah, Na Mi, ku mohon tenanglah. Ada aku di sini.” Lirihkutegas.

“Jong.. Woon…” isak Na Mi. Kemudian diaberhenti memberontak lantas memelukku erat. “Jong Woon… Kim Jong Woon…”

Saat itu aku teringat dia. Gadis yang sudahbeberapa bulan menghiasi hariku, mengisi hatiku, dan berdiri tegak sebagai isteriku.Sambil memeluk Na Mi lebih erat lagi, ku tenggelamkan wajahku di rimbunanrambutnya yang lurus rapi, menyembunyikan tangisku, menelan rasa sakit yangmenyesakkan dada ini.

Maafkan aku, Jang Mi Ran…

Ku mohon maafkan aku kali ini.

*************

 

Jang Mi Ran POV

 

Dia tidak datang. Pria itu, Kim Jong Woon,sama sekali tiada kabar. Meski aku sudah melakukan ritual pemakaman dan lagi-lagiharus merelakan jasad orang yang ku sayangi tenggelam di dasar tanah, dia, KimJong Woon, tidak juga menampakan diri. Aku terduduk di depan pusara harabojisambil meremas ujung baju hitam yang ku kenakan. aku baru saja menyadari bahwaaku sangat membenci warna hitam. Hitam selalu membawa kedukaan. Hitam selalumenyerukan kehampaan. Dan hitam, selalu menenggelamkan aku pada kenyataan yangmenyakitkan.

“Mi Ran…” aku sudah mendengar panggilan ituberkali-kali. Suara serak Yoon Ki Oppa yang merayuku untuk pulang. Tapiribuan kali juga aku tak bergeming. Aku hanya ingin sendiri, aku masih inginbersama kakek di sini. Atau setidaknya, aku ingin ‘dia’ datang menemaniku disini.

“Mi Ran..” Yoon Ki Oppa berjongkok,mensejajarkan dirinya denganku. Tangannya yang kekar dan hangat seperti biasa,merengkuhku. Dia membenamkanku ke dalam pelukannya. Lalu aku mendengarisakannya lagi. Yoon Ki Oppa menangis sambil membelai-belai kepalaku.Tapi aku tetap tak bergeming. Tak ada lagi tangis yang keluar dari mataku. Kinisemua terasa begitu hampa, dan aku sudah sangat lelah dengan kehampaan itu. Akusudah tak sanggup lagi memanggil-manggil haraboji sementara suaraku kianhilang di telan kehampaan itu sendiri. Ini terlalu menyakitkan hingga menangissaja rasanya takan cukup. Ini terasa menyebalkan karena aku tahu bahwa apapunyang akan ku lakukan, haraboji tidak akan pernah kembali lagi. Samaseperti kedua orang tuaku, yang tak pernah lagi muncul di hadapanku meski akusudah berkali-kali meraung di depan pusara mereka.

Ini berat sekali. Kim Jong Woon, ini sungguhberat sekali.

Mengapa kau tak ada di sini untuk berbagibeban ini denganku?

Apa kau berpikiran seperti orang lain yangmenganggapku tak berarti sama sekali? Bahwa aku layak mendapatkan semuapenderitaan ini?

Isak Yoon Ki Oppa kian terdengar.Sambil merasakan pelukannya yang kian erat, aku tersenyum getir pada gundukanmakam haraboji yang kini terguyur gerimis kecil yang menetes membasahikujuga, tepat dikedua pipi.

Haraboji, kau benar-benar menikahkanku dengan orangyang tepat sekali.

***************

 

Kim Jong Woon POV

 

“Bagus. Satu suapan lagi. Buka mulutmu, Aaaaaaa!” aku terusberusaha menyuapi Na Mi yang masih tampak depresi sejak kepergian Jungsu. Diamemang sudah tidak meraung-raung seperti seminggu yang lalu, tapi dia lebihpendiam kali ini. Terlalu pendiam, hingga yang bisa dilakukannya hanyamengangguk dan menggeleng setiap kali menjawab pertanyaan orang-orang yangberusaha berinteraksi dengannya. Dia juga tak pernah selangkah pun keluar darikamarnya sejak check out dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Dankebiasaannya pun sudah berganti: membuang tatapan keluar jendela dengan rautsedih.

Aku meletakan nasi berisi lauk-pauk di atas nakas kecil sambilmenghela nafas. Lagi-lagi Na Mi menggeleng ketika aku menyodorkan makanan.Sejak setengah jam lalu aku berusaha menyuapinya, dia hanya tiga kali membukamulut, dan itu pun dengan suapan yang teramat sedikit. Wajah cantiknya yangbiasa tertutup make up natural itu, kini tampak pucat dan sayu. Entahberapa jam sehari Ahjumma Shin selalu menangis melihat Na Mi yang sudahberubah sekali.

Aku keluar dari kamarnya begitu melihatnya lagi-lagi menatap keluarjendela dengan wajah murung. Aku benar-benar tak sanggup melihatnya selaluseperti itu. Aku ke dapur untuk mengambil seteguk air dari kulkas. Tiga hariterus menerus berada di rumah keluarga Shin membuatku bebas melakukan apapunseperti rumah sendiri. Memang sedari kecil aku memang selalu bermain ke sinidan mendengarkan kakek Na Mi bercerita tentang kehidupannya di masa perang.Tapi kakek Na Mi sudah meninggal tujuh tahun yang lalu, dan pada hari itu untukpertama kalinya aku melihat Na Mi menangis begitu sedih. Sama seperti ketikaPark Jungsu meninggal beberapa hari yang lalu.

“Jong Woon..” seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh terkejut. “Appa?Apa yang appa lakukan di sini?”

Appa tampak menghelanafas lalu menuntun langkahku untuk mengikutinya ke halaman belakang. Tepat dikolam renang.

“Besok kau sudah harus mengikuti ujian kelulusan. Apa kau tidakingin pulang?” Tanya appa mengawali pembicaraan.

“Tentu saja aku akan mengikuti ujian kelulusan. Lagi pula aku harusmengirimkan berkas kelulusanku sebagai syarat sebelum memasuki UniversitasKorea. Tapi untuk pulang…” ucapanku terhenti. Aku menundukan kepala, bimbang.Aku tidak bisa pergi dari rumah ini. Aku tidak bisa meninggalkan Na Mi dalamkondisinya yang seperti itu.

“Bagaimana dengan Mi Ran? Apa kau tidak ingin menemuinya?”

Batinku terhentak. Aku menunduk lebih dalam. Tentu saja aku inginmenemuinya. Sangat ingin, bahkan dalam setiap detik yang ku jalani di sini, takpernah sedikit pun ingatanku terlepas dari dia.  Tapi bagaimana dengan Na Mi jika akumeninggalkannya?

Tanganku mengepal. “Mi Ran… dia lebih tegar dari yang appakira.” Suaraku seakan tertelan bagai pil pahit yang menjejal di tenggorokanku. Akumenunduk, memalingkan wajah dari appa. Sama sekali tak berani menatapwajahnya karena itu hanya akan membuat sesalku semakin besar terhadap Mi Ran.

“Kau benar, Jong Woon, Mi Ran memang gadis yang tegar,” dinginsuara appa meruntuhkan benteng hatiku seketika. Akumenatap appa dengan raut mengiba, “Appa…” lirihku tak berdaya.

Appa tampak menghela nafas sambil menatapku penuh penyesalan.

“Dia sudah tidak punya siapa pun lagi di duniaini, Jong Woon. Appa tidak memintamu untuk menyukainya. Appajuga tidak memintamu untuk mengasihaninya. Appa hanya ingin kau berada disisinya. Appa ingin kau melindunginya. Ini permintaan appa bukankarena kau adalah suaminya. Tapi karena Mi Ran adalah anak dari sahabat terbaikappa. Sahabat yang selalu melakukan kebaikan bagi appamu ini dimasa lampau,” appa menahan nafasnya, tapi kalimatnya masih menjeda. “Diaadalah sahabat yang rela melepaskan eommamu demi appa. Apa kautahu itu, huh?”

Aku melihat air menggenang di pelupuk mata appa.Bersamaan dengan itu, appa langsung memalingkah wajah begitu genanganair itu pecah. Aku membeku. Membatu di tempatku dan merasakan udara siang hariini begitu dingin memelukku dengan kejam. Tubuhku meradang seketika. Menggigilhingga ke ulu hati, merambat melalui lubang-lubang arteri hingga membuat matakuperih. Sangat perih hingga air mata ini tak bisa di bendung lagi.

Appa…” aku tak tahu takdir bisasekejam ini mempermainkan aku. Membuatku hidup dalam pilihan-pilihan sulit yangsetiap aku memilih di antaranya selalu berakhir menyakitkan. Semua hal ini,baik appa, eomma, maupun ayah Mi Ran yang tak pernah ku lihatwajahnya, selalu berhubungan. Dan pada akhirnya, aku dan Mi Ran lah yangmenjadi korban.

Appa harus pergi,” kembali appamenepuk pundakku, seolah menyalurkan kekuatan bagiku untuk menghadapi semuaini.

Maka malam itu pun, aku mencari tahu semua halyang berhubungan dengan keluarga Jang melalui maya. Ada banyak sekali artikeldi sana yang bodohnya aku sama sekali tidak ketahui sebelumnya. Seperti yang appa katakan,ayah Mi Ran melakukan kawin lari dengan wanita lain ketika dalam statustunangan dengan eomma. Pada saat itu Jang Haraboji mencoretnamanya dalam daftar keluarga, lalu beberapa tahun kemudian ia pun mengadopsianak jenius dari sebuah panti asuhan yaitu Yoon Ki Hyung yang pada saatitu berusia sembilan tahun dan adiknya, Yoon Sa, yang masih bayi. Keduanyamengalami kebakaran yang menewaskan kedua orang tuanya, dan membuat mereka mautak mau harus hidup dalam penampungan panti asuhan sebelum akhirnya Jang Harabojimengadopsi mereka dan dididik sebagaimana mestinya untuk menjadi pewaris dariJang Coorporation.

Aku melihat artikel lain yang mengisahkantentang kecelakaan yang menewaskan orang tua Mi Ran. Disana terdapat gambaryang begitu mengenaskan tentang kondisi mobil mereka yang hancur dan nyarisjatuh ke jurang. Tiba-tiba saja pikiranku melayang kuat kepada Mi Ran.Memikirkan bagaimana dia―yang dulu begitu kecil―terhimpit di badan mobil dan meronta-ronta karenanya. Terlepas dari itu, aku bisamembayangkan bagaimana kehidupan yang dia jalani setelah itu semua terjadi. Bagaimanadia hidup dalam kekecewaan Jang Haraboji, kebenciaan eomma, dansemua ketidakadilan yang harus ia alami.

Tanganku mengepal, dan aku mengeramberkali-kali. Aku memukul-mukulkan tinjuku di atas meja, menyesaliketidakberdayaan ini. Mengapa begini? Mengapa semua harus di pikul Mi Ranseorang diri??

Aku mengambil jaket di atas kursi dan berniatsesegera mungkin untuk menemui Mi Ran untuk mengatakan padanya bahwa aku mencintainya.Bahwa aku ingin selalu di sampingnya. Aku baru saja hendak keluar rumah ketikatiba-tiba ku dengar suara barang pecah, dan suara Na Mi menjerit-jerit dikamarnya sana. Aku berlari kembali ke dalam rumah, memasuki kamar Na Mi segera,lalu memeluknya yang tiba-tiba meraung-raung frustasi kembali seperti seminggulalu di rumah sakit. Dia berhenti menangis begitu ku bilang semua akanbaik-baik saja.

Maka malam itu, di hadapan Na Mi yang tengahtertidur dengan raut tenang sambil menggenggam tanganku, aku menangis sesunggukandengan suara tertahan menyesali keputusanku lagi. Menangisi Jang Mi Ran yangsama sekali tak bisa ku rengkuh, dan tak bisa ku temui.

*************

 

Jang Mi Ran POV

 

Pagi ini aku mendengar tangis Yoon Samemanggil-manggil haraboji. Sesekali ku dengar suara Yoon Ki Oppamemarahinya berkali-kali. Aku bangun dan mengenakan seragam sekolahku dalamdiam. Aku mengancingi baju seragam sambil bercermin. Memandangi wajahku yangsedingin es batu. Aku berusaha mengabaikan hal itu karena… karena inilah aku.Karena inilah Jang Mi Ran yang semua orang tahu.

“Mi Ran…” Yoon Ki Oppa memanggilkuketika aku melewati meja makan karena berniat akan meninggalkan sarapan untuksegera pergi ke sekolah. Yoon Ki Oppa yang menggunakan celemek itumembuatku menyembulkan senyum kecil yang tak bisa ku sembunyikan. Dia memasukankotak bekal ke dalam ranselku, kemudian mengecup bibir dan puncak kepalakusekilas.

“Semoga sukses dengan ujianmu.” Katanya tulus.Aku mengangguk kecil sambil melirik ke arah Yoon Sa yang tersenyum menyembulkangigi kelincinya padaku. Terlihat sekali dia berusaha tersenyum padaku meskipunsisa-sisa air matanya masih membekas di kedua pipi cubbynya.

“Makan dengan tenang, ne?” kataku. Diamengangguk-angguk lucu. “Ne, eonni.”

Aku berangkat sekolah untuk pertama kalinyasetelah kepergian kakek. Shim Sonsaengnim memanggilku ke ruang guru dan mengucapkanbelasungkawa padaku. Saat dia melakukannya, semua tatapan para guru mengarahpadaku. Aku benci tatapan iba mereka yang mengintimidasi, seolah aku adalahseorang anak yang patut dikasihani.

Aku segera kembali ke kelas dan mengikutiujian dengan tenang. Seminggu setelah kepergian kakek, aku menghabiskan waktuuntuk belajar keras agar bisa lulus dari sekolah menyebalkan ini. Aku sudahmuak dengan semua ini. Aku muak, dan rasanya belajar keras untuk alasan itutidak terlalu buruk. Dan kadang aku jadi mual karena menahan kemuakan itu.Memuntahkan isi makan siangku adalah alternatif paling baik karena ketikaperutku kosong, rasanya otak pun ikut kosong dari semua beban dan pikiran.

Aku memutuskan untuk menghirup oksigen disekitar sungai Han, karena biasanya udara di sana segar sekali. Ada beberapapengunjung yang kebanyakan merupakan pasangan yang sedang memadu kasih,sedangkan aku hanya seorang diri. Aku menertawakan diriku untuk itu.

“Shin Ahjumma!”

Deg. Jantungku berdetakbegitu cepat mendengar suara yang sudah seminggu menghilang dari pendengaranku.Mataku berkeliling mencari suaranya. Lalu tatapanku jatuh pada sesosok namjamenggunakan seragam yang sama denganku tengah berlari menghampiri seorang yeojaberkursi roda dengan seorang ahjumma.

Itu dia. Walau wajahnya tampak pucat dan rambutnya tidak tersisirrapi seperti biasanya, tapi itu memang dia. Kim Jong Woon.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa tidak menghubungikudulu?” tanyanya dengan ekpresi cemas luar biasa. Ekpresi yang tidak pernahditunjukannya untukku.

Mian, Jong Woon. Tiba-tiba Na Mi ingin ke sini, jadi bibitidak bisa menundanya lebih lama untuk menunggumu. Tapi karena dia masih sangatlemah, jadi terpaksa harus menggunakan kursi roda,” Jelas bibi berusia limapuluhan yang dipanggilnya Shin Ahjumma itu.

“Jong Woon…” gadis di kursi roda menarik-narik ujung seragamnya,meminta perhatian. Jong Woon berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengangadis itu, lalu menunjukan senyum yang luar biasa tulus.

“Ya? Bicaralah Na Mi…” katanya lembut.

“Bagaimana… bagaimana dengan ujianku?” Tanya gadis itu lemah. JongWoon meraih jemari gadis itu lalu menggenggamnya.

“Kau tenang saja. Setelah kondisimu membaik, kau boleh mengikutiujian susulan.”

Gadis dengan wajah pucat seperti orang pesakitan itu tersenyumlemah. Aku baru sadar bahwa aku mengenali gadis itu. Dia adalah Shin Na Mi,gadis yang fotonya terpajang rapi di dalam dompet Jong Woon ketika tak sengajaaku melihatnya saat Jong Woon meninggalkan dompetnya di atas kasur beberapaminggu lalu, gadis yang sama ketika aku bertemu dengannya di pusat perbelanjaantempo hari bersama Nyonya Kim, juga gadis yang paling sering bersamanya disekolah.

Hatchi!” Shin Na Mi tiba-tiba bersin, kemudian diaterbatuk-batuk. Dengan sigap dan perhatian ekstra, Jong Woon membuka blazerseragamnya lalu di pakaikannya pada Shin Na Mi.

“Udaranya dingin. Bagaimana kalau kita pulang, ne?”

Na Mi mengangguk pelan.

“Aku akan mengambil mobil dulu,” Shin Ahjumma meninggalkankeduanya duluan. Saat Jong Woon hendak mendorong kursi roda Na Mi, tiba-tibagadis itu meraih tangan kanannya dan mengusap-usapkannya pada wajahnya lalumemeluknya, bersikap seperti seekor anak kucing yang tak mau kehilanganmajikannya. Jong Woon tampak tertegun menerima perlakuan itu. Tapi aku langsungmemalingkan wajah dan memejamkan mata ketika tangan kiri Jong Woon meraihtangan gadis itu dan melakukan hal sama seperti yang Na Mi lakukan. Bibirkuterasa kelu dan gemetar, tapi kemudian senyum getir terukir ketika aku akhirnyabisa membuat kesimpulan, bahwa aku dan Kim Jong Woon, memang benar-benarseperti kerikil batu dan lazuardi biru yang tak akan pernah bisa menyatu.

************

 

Kim Jong Woon POV

 

Ini hari terakhir pelaksanaan ujian kelulusan. Aku tak terlalumempunyai kendala yang berarti ketika mengisi soal-soal yang tak terlalu sulitbagiku. Hee Chul juga berbaik hati menggantikan tugas-tugasku sebagai ketuaosis akhir-akhir ini. Kami memang sedang disibukkan dengan persiapan pestakelulusan yang akan kami selenggarakan beberapa hari lagi bersamaandengan pengumuman ujian kelulusan.

“Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kacau beberapa hari ini.” HeeChul bertanya padaku ketika kami tengah meninjau lokasi tempat pesta kelulusanyang akan di gunakan. Di sana beberapa anggota osis lainnya tengah sibukmengurus dekorasi.

“Ya. Aku memang kurang tidur belakangan ini,” akuku jujur.

“Apa kau ada masalah dengan Jang Mi Ran? Apa dia menyulitkanmu dirumah?”

Aku menatap Hee Chul dengan tatapan tak setuju. Tapi kemudian akusadar bahwa Hee Chul tak mengetahui apa-apa tentang masalahku. Jadi yang kulakukan hanya tersenyum menanggapinya.

“Tidak. Dia tidak menyulitkanku sama sekali. Tapi justru aku yangmenyulitkannya akhir-akhir ini.”

“Maksudmu?” alis Hee Chul menukik bingung. Aku menepuk-nepukpundaknya sambil tersenyum lebar.

“Bukan apa-apa. Baiklah, ku rasa persiapan di sini sudah 80%selesai. Jadi aku akan menyerahkan sisanya padamu, arraseo?”

Hee Chul memberikan tatapan sebal padaku. “Kau ini mengapa senangsekali memberiku pekerjaan yang menyibukan?”

Aku tertawa mendengar keluhannya. Tapi kemudian Hee Chul ikut tertawasambil mengangguk-angguk mengerti. Aku tahu bahwa Kim Hee Chul memang sahabatyang paling bisa ku andalkan.

Aku keluar gerbang sekolah dan heran melihat Ferrari biruseolah menghalau langkahku. Pintu mobil itu terbuka, dan aku terkejut melihatYoon Ki Hyung keluar dari sana. Aku bingung dan tiba-tiba saja jantungkuberdetak tak menentu. Yang bisa ku lakukan sekarang hanya menundukan kepalapadanya, tanda penghormatan.

“Ikutlah denganku,” katanya dengan nada bersahabat yang justrumembuatku merasa tak enak hati. Kami pergi menuju sungai Han dan duduk di salahsatu kursi di sana sambil menikmati secangkir kopi dari mesin penjual kopi yangletaknya tak jauh dari lokasi.

“Aku turut berbela sungkawa atas meninggalnya Jang Haraboji.Dan aku sangat menyesal tidak bisa menghadiri pemakamannya saat itu.” Kugenggam erat gelas plastikku menahan ketidakberdayaan ini. Aku tahu aku memangbodoh. Sangat-sangat bodoh. Tapi hidup memberiku pilihan yang begitu sulithingga aku harus bersikap brengsek. Hingga aku harus mengorbankan perasaankuuntuk itu.

Tapi Yoon Ki Hyung malah tersenyum, meski sebenarnya akanlebih baik jika dia memukuliku saja.

“Apa gadis itu begitu depresi?”

“Apa?” alisku mengkerut.

“Shin Na Mi. Apa teman kecilmu itu begitu depresi hingga kau samasekali tidak bisa pergi dari sisinya?”

Aku melotot terkejut. Dari mana Yoon Ki Hyung bisa tahutentang Na Mi? ku lihat dia malah tersenyum-senyum melihatku yang kini pastitampak begitu bodoh di matanya.

“Aku mencari tahu, Jong Woon. Bagaimana mungkin aku berdiam dirisaja melihat adik iparku tidak kelihatan batang hidungnya di hari meninggalnyakakek?”

Aku menunduk dalam. Aku benar-benar malu pada Yoon Ki Hyung.Sangat malu, hingga rasanya ingin ku benamkan kepalaku ini ke dalam sungai Han.

Mianhe, Hyung, jeongmal mianhae…” lirihku putus asa. Kurasakan Yoon Ki Hyung menepuk-nepuk pundakku. “Aku mengerti, Jong Woon. Akusangat mengerti kondisimu.”

Air mataku menetes tanpa bisa ku cegah. Yoon Ki Hyung menghelanafas sambil membuang muka ke arah sungai Han sana.

“Mi Ran…” katanya mulai bercerita. “Mi Ran masuk ke dalam keluargaJang ketika usianya lima tahun.” Dia menghentikan ucapannya sebentar untuk menyesapkopinya yang mulai mendingin.

“Aku masih sangat ingat bagaimana dulu kakek menyeretnya pulangketika dia tengah meraung-meraung di kedua makam orang tuanya. Gadis itu,setiap kali pergi ke sekolah selalu membuat masalah. Selama satu tahun bila iamendapat masalah, ia akan pergi berlari ke makam kedua orang tuanya, danmenangis meraung-raung di sana. Dia selalu berharap, dengan menangis keduaorang tuanya akan datang dan memeluknya. Dia bahkan pernah menangis memintaperlindungan di hadapan haraboji, namun haraboji selalumengabaikannya. Hanya saja, haraboji tidak pernah benar-benar membenciMi Ran. Dia selalu menangis dalam diam melihat Mi Ran seperti itu. Hanya saja,karena kekecewaan pada anaknya terlalu besar, haraboji tak sampai hatibersikap baik pada Miran. Dan Mi Ran, dia tahu bahwa haraboji tidak akanmemperhatikannya, maka yang dia lakukan setiap hari adalah mengadu di hadapanorang tuanya. Dia selalu melakukannya meski kakinya sering berdarah-darahkarena berlari ke tempat pemakaman dengan bertelanjang kaki.” Sampai di situ,raut Yoon Ki Hyung berubah sedih. Tapi dia sama sekali tidak berniatuntuk menghentikan ceritanya.

“Setelah melakukannya berkali-kali dan pada akhirnya dia sadar danmengerti bahwa kedua orang tuanya tidak akan pernah kembali, maka Mi Ran punberhenti mengiba. Dia berhenti berharap untuk sesuatu yang tak mungkin terjadi.Dia bahkan berhenti menangis setelah hari itu, dan hidup dengan keyakinannyasendiri. Dia selalu membuat onar di sekolah dan semua guru-gurunya, baik disekolah dasar maupun di sekolah menengah, sangat mengenalku karena seringnyaaku datang ke sekolah untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi karena kondisi adikkecilku, Yoon Sa, yang berpenyakitan dari sejak usianya satu tahun, maka akusering pergi keluar negeri untuk menemaninya melakukan pengobatan. Dan sejakitu, aku tak tahu bagaimana Mi Ran menjalani hari-harinya. Setiap kali akupulang, yang dilakukannya hanya bersikap ceria dan mengumbar senyum seolah takada hal buruk apapun yang terjadi padanya. Meski pun aku tahu bahwa hari-hariyang dilaluinya tak pernah semudah senyum yang selalu ia umbar itu.”

Kemudian keheningan menyelimuti kami sesaat. Aku tahu bahwa hidupMi Ran tidak akan mudah setelah kecelakaan yang menimpanya. Tapi aku tidakpernah tahu bahwa hidupnya sesulit itu. Aku kesal, aku geram. Aku merasa marahpada diriku! Aku marah pada setiap keputusanku yang tak bisa ku ubah sesukaku!

“Jong Woon…”

Aku menatap Yoon Ki Hyung dengan perasaan tak karuan. Diamenatapku lekat dan dalam. Lalu dia mengatakan hal yang membuat hatiku kianpelik dan sakit.

“Mi Ran tidak pernah setegar yang kau pikirkan.”

Aku tertegun menikmati desiran darah mengalir dengan cepatmenghujam setiap tempat di dalam diriku dengan begitu menyakitkan. Tubuhkumeradang. Ku tundukan wajahku dan memegang kepalaku yang isinya terasamembludak ingin keluar. Ini terlalu memusingkan. Terlalu menyakitkan.

Tapi tiba-tiba Yoon Ki Hyung lagi-lagi menepuk pundakkuberkali-kali, dan aku bisa merasakan betapa dia tengah memberiku kekuatan untukmenghadapi semua ini.

“Apapun yang kau pilih, aku tidak akan menyalahkanmu, Jong Woon. Selamanyakau adalah adik iparku, karena aku tahu, haraboji tidak akan pernahsalah memilih pendamping hidup untuk cucu satu-satunya.”

Yoon Ki Hyung lalu meninggalkanku seorang diri di tepisungai Han yang tenang namun menggemuruhkan hati. Aku teringat Mi Ran. Akuingin sekali memeluknya saat ini dan mengatakan bahwa aku sama lelahnya sepertidia. Bahwa aku membutuhkan pundaknya.

Bahwa semua air mataku yang tumpah saat ini hanya untuk dia…

 

 

 

TuBerCulosis­­__ _

 

*The next last conflict

Please RCL _

Publised by Allison

Advertisements

4 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 13)

  1. Menguras hati, pikiran dan perasaan…Sulit jd Jong Woon pilih Na Mi / Mi Ran…Sangat berat jalan takdir Mi Ran Semoga aja dia bisa bahagia nanti sm Jong Woon

  2. knp jongwoon g pernah nemuin mi ran, menyesal aja kn g cukup..nami masih punya eomma, tp miran dia bnr2 kesepian..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s