[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 12)

Title                                    : My Wife My Enemy# Conflict 12

The Real Inspiration by      : Dini De’Forest (FB)

The Original Story by         : She Spica Forest

Cast                                                : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

Genre                                  : Family and school life

Rating                                 : PG -17

The Link Before at             : http://hutanberlian.blogspot.com/

 

Terima kasih atas waktu luangnya ^^

please correction~~~

************

 

Kim Jong Woon POV

 

“Ya! Berhenti menggangguku!” Mi Ran mengibas-ngibaskan tangannya berkali-kali untuk mengusirku. Seharian dia bergelut di ruang baca dengan setumpuk komik memenuhi sofa. Aku yang memang sedang memiliki banyak waktu senggang, iseng mengganggunya.

“Hei, ayo temani aku,” pintaku sambil menarik-narik ujung bajunya dengan sikap seperti anak kecil yang manja. Aku tahu ini memalukan, tapi sepertinya rasa maluku padanya sudah hilang. Hal ini justru terasa menyenangkan sekarang.

“Kau ini menyebalkan sekali, Kim Jong Woon! Kau itu memiliki motor besar dan porche carrare di bagasi rumah. Kenapa kau tidak manfaatkan saja mereka kemanapun kau suka?!” Mi Ran bersungut sambil memaki-makiku dengan gaya khasnya.

“Kau pikir mereka bisa diajak bicara seperti manusia? Ya! Aku hanya memintamu menemaniku berbelanja baju. Mengapa kau malas sekali pergi denganku?!” rajukku kesal.

“Aiish, kau pikir kau siapa berani memaksaku melakukan ini-itu?” dia membentakku lebih keras hingga membuatku menciut. Beberapa detik kemudian alisnya terangkat, “Tunggu. Sejak kapan kau bersikap begitu akrab padaku?”

Aku berdehem. Dengan cepat aku mengalihkan pembicaraan.

“Minggu depan kita sudah harus mengikuti ujian kelulusan. Mengapa kau masih saja membaca buku-buku bergambar itu, huh?”

Mi Ran menutup komiknya dengan sikap jengah lalu menghentakannya ke meja hingga terdengar bunyi berdebam kecil.

“Lalu mengapa kau selalu saja menggangguku? Bukankah seharusnya kau belajar seperti biasa dan bukannya mencampuri urusanku?!” mata sipitnya menghunusku. Tatapan mata seperti itu tidak begitu menakutkan bagiku. Aku justru menganggapnya sangat lucu.

“Kau pikir belajar sebelum ujian akan membantumu menyelesaikan persoalan? Yang kita butuhkan sebelum ujian adalah refreshing. Kajja!”

Aku langsung menarik tangannya sebelum dia sadar untuk memberontak. Dan benar saja, begitu ku paksa menaiki mobil, dia langsung menyerbuku dengan pukulan. Aku tak peduli dan langsung menghidupkan mobil dan bergegas meninggalkan pekarangan.

“Bajingan kau, Kim Jong Woon! Berani sekali kau melakukan ini padaku!”

“Berhentilah mengoceh. Duduklah manis dan biarkan aku mengemudi dengan benar. Ok?”

Mi Ran mencibir kesal sambil menghempaskan dirinya ke sandaran kursi. Melihatnya bergumam merutuk tak jelas seperti itu membuat bibirku terangkat ke atas berkali-kali.

“Berhentilah cemberut seperti itu. Kau jelek sekali.”

“Ya!” Mi Ran membentak tak terima. Sebelum dia kembali melampiaskan kemarahannya, aku bergegas membelokan mobil ke arah pusat perbelanjaan.

“Yap, kita sampai. Ayo turun.”

Dia membuka seatbelt sambil kembali merutuk tak jelas. Dengan langkah berat dia mengikutiku memasuki pusat perbelanjaan.

“Aku ingin membeli beberapa kemeja untuk acara resmi dan dua buah kaos lengan pendek untuk di rumah. Bagaimana menurutmu?” aku menanyakan pendapatnya. Dia menghentikan langkahnya sambil melenguh berat. “Kau bercanda? Apa kau tidak pernah memeriksa isi lemari dan mencoba menghitung banyaknya pakaianmu yang terbengkalai di dalam sana?”

“Aishh, kau ini rewel sekali. Persis eommaku. “

“Ya! Jangan pernah berani menyamakanku dengan ibumu!”

Ne, ne.” Aku tak menggubrisnya dengan baik dan segera mengapit lengannya memasuki sebuah distro. Dia hanya mencibir menerima perlakuanku. Di dalam sana aku mengambil beberapa potong kemeja dan baju santai.

“Ambilah sesuatu. Akan ku bayar sebagai ganti kau menemaniku ke tempat ini,” kataku dengan suara lembut.

“Kau bercanda? Sesuatu tidak akan cukup untuk membayarku!”

Lalu dengan membabi buta dia meraih beberapa setel pakaian wanita dan dua buah sepatu yang sesuai dengan gayanya. Lihatlah, dia bahkan nyaris membuatku terpingkal karena ulahnya.

“Bagaimana, kau puas?” sindirku dengan nada bercanda. Kini di kedua tangannya sudah penuh dengan tas belanja kami.

“Jika setiap hari kau mentraktirku seperti ini, aku akan mempertimbangkan untuk mengikutimu kemanapun kau mau.”

Langkahku langsung terhenti. “Jeongmal? Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan barusan?”

Dia berbalik padaku dengan wajah lugu. “Apa itu terdengar seperti gurauan bagimu? Cih, kau itu naïf sekali.”

Dia berbalik dan berjalan meninggalkanku terdiam di belakang. Hanya butuh beberapa detik untuk mencernanya ucapannya, ketika kemudian seutas senyum merekah di bibirku.

“Hei, aku akan selalu mengingat hal itu!” seruku sambil berlari mengejarnya di depan. Dengan langkah riang ku lingkarkan lenganku ke pundaknya. Dia tampak terkejut tapi tidak mencoba menepis sama sekali.

“Baiklah, akan kemana kita sekarang, huh?”

Dia mencibir sambil tersenyum melihat kelakuanku. Untuk sejenak aku berpikir bahwa hubungan kami akan selalu seperti ini. Walau kami tidak tampak seperti sepasang suami-istri, setidaknya aku puas bisa berada di dekatnya sebagai kawan untuk bisa saling berbagi, memaki, dan melindunginya kapanpun aku bisa. Aku tidak pernah merasa betapa berharganya dia untukku seperti hari ini. Hanya untuk hari ini dan untuk hari esok nanti, aku selalu ingin berada di sampingnya seperti ini.

Bahkan ketika aku meraih dan menyematkan jemariku pada jemarinya, aku merasa dunia indah sekali saat ku lihat senyumnya merekah menerima perlakuanku. Gadis yang tidak cantik sama sekali ini sudah memikatku berkali-kali.

“Jong Woon!”

Langkah kami terhenti. Kami saling melontar pandang kemudian bersamaan menoleh ke belakang. Aku terkejut bukan main melihat sosok eomma berdiri memandangi kami dengan sorot mata tajam. Bukan itu saja, aku juga melihat Na Mi di samping eomma dengan ekspresi seduktif memandangku dalam diam.

Eomma berjalan menghampiriku dengan wajah angkuh. Secara naluri kami melepas genggaman tangan kami.

“Apa yang kalian lakukan, huh?” tanyanya ketus dan lantang.

“Apa yang kami lakukan? Kami hanya berbelanja. Memangnya apa yang salah?” balasku acuh yang langsung memancing reaksi kemarahan yang tersirat dari wajah eomma.

“Kau…!” sesaat eomma melirik Mi Ran dengan tatapannya yang menyebalkan. “Ikut Eomma pulang!” titahnya kemudian dan terdengar seperti intonasi final. Tidak dapat dibantah apalagi diganggu gugat. Aku melirik Na Mi, dan dia tampak salah tingkah menghadapi situasi ini. Dengan langkah canggung dia mengikuti arah eomma berbalik pergi. Aku menatap Mi Ran, dan ekpresinya menyiratkan kekhawatiran. Aku meraih tangannya lagi dengan menyalurkan sedikit kekuatan.

“Tidak apa-apa. Ayo!” kataku yang lantas dibalas anggukan olehnya.

Kami mengikuti langkah eomma menuju tempat parkir dan eomma dengan sengaja membukakan pintu lebar-lebar.

“Masuk!” perintahnya tegas. Aku menghela nafas kasar ingin membantahnya.

“Aku bawa mobil, eomma. Kami akan mengikuti eomma dari belakang.”

“Kami?” eomma menatap Mi Ran tajam. Mi Ran menundukkan wajah, namun aku bisa merasakan tubuhnya menegang dari genggaman tangan kami.

“Biarkan supir yang mengantar dia pulang,” aku tercengang dan baru hendak melayangkan protes ketika tiba-tiba sorot tajam eomma kembali menusuk mataku.

“Kau pulang dengan Eomma!”

Aku benci situasi ini. Saat secara paksa eomma mengambil kunci mobilku dan melemparkannya kepada supir, lalu Mi Ran seakan diseret untuk pergi dengannya, sementara aku hanya bisa diam tanpa mampu melakukan apa-apa ketika dia pergi meninggalkan tempat parkir tanpaku di dalamnya.

“Cepat masuk!” eomma melemparkan kunci mobilnya padaku, menyuruhku mengendarainya.

“Na Mi~ah, kau duduk dengan Jong Woon di depan.”

Ne, Ahjumma,” Na Mi tampak menurut, dan karena situasi ini melibatkan Na Mi, aku jadi tidak bisa leluasa membantah semua ucapan eomma. Sepanjang perjalanan, keheningan yang mencekam menguasai kami tanpa bisa dicegah. Wajah eomma yang sedikit berkeriput semakin terlihat menua karena wajahnya terus menerus ditekuk menatapku dari kaca spion. Aku hanya bisa menghela nafas berkali-kali, dan kondisi Na Mi pun tampaknya sama tidak nyamannya denganku, karena dia sudah puluhan kali merubah posisi duduknya sambil berdehem sesekali.

Keheningan terhenti begitu mobil yang ku kendarai tiba di depan rumah Na Mi. dia menoleh ke eomma sambil tersenyum.

Gomawo, Ahjumma Kim, sudah mengantarku pulang,” katanya yang lantas disambut dengan senyuman eomma yang paling manis.

“Kau harus sering-sering mengantarku belanja, Na Mi~ah. Baju yang kau pilihkan untukku cantik sekali,” ulasnya dan dibalas dengan anggukan Na Mi. Dia menundukkan kepalanya sebentar untuk berpamitan, sebelum akhirnya dia membuka sealtbelt sambil tersenyum padaku. Aku balas tersenyum padanya.

“Hati-hati,” katanya, dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

Perjalanan dilanjutkan kembali dalam diam. Kali ini aku terang-terangan memasang wajah kesal pada eomma. Dia sungguh keterlaluan. Kekanakan tepatnya.

Begitu tiba di rumah, eomma bergegas memasuki rumah dan langsung bertemu dengan appa di ruang tengah.

“Kau benar-benar ingin membuat eommamu ini malu dengan prilaku, huh? Berani sekali kau keluyuran dengan gadis itu dan bertingkah seperti sepasang kekasih yang tak tahu diri!!”

Aku dan appa tercengang mendengar ocehan eomma yang tiba-tiba. Apa tadi katanya? Sepasang kekasih tak tahu diri??

Eomma!” teriakku tak habis pikir.

“Hei, hei, hei, sebentar.” appa menyela. “Apa yang sebenarnya kalian debatkan?”

Tergopoh-gopoh dengan sikap seperti wanita teraniaya, eomma menghampiri appa.

Yeobo, dengarkan isterimu yang malang ini. Apa kau tahu apa yang baru saja ku lihat?” seketika eomma menuding padaku. “Dia baru saja berkeliaran dengan gadis itu! Jang Mi Ran!” teriaknya seolah tak terima.

Alis appa langsung mengeryit. “Lalu?” tanyanya bingung. Jelas saja appa bingung. Memangnya apa masalahnya jika aku dan Mi Ran berjalan-jalan bersama? Kami adalah suami-isteri! Apa eomma sudah amnesia?

“Apa eomma pikir kami salah hanya karena kami pergi berdua? Kami bahkan hidup berdua, jadi apa salahnya jika kami pergi kemanapun berdua?” tanyaku mencoba menahan kekesalan dengan merendahkan suara.

“Tentu saja salah! Kau pikir bagaimana jika orang-orang lain melihat kalian, huh?! Terutama, bagaimana jika teman-teman Eomma atau kolega Appamu memergoki kalian berdua? Mau disimpan dimana muka Eommamu ini, huh?!”

“Eomma!” pekikku. “Siapa yang peduli jika orang lain mengenali kami?! Kami suami-isteri! Bahkan seisi sekolah tahu hal itu!”

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku terdiam, tercengang tak menyangka.

EOMMAMU INI PEDULI!!” T eriak eomma dengan suara lantang. Matanya menyiratkan kemarahan hingga memerah dan berair. Aku terdiam, membatu di atas lantai marmer rumah yang tiba-tiba terasa begitu dingin menembus tulang.

“Dengarkan Eomma, Jong Woon. Tidak pernah dalam sedetik pun hidup Eomma bisa merelakanmu menikah dengan gadis seperti dia. Kau pikir siapa gadis itu, huh? Satu-satunya alasan Eomma menikahimu dengan gadis seperti dia hanya karena wasiat kakekmu dan Tuan Jang. Lalu,     APA KAU PIKIR SELAMA INI EOMMA MENYETUJUI PERNIKAHANMU?!” eomma meremas bajuku, tepat dimana hatiku berada, seakan seperti hatikulah yang tengah diremasnya hingga begitu terasa menyiksa.

“Tidak, Jong Woon… tidak pernah. Dan tidak akan pernah.” Tandasnya lantas pergi meninggalkan ruang tengah dengan langkah marah.

Aku terhentak. Terengah begitu menyadari sedari tadi aku menahan nafas yang terasa sesak karena keterkejutan yang melanda.

“Jong Woon..” sebuah tangan menepuk pelan pundakku. Aku menoleh kaku. Appa tampak menghela nafas, lalu berkata, “Appa akan menceritakanmu sesuatu.”

***********

 

Jang Mi Ran POV

 

Aku sudah tahu bahwa Nyonya Kim itu menyeramkan. Tapi aku tidak tahu bahwa dia bisa tampak seperti nyonya-nyonya konglomerat dalam drama-drama, yang selalu ikut campur dan mengintimidasi siapapun yang dekat dengan anaknya. Meski terdengar menyebalkan, tapi aku bisa merasakan betapa menderitanya Jong Woon mempunyai ibu yang selalu turut bertindak dalam segala urusannya. Dia selalu tampak bahagia dengan hidupnya yang bak pangeran negeri dongeng. Meski pada kenyataannya, dia hanyalah pangeran yang terjebak dalam politik istananya sendiri. Terjebak dalam jeruji emas yang entah semenyesakkan apa.

Namun hebatnya, dia lebih beruntung daripada aku. Ibunya selalu mengingatkanku pada ibuku. Dan aku tidak pernah mendapat perhatian sedemikian ekstra bahkan dari haraboji sekali pun. Sedang kasih sayang yang ku terima dari Yoon Ki Oppa, tak lebih dari kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Meskipun aku tahu bahwa Yoon Ki Oppa selalu berusaha menunjukan kasih sayang lebih daripada itu. Namun tetap saja berbeda.

Aku dan Kim Jong Woon memang benar-benar berbeda.

Seperti batuan terjal dan angkasa raya.

Seperti abu dan udara.

Juga seperti rumput liar dan bonsai bunga.

Larut aku dalam keheningan, gemericik air yang tercipta dari gerakan kakiku yang setengah menyelam di kolam, akhirnya membuatku sadar bahwa Nyonya Chang sedari tadi memperhatikanku dengan raut gelisah. Segera ku tepis segala hayalan. Ku fokuskan indraku pada semua kenyataan yang menyesakkan dada.

“Ada apa, Nyonya Chang? Bicaralah..”

“Nona.. Tuan Jang..”

Aku terhentak. Raut Nyonya Chang anehnya sangat terbaca. Tiba-tiba saja ketakutan melanda. Aku berlari meninggalkan rumah meski semua otakku menghitam entah karena apa. Aku menaiki taksi menembus jalanan padat Seoul yang menyiksa waktuku. Haraboji… haraboji… semua tentang haraboji tergambar di benakku. Semua hal tentangnya, hingga membuat hatiku sakit dan mataku mengeluarkan air yang tak henti-hentinya.

Begitu tiba di rumah haraboji, aku melihat seisi rumah dikerubungi beberapa orang tak ku kenal dan beberapa kerabat jauh yang sudah lama sekali tak ku lihat. Mereka memandangiku dan bahkan tak jarang dari mereka berbisik-bisik di depanku. Aku tak peduli. Keberadaan mereka saja sudah cukup menggangguku, jadi aku tak ingin mempersoalkan tentang apakah aku harus sakit hati atau acuh seperti biasa. Dengan langkah berat dan putus asa, dengan segala kemungkinan buruk yang dalam benak telah tercipta, aku memasuki kamar haraboji yang menonjol karena semua mata mengarah kesana.

“Mi Ran… cucuku, Mi Ran…”

Aku terkejut antara mimpi dan nyata. Haraboji memanggil-manggil namaku?

“Kakek!” aku berteriak dan bergegas berlari menghampiri haraboji yang terbujur lemah di atas tempat tidurnya. Alat infus dan detenator jantung mengubah ruangan itu layaknya kamar rumah sakit untuk penderita penyakit parah. Dan kenyataan itu membuat mataku beriak ingin menangis.

“Kakek..” lirihku sambil mencium tangannya yang terasa dingin berkali-kali.

“Mi Ran…” tangannya lemah mengelus-ngelus kepalaku. “Mi Ran cucuku…”

Pada saat itu aku sadar bahwa seumur hidupku, untuk pertama kalinya haraboji memanggilku cucunya. Seketika semua pengalaman dan kenangan pahit yang pernah haraboji ciptakan untukku langsung sirna. Berganti dengan rasa kepemilikan yang terasa nyata dan kasih yang tak bermuara.

“Kakek..” aku merasakan kulit keriput haraboji yang terasa kasar namun hangat menghantam dada. Dia menatapku dengan air mata kasih dan permohonan maaf yang tak terucap. Lagi, aku mengecup tangannya berkali-kali. Menggenggam tangan itu dan berusaha menyalurkan perasaanku bahwa dia milikku. Hanya satu-satunya milikku.

“Jadi kakek… kau tidak boleh meninggalkanku sendiri..” lirihku perih. Berton-ton batu seakan menghimpit dadaku. Dan sesaknya itu luar biasa menyakitkan hingga tersisa berliter-liter air mata yang tercipta.

“Maafkan kakek, Mi Ran…” dengan suara tersenggal, tatapannya beralih kepada sosok di belakangku.

“Yoon Ki…” panggilnya. Saat itu aku baru sadar bahwa Yoon Ki Oppa juga ada di kamar ini.

Ne, haraboji..” Yoon Ki Oppa mendekat sambil merangkulku.

“Jagalah Mi Ran, seperti yang selalu kau lakukan…”

Aku menangis mendengar pesan kakek dan Yoon Ki Oppa pun turut menangis sambil mengangguk-angguk mantap.

“Akan ku lakukan, haraboji. Akan ku lakukan..”

Lagi, dadaku berhenti berdebar ketika haraboji kembali menatapku. Sesuatu setelah tatapan ini, ku yakin akan membuatku mati rasa.

“Maafkan aku, Mi Ran… maafkan aku..”

Aku terisak keras ketika haraboji menutup matanya. Dan aku tahu, bahwa itu untuk selamanya.

*************

 

Kim Jong Woon POV

 

“… dia adalah cucu yang terbuang. Anak yang ditinggalkan. Ayahnya menikah tanpa persetujuan Tuan Jang. Setelah hidup bertahun-tahun dalam kemiskinan, kedua orang tua Mi Ran tewas dalam kecelakaan. Mi Ran yang berusia lima tahun kala itu juga ada di mobil saat kecelakaan. Tubuh mungilnya terhimpit jok belakang. Dia menangis meraung-raung dan berhasil membuat orang-orang menemukan mereka. Setelah itu, seperti yang kau tahu sekarang, Tuan Jang terpaksa harus mengambil alih hak asuh Mi Ran karena memang hanya dia satu-satunya keluarga gadis itu yang tersisa.”

Aku menahan nafas mendengarkan cerita appa.

“Mengapa Appa baru memberitahuku sekarang?” tanyaku lirih tak berdaya. Pikiranku langsung melayang pada Mi Ran.

“Karena semua pengusaha mengetahui cerita ini. Bisa dibilang, ini seperti rahasia umum yang semua orang mengetahuinya akan menutup rapat-rapat cerita ini demi kelancaran bisnis mereka yang sebagian besar sudah dipengaruhi oleh perusahaan besar Tuan Jang. Appa hanya yakin ketika saatnya tiba, begitu kau menggantikan posisi Appa di perusahaan, kau akan mengetahui cerita ini dengan sendirinya. Tapi ternyata, kau memang harus mengetahui cerita ini sekarang.” Appa menunduk dalam. Ada sebersit rasa sesal di wajahnya.

“Jong Woon..” katanya lagi. “Gadis itu begitu kasihan. Kau tahu, berita yang beredar di kalangan kami, bahwa gadis itu tidak diperlakukan baik sama sekali oleh Tuan Jang.”

Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Aku menatap appa dengan raut tak percaya.

“Mungkin karena itulah sepertinya gadis itu menuruti perintah Tuan Jang untuk menikah denganmu diusianya sekarang. Ani, tapi gadis itu selalu berusaha melakukan apapun yang Tuan Jang inginkan. Mungkin hanya itu cara dia untuk mendapat perhatian,” Appa tampak menghembuskan nafas berat. “Seharusnya eommamu juga mengerti hal itu, tapi..”

“Benar. Aku ingin sekali tahu mengapa Eomma bersikap seperti itu kepada Mi Ran.” Tuntutku. Appa tampak terdiam seolah berpikir untuk memutuskan memberitahuku atau tidak. Tapi kemudian dia lagi-lagi akhirnya menghembuskan nafas.

Appa, Eomma, dan ayah Mi Ran adalah kawan dari sejak sekolah menengah. Dan jika kau ingin tahu, sebenarnya kakekmu dan Tuan Jang tidak pernah menjodohkan kalian sejak awal. Akan tetapi dia menjodohkan eommamu dan ayah Mi Ran..”

Mwo??!” Aku merasa langit runtuh seketika. Ada rasa sesal dan marah menyergapku bersamaan saat melihat raut appa yang tampak pasrah. Tiba-tiba tanganku mengepal dan deretan gigiku bergeletukan seolah akan patah.

“Jong Woon!” aku menoleh mendengar teriakan eomma yang tiba-tiba muncul dari arah lain. Di tangannya tergenggam telepon genggam yang masih menyala.

“Jong Woon, Na Mi kecelakaan!” pekiknya panik.

Mwo?!” aku terkejut bukan main.

“Cepat ambil mobil di garasi!” perintah eomma tergesa-gesa. Setelah itu, seolah lupa dengan semua hal yang appa ceritakan, aku sibuk mencari kunci mobil yang entah ku letakkan dimana. Saat ku lihat benda silver itu tergeletak di meja, segera saja aku meraihnya. Namun baru beberapa langkah hendak meninggalkan ruang tengah, suara appa pelan memanggilku.

“Jong Woon,” lirihnya seraya menghempaskan tangannya yang tengah menggenggam ponsel dengan lunglai ke bawah. Aku menatap appa hati-hati. Firasat buruk lain menyergapku dengan kejam.

“Tuan Jang baru saja meninggal..”

Ada yang berkata bahwa udara itu putih, dan langit itu biru. Namun semuanya kini tampak kelabu bagiku. Wajah Jang Mi Ran dalam keterpurukan yang dalam langsung membenam benakku. Keraguan yang mencuat keluar ini membuatku ingin bunuh diri. Rasanya hidup dalam kematian akan terasa nyaman karena tidak ada apapun yang bisa ku pilih sama sekali.

Tidak akan ada yang membuatku membeku di tempat seperti ini.

“Jong Woon, cepat!!” Eomma muncul lagi dengan berganti pakaian. Sementara appa hanya diam menatap sendu padaku. Dalam kebingungan, aku menatap mereka bergantian.

Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan??

 

 

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

And then, please correction~~~

Publised by Allison

Advertisements

5 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 12)

  1. hhhiiikksss Harabeoji meninggal terus siapa yg akan melindungi mi ran ? Jd ternyata ibunya jong woon yg mau dijodohin sm appa Mi Ran…tp Kenapa dia gk kasian sm Mi Ran ? Isssh eomma Kim memang Benar2 pengacau hrsnya Jong Woon lebih milih Nemenin Mi Ran dibandingkan Na Mi

  2. kasian banget ama mi ran.. udah dicacimaki ama eommany jongwoon, harabojinya.. ninggal lagi..

    ahhh makin penasaran…

  3. apa eomma nya jong woon dendam krna ga jadi nikah sama appa nya miran?? apa gimana??? aduuh aku penasara >.<
    jong woon kasian ihh bingung, lbih kasian lagi mi ran, ga nyangka kan kalo kisah hidupnya mi ran menyedihkan banget T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s