[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 7)

Tittle    : My wife, my enemy # Conflict 7

Genre  : Siapa saja yang mau baca

Cast     : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

The Most Real Inspiration by : Dini De’Forest (FB)

 

Terima kasih atas waktu luangnya ^^ please correction~~~

************

Kim Jong Woon POV

“Hahahahhahahahahahahahahahahaha!!!” aku tergelak sepanjang perjalanan pulang. Ku kendarai motorku dengan riang. Membayangkan wajah Mi Ran yang memerah menahan marah benar-benar menyenangkan. Seharian ini aku melakukan aktingku dengan sangat sempurna. Bertutur sopan padanya, menggodanya, bahkan memanjakannya, adalah hal yang sama sekali tidak pernah ku lakukan pada siapapun sepanjang hidupku, termasuk Na Mi. Aku memang pantas mendapat julukan The King of Drama. Hahahhahahahahahahahaha!!

Meski begitu, apa tindakanku benar meninggalkannya sendirian di taman hiburan? Kakaknya kan pernah bilang bahwa dia mempunyai semacam ketakutan terhadap tempat-tempat baru? Ah, ani, Kim Jong Woon. Jangan ragu dengan keputusanmu. Gadis itu sudah mempermainkanmu semalam, dan hari ini sudah sepantasnya dia mendapatkan balasan. Lagipula dia sudah akhir kelas tiga. Tidak mungkin dia masih merasa ketakutan di usianya yang sudah dewasa.

Aku termenung sepanjang jalan. Walaupun aku sudah sangat puas mempermainkannya seharian, entah mengapa setelah dendamku terbalas aku malah merasa bahwa ini bukanlah sesuatu yang benar meninggalkannya sendirian. Ku matikan mesin motorku sambil menepi ke pinggir jalan. Tiba-tiba saja wajah gadis itu memenuhi benakku hingga terasa menyesakkan. Sepertinya aku memang harus kembali untuk melihat keadaannya. Kembali ku nyalakan mesin motorku lalu berputar arah. Bisa gila aku gara-gara memikirkan dia. Hah. Jang Mi Ran pandai sekali mengintimidasi otakku.

Aku mengemudikan motorku dengan kecepatan di atas rata-rata. Belum sampai ke taman hiburan, aku terpana melihat pemandangan yang sangat menyayatkan hati. Aku melihat dia, Jang Mi Ran, dengan pakaiannya yang berubah compang dan penampilannya yang sangat jauh dari kata layak. Dia berjalan gontai dengan wajah tanpa ekpresi sambil memeluk erat sebuah box berisi boneka Barbie. Aku memperhatikan sekeliling dan menyadari bahwa orang-orang mulai berbisik-bisik menggunjingkan dia. Hatiku terasa teriris dan dadaku terpacu cepat. Perasaan bersalah yang teramat sangat mulai melumer keseluruh tubuhku.

Dengan sigap, aku menghentikan motor lalu berlari menghampiri dia.

“Jang Mi Ran!” aku meraih pergelangan tangannya. Dia nampak terkejut lantas melotot padaku. Dari jarak sedekat ini aku bisa semakin jelas melihat wajahnya yang pucat dan tampak kacau sekali. Matanya memereh menahan marah. Aku tahu aku salah, namun aku tak bisa mengabaikannya begitu saja.

“Mau apa kau?!” ucapnya setengah menjerit sambil menghempaskan tanganku dengan kasar. Aku yang sudah tak peduli dengan sikapnya, lalu kembali menahan pergelangan tangannya.

“Ayo pulang,” ajakku lembut dan, damn, aku terdengar seperti memohon padanya. Dia menarik sudut bibirnya ke atas sambil lagi-lagi menghentakkan tanganku kasar.

“Jangan sentuh aku, Kim Jong Woon. Ani, tapi jangan pernah berbicara padaku lagi. Selamanya.” Tandasnya terdengar sangat menyakitkan. Dia kembali berjalan terseok-seok dan begitu kelelahan. Aku tak bisa membayangkan apa yang telah terjadi padanya di taman hiburan setelah dia ku tinggalkan sendirian. Tapi bagaimanapun, nuraniku sekarang mengatakan untuk tidak lagi meninggalkannya sendirian, apalagi dengan kondisinya sekarang.

“Mi Ran!” aku memutar tubuhnya dan memegang kedua bahunya erat. Aku terkesima melihat kilat matanya yang tampak redup dan tak berdaya. Ada ketakutan mendalam tersirat di kedua bola matanya yang indah.

“Mi Ran.. kau…”

“Lepaskan!” Mi Ran mendorong tubuhku cukup keras hingga masuk melewati garis kuning pembatas jalan. Aku masih tertegun melihatnya. Kami saling menatap dengan raut antara benci dan permohonan maaf. Aku sudah tak peduli dengan keadaan sekitar, karena mataku fokus pada ketidakberdayaan dirinya yang entah mengapa kini teramat jelas ku baca.

“Mi Ran..”

Tin Tin !!

Aku tak terlalu peduli dengan suara klakson yang terus-menerus menggema di jalanan. Sedetik kemudian raut Mi Ran berubah. Ia melotot menatap kesekitarku dengan reaksi waspada.

“Awas Jong Woon!!” dia berteriak sambil mengulurkan tangannya. Hanya seperkian detik ketika akhirnya aku menoleh ke samping dan mendapati sedan biru melaju kencang ke arahku seperti kehilangan kendali.

Aku tak punya waktu untuk menghindar ketika akhirnya ku rasakan tubuhku terpental akibat tertabrak benda yang amat keras.

“JONG WOON!!”

Rasa sakit yang teramat sangat menjalar kesemua anggota tubuhku. Jantungku berdetak cepat menahan pesakitan dan terus mengambil nafas dengan terengah-engah seolah malaikat maut berada tepat di ujung kepala.

“Kim Jong Woon!” aku merasa tubuhku terangkat. Mataku masih bisa melotot jelas memperhatikan Mi Ran yang memeluk jasadku erat.

“Tidak Kim Jong Woon! Kau tidak boleh melakukan ini padaku!”

“Jang… Mi… Ran….” Mataku terasa berat dan kian mengecil. Sejenak sambil melawan kesakitan, aku terperanjat melihat Mi Ran menitikkan air mata untuk yang pertama kalinya.

“Tidak Kim Jong Woon! Ku mohon bangunlah!! Kau tidak boleh melakukan ini padaku! Kau tidak boleh membiarkan haraboji membunuhku!!” badanku terguncang akibat Mi Ran yang menarik-narik kerah bajuku kencang. Haraboji? Mengapa haraboji harus membunuhnya? Memangnya apa yang telah dilakukannya? Di ambang maut aku masih saja tidak bisa menghentikan rasa penasaranku padanya.

“Kim Jong Woon! Ku mohon bangunlah!!” aku ingin sekali bangun, Mi Ran. Rasanya aku tak sanggup melihatnya menumpahkan airmata lebih banyak lagi, namun semua badanku menolak perintahku. Mereka kaku. Mereka mengekangku dalam rasa sakit yang abadi. Bau anyir darahku sendiri mulai tercium hidungku. Kepalaku mungkin bocor, tapi aku tak peduli. Aku hanya tak ingin mati dulu karena masih ada yang harus ku selesaikan di sini.

Suara teriakan Mi Ran kian tak terdengar olehku. Aku hanya ingin sekali saja menyentuh wajahnya, namun tak mampu. Kekuatanku habis tak tersisa.

“KIM JONG WOOOON!!!”

Setelah itu yang ku rasakan adalah gelap gulita.

*************

Jang Mi Ran POV

Plak! Tamparan keras mendarat di pipiku dengan mulus. Ini sudah ketiga kalinya haraboji memukul wajahku sementara di depanku Eomma Jong Woon menangis tersedu menatap anaknya yang kritis di balik pintu ruang ICU.

“Kau… kau benar-benar keterlaluan, Mi Ran! Apa sebenarnya yang kau lakukan hingga membuat cucu menantuku berbaring tak berdaya di dalam sana, hah?!” haraboji terus menerus menanyakan hal sama dari satu jam yang lalu, terhitung ketika aku membawa lari Jong Woon ke rumah sakit terdekat. Rasanya kakiku ngilu, begitu pun pergelangan tanganku. Ada satu perban di lenganku yang membuatku lemas tak berdaya hingga mengabaikan semua rasa sakit, baik fisik maupun batin, yang haraboji berikan padaku. Aku sudah mendonorkan semua darah yang ku punya demi mengganti darah Jong Woon yang berceceran di jalanan. Setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan agar lelaki itu bisa tetap hidup di tengah kondisinya yang sangat kritis.

Aku lelah. Sangat lelah. Semua ini membuatku merasa bahwa mungkin kematian akan lebih baik dari pada harus menerima kesialan ini semua. Cercaan haraboji, bahkan tatapan menghunus Kim Ahjumma pun aku tak peduli. Aku ingin mati. Mati… menyusul Eomma dan appa, lalu hidup abadi dengan bahagia bersama mereka.

Tuhan… andai aku bisa mati saat ini juga…

Wajahku tertunduk semakin dalam. Tubuhku lunglai di atas kursi tunggu. Makian haraboji kian tak terdengar olehku. Sepertinya fungsi kerja tubuhku sudah mati sekarang, dan dengan bodohnya otakku masih saja bekerja memikirkan kondisi dia di dalam sana.

Wajahku mengadah ketika akhirnya seorang dokter keluar dari ruang ICU. Haraboji, nyonya dan tuan Kim pun menyerbu dia dengan berbagai pertanyaan. Aku mendesah lega mendengar dia baik-baik saja. Sekarang energiku habis sudah. Aku bahkan tak bisa berdiri untuk sekedar mengikuti ranjang Jong Woon yang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Dan kini, aku terduduk seorang diri, masih di depan ruang ICU. Tiba-tiba dokter yang menangani Jong Woon menepuk pundakku.

“Dia baik-baik saja, Agasshi. Semua berkat dirimu. Untungnya golongan darahnya sama denganmu, jika tidak mungkin nyawanya sudah tidak terselamatkan lagi,”

Aku sontak menggenggam lenganku yang terasa ngilu. Benar, sesudah meninggalkanku di taman hiburan dan membuatku berlari-lari tanpa tujuan seharian, kini dia juga membuatku harus kehilangan sebagian darahku dan menerima perlakuan kasar haraboji terhadapku.

Great, Kim Jong Woon. Pembalasanmu benar-benar menyakitkan.

“Agasshi, tubuhmu bergetar, apa kau sakit?” dokter bername tag Lee Sung Min itu memegang lenganku. Aku terhentak sambil menggeleng keras. Namun sepertinya dia tidak percaya, lalu mulai memakai stetoskop yang masih setia menggantung di lehernya.

“Aku akan memeriksa detak jantungmu sebentar,” dia mulai meletakkan stetoskopnya ke dadaku, serta jemarinya dengan intens memeriksa denyut nadi tanganku, tanpa persetujuanku.

“Ya Tuhan! Kondisimu buruk, Agasshi. Kau harus segera menjalani perawatan! Kau pasti kelelahan karena menyumbangkan darahmu, dan tubuhmu pun sepertinya kehilangan banyak cairan.”

Aku langsung bangkit begitu mendengar vonis Dokter Lee.

“Aku baik-baik saja, dokter. Terima kasih,” aku membungkuk untuk memberi hormat, kemudian berlalu pergi meninggalkan Dokter Lee yang tampak tertegun melihatku. Aku tak mau terlihat rapuh saat ini. Ini bukan hal baik jika harus mendapatkan perawatan dan membuat haraboji kian kerepotan. Aku baru melewati tikungan koridor ketika tiba-tiba tanganku di tarik seseorang.

“Mau kemana kau? Sudah membuatku malu di hadapan keluarga Kim, dan sekarang kau ingin kabur begitu saja?!” haraboji menahan tanganku lalu menarikku menuju ruang VVIP dimana Jong Woon masih terbaring dengan selang oksigen di mulutnya. Aku disambut dengan pandangan menusuk Nyonya Kim yang seperti ingin menelanku bulat-bulat jika saja tidak ada haraboji di sisiku.

“Saya meminta maaf, Tuan Kim. Karena kelalaian cucu saya, Jong Woon jadi seperti ini,” haraboji membungkukan badan seraya mendorong kepalaku untuk ikut membungkuk. Bisa ku lihat raut penyesalan yang teramat haraboji ketika membungkukan kepala kepada mereka. Hal itu membuatku sangat sakit dan ada rasa tak terima. Lagi, aku telah menyusahkan haraboji untuk yang kesekian kalinya. Membuatnya harus merendahkan harga dirinya pada keluarga Kim hanya karena kelakuanku.

“Tidak apa-apa, Tuan Jang. Yang penting sekarang Jong Woon sudah melewati masa kritisnya,” Tuan Kim nampak sungkan dan berkata lembut sesuai prilakunya. Berbeda dengan isterinya, Tuan Kim memang memiliki pribadi hangat yang bahkan―katanya― mampu menaklukan hati Nyonya Kim yang keras.

Setelah itu aku diharuskan menunggu dan menjaga Jong Woon tanpa sedikitpun boleh beranjak dari kursi. Di hadapanku kini, tubuh Jong Won terbujur kaku. Dia masih pingsan, namun terlihat seperti orang yang tengah tertidur pulas bagiku. Wajahnya menampakkan kedamaian tak bertepi, dan membuat hatiku teriris semakin dalam lagi. Sosok di depanku ini adalah sesuatu paling berharga yang seharusnya tak ku sakiti. Bukan waktunya memikirkan bagaimana aku bisa mengalahkan dia. Tapi ini adalah waktu dimana aku seharusnya sadar untuk terus mengalah padanya. Demi keluarganya, dan bahkan demi haraboji, sosok di depanku ini tidak boleh sakit sama sekali. Tak peduli seberapa sakitnya aku, seberapa beratnya penderitaanku, tapi dia, Kim Jong Woon, harus tetap baik-baik saja.

**********

Kim Jong Woon POV

Kata Eomma, aku terbaring selama seminggu dan baru sadar ketika musim hujan menyentuh bumi Seoul pertama kali. Kepalaku rasanya sakit sekali dan keadaan sekitarku tampak berkunang kali pertama aku sadarkan diri. Setelah dua hari mengikuti masa penyembuhan yang intensif, aku akhirnya diperbolehkan pulang dengan syarat harus sering check up selama sebulan untuk memastikan aku telah sembuh total.

Aku tidak melihat sosoknya ketika aku sadarkan diri. Begitu aku tanya pada Eomma, dia bilang tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku menghembuskan nafas frustasi. Tak dapat ku pungkiri, semua kejadian malam itu masih teramat membekas di hati. Aku bahkan masih bisa mengingat jelas ketika dia menangis sesaat sebelum aku tak sadarkan diri. Si bodoh Mi Ran, mengapa bisa seperti itu? Bahkan kehadiran Na Mi ketika menjengukku di rumah sakit pun tidak bisa mengalihkan pikiranku pada gadis itu.

“Eomma, mengapa Mi Ran tidak datang menjemputku pulang?” tanyaku pada Eomma ketika kami dalam perjalanan. Lagi-lagi Eomma malah sibuk mengotak-ngatik ponselnya dan menjawab acuh.

“Dia sedang berbenah di rumah untuk menyambutmu,”

Alisku mengeryit, “Kenapa dia harus berbenah sementara ada Nyonya Chang di rumah?”

“Biarkan saja. Dia kan isterimu. Sudah seharusnya dia belajar menjadi isteri yang baik dan layak bersanding denganmu.”

Aku baru hendak melayangkan pertanyaan lagi, ketika akhirnya mobil yang membawaku tiba di pekarangan rumah. Eomma dengan telaten memapahku memasuki rumah. Hal pertama yang menyergapku adalah rasa rindu terhadap rumah yang baru seminggu ku tinggal pergi itu.

“Anda sudah pulang Tuan?” Nyonya Chang menyambut kami seraya mengambil alih tas berisi barang-barangku dari tangan supir. Ibu menuntunku untuk duduk ke ruang tengah, namun aku terkejut mendapati Mi Ran tengah menonton televisi sambil duduk bersila di ruang tengah. Dia menatap layar televisi dengan tidak wajar, seolah apa yang ada di pikirkannya bukanlah acara kartun yang tengah di tontonnya, namun entah apa.

“Ya! Kau!” Eomma tiba-tiba berteriak yang lantas membuatnya terkejut dan berdiri dari sofa. Dia sedikit terkejut melihatku, namun hanya sebentar karena raut wajahnya langsung berubah datar seketika.

“Kau sama sekali tidak tahu sopan-santun! Seharusnya kau menyambut suamimu pulang dan bukannya bersantai menonton televisi seperti itu!” Eomma memarahinya. Aku langsung mencengkram lengan Eomma dan memberikan isyarat untuk tidak memarahinya. Eomma tampak mendengus kesal melihatku membelanya.

“Ya sudah. Sana buatkan Jong Woon minuman!” tanpa protes Mi Ran langsung pergi meninggalkan ruang tengah. Eomma duduk di sofa dan aku merebahkan diri di pangkuan Eomma karena kepalaku yang tiba-tiba berdenyut kembali.

“Eomma tidak seharusnya memarahi Mi Ran seperti tadi,” tukasku.

“Biarkan saja. Anak itu memang sesekali harus diberi peringatan agar tidak berbuat sesukanya hatinya.” Jawab Eomma ketus seraya mulai mengelus-elus kepalaku lembut. Aku tidak tahu harus berkata apalagi karena selama ini aku memang selalu kalah ketika beragumen dengan Eomma.

“Aigoo anak Eomma yang tampan kasihan sekali…” Eomma mulai lagi untuk mendramatisir keadaan. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela nafas dan mendengarkan.

“Padahal Eomma sudah menyiapkan jodoh yang saaaangat baik untukmu. Tapi karena permintaan konyol mendiang kakekmu dengan Tuan Jang, Eomma terpaksa melepaskanmu dengan gadis itu. Hah!!” Eomma menghela nafas kasar. Aku Cuma bisa geleng-geleng kepala mendengarkannya mengeluh hal yang sama setiap kali kami membicarakan tentang pernikahanku dan Mi Ran.

“Padahal Mi Ran itu terkenal sekali sangat nakal dan arogan. Cih, dia hanya beruntung terlahir sebagai cucu seorang konglomerat seperti Tuan Jang. Meskipun semua orang tahu bahwa kehadirannya tak pernah diharapkan.”

Untuk yang ini alisku menukik tajam. “Maksud Eom…” Aku baru mengambil posisi duduk dan menghadap wajah Eomma, namun seketika mataku melotot melihat Mi Ran berdiri di ambang pembatas ruang tengah dan ruang depan. Kedua tangannya memegang nampan berisi minuman, dan tatapannya dingin menembus bola mataku. Dia mendengarnya. Aku yakin dia pasti mendengar semua yang Eomma ucapkan tentangnya.

“Oh kau sudah selesai. Cepat bawa kesini. Aku haus!” lagi-lagi Eomma seenaknya memerintah Mi Ran. Dengan langkah tertunduk, Mi Ran mendekati kami lalu menyajikan dua gelas teh ke atas meja. Perasaanku tak karuan melihat setiap gerak-geriknya yang kaku. Jang Mi Ran, adalah gadis dingin berwajah cuek yang tak peduli dengan sekitarnya. Semua orang yang mengenalnya tahu itu. Tapi entah mengapa, kali ini berbeda. Raut wajah itu adalah samudra kepedihan yang terpendam. Aku bahkan bisa melihat lengannya sedikit bergetar. Dia….

“Apa yang kau lakukan? Sana kerjakan tugasmu!” Eomma mengusirnya ketus. Mi Ran tak berkomentar apapun lalu pergi meninggalkan ruang tengah. Aku tak tahu harus berkomentar apa mengenai dia. Aku… aku hanya senang melihatnya baik-baik saja di samping apakah makna ‘baik’ itu juga berpengaruh untuk kondisi jiwanya.

**********

Malam hari setelah Eomma pulang, aku kelimbungan mencari Mi Ran. Entahlah, aku merasa tidak tenang jika belum melihat wajahnya. Namun sosoknya tak ku temukan dimanapun, dan itu membuatku sangat frustasi sekali.

“Tuan…” Nyonya Chang menyapaku ketika tengah mondar-mandir di dalam rumah.

“Ada apa Nyonya Chang? Ah, apa kau melihat Mi Ran?” tanyaku berondongan. Nyonya Chang mengigit bibir bawahnya dengan ekpresi gelisah. “A, anu, Tuan. Sebenarnya itu yang ingin saya bicarakan…”

Setelah itu Nyonya Chang menceritakan hal yang membuatku menganga. Aku nyaris kehilangan keseimbangan jika saja tidak bertumpu pada sandaran sofa. Tidak berapa lama kemudian, aku sudah berdiri di depan sebuah ruang yang terasing dalam rumah. Ruang kecil yang berada di belakang dapur ini merupakan kamar dengan ukuran mini yang hanya cukup untuk sebuah kasur kecil dan lemari. Ruang ini adalah ruang pembantu, dan karena kami memiliki Nyonya Chang yang kami perlakukan hormat dengan memperbolehkannya menggunakan kamar tamu, maka kamar pembantu ini menjadi kosong bahkan sesekali menjadi tempat penyimpanan barang-barang lama. Setidaknya dulu, itulah fungsi kamar ini. Sebelum akhirnya Nyonya Chang bercerita padaku dan mengatakan bahwa Mi Ran sudah menggunakan kamar ini sejak seminggu yang lalu, tepat dimana pertama kali aku menginap di rumah sakit. Alasannya klasik, dia hanya tidak ingin diganggu karena ingin fokus belajar menghadapi ujian akhir. Benar-benar bukan Jang Mi Ran yang ku kenal. Dia bahkan sudah tidak peduli apakah Nyonya Chang akan mengadukan hal ini pada Jang Haraboji atau tidak. Nyonya Chang hanya tahu bahwa Mi Ran selalu mengurung diri di kamar tanpa jendela itu selama berjam-jam lamanya dan keluar hanya sesekali ketika waktu makan dan menonton televisi.

Tanganku terkepal. Gigiku mengatup rapat dan rasanya aku akan sangat puas jika bisa memukul seseorang saat ini. Jang Mi Ran, apa yang sebenarnya kau pikirkan? Mengapa kau melakukan semua hal konyol seperti ini? Jika ingin belajar mengapa kau tidak menggunakan ruang baca saja? Di sana ada sofa super empuk dan nyaman yang bisa membuatmu berlama-lama berada di sana untuk sekedar membaca komik atau belajar―macam apapun itu― menurut versimu. Tapi mengapa harus di kamar ini?

Dengan tangan gemetar, aku memutar kenop pintu. Pelan sekali, hingga aku pun sendiri tidak menyadari bahwa aku sudah menerobos masuk tanpa permisi. Aku tertegun di ambang pintu melihat sosoknya yang terlelap tidur di atas kasur lipat. Aku perlu beberapa waktu untuk mencerna pemandangan di depanku, ketika akhirnya aku mendekati dia. Mi Ran selalu tertidur miring sambil mengerucut, mencoba mencari kehangatan yang entah mengapa tidak pernah dia gunakan selimut. Rahangku mengeras. Rasanya aku ingin sekali membangunkan dia dan memaki-makinya. Tapi apa? Melihat wajahnya yang pucat pasi disertai lekuk kelelahan yang tercipta jelas, tak mungkin tega aku membangunkannya atau sekedar mengusiknya. Aku berjongkok, dan tanganku dengan nakal mulai membelai wajahnya. Menyingkirkan poni rambut yang menghalangi matanya.

Inilah yang paling ku benci dari Jang Mi Ran. Pandai sekali menggodaku ketika bahkan alam bawah sadarnya menghilang. Aku terus membelai wajahnya. Merasakan setiap lekukan perasaannya yang tercetak jelas kala dia tertidur. Relung hatiku sangat tertampar menyadari hal itu. Dengan tubuh gemetar, aku mendekatkan wajahku padanya, dan tanpa izinnya, lagi-lagi aku mengecup bibirnya. Hanya seperkian detik, sebelum akhirnya aku melihat setetes air menimpa wajahnya yang pucat. Air apa?

Aku langsung meraba-raba wajahku, dan terkejut mendapati mataku berlumuran air mata tanpa ku sadari. Lalu kesesakkan itu pun datang menghampiri. Aku menangis, dan nyaris saja terisak keras jika saja tak ku sumpal mulutku dengan lengan tangan. Ini terlalu menyakitkan, ani, ini sangat menyakitkan, Jang Mi Ran. Kau boleh melakukan hal konyol apapun asal bukan seperti ini. Aku tak ingin melihatmu menyiksa diri, aku tak kuat melihatmu begini.

Jang Mi Ran, jangan buat aku merasakan perasaan ini padamu….

 

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

Sayanya sedang UTS, jadi lama Publish, Mianhe..

So, tinggalkan jejak ya dengan berkritis ria ^^

Publised by Allison

Advertisements

8 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 7)

  1. jang mi ran kasian banget.. T.T
    sbenernya ada apa sii sama mi ran?? knapa jga kakek’a jaht banget sama mi ran?? apa juga maksud omongan eommanya jong woon??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s