[ Henry ] SERIES || I’m Ellin – Part 4 END

 

Tittle : I’m Ellin (Part 4)

Author: Dina

Cast: -Im Ellin as You

         -Henry Lau

         -Ga Eul (Ellin Friends)

         -Other

Are you ready for this??? here we go~~ ^^

Sebelumnya…

|| Part 1 || Part 2 || Part 3 ||

 

 

***

 

Mungkin ini karma dari Tuhan, kebohonganku selama ini dijadikan nyata, aku mengalami semua hal yang menjadi ‘alur cerita’ dari kebohonganku.. Aku bahagia karena karmamu.. Tuhan. Tapi aku merasa sakit.. akhirnya aku punya kekasih.. tapi, palsu.

Baginya aku hanya bualan. Baginya aku tidak nyata. Baginya aku hanya permainan. Tidak lebih..

 

 

Tuk.. Tuk.. Tuk..

Suara sumpit beradu dengan meja makan, tenggorokanku rasanya tidak ingin menerima apapun hari ini. Aku tidak bersela makan.

Mie Ramyun jumbo yang di pesan Ga Eul untuk di makan bersama nyatanya habis oleh mulut mungil Ga Eul, aku tak menyentuh seonggok benda hangat yang lezat itu sedikitpun.

 

Waeyo~ Ellin-ah? Dari tadi cuma aku yang menghabiskan Ramyun ini.. kau pikir aku kuli bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?”

“Makanlah.. aku tidak berselera makan.”

“Ada apa? Henry?”

“Ga Eul ottokhae..? Bagaimana jika aku benar-benar mencintainya sekarang ini? Bagaimana jika aku kalah dalam tantangan ini? Kenapa setiap aku bertemu dengannya aku berdebar-debar?”

“Bodoh. Itu cinta. Kau jatuh cinta padanya. Ikuti saja arusnya, mungkin sudah saatnya kau mengakhiri memerankan ‘tokoh’ ini. Kau mengerti kan maksutku? Ayo pulang.”

 

 

Benarkah? Benarkah? Benarkah yang dikatakan Ga Eul tadi?

Lalu akan bagaimana cerita ini berjalan? Apalagi yang akan kulakukan? Kenapa daritadi aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri dan tidak ada satupun jawaban yang muncul dalam pikiranku.

Apa memang harus aku akhiri semua ini? Tapi bagaimana mengakhiri peranku yang sudah melekat dari dulu?

 

***

 

Suara gaduh dalam kelas seperti ini adalah suara terindah dan termenyenangkan bagi pelajar. Jam istirahat adalah waktu paling berharga yang harus digunakan untuk bersenang-senang tanpa menyentuh buku pelajaran sedikitpun.

 

Pintu kelasku terbuka, seseorang dari kelas sebelah memasuki kelasku. Dia berjalan menghampiriku dengan senyuman yang aku kenali. Kuperhatikan semua gadis yang ada dikelas ini menatapnya, mereka mengagumi perselangkah pria ini berjalan mendekatiku. Dia kekasihku, tepatnya kekasih palsuku.

 

Kecupan singkat di puncak kepalaku dan usapan sayang dari jemarinya membuat lengkungan bahagia di bibirku.

 

“Ada apa datang kesini?”

“Rindu.”

 

Kata itu membuat saraf pada wajahku tertarik bahagia dan membuat senyuman pada paras cantikku. Kenapa sudah siang seperti ini wajahnya masih terlihat segar dan tampan? Kenapa wangi aromanya selalu sama dan terngiang-ngiang di sekelilingku.

 

“Nanti malam kujemput ya. Jam 7.”

“Iya..”

 

Kali ini pipiku yang menjadi landasan bibir tipis Henry. Ga Eul taukah kau saat ini aku sedang bahagia.

Selangkah demi selangkah kulihat dia berjalan menjauhi aku menuju pintu keluar kelasku. Punggungnya yang bidang itu pasti sangat hangat dan nyaman jika aku sedang tertidur di pelukannya. Wajah tampannya pasti tak akan ‘habis’ jika aku pandangi setiap hari. Ash, jangan berharap lebih. Semua ini kan.. palsu.

 

***

 

Ayunan yang sedikit reyot ini masih mampu menopang berat badanku. Walaupun suaranya seperti merintih kesakitan saat kuayunkan tapi dia masih terlihat kuat. Dua ayunan yang berjejer ini salah satunya masih kosong. Memang aku datang lebih awal, aku suka jika melihat Henry datang terlambat dan berusaha berlari menemui aku yang sudah menunggunya. Aku suka melihat dia saat berjalan dengan tampannya menemui aku dan kemudian aku akan bangga pada diriku sendiri saat semua gadis disekitarku mengerti bahwa dia milikku. Saat itu aku ingin membuang ingatanku bahwa sebenarnya ini semua tidak nyata. Ini hanya khayalan yang sedang dijalankan secara nyata.

 

Benar kan? Henry sudah datang, dan dia sedikit terlari menemuiku. Tampan kan dia saat ini? Oh, bagaimana ini? Sepertinya aku memang kalah dari tantangan ini.

 

Sekarang dua ayunan tua  yang berjejer ini sudah tidak kosong lagi.

 

“Kau cantik malam ini..”

“Ahh, setiap hari aku kan memang cantik.. hhh.”

“Mmm.. kira-kira siapa yang akan menang ya dalam permainan kita kali ini? hahaha.”

 

Baru saja aku melupakan tentang kata ‘permainan’ memuakkan yang akhir-akhir ini berkecamuk di batin dan pikiranku. Kenapa dia mengucapkan kata itu di saat suasana dan tempat semendukung ini. Sial.

Apa yang akan aku jawab dari pertanyaan itu, jelas aku yang kalah. Aku mencintai Henry. Kadang aku bertanya-tanya apakah hanya aku yang mencintainya, apakah Henry masih menganggap semua ini benar-benar permainan?

Semua perlakuan lembutnya, tutur kata yang menenangkan hati, sentuhan sayangnya padaku seolah-olah dia memang benar-benar mencintaiku, seolah-olah memang aku ini adalah kekasihnya.

Tapi aku tersadar satu hal penting berkat pertanyaan Henry beberapa saat lalu. Dia masih menganggap semua ini hanya permainan. Baginya aku hanya bualan. Baginya aku tidak nyata. Baginya aku hanya permainan. Tidak lebih..

Ash, tiba-tiba batinku sesak. Rasanya ingin lari sekarang juga dari tempat ini. Kulihat langit menghitam, satu persatu bintang menghilang dari sisi bulan, kilat muncul menengahi ributnya angin dan mendung yang mulai datang. Ini bisa kujadikan alasan untuk pergi dari tempat ini.

 

“Ah, sepertinya akan hujan.. aku harus pul…”

 

Kami berlari bersama, Henry menarik lenganku seolah-olah aku dalam bahaya.

 

Hujan turun. Deras. Butiran-butiran kecil itu tiba-tiba dengan cepat membuat genangan cermin dijalanan.

Dibawah pohon yang lebat kami berdua menunggu suara riyuh air Tuhan berhenti.

 

“Untung saja kita cepat berlari tadi, kau kedinginan? Merapatlah, pasti akan terasa hangat.”

 

Aku terus memandangi wajah basah Henry, apa ini juga bagian dari permainanmu? Apa kau tau suasana hatiku saat ini bagaimana? Apa Cuma aku disini yang merasa berdebar-debar sampai kakiku terasa lemas?

 

Kini matanya berbalik menatap aku, wajahnya serius.

Bola matanya membulat, seperti singa yang bertemu dengan rusa.

Tangannya meraih wajahku dan mengusap sayang dengan jemarinya. Apa lagi yang akan kau lakukan kali ini terhadapku? Wajahnya semakin medekat, aku tidak berani menatap wajahnya. Jangan bilang kau akan menciumku! Aku tidak bisa berciuman!

 

Benar kan. Mataku terpejam, jika aku membuka mata rasanya akan pening. Aku tidak tau ini harus bagaimana. Bibirku masih terbungkam dan tidak berani melakukan tindakan apapun.

Aku mulai merasakan setiap tautan bibir Henry yang lembut itu menyentuh penuh bibirku. Henry menghentikan ciumannya, desahan nafasnya seperti bernada kecewa.

 

Berakhirlah sudah, terbongkar semua. Mulai saat ini sudah tidak ada apa-apa lagi, kenapa dadaku semakin sesak, rasanya ingin menangis. Tak bisa kutahan lagi.

 

“Kenapa kau diam saja? Ellin-ah? Hei, kenapa kau menangis?”

“Sudah selesai, aku kalah. Kau yang menang, kau puas sekarang?”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Aku.. Aku tidak bisa berciuman, karena aku belum pernah melakukannya sebelumnya, aku tidak tau bagaimana cara berkencan karena itu kubawa kau ke lapangan Tennis. Aku bohong! Aku pembual! Aku tidak pernah berpacaran selama ini. Kau yang pertama. Im Ellin yang selama ini jadi pujaan laki-laki semua itu tidak ada. Dan sekarang aku jatuh cinta padamu, permainan ini selesai!”

 

Aku melangkah secepat mungkin dari tempat itu, guyuran hujan membuat wajahku semakin berantakan. Sepatu widges yang biasanya nyaman kupakai kenapa seolah-olah mempersulit kakiku berjalan.

Apakah kalian tau rasanya hatiku saat ini? Rasanya aku ingin menangis tersedu-sedu hingga aku kehabisan tenaga, hingga aku kehabisan nafas. Ingin aku meraung dalam tangisan agar semua hilang, sakit ini.

 

Sesakit inikah rasanya mencintai? Sesulit inikah rasanya mencintai? Aku mencintai Henry, tapi dia tidak. Sakit. Aku terus memahami rasa sakit yang aku rasakan sekarang ini.

 

Tubuhku mendadak terhenti dari jalanku yang terburu-buru. Seseorang mencengkram kuat lenganku, dan sesaat kemudian aku ditarik dalam pelukan nyaman ini, pelukan yang aku tunggu-tunggu, pelukan yang selalu kukhayalkan setiap malam, di dada Henry.

 

“Aku sudah tau, aku tau semua tentangmu..”

 

Apa yang dia bicarakan? Aku masih saja menangis tersedu-sedu di dalam dekapannya.

 

“Di dalam bus, setiap pagi aku selalu bertemu dengan Im Ellin yang sebenarnya, gadis cantik yang riang, apa adanya dan polos. Gadis yang membuat aku selalu memikirkan dia setiap waktu, gadis yang membuat aku ingin selalu naik bus saat berangkat sekolah walaupun aku punya deretan mobil di garasi, gadis yang membuatku terpesona, gadis yang membuatku jatuh cinta padanya..”

 

Apa yang dibicarakan Henry sedari tadi? Aku masih tidak paham dengan semua penjelasan panjang lebarnya? Bukankah di dalam bus dia selalu tertidur? Sejak kapan dia mengamati aku seteliti itu?

 

“Im Ellin, aku sudah mencintaimu sebelum kau mengamati aku setiap pagi di dalam bus. Semua pembicaraanmu dengan Ga Eul aku mendengarnya. Aku mengenalmu melebihi siapapun, aku tidak mencintai Im Ellin yang ada di sekolah, aku mencintai Im Ellin yang ada di dalam bus. Apa adanya, menjadi diri sendiri saat berada di sisi sahabatnya. Kau mengerti sekarang?”

 

Demi apapun siapa sutradara dari kejadian ini? Apa aku sedang menjalani sebuah film romantic dengan akhir yang bahagia seperti ini? Apa perkataan Henry tadi adalah benar? Aku bahagia. Sungguh.

Bagaimana mengungkapkan ini? Henry sangat cerdas mempermainkan cerita ini, Henry sangat pandai mempermainkan perasaanku.

Dia menyebalkan, tapi aku mencintainya.

 

Kulihat senyum kemenangannya. Aku sebal padanya, kenapa tidak mengatakan ini dari awal?

 

“Kupikir aku akan benar-benar kehilanganmu!! Kupikir kita akan benar-benar berakhiiiirrrr~~!!!”

 

“Hahaha, maaf ya..”

 

Tangisku semakin menjadi-jadi di pelukan Henry, Henry terus mendekapku lebih erat. Lengan kekarnya aku suka, suaranya aku suka, wajahnya aku suka, senyumannya aku suka. Aku hilang kendali jika sudah berada di pelukannya seperti ini. Aku hilang akal setiap kecupan yang diberikan padaku.

 

“Im Ellin..”

“APA!”

“Kau tidak bisa berciuman kan? Mau kuajari? Ayo kita lanjutkan.. Sampai dimana kita tadi?”

“TIDAK MAU!”

“Hahahaha!”

 

Aku mencintaimu, Henry Lau.

 

*END*

 

 

 

*jeng jeng jeeeeng!! no feel ya? xD maaf buat yang gak kena tag, tagnya limited edition dari facebooknya.. 😦

thanks for read. :*

 

Advertisements

2 thoughts on “[ Henry ] SERIES || I’m Ellin – Part 4 END

  1. Ahhhh……. daebak (y)
    so sweet ^_^
    aku suka ide ceritanya. manis.
    meskipun di lihatnya hny dri satu sisi yakni Im Ellin jdi bkin aku penasaran ^^
    aku baca dr awal. tpi baru skrg Komentar.mian.

    Yang pasti ini keyennnn…. keep writing 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s