[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 10)

Tittle    : My wife, my enemy # Conflict 10

Genre  : Battle heart

Cast     : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

The Most Real Inspiration by : Dini De’Forest (FB)

 

Mian lama publish, sayanya baru selesai UAS..

Terima kasih atas waktu luangnya ^^

please correction~~~

**************

 

Kim Jong Woon POV

 

Ini sudah seminggu berlalu sejak Mi Ran mengalami kekerasan di jalan. Kondisinya memang membaik, namun aku justru cemas melihat mentalnya sekarang. Dia lebih banyak melamun dan berdiam diri di ruang baca. Ok, Mi Ran memang yeoja yang cukup pendiam dan terlalu sering larut dalam dunianya sendiri, namun bukan berarti dia harus membaca komik dengan pikiran melayang entah kemana, bukan?

 

“Mi Ran,” aku menepuk pundak Mi Ran pelan. Sedetik kemudian aku terkejut melihat tanganku terkibas dari bahunya. Mi Ran tampak bergetar menerima sentuhanku. Melihat raut wajahnya, hatiku mencelos ngilu.

 

Kau sungguh bodoh, Kim Jong Woon.. setelah apa yang telah kau lakukan padanya dulu, apa kau pikir dia akan masih menganggapmu manusia berperasaan, huh?!

 

“A, aku hanya ingin mengajakmu makan. Sudah seharian kau mengurung diri di sini. Apa kau tidak lapar, hmm?” aku memberanikan diri mengutarakan maksudku. Dia tak menjawab namun berdiri dari sofa baca. Tubuhnya berjalan keluar ruangan dengan merentangkan jarak yang cukup membuatku tercengang. Jelas saja dia masih sangat tidak ingin bersentuhan denganku, namun sialnya bekas luka goresan di lengannya membuatku rahangku mengeras dan tanganku terkepal. Bekas luka itu, mungkin tidak akan hilang selamanya, dan aku bisa jadi gila karena hal itu bisa terus mengingatkan betapa bodohnya aku  karena tak mampu menjaganya. Selain itu, aku sudah tidak akan bisa meyakinkan dia betapa aku ingin selalu melindungi dirinya, sementara aku sudah melakukan hal yang pasti sudah membuat luka di hatinya, selamanya.

 

Duak!!!

Brakkkk!

 

Aku memukul lemari bukuku hingga bergeser dan beberapa buku terjatuh. Anehnya tanganku tidak terasa sakit sama sekali, namun justru di dalam dada ini yang terasa lebam dan membuatku ingin menjerit karena sakitnya sudah tak tertahankan.

**********

 

Jang Mi Ran POV

 

Aku sudah bertekad dalam diriku untuk melupakan malam itu, namun entah mengapa ketika Jong Woon hanya menepuk pundakku pun, tubuhku sudah bergetar takut. Masih bisa ku rasakan sensasi aneh ketika malam itu dia merenggut harta berhargaku, dan rasanya aku menjadi sangat takut jika dia mengulang hal yang sama.

 

Belum lagi sentuhan kasar manusia brengsek di jalanan itu, melukai tubuhku seolah aku adalah boneka menjijikan yang siap mereka manfaatkan kapan saja. Aku sungguh merasa hina. Aku sungguh merasa bahwa aku sudah benar-benar tak berarti apa-apa lagi. Sudah tidak ada hal dalam diriku yang bisa ku lindungi, karena semuanya sudah hancur saat malam itu. Malam yang membuatku kehilangan jati diriku sebagai yeoja yang kuat, yang tidak akan menangis di hadapan siapa saja, dan tidak akan kalah oleh masalah apapun.

 

Tapi sekarang…

 

Pluk!

 

Langkahku terhenti. Terlalu larut dalam ruang pikiranku, keadaan disekitarku sudah ramai tanpa ku sadari. Mereka semua―para murid Library― menatapku dengan tatapan yang membuatku bergidik ngeri. Bau anyir mulai tercium dari kepalaku. Saat tanganku merabanya, aku terkejut melihat tanganku berlendir oleh cairan dari putih dan kuning telur yang sudah menyatu. Dan busuk. Ini telur busuk?

 

Aku menoleh ke belakang dengan pandangan nanar. Sepanjang koridor sekolah ini semua mata tertuju padaku. Memberiku tatapan tajam dan mengintimidasi. Membenarkan argumenku bahwa aku memang sudah benar-benar hina sekali.

 

“Ya! Pembuat onar! Apa yang keluargamu lakukan sampai ketua osis kita mau menikahimu, hah?!”

 

Aku tersentak dan jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Darimana mereka semua tahu jika aku dan Jong Woon sudah menikah? Bukankah haraboji dan keluarga Jong Woon sudah memastikan bahwa berita ini tidak akan tersebar kemana-mana hingga kami lulus sekolah?

 

“Kenapa kau diam saja? Cih! Bertingkah memberontak terhadap peraturan osis, ternyata kau memiliki sisi yang sangat mengerikan, Jang Mi Ran!!”

 

“Benar!!”

 

“Kau gadis penjilat!”

 

“Tak tahu diri!”

 

Koridor yang panjang dan tak terlalu lebar itu dipenuhi makian. Aku terdiam menerima  umpatan demi umpatan memenuhi gendang telingaku. Tentu saja, ini bukanlah sesuatu yang seharusnya membuatku kaget. Selamanya aku hanya akan menjadi orang yang dipersalahkan, untuk hal apapun.

 

Tanpa sadar tanganku mengepal. Aku menunduk dan baru akan pasrah ketika akan menerima lemparan telur busuk kedua, namun seketika sesosok tubuh  menghalangi mataku. Dia berdiri tepat di hadapanku, menangkis telur busuk yang hendak mendarat di kepalaku hingga pecah ke dinding koridor dengan suara yang mengenaskan. Mendadak koridor tampak sepi mencekam, dan aku tak peduli mengapa suasana sidang sepihak ini menjadi terhenti.

 

“Jangan ganggu dia. Kalian belum tentu lebih baik darinya,” suara selembut beludru memecah gelendang telingaku. Dua detik kemudian aku merasakan tanganku tertarik. Rasa lega karena sudah terbebas dari intimidasi para siswa bercampur sedih dan pilu. Mengapa hal ini harus terjadi padaku? Ini bukanlah pernikahan yang ku inginkan. Haraboji yang memaksaku. Ani, tetapi dia menggertakku dengan keadaannya jantungnya yang lemah. Lalu apa aku salah jika menerima pernikahan ini demi menyelamatkan nyawanya?

 

“Ini bukan seperti dirimu,” suara lembut itu kembali menyadarkanku. Memaksaku mendongak melihat wajahnya yang membuat jantungku berdetak menentramkan. Dia, Kyu Hyun, berdiri di hadapanku. Tepat beberapa centi dimana ekspresi wajahku tak akan bisa disembunyikan lagi.

 

“Aku tahu ini bukan keinginanmu. Tapi mengertilah, pendapat orang belum tentu sesuai dengan kondisi yang kita rasakan. Untuk itulah, kau hanya perlu memasang tameng ketegaranmu lebih keras lagi. Jangan pedulikan anggapan mereka yang mencacimu seolah mereka telah lama sekali mengenalmu. Tapi biarkan hatimu menguasai dirimu. Karena dengan begitu kau bisa terus menjadi dirimu sendiri.”

 

Nasehat itu mengalir bagai gemericik air di sungai. Jernih, seperti tiupan angin sejuk yang mengantarkanku menikmati indahnya padang rumput nan hijau dalam imajinasi. Tempat dimana aku bisa mencurahkan diri. Dan wajahnya… sekilas aku mendongak untuk menatapnya. Ia tersenyum memberiku energi. Membuat pertahananku terbuka tanpa paksa.

 

Aku tahu ini memalukan. Tapi tak ada lagi tempat yang menjanjikanku untuk bisa menjadi diriku lagi selain disini. Pada dirinya, ketika tanganku terangkat untuk mencengkram seragamnya, lalu air mata itu akhirnya jatuh tanpa bisa ku tahan lagi.

************

Kim Jong Woon POV

 

“Katakan kalau semua ini bohong, Jong Woon..” tatapan Hee Chul disertai suaranya yang pelan namun menekan membuat ruang osis ini terasa mencekam. Aku hanya duduk di kursiku, menopang dagu sambil terpejam. Hal ini pasti sudah menyebar ke seantero sekolah tanpa bisa ku hindari. Aiiish, aku tak tahu siapa yang telah membocorkan hal sakral ini, namun ini pasti gawat sekali.

 

“Ya! Kim Jong Woon! Kau pikir bagaimana image osis kita jika kau digosipkan menikah dengan gadis berandalan itu, hah?! Apa kau tidak ingin mengklarifikasi keadaan ini?!”

 

Lagi-lagi Hee Chul menekanku. Gendang telingaku serasa mau pecah mendengar cibirannya. Berani sekali dia memperkeruh suasana hatiku!

 

“Aku memang menikah dengannya,” kataku akhirnya. Walau mataku terpejam, aku bisa merasakan tatapan Hee Chul melotot padaku.

 

“Ja, jangan bercanda, Jong Woon. Kau bukan orang bodoh, dan aku tahu sekali kau selalu mempunyai seribu akal untuk mempermainkanku.” Suara Hee Chul bergetar menahan rasa tidak percaya. Mataku terbuka dan langsung menatap tajam ke manik matanya.

 

“Aku sudah menikah dengannya. Kau puas?” tekanku dingin.

 

“Ya! Kim Jong Woon!”

 

Brak!! Aku menggebrak meja dengan kesabaran yang final. Hee Chul terlalu banyak berdalih menampik keadaanku sekarang.

 

“Memangnya kenapa kalau aku menikah dengannya, huh? Apakah aku harus menikah dengan yeoja yang kriterianya sesuai dengan pendapatmu?” tanyaku dengan rahang mengeras. Hee Chul tampak terhenyak mendengar ucapanku yang seratus persen di luar perkiraannya. Aku tahu dan aku sadar bahwa saat ini aku bukanlah Kim Jong Woon yang dia kenal. Namun sejak bertemu dengan Mi Ran dan bahkan menikah dengannya, aku memang sudah berubah menjadi seseorang yang aku sendiri tak mengenali siapa diriku ini.

 

Aku benar-benar gila sekarang.

 

Aku menundukan kepala, mencoba menetralisir amarah. “Kau tau, kau satu-satunya teman yang ku pikir bisa memahami keadaanku sekarang. Aku sudah cukup tertekan mendengar tersebarnya berita pernikahanku dengan Jang Mi Ran. Walaupun aku memang belum bisa menceritakan apapun kepadamu sekarang, tapi tolonglah percaya padaku.” Aku mengangkat kepala menatapnya. “Yang ku butuhkan sekarang adalah dukunganmu. Apakah itu sulit bagimu, Kim Hee Chul?”

 

Kami saling bertatapan. Hanya lima detik, ketika akhirnya ku lihat raut wajah Hee Chul mengendur. Dia menghembuskan nafas panjang, terkesan pasrah.

 

“Kau benar, Jong Woon. Aku tidak bisa memutuskan kepada siapa kau harus jatuh cinta. Jika sekarang kau menikah dengan gadis beran―maksudku, Jang Mi Ran, itu adalah pilihanmu sendiri.” Tiba-tiba Hee Chul memegang pundakku erat. “Ayo kita selesaikan kekacauan ini. Kau uruslah masalah ini dengan pihak sekolah, sedangkan masalah para murid biar aku yang mengurusnya.”

 

Senyumku mengembang. Aku tahu dibalik sifat cerewet Hee Chul yang tak terkendali, dia tetaplah teman yang paling bisa diandalkan.

 

“Ck, sudahlah. Kau jangan memasang wajah dingin terus. Sungguh jauh dari kepribadianmu, kau tahu?”

 

Aku tertawa. “Kau benar. Thanks, brother,” aku menepuk-nepuk pundaknya pelan. Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh di koridor. Para murid berlarian menuju sesuatu. Aku dan Hee Chul lantas berpandangan. Dua detik kemudian, mengandalkan insting dan perasaan, kami berlari mengikuti laju para murid.

 

“Hei ada apa?” tanya Hee Chul kepada seorang yeoja berkepang dua.

 

“Ada seorang kakek pingsan di koridor utara.”

 

“Seorang kakek?” butuh waktu tiga detik sebelum aku memikirkan siapa kakek malang tersebut. Otakku berputar seperti skrup yang payah. Jang Haraboji! Sial, mengapa aku bisa lupa!

 

Secepat kilat aku berlari menembus kerumunan. Dugaanku tepat. Jang Haraboji pingsan dan hanya menjadi tontonan kebingungan para murid.

 

“Haraboji!” aku berlari menghampirinya. Dengan susah payah aku berusaha menggotong beliau.

 

“Hei cepat bantu Jong Woon. Dasar bodoh!” Hee Chul melayangkan jitakan kepada beberapa murid namja yang berada di sini. Mereka yang awalnya tampak kebingungan, lantas mulai mengangguk mengerti.

 

“Jong Woon…” Haraboji masih sadar dan memanggil namaku lirih.

 

“Aku di sini, Kakek. Kakek bertahanlah. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit,”

 

Begitu tiba di halaman parkir, aku melihat Appa dan Eomma tampak keluar dari mobil dan berlari menghampiri kami.

 

“Astaga, Jong Woon. Ada apa dengan Tuan Jang?” Eomma memekik panik.

 

“Nanti saja penjelasannya, Eomma.” Kataku cepat. “Appa, tolong bawa haraboji ke rumah sakit. Aku harus mengurus sesuatu dulu.”

 

Appa langsung mengangguk mengerti. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku berlari melesat memasuki gedung. Tujuanku sudah jelas, Jang Mi Ran. Aku harus menemukan gadis itu.

 

Aku berlarian menuju kelas Mi Ran. Tatapan para murid langsung menusukku seperti menghunuskan pedang. Mungkin berita pernikahanku dengan Mi Ran sudah mereka dengar, dan benar kata Hee Chul, imageku sudah hancur sekarang. Anehnya, aku tak peduli. Aku hanya ingin bertemu Mi Ran apapun yang terjadi.

 

“Jong Woon…” aku merasakan seseorang menepuk pundakku dari belakang. Suara perempuan. Senyumku langsung merekah lega.

 

“Mi Ran―” suaraku tercekat begitu membalikkan badan. Ada sosok Na Mi memandangku dengan ekpresi terkejut.

 

“Mi Ran?” tanyanya sarkastis. Lalu raut wajahnya memurung, membuatku merasa bersalah padanya.

 

“Na Mi~ya, maksudku…” ucapanku terhenti. Aku sadar mungkin penampikanku sekarang tidak akan berarti apa-apa baginya. Aku yakin berita ‘itu’ pun sudah sampai ke telinganya.

 

“Maafkan aku, Na Mi.” Tuturku pelan. Aku langsung pergi berlari meninggalkannya. Aku tak ingin menoleh, dan entah mengapa kini aku merasa mempunyai alasan untuk tidak menoleh ke belakang. Jika dugaanku benar, mungkin Mi Ran berada di tempat itu. Ya, dia pasti berada di sana!

***********

 

Aku berlari menuju bukit belakang sekolah. Langkahku terhenti di balik tembok gedung saat ku lihat sosok Mi Ran yang merunduk dengan tangan meremas kemeja sekolah Kyu Hyun. Itu bukan masalah sebenarnya, tapi aku terhenyak oleh pemandangan tak biasa. Jang Mi Ran. Gadis itu menangis. Dia menangis. Menangis?

 

Gadis arogan, angkuh, dan berwajah sedingin salju itu menangis?? DI HADAPAN CHO KYU HYUN??!

 

Dengan geram, aku berjalan tak sabar menghampiri mereka lantas menarik lengan Mi Ran. Mereka tampak terkejut, apalagi Mi Ran. Matanya sembab dan wajahnya berair. Dia pasti menangis hebat. Itu bagus karena akhirnya aku tahu bahwa gadis ini bisa menangis. Namun buruk karena dia menangis di depan orang lain.

 

“Apa yang kau lakukan, Jong Woon?” suara sedingin es menghambur telingaku. Tolol memang. Aku sudah dengan bodoh membiarkan diriku terbakar cemburu. God! Wake up, Jong Woon! Jangan mempermalukan dirimu lebih jauh lagi.

 

Dengan perlahan aku melepas lengan Mi Ran sambil menatap Kyu Hyun tak suka. Kemudian aku mencium sesuatu yang busuk, dan astaga! Aku bersumpah melihat lendir berwarna kuning di sepanjang rambut Mi Ran. Lampu bolham besar langsung muncul di otakku. Tentu saja, ini pasti perbuatan para murid itu. Aish!! Mengapa aku sama sekali tak memprediksikannya?! Aku benar-benar tak berguna!

 

“Haraboji pingsan,” kataku datar sambil menunduk dalam menahan kekesalan dan ketidakberdayaan.

 

“Apa?” Mi Ran menajamkan telinganya. Aku memberanikan diri mengangkat kepala, menatapnya lekat. “Ku bilang, haraboji pingsan.”

 

Matanya melebar dan wajahnya tampak pucat pasi. “Haraboji…”

 

Dia baru hendak berlalu pergi ketika dengan cepat aku menggapai tangannya.

 

“Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”

 

Tapi yang ku dapat adalah hempasan tangannya yang kasar. Penolakan. Setelah itu dia berlari menampakan punggungnya yang ketakutan.

 

Shit!” umpatku sambil hendak berlari mengejarnya, namun sebuah suara menahanku.

 

“Jong Woon!”

 

Aku menoleh. Kyu Hyun menatapku dengan sikap santai sambil memasukan kedua tangannya di saku celana.

 

“Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, kawan. Tapi percayalah, bukan aku yang membuatnya menangis,” katanya yang lantas membuat alisku menukik ke bawah. Dia malah mengulum senyum seolah menahan tawa.

 

“Kau itu lucu sekali, Jong Woon. Pernahkah kau berpikir walau hanya sekali tentang gadis yang selalu kau anggap sebagai pengacau kepemimpinanmu dalam osis ternyata bisa menangis?”

 

Alisku kian menukik.

 

“Itu karenamu, Jong Woon. Dia menangis karenamu.”

 

“Apa..?” dadaku langsung bergemuruh seperti dihantam badai. Ucapan Kyu Hyun jelas menamparku keras. Dan rasanya itu.. sungguh menyakitkan.

 

“Apa yang kau tunggu? Bukankah kau harus mengejar istrimu?” dia berbicara lagi dengan topik yang berbeda, namun sama sekali tidak bisa mengalihkan perasaanku yang terlanjur kacau balau.

 

Aku berbalik memunggunginya. Namun entah itu suara angin yang menggebu perasaanku atau memang nyata, ketika berlalu pergi selintas aku mendengar Kyu Hyun berkata:

 

“Jika dia menangis lagi, aku akan mengambilnya dari sisimu segera…”

 

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

*Mian, pengerjaannya benar-benar tidak maksimal, dan berhubung saya kehilangan link-link sebelumnya, bagi yang ketinggalan atau bahkan lupa episode lalu, silahkan kunjungi saja blog saya: http://hutanberlian.blogspot.com/

 

Please koreksi ^^

Publised by Allison

Advertisements

5 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 10)

  1. Kebenarannya sudah terungkap Jang Mi Ran istri Kim Jong Woon…Cho Kyuhyun ternyata punya Hati dgn Mi Ran…Jang Harabeoji pasti syok berat

  2. Terakhir kali aq bca ne ff udh finish dgn ending yg bnr” gntung plus nyesek.ne ff yg aq tunggu” wktu jd readers tetap di SJFF.crtanya penuh dgn konflik yg bnr” dalam. aq liat mi ran tu sosok yg kuat.dya mampu brtahan dgn mslah yg dya hdapi dirmh,sekolah jga trauma dya.salut buat authornya ug bgtu apik mnggambrkan krakter mi ran yg complicated tp menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s