[Yesung] Our Baby (Part 2-Ending)

Title        : Our Baby (Part 2-Ending)

Cast        : Kim Jong Woon

Lee Seo Hae

Genre      : Romance, Married Life

Rating      : PG-17

Author      : D. Khairara

(http://facebook.com/devikakhairaramuna)

(http://twitter.com/muna2024)

Blog          : http://hopedreamcomestrue.wordpress.com

 

 

 

Ketukan pintu melenyapkan ingatan Jong Woon pada kejadian dua hari yang lalu. Pria itu menghembuskan nafasnya. Yang perlu ia ingat adalah bahwa istrinya kini sudah baik-baik saja, meski terkadang ia bisa saja bertingkah di luar batas lagi. Seperti awan yang tak mampu di tebak pergerakkannya.

“Nde, masuk!” respon Jong Woon pada ketukan pintu tadi.

Masuklah seorang pria dengan pakaian rapinya. Kemeja warna baby purplenya dan juga dasi yang serasi dengan kemejanya. Rambutnya tertata rapi. Sangat tampan.

“Ini hasil rapat kemarin, kami menunggu evaluasi anda Sajangnim” ucap pria tampan itu sembari memberikan map pada Jong Woon. Dari tanda pengenal yang pria itu pakai, bisa di ketahui, namanya adalah Sung Min, Lee Sung Min.

“Hmm, baiklah. Aku akan membacanya dulu. Ada yang lain?”

“Hyung,,,” Jong Woon mengangkat kepalanya saat Lee Sung Min memanggilnya hyung, panggilan yang tak pernah pria tampan itu gunakan jika sedang dalam konteks bekerja.

“Wae?”

“Apakah keadaan kakak ipar sudah membaik?” tanya Sung Min.

“Sudah. Sekarang dia sudah bisa beraktifitas lagi seperti biasa, tapi tetap harus dibatasi dan juga di awasi” papar Jong Woon.

“Separah itukah keadaannya?” Sung Min menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Jong Woon. Melupakan sejenak urusan pekerjaan. Pria dengan mata indah ini tahu hyungnya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Terlihat jelas dari sorot matanya yang tak setajam sebelumnya. Dan bukti nyatanya adalah hasil kerja Jong Woon yang turun.

“Aku tidak bisa menjelaskannya dalam kata-kata” Benar yang di ucapkan Jong Woon, semua kejadian yang ia alami sulit di rangkai dalam kalimat-kalimat yang nantinya akan menjadi sebuah narasi. Ini sulit bagi Jong Woon.

“Geurae. Apa kata dokter, Hyung?” tanya Sung Min lagi.

“Seo Hae hanya perlu menjalani terapi kecil. Dan yang paling penting adalah ia tidak boleh stress, atau dia akan ingat pada Joon”

“Kenapa kalian tidak membuatnya lagi saja, Hyung!” saran Sung Min. Jong Woon terbelalak dengan saran yang di anggapnya sebagai saran yang cukup gila.

“Membuat? Kau gila, bagaimana bisa pikiran itu hadir di kepalamu!” kesal Jong Woon.

“Aku kan hanya menyarankan, hyung. Siapa tahu kakak ipar akan lupa dengan Joon kalau dia hamil lagi nantinya”

“Benar, tapi tidak sekarang Sung Min~ah” Keduanya menghembuakan nafas keras dan serempak menjatuhkan punggungnya pada kursi. Ke duanya bertingkah seperti ‘tak ada yang bisa kita lakukan, benar-benar jalan buntu’.

“Ah..!!” sorak Sung Min membuat Jong Woon hampir melompat dari tempat duduknya.

“Kau membuatku kaget tahu!” omel Jong Woon mengusap-usap jantungnya.

“Aku punya ide. Bagaimana kalau kalian berlibur saja. Segarkan pikiran kalian berdua. Lupakan kejadian dua bulan terakhir ini. Bersenang-senanglah, hyung!” papar Sung Min sumringah. Merasa idenya sangatlah brilliant.

“Apa kau bilang, liburan? Kita sedang ada project besar, bagaimana bisa aku meninggalkan semuanya dan bersenang-senang. Penurunan kinerjaku selama ini saja sudah membuatku sangat menyesal!”

“Project kita tidak ada apa-apanya di banding dengan kesehatan kakak ipar, hyung! Seharusnya kau tahu tentang itu. Kakak ipar butuh penyegaran!”

“Tetap saja aku tidak boleh meninggalkan tanggung jawabku seperti ini. Selesaikan dulu hal ini, baru aku akan berpikir tentang liburan!”

“Frustasi!! kau tidak percaya padaku dan juga anggota tim yang lain? Kau meremehkan kinerja kami?”

“Bukan begitu, aku ketua tim! Aku yang bertanggung jawab!” Jong Woon tetap pada pendapat awalnya untuk tidak menerima saran dari Sung Min. Seo Hae memang butuh hal ini, tapi tidak untuk waktu sekarang.

“Aku yang akan jadi ketua! Kinerjamu sangat tidak memuaskan, hyung! Teman-teman yang lain juga bilang seperti itu. Jadi aku memintamu dengan hormat, mundur dari tim ini dan berliburlah!”

“Dasar keras kepala!!”

“Kau sudah mengenalku lama ‘kan, hyung? Mideoyo! Percayalah padaku!” Sung Min menagkupkan tangannya memohon agar Jong Woon mundur dari posisinya sebagai ketua tim. Langkah yang terpaska Sung Min ambil memang. Tapi mau bagaimana lagi, Hyung nya yang satu ini juga keras kepala.

“Geurae..geurae… Aku akan mundur. Lakukanlah yang terbaik, kalau tidak kau akan menyesal seumur hidupmu!”

“Yes,!!” Sung Min mengangkat tangannya dan meletakkannya di pelipis, gerakan hormat ala tentara. “Kalau aku boleh menberi saran lagi, lebih baik kalian ke Hawaii saja. Cuaca di sana sedang bagus!” tambah Sung Min.

“Hawaii?” Jong Woon menggumankan kata itu. Sung Min mendekatkan badannya, hanya memberikan sedikit jarang antara dia dengan Jong Woon. Pria itu membisikkan sesuatu di terlinga Jong Woon.

“Mwo??” respon Jong Woon. “Apa maksudmu dengan second honeymoon, eoh?”

“Aku tidak bermaksud apa-apa sih, Hyung. Hanya ingin mendengar kabar baik saja kalau kakak ipar hamil lagi! Hehe” tawa Sung Min di akhir. Tawanya sangat manis, giginya yang tersusun rapi terlihat saat ia tertawa.

 

***

Bau harum masakan masuk ke indra penciuman Jong Woon saat ia sedang melepas sepatunya. Kakinya secara otomatis berjalan ke arah dapur.  Di sana ia mendapati Seo Hae yang sedang memasak dengan ceria. Ia bersenandung kecil saat mengaduk masakannya.

“Ehhmm” deham Jong Woon mengalihkan perhatian Seo Hae.

“Eoh, kau sudah pulang. Kenapa cepat sekali? Masakannya belum siap?”

“Aku merindukanmu, jadi aku pulang cepat!” tulang pipi Seo Hae terangkat otomatis.

“Mandilah dulu, sebentar lagi masakan siap” seru Seo Hae.

“Yes, sir!!” ucap Jong Woon penuh semangat.

“Kenapa kau selalu memanggilku ‘sir’? aku ini perempuan!” protes Seo Hae pada kebiasaan baru suaminya yang selalu bersorak ‘Yes, Sir’.

“Baiklah, baiklah… Aku minta maaf..” Jong Woon mendekatkan dirinya pada Seo Hae untuk menghirup aroma masakan Seo Hae. Namun dengan cepat ia mencuri ciuman di bibir Seo Hae dan kemudian lari masuk ke kamar. Seo Hae yang terkejut hanya membeku di tempatnya. Perlahan tulang pipinya kembali terangkat. Rasa-rasanya tulang pipinya akan kaku jika ia terus tersenyum seperti itu.

 

Jong Woon bertransformasi sudah. Dengan pakaian yang santai, pria itu berjalan ke arah  meja makan. Menemui Seo Hae yang sudah duduk menunggu.

“Aku paling tidak suka jika kau membahas pekerjaan saat makan” ucap Seo hae saat Jong Woon hendak duduk. Pria itu melirik sendiri tablet yang ia bawa.

“Bukan pekerjaan, ada sesuatu yang perlu ku tunjukan padamu” jelas Jong Woon.

“Apa?” tanya Seo Hae penasaran.

“Makan dulu baru aku beritahu”

Ke duanya duduk tenang menikmati makan malam yang tersaji. Sesekali mereka terlibat dalam percakapan kecil untuk membunuh suasana senyap di meja makan. Meja makan adalah tempat yang bisa menemukan mereka di tengah kesibukan Jong Woon. Jadi tak pernah terlewatkan bagi pria satu ini untuk sekedar bertanya bagaimana hari Seo Hae dan apa saja yang terjadi. Sebuah kebiasaan yang selalu di terapkan di keluarga Jong Woon.

Seo Hae makan dengan cepat. Sepertinya ia terlalu penasaran dengan apa yang akan Jong Woon katakan. “Aku sudah selesai, cepat beritahu aku!” ucapnya setelah menyelesaikan suapan terahirnya.

“Piringku saja belum bersih”

“Kau terlalu mendramatisir saat makan”

“Geurae, kau ini tidak sabaran sekali.” Jong Woon meletakkan sumpitnya dan mulai bicara. “Ayo kita berlibur” mulainya.

“Bukannya kau sedang ada project yang belum selesai?”

“Aku dikeluarkan dari tim!”

“Waeyo? Kenapa kau di keluarkan? Kau kan pimpinan!”

“Anggota tim merasa kinerjaku tidak memuaskan mereka, jadi aku terpaksa mundur!” jelas Jong Woon.

“Na ttaemune?”

“Aniya..” ia mengibaskan tangannya “Tidak ada hubungannya denganmu. Mungkin tubuhku memang ingin istirahat” elaknya.

“Pasti aku jadi salah satu menyebabnya” Seo Hae masih merasa bahwa dirinya menjadi factor penurunan kerja Jong Woon.

Pria itu berusaha membuat hari Seo Hae tidak gusar. Ia meraih tangan Seo Hae dan menggenggamnya hangat. “Kenapa kau bisa mengira kau jadi penyebabnya, heum?”

“Aku hanya merasa tidak baik sebulan ini. Aku jadi sering merasa jadi aneh suatu waktu” aku Seo Hae.

“Sepertinya istriku yang cantik ini juga perlu refreshing” Jong Woon tersenyum menghadap Seo Hae. Pria itu ingin meyakinkan kalau pilihan ini bukan pilihan salah. Selain itu, ia tidak ingin Se Hae berpikir kalau dirinya jadi aneh. Jong Woon tidak mau itu terjadi. Hal utama yang perlu pria dengan mata sipit itu lakukan sekarang adalah memastikan bahwa Seo Hae akan selaku baik-baik saja. Hari ini, esok dan selamanya akan baik-baik saja.

“Sepertinya kau setuju” putus Jong Woon sebelum mendengar pernyataan langsung dari Seo Hae. Pria itu bisa tahu hanya dengan melihat mata Seo Hae.

“Igeo!” tunjuk Jong Woon pada layar datar tabletnya yang menyajikan beberapa gambar panorama yang indah. “Kau bilang kau ingin pergi ke pantai, jadi kita bisa pergi ke pantai summer ini, bukankah menyenangkan?”

“Benarkah?” senyum sumringah mengembang di bibir Seo Hae.

“Jeju, kau mau ke sana?” tanya Jong Woon.

“Tidakkah kau ingin pergi lebih jauh dari Jeju?”

“Eii, kita akan benar-benar pergi jauh dari Korea!”

“Tapi, benar tidak aka nada masalah dengan perusahaan kalau kau pergi lama?” Seo Hae memastikan.

“Ada Sung Min yang akan mengurus semuanya” jawab Jong Woon sambil menggerak-gerakkan tanganya lincah di atas tabletnya. “Jangan khawatir” ucapnya lagi lurus dengan mata Seo Hae.

“Bagaimana dengan ini?” jari pria itu menunjuk pada sebuah gambar pantai yang sangat indah. Air terbentang sepanjang mata menandang. “Ini Bali island, ada di Indonesia. Aku memang belum pernah pergi ke Bali, tapi temanku bilang Bali sangat indah!” terang Jong Woon.

 

 

 

 

Seo Hae mengamati gambar itu dengan cermat. Ia benar-benar suka melihat air.

“Apakah tidak ada yang lain?”

“Kau tidak suka?”

“Aku suka, Bali terlihat sangat baik, tapi tidak adakah rekomendasi yang lain?”

Jong Woon menggeser slide dan memunculkan gambar lain, Maldives Island.

“Bagaimana dengan yang ini? Populasinya masih sedikit, jadi kita tidak perlu berebut oksigen dengan banyak orang. Suasana juga sangat tenang, cocok untuk relaksasi” Jong Woon menjelaskan sedikit yang ia tahu mengenai Maldives Island.

 

 

“Aigoo… yeuppuda…!” reaksi Seo Hae saar melihat gambar itu. “Apakah kita akan menginap di sini?” tunjuk Seo Hae pada gambar-ganbar kecil yang berada di tengah-tengah pulau.

“Nde, itu adalah penginapan!”

“Aaa… aku ingin sekali ke sana!” Mata Seo Hae berbinar melihatnya.

“Masih ada satu lagi!”

“Masih ada, apakah lebih bagus dari yang ini?” tanya Seo Hae antusias

“Sebagian orang berpendapat seperti itu” Jari Jong Woon kembali bergerak dan muncullah gambar lainnya lagi.

 

 

 

“Hawaii!” seru Jong Woon.

“Hawaii? Ini tidak sebagus yang tadi!” jujur Seo Hae.

“Tapi aku ingin sekali ke Hawaii Seo~ya!”

“Hawaii terlalu jauh..” ujar Seo Hae.

“Ke Hawaii saja ya?” pinta Jong Woon sedikit memelas.

“Wae? Kenapa kau ingin ke Hawaii, beri aku alasan?”

“Geunyang!” jawab Jong Woon asal.

“Give me a reason!” Seo Hae memaksa meminta alasan di balik permintaan Jong Woon.

“Lee Sung Min!” ucap Jong Woon setengah.

“Ada apa dengan Lee Sung Min?”

“Dia yang menyerankan agar kita pergi ke Hawaii saja!” jawab Jong Woon sedikit mengkambing hitamkan Sung Min. “Dia bilang akan sangat bagus kalau kita pergi ke Hawaii!”

“Apanya yang lebih bagus? Aku lebih suka Maldives dari pada Hawaii”

“Geurae..geurae.. Kita pergi ke Maldives!” pupus sudah harapan Jong Woon untuk pergi ke Hawaii.

Seo Hae tersenyum bahagia, di sambut dengan senyuman juga oleh Jong Woon. Keduanya saling menatap lurus menikmati hangatnya udara yang tercipta karenanya.

“Saranghae!” ucap Jong Woon meraih kembali tangan Seo Hae.

“Na tto saranghae!” balas Seo Hae.

***

 

Semilir udara menerbangkan rambut Seo Hae yang pada waktu itu sedang di gerai. Ia mengenakan kaos dengan lengan panjang warna abu-abu. Udara di Maldive sangat bersih, menbuat Seo Hae betah berlama-lama berdiri untuk menikmari pergerakan angin yang akan menerpa wajahnya.

Suara air yang jatuh menimpa lantai terdengar cukup jelas. Siapa lagi kalau bukan Jong Woon. Setelah berjalan-jalan dan kemudian makan siang, keduanya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Jong Woon melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Seo Hae masih asyik berdiri menikmati pemandangan yang ada di depannya. Kaki telanjangnya melangkah ke arah Seo Hae dan kemudian merengkuhnya dalam dekapannya.

“Kau bilang tadi lelah, istiratlah!”

“Hmm… udara di sini sangat sayang jika di lewatkan. Kalau saja aku bisa membawanya ke Seoul?”

“Kalau itu permintaanmu, aku akan membungkuskan udara Maldives untukmu!” canda Jong Woon. Mereka sama-sama tertawa kecil.

Sedang seru-serunya bercanda, handphone Jong Woon bordering. Menimbulkan bunyi lain selain suara Seo Hae dan Jong Woon. Jong Woon berjalan ke arah tempat tidur dan mengambil handphonenya yang ada di saku jaket yang tadi ia pakai. Seo Hae tidak mengambil pusing dengan obrolan Jong Woon yang entah dengan siapa ia berbicara. Ia terlalu suka dengan Maldives. Hampir satu minggu berlalu, ia masih belum merasa bosan dengan panorama alam di sini. Semuanya indah. Semuanya indah karena Tuhan menciptakannya untuk di syukuri. Dan terasa lebih indah lagi bagi Seo Hae karena ada Jong Woon di sampingnya. Ada Jong Woon yang selalu melindunginya.

“Baiklah!” ucap Jong Woon sebelum memutuskan line telfonnya. Pria itu kembali menghampiri Seo Hae dan melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat terganggu.

“Dari siapa?” tanya Seo Hae.

“Sung Min”

“Ada apa dengan Sung Min, dia tidak menyarankan hal-hal yang aneh ‘kan?”

“Aniyo, dia hanya member kabar kalau project yang waktu itu berhasil. Kita menang tender!” ujar Jong Woon senang.

“Tentu saja harus berhasil, karena kau juga turun tangan dalam project ini meski dari jarak jauh!” ucap Seo Hae.

Jong Woon cukup terkejut, bagaimana Seo Hae bisa tahu kalau ia tidak benar-benar melepaskan tanggung jawabnya pada tim. “Arra?”

“Tentu saja, setiap malam kau saling berhubungan dengan Sung Min dengan berbisik-bisik. Suara kertas yang kau buka ribuan kali itu membuat tidurku jadi tidak nyenyak” ungkap Seo Hae.

“Aishh, aku kira aku sudah melakukannya dengan pelan, ternyata masih bisa terdengar ya? Baiklah sebagai gantinya aku akan memberikanmu malam yang indah seminggu kedepan? Eothoke?”

“Maksudnya?” Seo Hae sedikit memiringkan kepalanya sehingga ia bisa melihat wajah Jong Woon walau hanya sebagian.

“Kita tambah waktu liburannya jadi dua minggu!” Seo Hae yang mendengarnya sontak berbalik menghadapkan dirinya pada Jong Woon.

“Jeongmalyo?” tanya Seo Hae memastikan ucapan Jong Woon. Sedangkan pria itu hanya tersenyum menikmati rasa antusiasme Seo Hae dan kemudian menganggukkan kepala.

“Gomawo!” sontak Seo Hae mengalungkan lengannya di leher Jong Woon. Jong Woon yang juga senang dengan reaksi Seo Hae, mengangkat tubuh istrinya itu dan berputar-putar.

Tangan mereka saling bertautan. Kaki mereka melangkah menjauhi tempat penginapan dan mencari tempat yang pas untuk menikmati matahari tenggelam. Setelah menemukan tempat duduk yang tak jauh dari penginapan, mereka duduk. Tangan mereka masih saling bertaut. Dua pasang bola mata itu memandang lurus ke depan, menyaksikan detik-detik ketika sang surya kembali ke tempat istirahatnya. Istilah klasih untuk menggambarkan bumi yang berputar menjauhi matahari. Matahari tidak punya tempat tinggal. Matahari hanya diam di tempatnya. Kitalah yang bergerak.

 

Langit berubah warna karena bias dari sinar matahari. Warna jingga yang menghiasi langit bak lukisan yang pernah Jong Woon lihar di pameran lukisan tahun lalu di Daegu. Detik demi detik berlalu, keduanya masih diam. Membisukan diri.

“Ada hal yang ingin aku tanyakan” ucap Seo Hae memecah keheningan yang mereka ciptakan. “Kenapa kau kemarin memaksa untuk pergi ke Hawaii?” Pertanyaan sederhana yang Seo Hae ucapkan membuat Jong Woon bingung bagaimana harus menjawabnya.

“Itu.. hanya karena aku ingin saja kesana. Banyak orang yang bilang Hawaii tempat yang sangat menarik” jawab Jong Woon, namun masih belum memuaskan bagi Seo Hae.

“Aku rasa bukan itu alasan utamanya, jawablah dengan jujur!” Seo Hae memaksa Jong Woon mengungkapkan alasan terbesarnya ingin pergi ke Hawaii.

“Aku jujur Seo~ya”

“Oppa!”

“Honeymoon” ucap Jong Woon lirih.

“Mwo?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu sebenarnya. Aku hanya tidak ingin kau berada dalam situasi yang masih menyesali kepergian Joon. Aku tidak ingin kau jadi terpuruk. Hanya itu alasanku” jelas Jong Woon. Seo Hae memandang Jong Woon tidak percaya.

“Arraseo!”

“Aku hanya tidak ingin kau sakit Seo~ya! Mungkin kau tidak menyadari ini. Aku juga tidak tahu apakah ini akan jadi baik untukmu atau tidak, tapi aku akan memberitahumu satu hal yang tidak kau sadari selama ini. Setelah kita kehilangan Joon, kau jadi aneh, kau sering berteriak padaku. Kau berubah jadi mengerikan. Kau terus meratapi kepergian Joon” Seo Hae menyimak dengan baik tiap ucapan Jong Woon. Menata kata demi kata yang Jong Woon keluarkan.

“Kau jadi seperti bukan Seo Hae yang ku kenal. Kau melukaiku, tapi yang lebih membuatku terluka adalah kau melukai dirimu sendiri. Aku benci melihat kau yang jadi sepeti itu. Jadi,.. “ Jong Woon meraih kedua tangan Seo Hae. Meremasnya pelan. Menatap dengan halus wajah Seo Hae. Air mata sudah berada di ujung mata Seo Hae. Sejujurnya wanita itu juga merasakan sesuatu  yang tidak baik menimpa dirinya. Hanya saja dia tidak tahu apa hal yang tidak baik itu.

“Jadi, aku mohon, berhentilah memikirkan Joon. Joon sudah sangat bahagia di surga bersama Tuhan. Kau masih memiliki aku. Kau juga masih akan memiliki seorang lain yang akan hidup di rahimmu lagi. Ku mohon Seo~ya, kembalilah jadi Seo Hae-ku yang kuat” Air mata Jong Woon menetes. Jatuh pada genggaman tangannya. Keadaan Seo Hae tak jauh berbeda, ia sudah menangis, pipinya basah dengan air mata.

Ibu jari Jong Woon menghapus air mata yang membanjiri pipi Seo Hae. Seo Hae meraih tangan Jong Woon yang sedang menghapus jejak airmatanya.

“Mianhae” lirihnya. “Aku akan berusaha membuatnya ringan. Membuatnya seperti mimpi buruk yang tidak perlu ku hiraukan. Aku akan berusaha semampuku, Oppa!” Seo Hae kembali terisak. Dengan cepat Jong Woon menarik tubuh Seo Hae ke dalam pelukannya.

Setelah puas mengeluarkan seluruh air matanya, Seo Hae melepas pelukan Jong Woon. Ia menghapus sendiri sisa airmata yang ada di dagunya. Ia tertawa kecil membuat Jong Woon memandangnya aneh. Apakah Seo Hae belum sembuh juga? Pikir Jong Woon.

“Apa kau pikir aku jadi ‘gila’ lagi?” ujar Seo Hae. Jong Woon jadi gelagapan sendiri.

“Aniyo!” elak Jong Woon. Wajahnya yang habis menangis membuatnya semakin menggemaskan.

“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Kau pasti punya waktu yang sulit karena aku!”

“Aku takut saat itu. Aku takut kalau aku memberitahumu, kau akan semakin sakit”

Seo Hae memandang matahari yang sebentar lagi akan hilang. “Maafkan aku!”

“Jangan terus meminta maaf. Kalau kau berfikir untuk terus meminta maaf, lebih baik kau pergi bersamaku ke Hawaii”

“Shireo! Aku suka Maldives”

“Kalau melihatmu yang keras kepala begini aku rasa kau benar-benar Seo Hae-ku”

“Aku memang Seo Hae-mu”  Seo Hae melirik kearah Jong Woon. Namun pria tiu ternyata sedang memandang Seo Hae intens. Seo Hae jadi kikuk. “Sudah gelap, lebih baik kita kembali ke kamar” Seo Hae bangun dari duduknya dan berjalan mendahului Jong Woon. Rasanya tertangkap basah memang sangat menyebalkan. Rasanya akan lebuh baik jika kau pingsan di tempat.

Dengan langkah lebarnya Jong Woon berhasil menyamai langkah Seo Hae. Awalnya Seo Hae hendak berjalan mendahului Jong Woon lagi, namun sebelum itu Jong Woon sudah menyampirkan lengannya mengelilingi pinggang Seo Hae. Merapatkan tubuhnya.

“Kalau kau suka Maldives, kita bisa melakukannya di sini” bisik Jong Woon tepat di telingga kiri Seo Hae.

“Mwoya!” teriak Seo Hae terkejut.

“Kajja…!!!” sorak Jong Woon kesenangan sambil lebih merapatkan tubuhnya pada Seo Hae.

 

End

Advertisements

2 thoughts on “[Yesung] Our Baby (Part 2-Ending)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s