One Person Two Personalities

Title : One Person Two Personalities
Author : Kyu_bbie
WordPress : Kyu_bbie :: http://debbieachandrakasih.wordpress.com/
Lenght : OneShoot
Genre : AU, School life, Romance
Rating : PG-17
Cast :
Shin Ji Hyun
Cho Kyu Hyun

 


Hangat….
Dapat
kurasakan hangatnya sinar matahari pagi yang menerpa tubuhku. Semilir
angin menerobos masuk dari jendela yang memang selalu kubiarkan terbuka
setiap malam. Membawa jutaan serbuk bunga. Aku dapat mencium harumnya,
sangat menenangkan. Seperti aroma terapi. Ini, angin musim semi. Musim
semi datang sekitar satu minggu yang lalu. Musim kesukaanku.

Aku
bangkit dari tidurku. Sebenarnya aku sudah terjaga sejak lima belas
menit yang lalu. Perlahan, kulangkahkan kakiku menuju balkon.
Pemandangan pertama yang kulihat adalah bunga sakura. Ada sebuah pohon
sakura di sebelah kamarku. Yang usianya cukup tua melihat betapa
besarnya pohon tersebut. Lenganku bahkan tak cukup untuk melingkari
batang pohon itu. Beberapa rantingnya memanjang sampai balkon kamarku.
Kusetuh beberapa kelopak bunganya. Setelah selesai mengagumi keindahan
bunga sakura, aku bergegas untuk mandi.

Aku berdiri di depan
cermin, memperhatikan penampilanku. Tubuhku di balut dengan seragam
sekolah berkelas, rambutku ku jalin menjadi dua bagian. Tidaklupa
kukenakan kacamata tebal yang memperlihatkanku seperti anak culun dan
kutu buku. Sempurna.

“Selamat pagi, Nona.”

Aku tersenyum
kepada semua orang yang tengah berjajar menyapaku. Mereka semua adalah
pelayan dirumah ini. Semuanya menunduk saat aku melewati mereka satu
persatu. “Selamat pagi,” ucapku.

“Sarapan anda sudah siap, Nona
Muda,” ucap pria paruh baya yang wajahnya sudah di penuhi oleh kerutan.
Beliau adalah kepala pelayan di rumahku, namanya Kim Jung Sik. Beliau
sudah seperti pamanku sendiri. Ayah bilang bahwa beliau sudah menjadi
kepala pelayan sejak 20 tahun yang lalu. Aku bahkan belum lahir saat ia
mulai bekerja pada ayahku.

“Nona Shin. Setelah pulang sekolah nanti anda di minta Tuan Besar untuk datang ke kediamannya.”

Aku memandang sejenak wanita cantik yang kini berada di depanku, kemudian aku mengangguk dan berkata, “Aku mengerti.”

Yang
baru saja berbicara denganku tadi adalah sekretaris pribadiku, Choi Hae
Ra eonni. Usianya sudah 27 tahun tapi aku belum pernah melihat ia dekat
dengan seorang pria. Hae Ra eonni berkata padaku bahwa ia akan menikah
saat usianya 30 tahun. Hmm… menurutku itu tidak terlalu tua. Bahkan di
Jepang, rata-rata wanitanya menikah saat usianya di atas 30 tahun.

Berbicara
tentang Jepang, aku jadi merindukan Negara itu. Sudah sejak sepuluh
tahun yang lalu aku meninggalkan negara itu, negara kelahiranku. Ya, aku
lahir di Jepang, tepatnya di Tokyo. Ayah dan ibu-ku adalah orang Korea.
Mereka pindah ke Jepang setelah menikah. Selama delapan tahun aku
tinggal di Negara Sakura tersebut. Kedua orangtua-ku meninggal sekitar
sepuluh tahun yang lalu, karena itu lah kakek membawaku ke Korea.
Satu-satunya kerabat yang aku punya hanya kakek-ku, ayah dari ibu-ku.

Kemudian
aku tinggal di rumah ini, rumah yang dulunya merupakan kediaman ibu-ku.
Awalnya kakek menolak mentah-mentah keinginanku untuk tinggal dirumah
ini, beliau sangat menghawatirkanku. Tapi akhirnya ia mengizinkanku,
tentunya dengan berbagai syarat. Beberapa tahun pertama aku di Korea,
kakek tinggal bersamaku. Tapi hanya sampai aku lulus Sekolah Menengah
Pertama, setelah itu aku mengusirnya. Beliau terlalu takut aku kesepian,
ia bahkan mempekerjakan banyak pelayan dirumah ini. Kakek selalu datang
mengunjungiku, bahkan tak jarang ia menginap.

Aku sudah
menyelesaikan makan pagiku. Seperti biasa, semua pelayan mengantarku
sampai pintu gerbang. “Hati-hati di jalan, Nona Muda. Semoga hari anda
menyenangkan.” Kata-kata yang selalu kudengar saat aku pergi ke sekolah.

Aku
mengayuh sepedaku dengan santai. Sepeda, ya, aku selalu pergi ke
sekolah dengan sepeda. Jika mau, aku bisa ke sekolah menggunakan mobil.
Tapi aku suka seperti ini, bersepeda di bawah pepohonan yang rindang.
Merasakan semilir angin yang menghempas tubuhku, dedaunan yang
berguguran saat musim gugur. Atau seperti saat ini, saat beberapa
kelopak bunga sakura berjatuhan dan terbawa angin. Jarak rumah dan
sekolahku juga lumayan dekat, lagipula bersepeda itu menyehatkan tubuh.

Sesampainya
di sekolah, kulihat pintu gerbang di penuhi oleh para gadis-gadis.
Tidak hanya gadis dari sekolahku tapi juga dari beberapa sekolah lain.
Menyebalkan, mereka semua berisik! Mereka kesini hanya ingin melihat
pria itu, jika aku tidak salah ia Ketua OSIS sekolah kami. Yang entah
siapa namanya, aku tidak tahu. Tidak penting juga untukku. Aku menerobos
kerumunan itu dengan susah payah.

Aku duduk di bangku paling
pojok dekat jendela. Hampir tidak ada murid yang mengajakku berbicara,
hanya beberapa diantara mereka yang berpenampilan sama cupunya
sepertiku. Itupun hanya beberapa kali, aku selalu bersikap acuh pada
siapapun, termasuk kepada mereka yang menganggap senasib denganku. Tidak
ada yang mau mendekat padaku, itu semua karena penampilan dan sifatku.
Tapi justru itu keinginanku, agar tidak ada yang mau berteman denganku.
Aneh mungkin, tapi aku lebih suka sendiri.
***
Sesuai
permintaan kakek, setelah pulang sekolah aku pergi ke kediamannya. Aku
menuntun sepedaku, tidak berniat untuk menaikinya, aku hanya ingin
berjalan kaki. Saat aku melewati sebuah taman, aku melihat sebuah
keluarga kecil yang sedang bersenda gurau. Sepertinya mereka sedang
piknik. Anak yang usianya kira-kira tujuh tahun itu berlarian
kesana-kemari, sedangkan sang ayah mengejarnya. Begitu gadis kecil itu
tertangkap, sang ayah langsung menggendongya. Seketika itu juga
pikiranku melayang ke masa lalu.

Bruk

Karena melamun, aku menabrak seseorang.

“Oi.”
Namja yang aku tabrak itu menatapku dengan tajam. Mengerikan. Dari
penampilannya saja sudah seperti berandalan. Kemejanya sudah tak ia
masukkan, dua kancing teratasnya terbuka dan dasinya sudah entah kemana.
Blazernya ia sampirkan di bahu kirinya. Kulitnya seputih susu dan
rambutnya berantakan. Tampan. Etto? Apa yang aku pikirkan, seharusnya
aku segera meminta maaf.

“Jeosonghamnida,” aku membungkuk beberapa
kali sambil mengucapkan permintaan maaf karena aku telah menabraknya.
Ku beranikan diri untuk menatapnya, matanya masih menatapku tajam.
Sepertinya ia belum memaafkanku -_- . Tunggu, sepertinya aku pernah
melihatnya. Jika tidak salah dia…, “Kaichou…” Tanpa sadar aku
mengucapkan kata ketua dalam bahasa Jepang. Entah mengapa ia semakin
menatapku tajam.

“Kau….” Ia mendekatiku seperti akan menghajarku saja.

“Oi,
Cho Kyu Hyun!” Pria yang aku yakini adalah Ketua OSIS sekolahku ini
menghentikan langkahnya. Jadi namanya Cho-Kyu-Hyun? Ia memalingkan
wajahnya ke samping, aku mengikuti arah pandangannya. Apa ini? Aku
melihat segerombolan anak SMA yang berpakaian seperti berandalan. Siapa
mereka? Kulihat pria di sampingku ini menatap mereka dengan pandangan
yang meremehkan.

“Sudah lama kita tidak berkelahi bukan?” ucap
salah satu dari mereka. Astaga! Apa katanya? Sepertinya mereka akan
berkelahi, sebaiknya aku pergi dari sini. Baru saja kakiku akan
melangkah, tapi aku mendengar salah satu dari mereka berbicara lagi.
“Apa ini? Kau sedang berkencan, eoh? Dengan gadis culun? Hahaha seleramu
benar-benar bagus, Cho-Kyu-Hyun.” Aku yakin sekali gadis culun yang
mereka maksud adalah aku.

Aku membalikkan tubuhku menghadap
segerombolan orang tak berguna itu. Entah mengapa aku marah saat mereka
menyebutku gadis culun. Biasanya aku akan acuh terhadap semua statement
orang terhadapku. Tapi kali ini aku benar-benar marah. Ingin rasanya
kupatahkan tulang-tulang mereka.

“Wah, wah, sepertinya ada yang
marah karena kusebut gadis culun?” Pria itu mendekatiku, ia menyentuh
daguku dengan tangan kanannya. “Kau marah, huh?” ucapnya dengan senyum
yang menjijikkan.

“Berani sekali kau menyentuhku,” ucapku dengan
wajah datar. Kutepis tangannya. Kemudain kutarik kerah bajunya dan
membanting tubuhnya. Lalu ku injak dadanya, ia meringis kesakitan. Dapat
kulihat dari ekor mataku, pria di sampingku ini terkejut. Begitu pula
dengan beberapa orang yang berada di hadapanku. Mereka menatapku dengan
geram.

“Beraninya kau menghajar ketua!”

“Wae? Kalian juga
mau?” ucapku menantang. Mereka semua menyerangku bersamaan. Beruntung
aku belajar beberapa bela diri saat berada di Jepang. Aku bisa menangani
mereka dengan mudah. Sial! Seseorang bersiap memukulku dari samping,
dengan posisiku yang sekarang sulit untuk menghindar. Ah, eotteohke?
Hancur sudah wajahku jika kepalan tangan itu sampai mengenai wajahku.

Grep

Sebuah
tangan menghentikan pergerakan orang yang akan memukulku itu. Aku
tertegun, orang itu adalah Cho Kyu Hyun. Sejak kapan dia ada di
sampingku? Bukankah pria itu sedari tadi hanya diam melihat perkelahian
kami, tapi kenapa?

Dapat kulihat pria yang ingin memukulku tadi
mengerang kesakitan. Sepertinya Kyu Hyun mencengkram pergelangan
tangannya dengan sangat kuat. Aku menatap pria ini, dia dengan wajah
datarnya semakin mempererat cengkraman tangannya. Ini Gila! Apa pria ini
ingin mematahkan pergelangan tangan oroang itu? Pria yang Kyu Hyun
cengkram tangannya bahkan tidah hanya meringis, ia sudah berteriak
kesakitan.

“He—hey, a—pa yang kau lakukan?” kataku dengan
ketakutan, “Kau bisa mematahkan tangannya kalau seperti itu….” Aku
memegang lengan baju Kyu Hyun. Pria ini sama sekali tidak bergeming.
Astaga! Ada apa dengan pria ini?

“Hey! Apa yang sedang kalian lakukan?!”

Aku
menoleh dan mendapati beberapa orang satuan pengamanan yang berjumlah
lima orang berada sekitar lima belas meter di depanku. Seketika itu juga
waktu terasa berjalan sangat lambat. Oh, Tidak! Aku tidak ingin
berhubungan dengan hukum. Sial! Bagaimana jika semua orang tahu jika
aku, CEO S.E.O.U.L Corporation. Dan satu-satunya pewaris kekayaan
keluarga Shin yang turut serta dalam mengendalikan Korea Selatan.
Tertangkap satuan pengamanan karena berkelahi. Ini memalukan! Eotteohke?

“Oi, cepat naik!”

Aku
tersentak mendengar suara itu. Dan lebih terkejut lagi ketika mendapati
Kyu Hyun sudah berada di atas sepeda. Bersiap untuk mengayuhnya. Sejak
kapan pria itu ada di sana? Dan, hey, itu sepedaku!

“Ya! Apakau
tidak bisa sedikit lebih cepat?! Mereka semakin mendekat,” ucapnya lagi.
Aku menoleh cepat ke arah satuan pengaman itu. Benar katanya, mereka
semakin mendekat. Bahkan ada yang berlari menuju kami. Dengan cepat aku
naik di boncengan sepedaku. Dengan kecepatan penuh Kyu Hyun mengayuhnya.
Anak-anak yang berkelahi denganku tadi juga sudah berlari menjauh.

Aku
dan Kyu Hyun bersembunyi di balik gedung. Kami bahkan belum turun dari
sepeda. Dan aku, entah sejak kapan kedua tanganku ini memegang ujung
bajunya. Sesekali pria ini mengintip untuk memastikan keadaan. Aku turun
dari sepeda.

“Hey, turun dari se-pe-da-ku,” ucapku dengan mengeja
kata sepeda. Dia menoleh padaku, menatapku sebentar. Kemudian turun
dari sepedaku. Ia berjalan mendekatiku sambil tersenyum mengerikan. Mau
apa pria ini? Setiap ia melangkah maju, maka aku akan mundur satu
langkah. Dan kini tidak ada lagi ruang untukku. Di belakangku berdiri
kokoh sebuah tembok.

Kyu Hyun semakin tersenyum mengerikan. Pria
itu menhimpit tubuhku ke tembok. Kedua tangannya berada di sisi kanan
kiri tubuhku. Tidak mengizinkanku untuk pergi. Ia mengangkat daguku
dengan telunjuk tangan kanannya. Membuatku mendongak menatap mata
tajamnya. Ia mendekatkan wajahnya kepadaku. Sangat dekat, bahkan
bibirnya hampir menyentuh bibirku. Pria ini!

“Jangan beritahu
siapa pun apa yang kau lihat tadi,” ucapnya berbisik. “Terutama pada
anak-anak di sekolah. Apa kau mengerti?” Tangannya mengelus pipiku
lembut, sangat lembut. Membuatku meremang. “Anggap hal itu tidak pernah
terjadi. Kau dan aku tidak pernah bertemu.” Usapannya beralih ke bibir
plum-ku. Mengelusnya dengan ibu jarinya. Pandangan pria ini tertuju pada
bibirku. “Jika kau mengatakannya pada orang lain, maka . . . “ ia
menghentikan ucapannya. Kemudian menatapku tajam, mengintimidasi. “Maka
aku tidak akan menjamin keselamatanmu,” ancamnya.

Aku tergelak
mendengar ucapannya itu. Pria ini mengancamku. Siapa takut! Mungkin dia
berpikir aku akan ketakutan dan menuruti perkataannya. Tapi jangan
harap! Aku menyunggingkan smirk-ku. Kulihat Kyu Hyun tersentak kaget.
Aku meniru gaya-nya tadi. Ku usap pipi kanannya.

“Bagaimana ya?
Bibirku ini bukan tipe yang akan diam begitu tahu sebuah rahasia besar,”
ucapku masih dengan mengusap pipinya. “Bagaimana jika aku mengatakannya
pada semua murid di sekolah? Bahwa ketua OSIS yang selama ini mereka
banggakan ternyata seorang berandalan.” Aku memberi jeda di kalimatku.
Menurutmu, apa yang akan terjadi?” ucapku yang berhasil menyulut
emosinya. Aku mendorong tubuhnya dengan kuat, sehingga ia tersungkur di
lantai.

“Semoga beruntung,” ucapku yang lebih seperti ejekan. Aku
melambaikan tangan padanya. Mengayuh sepedaku dan pergi meninggalkannya
yang masih terduduk di tanah.

“Huh, sepertinya aku akan di marahi
kakek . . . .” ucapku seraya sekali lagi melihat jam yang ada di
pergelangan tanganku. Ini sudah sangat terlambat dari perjanjian. Pria
tua itu pasti akan bercicit selama berjam-jam. Sebaiknya aku bergegas.
Ku kayuh sepedaku cepat.
***
Ini hari minggu yang
cerah. Seharusnya aku menghabiskan waktu minggu cerahku ini untuk
bermalas-malasan. Dan akan bangun dari tidur sekitar pukul sepuluh. Tapi
hari ini berbeda. Aku bahkan sudah rapih dengan pakaian kantor sejak
pukul tujuh pagi tadi. Blouse berwarna pastel, rok berwarna hitam yang
panjangnya di atas lutut. High Heels dengan tinggi tujuh centi meter.
Rambut panjangku ku biarkan terurai dan. . . sedikit make up. Sangat
berbeda dengan penampilanku saat di sekolah.

Aku sudah
menyelesaikan makan pagi-ku dan kini tengah bersiap untuk pergi bekerja.
Sesuai permintaan kakek semalam, aku harus menemui seseorang yang
nantinya akan bekerjasama dengan perusahaanku.
***
“Senang
dapat bekerjasama dengan anda,” ucapku seraya membungkuk. Ya, kami
telah menyepakati dan menandatangani surat perjanjian kontrak.

“Tidak.
Seharusnya saya yang berbicara demikian. Senang dapat bekerjasama
dengan anda. Sebuah kebanggaan dapat menjalin hubungan kerja dengan
perusahaan terbesar di Korea, S.E.O.U.L Corporation,” ucapnya menyanjung
perusahaanku.

“Anda terlalu berlebihan, Tuan Cho. Perusahaan anda
juga termasuk perusahaan besar di Korea,” ucapku. Lalu kami tertawa
bersama. “Kakek mengundang anda untuk makan malam bersama akhir pekan
ini, apakah bisa?”

“Benarkah?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk
sebagai jawaban iya. “Tentu saja saya akan datang. Saya akan datang
bersama putra saya, jika anda tidak keberatan tentunya?”

“Tentu saja tidak. Silakan datang bersama putra anda.”

“Terima kasih. Ah, bukankah anda bersekolah di Asia Pacific International School?”

“Ya.”

“Putraku juga bersekolah di sana. Namanya Cho Kyu Hyun, dia menjabat sebagai ketua OSIS di sana. “

Ya
Tuhan. Betapa sempitnya dunia ini. Ternyata putra pria paruh baya yang
ada di hadapanku ini adalah Cho Kyu Hyun. Ketua OSIS Asia Pacific
International School. Pria yang kemarin sore aku tabrak. Pria dengan
smirk sialannya yang justru menambah taraf ketampanannya itu.
***
Aku
merenggangkan tubuhku, rasanya pegal sekali. Hari ini hanya ada
sosialisasi mengenai UAS (Ujian Akhir Sekolah) yang akan di adakan
sekitar dua minggu lagi. Sekolah di liburkan selama dua minggu ke depan.
Ah, senangnya. Akhirnya aku mempunya banyak waktu untuk beristirahat.
Aku pergi ke tempat parkir untuk mengambil sepedaku.

Langkahku
terhenti begitu aku melihat Cho Kyu Hyun dan temannya sedang berdiri di
dekat sepedaku. Aku segera bersembunyi di balik tembok, mencoba mencuri
dengar apa yang sedang mereka bicarakan. Aku memperhatikan keduanya dari
kejauhan, samar-samar aku masih dapat mendengarkan percakapan mereka.

“Oh,
sepeda ini milik Shin Ji Hyun,” ucap seorang pria di samping Kyu Hyun.
”Dia kan satu kelas dengan kita, anak dengan penampilan kutu buku yang
duduk di barisan paling ujung,” lanjutnya. Apa? Jadi aku sekelas dengan
pria itu? Astaga, aku yang tidak pernah memperhatikan sekelilingku atau
memang pria itu terlalu sibuk dengan tugas OSIS-nya sehingga aku tidak
pernah melihatnya di kelas. “Ada apa?”

“Ah, Tidak. Hanya saja aku
merasa pernah melihat sepeda ini entah di mana,” ujar Kyu Hyun kikuk.
Tentu saja kau pernah melihatnya, dua hari yang lalu kau bahkan menaiki
sepedaku.

“Oh, begitu. Baiklah, kalau begitu aku pergi ke ruang
guru dulu.” Pria itu menepuk pundak Cho Kyu Hyun dan pergi
meninggalkannya. Aa, pria itu menuju ke arahku. Sesegera mungkin aku
menutupi wajahku dengan tas. Teman Kyu Hyun itu telah melewatiku,
berjalan lurus menuju ruang guru. Aku menghela napas lega. Aku berniat
untuk mengecek apakah Cho Kyu Hyun masih berada di sebelah sepedaku atau
tidak. Kutengokkan kepalaku, dan betapa terkejutnya aku mendapati wajah
Kyu Hyun tepat di depan wajahku.

“Tidak baik menguping
pembicaraan orang lain, Nona Shin,” ucapnya dengan menyunggingkan
smirk-nya. Oh, Tidak! Bisakah tidak dengan smirk—itu. Detik berikutnya
ia sudah menyudutkanku ke tembok. “Aku baru tahu jika kita ternyata satu
kelas,” ujarnya. Aku juga baru mengetahui fakta yang satu ini.

“Sepertinya
kau belum memberitahu siapapun tentang-ku.” Pria ini berbicara seraya
mengusap bibirku. Aku hanya diam mendengarkannya. “Kenapa?” tanyanya.

Aku
tersenyum semanis yang ku bisa, “Tidak akan menarik jika aku
mengatakannya sekarang. Lagipula aku bisa menggunakannya untuk yang
lain, untuk mengancammu mungkin.” Kutepis tangannya yang berada di
wajahku. Aku berjalan melewatinya, dia hanya diam tanpa berniat untuk
menghentikanku. Aku berbalik, “Sampai bertemu lagi akhir pekan ini,”
ucapku. Yang aku yakin membuatnya kebingungan, terlihat jelas dari
wajahnya.
***
Akhir pekan yang kutunggu datang. Aku
juga tidak tahu mengapa aku sangat menantikannya. Sesuai perjanjian
seminggu yang lalu, aku dan kakek akan menjamu Tuan Cho dan putranya,
Cho Kyu Hyun. Aku sedang membuat beberapa makanan tradisional Korea
untuk makan malam nanti. Sedangkan kakek sedang membaca koran di ruang
keluarga.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Waktu telah
menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Semua hidangan telah tersaji di
meja makan. Aku melepas apron-ku, dan pergi ke kamar untuk mempersiapkan
diri.

Tiga puluh menit kemudian aku sudah terlihat anggun dengan
dress selutut berwarna putih tulang. Aku menuruni anak tangga satu per
satu. Dapat ku dengar suara bel rumaku berbunyi. Sepertinya tamuku sudah
datang. Aku bergegas menuju pintu depan untuk membukanya. Dan benar
saja, Tuan Cho dan Putranya itu yang ada di hadapanku saat ini.

Dapat
kulihat dari ekor mataku bahwa Cho Kyu Hyun terkejut. Sepertinya pria
ini dapat mengenaliku dengan mudah. Aku tersenyum manis, “Selamat datang
ajeossi,” ucapku. Pria paruh baya ini memintaku untuk memanggilnya
ajeossi, jika berada di luar kantor. “ Dan selamat malam Kyu Hyun—ssi,”
ucapku dan tersenyum semanis mungkin. “Silakan masuk.”

Kami
berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada kakek dengan baju ala
Jepang kebanggaannya. Entahlah, pria tua itu sangat menyukai hal-hal
tentang Jepang. Makan malam berjalan dengan sewajarnya. Sesekali kakek
melontarkan lelucon yang membuat kami tertawa, kecuali Cho Kyu Hyun.
Pria itu, Cho Kyu Hyun, sedari tadi ia menatapku. Aku tidak begitu tahu
mengapa. Mungkin ia terlalu penasaran dengan perubahanku.
***
Seharusnya
aku menghabiskan dua minggu masa libur sekolahku untuk belajar, seperti
murid sekolah lainnya. Tapi saat ini aku terdampar di perusahaan dengan
segudang berkas yang harus aku tandatangani. Belum lagi beberapa rapat
yang harus aku hadiri. Aku bangkit dari dudukku dan merenggangkan
tubuhku. Pinggangku sakit karena duduk di kursi selama berjam-jam.

Telpone
kantorku berbunyi, “Nona, Tuan Cho ingin bertemu dengan anda,” ucap Hae
Ra eonni, sekretaris-ku. “Persilahkan dia untuk masuk,” balasku.

Aku
berjalan menuju sofa yang terdapat diruangan kerjaku ini. Kemudain
merebahkan tubuhku di sana. Kupejamkan mataku. Aku sangat lelah. Detik
berikutnya aku mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali. Dan
suara ketukkan sepatu mendekat ke arahku.

“Hey.”

Aku sangat
hafal suara ini. Cho Kyu Hyun. Suaranya sangat khas. Sehingga mudah
untukku mengingatnya. Aku masih memejamkan mataku, sama sekali tidak ada
niatan untuk membukanya.

Aku merasakan sesuatu menimpa tubuhku.
Berat. Aku membuka mataku dan mendapati Cho Kyu Hyun berada di atasku.
Aku tersentak. “Apa yang kau lakukan!” Tanganku menahan dadanya agar
tidak semakin menindih tubuhku. Kudorong tubuhnya. Tapi dengan cepat ia
mencengkram tanganku dan menahannya di kedua sisi kepalaku.

“Lepaskan!”
Aku meronta. Pria ini semakin merendahkan tubuhnya dan tersenyum
mengerikan. “Yak!” Aku terus meronta, tapi sama sekali tidak merubah
keadaan.

“Aku membutuhkan beberapa penjelasan,” ujarnya. Aku tahu
kemana arah pembicaraannya. Dia ingin tahu alasan apa yang membuatku
berpenampilan berbeda saat di sekolah.

“Itu tidak penting. Aku yakin kau tidak ingin mendengarnya.”

“Tapi aku ingin mendengarnya,” ucapnya berbisik. “Katakan.” Suaranya semakin rendah. Membuat bulu romaku berdiri.

“Aku tidak mau!”

Dia
tersenyum sebentar, kemudian semakin mendekatkan wajahnya padaku. Aku
tergelak. Apa pria ini ingin menciumku. Tebakanku melesat. Pria ini
mengecup leherku, berkali-kali. Detik berikutnya ia menghisapnya. Aku
meronta. “Yak! Hentikan!” Sekeras apapun aku berteriak dan meronta, Kyu
Hyun tidak menghentikan aksinya. “Brengsek kau, Cho Kyu Hyun!”

“Jika
kau tidak ingin mengatakannya, aku akan memenuhi tubuhmu dengan kiss
mark,” ucapnya setelah berhasil membuat tanda di leherku. Brengsek. “Kau
diam, sepertinya kau memang ingin aku mencetak lebih banyak lagi tanda
di tubuhmu.” Pria ini bersiap untuk memulai aksinya.

“Karena aku
tidak ingin orang lain tahu siapa aku. Karena aku tidak ingin mempunyai
teman,” ucapku menggebu-gebu, napasku terputus-putus. “Kau puas?!
Menyingkir dari tubuhku!”

Dapat kurasakan cengkraman tangannya
melonggar. Kugunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri darinya.
Dengan gerakan cepat aku berhasil mendorong tubuhnya menyingkir dariku.
Kemudian aku bangkit dan berlari menuju kamar mandi.

Aku berdiri
di depan cermin besar di dekat wastafel. Kuperhatikan tubuhku, lebih
tepatnya leherku. Di sana terlihat jelas bercak kemerahan. Hasil
perbuatan Kyu Hyun. “Sial!” umpatku.

Aku keluar dari kamar mandi.
Kulihat Kyu Hyun sedang berbicara dengan Hae Ra eonni. Kyu Hyun yang
menyadari keberadaanku, menolehkan kepalanya padaku. “Ayo rapat,”
ucapnya terkesan biasa saja, seolah tidak terjadi apapun tadi. Aku
mendengus. Aku berjalan keluar menuju ruang rapat. Kyu Hyun dan Hae Ra
eonni mengikuti di belakang.

Perusahaanku, S.E.O.U.L Corporation,
menjalin kerja sama dengan Cho Corporation. Kami membuat proyek besar.
Kyu Hyun dan aku yang akan memimpin pembuatan proyek ini. Rapat kali ini
akan membahas tentang proyek tersebut.

Karena proyek ini, aku dan
Kyu Hyun semakin sering bertemu. Makan siang bersama, pulang bersama.
Kyu Hyun bahkan beberapa kali datang ke rumahku, hanya untuk mengerjakan
proyek besar kami. Huh, kami benar-benar di sibukkan dengan proyek ini.
Dua minggu kami habiskan dengan bekerja. Sama sekali tidak ada waktu
untuk belajar.
***
Ujian Akhir Sekolah telah
berakhir. Semua murid tengah mempersiapkan segala sesuatu untuk hari
kelulusan dan pesta perpisahan. Aku tidak tertarik. Kuputuskan untuk
pergi menjauh dari kelas. Aku berjalan menuju taman belakang sekolah. Di
sepanjang perjalanan, aku memikirkan beberapa Universitas yang mungkin
akan menjadi tempatku melanjutkan study. Mungkin aku akan mendaftar di
Kyung Hee University.

Aku sudah sampai di taman belakang. Suasana
di sini sangat tenang. Ya, sangat jarang yang datang kemari. Aku
mengedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari tempat yang nyaman untuk
tidur. Pandanganku terhenti pada sebuah objek yang tak jauh dari
tempatku berdiri sekarang. Di sana, seorang pria tengah memejamkan
matanya dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Aku sangat mengenal
pria itu. Cho Kyu Hyun.

Aku berjalan mendekatinya. Kini aku sudah
berada di hadapanya. Dia masih memejamkan matanya. Kuperhatikan setiap
inci wajahnya. Tampan. Pakaiannya sudah tidak rapih lagi. Dasinya ia
longgarkan dan dua kancing teratas kemejanya terbuka. Rambutnya terlihat
berantakan. Jujur saja, aku lebih suka melihatnya berpenampilan seperti
ini daripada penampilannya yang rapih.

Cukup lama aku
memperhatikannya, sampai ia berkata, “Jangan salahkan aku jika suatu
saat kau jatuh cinta kepadaku hanya karna kau memandangi wajah tampanku
ini, Nona Shin.” Ia berbicara dengan mata yang masih terpejam. Aku
mendengus mendengar ucapanya itu.

Aku mendudukkan tubuhku tepat di
hadapannya. Kemudian kusenderkan tubuhku pada dada bidangnya. Dadanya
dan punggungku saling bersentuhan. Ini sangat nyaman, aku dapat mencium
aroma tubuhnya yang maskulin. Kyu Hyun melingkarkan tangannya di sekitar
perutku.

“Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?” tanyanya berbisik. Dapat kurasakan hembusan napasnya di sekitar leherku.

“Kau
sendiri, apa yang kau lakukan di tempat ini?” bukanya menjawab, aku
justru melontarkan pertannyaan yang sama kepadanya. Kyu Hyun diam. Aku
mendongakkan kepalaku untuk melihatnya. “Kau ada masalah?” tanyaku.
Seketika itu juga ia membuka matanya.

“Apa aku terlihat seperti
orang yang sedang memiliki masalah?” tanyanya. Aku mengedikkan bahuku.
Kyu Hyun menyeruakkan kepalanya di antara perpotongan leher dan bahuku.
Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya di sana. Napasnya yang hangat
menerpa leherku. Aku memejamkan mataku.

Kami diam selama beberapa menit. Tapi pada akhirnya Kyu Hyun membuka suaranya, “Shin Ji Hyun,” bisiknya di telingaku.

“Hmm…. Ada apa?” tanyaku. “Tidak biasanya kau menyebut nama lengkapku.”

“Ayo menikah.”

 

 

 

_The End_

 

Judulnya sedikit melenceng dari isinya haha 😀
Ini gegara terlalu lama memendam ide dan baru terealisasikan sekarang.

Cha, akhirnya menggantung bukan?
Jika respon anda banyak, saya akan membuat sequel-nya.

Oke, saya mohon KRITIK dan SARAN-nya.
Terima kasih

Advertisements

2 thoughts on “One Person Two Personalities

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s