[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 11)

Tittle           : My wife, my enemy # Conflict 11

Genre          : Battle heart

Cast                        : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

The Most Real Inspiration by         : Dini De’Forest (FB)

 

Terima kasih atas waktu luangnya ^^

please correction~~~

**************

Jang Mi Ran POV

 

“Tuan mengalami serangan jantung mendadak ketika usai menemui kepala sekolah nona. Saya sendiri sedang mengisi bensin saat itu, jadi saya sungguh menyesal telah meninggalkan Tuan Jang sendirian,”

Sekretaris Park yang juga merupakan tangan kanan haraboji, membungkuk padaku. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain menatap wajah haraboji yang tertutupi masker oksigen dengan perasaan perih. Aku tidak akan berpura-pura tidak tahu mengapa haraboji seperti ini. Pasti mengenai kepala sekolah yang mengatakan sesuatu tentang pernikahanku dan Jong Woon.

Ya Tuhan, rasanya aku ingin mati!

“Jong Doo…”

Aku terhentak mendengar suara kakek. Beliau siuman! Seutas senyum langsung menghiasi wajahku.

“Jong Doo… Park Jong Doo…” kakek mulai membuka matanya sambil menyeru-nyeru Sekretaris Park.

“Ya Tuan, saya di sini,” Sekretaris Park langsung berdiri di sebelahku. Sejenak aku menyadari kesalahanku. Kakek pasti marah melihatku di sini. Baru berniat meninggalkan tempat, mata kakek langsung tertuju padaku. Aku tertegun. Kami bertatapan cukup lama dan sukses membuatku tertegun menahan napas. Hanya beberapa detik sebelum akhirnya haraboji memalingkan muka kea rah Sekretaris Park.

“Jong Doo, dimana Yoon Ki?” tanyanya serak.

“Saya baru mendapat laporan bahwa tuan muda baru saja mendarat dari Tokyo, dan sekarang sedang menuju kemari,” jelas Sekretaris Park dengan suaranya yang selalu rendah dan penuh rasa hormat. Tiba-tiba saja kakek bangkit yang lantas membuatku dan Sekretaris berniat menahannya, namun terhenti ketika tatapan beliau menolak.

“Tidak usah. Aku akan pulang. Suruh Yoon Ki langsung ke rumah. Apakah dia bersama Yoon Sa?”

“Iya, tuan muda juga bersama dengan nona Yoon Sa, tapi tuan…” suara Sekretaris Park terhenti. Dia menatap kakek dengan raut khawatir. “Benarkah Tuan akan pulang? Dokter bilang―”

“Aku tidak peduli apa kata dokter!” kakek membentak Sekretaris Park dengan keras. Beliau memberikan tatapan tegas yang siapa pun tidak akan berani melawannya. Benar saja, Sekretaris Park langsung mengangguk mengerti.

“Siapkan mobil. Biar pengacaraku yang mengurus biaya rumah sakitnya.” Perintah haraboji dengan suara yang sudah lebih rendah namun tidak menghilangkan ketegasan di dalamnya.

“Baik Tuan.”

Haraboji langsung membuka dan mencabut infusnya dengan paksa. Aku tidak bisa mencegahnya karena beliau bukanlah orang yang mau menerima saran orang lain meskipun itu bak baginya.

“Apa yang kau lakukan? Cepat bantu aku!” kakek menegurku yang setengah melamun. Aku langsung bangkit dari kursi dan membantu kakek berjalan meninggalkan ruangan.  Seorang perawat yang baru masuk ke ruangan tampak heran dan kebingungan melihat haraboji yang sama sekali tidak peduli dengan kondisinya dan pergi begitu saja.

Aku membantu memapah kakek berjalan. Dia tidak berbicara sama sekali ketika kami melewati koridor rumah sakit yang panjang. Bahkan menyinggung masalah ‘itu’ pun tidak. Namun hal ini sama sekali tidak menyurutkan rasa was-wasku. Mungkin saja nanti kakek akan memarahiku habis-habisan jika sudah sampai rumah.

Aku terkejut ketika kakek tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ternyata begitu tiba di lobi hotel, beliau melihat kedua mertuaku tengah mengobrol di sebuah kursi tunggu.

Kakek baru akan menghampiri mereka dengan wajah ramah, namun langkahnya terhenti ketika mendengar satu kalimat yang terlontar dari Nyonya Kim.

“Sudah ku bilang kan, ini gara-gara anak kurang ajar itu makanya Jong Woon nyaris saja dikeluarkan dari sekolah!”

Aku terkesiap. Hatiku berdebar bukan karena merasa terhina oleh ucapan Nyonya Kim yang memang sudah biasa mencelaku. Aku justru cemas dengan ekpresi kakek yang dingin seperti batu mendengar penuturan itu. Aku mengambil inisiatif untuk membawa kakek pergi jauh dari mereka. Namun sepertinya kakek sama sekali tidak berniat pergi walaupun aku sedikit memaksa dengan menarik lengannya.

“Sudahlah, yeobo. Kau tidak perlu memperkeruh masalah. Tuan Jang pasti lebih menderita karena mendengar Jong Woon dan Mi Ran nyaris dikeluarkan. Lihatlah, sekarang beliau berbaring tak berdaya di rumah sakit ini,” tutur Tuan Kim dengan suara rendah penuh wibawa. Nyonya Kim langsung memberikan tatapan mendelik padanya.

“Ini semua karenamu! Kalau saja kau tidak menuruti perintah Tuan Jang untuk menikahkan anak kita dengan cucunya, hidup Jong Woon pasti tidak akan menjadi serumit ini! Tega sekali kau mengorbankan masa depan Jong Woon yang sangat cerah dengan menikahinya di usia muda dengan gadis yang sama sekali tak punya etika! Mau dibawa kemana martabat keluarga kita ini!” Nyonya Kim terus saja mengoceh tanpa henti. Aku menelan ludah dan dengan keberanian dan sedikit rasa takut, aku menatap haraboji. Dia berdiri menegang dengan raut dingin melebihi kutub selatan. Lagi, raut tanpa ekpresi itu membuatku perih. Aku sama sekali tidak ingin kakek mendengar semua omong kosong ini. Aku tidak ingin dia merasa kecewa dengan pilihannya membangga-banggakan keluarga Kim dan harus mendengar semua serapah ini. Cukup aku yang merasakan semua ini. Cukup aku….

Aku tersentak merasakan genggaman erat jemari kakek di tanganku.

“Ayo pergi,” katanya lirih. Aku mengangguk mengerti dengan menahan rasa sakit karena celaan Nyonya Kim mengenai aku. Aku memang gadis arogan, kurang ajar dan tak tahu diri. Tapi aku sama sekali baru tahu rasanya sesakit ini ketika orang lain membicarakan keburukanku. Aku tak mungkin menangis di depan kakek hanya karena hal ini. Ini bukan masalah bagiku. Bukan masalah karena hal ini sering ku alami sepanjang hidupku. aku tak perlu menangis karena sakit hati adalah makananku. Nanah yang ku teguk setiap hari dengan menahan semua emosi. Lagi, aku memantapkan hati dengan menarik nafas sebanyak yang bisa aku tampung untuk membuat tameng ketegaranku lebih kuat.

Aku menatap kakek dengan seutas senyum, meskipun beliau hanya diam dan berjalan lurus ke depan. Bahkan sebelum kaki kami keluar meninggalkan lobi, kau masih bisa mendengar ocehan Nyonya Kim yang sejenak membuatku merasa rendah sekali namun segera ku tepis dengan menahan gejolak di hati.

“Kalau bukan karena Jong Woon di terima di Universitas Korea, aku mungkin akan gantung diri melihat putraku dikeluarkan dari sekolah. Cih! Beruntung sekali gadis itu mendapatkan suami sesempurna anakku!”

 

**********

 

Kalau bukan karena Jong Woon di terima di Universitas Korea, aku mungkin akan gantung diri melihat putraku dikeluarkan dari sekolah. Cih! Beruntung sekali gadis itu mendapatkan suami sesempurna anakku!

Meski emosiku sudah terkendali, tak bisa ku pungkiri bahwa kata-kata Nyonya kim masih saja membekas di hati. Apakah aku memang gadis beruntung seperti yang dia kira? Apakah aku harus merasa bangga menikahi anaknya?

“Kakek!” pikiranku teralihkan mendengar suara Yoon Ki Oppa. Aku baru sadar kami telah tiba di rumah. Kakek tersenyum sejenak melihat Yoon Ki Oppa menyambutnya.

“Eonni…” aku terkejut menyadari Yoon Sa yang entah sejak kapan sudah bergelayut manja memeluk kakiku. Aku berjongkok untuk mensejajarkan tinggiku dengannya.

“Halo, sayang. Bagaimana kabarmu?” tanyaku sambil mengelus-elus kepalanya.

“Yoon Sa sehat-sehat saja!” dia menjawab riang sambil memamerkan gigi kelincinya yang menggemaskan. Aku tersenyum terhibur. Anak ini selalu bisa mencerahkan suasana hatiku yang buruk.

“Kau baik-baik saja, Mi Ran?” sebuah kecupan mendarat di pipiku. Aku bangkit sambil membawa Yoon Sa ke dalam gendonganku.

“Aku baik-baik saja, Oppa.” Aku tersenyum sumringah. Lalu aku mengulurkan tanganku padanya. “mana oleh-olehku?”

“Ck, kau ini…” Yoon Ki Oppa berdecak berpura-pura kesal. Aku dan Yoon Sa hanya tertawa. Sungguh, aku sangat merindukan mereka. Rasanya air mataku membludak melihat malaikatku menawarkan pelukan hangatnya. Aku menurunkan Yoon Sa dan langsung menghambur ke pelukan Yoon Ki Oppa. Aku tahu dia sedikit terkejut dengan perlakuanku. Tapi aku teramat membutuhkannya saat ini.

“Hei, kau bilang kau baik-baik saja.” Suara Yoon Ki Oppa terdengar cemas sambil kedua tangannya membalas pelukanku erat. Aku menyembunyikan wajahku di balik rambutnya yang sedikit lebat.

“Aku hanya merindukanmu, Oppa. Apa itu salah?” kataku pelan. Aku tidak mendengar jawaban. Hanya tangan kekarnya yang membelai-belai tubuhku dengan hangat. Membuatku merasa nyaman dan aman. Aku benar-benar merasa terlindungi di dalam pelukannya ini.

“Yoon Ki! Ikut kakek ke kamar!” suara tegas kakek menghentikan reuni singkat kami. Sebenarnya aku tidak rela, tapi apa boleh buat, kami tidak mungkin membantah kakek.

“Nanti kita bicara lagi,” Yoon Ki Oppa mencium bibirku singkat lantas berlalu mengikuti langkah kakek ke ruangannya.

“Eonni, ayo main di kamar,” Yoon Sa menarik-narik tanganku. Aku tersenyum mengangguk sambil menggandengnya masuk ke kamarnya.

“Eonni lihat! Yoon Sa dan Yoon Ki Oppa membeli ini semua untuk Eonni..”

Aku terkejut melihat berbagai jenis barang memenuhi kamar. Ada pakaian, sepatu, ransel kulit, bahkan cardigan biru yang sungguh lucu. Ya ampun.. mereka ini senang sekali membuatku terenyuh.

Selagi Yoon Sa memamerkan barang bawaannya, dan aku menyimak sambil tersenyum, aku melihat ponselku mengeluarkan cahaya yang berkedip-kedip menandakan sebuah panggilan atau sebuah pesan masuk. Aku memang sengaja menon-aktifkan nada dering dari kemarin, jadi tidak terdengar ketika ada sebuah panggilan atau pesan.

Ketika ku periksa, ada 20 panggilan tak terjawab dan lima pesan yang sama. Dari Jong Woon.

Kau dimana? Dimana haraboji? Mengapa dia tidak ada di ruangannya?

Menghindari rasa kemanusiaannya yang berlebihan, entah itu tulus atau bukan, aku segera menjawab pesannya.

Haraboji memaksa pulang. Kami di rumah sekarang.

Hanya beberapa detik ketika pesan itu sampai, ponselku langsung menyala-nyala menerima reaksi panggilan. Aku menghela napas. Mengapa dia berlebihan sekali?

“Ya?” jawabku malas.

“Apa benar kau di rumah haraboji sekarang?”

Aku mendesah sambil memijat-mijat keningku yang mendadak pusing mendengar suaranya. “Ya, Aku memang di rumah kakek.”

“Aku akan ke sana sekarang.”

Aku terkesiap. “Apa?! Tidak! Kau tidak boleh ke sini!” mengingat kejadian di rumah sakit tadi, Aku tidak yakin kakek ingin menemuinya.

“Memangnya kenapa? Aku hanya ingin menjenguk kakek dan menjemputmu pulang,”

Aku terdiam sejenak mencari alasan.

“Kakek sedang istirahat. Dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini,” kilahku akhirnya.

“Apakah beliau baik-baik saja?”

Sure. Itulah alasan mengapa beliau bersikeras pulang,” jawabku cepat.

“Kalau begitu aku akan menjemputmu kesana,”

Dia benar-benar tidak menyerah. Keningku semakin berdenyut saja melawan argumennya.

“Aku bisa pulang sendiri dengan bus. Kau tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak berguna.”

Klik. Aku langsung memutuskan sambungan.

“Eonni, bagaimana?” suara Yoon Sa menyadarkanku. Aku tersenyum menyadari bahwa ternyata sedari tadi dia tidak berhenti menjelaskan barang bawaannya satu persatu.

“Bagus sekali, Yoon Sa. Eonni sangat suka.” Ku pamerkan senyum terbaikku padanya.

“Jeongmal?” wajahnya sumringah. “Kalau begitu ambil semua untuk eonni,” dia menyodorkan padaku semua barang-barang itu. Gigi kelincinya menyembul membuatku gemas. Dia lucu sekali.

“Baiklah. Kalau begitu eonni akan membawa semua barang-barang ini pulang.” Kataku sambil menerima semua kantong-kantong itu.

“Eonni mau pergi?” wajah bahagianya meredup berganti sendu.

“Kau sudah mau pulang?” aku baru akan menjawab Yoon Sa ketika tiba-tiba Yoon Ki Oppa sudah berdiri di daun pintu. Aku tersenyum melihatnya sambil mengangguk.

“Iya, oppa. Aku harus pulang karena Jong Woon sudah menghubungiku.”

“Apa dia tidak menjemputmu?” tanya Yoon Ki Oppa dengan raut tak suka. Aku tersenyum simpul mengerti maksudnya.

“Dia sudah menawarkan tadi. Tapi karena takut mengganggu istirahat kakek, ku suruh dia menjemputku di halte saja,” jelasku berbohong. Yoon Ki Oppa mengangguk mengerti sambil berjalan menghampiriku. Tanpa aba-aba dia memelukku dengan erat.

“Oppa rindu sekali padamu,” lirihnya pelan dan sukses membuatku terharu.

“Nado, oppa,” balasku sambil mengeratkan pelukan kami.

************

 

Angin berhembus cukup kencang malam ini. Ditemani sepasang pemuda-pemudi yang tengah merajut kasih, sendirian aku tersenyum kecil melihat tingkah mereka di halte ini. Disamping kanan-kiriku beberapa kantong belanja memenuhi pandangan. Mengingatkanku akan Yoon Sa yang dengan nada merajuk memaksaku membawa semua buah tangannya dari Jepang ini ke rumah.

Pandanganku teralihkan kepada sepasang pemuda-pemudi tadi yang sudah pergi dengan taksi. Tinggal aku yang benar-benar sendirian di sini. Aku melirik ke arah kanan dan melihat bus mulai mendekat. Aku tersenyum lega. Ketika bus tiba dan daun pintunya terbuka, aku kelimbungan meraih kantong belanjaan yang lumayan banyak. Aku baru hendak berlari memasuki bus ketika tiba-tiba sebuah tangan mencengkram lenganku. Aku terkejut di sana sudah ada Jong Woon menatapku tajam.

“Sudah ku bilang aku akan menjemputmu. Apa kau tidak punya telinga, huh?”

Aku mencibir. Kehadirannya benar-benar tidak ku harapkan.

“Hei, kalian mau naik tidak?” seruan supir bus menyadarkanku.

“Tidak, tuan. Kami minta maaf,” Jong Woon malah membungkukan badannya hingga pintu bus tertutup dan bus melaju pergi. Aku menghempaskan tangan Jong Woon yang masih mencengkram lenganku.

“Hentikan. Kau benar-benar kekanakan, Kim Jong Woon,” cibirku kesal. Ku lihat dia malah tertawa meremehkan. “Kau bilang kau kekanakan?” matanya melotot serius. “Hei, kau sadar tidak dengan apa yang kau ucapkan?”

Ok, baiklah. Menurutnya aku yang kekanakan.

Fine. Anggap aku yang kekanakan. Kalau begitu kau bisa kan tidak mencampuri urusan anak kecil ini, huh?” kecamku dengan nada geram. Dia malah kembali mencengkram lenganku. “Kau ini kenapa, Mi Ran? Apa kesalahanku sekarang sampai kau harus selalu menyulut pertengkaran denganku?!” dia membentakku dengan nada tinggi. Aku menghela nafasku pelan setelah menyadari emosiku meninggi. Mungkin aku memang terlalu gegabah melampiaskan kekesalanku tanpa alasan. Aku hanya masih teringat jelas ucapan Nyonya Kim di rumah sakit tadi dan rasa nyeri itu masih membekas di hati. Meski begitu aku juga tidak berhak menghakimi Jong Woon seenaknya. Biar bagaimanapun, suka tidak suka, aku harus mengakui bahwa dia tidak bersalah sama sekali.

“Aku hanya ingin sendiri. Itu saja,” lirihku pelan. Aku bukanlah tipe orang yang bisa berbasa-basi dengan sopan kepada siapapun, apalagi di depannya. Bagaimana pun, masalah tentang pernikahan kami yang sudah merebak di sekolah tetap menjadi prioritas masalahku saat ini. Mungkin hanya itu yang bisa ku jadikan alasan untuk bertengkar dengannya.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Pihak sekolah sudah memutuskan untuk tidak mengeluarkan kita selama kau tidak hamil. Aku juga akan memastikan bahwa tidak akan ada seorang siswa pun yang akan mengganggumu lagi. Apa itu cukup?”

Penuturannya itu cukup membuatku terperangah. Dia, Kim Jong Woon, sudah mengurus semua? Tiba-tiba sebuah perasaan tidak berdaya menyergapku lagi. Aku sungguh tidak menyukai perasaan ini. Mengapa harus Kim Jong Woon? Mengapa harus selalu dia yang berlaku pahlawan di setiap masalahku?

Aku tertunduk dalam. Tanganku mengepal menahan geram.

“Mengapa…” lirihku terputus.

“Apa?” dia bertanya dengan nada jengah. Aku mendongak menatapnya.

“Mengapa kau harus melindungiku?” tanyaku tak rela. Ku lihat ekpresinya kebingungan menghadapi pertanyaanku. Aku belum pernah melihatnya salah tingkah seperti itu. Namun jawabannya berikutnya, meskipun terbata, cukup menyentuh hatiku.

“I, itu.. ka, karena kau adalah isteriku.”

Aku tak tahu entah karena dorongan apa, aku melupakan banyak momen menyakitkan yang ku terima hari ini karenanya. Tanpa kata-kata yang bisa ku susun untuk menolak apalagi membantah, aku menikmati saat dimana dia meraih jemariku, menyematkannya erat dengan jemarinya, lalu menarikku pergi meninggalkan halte kesunyian dan membawa perasaanku singgah di perapian hangat yang tanpa ku sadari perlahan membakar sesuatu di dadaku ini.

***********

 

Kim Jong Woon POV

 

Aku melewati koridor sekolah tanpa arah yang pasti. Kedua tangan ku masukkan ke dalam saku celana dan membiarkan langkahku menjadi bayangan sosok yeoja di depanku. Aku sengaja mensejajarkan langkah kami agar beirama sama. Sesekali punggungnya yang tegak dan tampak seperti benteng yang tak tertembus itu membuatku tersenyum sendiri. Ranselnya yang bergoyang-goyang pelan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kurus namun terisi. Aku baru sadar bahwa tubuhnya begitu ramping dan datar seperti papan setrikaan. Benar-benar tidak berbody. Namun pemandangan itu tidak membosankan sama sekali, dan fakta itu membuatku terkikik geli. Aku seperti orang gila yang menahan tawa sementara sekitarku banyak sekali murid yang berbisik-bisik tentangku. Anehnya, aku tidak peduli. Atau aku memang benar-benar sudah tidak waras lagi?

“Ya! Mengapa kau mengikutiku terus, huh?!”

Aku terkejut mendengar suara di depan membentakku. Tanpa ku sadari, entah sejak kapan sosok yang ku ikuti itu menyadari keberadaanku. Rasanya aku malu setengah mati. Untungnya aku masih punya cukup udara untuk bisa bersikap normal di depannya.

“Siapa yang mengikutimu? Aku?” tanyaku dengan tampang bodoh. Dia memelototiku dan anehnya melihatnya seperti itu cukup menarik bagiku.

“Kau tidak punya kerjaan, huh? Bukankah kau ketua osis? Untuk apa kau menghabiskan waktu berhargamu dengan mengikuti murid bodoh sepertiku?!” tukasnyasambil berkacak pinggang.

“Ya! Kau percaya diri sekali, Jang Mi Ran! Aku ini ketua osis yang sebentar lagi akan pensiun. Tentu saja aku memiliki banyak waktu tapi bukan untuk mengikutimu!”

“Mwo??!” teriaknya tak terima. “Ya! Kau…” dia langsung memukuliku dengan ranselnya. Sakit sekali rasanya karena ku yakin ranselnya itu penuh terisi dengan komik bacaannya. Lagi-lagi sepertinya aku memang perlu berkonsultasi dengan psikolog karena aku malah menikmati kesakitan ini. Aku malah tertawa-tawa menghindari pukulannya namun sama sekali tidak berusaha lari darinya.

Baiklah. Mungkin yang ku butuhkan bukan psikolog, tapi rumah sakit jiwa.

“Jong Woon…”

Kami berhenti bercanda-canda ketika ku lihat Na Mi menghampiriku. Perasaan canggung langsung menyeruak begitu saja.

“Aku pergi.” Pamit Mi Ran tanpa bisa ku cegah. Sepeninggalannya, aku langsung garuk-garuk kepala sambil mengumbar senyum simpul penuh malu yang tak bisa ku sembunyikan. Na Mi tampak agak risih melihatku.

“Umm.. kalian seperti sepasang suami-isteri yang sedang bertengkar,” imbuhnya yang lantas membuat tengkukku terasa gatal hingga harus ku garuk. Aku tak mungkin berpura-pura bahwa Na Mi tidak mengetahui semua gosip yang menyebar di seluruh pelosok sekolah. Bagaimanapun, dia adalah teman kecilku yang antara kami berdua selalu saling tahu satu sama lain. Dan aku menemukan keanehan itu lagi. Perasaan bahwa sekarang aku hanya benar-benar menganggap Na Mi sebagai sahabatku. Perasaan merelakannya dengan tulus kepada JungSu.

“Selamat atas pernikahan kalian,” dia mengulurkan tangannya padaku. Aku meraihnya dan menerima jabatan tangannya dengan perasaan sehangat mentari ketika menemui tempatnya di pagi hari.

“Terima kasih, Na Mi,” tanpa berpikir panjang aku langsung memeluknya dengan perasaan senang. Aku tidak tahu bahwa kejujuran semenyenangkan ini. Seperti melepaskan tali yang kemarin mengekang dadaku kuat hingga membuatku sesak.

Aku sempat bingung ketika mendapati gelagat Na Mi yang tampak canggung menerima pelukanku. Namun aku mencoba menepis itu dan melepas pelukan kebebasanku sambil tersenyum manis padanya.

Rasanya, aku melihat dunia indah sekali hari ini.

 

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

Attention! Di larang coment “Kok publisnya lama banget!” karena kemarin-kemarin laptop saya rusak 😥

Terima kasih untuk yang sudah menunggu FF ini…

Bagi yang yang ketinggalan part sebelumnya, silahkan kunjungi blog abal-abal saya: http://hutanberlian.blogspot.com/

And then, please correction~~~

Publised by Allison

Advertisements

5 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s