TWOSHOT [Kyuhyun] – The Seeking Soul [Chapter 2-END]

Title: The Seeking Soul 

Genre: General, Fantasy, AU. 

Length: Two Shots 

Rated: T 

Main Casts : Cho Kyu Hyun,  Kim Ki Bum, Cho Ah Ra.

Author: Fufu Arija

Twitter:  @fufuarija 

Disclaimer: All the casts and settings belong to God, the plot is actually mine.

***

 

 

“Cho Kyu Hyun? Aku tidak tahu,” balas Ki Bum kemudian berlalu.

 

“Eh, kau sungguh lupa? Hei, Kim Ki Bum…”

 

Ki Bum berbalik kemudian berkata, “aku bukan Kim Ki Bum. Tapi aku Kim Hee Bum.”

 

Demi seluruh game yang ada di laptop-nya, Kyu Hyun sungguhan bingung pada bagian ini. Apa Kim Ki Bum mengigau? Atau pendengarannya bermasalah? Kim Ki Bum-Kim Hee Bum, terdengar mirip jika dilafalkan. Namun Kyu Hyun jelas mendengar kata-kata ‘aku bukan Kim Ki Bum’. Jadi, bagaimana kebenarannya?  batin Kyu Hyun.

 

Belum sempat Kyu Hyun bertanya lebih lanjut, Ki Bum—atau Hee Bum?—segera pergi meninggalkan Kyu Hyun.

 

Muncul satu pemikiran lagi di benak Kyu Hyun : Ki Bum adalah orang berkepribadian ganda. Dan Kyu Hyun masih tidak bisa membaca tepatnya orang seperti apa Kim Ki Bum itu. Tentu saja hal ini menyisakan tanda tanya besar dalam  tempurung kepalanya.

 

***

 

Teror dari Ki Bum masih berlanjut, meskipun minggu lalu Kyu Hyun bertemu kembali dengan Ki Bum dan Ki Bum tidak mengakui namanya sendiri. Kyu Hyun mulai marah dan semakin tidak tahan dengan teror yang setiap hari ditujukan padanya. Walaupun terornya berupa pizza dan Kyu Hyun tetap memakannya, namun itu membuatnya tak nyaman. Akhirnya Kyu Hyun memutuskan untuk pindah dari flat-nya.

 

Sudah dua hari ini Kyu Hyun menginap di hotel, sembari menunggu kabar Ah Ra yang mencarikan flat baru untuknya. Barang-barang Kyu Hyun masih berada di flat-nya, kecuali baju-baju, perlengkapan mandi, buku, dan beberapa gadget miliknya. Kyu Hyun sudah mengurus kepindahannya pada pemilik flat, namun dia meminta izin untuk meninggalkan barang-barangnya dulu sampai menemukan flat yang baru. Mengapa Kyu Hyun tidak tinggal di flat-nya yang lama dulu? Dia sudah terlalu takut dan nyaris gila. Oleh Kim Ki Bum. Dia pun tidak bisa tinggal dengan Ah Ra, karena gedung flat  Ah Ra khusus untuk ditinggali perempuan.

 

Ketika sedang menonton televisi, tiba-tiba pintu kamar Kyu Hyun diketuk. Kemudian dia beranjak untuk membukakan pintu. Betapa terkejutnya Kyu Hyun mengetahui bahwa seseorang di hadapannya adalah…, Kim Ki Bum!

 

“Yah, this sh*t stain!!!” mulut Kyu Hyun pun sampai tak bisa terkontrol saking terkejutnya.

 

“Akhirnya! Aku menemukanmu!” seru Ki Bum.

 

“Kau ini sebenarnya ingin apa?” tembak Kyu Hyun tak ramah. Kedua tangannya ia sedekapkan di depan dada.

 

“Jangan panik, aku temanmu. Kemarin kita bertemu di kafe, kau ingat?”

 

Tentu saja Kyu Hyun ingat. Memangnya otaknya berkapasitas memori disket kuno?

 

“Iya, aku ingat, Kim Ki Bum-ssi,” jawab Kyu Hyun setengah acuh. Sebenarnya dia sedang sibuk menekan perasaan takutnya.

 

“Aku bukan Kim Ki Bum, bodoh!” kata Ki Bum yang berhasil membuat Kyu Hyun mendelik. “Aku Kim Hee Bum. Jangan sampai kau memanggilku Kim Ki Bum lagi,” lanjutnya.

 

Kyu Hyun sudah sangat malas meladeni orang di hadapannya itu. Rasanya dia ingin mencakar wajah Ki Bum!

 

“Oh, aku ingin bertanya padamu. Mengapa kau bisa tahu Kim Ki Bum?”

 

Kyu Hyun sebenarnya bingung dengan pertanyaan tersebut. Bukankah yang bertanya sendiri adalah Kim Ki Bum?

 

“Aku bertemu dengannya di acara yang diadakan oleh anggota forum indigo,” jawab Kyu Hyun sekenanya.

 

“Kapan? Jam berapa?”

 

“Tanggal delapan, jam dua siang. Memangnya kenapa?”

 

“Benar kan…,” ucap Ki Bum mengambang.

 

“Jelaskan maksudmu! Kenapa kau menyebut namamu Kim Hee Bum, bukan Kim Ki Bum?”

 

“Diamlah! Kau tidak perlu tahu.”

 

Kyu Hyun diam. Jujur, dia sangat penasaran dan ingin memaksa Ki Bum untuk menjelaskan padanya. Namun Kyu Hyun takut. Bagaimana tidak? Orang aneh itu saja sudah bisa menemukan hotel tempatnya menginap. Kyu Hyun masih sayang nyawanya. Jangan sampai Ki Bum membunuhnya detik itu juga jika dia membuat Ki Bum geram.

 

“Baiklah, aku beritahu sedikit. Ki Bum itu saudara kembarku,” kata Ki Bum—tepatnya Hee Bum—akhirnya.

 

“Kembar?” gumam Kyu Hyun.

 

“Iya, kami kembar.”

 

“Pantas saja, ternyata kau orang yang berbeda. Kau tahu lah pikiranku,” ucap Kyu Hyun yang sudah mendapat titik terang tentang Kim Hee Bum.

 

“Wow, ku pikir orang sepertimu ini bodoh. Ternyata kau menyadarinya,” sahut Hee bum sambil menyeringai.

 

Ingin rasanya Kyu Hyun menggigit Kim Hee Bum itu! Apa maksudnya berkata demikian?

 

“Jadi, sebenarnya kau ini punya dua nama atau dua kepribadian?”

 

“Cepat menyadarinya juga kau. Ternyata kau pintar, tapi kau tak perlu tahu,” jawab Hee Bum semakin tak jelas. Berarti dia berbohong mengenai dirinya yang memiliki saudara kembar? Aih, Kyu Hyun makin pusing dengan tingkah bocah di depannya itu.

 

Baru saja Kyu Hyun hendak membuka mulutnya, Ki Bum sudah menginterupsinya.

 

“Sudahlah, diam saja! Aku pergi dulu, terima kasih atas informasinya. Kapan-kapan aku akan menemuimu lagi.”

 

“Hei! Bagaimana dengan teror itu, bisa kau hentikan?” Kyu Hyun cepat-cepat mencegah Ki Bum sebelum pergi.

 

“Itu bukan dariku, bodoh! Tapi dari Ki Bum!”

 

“Kau kan Ki Bum!”

 

“Bukan, aku Hee Bum!”

 

“Tadi kau mengakui punya dua kepribadian, berarti kau hanya satu orang di dunia ini. Bagaimana sih!?” Darah Kyu Hyun sudah cukup mendidih saat ini.

 

“Kau tanyakan sendiri pada Ki Bum. Aku akan memberimu alamatnya.”

 

***

 

Ah Ra datang ke kamar hotel Kyu Hyun dengan membawa makanan dan minuman. Setelah dibukakan pintu oleh Kyu Hyun, dia melihat Kyu Hyun berbaring di tempat tidur dalam posisi terlentang. Kyu Hyun tidak menyapanya sama sekali.

 

“Aku membawa makanan untukmu. Makan dulu, Kyu,” kata Ah Ra.

 

Kyu Hyun tidak menjawab. Ah Ra lalu duduk di sofa dan mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya.

 

Nuna, tadi Ki Bum ke sini,” akhirnya Kyu Hyun buka suara.

 

“Benarkah?” Ah Ra masih tampak anggun menulis—entah apa—di bukunya.

 

Kyu Hyun bangkit dari tempat tidur kemudian mengambil secarik kertas kecil yang bertuliskan alamat di atasnya. Dia menyodorkan kertas itu pada Ah Ra.

 

“Alamatnya?” tanya Ah Ra memandangi kertas itu.

 

Kyu Hyun hanya mengangkat bahu. “Nuna, aku sudah sangat stress menghadapi Ki Bum. Tadi dia bilang bahwa namanya Hee Bum, dan Ki Bum itu kembarannya. Tapi terakhir dia juga mengakui punya dua kepribadian. Sebenarnya yang mana yang benar?”

 

“Lalu apa lagi yang di katakannya?”

 

“Yah, tadi dia datang sebenarnya hanya untuk bertanya padaku bagaimana aku bisa mengenal Kim Ki Bum. Aku bahkan tidak paham dia bisa menemukanku di hotel ini,” Kyu Hyun menghela napas berat.

 

“Berarti yang datang tadi bernama Hee Bum?” tanya Ah Ra lagi.

 

“Aku tidak tahu. Dia itu benar-benar tak jelas,” jawab Kyu Hyun. “Atau jangan-jangan ini hanya rencana teman-temanku untuk mengerjaiku? Tapi ulang tahunku masih lama tahun depan.”

 

“Kau cari saja alamat ini lewat internet lebih dulu,” saran Ah Ra.

 

“Hm, baiklah.” Kyu Hyun meminta kembali kertas berisi alamat Ki Bum itu.

 

“Oh ya, aku sudah menemukan flat  untukmu. Besok kau selesai kuliah jam berapa?”

 

“Kira-kira jam tiga sore aku sudah selesai.”

 

“Baiklah, besok jam tiga aku juga sudah pulang. Kau tunggu aku di kafetaria kampusmu jam setengah empat. Setelah itu kau ikut aku melihat flat baru itu.”

 

Ne*(ya), semoga saja Kim Ki Bum tidak menemukanku lagi.”

 

Setelah Kyu Hyun memakan makanan yang dibawakan Ah Ra, Ah Ra langsung pulang ke flat-nya. Kyu Hyun pun segera mencari alamat yang diberikan Ki Bum tadi melalui internet. Dia berhasil menemukan alamat yang sama persis di mesin pencari. Namun ada sesuatu yang ganjil menurutnya.

 

***

 

Jadwal kuliah Kyu Hyun hari ini ternyata selesai lebih awal. Jam menunjukkan pukul satu siang, Kyu Hyun masih memiliki waktu dua setengah jam lagi untuk bertemu nuna-nya. Dia akan menggunakan waktu dua setengah jamnya untuk mendatangi alamat Ki Bum. Setelah itu dia akan kembali lagi ke kampusnya untuk menunggu Ah Ra di kafetaria.

 

Dengan bantuan GPS, akhirnya Kyu Hyun menemukan alamat yang dicarinya. Kyu Hyun sangat terkejut saat mengetahui bahwa yang ia temukan bukanlah sebuah rumah, melainkan pemakaman tunggal. Ini hampir mimpi, rasanya Kyu Hyun seperti tokoh dalam film saja. Namun ia sepenuhnya sadar bahwa yang dialaminya adalah kenyataan.

 

Sedari tadi dia hanya berdiri di depan gerbang pemakaman, hingga datanglah seorang pria yang menegurnya.

 

“Hei, mau apa di sini?” tanya pria itu dalam bahasa Perancis yang beraksen aneh.

 

Kyu Hyun menoleh ke belakang. Dia mendapati seorang pria berusia pertengahan empat puluh tahun dengan wajah oriental. Pantas saja logat bicaranya bukan khas orang Paris, batin Kyu Hyun.

 

“Mau apa kau di sini?” tanya pria itu lagi.

 

“Hm…, saya mencari Kim Ki Bum,” jawab Kyu Hyun.

 

Pria itu tampak sedikit ketakutan setelah mendengar jawaban Kyu Hyun. “Ki Bum? Untuk apa kau mencarinya?”

 

Sebenarnya Kyu Hyun ingin mengatakan bahwa niatnya mencari Ki Bum adalah ingin menghentikan teror, namun dia tidak jadi mengutarakannya.

 

“Nama Anda siapa, Tuan?” Kyu Hyun balik bertanya.

 

“Saya biasa dipanggil Mr Kim, penjaga makam ini,” jawab pria bernama Mr Kim itu.

 

“Oh…” tanggap Kyu Hyun datar. Seketika dia tersadar. Mr Kim!!!  Apa ada hubungannya dengan Kim Ki Bum?

 

“Kau mencari Kim Ki Bum ya?” tanya Mr Kim.

 

“Iya. Apa dia di sini?”

 

“Dia memang di sini sudah lama, selama tiga tahun ini.” Pandangan Mr Kim menerawang.

 

“Maksudnya, Ki Bum bekerja di sini, atau?”

 

“Dasar dungu!” seru Mr Kim. Kyu Hyun sungguh kaget mendengarnya. Dia bingung, mengapa dia dikatai seperti itu?

 

“Ki Bum itu adalah penghuni satu-satunya di pemakaman ini,”lanjut Mr Kim.

 

“Maksudnya?” Kyu hyun masih tidak paham.

 

Mr Kim memukul bahu Kyu Hyun dengan mimik jengkel. “Ki Bum itu sudah meninggal!”

 

Kyu Hyun meringis atas pukulan Mr Kim. Dalam hati dia mengumpat pada Mr Kim itu. Pukulannya sakit sekali.

 

“Eh? Meninggal? Meninggal bagaimana?!” Kyu Hyun seolah menjadi orang paling bodoh sedunia saat ini.

 

“Iya, meninggal. Ini makamnya,” tunjuk Mr Kim pada makam di depan mereka.

 

Dalam hati Kyu Hyun bertanya-tanya. Meninggal? Kim Ki Bum sudah meninggal? Tidak mungkin.

 

“Meninggal bagaimana?” tanya Kyu Hyun lagi. Dia ingin memastikannya sekali lagi.

 

Mr Kim terlihat jengah dengan pertanyaan Kyu Hyun yang diulang-ulang. “Meninggal! Terkubur! Apa di hidupmu jarang mendengar kata meninggal?!”

 

“Bukan itu, Tuan. Kemarin saya bertemu dengan Kim Ki Bum atau Kim Hee Bum begitu,” ucap Kyu Hyun. Sebetulnya dia sendiri juga bingung kemarin itu yang mendatanginya Ki Bum atau Hee Bum.

 

“Kim Hee Bum? Dia saudara kembar Ki Bum,” Mr Kim melanjutkan, “Ki Bum sudah meninggal tiga tahun lalu.”

 

“Kenapa Ki Bum meninggal?” Kyu Hyun sungguh pusing dengan satu orang bernama Kim Ki Bum itu.

 

“Kau tak perlu tahu apapun tentang Ki Bum!” seru Mr Kim. “Pada intinya, arwah Ki Bum itu masih ada di bumi, dia mencari sesuatu. Dia memasuki tubuh Hee Bum. Kami sudah melakukan banyak hal untuk melindungi Hee Bum namun Ki Bum begitu kuat.”

 

Katanya aku tidak perlu tahu tentang Ki Bum? Akhirnya juga menceritakan sendiri. Dasar orang labil, cibir Kyu Hyun dalam hati.

 

“Maksud Anda apa?” bingung Kyu Hyun.

 

“Ki Bum itu anak yang aneh, karena dia memang memiliki kekuatan aneh. Dulu di sekolah, dia disebut penyihir oleh teman-temannya, itu sebabnya dia membenci semua temannya. Dia meninggal karena di-bully teman-temannya, dia anak yang malang,” kenang Mr Kim.

 

“Ini seperti film saja,” sahut Kyu Hyun.

 

“Semua orang mengira begitu. Tapi ini nyata!”

 

Kyu Hyun sudah cukup sering diteriaki oleh pria setengah baya di hadapannya itu. Semoga saja setelah ini telinganya tidak mengalami tinnitus akut.

 

“Ki Bum meninggal akibat tindakan bullying  teman-temannya. Dia juga kesepian, kami tidak memberikan kasih sayang kepadanya. Sekarang waktunya saya merawat makamnya,” ujar Mr Kim.

 

“Anda orang tua Ki Bum?”

 

“Ya, saya ayahnya. Dan Kim Hee Bum sudah diadopsi oleh orang kaya di seberang kota.”

 

“Baiklah, jadi Hee Bum dirasuki Ki Bum begitu?”

 

“Iya, begitu lah.” Mr Kim menjawab singkat.

 

“Baik, sekarang fokus pada saya. Saya diteror oleh Ki Bum,” kata Kyu Hyun eksplisit.

 

“Diteror? Bagaimana?”

 

“Saya dikirimi pizza olehnya.”

 

“Sebentar,” sahut Mr Kim, “kau mengenal Ki Bum?”

 

“Awalnya tidak. Saya pertama kali bertemu dengannya di suatu acara forum. Hanya sebatas bertanya nama. Tapi setelah itu saya selalu diteror Ki Bum.”

 

“Ki Bum mengirimkn teror melalui tubuh Hee Bum itu ditujukan kepada teman-temannya,” timpal Mr kim.

 

“Teman? Teman yang bagaimana?” tanya Kyu Hyun.

 

“Teman-temannya di sekolah, bodoh!” Baiklah, ini yang ke sekian kalinya Kyu Hyun diteriaki Mr Kim. Mudah-mudahan ini yang terakhir.

 

“Tapi saya bukan temannya,” sahut Kyu Hyun polos.

 

“Itu yang saya bingungkan. Kenapa kau diteror?”

 

“Tidak tahu,” Kyu Hyun juga bingung. “Jadi saya harus bagaimana? Saya takut.”

 

“Sebaiknya kau pergi dari sini Nak, kau bukan orang Paris,  kan?”

 

“Bukan.”

 

“Pergilah, kau pulang ke negaramu,” saran Mr Kim.

 

“Tidak bisa, saya sedang kuliah di sini. Tapi saya akan pindah flat.”

 

“Ya, semoga itu lebih baik,” harap Mr Kim.

 

“Tapi apa yang terjadi dengan teman-teman Ki Bum yang diteror?”

 

Mr Kim menjawab, “saya kurang tahu. Tapi ada beberapa orang mendatangi saya dan bilang bahwa anaknya meninggal. Saya kasihan dengan Hee Bum, dia dikira pembunuh,” Mr Kim kali ini menangis sedih.

 

Kyu Hyun hanya bisa menepuk pelan bahu Mr Kim, sedikit menyalurkan ketenangan untuknya. Dia lalu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit. Sepertinya dia harus kembali ke kampus.

 

“Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Kyu Hyun.

 

“Ya. Tuhan memberkatimu, Nak…”

 

Oui, merci*(ya, terima kasih).” Kyu Hyun pun pulang dengan perasaan yang campur aduk. Semua terasa begitu rumit…

 

***

 

Sesampainya di kampus, Kyu Hyun bergegas menuju kafetaria tempat Ah Ra sudah menunggunya.

 

Nuna, aku ingin bercerita,” kata Kyu Hyun dengan napas tersengal. Dia lalu mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Ah Ra.

 

“Ada apa? Kau seperti habis dikejar anjing gila,” timpal Ah Ra.

 

“Sebenarnya kuliahku hari ini sudah selsai jam satu,” mulai Kyu Hyun kemudian ia mengatur napasnya. “Aku tadi mendatangi alamat Ki Bum…”

 

Dan Kyu Hyun pun menceritakan pada Ah Ra semua informasi yang didapatkannya dari Mr Kim. Ah Ra tampak menyimak cerita Kyu Hyun dengan sabar, padahal sore ini mereka hendak melihat flat baru Kyu Hyun. Mungkin sebaiknya ditunda dahulu.

 

Nuna, kau pasti tidak akan percaya kejadian yang ku alami di dalam bus. Ini benar-benar tidak dapat dinalar,” ucap Kyu Hyun.

 

“Kejadian apa?”

 

“Ah, ini sungguh membingungkan akal sehat.” Kyu Hyun sendiri masih sulit percaya dengan apa yang dialaminya tadi.

 

“Lalu, itu seperti perumpamaan ayam dan telur. Tak jelas mana yang lebih dulu. Sama-sama mambingungkan akal sehat, kan? Tapi kita bisa melannjutkan topik ini dan kau bisa mengatakan padaku apa yang kau alami.”

 

Kyu Hyun memandang Ah Ra sejenak. “Baiklah.”

 

“Ketika aku naik bus, aku duduk sendirian, dengan kata lain bangku sebelahku kosong. Dan tadi aku sempat tertidur sebentar. Setelah bangun, aku menemukan kertas yang bertuliskan nama Kim Ki Bum di bangku sebelahku,” cerita Kyu Hyun. “Ki Bum mengikutiku, nuna! Ini tidak logis, tapi kertas itu sungguhan bertulis Kim Ki Bum.” Mengingat kejadian itu membuat bulu roma Kyu Hyun kembali meremang. Dia sangat ketakutan pada saat kejadian itu berlangsung.

 

“Hm…, tapi kau percaya dengan apa yang dikatakan Mr Kim itu?” Ah Ra lebih tertarik untuk bertanya tentang cerita Mr Kim.

 

“Sebenarnya aku tidak yakin.” Kyu Hyun mengedikkan bahunya.

 

“Tidak apa-apa, semua akan membaik,” Ah Ra meyakinkan Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun mencoba percaya pada kata-kata nuna-nya. “Ah ya!” Kyu Hyun teringat sesuatu. “Nuna, kita harus melihat flat  baruku!” dia melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat lebih dua puluh menit.

 

“Kita tunda dulu ya, Kyu. Nanti aku kemalaman sampai di flat-ku. Besok aku ada  tugas kerja lebih pagi,” jelas Ah Ra.

 

Kyu Hyun mengangguk mengerti. “Mm…, nuna, maafkan aku karena selalu merepotkanmu,” ucap Kyu hyun sambil menunduk.

 

“Kau bicara apa?” heran Ah Ra. “Biasanya kau tidak pernah minta maaf padaku, padahal setiap saat kau merepotkanku terus,” ujar Ah Ra bercanda.

 

Kyu Hyun menampilkan aegyo yang membuat tawa Ah Ra meledak. “Ya! Jangan ber-aegyo seperti itu! Itu tidak pantas untuk wajahmu.”Kemudian Ah Ra tertawa lagi.

 

***

 

Hari ini Kyu Hyun menempati flat  barunya. Lima hari menginap di hotel sudah cukup menguras isi dompetnya sebagai mahasiswa. Dia berharap, semoga dia tidak dikejar-kejar oleh arwah Kim Ki Bum lagi.

 

Seminggu berlalu. Sepertinya Kim Ki Bum sudah tidak mengincarnya. Hingga detik ini pun Kyu Hyun merasa lebih aman dalam flat  barunya. Kyu Hyun sedang mengerjakan paper yang ditugaskan oleh profesornya ketika ada seseorang yang membunyikan bel dari luar flat-nya. Dengan sedikit malas Kyu Hyun berjalan membukakan pintu.

 

Tidak ada siapa pun.

 

Kyu Hyun terhenyak mendapati sebuah bingkisan di depan pintu flat-nya. Dia masih bertahan dengan ekspektasinya bahwa bingkisan itu bukan dari Kim Ki Bum, hingga dia membuka bingkisan itu yang ternyata berisi pizza. Kim Ki bum lagi. Kyu Hyun sampai mengucek matanya beberapa kali, khawatir dia disleksia mendadak dan hanya kata ‘Kim Ki Bum’ saja yang dapat di bacanya. Sulit dipercaya, Ki Bum mengiriminya pizza lagi. Dia masih mengincar Kyu Hyun.

 

Sejujurnya Kyu Hyun tidak masalah diberi pizza. Yang dikhawatirkannya adalah, suatu hari nanti Ki Bum akan membunuhnya, sama seperti Ki Bum membalas dendam pada teman-temannya di sekolah. Kyu Hyun tak habis pikir, mengapa harus dia yang diincar Ki Bum? Berteman dengannya saja tidak.

 

Karena Kyu Hyun ketakutan, dia tidak memakan pizza itu dan langsung pergi tidur. Bahkan paper yang belum selesai pun tidak dilanjutkannya.

 

***

 

Pukul 7 pagi waktu Paris, Kyu Hyun sedang bersiap-siap menuju kampus. Dia akan melanjutkan paper-nya di kampus saja. Lagi pula jadwalnya dimulai pukul 10. Tiba-tiba ada yang memencet bel flat-nya.

 

“Ck, nuna kenapa datang pagi-pagi begini, tidak biasanya,” gumam Kyu Hyun sambil berjalan ke arah pintu.

 

Kyu Hyun sangat terkejut dengan sosok Kim Hee Bum di depan pintu flat-nya. Tidak disangka, laki-laki tersebut juga mengetahui flat barunya.

 

Hold up!!! Atau aku akan menelepon polisi!” teriak Kyu Hyun dengan sedikit gemetar.

 

“Diamlah! Dengarkan aku bicara!” ucap Hee Bum.

 

“Bagaimana kau bisa ta—”

 

“Dengarkan aku!” Hee bum memotong ucapan Kyu Hyun.

 

“Aku tak punya banyak waktu. Jadi cepatlah,” sahut Kyu Hyun gugup.

 

“Apa yang kau lakukan di pemakaman? Untuk apa kau datang?” tanya Hee Bum seketika.

 

Kyu Hyun paham yang dimaksud ‘pemakaman’ oleh He Bum. “Kau yang memberikan alamat itu padaku, kan? Dan kau juga yang menyuruhku ke sana.”

 

Hee Bum menampakkan seringainya. “Ku kira pecundang sepertimu tak akan pernah datang,” remehnya.

 

Dalam hati Kyu Hyun mengumpati habis-habisan keluarga aneh Hee Bum. Ayah dan anak sama saja, senang mengatai orang lain.

 

“Aku datang untuk menjelaskan tentang Ki Bum,” ucap Hee Bum.

 

Kyu Hyun mengerutkan dahi. “Baiklah.”

 

“Aku mulai saat Ki Bum meninggal. Pasti kau sudah mendengar dari ayahku Mr Kim, Ki Bum meninggal karena sakit dengan kasus bullying oleh teman-teman di sekolahnya. Dia meninggal ketika usianya delapan belas tahun, tiga tahun lalu. Sekarang jika dia masih hidup, usianya sama denganku, dua puluh satu tahun. Kami memang seperti anak kecil, jadi orang-orang mengaggap usia kami masih sangat belia.

 

“Saat usia empat belas tahun, Ki bum memiliki kekuatan aneh—sangat aneh—seperti menggerakkan pensil dengan tatapan, melihat masa depan, dan lain-lain. Waktu itu karena masih kecil, dia belum mengerti apa-apa, jadi dia menggunakan kekuatannya untuk hal-hal yang tidak baik sampai dia di-bully teman-temannya.”

 

Kyu Hyun mendengarkan penjelasan Hee Bum dengan teliti.

 

“Ketika aku berusia pertengahan sembilan belas tahun,” lanjut Hee Bum, “Ki Bum muncul dan meminta untuk masuk ke tubuhku, dan aku menerima itu. Tapi ternyata itu tidak baik. Ki Bum menggunakan tubuhku untuk balas dendam pada teman-temannya. Begitulah ceritanya. Jadi kami memang dua jiwa dalam satu tubuh. Yang menerormu itu Ki Bum, meskipun tubuhku yang melakukan itu. Aku minta maaf atas kelakuan Ki Bum.”

 

“Tapi kenapa dia menerorku? Aku tidak berteman dengannya,” akhirnya Kyu Hyun angkat bicara.

 

“Aku juga tidak pernah tahu kenapa dia menerormu, yang pasti kata-kata terornya berbeda,” ungkap Hee Bum.

 

“Berbeda dalam hal apa?” Kyu Hyun tampak tertarik dengan obrolan pagi ini, tak peduli posisinya dan Hee Bum masih berdiri di ambang pintu.

 

“Tulisannya,”jawab Hee Bum. “Semua orang yang diterornya pasti bertuliskan, ‘Kau akan mati. Aku tidak menyukaimu’, tapi teror untukmu bertuliskan ‘Terima kasih’, dan seperti yang pernah kau terima selama ini.”

 

Hee Bum melanjutkan, “sebenarnya, di samping balas dendam, Ki Bum juga mencari seseorang yang baik padanya.”

 

“Aku tidak pernah mengenal Ki Bum sebelumnya,” sangkal Kyu Hyun. “Oh iya, kenapa pizza yang dikirimkan padaku?”

 

“Karena Ki Bum membawa pizza untuk orang baik itu. Sebelum meninggal, dia pernah ingin memberikan pizza pada orang yang baik padanya.”

 

“Jadi, Ki Bum menganggapku orang baik itu?”

 

“Iya.”

 

“Siapa nama orang itu?” tanya Kyu Hyun penasaran.

 

“Cho Kyu Hyun.”

 

Kyu Hyun sedikit tercengang. “Lucu…,” katanya kemudian tertawa pelan. “Kenapa namanya sama dengan namaku?” Aneh sekali. Ini kebetulan, atau apa?

 

“Aku juga tidak tahu,” Hee Bum mengangkat bahu. “Bisakah kau membantuku untuk menghentikan teror ini? Aku sudah hampir gila, setiap ada teror pasti aku yang disalahkan,” ucapnya dengan raut wajah murung.

 

“Bagaimana caranya aku membantumu?”

 

“Coba kau balas surat dari Ki Bum. Ucapkan terima kasih atas pizza yang diberikan padamu dan kirimkan ke makamnya,” instruksi Hee Bum.

 

“Kalau itu bisa menghentikan teror untukku dan teman-teman Ki Bum, baiklah aku akan melakukan itu.”

 

***

 

Sesuai janji, Kyu Hyun menulis surat untuk Ki Bum. Masih dapat diingatnya dengan jelas wajah cerah Hee Bum saat mendengar bahwa dia akan mengirimkan surat untuk Ki Bum. Hee Bum juga tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena dia mau membantu Hee Bum. Sepertinya selama ini Hee Bum cukup tersiksa dengan keberadaan Ki Bum di dalam tubuhnya.

 

Kyu Hyun menuliskan, ‘Terima kasih, Ki Bum-ssi. Pizza nya sungguh enak’. Kemudian dia mengirimkan suratnya langsung ke makam Ki Bum sebelum ke kampus.

 

Saat malam hari setelah makan bersama Ah Ra, Kyu Hyun menemukan surat di depan pintu flat-nya. Dia membuka surat itu dan membacanya,

 

 

 

Sama-sama. Selamat menikmati, temanku.

 

 

Kim Ki Bum.

 

 

 

Dan seketika itu, tanpa sadar Kyu Hyun menitikkan air mata. Tak peduli dia dianggap cengeng, melankolis, atau apa, yang jelas dia sangat tersentuh dengan surat Ki Bum.

 

Ternyata, Kim Ki Bum sangat kesepian. Dia baru memiliki teman yang benar-benar dianggapnya baik. Ki Bum tidak akan tenang sebelum memberikan pizza pada teman baiknya.

 

Itu adalah surat terakhir dari Ki Bum untuk Kyu Hyun. Setelah itu dia tidak pernah diganggu atau dikirimi pizza lagi oleh Kim Ki Bum. Teror sudah berhenti.

 

~FIN~

 

 

Credit(s) : Kalimat ‘Lalu, itu seperti perumpamaan ayam dan telur. Tak jelas mana yang lebih dulu’ itu aku kutip dari novel Carry Me Down karya M.J. Hyland ** Kyu: dasar author gak kreatip, sukanya ngutip | Fufu: biarin yg penting gue nyantumin kredit! | Kyu: kredit panci? | Fufu: *tendang Kyu* –> oke, abaikan saja dialog gaje tadi!

 

 

Muehehehehe, maafin ya, Fufu agak2 payah kalo bikin ending. Jadi, kalo ada kekurangan, kasih tau Fufu ya! Danke^^ Daaan satu lagi, jangan panggil ‘thor’, just call me Fufu, get it?! 🙂

Thank a bunch to admin Yura yang udah publish FF aku! *smooch*

Sampai jumpa di FF Fufu yang lain~ bye! *kencan sama Hae oppa*

 

Posted by Allison

Advertisements

2 thoughts on “TWOSHOT [Kyuhyun] – The Seeking Soul [Chapter 2-END]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s