ONESHOOT :: Beautiful Birthday for Daehyun

Title : Beautiful Birthday for Daehyun

Cast :

-Cho Kyuhyun

-Park Shin Hye

-Cho Daehyun

-Shin Nayoung

 

 

 

Other Cast :

 

-Lee Sungmin

 

-Kim Haneul

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di
iringi menyatunya kulit ari telapak tangan tersebut, sepasang foxy
hitam mulai mengatup. Suasana damai kian menyergapi gereja kecil di
pinggiran kota Seoul. Wanita berkulit pucat itu tengah mengiba,
bermunajat kepada sang maha kuasa. ‘Tuhan, maafkan aku atas semua
perasaanku padanya.  Aku tahu, tidak seharusnya seperti ini. Akan ku hapus rasa ini semampuku, tapi ku mohon jaga mereka.’

 

 

 

Perlahan iris coklat terang itu mulai terbuka.  Bibir
itu nampak melengkungkan seberkas senyum pias kala sorot matanya
menangkap ukiran salib di hadapannya. Sesaat rasa bersalah nampak
berkelebat jelas pada raut menawan itu. Wanita dengan panggilan Shin
Hye itu nampak menerawang, memory-nya sibuk mengingat kesalahannya di masa lalu. Tuhan, akan kah aku memiliki kesempatan untuk kembali kepada mereka.

 

 

 

 

 

Flash Back

 

 

 

 

 

Kyuhyun
nampak gusar. Melempar lembaran kertas tak bersalah itu kesegala arah.
Ya Tuhan, cobaan apalagi ini. Disaat namja itu benar benar memahami
arti kebahagiaan bersama keluarga kecilnya, haruskah tuhan mengirim
ujiannya secepat ini. Baiklah, hidup memang akan sarat dengan semua
itu. Tapi mengapa harus secepat ini.

 

 

 

“arrggh.
Tidak. Katakan jika semua ini tidak benar, Shin Hye tidak mungkin
menceraikanku.” pekik Kyuhyun sarat akan rasa frustasi.

 

 

 

Kyuhyun
memungut beberapa kertas yang berceceran di lantai akibat ulahnya.
Menatap salah satu dari beberapa kertas itu dengan pupil menajam.
Lembaran laknat ini. Ingin rasanya ia menghanguskan surat gugatan itu.
Mencoret namanya dan Shin Hye dari pengadilan terkutuk itu.

 

 

 

Kyuhyun mengacak rambut gusar.”Arrgghh..” Erangnya frustasi.

 

 

 

“Sudahlah
Kyu. Tenangkan fikiranmu, jangan terlalu gegabah menghadapi situasi
ini.” Ujar Sungmin yang entah sejak kapan berada di samping Kyuhyun.

 

 

 

 

 

“tapi
ini gila hyung. Sangat mustahil. Shin Hye tidak akan menceraikanku
hanya karena kariernya. ” Kyuhyun memnunduk lemas. Menatap ubin yang ia
pijaki dengan sorot gamang. Semua ini benar benar seperti mimpi. Shin
Hye akan meninggalkanya. Tidak. Siapapun, tolong cepat katakan jika ini
hanya ilusinya saja.

 

 

 

Kyuhyun
menghela napas dalam. “Hyung kumohon. Katakan padaku jika Shin Hye hanya
bergurau. Ayo hyung, kau tunggu apa lagi.” Kyuhyun mendekat kearah
Sungmin. Menatap iris kakak sepupunya dengan sorot penuh harap. “Ayo Lee
Sungmin.” Jerit Kyuhyun.

 

 

 

 

 

Sungmin
mengagguk lemah. Seolah membenarkan sarkasme yang baru saja di ucapkan
Kyuhyun. Yeah, semoga saja anggukan kecil itu mampu membuat emosi adik
sepupunya sedikit mereda. Sungmin sendiri masih tak habis fikir, apa
yang ada di fikiran Shin Hye. Setega itukah Shin Hye meninggalkan anak
dan suaminya hanya untuk mewujudkan impian menjadi model profesional.
Tidak adakah cara lain. Dan Daehyun. Bagaimana mungkin bocah berusia
satu tahun sepertinya besar tanpa sosok seorang ibu.

 

 

 

 

 

Sungmin
menatap Kyuhyun nanar.”Relakan apa yang sudah di gariskan takdir Kyu.”
Sungmin menghirup napas dalam. Sangat sulit, sekalipun frasa itu
berisi nasihat. Entah mengapa, menjadi sangat sulit jika kita harus
mengucapakannya di saat seperti ini. “Mungkin tuhan hanya menguji cinta
kalian. Berikan Shin Hye waktu untuk berfikir, biarkan ia menjadi lebih
dewasa dengan keputusan yang ia pilih, Kyu. Percayalah ini hanya
proses menuju kebahagiaan kalian yang sebenarnya.” Sungmin menunduk.

 

Benarkah
itu. Tidak kah ia kembali memberikan harapan kosong untuk sepupunya.
Mungkinkah ada kesempatan untuk mereka kembali ketika perpisahan itu
sudah di depan mata. Mungkinkah Tuhan akan bermurah hati menyatukan
mereka kembali suatu hari nanti. Ya tuhan, mungkinkah harapan itu
menjadi kenyataan.

 

 

 

 

 

“Daehyun.
Bagaimana mungkin anakku tumbuh tanpa kasih sayang ibu kandungnya,
hyung.” Seloroh Kyuhyun parau. Bahu pria itu nampak bergetar menahan
tangis. Sejujurnya. Tidak pernah terbesit atau terlintas barang
sekelebatpun di fikiran Kyuhyun jika ia dan Shin Hye akan benar benar
berpisah. Takdir ini terlalu getir untuknya.

 

 

 

 

 

“Aku
percaya kau mampu memberikan kasih sayang seutuhnya untuk Daehyun.”
Entah mengapa Sungmin yakin dengan ucapannya kali ini. “Kau pria yang
hebat, Kyu. Kau ayah yang sempurna untuk Daehyun.”

 

 

 

 

 

Kyuhyun
mengulas segaris senyum. “Iya hyung. Seperti yang kau katakan tadi.
Aku akan menggantikan posisi Shin Hye sampai wanita itu kembali.” Iris
Kyuhyun menatap Sungmin penuh harap.”Ini hanya untuk sementara kan
hyung?”

 

 

 

 

 

Sungmin
mengangguk lemah. Astaga. Sepertinya frasa yang sebelumnya ia ucapkan
benar benar salah. Bagaimana jika tuhan tak bermurah hati untuk kembali
menyatukan mereka kelak.

 

 

 

 

 

xxx

 

 

 

 

 

Kyuhyun
melangkah gamang kearah kamarnya. Benarkah ini saatnya. Benarkah ia
harus melepaskan Shin Hye sekarang juga. Benarkah ia harus memberikan
tanda tangannya untuk surat gugatan itu sekarang. Kyuhyun menghela napas
panjang saat bayangan Daehyun menyapa ingatannya. Anak itu. Semalang
itukah nasib putra kecilnya. Hidup tanpa kasih sayang ibu kandungnya.

 

 

 

 

 

Perlahan
Kyuhyun memutar kenop pintu lantas menyeruak masuk tanpa menghapus
seringai manis itu dari bibirnya.”Sayang. Tentang gugatanmu aku___”

 

 

 

 

 

“kuharap
kau tidak mempersulitku Kyuhyun–ssi. Dan tentang Daehyun, kau bisa
merawatnya bukan.” Ujar Shin Hye tanpa repot menatap lawan bicaranya.
“Pihak agency akan mengelurkan ku jika mereka tahu statusku yang
sebenarnya. Jadi ku harap, kau bisa membesarkan Daehyun dengan baik.”
Shin Hye meletakkan komputer tablet yang sejak tadi ia pegang ke atas
ranjang.

 

Wanita itu menatap Kyuhyun
jengah.”Terimakasih untuk semuanya. Malam ini juga aku akan kembali ke
apartementku. Sampai bertemu di pengadilan Kyuhyun–ssi.” Shin Hye
menarik kasar surat yang berada di genggaman Kyuhyun lantas beranjak
meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung.

 

 

 

 

 

Shin
Hye. Tidak bisakah istri tercintanya membatalkan itu semua. Tidak
bisakah wanita itu berbalik, kembali kepadanya dan mengurungkan niat
untuk meninggalkan Kyuhyun dan Daehyun. Demi Daehyun. Yeah, setidaknya
demi putra mereka.

 

 

 

Iris Kyuhyun
nampak berkaca menatap siluet tubuh Shin Hye yang kian menjauh dari
jarak pandangnya. Benarkah ia sudah kehilangan wanita itu.”Aku yakin kau
akan kembali, sayang.”

 

 

 

 

 

 

 

Four years later..

 

 

 

Shin
Hye menatap nanar langit malam yang kian memekat. Ya tuhan, tak
bisakah waktu berputar kembali. Ia ingin kembali ke masa dimana dirinya
dan Kyuhyun hidup bersama. Dan Cho Daehyun. Ia merindukan tangisan
bocah itu. Bagiamana kabar anak dan suaminya. Masihkan Kyuhyun dan
Daehyun merindukannya.

 

 

 

Iris
Shin Hye memejam rapat. Salah. Keputusan yang ia ambil sangat salah.
Tidak seharusnya ia meninggalkan anak dan suaminya. Dan sekarang, karma
itu seakan datang menghantamnya secara bertubi tubi. Dugaan Shin Hye
sangat tidak tepat. Popularitas tinggi tak membuatnya bahagia. Kini
hanya satu yang ia inginkan, kembali berkumpul bersama kedua belahan
jiwanya.

 

 

 

“Shin. Ini tentang CF barumu kau___”

 

 

 

 

 

“Hentikan
saja Neullie. Aku benar benar ingin menghentikan scandal bodoh ini.”
Ujar Shin Hye memotong penuturan Kim Haneul, sahabat sekaligus
managernya.

 

 

 

Scandal gila ini
benar benar mencekik lehernya. Bagaimana mungkin pihak agency dengan
segaja menjebak Shin Hye agar terlibat scandal percintaan dengan Kangta.
Yeah, meskipun dengan alasan untuk menarik minat publik atas film baru
yang akan mereka rilis, haruskah dengan cara seperti ini. Seluruh
dunia pun tahu jika pria paruh baya itu sudah berumah tangga, bahkan
memiliki seorang putri. Dan Shin Hye seorang wanita sekaligus ibu. Jadi
ia tahu dengan pasti bagaimana perasaan istri dan anak Kangta saat
ini.

 

 

 

Shin Hye mengingit bibir
bawah, lelah? Sudah pasti. Wanita itu benar benar jengah dengan dunia
show biz yang penuh intrix. Jika saja dari awal ia tahu hal hal semacam
ini akan terjadi. Shin Hye bersumpah akan menghapus impian bodohnya
untuk menjadi seorang selebriti.

 

 

 

Haneul menghela napas. “Shin Hye. Kau yakin akan benar benar meninggalkan dunia show biz.”

 

 

 

Shin
Hye mengangguk lemah. “Iya Neul. Aku akan mengurus semuanya. Tentang
pembatalan kontrak dan denda yang harus kubayar. Aku akan menanggung
semuanya.” Lirih Shin Hye. Meski cukup mustahil untuk mengembalikan
semua seperti semula, tapi ia akan mencoba menata hidupnya kembali. Shin
Hye sadar hanya Kyuhyun dan Daehyun adalah sumber kebahagiaanya,
impian yang sesungguhnya.”Dan mulai minggu ini, aku akan kembali ke
Nohwon.”

 

 

 

 

 

“Kau
akan kembali kepada Kyuhyun? Tapi Shin Hye apa mungkin.” Haneul
menggantungkan kalimatnya. Ia tidak yakin Kyuhyun akan kembali menerima
Shin Hye setelah semua ini. “Apa mungkin Kyuhyun akan memaafkanmu
setelah kau terlibat scandal seperti sekarang?”  sambung Haneul gamang.

 

 

 

Shin
Hye mengulum senyum simpul. “Entahlah. Aku hanya ingin membesarkan
Daehyun seperti selayaknya ibu, Neul. Aku tidak ingin jauh dari anakku
untuk kesekian kalinya.”

 

 

 

Haneul
mengangguk mendengar penuturan artisnya. Dalam hati ia bersyukur,
akhirnya Shin Hye menyadari apa yang paling ia butuhkan. Hanya Kyuhyun
dan Daehyun, mereka berdua adalah sumber kebahagiaan Shin Hye yang
sesungguhnya. Dan ia berjanji. Meski berat, ia akan membantu menyatukan
dua hati itu. Lee Sungmin–ssi, ku harap kau mau membantuku.

 

 

 

 

 

Flash Back Off..

 

 

 

 

 

Shin
Hye terkesiap saat sepasang telapak tangan menepuk bahunya
pelan.”Bagaimana dengan rencana ulang tahun Daehyun dua hari lagi. Apa
kau akan merayakannya bersama Kyuhyun?” Haneul beralih menatap Shin Hye
sambil melungsurkan sepotong Maffin Blueberry yang baru saja ia pesan
pesan dari cafe sebrang.

 

 

 

 

 

Shin
hye meraih Muffin Blueberry pemberian sahabatnya. Menggigit kecil cake
beraroma heavenly itu sebelum menjawab pertanyaan Haneul.”Entahlah
Neul. Kurasa Kyuhyun tidak akan mau merayakan ulang tahun anaknya
bersamaku.” Lirih Shin Hye.

 

 

 

Dahi
Haneul mengerut. Ternyata ego Kyuhyun masih tinggi juga.”Yaa!! Cho
Daehyun juga anakmu Shin. Kau berhak merayakan ulang tahun bersamanya.”
Haneul kembali menyomot muffin blueberry favoritnya.”Lagipula,
bukankah Daehyun mengatakan ingin merayakan ulang tahun bersamamu.”

 

 

 

 

 

Kornea
Shin Hye membulat. Dari mana Haneul tahu tentang Daehyun yang ingin
merayakan hari jadi bersamanya. Bukankah hampir satu bulan ini ia
ataupun Haneul tidak pernah bertemu Daehyun.”Dari mana kau tahu tentang
keinginan Daehyun?” Shin Hye mengintimidasi Haneul melalui tatapannya.

 

 

 

 

 

Manik Haneul bergerak gelisah. Astaga, bagaimana ini.”Itu, aku”

 

 

 

 

 

“Apa hubunganmu dengan Sungmin oppa, sepupu Kyuhyun eoh?” hardik Shin Hye membuat Haneul kian tersudut.

 

 

 

Shin Hye mendengus.”Yaa!! Kim Haneul, apa rencana mu dan Sungmin oppa sebenarnya?”

 

 

 

Sejujurnya
Shin Hye hanya tidak ingin Haneul terlalu terseret dalam masalahnya.
Wanita muda itu sangat menyadari Sungmin dan Haneul saling menyukai
sejak remaja, bahkan sebelum Shin Hye dan Kyuhyun saling mengenal.
Hanya saja keduanya terlalu bodoh untuk menyadari perasaan masing
masing. Padahal sudah sangat jelas, siapapun akan segera tahu mereka
saling menyukai saat melihat gesture yang di tunjukkan Sungmin dan
Haneul. Dan entah mengapa, Shin Hye yakin jika pandangan keluarga
Sungmin kepada Haneul akan memburuk seiring hadirnya masalah ini. Walau
bagaimana pun Shin Hye dan Haneul memiliki hubungan dekat layaknya
saudara. Sudah barang tentu ibu Sungmin, bibi Kyuhyun atau apalah itu
akan sangat membenci orang orang yang telah membuat Kyuhyun menderita.

 

 

 

 

 

“Shin
Hye. Maaf kan aku, dua hari yang lalu aku dan si blondia itu bertemu
di depan kantor. Dan kebetulan dia sedang bersama Daehyun, kami
berjalan jalan sebentar lalu__” suara Haneul mengecil di ujung kalimat
membuat dahi Shin Hye mengerut.

 

 

 

“Lalu”

 

 

 

Haneul
menggigit bibir bawah. Astaga, haruskah ia menghancurkan rencana yang
sudah ia rancang bersama Sungmin. Tapi, tatapan mengintimidasi Shin Hye
benar benar membuatnya tersudut.

 

 

 

“Lalu apa Kim Haneul.” Shin Hye menelisik lebih dalam raut gugup sahabatnya.

 

 

 

Haneul
menghela napas panjang. Mencoba meredakan kegugupan yang sejak tadi
menggelayuti hatinya.”Daehyun mengatakan kalau tahun ini ia ingin
merayakan hari jadi bersama appa dan eomma–nya . Hanya untuk tahun ini.”
Tangan Haneul terulur meraih tangan Shin Hye lantas
menggenggamnya.”Shin. Kumohon, aku tidak mengerti arti ucapan Daehyun.
Tapi, aku bisa melihat dia merindukan kalian.”

 

 

 

 

 

Shin
Hye menatap Haneul nanar. Iya, wanita itu sangat tahu Daehyun
merindukan kasih sayang kedua orang tuanya. Hanya saja, ego Kyuhyun
benar benar membuat semua itu terasa mencekik. Pria itu belum mampu
memaafkan Shin Hye terlebih setelah scandal tentangnya dan Kangta
menyeruak. Rasanya mengetuk hati Kyuhyun hingga tenaga-nya terkuras pun
tak akan mampu membuat Kyuhyun memaafkan Shin Hye.

 

 

 

“Kita lihat saja nanti, Neul.”

 

 

 

 

 

xxx

 

 

 

 

 

Daehyun
menatap kosong kearah pohon natal di hadapannya. Sesekali irisnya
meirik bilangan yang terdapat pada kalendar di dinding. 23 desember. Itu
artinya, dua hari  lagi natal sekaligus hari hari jadinya
akan datang. Bisakah tuhan mengabulkan do’anya. Bisakah munajatnya
untuk merayakan hari natal sekaligus hari jadinya bersama Kyuhyun dan
Shin Hye terwujud.

 

 

 

Daehyun
berniat meninggalkan pohon natal itu saat sepasang tangan menahan
lengannya.”Hyun–ah, kenapa kau tidak meminta sesuatu untuk hari jadimu
nanti?” gadis itu tersenyum riang seolah harapan Daehyun akan benar
benar terwujud jika Daehyun mau mengikuti sarannya.

 

 

 

Daehyun
menatap jengah si gadis.” Lupakan saja Shin Nayoung. Aku tahu, appa
akan membawaku keluar negeri lagi untuk menghindari eomma saat hari itu
datang.” ujarnya seraya menunduk lesu.

 

Memang
benar kan? Dua tahun belakangan ini sudah menjadi tradisi Kyuhyun untuk
membawa anaknya berlibur keluar Korea bahkan Asia saat hari jadi
Daehyun tiba. Dengan dalih mengajak Daehyun berlibur, merayakan natal
dengan suasana baru, bertemu club bola favorit dan alasan alasan  ambigu
lainnya. Tapi nalar Daehyun cukup dewasa untuk sekedar menyadari arti
di balik tidakan ayahnya.

 

 

 

Nayoung
menyatukan kedua tangan Daehyun, memaksa bocah itu untuk menuruti
keinginannya.”Sudah ikuti saja aku. Ibu panti di tempatku selalu
mengatakan begini ‘Youngie, pejamkan matamu saat natal itu hampir
datang. Ucapkanlah apa yang kau inginkan dengan tulus. Karena tuhan akan
mengabulkan do’a yang diminta dengan perasaan murni’ ayo ikuti
ucapanku, tuan muda Cho.” seloroh Nayoung dengan sikap sok dewasanya.

 

 

 

Sepertinya mengikuti ucapan Nayoung bukan ide buruk. Mata Daehyun terpejam sesaat.

 

 

 

‘Tuhan.
Kembalikan kedua orang tuaku. Dan untuk kali ini saja, ijinkan aku
merayakan hari jadiku bersama mereka.’ pupil Daehyun sedikit terbuka,
melirik gadis kecil di sampingnya yang tengah tersenyum dengan retina
memejam. ‘Dan Shin Nayoung. Tidak bisakah dia menjadi saudaraku.’
Sebait do’a itu menutup permohonan Daehyun.

 

 

 

Perlahan pupil Nayoung dan Daehyun terbuka. Gadis kecil itu menatap Daehyun dengan raut gembira.”Bagaimana? Apa yang kau minta?”

 

 

 

Daehyun menggeleng lemah.”Itu rahasia Youngie.” Daehyun menarik napas dalam. “Youngie, apa kau senang tinggal di panti.”

 

 

 

 

 

Dahi
Nayoung membentuk lipatan lipatan samar. Kenapa Daehyun tiba tiba
menanyakan hal semacam itu.”Tentu saja senang. Bagiku, semua yang ada
di panti adalah saudara.”  Nayoung menatap Daehyun berbinar. Sepertinya kehidupan gadis kecil itu sangat bahagia.

 

 

 

“Syukurlah.” Ujar Daehyun sebelum beranjak meninggalkan sahabatnya.

 

 

 

 

 

Nayoung
mendesis. Heissh, Cho Daehyun. Sampai kapan dia akan murung seperti
itu. Sebentar lagi hari yang selalu di tunggu semua orang akan datang.
Tidak kah Daehyun ingin larut bersama suka cita saat natal itu tiba.
Dan bukankah hari itu juga ulang tahunnya. Iris Nayoung sedikit
menyipit, sepertinya ia harus melakukan sesuatu untuk Daehyun.

 

 

 

 

 

“Hyun–ah.
Kau bisa menemui Shin Hye eomma nanti siang.” Nayoung melangkah
mendekat kearah Daehyun, menghembuskan napasnya perlahan sebelum
menyampaikan maksud ucapannya. “Belakangan ini Shin Hye eomma sering
mendatangi gereja di pantiku. Apa kau tidak ingin bertemu dengannya
lagi?” sambung Nayoung antusias.

 

 

 

 

 

Shin
Hye, tentu saja Daehyun sangat merindukan wanita itu. Bocah itu diam
nampak memikirkan sesuatu sejenak. Bagaimana ini, ia benar benar ingin
bertemu ibunya, tapi Kyuhyun jelas akan memarahinya jika ia menemui Shin
Hye diam diam.”Tapi appa__”

 

 

 

“Balondia ahjussi. Kau bisa meminta bantuannya”

 

 

 

Seberkas senyum Daehyun nampak mengembang saat Nayoung meyakinkan sahabatnya dengan saran yang ia berikan.

 

 

 

 

 

xxx

 

 

 

 

 

Iris
gelap itu nampak sibuk memandangi selembar kertas dengan gambar tiga
anak adam yang sejujurnya adalah dirinya Shin Hye dan buah hati mereka.

 

 

 

“Kyu aku harus___”

 

 

 

Kyuhyun
buru-buru menyembunyikan selembar foto itu kebalik buku di atas
mejanya. Tentu saja dia tidak mengira seseorang akan melangkah masuk ke
ruang kerjanya, bukankah di jam seperti ini semua pegawai seharusnya
tengah sibuk dengan setumpuk pekerjaan. Dan tunggu, sepetinya Kyuhyun
mengenali suara itu. Lagipula, hanya dua kemungkinan kan seseorang yang
akan memanggilnya dengan sebutan–Kyu– saja di kantor ini. Ayahnya dan
Lee Sungmin.

 

 

 

“Hyung kau. “ Nada
biacara Kyuhyun nampak gugup. “Tidak bisakah kau mengetuk pintu
sebelum masuk.” Usaha Kyuhyun untuk tidak menarik perhatian Sungmin
gagal total.

 

 

 

Retina
Sungmin menyipit. Argumen Kyuhyun tak cukup kuat untuk mengelabuhinya.
“Shin Hye. Itu foto keluraga keluarga kecilmu kan?” hardik Sungmin.

 

 

 

Tertangkap
basah. Tanpa berusaha menyembunyikan apapun Kyuhyun beranjak dari
kursinya, berjalan menuju jendela dimana ia dan Shin Hye kerap
menghabiskan waktu bersama semasa wanita itu mengandung Daehyun. Kyuhyun
tersenyum lemah, ia bahkan masih ingat senyum indah istrinya ketika
wanita itu mengatakan ingin menjadikan anak mereka seorang pilot.

 

 

 

“Iya hyung. Kau benar”

 

 

 

Suara
desahan Sungmin perlahan terdengar dan seandainya Kyuhyun tidak
memunggungi pria  itu, dia bisa melihat Sungmin menggeleng perlahan.
Sungmin memandangi ruang kerja Kyuhyun dengan seksama.

 

Suasananya
benar benar seperti kota mati.  Pigura berukuran sedang diletakkan
dalam posisi janggal—bagian depannya mencium permukaan meja. Setangkai
lili mati yang entah sejak kapan membusuk di dalam vas berukuran kecil.
Astaga, apa sekretaris dan cleaning service kantor ini tak mengganti
semua itu. Atau jangan jangan, hanya Kyuhyun yang mencoba menjebak
dirinya dalam kenangan masa lalu.

 

 

 

Lili mati itu.
Sungmin terkekeh kecut menatap setangkai lili mati yang dengan setia di
abadikan tuanya tersebut. Sepertinya Kyuhyun sangat kesulitan
menghapus nama si pemberi lili itu. Yeah Shin, istri tercintanya. Oh
tidak, itu dulu dan sekarang berbeda. Shin Hye, si gadis manis itu
sekarang berkemungkinan di miliki oleh pria tampan yang berawajah
serupa dengan Zhuoumi Super Junior. Yeah, Kangta. Dan selama ini
sentimen Kyuhyun terhadap penyanyi bersuara merdu itu cukup beralasan.

 

 

 

 

 

“Lalu
apa yang akan kau lakukan dengan semua kenanganmu.” Ujar Sungmin
seraya berjalan mendekati sepupunya.”Membuangnya begitu saja. Atau
mengejar dan mengumpulkan kembali serpihan kenangan itu dan mengubahnya
menjadi cerita baru?”

 

 

 

Kyuhyun mengedikkan bahu. Sangat sulit baginya untuk memaafkan dan melupakan kesalahan Shin Hye. Telebih  setelah
scandal sialan itu. Kyuhyun benar benar ragu, apa mungkin ia bisa
memaafkan Shin Hye terlepas dari kebenaran scandal itu sendiri. Tapi
perlu di jelaskan. Yang tersulit dari semua itu adalah menghapus
bayangan Shin Hye dari memory ingatannya.

 

 

 

“Scandal bangsat,” kekehnya, “Seharusnya agency itu membusuk di neraka.”

 

 

 

Sungmin
tahu benar apa yang di rasakan adik sepupunya saat ini. Terjebak oleh
dilema yang ia ciptakan sendiri. Kyuhyun terlalu takut untuk memulai
kembali semuanya. Tapi juga terlalu pengecut untuk menghapus kenangan
Shin Hye dari hidupnya. Mungkin pria itu takut, napas dan kewarasannya
akan benar benar hilang saat bayangan Shin Hye tak lagi menyapa
ingatannya.

 

 

 

 

 

“Kau bisa memulainya, Kyu.
Daehyun__” helaan napas sungmin terdengar begitu berat.”Kau harus
mengingat masa depannya. Dia memang tumbuh menjadi anak yang baik. Tapi
akan lebih sempurna jika kau dan Shin Hye yang membesarkan anak itu.”
Sungmin mencoba meyakinkan Kyuhyun melalui argumennya.

 

 

 

 

 

 

 

“Haruskah.
Tapi scadal terkutuk itu___” ucapan Kyuhyun terputus. Benar benar
sesak. Entah mengapa dadanya serasa tertohok, goresan luka itu benar
benar masih membekas. Kyuhyun sendiri mengakui, melalui hidup tanpa
Shin Hye selama 4tahun 2bulan 1minggu 5hari. Maaf Kyuhyun tak pernah
menghitung itu semua. Heish memangnya GM tak memiliki pekerjaan lain
apa?

 

 

 

 

 

Oh damn. Kyuhyun memang menghitung itu.

 

 

 

 

 

Tangan
Sungmin terulur menyentuh pundak tegap itu. Berharap perannya sebagai
sepupu benar benar berfungsi dengan baik saat ini. “Scandal itu tidak
benar. Kau masih ingat sifat gadis polosmu kan?”

 

 

 

 

 

Kyuhyun
diam. Benar juga, istrinya terlalu polos untuk menyadari intrix intrix
semacam itu. Pria itu ingat betul bagaimana polosnya Shin Hye ketika
ia melamar gadis itu semasa mereka lulus sekolah dulu. Gadis itu begitu
gembira ketika Kyuhyun menyampaikan niatan tulusnya kepada orang tua
Shin Hye untuk menyunting anak gadis mereka. Tentu saja bukan lantaran
fase baru yang akan di lewati Shin Hye lalui dalam hidupnya. Yang ada di
fikiran Shin Hye saat itu, ia akan selalu bersama Kyuhyun,
menghabiskan waktu sepanjang hari bersama pria yang ia cintai tanpa
perlu repot repot meminta ijin kepada orang tuanya untuk pergi
berkencan.

 

 

 

 

 

“Tapi, aku___”

 

 

 

 

 

“Appa” percakapan Kyuhyun dan Sungmin terinterupsi oleh pekikan riang Daehyun. Sejak kapan bocah itu datang?

 

Daehyun berlari kearah ayahnya menghiraukan Sungmin yang tengah tersenyum lebar menatapnya.

 

 

 

Senyuman
Kyuhyun kian melebar saat irisnya mendapati Daehyun tengah berdiri
tepat di hadapannya dengan gesture ingin dipeluk. Tanpa menunggu lama
Kyuhyun meraih bocah kecil itu. Mendekapnya erat seolah bocah itu akan
terkikis dinginnya udara jika semili saja tersisa jarak diatara
mereka.”Hey Capatain. Bagaimana di sekolah hari ini.” Ujar Kyuhyun
sambil sesekali menyapukan kecupan hangat pada pipi putranya.

 

 

 

 

 

Daehyun
mengangkat kedua ibu jarinya.”Kereen appa.” Ujarnya antusias. Sedetik
kemudian bocah itu nampak diam memikirkan sesuatu. “Appa aku ingat.
Blondia uncle.” Bibirnya bergerak lincah seiring ekor matanya yang
meilirk siluet tubuh Sungmin.

 

 

 

Daehyun beringsut dari gendongan Kyuhyun lantas berlari riang kearah Sungmin.

 

 

 

Tangan
mungilnya sedikit memberikan gerakan isyarat agar Sungmin menunduk.
Melihat Sungmin mencondongkan tubuh kearahnya cepat cepat Daehyun
membisikkan sesuatu yang membuat dahi Kyuhyun mengrenyit.”Uncle. Hari
ini aku ingin bertemu eomma.”   Sekilas ekor
mata Daehyun nampak melirik ayahnya yang tengah berdiri dengan raut
penasaran.”Bawa aku kesana. Dan jangan biarkan appa tahu. Nayoung bilang
eomma akan datang ke gereja di dekat pantinya hari ini.” Bisiknya
sekali lagi.

 

 

 

 

 

“Yaa!! Kenapa kau tidak
memberi tahu appa, eoh?” Dengan segala rasa penasarannya Kyuhyun
mengangkat tubuh mungil Daehyun lantas memeluknya protekfif. “Rahasia
apa yang kau bicarakan dengan uncle, Captain. Tidak bolehkan appa
tahu?” sekali lagi Kyuhyun kembali menyapukan kecupan hangat pada pipi
gembil Daehyun.

 

 

 

Sungmin menghela napas. Entah
mengapa, rasanya sangat sulit menolak permintaan Daehyun. Bocah kecil
itu. Selain selalu menganggu dan meramaikan hari hari Sungmin dengan
segala permintaan manjanya. Bagi Sungmin Daehyun tak ubahnya putra
kandung yang sangat ia cintai.

 

 

 

“Kyu. Bolehkah aku membawa Daehyun eum__”  Sungmin sedikit memiringkan kepala-nya.”Ke apartementku.” Sambungnya.

 

 

 

Alis
Kyuhyun bertaut. Benarkah. Lalu apa yang mereka bisikkan
tadi.”Benarkah? Apa yang kau inginkan, Captain?” seloroh Kyuhyun sambil
menatap putranya. Menuntut penjelasan.

 

 

 

Kepala
Daehyun tertunduk menanggapi tatapan penuh intimidasi dari ayahnya.
Jemari mungilnya yang mengait satu sama lain nampak bergerak
gelisah.”Ice cream.” Diksi itu seolah membebaskan Daehyun dari belenggu
ayahnya.”Aku ingin makan ice cream bersama uncle. Appa ijinkan aku”
rajuknya seraya menghujani wajah Kyuhyun dengan kecupan.

 

 

 

“Baiklah. Appa kau dan uncle, kita pergi bertiga.”

 

 

 

Iris
Sungmin melebar. Oh tidak. Jangan sampai Kyuhyun turut serta bersama
ia dan Daehyun. Sungmin memutar otak. Memeras implusnya untuk bekerja
secepat mungkin. Ayolah, pikirkan alasan lain. Dan.”Kyu. Biarkan aku
membawanya. Aku akan bertemu Haneul hari ini.” Napas Sungmin terhembus
berat saat menyadari tatapan curiga Kyuhyun.

 

 

 

Tentu
saja Kyuhyun curiga. Kim Haneul, bukankah gadis itu sahabat Shin Hye.
Dan jika Sungmin membawa Daehyun bertemu Haneul, maka kemungkinan
terbesar adalah Haneul dan Sungmin akan membawa Daehyun bertemu ibunya.
Kyuhyun belum mempersiapkan diri untuk mempertemukan kembali keduanya.
Setidaknya, selama satu bulan ini Kyuhyun sudah benar benar berhasil
menjauhkan Daehyun dari jangkauan Shin Hye.

 

 

 

 

 

“Aku akan bertemu Haenul di depan Jung empire,Kyu” yakin Sungmin menjawab keraguan Kyuhyun.

 

 

 

Kyuhyun mengela napas panjang. “Eum. Pergilah. Tapi kau ingat tentang perjanjian kita kan,hyung?” ancam Kyuhyun.

 

 

 

 

 

Sungmin
mengangguk pasti. Melihat kesepakatan antara Kyuhyun dan Sungmin,
Daehyun mengulas senyum lebar. Bocah itu segera beringsut kembali dari
tubuh Kyuhyun lantas berlari kecil kearah Sungmin dan membawa pria
cantik itu pergi dari ruangan ayahnya.

 

 

 

“Kajja uncle.” antusias Daehyun.

 

 

 

“Yaa!! Daehyunnie, cepat kembali.” Ujar Kyuhyun saat Daehyun dan Sungmin berada di bibir pintu.

 

 

 

Tanpa menjawab pertanyaan ayahnya Daehyun segera menarik Sungmin.

 

 

 

“Kyu. Aku pergi.”

 

 

 

Kyuhyun melambaikan tangan.”Eoh. Hati hati, hyung.”

 

 

 

 

 

 

 

xxx

 

 

 

 

 

Shin
Hye tengah berbincang dengan seorang biarawati saat Haneul dan
Nayoung datang dengan raut gembira mereka. Sesekali Nayoung mengulas
senyum lebar saat irisnya bertaut pandang dengan manik almond Shin Hye.

 

Gadis kecil itu berlari kearah Shin Hye. Tepatnya kedalam pelukan wanita muda itu.”Eomma. aku merindukanmu” gumam Nayoung manja.

 

 

 

Semenjak
berhenti dari dunia show biz Shin Hye memang memutuskan mengurus
salah satu cabang butik milik ibunya yang ada di Nohwon. Pekerjaan yang
menurut Shin Hye sangat menyenangkan. Tak ada sedikitpun tekanan
seperti di dunia entertaiment. Wanita itu juga kerap menghabiskan waktu
senggang di sela rutinitas kerjanya untuk mengunjungi panti asuhan.
Dan Nayoung adalah salah satu anak asuh Shin Hye yang sangat dekat
dengannya.

 

 

 

Tangan Shin Hye bergerak mengusap
lembut puncak kepala Nayoung.”Hey. Bukankah tiga hari yang lalu eomma
datang. Lagi pula, kenapa kau tidak mau tinggal bersama eomma di
apartement, sayang.” Tutur Shin Hye lembut.

 

 

 

Beberapa
kali Shin Hye berniat mengadopsi Nayoung dan mengajak gadis kecil itu
tinggal bersamanya. Tapi dengan alasan masih betah dan ingin di panti
itu lebih lama, Nayoung selalu menolak dengan halus permintaan Shin
Hye.

 

 

 

Nayoung menggeleng.”Anni. Aku akan ikut eomma saat waktunya tiba nanti.”

 

 

 

Shin
Hye tersenyum simpul mendengar penuturan Nayoung.”Eum. Eomma akan
menunggu sampai waktu itu datang.” seru Shin Hye. Dahi Shin Hye berkerut
saat irisnya menangkap sosok Haneul di dekat mereka.”Neul. Sejak kapan
kau disni.”

 

 

 

Haneul mendesis.”Heissh, kau ini.
Sudah setengah abad.” Seloroh Haneul sembarangan. “Youngie. Jadi dimana
mereka.” Iris Haneul nampak berputar mencari sesuatu. Sementara Shin
Hye menatap mereka dengan tatapan tak mengerti.

 

 

 

“Sebent__”
Sudut bibir Nayoung tertarik saat retina-nya mendapati dua sosok
dengan tinggi yang cukup kontras itu tengah berjalan dari arah pintu
gereja.”Itu mereka.” Tunjuk Nayoung pada dua sosok.

 

 

 

 

 

“Eomma…”

 

 

 

Kaki mungil Daehyun segera berlari saat Shin Hye berdiri sambil menatap penuh haru padanya.

 

Shin
Hye menyambut putranya dengan pelukan sayang, sangat sayang. “sayang
eomma sangat merindukanmu.” seolah tak akan ada waktu lain lagi untuk
bertemu. Shin Hye mengecup puncak kepala putra-nya berulang kali.

 

 

 

Astaga,
sumpah demi tuhan. Shin Hye rela kehilangan apapun di dunia ini.
Bahkan jika Kyuhyun tak membukakan lagi pintu maaf untuknya, ia rela.
Asalkan Daehyun ada bersamanya. Belahan jiwanya. Nyawa Shin Hye
seutuhnya ada pada Daehyun. Dan raga Shin Hye serasa berdiri tanpa
nyawa saat Daehyun tak ada di sisinya. Tubuhnya seakan tak memiliki
tulang belulang saat menyadari Daehyun berada jauh darinya. Tidak, untuk
kali ini ia tak akan melepaskan Daehyun lagi. Sudah cukup beberapa
tahun ini ia terjerembab dengan kebodohannya sendiri.

 

 

 

 

 

Daehyun
melepaskan pelukannya lantas menatap nanar ibunya.”Eomma. Tidak
bisakah kau dan appa tinggal satu rumah. Dan tentang ulang tahunku, aku
ingin kita merayakannya bersama.” Lirih Daehyun.

 

 

 

Dada
Shin Hye serasa teremas mendengar permohonan Daehyun. Baiklah. Ini
salah Shin Hye seutuhnya. Jika saja saat itu ia tak meninggalkan
Kyuhyun dan Daehyun. Semua tidak akan seperti ini. Mungkin mencoba
memohon maaf pada Kyuhyun akan lebih baik. Kalaupun Kyuhyun tak sanggup
menerimanya kembali. Setidaknya, ia bisa turut serta merawat Daehyun.

 

 

 

“sayang eomma___”

 

 

 

 

 

“Apa kalian benar benar tidak ingin mencoba bersama lagi.”

 

 

 

Shin Hye mengalihkan pandangannya kearah Sungmin. “Oppa aku”

 

 

 

Kaki
Sungmin menyusuri lantai mendekat kearah Shin Hye untuk meyakinkan
wanita itu.”Cobalah. Demi Daehyun,Shin Hye.” Tutur Sungmin.

 

 

 

“Kami akan membantumu. Benarkan Blondia.” Sahut Haneul.

 

 

 

Sungmin mendengus mendengar panggilan yang di gunakan Haneul padanya masih juga seputaran hal hal aneh.

 

 

 

Entah
mengapa Shin Hye merasa seulas harapan itu hadir ketika ia menatap
senyum tulus Haneul dan Sungmin. Mungkin benar, solusi terbaik untuk
saat ini hanya kembali bersama Kyuhyun.

 

Shin Hye menarik napas dalam.”Baiklah aku akan..”

 

 

 

 

 

“Tidak akan__”

 

 

 

Semua yang ada di sana berbalik menatap kearah pintu gereja seiring mengalunnya suara tegas tersebut.

 

 

 

 

 

xxx

 

 

 

 

 

 

 

Tepat
sejak sepuluh menit Sungmin dan Daehyun meninggalkan ruangnya Kyuhyun
kembali kemeja kerja. Tapi sejujurnya sesuatu masih mengganjal di hati
pria itu. Kyuhyun bergerak gelisah. Semua berkas yang ada di mejanya
seakan tak mampu mengalihkan fokus Kyuhyun untuk memikirkan hal lain
selain kecurigaanya terhadap Daehyun dan Sungmin. Kemana sebenarnya
mereka. Dan entah mengapa sisi hati Kyuhyun mengatakan jika Sungmin akan
membawa Daehyun bertemu Shin Hye.

 

 

 

Kyuhyun menggeleng. Tidak. Ia tidak boleh membiarkan ini.

 

 

 

Dengan
gerakan cepat Kyuhyun meraih kunci mobilnya. Segera berlari menyusul
Daehyun dan Sungmin untuk menghindari kemungkinan yang tidak ia
inginkan.

 

 

 

Sialnya, ia sudah tertinggal jauh dengan
mobil Sungmin.”Ah sial. Kemana mereka.” Gusar Kyuhyun sambil memukul
stir mobil dengan kencang. Kalau sudah seperti ini, kemana ia akan
mencari kedua orang itu. Ia yakin Daehyun dan Sungmin bukan pergi
memebeli Ice cream atau sekedar beretemu Haneul di kantornya.

 

 

 

Manik
Kyuhyun nampak bergerak kesana kemari mencoba mencari kemungkinan
tempat yang sekiranya di datangi Daehyun dan Sungmin. Tunggu sebentar,
Haneul. Mungkinkah?

 

 

 

Kyuhyun segera memutar mobilnya menuju tempat yang sebelumya ia prediksi.

 

 

 

Tak
membutuhkan waktu lama untuk sampai di gereja yang kerap di kunjugi
Daehyun saat ia masih menginjinkan putranya untuk bertemu Shin Hye.

 

 

 

“Shit. Sungmin hyung, kau..” geram Kyuhyun saat menemukan mobil Sungmin di pelataran gereja.

 

 

 

Langkah
Kyuhyun terayun gusar kearah gereja itu.”Eomma. Tidak bisakah kau dan
appa tinggal satu rumah. Dan tentang ulang tahunku, aku ingin kita
merayakannya bersama.” Langkah Kyuhyun terhenti saat samar samar suara
Daehyun menyapa pendengarannya.

 

 

 

“sayang eomma___” Alis Kyuhyun menaut mencoba menelisik lebih dalam pembicaraan mereka.

 

 

 

 

 

“Apa kalian benar benar tidak ingin mencoba bersama lagi.”

 

 

 

“Oppa aku”

 

 

 

Napas Kyuhyun tehembus berat. Ia tahu, Shin Hye akan menolaknya.

 

 

 

”Cobalah. Demi Daehyun,Shin Hye.”

 

 

 

“Kami akan membantumu.”

 

 

 

Lee Sungmin, Kim Haneul. Sudah jangan paksa wanita itu.

 

 

 

Tanpa
menunggu jawaban Shin Hye lebih lanjut Kyuhyun memutuskan meyeruak
masuk. Kesabarannya benar benar sudah habis saat ini. Perlu di ketahui.
Kyuhyun tak akan pernah mengiba untuk meminta Shin Hye kembali padanya.
Ia akan membebaskan wanita itu melakukan apapun yang ia inginkan. Asal
jangan sentuh Daehyun, putra kandungnya.

 

 

 

“Tidak akan__”

 

 

 

Kyuhyun
berjalan gusar kearah sekumpulan orang tersebut.Irisnya terus menatap
Shin Hye tajam. Tanpa menunggu lama Kyuhyun menarik Daehyun dengan
kasar dari pelukan ibunya. “Cho Daehyun. Pulang bersama uncle sekarang
juga.” Bentak Kyuhyun. Iris pria itu menatap Sungmin yang nampak
menegang.”Hyung. Bawa Daehyun pergi dari sini.” Interuksi Kyuhyun yang
di sambut gerakan gamang oleh Sungmin.

 

 

 

Pria itu meraih pergelangan Daehyun yang tengah shock berkat bentakan ayahnya.”Ta–tapi Kyu.”

 

 

 

“KU BILANG BAWA DAEHYUN PERGI, HYUNG.” Pekik Kyuhyun sekali lagi.

 

 

 

 

 

Sungmin
berniat menuntun Daehyun keluar dari gereja saat Shin Hye berlari
kearahnya dan meraih tangan mungil bocah itu.”Kyu kumohon sebenci apapun
kau terhadapku. Tapi tolong jangan pisahkan aku dengan Daehyun.”
Wanita itu membawa Daehyun kehadapan ayahnya. “Kumohon Kyu aku__” air
mata Shin Hye menggenang di pelupuk matanya.

 

 

 

“Hentikan
Park Shin Hye.” Napas Kyuhyun nampak memburu. Sementara semua yang ada
di sana terkesiap tak berani menatap Kyuhyun barang sekilas pun.
“Jangan pernah menemui Daehyun lagi atau aku akan benar benar membawa
Daehyun tinggal di luar negeri.”

 

 

 

Seperti
tercekik. Seolah nyawa itu benar benar sudah terpisah dari raganya,
Shin Hye menatap Kyuhyun tak percaya. Tidak, itu tidak boleh terjadi
walau bagaimanapun berada di dekat Daehyun meski tak selalu di
sampingnya jauh lebih baik. Dan Shin Hye cukup mengenal watak keras
kepala Kyuhyun. Pria itu bisa saja nekad membawa anaknya pergi sekarang
juga. Shin Hye menggeleng cepat saat Kyuhyun mengangkat tubuh Daehyun
kedalam pelukannya hendak membawa Daehyun pergi dari sana.

 

 

 

Dengan
gerakan cepat Shin Hye meraih kaki Kyuhyun. Merendahkan harga dirinya
untuk memohon kepada pria itu.”Kyu. Kumohon setidaknya biarkan kami
bertemu beberapa hari sekali. Iya, baiklah. Aku tidak akan membawanya
untuk tinggal dan hidup bersamaku. Tapi. Kumohon jangan bawa dia pergi
Kyu. Kumohon.” Lirih Shin Hye parau. Lelehan bening itu terus menerjang
pipinya.

 

 

 

Melihat hal itu Daehyun nampak berkaca.
Tanpa ia sadari genggamannya pada leher Kyuhyun sedikit
mengendur.”Appa. Kumohon biarkan aku dan eomma tinggal bersama. Aku__”
ucapan Daehyun terputus begitu saja saat pupilnya mendapati iris tajam
Kyuhyun tengah mengintimidasinya.

 

 

 

“Diam. Dan turuti apa yang appa katakan.”

 

 

 

Kepala Daehyun tertunduk dalam, sama sekali menghindari kontak dengan sorot mencekam ayahnya.

 

“Sekarang pulanglah bersama uncle.” Ujarnya seraya menyerahkan Daehyun pada Sungmin.”Hyung bawa dia pulang.”

 

 

 

Sungmin mengangguk lantas membawa Daehyun pergi.

 

 

 

“Kyu aku__”

 

 

 

“Sudah
cukup, Park Shin Hye–ssi.” Kyuhyun nampak menggigit bibir bawah
mencoba menahan emosinya sediri.”Kumohon jangan temui Daehyun lagi. Aku
berjanji akan melupakan semua kesalahanmu. Hanya saja, biarkan aku
membesarkan Daehyun sendiri.” Ujar Kyuhyun parau.

 

Sejujurnya
otak dan hatinya terus berdebat. Mampukah ia memisahkan Shin Hye dan
Daehyun. Melepaskan harapan untuk bersama Shin Hye, membuat keinginan
yang telah ia pendam selama bertahun tahun untuk kembali berkumpul
dengan istrinya lenyap tak bersisa.

 

 

 

Shin Hye
menggeleng lemah. Tidak, ia tidak akan mampu hidup tanpa bayangan
Daehyun. Meski sekedar menatap bocah itu, semua akan lebih baik selama
indera penglihatannya masih mampu menagkap sosok Daehyun.

 

“Kenapa.
Sehina itukah aku dimatamu, Cho Kyuhyun–ssi.” geram Shin Hye. Rasanya
mengiba kepada pria sekeras Kyuhyun hanya akan menguras tenaga sia sia.
Shin Hye bangkit lantas menatap Kyuhyun tajam.”sehingga kau harus
bersusah payah memisahkan Daehyun denganku. Dengar Kyuhyun-ssi, aku ini
ibu kandungnya jadi aku berhak__”

 

 

 

Kyuhyun
mengeratkan kepalan tangannya.”Diam. Aku sudah muak dengan semua
scandalmu Park Shin Hye.” Iris Kyuhyun berkilat marah. “Terlepas semua
itu benar atau tidak. Aku tidak peduli.  Yang ku inginkan,
jauhi Daehyun dan jangan pernah menemuinya atau aku akan benar benar
membawa Daehyun tinggal di luar negeri.” Ujarnya sebelum bergegeas
meninggalkan Shin Hye yang masih mematung.

 

 

 

 

 

Retina
Shin Hye memejam rapat. Jantungnya serasa terlilit tali kecil yang
sangat tajam. Benarkah Kyuhyun sudah muak dengannya. Benarkah kesempatan
untuk mengembalikan keparcayaan suaminya sudah hilang. Benarkah ia tak
akan bisa melihat buah hatinya lagi. Ya tuhan, benarkah ini takdir
yang harus ia terima.

 

 

 

 

 

xxx

 

 

 

 

 

Kyuhyun
berbaring di samping Daehyun sambil menatap sendu bocah yang tengah
terlelap itu. Sesekali tangan kekarnya bergerak halus menyingkirkan anak
rambut yang menutupi sebagian wajah putranya. Pria itu menepuk nepuk
pelan punggung Daehyun saat Daehyun menggeliat pelan, seolah takut
jika pergerakan sekecil apapun akan menganggu tidur putranya.

 

 

 

“Maafkan
appa, sayang.” Sebait kata yang mampu mewakili seluruh perasaan
Kyuhyun saat ini. Kyuhyun terus merutuk dirinya sendiri saat mengingat
untuk pertama kalinya sejak Daehyun lahir ia membentak sekeras itu.

 

 

 

Perlahan
Daehyun menggeliat seiring gumaman Kyuhyun yang menyapa
telinganya.”Eung, appa.” Pupil bulatnya mengerjap menatap Kyuhyun yang
tengah memeluknya dengan raut sembab.

 

 

 

Sebisa
mungkin Kyuhyun menyunggingkan senyum simpul, mencoba menghilangkan
trauma yang mungkin saja masih menyergapi Daehyun akibat bentakannya
tadi siang. “Eum. Tidurlah, appa akan menemanimu malam ini.” Tutur
Kyuhyun selembut mungkin.

 

 

 

“Appa sudah tidak marah padaku.”

 

 

 

Kyuhyun
tertegun sejenak mendegar penuturan putranya. Astaga, sekeras itu kah
ia membentak Daehyun hingga bocah itu harus setakut ini.”Tidak
sayang. Apa tidak marah, hanya saja__” Kyuhyun menggantungkan
kalimatnya nampak berfikir sejenak.

 

 

 

Manik
Daehyun mengerjap pelan menatap ayahnya.”Hanya saja. Appa melarangku
untuk bertemu eomma?” sahutnya polos. Daehyun kian memandang lekat
ayahnya. “Aku janji tidak akan membantah perintah appa lagi mulai
sekarang. Termasuk bertemu eomma.” Lirih Daehyun.

 

 

 

Entah
mengapa hati Kyuhyun serasa tertohok saat frasa itu meluncur dari
bibir Daehyun. Bukankah ini yang selalu ia inginkan. Menjauhkan
Daehyun dari Shin Hye. Ada apa dengan dirinya. Benarkah yang telah ia
lakukan. Kyuhyun menunduk menatap Daehyun yang tengah memeluknya
posesif.

 

 

 

“Captain di hari ulang tahun nanti, apa yang kau minta dari appa?” Kyuhyun mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

 

 

Sesaat
Daehyun mendongak menatap Kyuhyun sebelum kembali melesakkan tubuhnya
pada dekapan hangan sang ayah.”Annio. aku tidak meminta apapun.”
Gumamnya sambil menggelengkan kepala.

 

 

 

Sekali lagi.
Dada Kyuhyun seakan terhabtam beban berat saat Daehyun berusaha
menutupi keinginannya. Astaga, bocah ini. Maafkan appa Daehyunnie,
appa hanya terlalu menyayangimu “Ya sudah sekarang tidurlah appa akan
disini menemanimu.” Tuturnya sambil mengusap lembut puncak kepala
Daehyun.

 

 

 

xxx

 

 

 

Seberkas
senyum nampak merayap di bibir Kyuhyun saat ia menyadari dimana
dirinya saat ini. Cafe ini. Mouse Of Rabbit. Cafe yang sering ia
datangi saat ia dan Shin Hye masih berkencan semasa duduk di bangku
sekolah menegah. Kyuhyun nampak menelisik jarum jam di balik arlojinya,
sesekali desisan penat meluncur dari bibir tebal Kyuhyun.

 

 

 

“Ck!! Lamban sekali dia.” Gumam Kyuhyun.

 

 

 

Sudah
lebih dari 45 menit sejak mereka berjanji bertemu, tapi sosok yang ia
tunggu belum menampakkan diri. Kyuhyun mearih Iphone nya berniat
menghubingi seseorang saat Shin Hye tiba dengan raut datarnya. “Ada apa
lagi Cho Kyuhyun –ssi. Kenapa kau mengejakku bertemu?” ujar Shin Hye
dingin. Sedingin tatapan wanita itu kepada Kyuhyun.

 

 

 

Terselip
rasa ragu di hati Kyuhyun saat mendengar nada bicara istrinya.
Dingin. Sangat dingin bahkan. Kyuhyun menginggit bibir bawah, nervous
mungkin. “Eum. Shin Hye ini tentang Daehyun ku pikir__”

 

 

 

“Kau
tidak perlu mengingatkanku lagi,Cho Kyuhyun. Kau pikir aku ini
sebodoh apa. Hingga kau harus mengingatkanku berulang kali agar
menjauhi Daehyun.” Simpul Shin Hye.”Aku mengerti dan aku akan
melakukannya. Tapi satu hal, aku akan benar benar menuntutmu jika kau
membawa Daehyun tinggal di luar negeri.” Ujar Shin Hye dengan nada
meninggi. Emosi Shin Hye benar benar tersulut saat mendengar ultimatum
Kyuhyun yang ia rasa berlebihan. Seburuk itukah Shin Hye di mata
Kyuhyun. Wanita itu tidak mempermasalahkan jika Kyuhyun benar benar
tak memberi maaf padanya. Hanya saja ia merasa tidak sanggup hidup
tanpa menatap anaknya.

 

 

 

Kyuhyun terhembus berat.
Sepertinya Shin Hye sudah sangat salah paham terhadapanya. Kyuhyun
menatap Shin Hye lekat. “Bukan seperti itu Shin Hye. Maaf kan aku yang
tidak bisa mengendalikan emosiku tempo hari.” Kepala Kyuhyun
tertunduk. Menyesal? Sudah pasti. “Dan tentang ulang tahun Daehyun
besok. Bisakah kau datang.” serunya gamang.

 

 

 

Napas
Shin Hye memburu mendengar penuturan Kyuhyun. Apa yang di fikirkan
Kyuhyun sebenarnya. Sesuka hati pria itu mengijinkannya bertemu Daehyun.
Dan sesuka hati pula Kyuhyun menjauhkan mereka. Sebesar apapun
kesalahan yang pernah di lakukan Shin Hye. Kyuhyun tak berhak melakukan
ini. Walau bagaimanapun ia tetap ibu kandung Daehyun. Wanita yang
paling berhak bertemu dan hidup bersama Daehyun saat ini.

 

 

 

“Kau
gila Cho Kyuhyun.” ujar Shin Hye seraya bangkit dari duduknya. Iris
cokelatnya menatap Kyuhyun tajam, sarat akan emosi. “Kau tidak sadar
siapa aku. Aku ibu kandungnya dan aku yang paling berhak merawatnya,
hidup bersamanya. Lakukan apapun yang kau mau dan akupun begitu. Aku
akan merebut Daehyun dengan caraku.” Nada Shin Hye sedikit merendah.
Tersirat ancaman pada setiap ucapannya.

 

 

 

Shin Hye
berniat meninggalakan Mouse of Rabbit saat tangan kekar Kyuhyun
menarik pergelangan tangannya. Dan saat itu hanya kehangatan yang ia
rasakan. Kehangatan ini, kehangatan yang selalu ia rindukan. Tangan
kekar itu merengkuh tubuhnya posesif, sama sekali tak mengijinkan
tubuh Shin Hye lepas dari dekapan hangatnya.

 

 

 

“Maaf.”
Gumam suara berat itu kemudian. “Aku tahu, mungkin sulit untukmu
kembali padaku. Tapi lakukanlah, setidaknya demi ulang tahun Daehyun,
anak kita.” Ujar Kyuhyun seraya membenamkan wajahnya pada bahu Shin
Hye. Keduanya sama sekali tak memperdulikan tatapan aneh yang di
lemparkan pengunjung Mouse of Rabbit.

 

 

 

Iris Shin
Hye memejam merasakan kehangatan itu merasuk menjalari tubuhnya.
Benarkah semua akan bertahan seperti ini. Tidak kah Kyuhyun hanya
mempermainkan perasaaannya. Tidak kah Kyuhyun akan kembali
menjauhkannya dengan Daehyun sebentar lagi.

 

 

 

“Aku..”

 

 

 

“Aku
tahu. Mungkin akan sangat suli membuatmu memaafkanku.” Ujar Kyuhyun
seiring Pelukannya yang kian mengerat. “Dan aku tidak akan memkasa.
Tapi ku mohon, kabulkanlah satu permintaan Daehyun, Shin Hye. Aku
sadar. bukan hanya aku, tapi Daehyun juga membutuhkanmu.” Kyuhyun
melepas pelukannya lantas menatap lekat kedua manik Shin Hye. “Kau
bisa datang ke gereja kan besok. Aku dan Daehyun menunggumu di sana.
Dan sekali lagi maafkan aku, aku mencintam.” Tutur Kyuhyun. Pria itu
menyapukan kecupan hangat di kening Shin Hye sebelum beranjak
meninggalkan cafe.

 

 

 

 

 

Iris Shin Hye
mengerjap tak percaya. Benarkah yang baru saja ia alami. Nyatakah
semua itu. Dan apa telinga Shin Hye sedang bermasalah. Kyuhyun
mencintainya? Sebentuk senyum pun terulas di bibir Shin Hye saat
menyadari semua itu bukan mimpi.

 

 

 

 

 

xxx

 

 

 

 

 

25 Desember

 

 

 

Bibir
Daehyun mengerucut sebal menatap Haneul dan Sungmin yang nampak sibuk
dengan obrolan mereka. Sesekali tangan mungilnya bergerak keatas
kepala, melepas topi santa yang ia kenakan dengan gerakan gusar.  Ya
tuhan, bukankah haru ini natal sekaligus ulang tahunnya. Tapi, kenapa
semua orang nampak menyebalkan. Blondia ahjussi dan ahjuma cerewet
itu sibuk sendiri. Dan dimana appanya. Bukankah pria itu hanya
berjanji menjemput Shin Hye dan Nayoung, kenapa lama sekali.

 

 

 

“Blondia
ahjussi. Dimana appa eomma dan Youngie.” Rengek Daehyun. Bocah itu
sudah benar benar bosan menunggu terlalu lama. Sesekali iris Daehyun
menatap sebal Haneul yang tengah asyik menyeruput orange juice.

 

 

 

Kyuhyun
dan Shin Hye sudah sepakat merayakan hari jadi Daehyun di Kona Beans.
Cafe yang terletak di seberang gereja tempat mereka akan meryakan
natal setelahnya.

 

 

 

Haneul mendesis. “Heissh
tunggulah sebentar anak kecil. Kenapa kau menganggu kami.” Ujar Haneul
sambil menatap jengah kearah Daehyun.

 

 

 

“Tapi ini sudah terlalu lama.” Debat Daehyun.

 

 

 

“Kami datang.”

 

 

 

Iris
Daehyun berbinar riang saat siluet tubuh Kyuhyun Shin Hye dan Nayoung
nampak berjalan dari arah pintu dengan setumpuk kado dan cake di
tangan mereka. Tanpa menunggu lama Daehyun beranjak meninggalkan kursi
lantas berlari kecil kearah orang tuanya. “Youngie ternyata kau benar
benar datang.” ujarnya riang. Daehyun meraih beberapa kado yang ada
di tangan Nayoung dan Shin Hye sebelum kembali berlari kearah Sungmin
dan Haneul.

 

 

 

 

 

Kyuhyun nampak
meletakkan cake dengan pahatan lilin berangka 5 itu ke atas meja.
“Sudah menunggu lama, Captain.” Gumamnya sambil melirik Daehyun.

 

 

 

Daehyun tak menjawab. Bibirnya mengerucut sebagai tanda ia benar benar jengah menunggu Kyuhyun dan Shin Hye.

 

Shin
Hye tersenyum lantas meraih Daehyun kepangkuannya.“Baiklah. Cha kita
mulai.” Ujarnya sambil sesekali mengecup lembut pipi Daehyun. Dalam
hati wanita itu terus bersyukur. Saat seperti inilah yang paling ia
rindukan. Bisa berada di dekat anak dan suaminya tanpa mempedulikan
apapun.

 

 

 

“Youngie. Kemarilah sayang.” Kyu Hyun meraih Nayoung lantas memangku Nayoung.

 

 

 

Sungmin
dan Haneul nampak sibuk menyalakan lilin di atas cake itu dengan
pematik. Seringai lebar terus terulas dati bibir Sungmin dan Haneul.
Bagi mereka tak ada yang lebih membahagiakan dari melihat Kyu Hyun dan
Shin Hye kembali bersatu. Tak ada yang lebih menggembirakan dari
melihat senyum manis itu terulas dibibir Daehyun tanpa adanya sebuah
ketakutan jika kedua orang tuanya akan kembali berpisah.

 

 

 

 

 

“Nah. Ayo kita mulai.” Sungmin dan Haneul memberi komando kepada ke empat orang yang tersisa untuk meyenandungkan lagu.

 

 

 

Saengil Chukkahamnida

 

Saengil Chukkahamnida

 

Saranghaneun uri Daehyun

 

Saengil Chukkahamnida

 

 

 

Di
iringi berakhirnya berakhirnya beberapa bait lagu itu, Daehyun
beranjak dari pangkuan Shin Hye lantas mencondongkan tubuhnya ke arah
meja. Perlahan bibirnya mengerucut meniup lilin itu dengan raut
gembira.

 

 

 

Shin Hye dan Kyuhyun memeluk putranya.
Mencium pipi Daehyun penuh sayang. Entah apa yang terjadi, di sela
kebahagiaan itu Kyuhyun dan Shin Hye merasakan sesuatu yang
menyakitkan menelusup kedalam relung hati mereka.

 

Shin Hye
kembali mencium putranya. “Selmat ulang tahun sayang. “ujarnya seraya
melungsurkan sebuah kado kearah Daehyun yang di sambut riang bocah
itu.

 

Kyuhyun meraih tubuh Daehyun lantas memeluknya.
“Captain. Saengil chukkae. Appa menyayangimu sayang.” Rasa perih itu
kembali menelusup di hatinya saat diksi itu perlahan meluncur. Entah
apa yang terjadi tapi hatinya serasa tersemas saat irisnya bertaut
dengan raut ceria Daehyun.

 

Apa yang terjadi? Mengapa sebagian hati Kyuhyun dan Shin Hye merasa akan kehilangan raut ceria anaknya.

 

 

 

“Happy birthday our Captain.” Ujar Sungmin Haneul dan Nayoung bersamaan.

 

 

 

Daehyun
terkekeh senang menyambut beberapa bingkisan yang mereka luncurkan.
Sedetik kemudian raut Daehyun nampak menyendu. Tubuhnya berbalik
menatap kedua orang tuanya dengan sorot sayu. “Appa, eomma. Bisakah
kalian menjadikan Nayoung saudaraku.” Daehyun meraih tangan Nayoung
mengenggamnya erat.”Kau mau kan, Youngie.”

 

 

 

Shin Hye dan Kyuhyun mengulas senyum simpul. Meraih Daehyun dan Nayoung mendekat kearah mereka.  “Bagaimana Youngie sayang.” Tanya Shin Hye sambil menatap Nayoung lembut.

 

 

 

“Eum. Aku mau.” Sahut Nayoung tersenyum riang.

 

 

 

 

 

Dan
akhirnya hari membahagiakan untuk Kyuhyun Shin Hye dan Daehyun benar
benar datang. Mengikuti impian dan obsesi yang menurut kita benar
belum tentu membawa kebahagiaan. Mengenggam semua yang kita impikan
tidak akan ada artinya tanpa kehadiran orang yang kita sayangi. Karena
sejatinya kebahagiaan yang bersifat murni adalah saat kita mampu
melihat orang yang kita sayangi bahagia karena hal hal kecil yang kita
perbuat untuk mereka.

 

 

 

 

 

xXx

 

 

 

Sungmin
Daehyun dan Haneul nampak berjalan beriringan sementara Nayoung Shin
Hye dan Kyuhyun di belakang mereka. Lengkungan di bibir Daehyun kian
melebar saat manik bulatnya mendapati gereja yang akan mereka datangi
sudah terhias indah oleh berbagai pernik natal.

 

 

 

“Yaa!!” Daehyun memekik saat salah satu dari beberapa bingkisan yang ia bawa jatuh menggelinding ke tengah jalan.

 

Nayoung yang kebetulan berada di sisi bingkisan berwarna biru itu pun memungutnya tanpa memperhatikan keadaan sekitar.

 

Semua yang ada di sana nampak memanik saat sebuah mobil melaju kencang menuju arah gadis kecil itu.

 

 

 

“Nayoung.” Jerit Shin Hye sebelum Kyuhyun berlari untuk mendorong tubuh Nayoung. Semua terjadi dengan cepat.

 

 

 

Dan
di detik itu juga dunia Kyuhyun dan Shin Hye seakan runtuh. Nyawa
mereka seolah benar benar terenggut. Keduanya tak yakin, apa mungkin
esok mentari masih mau bersinar menerangi hari mereka. Mungkin setelah
semua ini hanya lagit kelabu yang akan menghiasi hari mereka.

 

 

 

Sungmin
dan Haneul meraih tubuh Nayoung dan mendekap gadis yang nampak duduk
sambil menahan sakit akibat benturan dengan badan jalan tersebut.
Sementara Kyuhyun dan Shin Hye diam membeku. Terlalu sesak hingga air
mata itu enggan menerjang wajah mereka.

 

 

 

Kaki
jenjang Kyuhyun merangsek perlahan menuju bocah dengan lumuran darah
di sekujur tubuhnya tersebut. Mengangkat tubuh mungil yang nampak
lemah itu kedalam pelukannya. Tidak. Ini tidak mungkin. Tuhan, cepat
bangunkan Kyuhyun dan katakan jika ini hanya mimpi. Mimpi yang sangat
buruk.

 

 

 

“ddae–hyunah kau___” Shin Hye tak sanggup melengkapi kata katanya.

 

 

 

Kyuhyun
dan Shin Hye menunduk menatap wajah Daehyun yang tengah berada dalam
pelukan mereka. “Daehyun. Sayang, bertahanlah eomma mohon.” Shin Hye
mencium kening putranya berulang kali. Menyeka darah yang terus
mengucur dari pelipis indah itu.

 

 

 

“Hyung cepat panggilkan ambulance.” Tanpa melepas pelukannya terhadap Daehyun, Kyuhyun berseru kepada Sungmin.

 

“Anni appa.” Suara mungil Daehyun yang di sertai gelengan lemah menahan Sungmin melakukan itu semua.

 

 

 

“HYUNG, APA KAU TULI. CEPAT” bentak Kyuhyun saat melihat Sungmin tak menjalankan perintahnya.

 

Sungmin
bimbang. Bendungan air matanya sudah runtuh sejak tadi. Ia tak
sanggup menatap keponakan yang sudah ia anggap putra kandungnya
terbaring berlumuran dara seperti itu.

 

 

 

Kyuhyun
menggeleng keras menatap Daehyun. “Tidak sayang. Tidak. Kau harus
bertahan, demi appa dan eomma. Kami mohon bertahanlah.” Ujarnya seraya
mengeratkan pelukannya pada Daehyun yang nampak kian melemah.

 

 

 

“Iya
sayang. Eomma mohon. Daehyun eomma berjanji tidak akan
meninggalkanmu. Tapi, tolong jangan pergi sayang.” Histeris Shin Hye.

 

 

 

Daehyun
diam. Bibirnya mengulas senyum pias. Menatap semua yang ada di sana
dengan senyum terbaik yang ia miliki. Mencoba menunjukkan rasa sayang
untuk terakhir kalinya melalui senyum manis itu.”Eomma appa. Ini natal
dan hari ulang tahun terindah untukku.” Ujar Daehyun lemah. Detik
berikutnya napas Daehyun nampak tersengal sebelum perlahan manik
bulatnya nampak mengatup rapat.

 

 

 

Kyuhyun dan Shin Hye menjerit histeris saat menatap wajah mungil itu nampak terlelap damai. Daehyun pergi untuk selamanya.

 

 

 

Bukan
tanpa alasan tuhan mengambil sesuatu yang memang mutlak miliknya.
Banyak pesan yang tersampaikan dari setiap takdir atau jalan yang telah
ia gariskan. Daehyun. Malaikat kecil itu tak hanya hadir untuk
menyempurnakan kehidupan Kyuhyun dan Shin Hye, meski hanya untuk
sementara. Tapi ia hadir untuk membuat Kyuhyun dan Shin Hye beserta yang
lainnya menyadari bahwa sesuatu yang sudah ia berikan adalah yang
terbaik. Daehyun adalah hal terbaik dari tuhan untuk Kyuhyun dan Shin
Hye. Hanya saja keduanya tak menyadari itu.

 

 

 

Tapi
satu hal yang perlu seorang manusia tahu. Tuhan akan dan akan selalu
bermurah hati kepada manusia yang mau mensyukuri dan berlapang dada
menerima takdirnya. Nayoung. Gadis kecil itu adalah bukti lain
kemurahan tuhan untuk Kyuhyun dan Shin Hye.

 

 

 

 

 

 

 

FIN.

 

 

 

Note
dikit : Maaf ya aku tag ulang kalian, mungkin kalian dah baca ga usah
di RCL gpp,n kalo ada yang ga suka di tag bilang ne nanti aku apus,
sekali lagi maaf penuhin notif n kronologi kalian ^^

 

Advertisements

4 thoughts on “ONESHOOT :: Beautiful Birthday for Daehyun

  1. Authornim boleh gak aku nangis smbil meluk siwon 😦 ? hhuuuaa kenap Saat kebahagian itu hmpir sempurna tuhan mengambil Cho Daehyun putra kecil mereka yg hanya ingin orang tuany bersama kembali

  2. astagfirullah hal adzim thor, apa ya, aq bingung mau bilang apa… jujur aq ga pernah baca ff family yg senyesek ini, sumpah thor aku dapet pelajaran dari ff ini,,, seharusnya kita menghargai pemberian tuhan,,, huwee pokoqnya sumpah thor baru kali ni aq baca ffnya kyuhyun yg bener2 bisa di ambil pelajarannya buat kehidupan,,, bukannya nyepelein yg lain, tp aku terlalu tersentuh ama ff ini,,, ini ff ga cuman buat bacaan tp jg nasihat… bikin lagi dong thor, atau min
    kebanyakan bacot,, mf hee

  3. astagfirullah hal adzim thor, apa ya, aq bingung mau bilang apa… jujur aq ga pernah baca ff family yg senyesek ini, sumpah thor aku dapet pelajaran dari ff ini,,, seharusnya kita menghargai pemberian tuhan,,, huwee pokoqnya sumpah thor baru kali ni aq baca ffnya kyuhyun yg bener2 bisa di ambil pelajarannya buat kehidupan,,, bukannya nyepelein yg lain, tp aku terlalu tersentuh ama ff ini,,, ini ff ga cuman buat bacaan tp jg nasihat… bikin lagi dong thor, atau min
    kebanyakan bacot,, mf hee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s