[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 8)

Tittle    : My wife, my enemy # Conflict 8

Genre  : What do you think?

Cast     : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

The Most Real Inspiration by : Dini De’Forest (FB)

 

Terima kasih atas waktu luangnya ^^ please correction~~~

Once more, I need correction… ok?

************

Jang Mi Ran POV

   Seorang gadis kecil berusia 6 tahun tengah bermain-main dengan bola mini yang seukuran tangannya. Dia nampak bahagia memantul-mantulkan bola itu ke lantai tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya yang ramai oleh canda dan jeritan anak-anak seusianya. Dia terlalu larut dalam kesendiriannya, dalam dunianya. Bola yang susah payah didapatkan dengan uang curian itu tidak membuatnya merasa bersalah. Dia hanya senang akhirnya memiliki sesuatu untuk dimainkan.

“Hei, kau, gadis es!” tiga orang namja seusianya mengusiknya. Mereka tampak seperti genk tiga anak ingusan dan dekil yang suka mengganggu siapa saja. Gadis itu berhenti memantulkan bolanya. Dia menatap tiga namja di depannya, dan seolah tahu bahwa mereka akan mengganggunya.

“Berikan bolamu padaku!” namja yang berdiri di tengah dan bertubuh gempal yang juga tampak seperti pimpinannya, menjulurkan tangannya dengan sikap memaksa dan wajah yang di buat segarang mungkin. Gadis itu tidak bergeming dan sejenak menatap wajah namja bertubuh gempal itu dengan tatapan kesal dan dingin.

“Hei, cepat berikan bolamu!” bentak namja nakal itu. Tanpa ba-bi-bu lagi, gadis itu langsung melempar bolanya dengan keras dan tepat mengenai hidung namja itu hingga mengeluarkan darah.

“Omonaa.. kau berdarah!” teriak namja kurus dengan topi baret di sampingnya.

“A, apa??” namja gempal itu meraba-raba hidungnya, lalu terkejut mendapati tangannya berlumuran darah. Hanya sekejap, sebelum akhirnya namja itu menangis keras karena kesakitan.

“Eoommmaaaa!!” dia meneriaki ibunya yang kemudian datang tergopoh-gopoh dari luar.

“Ya ampun, Shin Dong, mengapa kamu, nak?” ibunya gelagapan dan terkejut melihat hidung anaknya berdarah.

“Dia, Eomma. Dia yang melempar bola ke hidungku… huwaaaaa!!” namja bernama Shin Dong itu menuding gadis kecil yang sedari tadi tak bergeming dari tempatnya berdiri.

“Ya kau, gadis nakal!” ibu namja itu membentaknya keras, dan membuat gadis kecil itu terperangah. “Dasar anak nakal tak tahu diri! Tidak punya orang tua saja selalu membuat onar, hah?!” wanita yang juga bertubuh gempal itu menarik telinga sang gadis hingga memerah. Anak-anak lain beserta orang tua mereka sontak berkumpul mengerubunginya seperti mendapatkan tontonan gratis. Wajah si gadis langsung berubah pucat. Bibirnya bergetar dan dengan cepat dia langsung berlari meninggalkan tempatnya menimba ilmu itu dengan bertelanjang kaki. Langkahnya yang lebar menembus jalanan padat raya kota Seoul dan membuat orang-orang dewasa yang dilaluinya berpikir bahwa dia adalah gadis kecil yang terpisah dari orang tuanya dan tersesat tanpa arah. Tapi tidak! bermil-mil dilalui gadis itu dengan kaki kecilnya hingga tiba di sebuah pemakaman umum yang sepi dari orang-orang. Ia menuju dua buah makam suami isteri, dan sontak bibirnya kian bergetar hebat lantas terisak dengan keras seketika.

“Eommaaaaa…….. Appaaaaaaaa………” dia menjerit-jerit di depan dua makam tersebut seperti seorang anak yang mengaduh dan mengemis kasih pada orang tuanya.

Dia terus menangis dengan keras hingga membuat sekumpulan gagak yang tinggal di pohon Ek sekitar makam beterbangan. Kaki dan pakaian langsung sebatas lututnya pun sudah kotor tanpa ia peduli. Tiba-tiba setetes air jatuh dari langit, dan kian lama semakin deras membasahi tubuhnya. Gadis itu semakin berteriak keras memanggil-manggil orang tuanya, namun nihil, suaranya kian tertelan gemuruh hujan yang menimpanya.

“Mi Ran!!” seorang namja berusia sembilan tahun dengan seragam sekolah dasar dan payung di tangannya berlari menghampirinya. Namun gadis itu tak terusik dan terus saja menjerit-jerit di depan dua buah makam orang tuanya. Namja itu langsung memeluk dan menggendong sang gadis hingga payung yang digenggamnya terjatuh dan hujan membasahi keduanya.

“Eoommaa… Appaaa…” gadis itu memeluk leher sang namja dengan erat, mencoba mencari perlindungan dari sana.

“Tenang Mi Ran, ada Oppa di sini,” lelaki kekar itu membawa sang gadis dalam dekapannya. Name tag berukiran ‘Jang Yoon Ki’ itu terjatuh dan tertelan tanah basah, namun sang empunya tak peduli lalu melanjutkan langkahnya menembus hujan.

“Eomma.. Appa…” suara sang gadis kian mengecil karena kelelahan. Perlahan matanya terpejam. Rasa sakit dan kehilangan membuatnya berpikir jika ia menutup mata, maka semua akan baik-baik saja.

***********

Aku terbangun dan mendapati mataku basah. Lagi-lagi mimpi itu datang dan mengulang rekaman masa kecilku dengan cara yang menyakitkan. Kepalaku terasa berkunang. Rasanya sulit sekali bergerak padahal ukuran kamar yang sejak seminggu lalu ku tempati ini cukup luas untuk seorang diri. Aku terduduk lantas terkejut mendapati Jong Woon terlelap di sampingku. Sontak aku langsung merapat ke dinding, berusaha tidak bersentuhan dengannya.

“Apa yang kau lakukan di sini, bodoh?!” cercaku keras yang langsung membuatnya terbangun dan mengusap-ngusap wajahnya yang berkeringat.

“Panas sekali,” katanya, mengeluh pelan. Dia tampak bodoh dan belum sadar dimana dia berada sekarang. Matanya berjelajah sebentar ke semua sudut kamar, lalu berhenti tepat ke kedua manik mataku. Jarak kami hanya beberapa centi meter mengingat ruangan kamar yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang saja.

“Jang Mi Ran, mengapa kau ada di sini?” tanyanya terkejut. Aku langsung melempar bantal yang ku pegang dan tepat mengenai kepalanya hingga ia terjungkir ke belakang dan membentur dinding dengan keras.

“Aaakh!!” dia menjerit. Aku terkesiap menyadari kebodohanku.

“A, apanya yang sakit? Mana yang sakit?” aku panik mengingat dia baru saja keluar dari rumah sakit dan menjalani operasi kecil di kepalanya. Benar saja, kedua tangannya mencengkram kepala seolah semua kesakitan bertumpu di sana.

“Ini sangat sakit, Mi Ran! Kau benar-benar ingin membunuhku rupanya!” dia berteriak kencang tepat di depan wajahku. Aku terdiam menatapnya tanpa ekpresi. Jong Woon seperti tersadar dari kekeliruannya melihat reaksiku.

“Ma, maksudku, ke, kepalaku sangat sakit Mi Ran! Jadi kau harus bertanggung jawab!” dia berbicara dengan nada yang dibuat ketus namun terdengar gugup di telingaku. Aku tak menjawab sedikit pun ucapannya. Aku sadar telah melupakan satu hal, bahwa aku tak ingin lagi berurusan dengan Jong Woon dalam hal apa pun. Berada di sampingku hanya akan menimbulkan masalah baru baginya yang akan berakibat fatal bagiku.

“Keluarlah. Aku tak ingin berdebat denganmu,” kataku dingin sambil memalingkan muka. Dari sudut mata, ku lihat Jong Woon memasang wajah seriusnya juga.

“Kau tidak perlu melakukan ini, Mi Ran,” katanya lembut namun terdengar tegas.

“Aku tidak melakukan apapun, jadi pergilah,” pintaku sekali lagi. Aku tidak tahu mengapa, tetapi wajah Jong Woon terlihat sembab begitu ku perhatikan dengan seksama.

“Kau bisa menggunakan kamar kita seorang diri mulai sekarang. Biar aku yang akan tinggal di ruang baca,” katanya lagi yang lantas membuatku mendelik padanya.

“Aku menyukai tempat ini, dan tidak ada satu orang pun yang bisa memerintahku untuk tinggal dimana mulai saat ini!” ketusku tajam. Aku mulai berdiri dan sedikit terkejut merasakan kepalaku yang sakit sekali. Beruntung aku merapat pada dinding, jadi aku bisa berpegangan agar tak terjatuh dan Jong Woon tidak perlu menyadari bahwa sesuatu yang sangat tidak ku inginkan menimpaku.

“Pergilah. Bukankah ini hari pertama masuk sekolah? sebagai ketua OSIS, kau akan mendapat masalah jika terlambat di hari pertama,” mungkin ini terdengar seperti aku mencemaskannya, namun hanya dengan cara ini aku mengusirnya. Jong Woon tampak diam menatapku, lalu dia bangkit sambil memegang kepalanya yang terbentur tadi.

Begitu dia meninggalkan kamarku, tubuhku langsung luruh dan kepalaku kian berdenyut hebat. Rasanya semua terasa berat dan  tubuhku sedikit menggigil  menerima angin yang berhembus pelan namun terasa dingin menimpa pori-pori kulitku.

“Aiisssshh.. jinja?!” aku merutuk menyadari bahwa mungkin penyakit demam mulai menyerangku.

Dengan sekuat tenaga, aku bersiap-siap ke sekolah dan bertingkah seperti biasa. Mandi, sarapan, dan mengejar-ngejar bus ke sekolah. Kelakuanku yang tak berubah sama sekali tidak membuat Jong Woon dan Nyonya Chang curiga. Namun semakin lama, kepalaku bertambah pusing dan kian tak mudah digerakkan. Di dalam kelas, aku melipat kedua tanganku di atas meja dan menyembunyikan kepalaku di atasnya. Hebatnya masuk ke kelas terburuk adalah tidak akan ada yang berani mencampuri urusan orang lain selagi kau masih bisa bersenang-senang sesukamu. Ya, itulah kondisi di kelasku sekarang. Berisik, berantakan, dan terjadi kemaksiatan disegala sudutnya.

 

Mendadak aku sedikit terusik ketika kelas tiba-tiba membisu. Begitu ku angkat kepalaku, ternyata Hee Chul datang dengan tampang sok berkuasanya seperti biasa.

“Kami dari anggota OSIS mengumumkan akan diadakannya sebuah pesta yang sangat mewah. Semua siswa Libra Highschool diundang, termasuk kalian. Jadi kami tidak ingin kalian membuat ulah dan bersikaplah dengan terhormat bila sudah berada di sana.”

Setelah memberikan pengumuman singkat, Hee Chul langsung memberikan undangan berwarna biru muda yang dibagikan secara di oper ke belakang. Otomatis aku yang pertama mendapat undangan tersebut karena posisi dudukku berada di baris pertama paling belakang. Dengan malas dan kepala berkunang, aku membuka undangan bersampul elegan di tanganku.

24 Agustus,

Kim Jong Woon’s Birthday_

Mataku terbelalak. Ulang tahun Jong Woon?

***********

Kim Jong Woon POV

“Aiish, Eomma mengapa tidak memberitahuku dulu dan malah berbuat seenaknya!” aku memarahi Eomma di telepon karena kesal dengan ulahnya. Bagaimana tidak, Eomma seenaknya mengumumkan akan mengadakan acara ulang tahunku besok malam secara besar-besaran dan tanpa sepengetahuanku. Eomma juga yang sudah memerintahkan kawan-kawanku dalam jajaran anggota OSIS untuk menyebarkan semua undangan kepada seluruh pelajar.

“Eomma melakukan ini atas persetujuan Appamu, chagi. Lagi pula kau berbaring di rumah sakit selama seminggu. Mana mungkin Eomma melibatkanmu dalam kepengurusan persiapan ulang tahunmu dalam kondisimu yang tidak baik saat itu? Dan anggap saja pesta ini juga sebagai perayaan kesembuhanmu tempo lalu,”

“Dari dulu Jong Woon tidak suka merayakan ulang tahun secara meriah, Eomma. Eomma dan Appa kan tahu itu. Ini namanya pelanggaran hak privasi!’ tukasku sebal.

“Berani kau mengatakan seperti itu pada Eomma yang sudah melahirkan dan membesarkanmu, hah?!” tiba-tiba Eomma naik darah. Aisssh, mengapa jadi Eomma yang marah sekarang? Harusnya kan aku!

“Ya ya! Lakukan sesuka Eomma!”

“YA! KIM JONG WOON! BESOK MALAM KAU HARUS PULANG KE RUM―”

Tit. Aku langsung memutuskan hubungan secara sepihak. Ku letakkan ponselku dengan kasar ke atas meja, dan mendengus kesal. Eomma benar-benar wanita yang tidak terkalahkan. Menyebalkan sekali jika mengingat aku harus lagi, lagi, dan lagi menuruti keinginannya.

“Hahahahahahahahahahaha!! Terkadang kita memang harus selalu mengalah kepada wanita-wanita seperti ibu kita,” Hee Chul datang dan langsung tergelak di mejanya. Aku bertaruh, dia pasti baru selesai membagikan undangan ulang tahunku yang diperintahkan Eomma padanya, dan dia pasti sangat puas mendengarkan separuh pembicaraanku dengan Eomma di telepon.

“Ck! Tak ku sangka kau bisa menuruti keinginan konyol eommaku,” tukasku mencibir.

“Oh ayolah, Jong Woon. Siapapun pasti penasaran ingin melihat bagaimana megahnya ulang tahun ketua OSIS ternama Libra Highschool ini,” Hee Chul tergelak lagi. Aku baru hendak melayangkan cercaanku padanya ketika tiba-tiba ponselku bordering lagi. Aku terkejut melihat nama yang tertera di display ponsel.

“Yeoboseo, Appa?” sapaku sambil meletakkan telunjukku ke depan bibir, menyuruh Hee Chul untuk tidak berisik.

“Jong Woon, kau bisa kan pulang ke rumah besok malam?” suara serak, tinggi, dan wibawa Appa memenuhi gendang telingaku. Aku menghela nafas pasrah. Eomma pasti mengadu pada Appa, dan kalau sudah begini, aku tidak mungkin menolak keinginan Appa yang sangat ku hormati.

“Ne, Appa,” jawabku menyetujui.

“Bawa Mi Ran bersamamu. Walau pun dia hanya akan datang seperti teman-temanmu yang lain, mengingat status pernikahan kalian yang masih harus dirahasiakan, tapi Appa berharap dia bisa ikut andil di balik layar demi kesuksesan acara ini.” Tegas Appa. Aku menarik nafas lebih pasrah lagi. Apa aku bisa mengajak Mi Ran ke rumah?

“Akan ku usahakan, Appa,” kataku tak berjanji.

“Hmm, baiklah. Belajarlah yang benar dan segeralah lulus sekolah untuk menggantikan Appa di perusahaan.”

Setelah itu Appa mematikan obrolan. Aku menghela nafas kasar seraya menyandarkan diri di kursi putar dan menghadap keluar jendela. Bisa ku dengar suara cekikikan Hee Chul bersamaan dengan suara pintu tertutup. Dia keluar dari kantor OSIS, meninggalkanku sendirian yang memang sedang membutuhkan ketenangan.

Beginilah derita anak tunggal. Selalu menjadi satu-satunya orang diandalkan.

**********

“Appa ingin kita ke rumah besok,” ujarku membuka pembicaraan. Saat ini ruang makan tampak senyap dan sesekali terdengar suara piring dan sendok bergesekan. Mi Ran  yang tengah menyantap makan malamnya di sebrangku, tak bergeming sama sekali ketika aku mengutarakan maksud itu.

“Aku tidak bisa,” ujarnya pelan tanpa sedikit pun memandangku. Akhir-akhir ini lebih banyak kecanggungan menyeruak di antara kami. Rumah tidak lagi ramai oleh pertengkaran kami, yang ada hanya suara Nyonya Chang yang sering mendominasi rumah yang kian lama tampak seperti kuburan ini.

“Tapi Appa―”

Greek… suara kursi bergeser dan berdecitan dengan lantai.

“Aku sudah selesai,” Mi Ran bangkit dan berlalu dari hadapanku. Aneh. Ada yang aneh dengan suara dan langkah Mi Ran. Suaranya pelan dan serak. Belum lagi geraknya yang tampak timpang dan tubuhnya yang sedikit bergetar. Ada apa dengannya?

“Tuan, saya akan pergi ke rumah Tuan besok untuk menggantikan Nona,” Nyonya Chang langsung datang menawarkan diri. Aku mengangguk namun pandanganku masih saja mengikuti sosok Mi Ran yang menghilang di balik tembok dapur. Aku berusaha untuk tidak terlalu larut dalam pikiranku mengenai dia. Mungkin dia hanya kelelahan menjalani hari pertama di sekolah.

Keesokan harinya, Mi Ran benar-benar tidak ikut ke rumahku. Dia mengunci diri di ruangan sempit itu bahkan tak menyahut sama sekali ketika aku mengetuk pintunya.

“Nona, jika Nona lapar, saya sudah menyiapkan makanan siap saji di kulkas. Nona hanya tinggal menghangatkannya saja di micro wave,” Nyonya Chang berpesan dari balik pintu, namun Mi Ran tak juga menyahutnya. Aku hanya bisa menghela nafas sebelum akhirnya berangkat ke rumah orangtuaku bersama Nyonya Chang.

************

Jang Mi Ran POV

Ini tidak baik. Badanku semakin lama semakin tidak enak dan tidak bisa dikendalikan. Tubuhku menggigil terus dan sulit sekali digerakkan. Belum lagi deru nafasku yang kian tak beraturan.

“Nona, jika Nona lapar, saya sudah menyiapkan makanan siap saji di kulkas. Nona hanya tinggal menghangatkannya saja di micro wave,” suara Nyonya Chang dibalik pintu masih jelas terdengar meskipun telingaku sudah berdering sedari tadi menerima berbagai macam suara yang membuat kepalaku kian pusing. Tak begitu lama, samar aku mendengar suara deru mobil meninggalkan garasi. Sepertinya mereka sudah pergi. Aku bangkit dengan susah payah lalu pergi ke dapur. Ku ambil makanan siap saji yang Nyonya Chang katakan, lalu menghangatkannya di micro wave. Hanya butuh tiga menit, makanan itu matang dan ku sajikan. Aku baru memasukkan suapan pertama ketika akhirnya makanan itu ku buang. Rasanya pahit dan sangat tidak enak. Jelas saja, bagi orang sakit makanan seenak apapun tidak akan berasa dan justru menjadi hal yang sangat dihindari.

Hari sudah beranjak sore. Sepertinya aku harus ke dokter agar penyakit sialan ini segera enyah dari tubuhku. Dengan menggunakan sweater tebal dan syal, aku terhuyung keluar rumah. Untungnya aku berhasil mencapai halte dan menaiki bus ke klinik terdekat. Di dalam bus, gerimis mulai turun. Aku teringat pesta ulang tahun Jong Woon malam ini. Itu pasti akan menjadi pesta super mewah dan menyenangkan baginya. Meskipun aku tahu akan mendapatkan cercaan dari mertuaku, tapi aku tetap tidak akan datang kesana, apalagi dengan kondisiku sekarang. Aku tidak ingin datang ke acara yang hanya akan membuat batinku terluka.

Ulang tahun adalah sesuatu yang bisa dirayakan jika seseorang memiliki keluarga, teman, bahkan kolega. Ulang tahun adalah hari berkurangnya usia manusia dan menjadi awal untuk kenangan baru memasuki hidupnya. Aku teringat ketika setiap tahun Yoon Ki Oppa selalu merayakan ulang tahunku di musim salju. Dia akan memberikanku semua hal yang ku pinta, dan mengajakku ke tempat yang ku suka. Tidak ada yang tahu kapan pastinya aku dilahirkan kecuali aku dan orang tuaku. Yoon Ki Oppa hanya mengatakan bahwa dia selalu teringat salju ketika melihat aku. well, dia jadi menganggap musim salju sebagai ulang tahunku. Aku tersenyum mengingat alasan konyolnya kala itu. Tiba-tiba aku langsung teringat padanya. Aku sangat merindukannya.

Di hari ketika Jong Woon mengajakku ke taman hiburan, Yoon Ki Oppa mengajak Yoon Sa untuk berobat ke Jepang selama sebulan. Jadi aku bisa pastikan bahwa Yoon Ki Oppa tidak akan mengetahui sama sekali perihal kejadian seminggu lalu ketika Jong Woon kecelakaan. Aku merapatkan diri ke jendela bus dan menikmati rintik gerimis kecil yang turun teratur membasahi pandangan. Dengan lirih, aku menyanyikan lagu Twinkle-twinkle little star yang membawa pikiranku menggambarkan sosok Kyu Hyun. Aku belum bertemu dengannya lagi sejak liburan sekolah usai, dan entah mengapa kini ia jarang menguasai otakku.

Bus berhenti tepat di halte yang di belakangnya berdiri sebuah klinik yang diapit oleh salon rambut dan sebuah distro pakaian. Aku harus daftar dan mengantri untuk dapat pemeriksaan. Untungnya hanya ada dua pasien, dan aku termasuk pasien terakhir yang mendapat giliran.

“Anda harus di rawat dan di infus, Agasshi,” dokter paruh baya yang beberapa saat lalu memeriksaku langsung memberikan vonis yang membuatku tercengang.

“Memangnya saya sakit apa, dok?” tanyaku lemah.

“Anda terserang gejala tipus. Saya akan memberikan surat rujukan ke rumah sakit untuk anda,” setelah dokter itu memberikan selembar kertas dan beberapa obat, aku lalu keluar dari klinik dengan sempoyongan. Aku berjalan meski kepalaku berkunang, namun aku harus ke suatu tempat untuk membeli sesuatu.

Tak terasa, waktu kian beranjak malam. Pesta ulang tahun Jong Woon pasti sudah dimulai dan aku bisa membayangkan betapa meriahnya pesta tersebut. Orang tua yang lengkap, kawan-kawan sekolah, kado yang berserakan, dan kue ulang tahun yang besar, sempat terlintas di benakku dan membuatku sangat iri. Aku tiba di depan toko roti dan membeli sebuah cupcake berukuran sedang, lalu berjalan menuju halte bus terdekat. Gerimis yang masih setia mengguyur Seoul malam hari membuat halte sepi meski jalanan tetap padat merayap. Angin bersiul kencang dan membuatku merapatkan sweater semakin erat. Di halte yang sepi, seorang diri aku merasakan betapa nikmatnya kesunyian ini. Aku menatap cupcake di tanganku dan membayangkan kedua orang tuaku duduk mengapitku. Aku mulai mendendangkan lagu yang semua orang Korea menghafalnya.

Saengil chukkae hamnida…. saengil chukkae hamnida…. saengil chukkae Jang Mi… Ran…” suaraku terhenti. Aku tersenyum miris, “Saengil cukkae hamnida...”

Air mataku tak terbendung lagi. Selalu saja begini setiap kali aku merayakan ulang tahunku seorang diri. Ini adalah hari dimana aku harus selalu memutar kenangan itu di benakku. Kenangan ketika usiaku lima tahun, Eomma maupun Appa merayakan ulang tahunku secara kecil-kecilan di rumah kami yang sederhana. Meski pun begitu, mereka selalu menyiapkan kado yang ku suka. Aku memejamkan mata dan memegang cupcake-ku erat. Suara Eomma terngiang lagi dikepalaku.

Selamat ulang tahun, chagi. Semoga kau bahagia dan sehat selalu.

Lalu Appa.

Di usiamu yang akan bertambah setiap tahunnya, kau akan menemukan petualangan-petualangan baru dalam hidupmu. Tersenyumlah, dan hadapi semua itu.

Aku membuka mata dan mendapati air mataku terjatuh lagi.

“Eomma, Appa, nan neomuu bogoshipoyo…” lirihku. Lalu semilir angin berhembus kencang seolah membawa terbang ungkapan rasa rinduku entah kemana. Bus tak juga datang sementara gerimis mulai berubah menjadi rintikan hujan.

Aku sudah tak tahan lagi. Tubuhku kian menggigil dan seperti membeku. Sweater dan syal yang ku kenakan sama sekali tak menyelamatkanku. Aku melihat bintang-bintang di atas kepalaku beterbangan. Tanpa sadar, cupcake yang ku genggam jatuh menggelinding dan tertelan air hujan. Padahal aku sangat ingin menikmati kue ulang tahunku, namun tahun ini sepertinya aku tidak bisa memakan cupcake yang ku beli dengan seadanya itu.

Aku masih bertahan menunggu bus datang sambil memeluk diriku sendiri. Kepalaku mulai bertambah berat dan mataku tak bisa membuka lebih lebar lagi. Aku sudah memasrahkan diri akan pingsan di tempat itu, namun tiba-tiba sepasang kaki berdiri di hadapanku. Begitu aku mendongak, aku mendapati wajah Jong Woon menatapku cemas.

“Kim.. Jong.. Woon..” setelah itu aku ambruk dan tak sadarkan diri.

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

Kalau komentarnyanya kritis, saya pastikan akan lebih cepat mempublish lanjutannya. So, Tinggalkan jejak ya dengan berkritis ria ^^

Publised by Allison

Advertisements

9 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 8)

  1. Yyyyaaa author emg bnr2 bikin gereget padahal lg seru2nya mlh TBC
    Eommanin jgn jht2 ke Mi Ran dia kesepian bahkan sahabat aja gak punya & Kim jong woon berusaha lebih keras lg biar MI Ran luluh

  2. Wahahh, ceritanya keren banget thorr!!! Gila netes beneran ini saya bacanya!! 4 jempol deh buat author!!

  3. astaga..miran bnr2 kasihan..knp smw orang selalu anggap dia g dharapkan..aku sedih bayangn kondisi miran..mana yoon ki lg djepang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s