[Ryeowook] Oneshot – One Hot Choco, please?

Tittle                : One  Hot Choco, please?

Genre              : Romance,

Rated              : T / Teenagers

Length             : Oneshot

Main Cast        :

-Kim RyeoWook as Kim Ryeowook

-Han Ji Neul as Han Ji Neul (OC) or as YOU (it’s up to the reader J )

Other Cast       :

-Kim Jongwoon as Kim Yesung

-Park Jungsoo as Leeteuk

-Kim Jongjin as Kim Jongjin

Author             : Pokupon ( sebenernya saya gak nyaman dengan sebutan author, soalnya saya Cuma hobi nulis aja, jadi panggil aja Poku .____.  Karena berhubung tiap FF pasti harus nyantumin nama Author, jadi yaa.. anggep aja saya adalah Author *apasih muter aja -_-

 

Poster/ Cover : Pokupon

 

Facebook         : facebook.com/fuukafika.rafika

 

Twitter                 : https://twitter.com/Rafrafika19 (@Rafrafika19)

Disclaimer       : all the cast are belong to God and their self. Poku Cuma meminjam nama mereka. Jika alur mulai tidak masuk akal mohon terus aja lanjut baca, nanti juga normal-normal sendiri *apadeh.

 

Do Not BASH!!!

 

Do Not Copy-Paste!! Lagian ini Cuma ep ep abal yang isinya Cuma luapan imajinasi gak masuk akal Poku~ alurnya gaje dan biasa aja. Jadi daripada nambah-nambahin dosa gegara nyolong ep ep orang, mending cukup baca dan tinggalkan kritik dan saran buat Poku. Okehh??? :3

 

Oke ini kebanyakan curcol, jjaaa~~~ cekidott aja laahh~~ :3

 

 

 

.

 

.

 

.

 

ooO~Happy Reading~ Ooo

 

 

 

 

 

Beberapa orang tidak menyadari rasa dari memiliki seorang dekat yang bisa diajak bicara apapun kapanpun, makan dan tertawa bersama, pergi berdua kemanapun, berbagi resah dan gelisah, juga menatap masa depan dengan harapan yang sama.

 

 

 

Kau menyendirikan dirimu dalam kesepian dan kesedihan. Membiarkanmu larut terlalu lama untuk penantian yang tak pernah ada kejelasannya.”

 

 

 

 

 

 

 

Sudah hampir 15 menit gadis itu diam berdiri mengantri di depan tempat pemesanan. Sampai akhirnya pelanggan di depannya selesai menentukan pesanannya.

 

 

 

Namun gadis itu sepertinya terlalu asyik dengan lamunannya untuk menyadari bahwa antrian di depannya sudah kosong. Membuat si pemilik café bermuka adorable yang sedang menjaga tempat pemesanan harus mengulang pertanyaannya pada si gadis pelanggan.

 

 

 

“a,ah..ye?”akhirnya si gadis bangun dari lamunannya. “eung..aku..pesan..”  ia melihat deretan menu yang tertulis di papan kayu yang tertempel di dinding café. Ia memilih cukup lama sampai akhirnya Yesung – si pemilik café bermuka adorable itu – mencoba memberi saran.

 

 

 

“Apa kau suka coklat?” Yesung bicara seramah mungkin.

 

“Ung?”

 

“Kami memiliki menu yang banyak disukai gadis remaja sepertimu. Hot choco.”Sarannya.

 

Gadis itu tampak berpikir.

 

“Atau kau mau menu yang lain? mungkin Vanila Latte bisa membuatmu sedikit lebih rileks..” senyum masih melekat di bibir Yesung.

 

 

 

ooOOOoo

 

Sudahberjalan hampir dua minggu ia datang ke Mouse & Rabbit secara rutin. Han Ji Neul lagi-lagi membiarkan pikirannya kosong. Melamunkan sesuatu yang membuatnya tampak murung akhir-akhir ini. Memang ia bukanlah tipikal gadis yang hiperaktif dan tak bisa diam duduk seperti yang ia lakukan sekarang, di salah satu bangku milik coffeeshop Mouse& Rabbit ini.

 

 

 

Ia hanyalah gadis pendiam. Tapi bukan pe-la-mun. Atau juga pe-mu-rung. Entah apa kata yang tepat untuk menggantikan dua kata yang terdengar tidak enak saat dieja itu.

 

 

 

Pantulan dirinya di dinding kaca café itu tampak sendu. Ditambah dengan caranya menatap ke luar kaca dengan sayu, membuatnya terlihat seakan ia adalah tokoh utama sebuah mellow-drama yang sedang digemari dikalangan ahjumma.

 

 

 

Secangkir Hot Choco tampak masih setia menemaninya. Masih mengisi tiga perempat wadahnya di hadapan gadis bersurai hitam itu. Mungkin tidak bisa disebut ‘Hot’ lagi karena si pemilik mengabaikannya terlalu lama hingga dingin.

 

 

 

“Apa ada yang salah dengan minumannya?” suara bass khas laki-lakiberhasil membuyarkan lamunannya. Membuat yang bersangkutan merasa tak enak karena tampak tak menikmati pelayanannya.

 

 

 

Ia menggeleng sungkan. “Ini sangat enak.” Ia mengangkat cangkirnya lalu menyesapnya sedikit. Setelahnya, ia melempar senyum pada pemuda itu. Terlihat sedikit dipaksakan.

 

Awalnya kedua alis pemuda itu berkerut, tapi akhirnya ia ikut tersenyum. Ia mengambil duduk di depan Ji Neul setelah sebelumnya meminta persetujuan.

 

 

 

“Syukurlah kalau begitu..” ucap Yesung-si pemuda. “Aku hanya ingin memastikanbahwa pelangganku mendapat pelayanan yang tepat. Dan..” ia menggantung kalimatnya lalu melirik ke arah dapur. Tampak seorang namja berseragam café memberinya isyarat mengancam untuk menyuruh manajer nya itu tutup mulut.

 

 

 

“Dan..?”Ji Neul mengulang kata terakhir Yesung.

 

 

 

“Dan seseorang memintaku mencari tahu mengapa gadis pelanggan yang selalu duduk di bangku sudut tampak sering murung” jawab Yesung polos. Ia tersenyum sangat lebar, hampir menyeringai. Mata sipitnya masih tertuju pada dapur. Membuat pandangan Ji Neul mengikuti direksi yangdituju Yesung.

 

 

 

 

 

DEG~

 

 

 

Bertemu.

 

 

 

Tatapan keduanya bertemu.

 

 

 

JiNeul dan namja berseragam café itu.

 

 

 

Lelaki itu langsung pucat dan tak bisa menahan tubuhnya untuk tidak berbalik membelakangi mereka.

 

 

 

 

 

ooOOOoo

 

 

 

 

 

“Ayolah Ryeowook-ah.. kau bukan anak kecil lagi yang harus marah hanya karena hal sepele” Yesung mencoba membujuk salah satu barista terbaiknya yang sedang kesal entah apa sebabnya.

 

Yang dibujuk hanya menyilangkan tangannya di depan dada dengan angkuhnya.

 

 

 

“Tsk,kau ini kan laki-laki. Mari lupakan yang tadi dan tertawa bersama.Ada banyak pesanan yang ditunggu pelanggan..” mohonnya lagi.

 

Ryeowook menatap manajer nya tajam. “Ini bukan hal yang bisa ditertawakan,hyung.”

 

 

 

“Kau tau betapa inginnya aku mencekikmu saat kau dengan mudahnya mengatakan—“ Ryeowook tertahan. “Aakkhhh!!!! Sudahlah!!” ia melepas celemek bergambar telinga tikus itu dari tubuhnya.Setelahnya, ia meraih mantel dan tas selempangnya di balik pintu dapur dan meninggalkan manajernya yang merengek memintanya kembali.

 

 

 

“Yaak Ryeowook-ah!! Tidak bisakah kau tunda marahmu itu untuk besook??! Adabegitu banyak pelanggan hari iniiii!! Yak!! Akan aku potong gajimu setengahnyaa!!” Yesung terus berteriak sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal-persis seperti gadis remaja yang sedang bertengkardengan kekasihnya. Ah, tidakkah harusnya ia ingat berapa usianya?*dibakar Clouds

 

.

 

.

 

.

 

Yesunghyung bodoh! dia pikir mudah umtuk menyembuyikan perasaan?! Susahpayah aku menutup-nutupinya selama ini, semua jadi sia-sia akibatmulut ember manajer bodoh itu. Ah, memang seharusnya aku tidakmemberi tahu Yesung hyung sejak awal.

 

Ryeowooksibuk bergelut dengan penyesalan-penyesalannya sendiri. Beberapa kaliia menarik nafas lalu menghembuskannya keras-keras untuk mengurangikadar ke-frustasi-an yang membebani kepalanya.

 

Iamemejamkan matanya sejenak. Mungkin tertidur. Mungkin merenung.

 

 

 

 

 

Mi,mianheyo..aku..akusudah mempunyai orang lain..” gadisitu menunduk dalam.

 

Akuakan menghilang darimu. Aku tidak akan datang lagi ke Mouse &Rabbit jika kau muak melihat wajahku.. mianheyo.. Ryeowook-ssi..”

 

 

 

 

 

“Huwaaaaahhh!!!” Ryeowook bangkit dari tempat tidurnya. Ia memegang dadanya yangberdegup hebat.

 

“hh..hh..aigo..ini gila.. mimpi buruk macam apa itu tadi?!” butiran peluh menutupikeningnya. “Kau mulai tidak waras Kim Ryeowook!” Ryeowook kembalimenjatuhkan tubuhnya di busa empuk itu.

 

Tapibagaimana kalau itu jadi kenyataan? Bagaimana kalau dia benar-benartidak akan datang lagi ke Mouse& Rabbit? Tsk, ini membuatkepalaku sakit.

 

 

 

ooOOOoo

 

 

 

Sudahwaktunya café untuk tutup. Tapi Ryeowook masih saja belum relamembalik papan tanda Opendi pintu menjadi Closed

 

 

 

“Ryeowook-ah,sudah hampir sore. Sampai kapan kau akan menempelkan wajahmu di pintumasuk seperti itu. Hanya membuat pelangganku takut dan tak jadimampir kau tahu?” Yesung bicara dari kasir.

 

 

 

“Diapasti datang kan, hyung..?” Ryeowook masih setia di balik pintu.

 

“Dia..pastidatang sebentar lagi..” imbuhnya sakartis.

 

AlisYesung berkerut. “Dia dia siapa maksudmu?”

 

Takada balasan dari yang bersangkutan. Yesung pun menghampirikaryawannya itu lalu menariknya.

 

 

 

“Sudah sore sekarang. Café sudahharus tutup” ia membalik tanda Opendi pintu hingga menampilkan tanda Closeddari luar.

 

“Dankau,” Yesung menghadap karyawan yang sudah dianggapnya sebagaidongsaeng itu. “Kau pulanglah dan tidur lebih awal. Aku tidak maumelihatmu bekerja dengan wajah kusut dan tak bersemangat seperti hariini. Seolah aku adalah bos kejam yang mempekerjakan karyawanku dengantidak layak” Yesung menepuk pundak Ryeowook keras.

 

“Mwoyaa?!Kau pikir siapa yang menjadikanku seperti ini?!” akhirnya Ryeowookmenyemburkan(?) suaranya. Membuat manajernya menarik tangannya cepatdari pundak Wook.

 

“Jikasampai besok gadis itu tidak datang lagi kesini, maka itu adalahkesalahanmu, hyung!!” teriaknya. “Seharusnya aku tidak memintabantuanmu hari itu!” imbuh Ryeowook mendengus kesal kemudianberlalu dari hadapan hyung nya.

 

SedangYesung hanya bungkam menciut dan menatap ngeri dongsaeng yang barusaja membentaknya. Sungguh Yesung yang malang.

 

 

 

ooOOOoo

 

 

 

Klining~lonceng di atas pintu berbunyi. Tanda seseorang baru saja masuk.

 

 

 

“Selamatpagii…” suara parau keluar dari seorang namja dengan bulatanhitam besar di sekitar matanya.

 

Yesungmenghentikan aktifitasnya sejenak untuk menghampiri si tersangka.Tangannya menyilang di depan dadanya. “Kau terlambat 15 menit.Tunggu sampai aku benar-benar memotong gajimu Kim Ryeowook.”

 

Yangbersangkutan tak menunjukkan reaksi yang berarti. “Terserah kausaja,hyung.. aku mau melayani pesanan. “ ia melengos dari hadapanmanajernya. Tapi si manajer menghalangi langkahnya.

 

“Tegapkanbadanmu. Jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu di hadapangadis yang kau suka, babo!” Yesung lalu memiringkan badannyamembuat Ryeowook bisa melihat apa yang dihalangi hyung nya tadi.

 

DEG~

 

Bertemu.

 

Tatapan keduanya bertemu. Lagi. Untuk kedua kalinya.

 

KimRyeowookdan Han Ji Neul.

 

JiNeul berdiri lalu menundukkan kepalanya sebentar sebelum ia kembaliduduk di bangkunya. Ryeowook ikut membungkukkan badannya gugupsetelah Ji Neul melempar senyum kecil padanya. Ia melirik Yesungsalah tingkah. Sedang Yesung hanya terkikik puas melihat tingkahkaryawannya yang malu-malu itu.

 

Ryeowooksegera berjalan cepat menuju dapur. Namun ekor matanya masih terusmengawasi Ji Neul di sudut café.

 

.

 

.

 

“Kaupuas Kim Ryeowook? Dia datang kan?” goda Yesung terdengarmenyebalkan.

 

Ryeowookhanya menggumam. Tapi ia tak bisa menyembunyikan rona merah itu diwajah tampannya.

 

Setelahnya,hanya terdengar gurauan dan tawa Yesung yang mengisi dapur itu.

 

 

 

 

 

“JiNeul-ah” seorang namja menghampiri bangku café paling sudut. Yangdipanggil langsung mengulas senyum lebar di bibirpeach-nya.

 

“Oppa..”keduanya berpelukan beberapa detik.

 

“Apakau sudah lama?” namja itu duduk di hadapan Ji Neul. Ji neulmenggeleng.

 

“Akujuga baru datang”

 

“Syukurlah..kalau begitu ayo kita pergi sekarang”

 

“Kaubaru sampai, apa tidak ingin memesan sesuatu lebih dahulu?”

 

“Aniyo..orangtuaku sudah menunggu di rumah. Mereka tak sabar bertemudenganmu” namja itu berdiri lalu menarik tangan si gadis. Si gadishanya menurut. tersenyum dengan pipi memerah meninggalkan Mouse &Rabbit.

 

 

 

Sementaraitu, dua orang namja di dapur tampak kaku dan diam satu sama lain.Keduanya memasang wajah tak percaya akan apa yang baru saja merekadengar.

 

“Ry,ryeowook-ah..” namja yang lebih tua membuka suara lebih dahulu.

 

Tapi tak ada tanda-tanda yang dipanggil akan membalas. Yesung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menghampiri dongsaengnya sehalus mungkin takut-takut ia memperburuk suasana.

 

Brukk!!

 

Kaki Ryeowook tiba-tiba melemas tak mampu menahan beban tubuhnya. Yesung langsung panik menghampiri dongsaeng kesayangannya itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ooOOoo

 

 

 

 

 

Ryeowook menyandarkan kepalanya pada jendela bis yang ia tumpangi. Tatapannya kosong tanpa fokus. Ia bahkan mengabaikan ponselnya yang berdering berulang kali – membuat beberapa penumpang lain terganggu dan Ryeowook akan meminta maaf lalu berakhir dengan mematikan benda persegi panjang itu.

 

Ia masih terus melamun sampai retina matanya menangkap sosok yang sangat familiar baginya. Tampak masih jauh di depan.

 

“Han Ji Neul?” Ryeowook memastikan.

 

Sosok gadis tampak memerah menahan tangis di wajahnya. Ia mendorong seorang namja yang membuat Ryeowook cemburu setengah mati saat di café tadi.

 

Namja itu berusaha menahan Ji Neul tapi Ji Neul terus berontak dan akhirnya berhasil meloloskan diri.

 

Tangannya terulur di jalan dan membuat bis yang dinaiki Ryeowook berhenti tepat di depannya. “Tidak mungkin..” Ryeowook bergumam.

 

Ji Neul pun naik, tanpa pikir panjang mengambil tempat di sebelah Ryeowook. Karena itu adalah satu-satunya tempat yang tersisa.

 

Ryeowook hampir terlonjak kaget menangkap seorang gadis yang –ehem- benar-benar dikaguminya sejak lama tengah duduk tepat di sampingnya.

 

Tapi tampaknya Ji Neul belum menyadari keberadaan Ryeowook. Ia menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya sejenak. Setelahnya, ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya. Mencoba  mengurangi tekanan yang melandanya.

 

Ia menoleh ke sampingnya bermaksud untuk mengatakan jangan memedulikannya. Tapi ia sedikit terkejut mendapati si karyawan Mouse & Rabbit itu menatapnya penuh khawatir.

 

“G,gwaenchana?” Ryeowook bisa mendengar cicitannya sendiri yang terasa benar-benar tertahan di tenggorokannya.

 

Ji Neul mengangguk ragu. Canggung. Ia tampak salah tingkah melihat sikap aneh Wook. Ia memutuskan untuk kembali menghadap depan untuk menghindari percakapan dengan namja di sampingnya.

 

 

 

Keduanya tidak ada yang berbicara. Mungkin karena merasa asing. Atau mungkin..

 

Kluk~

 

Karena salah satu dari mereka tengah tertidur.

 

Ryeowook dengan cekatan menahan kepala Ji Neul yang hampir membuat tubuh gadis itu  hampir merasakan kerasnya lantai besi bis ini.

 

Jantung Ryeowook kembali berpacu akibat wajahnya yang  terlalu dekat dengan gadis di sebelahnya ini. Merasa posisinya tidak enak, ia dengan ragu menyandarkan kepala Ji Neul pada pundaknya.

 

Setelanya, ia menghembuskan nafas panjang akibat gugup.

 

Mungkin hal yang sangat berat tengah menimpa Han Ji Neul hari ini. Sehingga ia tampak sangat lelah setelah lama menangis. Ia  tampak begitu  pulas dalam tidurnya.

 

 

 

ooOOOoo

 

 

 

Lagi-lagi Ryeowook tidak rela untuk membalik tanda Open di pintu café. Yesung yang tampak khawatir menghampirinya dan menepuk pundaknya lebih lembut dari biasanya.

 

“Aku melihatnya, hyung..” lirih Wook. Yesung tak menjawab apa-apa. Membiarkan dongsaengnya itu menyelesaikan ceritanya.

 

“Ji Neul.. begitu banyak air mata yang dikeluarkannya kemarin..”

 

“Aku melihat..sebelumnya ia bertengkar dengan kekasihnya..” Ryeowook melanjutkan.

 

“Jadi namja yang kemarin itu benar kekasihnya?” Ryeowook mengangguk menjawab pertanyaan Yesung.

 

“Baguslah kalu mereka bertengkar..” ucap Yesung enteng. Ryeowook mengerutkan dahinya.

 

“Dengan begitu mereka akan berpisah. Dan kau punya kesempatan mendekati gadis itu lagi” imbuhnya.

 

Ryeowook tampak tidak senang. “Kau tidak tahu betapa sulitnya itu untuk Ji Neul, hyung!” Ryeowook meninggikan suaranya. Yesung sedikit tersentak.

 

“Jika kau melihat betapa ia tampak menyedihkan menangis begitu lama hingga ia kelelahan dan tertidur di bis,  kau tidak mengerti, hyung..” suaranya kembali merendah.

 

Tiba-tiba sebuah tangan bersarang di kepala Wook. Yesung mengacak rambut dongsaengnya lembut.

 

“Kau ini berbicara tentang kesedihan seorang gadis, memangnya kau sudah bisa mengatasi kesedihanmu itu sendiri eum?” Yesung tersenyum. Ryeowook bungkam.

 

“Sudahlah, aku pulang duluan. Kau jangan lupa mengunci café ya.” Yesung berlalu meninggalkan dongsaeng yang masih memikirkan nasihat hyungnya itu.

 

.

 

.

 

.

 

Ah, ini sudah bulan Januari, kenapa hujan masih saja turun?

 

Ryeowook berlari dengan berlindung menggunakan tas di atas kepalanya. Mencoba mencari tempat berlindung segera.

 

Ia menghentikan langkahnya saat menemukan seorang gadis dengan sekantong besar belanjaan dan  payung yang melindunginya.

 

.

 

.

 

Tok tok..

 

Pintu kamar mandi itu pun terbuka sedikit.

 

“Untuk sementara pakailah ini” Ji Neul menyodorkan sepotong kaos namun wajahnya tampak malu dan melihat ke arah lain .

 

 

 

“A,ah. Ne..” Wook meraih kaos itu dari dalam kamar mandi.

 

 

 

Ya. Kim Ryeowook sedang berada di kamar mandi milik seorang gadis yang tinggal sendirian. Apa kau berpikir bahwa tindakan yang diambil Ji Neul terlalu nekat? Ah, dia hanya gadis lugu yang ingin membantu seorang yang dikenalnya, karena rumahnya tak jauh dari tempat mereka bertemu.

 

 

 

Ji Neul menarik tangannya cepat setelah itu. Tapi tiba-tiba tangan dingin menahannya dari balik pintu. Ryeowook yang menahannya. Ji Neul terkejut setengah mati.

 

 

 

“A,ada apa? Tolong..lepas..” Ji Neul mencoba menarik tangannya. Tapi Wook masih saja menahan.

 

 

 

“Aku..” lirih Wook. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu kemarin..”

 

 

 

Ji Neul berhenti berusaha menarik tangannya. Ia masih menunggu apa yang akan Ryeowook katakan.

 

 

 

“Tapi aku harap kau mau membagi sedihmu itu. Saat melihatmu bersedih seperti kemarin, itu menghabiskan kebahagiaanku juga.. jadi..—“

 

 

 

“Gomapsumnida..” Ji Neul memotong. “Aku baik-baik saja..” Ji Neul melepas genggaman Wook. Ia berlalu menjauh dari kamar mandi rumahnya itu.

 

.

 

.

 

 

 

“Saat aku dan Leeteuk oppa tiba di rumahnya, aku melihat seorang gadis sedang berbincang akrab dengan kedua orang tua Leeteuk oppa.” Ji Neul akhinya membagi ceritanya pada Wook. Keduanya kini duduk berhadapan di ruang tengah milik Ji Neul.

 

 

 

Ji Neul tampak ragu hendak melanjutkan. Sementara Ryeowook merubah posisi duduknya mencari kenyamanan

 

 

 

“Mereka bilang ia adalah teman kecil Leeteuk oppa yang akan dijodohkan dengannya. Dadaku sesak mendengarnya. Tapi Leeteuk oppa tak kalah terkejutnya denganku. Ia sangat marah mengetahui alasan orangtuanya ingin bertemu denganku hanyalah untuk menyuruhku mengakhiri hubunganku dengan anaknya.” Ji Neul mengambil nafas sejenak.

 

Ryeowook masih setia mendengarkan.

 

 

 

“Ia pikir mereka berubah dan mau menerimaku sebagai calon menantu. Ia bahkan selalu menyuruhku menunggu di café yang akhir-akhir ini aku kunjungi- Café tempatmu bekerja. Ia bilang ia ingin terus melihatku dari tempatnya bekerja di seberang Mouse & Rabbit itu. Orangtuanya melarang ia untuk bertemu denganku.”

 

Ryeowook sedikit terbatuk saat mendengar alasan Ji Neul selama ini selalu datang ke café tempatnya bekerja.

 

 

 

“Aku tidak tahu seberapa bencinya orangtuanya padaku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.” Sauara Ji Neul merendah di akhir kalimat.

 

 

 

“Kau pasti berpikir bahwa aku sedang menceritakan sebuah alur cerita mellow-drama yang benar-benar tragis bukan?” Ji Neul tertawa di sela ucapannya. Alih-alih menyembunyikan sedihnya, tawa itu hanya membuat rasa sakitnya terlihat jelas, karena garis pipinya tampak jelas menandakan ia memaksa bibirnya untuk tertawa.

 

 

 

“Kau ini bodoh atau apa?” ucapan Ryeowook berhasil membuat Ji Neul tersentak.

 

 

 

“Kalau memang senang tertawalah. Kalau memang sedih menangislah..” lanjutnya. “Kau pikir hati manusia terbuat dari apa? Disakiti sejauh itu kau masih saja mempertahankan.”

 

Alis Ji Neul bertaut. Ia tampak kesal ditegur seperti itu.

 

 

 

“Kau menyendirikan dirimu dalam kesepian dan kesedihan. Membiarkanmu larut  terlalu lama untuk penantian yang tak pernah ada kejelasannya.”

 

Wajah Ji Neul memerah menahan emosi. “Tidakkah kau berpikir kata-katamu itu keterlaluan?”

 

 

 

“Kau marah karena yang kuucapkan itu benar. Kau selalu berpura-pura kau tidak apa. Tapi caramu menatap sendu ke luar kaca itu, tak akan bisa menipu yang kau rasakan.”

 

 

 

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Kau hanya karyawan café yang tak sengaja kubantu berlindung dari hujan. Berhentilah bicara seakan kau mengenalku sejak lama” Ji Neul meninggikan suaranya.

 

 

 

“Ya. Memang aku mengenalmu tidak lama. Tapi aku tau benar bagaimana ekspresi gugupmu itu saat pertama kali datang ke café dan kebingungan menentukan menu yang kau pilih. Aku tahu benar bagaimana kau tak mengerti fungsi timer pelanggan yang diberikan saat pertama kali kau datang, sehingga kau terkejut saat timer milikmu bergetar dan tak tahu harus berbuat apa. Jadi aku menyuruh Yesung hyung untuk memanggilmu dan menjelaskan bahwa kau harus mengambil pesananmu saat timer itu bergetar.”

 

Ji Neul terkejut mendengar tuturan Wook.

 

 

 

“Aku juga tau bagaimana kau selalu meminum Hot Choco yang kau pesan dan hanya meminumnya seperempat gelas. Aku tau bagaimana kau tahan duduk melamun selama 2 jam tanpa mengabaikan apapun hanya memandang ke luar kaca. Aku tau semuanya. Aku tau semua yang kau lakukan meski aku baru mengenalmu 2 minggu yang lalu.” Ryeowook tak bisa menahan dirinya lagi.

 

 

 

 

 

Ji Neul terdiam menatap namja ‘asing’ di depannya. Bibirnya terkatup rapat dan cairan bening mulai melapisi manik matanya.

 

 

 

“Kau sudah selesai bicara?” suara Ji Neul bergetar. “Kau boleh keluar sekarang”

 

 

 

Ucapan Ji Neul berhasil membuat Ryeowook terkejut. Ia berdecih lalu membuang mukanya.

 

 

 

“Tidak. Aku tidak akan pernah pernah berhenti bicara jika itu tentangmu—“

 

 

 

“Kubilang keluar sekarang!!!” Ji Neul benar-benar habis kesabaran.

 

Suasana menegang sejenak.

 

 

 

“Geurom.. aku akan pergi sekarang. Terimakasih untuk pakaian dan tumpangannya. Akan segera kukembailkan jadi kau tak perlu lama-lama berhubungan lagi denganku” Ryeowook bangkit dari duduknya. Ia meraih mantel dan tas selempangnya di meja Ji Neul.

 

 

 

Ia sempat berhenti dan menoleh ke belakang. Memandang sekilas gadis yang baru saja mengusirnya. Tapi gadis itu mengalihkan pandangannya cepat. Setelahnya ia kembali melangkah meninggalkan rumah yang hanya dihuni seorang gadis itu.

 

 

 

ooOOOoo

 

 

 

 

 

“Apa Ryeowook tidak masuk kembali hari ini?” Yesung bertanya pada Jongjin adiknya.

 

 

 

“Sepertinya begitu. Dia tidak memberi kabar sama sekali” Jongjin menempelkan ponsel pada telinganya. Menunggu jawaban dari seberang.

 

 

 

“Bocah itu benar-benar cari mati!” Yesung menggertakkan giginya geram.

 

 

 

“Yeobseyo..?”

 

 

 

“Ah, hyung! Tersambung!!” Jongjin buru-buru mengimbal ponselnya pada hyung nya itu.

 

 

 

Yesung meraihnya cepat. “YAKK! KIM RYEOWOOK KEMANA SAJA KAU?!! TIGA HARI KAU BERANI MEMBOLOS TANPA KABAR!! JIKA KAU TAK KESINI DALAM 30 MENIT, JANGAN HARAP AKU AKAN MEMOTONG GAJIMU YANG SUDAH HAMPIR HABIS TERPOTONG ITU!! AKU AKAN MEMPEKERJAKANMU SEUMUR HIDUP TANPA BAYARAN, ARASSEO??!!!”

 

 

 

”T,tapi hyung—“

 

 

 

Tuuuttt…..Tuutt..

 

 

 

Yesung memutuskan sambungannya. “Huh, dia pikir siapa yang sedang dihadapinya” ucap Yesung kesal.

 

Sementara orang-orang seisi café tampak terganggu dan memandangnya dengan tatapan ‘ah, berisik sekali orang ini’. Setelah menyadarinya, Yesung hanya nyengir dan menundukkan kepalanya berkali-kali.

 

 

 

ooOOOoo

 

A year later….

 

 

 

Klining~

 

 

 

Seorang gadis menginjakkan kaki di lantai kayu sebuah café dengan dekorasi mayoritas berbentuk telinga tikus dan kelinci. Ia tersenyum simpul menyadari bahwa tempat ini tidaklah berubah sama sekali.

 

 

 

Ia mengambil duduk di bangku sudut setelah sebelumnya memesan secangkir Hot Choco pada pelayan. Pandangannya tertuju pada bangunan sebuah perusahaan di seberang café. Jemarinya diketuk-ketukkan di meja seperti sedang bosan menunggu seseorang. Sesekali ia tersenyum sendiri tanpa sebab. Ah, apa dia baik-baik saja?

 

 

 

“Ji Neul-ah..”

 

Yang dipanggil menoleh. Lalu mengembangkan senyumnya hangat.

 

“Leeteuk Oppa..” mereka berpelukan beberapa detik.

 

 

 

Ah, rasanya seperti kita bisa mengenal adegan semacam ini sebelumnya. Dengan tempat yang sama, dan…. pemeran yang sama.

 

“Kau sudah lama menunggu?”

 

Gadis itu menggeleng. “Aku pun baru datang”

 

“Kalau begitu ayo kita berangkat. Orangtuaku sudah menunggu.” Leeteuk menarik gadis itu.

 

“Buru-buru sekali..” Ji Neul mengekori Leeteuk.

 

“Tentu saja.. ini kan satu tahun anniversary..”

 

.

 

.

 

“Huufh.. dingin sekali..Yesung hyung pasti akan membunuhku jika tahu aku seterlambat ini..” namja kecil itu mempercepat langkahnya sambil terus merapatkan mantelnya.

 

Brukkk!!

 

 

 

“Aow..”

 

“Aa..a,appo..”

 

 

 

Dua orang tak sengaja bertabrakan.

 

Si namja mengerang dan mengelus kepalanya karena baru saja merasakan dingin dan kerasnya trotoar beraspal itu.

 

 

 

“Ji Neul-ah.. gwaenchana?” Leeteuk membantu si gadis berdiri.

 

Namja kecil itu langsung mengangkat wajahnya mendengar nama yang begitu tak asing di telinganya.

 

.

 

.

 

“Han..Ji..Neul..?”

 

Yang punya nama menoleh pada si pemanggil.

 

“Eh..?”

 

 

 

oooOOOooo

 

 

 

Atmosfer di Mouse & Rabbit tampak sedikit lebih berbeda dari biasanya. Beberapa orang berkumpul di salah satu bangku sudut. Yesung, Leeteuk, Kim Jongjin, Han Ji Neul, dan jangan lupakan Kim Ryeowook.

 

Apa ini sebuah reuni? Ah, bahkan tak ada yang saling berani memandang di sini.

 

 

 

“eum..jadi..Han Ji Neul-ssi..dan namja ini..” Yesung melihat Leeteuk. “Kalian..”  Yesung tak melanjutkan kalimatnya. Ia melirik Ryeowook yang dari tadi mengalihkan pandangannya ke arah lain.

 

 

 

“Chogiyo, sebenarnya ada apa ini? Ada hal yang harus kami lakukan” Leeteuk melirik Ji Neul. Sedang Ji Neul dari tadi hanya menundukkan kepalanya dalam.

 

 

 

“A,ah.. baiklah. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah di masa lalu. Dan karena kebetulan sekali aku menemukan kalian di depan coffee shop ku, jadi mungkin kita bisa mengobrol sebentar.. Eum..Ryeowook-ah.. katakanlah sesuatu” tutur Yesung.

 

Tak ada jawaban.

 

 

 

“Ryeowook-ah..”

 

 

 

“Tak ada yang perlu dibicarakan hyung..” ucap Ryeowook akhirnya. “Semua yang ingin kubicarakan sudah selesai sejak setahun yang lalu..” ia melirik Ji Neul sekilas, lalu membuang muka kembali.

 

 

 

Ji Neul yang menyadarinya lantas mengangkat wajahnya. Ia tampak sedikit kaget dengan ucapan pedas Wook. Rasanya ingin ia kembali berteriak seperti dulu, tapi ia masih sadar bahwa ini bukan saat yang tepat.

 

Leeteuk akhirnya angkat bicara.

 

 

 

“Aku tidak mengerti apa yang terjadi di antara Ji Neul dan pemuda ini..tapi yang kutahu, beberapa kali Ji Neul menyuruhku mengawasinya dari tempatku bekerja di seberang café ini, saat ia harus menyelesaikan kuliahnya.”

 

 

 

Ji Neul membulatkan matanya. Ia  menarik ujung kemeja Leeteuk menyuruhnya berhenti bicara. Tapi Teuk tak mengindahkannya.

 

Semua tampak tercengang dengan pengakuan namja berlesung pipi itu. Ryeowook langsung menatap Ji Neul yang malah membuang muka darinya.

 

 

 

“Aku rasa hanya itu yang bisa kusampaikan. Aku harus pergi dan mempersiapkan sesuatu untuk hari jadiku dan istriku—“

 

“Ndee?!!” kaget Yesung. “Kau punya seorang istri dan kau masih berani berselingkuh terang-terangan seperti ini dengan Ji Neul-ssi?” ucap Yesung polos.

 

“Mwo?!” ujar Ji Neul dan Leeteuk hampir bersamaan. Setelahnya Leeteuk tertawa keras.

 

“Mwoyaa..? siapa yang mengatakan hal seperti itu padamu? Hubunganku dan Ji Neul benar-benar sudah berakhir sejak setahun yang lalu..”

 

 

 

Yesung lagi-lagi tercengang. Sedetik kemudian ia ikut tertawa dengan Leeteuk.

 

 

 

“Bukankah itu bagus, Ryeowook ah? Kau bisa melamarnya sekarang!! Hahah~~”

 

Kali ini perkataan Yesung yang membuat semuanya terkejut. Ryeowook lebih lagi. Ia benar-benar memerah sekarang. Ji Neul menatap Ryeowook tak percaya.

 

“Apa-apaan  kau ini hyung. Meski mereka saling menyukai, tapi mereka baru saja bertemu kembali setelah terpisah lama. Mereka harus melakukan pendekatan dulu perlahan” ujar Jongjin menggurui hyungnya.

 

“Tsk, kau ini anak kecil jangan sok tau.” Yesung menjitak kepala dongsaengnya. Jongjin mengerang.

 

 

 

“Lagipula Ryeowook sendiri yang berkata padaku. Jika ia bertemu sekali lagi dengan Ji Neul-ssi, maka ia berjanji akan melamarnya di depan mataku sendiri. Bukan begitu, Ryeowook-ah?” Yesung tersenyum bangga seolah pamer karena ia adalah satu-satunya orang yang tahu akan rahasia itu.

 

 

 

Semua tampak tak percaya akan apa yang baru saja lolos dari mulut ember Yesung. Ji Neul makin membulatkan matanya.

 

Dan Ryeowook? Ia tak mamu menahan diri untuk tidak segera lari ke dapur sebelum bermacam pertanyaan dilontarkan dari segerombolan orang-orang aneh itu.

 

Mereka bergantian menyelamati Ji Neul dan terus meneriaki Wook.

 

 

 

“Yak, Kim Ryeowook!! Jangan lari! Atau kupotong gajimu!!” Yesung bersiap menangkap karyawannya itu.

 

 

 

Tapi tiba-tiba sebuah tangan kurus menahannya.

 

“Biar aku yang mengejarnya” Ji Neul bangkit dan memasang senyum menyeringai di bibir tipisnya.

 

Akhirnya terjadilah kejar-kejaran yang dilakukan oleh 2 anak manusia itu. Diikuti dengan sorakan-sorakan keras yang mendukung nama keduanya.

 

 

 

 

 

FIN

 

 

 

Epilog

 

 

 

“Kenapa?” Ji Neul menyodorkan secangkir Hot Choco pada namja di depannya.

 

“Nde?” gumam si namja.

 

“Kenapa kau berjanji seperti itu pada Yesung oppa?”

 

“Uhuk uhuk!!” si namja tersedak saat menyeruput minumannya. Ji Neul menepuk punggung namja itu lembut.

 

“Aku..” Ryeowook diam sejenak.  Ji Neul menunggu.

 

“Apa jangan-jangan karena kau mengira aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, jadi kau membuat janjiyang kau anggap mustahil itu?” Ji Neul memotong sebelum Wook menjawab.

 

“Kalau saat itu aku tidak datang ke Mobit untuk menemui Leeteuk oppa, apa itu berarti kau tidak akan melamarku begitu?” lanjutnya. Ia tampak sedikit tak terima.

 

Ryeowook menelan ludah susah payah. Ji Neul kelihatannya mulai kesal.

 

Ryeowook menggaruk tengkuknya tidak gatal. Ia menghela nafas sejenak. Ia pandangi gadisnya yang berpaling membelakanginya.

 

Ji Neul mulai beranjak dari duduknya.

 

“C,chankam..” tangan kurus Wook menahannya. Ji Neul tampak tak peduli.

 

“Kalau saat itu kau tidak datang ke Mobit bersama Leeteuk hyung,” Ryeowook menarik pinggang Ji Neul mendekat. Membuat ia sedikit terkejut akan tindakan tiba-tiba si namja

 

“Aku yang akan mencarimu dan menarikmu ke hadapan penghulu” bisiknya tepat di telinga gadisnya.

 

Bisikan lembut itu ternyata mampu mengukir senyum tersipu di bibir Ji Neul. Wook mengangkat wajah si gadis lalu melempar senyum manis padanya. Ditempelnya hidung mancung itu di pipi si gadis. Mencium aromanya lembut.

 

Sebuah tinju mendarat di pundak Wook pelan.

 

“Dasar..”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Aaaa!!! Apa iniii??! Ending yang gaje dan sama sekali gak romantis seperti yang diharapkan/?

 

Salahkan YESUNG yang suka ceplas ceplos kalo akhirnya absurd beginih ._____. *dimakan Clouds

 

Dan mengenai poster, ep ep ini memang oneshot ko, tapi Poku pernah ngepost ini epep di efbi Poku dalam bentuk chapt.. dan Poku belum sempet edit lagi heheh :3 *abaikan

 

Tapi makasih yang udah mau nyempetin baca ep ep abal ini TwT *cium readers *Poku  dicium Donghae *eih

 

Sekali lagi, maaf kalau ceritanya mengecewakan.  *Poku rapopo :’)

 

Jangan lupa kasih kritik dan sarannya yah di kolom komentar :3 *maklum Poku Cuma amatiran yang Cuma senang menulis >.< J

 

Publised by Allison

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s