[ Henry ] SERIES || I’m Ellin – Part 3

 

Tittle : I’m Ellin (Part 3)

Author: Dina

Cast: -Im Ellin as You

         -Henry Lau

         -Ga Eul (Ellin Friends)

         -Other

Are you ready for this??? here we go~~ ^^

Sebelumnya…

|| Part 1 || Part 2 ||

 

***

 

Kebohonganku ‘memakan’ diriku sendiri.. jika kurenungkan masalah ini dari awal memang benar.. apa sebenarnya yang sedang aku lakukan.. menjadi orang lain.. tidak menjadi Im Ellin yang sebenarnya.. dan aku senang dengan ini semua..

Terkenal.. aku sudah mendapatkannya.. tapi ini bukan aku.. tapi aku masih menikmati keadaan ini…

 

 

Senggolan lengan Ga Eul membuyarkan segala renungan singkatku beberapa saat tadi.. Seseorang yang siap menjejalkan ilmu memuakkan pada kami sudah datang…

Suasana kelas yang sedang gaduh berubah cepat menjadi ruang hantu tanpa suara.. aku benci pelajaran Matematika!

 

Kulirik Ga Eul disebelahku, dia senantiasa mendengarkan, mengamati dan mencatat segala kalimat yang diterangkan wanita paruh baya yang ada di depan kelas itu.. Jelas saja Ga Eul senang, dia siswi cerdas.

 

Kumainkan pandanganku kesana kemari.. aku bosan disini..

Aku merogoh saku seragamku mencari-cari sahabatku di dalam sana..

Handphone adalah sahabatku selain Ga Eul..

 

 

‘1 pesan diterima…’

 

 

“From : Henry Lau

Besok hari minggu kan.. kita kencan. Bagaimana ya cara Penakluk Pria berkencan? Hihihi. Sampai besok sayang.. :*”

 

“Sayang? IGE MWOYA!!!”

Ahh.. bodohnya aku.. ini kan masih di dalam kelas..

 

Aku mengangkat tundukan kepalaku.. benar saja.. semua manusia yang ada di ruangan ini sedang menatap ke arahku. Tak terkecuali wanita berkacamata yang ada di depan papan tulis itu..

Senyum memalukan yang kupancarkan dari wajahku masih membuat wanita itu geram menahan amarahnya..

 

“Maaf.. Ibu.. Guru..”

“Jika kau sekali lagi mengganggu pelajaran ini, bersiaplah berdiri menemaniku mengajar di depan teman-temanmu Nona Im!”

Nde.. Arraseyo..”

 

Ahh.. akan kukemanakan wajahku setelah ini..

 

***

 

Aku duduk di bangku yang sedikit lembab ini sambil meutar-mutarkan Handphone menunggu seseorang..

Banyak pasangan kekasih yang berlalu lalang di taman ini.. melihat mereka bergandengan, berpelukan bahkan ada yang berciuman membuatku semakin gelisah..

Sesekali kurapikan rambut hitam bergelombangku yang sengaja kuurai. berkali-kali aku memastikan apakah sudah cukup menawan aku sekarang ini?

 

Tak berapa lama datang seseorang yang sudah kutunggu dari 15menit yang lalu, dia menghampiriku dengan sedikit berlari..

 

“Haah.. Haah.. maafkan aku terlambat, tadi ada sedikit urusan.”

 

Dahi Henry sedikit berkeringat,wajah berminyaknya tidak mempengaruhi ketampanannya.. baru pertama kali ini aku melihat dia memakai baju casual.

Ah, apa ini.. aku terpesona lagi dengannya.

 

“Kenapa? aku tampan ya?”

“Hhh.. jangan bergurau! Aahh.. palli katakan kita akan kemana hari ini?”

 

Henry tersenyum dan seperti biasa, dia lebih memilih menarik lenganku daripada menjawab pertanyaanku..

 

Aku tidak tau ini jalan apa dan daerah mana.. tiba-tiba mobil berhenti. Apakah sudah sampai?

“Hei.. kau bawa kemana aku ini sebenarnya?”

 

Masih.. Henry tidak menjawab lagi dan tetap lebih memilih tanganku yang ditariknya memasuki gedung berwarna putih ini.. tak sempat kubaca gedung apa ini, Henry menarikku dengan buru-buru..

Sedari tadi aku hanya berjalan mengikuti Henry. Kulihat di sepanjang lorong ini ada banyak sekali pintu yang berjajar seperti bangunan Hotel saja..

 

“Hotel?”

                

Tiba-tiba darahku berdesir hebat.. sebelum aku bersuara tanpa kusadari kami berdua sudah berada di sebuah kamar sweet dengan pintu kamar yang sudah tertutup..

 

Henry mulai menatapku lekat.. aku tidak tau akan ‘kemana’ kami berdua ini..

Tiba-tiba dia memegang kedua bahuku.. Tiba-tiba dia memelukku..

Sebenarnya ini hanya pelukan biasa.. tapi aku tidak pernah berpelukan sebelumnya dengan laki-laki selain Ayahku..

Jantungku serasa ingin keluar dari lindungan tulang rusukku saat aku mulai merasakan hidung Henry menyentuh leherku..

 

Yaa.. Cha..Chakaman..Chakamannyo..Henry-ah!”

 

Kudorong dada bidang Henry.. dan aku berhasil melepaskan diri darinya..

 

 

Wae?”

 

“Bukan seperti ini cara Im Ellin berkencan..”

 

“Ah benarkah? kukira kau akan menyetujui ini.. Cah, lalu bagaimana caramu berkencan dengan laki-laki?

 

“Ikut aku.. akan kutunjukkan padamu..”

 

 

 

 

***

 

Kami berdua sudah berkeringat.. baju yang kami kenakan juga sudah basah karena peluh disekujur tubuh kami masing-masing..

Aku membiarkan Henry mengambil nafas..

 

“Sudah jelas kau kalah Henry-ah..  ini sudah 5-0!!”

 

“Haah.. Arraso, jelas saja kau yang menang.. aku kan atlet Basket bukan atlet Tennis.. Haah..”

 

Dilapangan Tennis yang luas ini aku dan Henry berlomba mengambil nafas sebanyak-banyaknya karena sudah dari 2 jam yang lalu aku melawan Henry bermain Tennis, dan akulah pemenangnya!

 

Kami benar-benar kelelahan kali ini, untuk pemula bermain Tennis Henry cukup bagus karena 2 jam tanpa istirahat dia melawan Im Ellin atlet Tennis pemenang kejuaraan lomba Tennis di kota Seoul selama 2 tahun berturut-turut.

Serendah-rendahnya ‘nama belakangku’, aku masih punya secuil prestasi yang bisa dan ’layak’ kupamerkan pada semua orang.. Tennis.

 

Ahh.. Senja datang.

Seharian ini aku bersama Henry.

 

Kuaduk-aduk sirup berwarna merah jambu yang ada di dalam gelas ini agar warnanya bercampur rata dengan air es diatasnya.

Sepertinya aku sedikit malu karena aku mengetahui sedari tadi Henry terus menatapku dengan senyuman tampannya. Sebenarnya seperti apa aku ini di matanya?

 

Aku tak tahan ditatap olehnya seperti itu sehingga aku mulai bersuara..

 

Waee~?”

“Tidak.. Aku senang menatapmu, sebenarnya pribadimu tidak sesombong dan secongkak saat kau disekolah.. Kau gadis yang baik.”

“Apa katamu?”

“Aku sekarang ini sedang membanding-bandingkanmu dengan beberapa wanita yang aku kencani dulu. Mereka sama, jika sudah kubelikan sesuatu mereka akan merajalela mengamati sisa uang yang ada di dompetku. Dan, jika aku sudah mulai memeluk mereka, mereka akan dengan senang hati dan rela menyerahkan tubuh mereka padaku. Jika sudah seperti itu aku jadi malas untuk meniduri mereka, karena sudah jelas jika seperti itu aku bukan yang pertama untuk mereka..”

 

Aku mendengar Henry bicara panjang lebar seperti pria dewasa yang bijaksana, aku terpesona. Kali ini bukan karena wajahnya, tapi karena ‘Henry yang sesungguhnya’.

 

“Dan kau kira aku sama seperti mereka? Yaa! Jaga bicaramu Henry-ah!”

“Hahahaha! Maaf, awalnya kukira kau seperti itu.. ternyata aku salah.”

“Cih!”

 

Henry tersenyum didepanku, aku damai melihat wajahnya yang seperti ini.. 10 menit kami focus menghabiskan minuman yang ada di depan kami, dan kemudian Henry membuka suaranya..

 

“Im Ellin..”

“Hmm?”

“Kau…  Berpeluang besar membuatku jatuh cinta padamu.”

 

Apa? Apa yang Henry katakan tadi? Kenapa tiba-tiba aku berdebar-debar seperti ini?”

 

Henry berdiri dan berjalan membelakangiku..

“Ayo cepat.. kuantar pulang.”

 

Aku masih terhipnotis dengan kalimat Henry beberapa detik yang lalu. Aku melihatnya yang berdiri satu meter dari tempat dudukku, dia masih memunggungi aku, sedetik kemudian Henry menengokkan kepalanya.. Dia mengulurkan tangannya padaku dan tersenyum kemudian dia berkata..

 

“Ayo cepat, sayang..”

 

 

Ahh dia memanggilku dengan sebutan itu lagi, tahukah kau aku selalu leleh bagai lilin yang dimakan api saat kau mengucapkan kata ‘sayang’ dengan senyum yang paling kusukai seperti itu.. Bagaimana mungkin aku membiarkan uluran tanganmu kosong tanpa ada yang menggenggam seperti itu.. jika sudah seperti ini aku rela menjadi kekasihmu.. walaupun palsu seperti sekarang..

Henry-ah mungkin aku sudah gila.. aku mulai menyukaimu secara ‘hati’ bukan menyukaimu secara ‘raga’..”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s