[ONESHOOT] MIRACLE OF SNOW_

TITTLE : MIRACLE OF SNOW

 

CAST   : 

     – CHO KYUHYUN

     – LEE YOORIN

  

Author : Cho Yanna  

 

Twitter : https://twitter.com/yanaKyu417_

 

FB    : Yanna ElfChoKyulate

 

Genre : ROMANCE DRAMA

 

Length : ONESHOOT

 

Disclamer : THIS
FF ORIGINAL BY ME. NO COPAS SILENT READER. HATE IT!! 😛 Awas typo
bertebaran semoga alurnya gak Aneh ck! OneShoot lagi. kk mungkin memang
saya tak di ijinkan untuk membuat FF Chapter yang rumit dan
berbelit-belit, yah.. karena seperti kalian tau Inspirasi saya mudah
datang dan lebih cepat pergi. kkk #abaikan RCL yahh RCL buat spirit
ane.. *bow bow bow

 

 

~MIRACLE OF SNOW_ Story begin……~

 

“Aku mencintaimu …

bahkan kau tau tanpa aku perlu bersusah payah untuk mengatakannya padamu.

 

Hidup.. pada dasarnya adalah sebuah misteri dimana kau tak pernah
tau apa yang akan terjadi pada  dirimu pada masa yang akan datang entah
itu hal yang biasa atau mungkin hal yang tak pernah kau duga sebelumnya.
Sama halnya dengan cuaca kota di perbatasan Seoul ini, kian hari
semakin sulit saja  terprediksi oleh orang awam, nampak beberapa menit
lalu sinar rembulan masih memancarkan cahaya agungnya namun,  lihatlah
sekarang—Cah, nampaknya tak lama lagi salju akan turun.

Begitulah
hidup penuh dengan kejutan dan sebuah penantian. Sama halnya dengan 2
gadis cantik bermarga Lee ini, mereka nampak sibuk dengan segala urusan
mereka dan dengan pikiran masing-masing. Hidup dalam satu atap yang
sama  dan satu  kamar yang sama. Lee Yoorin, Lee Jiyoon. Dua gadis
bersaudara dengan kepribadian yang berbeda.

 

Lee
Yoorin—gadis sulung dari keluarga Lee ini pada dasarnya  tak terlalu
suka dengan keramaian , dia cenderung lebih suka menghabiskan waktunya
dengan I-pad atau sekedar membaca novel remaja dengan
kehidupan cinta yang cukup pelik dan berakhir dengann sebuah  ‘Happy
Ending’. Bahkan dengan bodohnya ia berharap kehidupannya akan happy ending
pula seperti kisah-kisah mellow pada beberapa novel koleksinya. Cah~
lihatlah! Bahkan Yoorin memiliki lemari khusus yang berisikan tumpukkan
novel yang ia tata rapi dalam setiap raknya.

 

Seolah
berbeda dengan Yoorin, Lee Jiyoon—gadis ini malah cenderung tak suka
berkutat dengan buku, ia lebih suka menghabiskan waktunya
bersama-teman-temannya atau sekedar menatap phonselnya dan tak jarang
diiringi dengan gelak tawa secara tiba-tiba yang keluar dari bibir
mungilnya. Yah, hal inilah yang membuat Yoorin seringkali terusik dengan
kehadiran Jiyoon. Yak! Kenapa eomma menempatkan mereka dalam satu
ruangan yang sama dan jelas bahwa mereka sering kali tak akur dengan
pertengkaran-pertengkaran kecil. Ya.. hanya pertengkaran kecil biasa.

Pelan,
terdengar suara lantunan musik dari sebuah kotak musik yang tengah
Yoorin buka secara perlahan, dua bola matanya nampak berputar mengikuti
gerakan sepasang boneka yang tengah berdansa mengitari setiap sudut pada
kotak tersebut seolah mereka nampak nyata sedang berdansa diatas sebuah
panggung pertunjukkan dansa,  dengan boneka pria yang tengah memegang
seikat bunga dan sang boneka wanita yang tengah tersenyum  manis dengan
keanggunannya. Seolah terbuai, Yoorin kini ikut tersenyum memandang
setiap gerakan sepasang boneka tersebut yang beraksenkan beberapa rumah
dan pepohonan yang tertutupi oleh salju, hmm… membuat pikirannya
teringat kembali pada seseorang yang memberikan kotak musik ini padanya
sebelum akhirnya dia berpamitan untuk pergi. Cah! Sesungguhnya, Yoorin
sangat ingin bertemu dengannya setelah 2 tahun lamanya mereka tak saling
memberi kabar.

 

“Eonniiii, aku pulaaangg….“ tiba-tiba
saja terdengar suara lengkingan yang amat tak asing bagi telinganya,
Yoorin menoleh dan langsung disambut dengan pelukan erat dari adik
perempuannya, Lee Jiyoon. Huh.. selalu seperti ini.

 

“Eonni, bogosippeo.. eoh?”

 

“YAK!
Bahkan kau melihat eonnimu ini setiap hari, bogoshippeo? Cah~ apa kau
serius? Lepaskan pelukanmu eoh!” Ucap Yoorin  malas, Jiyoon nampak masih
enggan untuk  melepaskan  pelukannya dan malah menyamakan posisinya
dengan  Yoorin dan kemudian menyenderkan tubuhnya pada bagian kanan
tubuh Yoorin. Ya, begitulah Jiyoon dia selalu bersikap manja pada
Yoorin tak peduli jika Yoorin bosan dengan tingkah kekanak-kanakkannya.

 

“Yak!! Lepaskan Jiyoonie…”

“Shirreo—aku ingin seperti ini.”

 

“huhh..
Terserah kau saja—“ Yoorin  menghembuskan nafasnya pasrah. Toh sekarang
ia tak sedang mengerjakan tugas atau apapun yang membuatnya bisa
beralasan untuk menghindari Jiyoon.

 

“Eoh? Eonni, sejak
kapan kau memiliki kotak musik seperti itu eoh?” Jiyoon mengerjap dan
mengangkat kotak musik itu tanpa permisi, membuat Yoorin sedikit
berlonjak dan merebutnya kembali.

 

“Yak! Lee Jiyoon!
Berhati-hatilah dengan benda itu, arratchi?” Yoorin sedikit menaikkan
intonasi pada kalimatnya membuat Jiyoon nampak mengerutkan keningnya tak
mengerti.

 

“Aku hanya ingin memegangnya saja eonni..”

“Andwe!! Kau tak boleh menyentuhnya!!”

 

“Yak! Ww—waeyo? Sebegitu pentingkah barang itu untukmu eon—“

 

“Geurae. Itu bahkan sangat penting bagiku.” Sergah  Yoorin cepat  tanpa mengalihkan pandang dari kotak musik itu.

 

“Cah!
Bahkan aku tak pernah melihat ada namja yang mendekatimu, kenapa kau
bisa mendapat kotak musik seperti  itu eonni, bahkan aku pun tak pernah
mendapatkan hadiah sespesial itu —“ Yoorin nampak mengangkat sedikit
kepalanya. Bahkan di usianya yang masih duduk di bangku SMP  Jiyoon
seolah lebih tau tentang  arti berkencan berbeda dengan Yoorin
yang baru pertama kali merasakan kencan dan mungkin akan menjadi
terakhir kali baginya. Kencan pertama dan terakhir? Humm.. entahlah..

 

“Yui Eonni katakan siapa kekasihmu, huh??!!” Pekik Jiyoon membuat Yoorin seketika membekap mulut Jiyoon dan menjitaknya asal.

 

“Ash..
jinjja!! Jaga bicaramu!!” Langsung saja Yoorin membekap mulut Jiyoon
dan melayangkan jitakan keras pada kepalanya tentu saja membuat Jiyoon
memasang wajah kesal untuk beberapa detik.

 

“Yak
Ap—appo—Bahkan aku hanya ingin tau siapa namja chingumu Yui
Eonni—Nugu-ya NUGU!!” paksa Jiyoon dengan tatapan penuh keingin tahuan
yang terpancar  dari kedua kelopak matanya.

 

Oh God—kenapa aku harus memiliki adik sepertinya, jika aku salah Hukum sajalah aku. Batin Yoorin kesal.

“DIAM!! Kau tak perlu tau tentang itu. Arraseo?!”

 

“eoh?
Jeongmalyo? Benarkah kau sudah memiliki kekasih, huh? Igeo
Je—jeongmalyo? Kya.. akhirnya..”  Ucap Jiyoon dengan  sikap ke
soktauannya yang bisa dibilang over, membuat Yoorin ingin sekali
mendeplak kepalanya lagi. Geram? Tentu saja.

 

“Eonni siapa
namja itu, huh? Apa Dia tampan? Palli, katakan padaku eonni-ya—“ Ucap
Jiyoon dengan mata berbinar menatap Yoorin dengan raut frustasinya.

 

“Kau
tak perlu tau. Cah! Apa itu belum jelas, huh?” Gertak Yoorin sontak
menutup kembali kotak musiknya dan menyimpannya pada tempat semula.

 

“Aku harus tau. Karena—karena kau selalu tau siapa pria yang berkencan denganku se—“

 

“Aku tak pernah meminta kau mengatakan  itu.”

 

 

DOENG !! -__-

 

“Yak!
Yui eonni.. ayolah.. siapa namja  beruntung itu.” Seketika Yoorin
berhenti dan menoleh kearah Jiyoon dengan pincingan matanya yang sangat
–rrr—mengerikan. Cah, apa anak ini tak mengerti bahasa Korea dengan
baik, huh?

 

“Bahkan akupun  ragu untuk mengatakan bahwa
kami adalah sepasang kekasih. Huhh.. Sudahlah—itu tak terlalu penting.”
Yoorin beranjak keatas ranjangnya dan memilih duduk di posisi paling
sudut pada sisi ranjangnya, membiarkan matanya  menerawang  menatap jauh
keluar jendela. Jiyoon mengikuti langkah Yoorin dan berniat untuk
menaikinya  namun—

 

“TURUN!!”

 

“eoh? Ah.. ye
Yui eonni..” Jiyoon tersentak dan akhirnya dengan sedikit kecewa Jiyoon
menjauh dan memilih duduk pada kursi rias yang terletak di antara tempat
tidur mereka. Jiyoon menatap Yoorin tanpa berkedip.

 

“Bahkan selama aku berkencan aku tak pernah sepertimu eonni—“ Yoorin menoleh

 

“Karena kau tak pernah benar-benar tau apa makna dari cinta itu yang sebenarnya, Jiyoon-ah.”

 

”Nn—nde?”

 

 

FLASHBACK

 

“Ttaraa~ baiklah,  sekarang kau boleh membuka matamu Yoorin-ah.”

 

“Eoh?
Kau—kau tak menjebakku atau semacamnya kan, Op—oppa.” Tanya Yoorin
sedikit ragu sebelum ia membuka secara sempurna kain yang menutupi kedua
matanya.

 

“Anii, mana mungkin aku melakukan itu di hari
spesialmu ini. Ck!” Yoorin pun akhirnya membuka perlahan ikatan penutup
matanya, menatap apapun yang tertangkap oleh kedua indra penglihatannya.

 

“Oppa..”

 

“Maaf
aku hanya bisa mengajakmu ke taman salju buatan ini Yoorin-ah, karena
kau tau sendirikan aku tak mungkin meminta tuhan untuk menurunkan salju
pada musim gugur ini—eoh? Kuharap kau tak terlalu kecewa, Rin-ah..”

 

“Eoh?
An—ani. Aku suka—aku menyukainya, nde aku sangat menyukainya—“ Ucap
Yoorin  penuh binar kebahagiaan  terpancar dari kedua pelupuk matanya
membuat namja di depannya ini sontak tersenyum dan seketika mengaitkan
jari jemarinya dengan jari mungil Yoorin dan—KLOP! Yah.. seolah telah
menemukan sebuah kunci pada tuasnya tangan mereka memang seolah telah
ditakdirkan untuk saling melengkapi satu sama lain.

 

“Kajja—“
Yoorinpun tertarik dan mengikuti kemanapun  langkah pria dihadapannya.
Terselip rasa bahagia yang teramat sangat di lubuk hati Yoorin. Dimana
semua yang dulunya tak mungkin menjadi mungkin dimana dulu ia sangat
menanti-nantikan kehadiran hari ini, dan sekarang  bahkan hari ini jam
ini dan di menit ini semua seolah menjadi sebuah kenyataan yang
menjadikan Yoorin adalah gadis paling beruntung didunia.

 

“Kyu—kyuhyun Oppa—“ Guman Yoorin menatap punggung pria bermarga Cho ini dengan air mata yang mulai menggenang dipelupuk matanya.

Cho
Kyuhyun—pada dasarnya ia termasuk dalam jejeran pria populer di
sekolahnya, tak ada satupun wanita  yang tak memiliki impian dan
berharap suatu saat akan memilikinya. Begitu pula Yoorin, bahkan dialah
orang yang pertama kali mengenal Cho Kyuhyun walau tak saling mengenal
secara langsung, namun Yoorinlah yang pertama kali merceritakan tentang
Cho Kyuhyun pada teman-temannya, dan banyak diantara mereka yang
mengecap diri mereka adalah calon kekasihnya kelak. Cah! Dengan seperti
itu Yoorin menyadari batapa bodohnya dirinya, mengapa harus
menceritakannya pada semua temannya bahkan sekalipun Yoorin bercerita ia
tak pernah mengakui bahwa ia menyukai atau sekedar mengagumi Cho
Kyuhyun. Entahlah Yoorin bahkan sangat menyesal karena tindakan bodohnya
itu.

Namun—entah karena apa hingga suatu hari Yoorin menerima pesan singkat dari nomor asing di kontak phonselnya

 

“Heyy,
aku berharap kau mau menemuiku besok jam 8 malam di taman hiburan
gwangju-jip. Jika kau mau datanglah. Bukankan besok adalah ulang
tahunmu. Yoorin-ah?_aku menunggumu” Jjang!! ^^

                                                                       

From : Cho Kyuhyun

 

 

Jujur saja, Yoorin masih belum percaya dengan semua ini. Pesan singkat itu dan—dan malam  ini.

Oh
God, dari mana dia tau jika hari ini adalah hari ulang tahunku.
Seketika Yoorin mengeratkan jemarinya semakin erat sontak membuat yang
empunya menoleh dan bergeryit dahi. Yoorin hanya menatap Kyuhyun lekat
seolah mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada dalam hatinya.

 

“Waeyo?” Ucap Kyuhyun membuat Yoorin tersadar dan segera menunduk.

 

“ahh—anieyo Kyu—Kyuhyun Oppa.” Ucap Yoorin sedikit gugup dan kemudian menarik kedua sudut bibirnya.

 

“Ya! Yoorin-ah, Jja.. pakailah.” Yoorin menatap sepatu sky yang di berikan Kyuhyun padanya.

 

“Eoh? Ige Mwoeyo?”

 

“Pakailah,
dan kita akan bermain sepuasnya. Kajja! Aku tak mau membuang waktu
lebih lama lagi—” Dengan penuh semangat Kyuhyun berjongkok dan  membantu
Yoorin memakaikan sepatu itu pada kakinya.

 

“An—aniya Oppa, aku bisa memakainya sendiri.”

 

“Yup!
Sudah terpasang—Jja!” Kyuhyun berdiri membuat Yoorin tak berani
menatapnya seiring dengan degupan jantung yang terpompa melebihi batasan
maksimal seperti sekarang.

Yoorinpun menurut saja saat Kyuhyun  menuntunnya menuju area ice Skating. Sungguh! Disisi lain ia ingin sekali berteriak tanpa menahan gejolak yang ia rasakan saat ini. Saat pertamanya.

 

Namun tiba-tiba—

“Ahh..
Akhirnya aku bisa menghirup aroma salju di musim gugur seperti ini.
Humm—” Tanpa sadar Kyuhyun merentangkan kedua tangannya menghirup bebas
aroma dingin yang begitu menenangkan. Lalu bagaimana dengan Yoorin,
bukankan Yoorin masih bergantung pada lengannya? Oh my…  -_- baiklah,
tanpa sadar tangan Yoorin terlepas dalam kondisi Yoorin yang masih belum
seimbang, dan hasilnya Yoorinpun kelimbungan untuk menyeimbangkan
tubuhnya dan mencari apapun sebagai tumpuan tangannya agar tak terjatuh.

Namun nasib berkata lain—

 

“YAK!!” Yoorin terpeleset saat dia akan menggapai sebuah tiang yang berada tak jauh darinya, iapun memekik spontan

 

“Yoorin-ah—“ Fyuh.. untung saja Kyuhyun menangkap Yoorin pada saat yang tepat, dimana tubuhnya belum sepenuhnya menyentuh tanah.

 

DEG !!

 

“Yoorin-ah,
neol Gwaenchanna?” Glek! Yoorin mengerjap tak karuan  untuk menyadarkan
semua pikiran anehnya dan mencoba berdiri dalam posisi semula.

 

“nde, nan Gwanchanna, ash, Jinjja—“ gerutu Yoorin tanpa sadar.

 

“Eoh?
Jangan bilang kau tak bisa bermain sky?”  Ucap Kyuhyun dengan menarik
satu sudut bibirnya membuat satu senyum  miring  khasnya itu terbentuk
sempurna.

 

“M—mwo? Cah, apa alasanmu mengatakan hal itu, huh?”

“Umm.. tak ada—mungkin itu hanya dugaanku, ck!”

 

“Bahkan
setiap tahun aku selalu menantikan salju datang—dan bermain bersama
adikku. Sepertinya dugaanmu salah, Oppa.” Tanpa sadar Yoorin sudah
terbiasa dengan keadaan ini, tak ada lagi rasa canggung  yang beberapa
menit yang lalu masih sangat membuatnya tak merasa  nyaman. Baiklah
Yoorin mengakui, bahwa dirinya menyukai pria di hadapannya ini, ani
bahkan sangat—mencintainya.

 

“Benarkah.?”

“Tentu!!”

 

“Kalau
begitu—Kejarlah aku!!” Ucap Kyuhyun dengan sedikit memekik pada akhir
kalimatnya dan langsung melesat pergi jauh meninggalkan Yoorin. Sesekali
Kyuhyun menoleh sebelum ia sepenuhnya menjauh dari Yoorin.

 

“YAK!!
Kau curang, OPPA!! CHANGKAMMAN!!” langsung saja Yoorin mengajar Kyuhyun
dengan gerakan cepat dan benar saja, Yoorin sudah tampak mahir dalam
mengayunkan kedua  kakinya menapaki area yang dibuat sedemikian rupa
menyerupai musim dingin.

Lama mereka saling kejar mengejar satu
sama lain dengan penuh keriangan yang nampak dari wajah keduanya, seolah
mereka melupakan sejenak beban yang ada dalam kehidupan mereka.

 

“Gidaryo—“
Yoorin menoleh, mendapati Kyuhyun tengah terengah  sambil berpegangan
pada pinggiran area. Yoorin nampak menunjukkan senyum  kemenangannya
sekarang.

 

“Eoh? Hanya seperti itukah kemampuanmu Oppa, ck!
Sudah kuduga.” Kyuhyun mendongakkan kepalanya menatap wajah Yoorin yang
tak menampakkan guratan lelah itu disana dan malah bersidekap melipat
kedua tangannya didepan dada.

 

“YA!! Jangan cepat-cepat eoh, bisakah kita berjalan beriringan saja, hum?”

 

“Shirreo! Itu membosankan, Oppa.”

 

“Tak akan.”

 

SRAATT~

 

“Eoh?”
Yoorin tersentak saat Kyuhyun tiba-tiba menyeret  tubuh Yoorin dan
kemudian manariknya perlahan berjalan menyusuri setiap jengkal arena sky
dengan tubuh mereka yang saling berhimpitan, sehingga mau tak mau
Yoorin tak bisa memberontak dengan postur Kyuhyun yang lebih besar
darinya.

 

“Lepaskan!”

 

“Tidak, sampai kau diam.”

 

“Mwo?”

 

“Bukankan
seperti ini jauh lebih nyaman eoh?” Yoorin terhenyak, darahnya kembali
berdesir cepat seiring degupan jantungnyapun makin terpacu.

 

“Yoorin-ah—kau tau?”

“M—mwoya?”

 

“Aku sempat berpikir—bahwa kau juga menyukaiku sama seperti gadis-gadis lainnya.”

 

“Eoh?” Yoorin menoleh kilas dan kemudian kembali memandang lurus kedepan.

 

“Ternyata tidak! Kau tidak menyukaiku sama seperti yang lainnya.”

 

“Oppa..” Yoorin kembali mendongakkan kepalanya sedikit menatap Kyuhyun dari arah bawah.

 

“Yah.. aku sedikit kecewa..” terlihat Kyuhyun kembali memperlihatkan senyumnya disela tarikan nafas panjangnya.

 

“Kyu—kyuhyun Op—oppa…” Yoorin semakin kalut dalam guncangan perasaannya.

 

“Kau
tau? Bahkan sejak pertama kali kau masuk di sekolah kami, aku kerap
kali mencarimu dan berharap kau juga menyukaiku sama seperti yang
lainnya—tapi ternyata aku salah,  kau sama sekali  tak menyukaiku
seperti semua teman-temanmu, tsk!“ Kyuhyun menarik menghentikan
kalimatnya sejenak mencoba memberi jeda dan mengisi rongga dadanya
terisi oksigen kembali. Yoorin menunduk kalut, ia benar benar tak tau
apa yang harus dan seharusnya ia lakukan sekarang.

 

“Aku menyukaimu Oppa.. aku menyukaimu.” Guman Yoorin dalam hati.

 

“Dan
aku pikir jika dulu kau menyukaiku aku akan lebih cepat mendapatkanmu,
Yoorin-ah. Ck! Sekarang kau boleh tertawa sepuasnya, aku bodoh bukan?”

 

“Kyuhyun
Op—oppa.” Dengan sekuat tenaga Yoorin kembali mendongak menatap Kyuhyun
yang masih saja menatap lurus kedepan, namun kali ini air matanya
menetes cepat dan  membasahi pipinya.

 

“Dan baru sekarang
aku berani untuk mengungkapkannya padamu. Cah, aku benar-benar seperti
pecundang, dengan segala pesona yang aku miliki  bahkan aku tak berani
untuk hanya mengungkapkan perasaanku padamu.”

 

“Oppa jadi selama in—“

 

“Geurae.
Kau benar, selama ini aku selalu mencari tau apapun tentangmu. Namamu,
rumahmu, dan sekarang ulang tahunmu, bahkan nomor mu aku sudah
memilikinya sejak dulu, tapi—tapi lihatlah betapa pengecutnya diriku
sekarang, hahaha…” Setiap kalimat yang terlontar dari bibir Kyuhyun
seolah terdengar sangat tulus membuat bulir bening itu makin deras
menetes. Kyuhyun tertawa, tertawa? Tidak, bahkan tawanya terdengar
memilukan.

“Oppa.. sebenarnya aku—aku…”

“Tak peduli kau
menyukaiku atau tidak, tak peduli kau mencintaiku atau tidak yang
terpenting aku telah mengungkapkan semua bebanku ini  padamu,
Yoorin-ah.” Seolah tak ingin mendengar lontaran kalimat yang ingin
diucapkan Yoorin, dengan cepat Kyuhyun segera menarik Yoorin dalam
dekapan nya,seolah sengaja  membiarkan Yoorin mendengar setiap degup
jantung yang terus berdetak cepat seiring dengan lontaran demi lontaran
kata yang begitu tulus terdengar.

 

“Kyuhyun Oppa.. aku—“
Guman Yoorin dalam dekapan Kyuhyun membalas pelukannya dengan erat tak
peduli jika air matanya kelak akan membasahi setelan baju hangat yang
tengah Kyuhyun pakai. Sedangkan Kyuhyun, ia telah  memejamkan matanya
menengadah keatas seolah ia merasakan kelegaan yang selama ini
terpendam.

 

 

***

 

Hening.. tak ada yang
berani berbicara atau memulai berbicara seolah membiarkan kesunyian ini
terjadi dengan gemelut pikiran mereka masing-masing. Yoorin yang tengah
menunduk dengan memainkan jari jemarinya asal, ada rasa bahagia dalam
hatinya namun ada juga rasa penyesalan yang juga ikut mendominasi.

Seperti juga Kyuhyun, ia nampak memandang lurus kedapan  menatap jalanan kota dan sesekali menoleh kearah Yoorin.

“Kyu—Kyuhyun Oppa..” Ucap Yoorin memecah kesunyian.

 

“Hmm…”

 

“Mi—mianhaeyo..”

“ck! Wae?!”

 

“Atas semua kesalahanku.” Namun tiba-tiba Kyuhyun langsung  menepikan  mobilnya cepat membuat Yoorin

mendongak dan mendapati bahwa kini mereka telah berada di tepi jalan di atas jembatan sungai Han.

 

“Kau
sama sekali tak salah Yoorin-ah.. ini kesalahanku, arraseo?” Kyuhyun
tersenyum menangkupkan tangannya pada wajah Yoorin dan kemudian
mengacak rambut Yoorin  kilas.

 

“Ige—Untukmu.” Yoorin menatap sebuah  box berbalutkan pita dengan gambar not not musik disekitarnya.

“Eoh? Ig—ige mwonde?”

 

“Terimalah,
dan kau akan tau. Jja!” Yoorinpun mengambil bingkisan itu dan kembali
menatap Kyuhyun seolah meminta ijin  membuka bingkisan pemberiannya,
Kyuhyunpun  mengangguk manandakan bahwa ia menyerahkan itu sepenuhnya
pada Yoorin.

Dengan perlahan Yoorin membuka bingkisan tersebut dan—KLIK.

Nampak  terdengar sebuah irama musik yang mengalun saat hadiah tersebut terbuka—INDAH.

 

“Oppa—“

 

“Itu
untukmu.. agar setiap musim salju datang kau selalu mengingatku dan
jika kau merindukan musim salju kau bisa membuka kotak musik itu dan kau
dapat melihat salju setiap saat kau menginginkannya, karena aku tau
kau  sangat menyukai musim salju—apa kau menyukainya, humm?”

 

“Ten—tentu..” Ucap Yoorin seolh masih belum percaya akan semua kejadian pada malam ini.

 

“Mungkin
setelah ini aku akan jarang bertemu denganmu lagi  Yoorin-ah—“ Ucap
Kyuhyun dengan nada bicara yang melemah  membuat  kedua kelopak  mata
Yoorin seolah tak diijinkannya untuk berkedip untuk saat ini sampai ia
benar-benar memberi jawaban dan kejelasan akan apa yang telah Kyuhyun
katakan saat ini.

 

“Cah! Aku tak akan kemana-mana, hanya
saja—hanya saja aku akan melanjutkan  kuliah di Unniversitas LA. Ck!”
Kyuhyun mengacak puncak kepala Yoorin namun dengan sedikit lebih lembut.

 

“Oppa
kau—kau tak sedang bercanda kan? Ahh itu tak  sangat tak—lucu”  Ucap
Yoorin mencoba tetap tersenyum dan dengan tanpa sadar Yoorin  menitikan
air matanya di hadapan Kyuhyun membuat Kyuhyun hanya menjawabnya dengan
anggukan dan senyum sendunya.

 

“Kyuhyun Oppa…” Sontak
saja Yoorin memeluk  Kyuhyun dengan erat tanpa memikirkan apa-apa lagi.
Sungguh! Apa Kyuhyun hanya mempermainkannya? Setelah hari ini ia
mengucapkan semua kalimat manis untuknya. Apa maksud semua ini?

 

“Kau
tak perlu khawatir Yoorin-ah, aku akan baik-baik saja disana,
percayalah.” Yoorin menatap Kyuhyun seksama tanpa melepaskan  pelukan
mereka.

 

“Kau jahat…” Entahlah kalimat bodoh itu malah lolos begitu saja dari bibir Yoorin.

 

“Arrayo.. aku jahat !! aku sangat jahat—“

 

“Aku
menyukaimu Oppa, aku menyukaimu—“ Kyuhyun tergelak dan kembali memeluk
Yoorin dalam dekapannya cepat  membiarkan gadis itu menangis di
dekapannya.

 

“Aku menyukaimu Oppa..” Isak Yoorin disela dekapan Kyuhyun.

 

“Tunggu
aku di salju tahun kedua Yoorin-ah, kumohon tunggulah aku—“ Ucap
Kyuhyun kalangkabut dan tanpa sadar iapun menangis, buliran bening itu
kini melaju deras dari kedua anak manusia ini. Ada rasa tak tega yang
kini mendominasi benak Kyuhyun saat ini, perasaannya benar-benar gamam,
tak tau apa yang seharusnya ia lakukan. Haruskah ia pergi esok hari? Dan
jika Kyuhyun memang benar-benar memilih pergi, bagaimana dengan Yoorin?
Dengan jelas indra pendengarannya  Kyuhyun mendengar sendiri lontaran
kalimat yang keluar bagitu saja dari bibir Yoorin tanpa Kyuhyun
memintanya untuk menjawabnya.

Oh God… -__-

 

“Yoorin-ah.. tunggulah aku pada hari itu kumohon—kumohon tunggulah….”

 

 

FLASHBACK END

 

 

 

“Yoorin-ah—LEE YOORIN!!”

Seorang
gadis nampak tersadar dari lamunannya mendengar suara yang memasuki
indra pendengarannya beberapa detik yang lalu. Seolah tak mau tertipu,
Gadis itu  menggeleng mengelak hati nuraninya untuk kembali sadar akan
halusinasinya. Lee Yoorin. Yah.. siapa lagi.

 

“Yak!! Lee Yoorin. Jangan pura-pura tak mendengarkanku. LEE YOORIN!!”

 

“Eoh?” Yoorin mengerjap, apa mungkin ia sedang berhalusinasi? Atau— Changkamman!

Yoorin
langsung membuka horden jendelanya memperlebar jarak pandang matanya
untuk membantu meyakinkan dirinya akan apa yang ia dengar.

 

“Yui
Eonni, nugu?” Juyoon yang sedari tadi berdiampun kini ikut menggerakkan
tubuhnya melangkah menaiki tempat tidur Yoorin merangkak untuk dapat
melihat siapa yang membuat eonninya begitu antusias. Yoorin menoleh
kearah Jiyoon, Jiyoon mengeryitkan dahinya tak mengerti dan kembali
keduanya menatap kebawah dimana ada seorang  pria tengah berdiri didepan
rumah mereka.

 

“Yoorin-ah.. Keluarlah Palli!! Yak!! Lee
Yoorin!!” Kembali pria itu memekik hebat membuat Yoorin tak mau tinggal
diam, ia langsung melesat mengambil  syal dan matel tebalnya menyisakan
Jiyoon yang masih setia dengan posisinya menatap Yoorin dan pria itu
secara bergantian.

 

“Eonni Waeire—“

 

“Aku akan keluar, jangan menungguku. Tidurlah dengan baik, arraseo?” Ucap Yoorin dengan tergesa.

 

“Keunde—“

 

“Ah.. katakan aku  sudah tidur jika eomma menanyakanku. Aku pergi.”

 

“Ke—keunde eon—“

 

BLAM

 

Pintu
itu tertutup cepat menyisakan hembusan angin yang menggerakkan beberapa
helai kain yang berada dibalik pintu bercat merah muda tersebut.

 

“Eoh?
Tampan juga—“ guman Jiyoon yang masih dalam  posisinya menatap mereka
bergantian dari atas melihat Yoorin yang sedang membukakan gerbang.

 

 

 

 

***

Terlihat
Yoorin mempercepat langkahnya menuju pintu gerbang, menatap sejenak
pria yang berdiri didepannya dan seketika darahnya kembali berdesir
hebat tatkala ini bukan halusinasinya lagi, pria ini.. sekarang
benar-benar nyata, menepati janjinya dan menemuinya.

Yoorin benar-benar ingat apa yang dikatakannya sebelum akhirnya pria ini benar-benar pergi tanpa adanya kabar sama sekali.

 

“Tunggu aku di salju tahun kedua Yoorin-ah, kumohon tunggulah aku—“

 

“Kyuh—Kyuhyun Oppa… benarkah ini k—kau?” Ucap Yoorin gugup dan mencoba berdiri tegap menatap sorot mata Kyuhyun.

 

“Sepertinya kau benar-benar merindukanku eoh? Ap—“

 

GREB

 

Kyuhyun
tersentak saat Yoorin tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Entahlah
setan apa yang telah merasuki tubuh Yoorin hingga ia benar-benar ingin
memeluk pria dihadapannya ini, melepas semua rindu yang yang begitu
memuakkan. Perlahan Kyuhyunpun  ikut mengangkat kedua tangannya,
membalas pelukan Yoorin dan membiarkan keadaan seperti ini untuk
beberapa menit.

 

“Yoorin-ah—“ Ucap Kyuhyun seraya
menelusupkan tangannya  pada rambut  tergerai milik Yoorin, seolah
meminta agar ia melepaskan  dekapannya karena ia melakukannya sudah
terlalu lama.

 

“Eungghh—Shirreo!” Yoorin malah makin menggeliat dan mempererat  pelukannya.

 

“Mwo? aku merindukan wajahmu bukan rambutmu ini, ash! Jinjja.”

 

GLEK

Mau
tak mau Yoorinpun perlahan melepaskan pelukannya dan menunduk. Kyuhyun
menekuk sedikit lututnya bermaksud untuk menggoda Yoorin, disibaknya
ramput Yoorin yang menutupi sebagian wajahnya.

 

“Eoh? Yak, ige mwol? Pipimu ash.. pipimu.. kenapa makin Chubby eoh?
Kau makan berapa banyak selama ini eoh?” Ucap Kyuhyun seraya
menelangkupkan kedua tangannya pada wajah Yoorin, mencubit pipinya gemas
kemudia mengusapnya dengan halus. Tak ada jejak air mata disana. Tak
ada? Tidak bahkan dari tadi Yoorin menangis dan oleh sebab itu ia tak
mau melepaskan  dekapannya dan membiarkan untuk waktu yang lebih lama
lagi.

 

“Nappeun…” Ucap Yoorin lirih, namun masih bisa terdengar oleh Kyu walau itu sangat pelan.

 

“Eoh? Mwoya?” Yoorin mendongak menatap Kyuhyun dengan raut sengitnya.

 

“Nappeun..
Nappeun.. neol nappeun… jeongmal nappeun.. nappeun. YAK NAPPEUN!!”
dengan tangan lemah Yoorin mengepalkan tangannya dan memukul-mukul dada
bidang Kyuhyun dari setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya. Kyuhyun
terdiam, seolah membiarkan dirinya sebagai pelampiasan disetiap
pukulannya yang terdengar sangat memilukan.

 

“Kau jahat
Oppa, kau jahat! Membiarkanku  menunggu tanpa mengabariku sama sekali,
kau pikir kau hebat huhh? Pergi tanpa meberi kabar, cah! Aku salah..
ternyata kau sama dengan lelaki lain—aku menyesal pernah mengagumimu.”
Yoorin mengalihkan pandangannya pada arah lain.

 

“Mwoya?
Jadi kau juga pernah menjadi pengagumku eoh? Sungguh? Yah—aku akui jika
pesona seorang Cho Kyuhyun memang tak tertandingi, cah! Bukankah
begitu?”

 

“Mmm—mwo? Si—siapa yang mengagumimu? Tidak—tidak
pernah sama sekali. cah! Aku tak sebodoh yang lainnya. Nde, mana mungkin
aku mengagumimu.” Ucap Yoorin gelagapan mencari apapun alasan untuk
setidaknya membuat dirinya selamat malam ini. Kyuhyun hanya tertawa
bangga penuh keagungannya, membuat Yoorin mengepalkan tengannya erat.

 

“Hahaha.. terserah kau saja, anggap saja aku mempercayaimu. Ck!”

 

“YAK!!”

 

“Hahaha..
Jja, kita pergi.” Dengan gelak tawanya yang masih terdengar Kyuhyun
menautkan jari jemarinya pada Yoorin. Yoorin seketika menunduk menatapi
tangannya yang tengah berada dalam genggaman Kyuhyun. Entahlah.. mengapa
pria ini selalu gemar  menggandengnya di posisi itu.

 

Yoorin
hanya menurut saja, toh tak ada alasan untuk menolaknya bahkan hatinya
mengatakan bahwa ia harus pergi bersama Kyuhyun, mengikutinya untuk
sekedar melihatnya, yah.. itu sudah lebih dari cukup untuknya. Untuk
melampiaskan rasa rindu mereka satu sama lain. Nampak sesekali terlihat
tingkah konyol yang mereka perbuat entah itu saling mengejar atau saling
melompat kecil, tak jarang tawa mereka terdengar begitu sangat lepas
seperti tak ada beban dalam kehidupan mereka.

Derap langkah mereka
terdengar beriringan menyusuri jalan setapak menuju kesebuah tempat
yang belum Yoorin ketahui dan bahkan ia lupa untuk menyanyakan kemana
arah tujuan mereka, cah.. itu sepetinya tak terlalu penting untuk
saat-saat perti ini.

Dan sampai akhirnya—

 

“Eoh?
Kenapa berhenti disini, Oppa—“ Ucap Yoorin saat Kyuhyun tiba-tiba
berhenti di sebuah arena penuh rerumputan yang bersebelahan dengan danau
kecil. Bukankah ini area Ice Skating? Dan—bukankankah tak mungkin ada
setitikpun salju disana, dan  walaupun hawa dingin itu semakin menusuk
apa mungkin salju akan turun malam ini? Cah, tingkah bodoh apa lagi yang
Kyuhyun lakukan?

 

“Menunggu salju turun—“ Kyuhyun
menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi panjang yang terletak disana,
membuat Yoorin menautkan alisnya .

 

“Yak! Mwo? apa kau gila huh?”

 

“Ani.
Jja, duduklah..” Ucap Kyuhyun bergeser dan menepuk sebelah tempat
duduknya untuk mengisyaratkan Yoorin untuk duduk. Yoorin mengerjap dan
dengan sedikit ragu Yoorinpun akhirnya terduduk di sebelah Kyuhyun.

 

“Huhh….” Nampak Kyuhyun mengmembuskan nafasnya seraya dengan matanya yang terpejam.

 

“Kyuhyun Opp—ppa.” Kyuhyun menoleh.

 

“Humm…”

 

“Aku—aku.. umm aku—“

 

“Wae, katakan dengan jelas eoh?”

 

“Ani. Lupakanlah.” Ucap Yoorin dan kemudia ikut mengenderkan tubuhnya pada kursi tersebut.

 

“Bersandarlah padaku.”

 

“Nde?”

 

“Badanku jauh lebih hangat dari kursi itu, bersandarlah padaku.”

 

“Eoh?
Aku tak ap—“ belum sempat Yoorin melanjutkan kalimatnya Kyuhyun telah
lebih dulu menariknya untuk memaksanya menyandarkan tubuh Yoorin pada
dada bidangnya.

 

“Apa kau percaya malam ini akan turun salju?”

 

“Nde? Ahh.. spertinya begitu.” Jawab Yoorin asal.

 

“Baguslah. Apa kau masih mengingat janjiku sebelum aku meninggalkanmu, huh?”

 

“Umm.. Igeo—“

 

“Cah, aku sudah menduganya kau akan lupa akan hal itu.” Sela Kyuhyun membuat Yoorin menunduk.

 

“Aku mengingatnya Oppa, ya.. aku bahkan sangat mengingatnya.” Guman lirih Yoorin.

 

“Jja,
mari kita berdiri.” Yoorin tersentak saat Kyuhyun tiba-tiba menariknya
untuk membantu Yoorin ikut berdiri bersamanya. Kyuhyun kembali menutup
matanya mencoba menghirup aroma dingin yang kian terasa. Yoorin menoleh
sejenak, dan kemuadian ia mengikuti apa yang sedang  Kyuhyun lakukan.

 

“Humm…”

 

“Kau mengikutiku?“

 

GLEG !!

 

“An—aniya, aku hanya ingin merasakan apa yang sedang kau lakukan.” Jawab Yoorin seadanya dengan cengiran polos khasnya.

 

“Hmm.. kau tau Yoorin-ah, apa tanda-tanda akan turunnya salju, eoh?”

 

“Tentu. Udara terasa sangat dingin dan menggigil.”

 

“Yak bodoh! Bahkan anak kecilpun bisa menjawab seperti itu.” Yoorin mengerucutkan bibirnya dan sedikit menaikkan alisnya.

 

“Tapi seperti itulah yang biasa kurasa—“

 

“Pada
saat salju akan turun pepohonan selalu diam tak bergerak seakan mereka
merasakan kedamaian dan yang terpenting kau akan mendengar suara seperti
bisikan itu pada telingamu. Humm—dulu uri eomma selalu mengajarkan itu
padaku.” Kyuhyun menoleh dan mengacak rambut Yoorin kilas.

 

“Eoh? Apa eomma mu—“

 

“Geurae, Eommaku sudah berada disurga.”

 

“Op—oppa.. Mianhae—“

 

“Aniya. Nan Gwaenchanna Rin-ah—dan dulu eommaku sangat menyukai musim salju sama sepertimu.”

 

“Ah.. Jeongmal?”

 

“Nde, eommaku sangat sama sepertimu dan—dan aku sangat mencintainya.”

 

“Oppa…” Yoorin menatap sendu.

 

“Jja. Seharunya aku tak mengacaukan mood hari ini. Yoorin-ah, lihatlah sekarang salju itu akan segera turun.”

“Eoh? Benarkah?” Yoorin sontak mengikuti arah pandang Kyuhyun yang menengadah keatas.

 

“Hana.. Dul… Set..”

 

Teeesssss

Butir
salju pertama itu seketika menetes seolah semua ini telah direncanakan
sebelumnya, Kyuhyun membuka matanya mendapati salju itu menetes tepat
pada hitungan ketiga dan semakin lama salju itupun turun semakin banyak
dan semakin banyak lagi.

 

“Inilah yang dinamakan keajaiban
salju. Kajja, aku akan menepati  janjiku padamu.” Kembali, Kyuhyun
mengajak Yoorin berlarian kesana kemari dengan butiran salju yang
semakin deras menutupi permukaan bumi. Mereka bagaikan anak kecil yang
telah menemukan mainan barunya, seperti tak pernah lelah apapun yang
mereka lakukan bersama saat ini. Sampai akhirnya Kyuhyun menghentikan
langkahnya dan menarik pinggang Yoorin.

 

HUP!! Dekat dan
sangat dekat dengannya saat ini, membuat Yoorin mengerjap tak karuan
seiring dengan degupan jantungnya yang kembali belomba untuk meloncat
keluar. Oh God.. ini terlalu dekat, terlalu dekat.

 

“Kyuh—Kyuhyun
Oppa.. apa—apa yang ingin kau lakukan h—humm?” Tanya Yoorin dengan
nadanya yang terdengar gugup dan bergetar. Bodoh! Seharusnya ia tak
berbicara pada saat seperti ini dan malah menunjukan ke gugupannya itu
di depan Kyuhyun. Tak ada jawaban, Kyuhyun malah semakin lekat menatap
lekuk wajah Yoorin.

 

“Opp—oppa..”

 

“Ah.. Anni, aku hanya—hanya ingin memberimu—“

 

KLIK!!
Sebuah kotak kecil yang baru saja Kyuhyun keluarkan dari sakunya, kini
menampakkan sebuah benda kecil dengan aksen berlian mungil diatasnya.
Cincin.

 

“Eoh? Untuk apa semua in—ini Oppa..”

 

“Untukmu.
Jja—“ Tanpa berbasa-basi lagi Kyuhyun menyematkan cincin tersebut pada
jari  manis kanan Yoorin. Yoorin terdiam membeku ditempat seolah semua
organ tubuhnya ikut membeku.

 

“Oppa…” Mata Yoorin mulai
berkaca melihat Kyuhyun yang kini malah telah menekuk lututnya dengan
memegangi tangan tangannya seraya menatapnya sendu penuh manik
keyakinan.

 

“Yoorin-ah, kau tau berapa kali aku memikirkan
namamu di LA? Seberapa tersiksanya aku saat namamu terus menghantuiku?
Dan hati ini selalu terngiang perkataan terakhirmu saat sebelum kita
berpisah, huh?” Kyuhyun nampak menghentikan kalimatnya dititit ini,
linangan itu kembali mulai mengalir cepat pada kedua pipi Yoorin.

 

“Dan
saat itu aku benar-benar menyadari—menyadari bahwa aku merindukanmu
hanya namamu yang aku pikirkan disana. Sunggunh!! Aku—AKU MENCINTAIMU,
LEE YOORIN.” Kata-kata itu begitu cepat lolos dari bibir Kyuhyun
akhirnya dengan sekuat tenaga ia bisa mengatakan semua kata-kata itu dan
seketika Kyuhyun menunduk dengan nafasnya yang terengah.

 

“Oppa..
bangunlah..” Yoorin seolah memapah Kyuhyun dan membantunya kembali
berdiri, mata mereka bertemu hingga mereka saling menatap untuk beberapa
detik.

 

“Cah! Sejak kapan kau menjadi seperti ini, huh??
Aku tak suka, aku suka dengan Cho Kyuhyun Oppaku yang dulu—yang selalu
terlihat ceria dan mempesona bukan seperti ini. Ck! Membosankan.”
Kyuhyun mendongak menatap Yoorin yang kini tengah tertawa seolah
meremehkannya dan perlahan tangan Yoorin terangkat mengusap bahu Kyuhyun
dengan sedikit lebih keras.

 

“Yoorin-ah, apa itu artinya—“
tak ada jawaban Yoorin malah nampak berlari kecil membuat rambut
terurainya kini dibiarkan tersapu angin.

 

“Kejar aku Oppa… tsk!” Ucap Yoorin sedikit berteriak dengan  menjulurkan lidahnya.

 

“YAK!!
Bagaimana denganku? Ash! Awas kau LEE YOORIN.” Kyuhyun mulai mengejar
Yoorin, dan kembali mereka saling kejar mengkejar. Cah! Kenapa mereka
sangat hobi sekali dalam hal seperti ini. Entahlah.. -__-

Sampai
tiba-tiba Kyuhyun berhasil menggapai pita kecil yang menempel di rambut
Yoorin, tentu saja membuat Yoorin kini malah yang bergantian mengejar
Kyuhyun untuk mendapatkan kembali pita merahnya.

 

“Yak! Kembalikan pitaku!!” Kyuhyun mengangkat satu sudut bibirnya membentuk satu senyuman kemenangan khas seorang Cho Kyuhyun.

 

“Tak
semudah itu Nonna Lee.” Ujar Kyuhyun dengan  tubuhnya berbalik
menghadap Yoorin hingga sekarang ia berlari kearah belakang. Namun –

 

BRUKK

Kyuhyun
tersandung oleh sebuah akar pohon yang menjalar keluar membuat dirinya
terjatuh telentang ditanah, Kyuhyun menolehkan wajahnya kearah Yoorin
yang perlahan semakin dekat dengannya.

 

“Ck! Rasakan itu Cho Kyuhyun.” Nampak Kyuhyun malah mengeluarkan smirk nya kembali dan—

 

BRUKK

Yoorin terjatuh tepat di bagian perut Kyuhyun membuat keduanya kini  meringis secara bersamaan. “Arrghh~”

Namun
disisi lain Kyuhyun nampak tersenyum penuh kemenangan dan ditariknya
kembali kakinya agar merapat ke kakinya yang lain. Nampaknya idenya
berhasil. Oke baiklah. -__-

 

Keduanya nampak masih mengatur
nafas mereka yang tengah terengah sesekali pandangan mereka kembali
bertemu dan kemuadian kembali menstabilkan deru nafas mereka.

 

“Ash!
Mana pitaku.” Ucap Yoorin hendak beranjak dari tempatnya namun Kyuhyun
mencegahnya dengan melingkarkan tangannya seolah mengunci Yoorin agar
tak bergerak.

 

“Yak!! Lepaskan.” Gusar Yoorin.

 

“Cah~ tak perlu terburu-buru.. lihatlah keatas—“

 

“Eoh?” Yoorin menggeser kepalanya dan melihat keatas, kearah langit sesuai apa yang diperintahkan Kyuhyun.

 

“Kesempatan ini sangat langka pada musim salju seperti ini—apa  kau rela untuk menyia-nyiakannya eoh?”

 

“Tapi tidak dengan cara seperti ini, Lepaskan.” Berontak Yoorin lagi, sontak Kyuhyun menatap Yoorin dalam.

 

“Yoorin-ah..”
Yoorin kembali melemah. Sial! Hanya dengan panggilan pria ini bahkan
dia akan cepat mudah melemah. Untuk sekian detik pandangan mereka
bertemu  seolah saling berbicara satu sama lain. Perlahan Kyuhyun
meringkukkankan tubuhnya  untuk lebih mendekat kearah Yoorin. Yoorin
seolah tersihir, dia hanya terdiam ditempat  dan—

 

CHU~

Tanpa
sadar Yoorin memejamkan matanya spontan saat bibir mereka menyatu.
Hanya menempel, namun ini berlangsung cukup lama dan sepertinya keduanya
sama-sama terbuai dengan sensasi pertama yang dihasilkan.

 

“Saranghae..” Bisik Kyuhyun tepat ditelinga Yoorin membuat Yoorin nampak berhenti bernafas untuk sejenak.

 

“Oppa..”

 

“Yak! Apa itu belum cukup, eoh? Apa kau mau yang lain, huh? YAK. Arras—“

 

“Changkam—man.”
Yoorin mendorong tubuh Kyuhyun yang hampir saja kembali menyatukan
bibir mereka dan mengalihkan wajahnya kearah lain, terlihat jelas
guratan merah itu nampak semu tepat di tulang pipi Yoorin. Kyuhyun
kembali menyunggingkan senyum kemenangannya dan perlahan menjauh dari
Yoorin.

 

“Yoorin-ah.. na Jeongmal saranghaeyo..” Ulang Kyuhyun seolah dengan nada yang memaksa.

 

“Nan—um..
Nad—nado sa—rang—hae—yo—Opp—pa.” Yoorin terpejam tak berani menatap
Kyuhyun dan melontarkan kata demi kata itu dengan penuh kegugupan.

 

“Ahaha~ nampaknya kau menginginkan ciumanku, ck!”

 

“M—mwoya!! Yak! KAU!!” Yoorin memcubit pinggang Kyuhyun dengan posisi yang sama.

 

“Ahh..
kau tau Yoorin-ah, orang pertama yang kau lihat disaat salju turun,
katanya—katanya kau akan—berjodoh.” Yoorin menggeryitkan keningnya,
tentu saja ia tau tentang hal itu, tapi untuk sekarang mungkin lebih
menarik jika dia pura-pura tak mengerti apapun. Ck!

 

“Benarkah? Tapi bagaimana jika itu adalah—Appaku, apa dia juga akan berjodoh denganku, huh? Kkk”

 

“YAK!!”

 

“Kau itu lucu sekali Oppa, ck!”

 

“Tapi kau menyukainya…”

 

“Ck! Terserahmu saja.”

 

“Saranghae Yoorin-ah—nan jeongmal saranghae, Lee Yoorin.”

 

“Nado saranghae, Kyuhyun Oppa….”

 

“aku mencintaimu Oppa… sangat mencintaimu..”

Guman Yoorin dalam hati saat Kyuhyun kembali mendekapnya dengan tangan yang ia lilitkan dilehernya.

=FIN=

 

 

See you Muuaahhhh :*

*digetok

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s