[Yesung] Series – Our Baby (Part 1)

Title      : Our Baby

Cast       : Kim Jong Woon

Lee Seo Hae

Genre    : Romance, Married Life

Rating     : PG-17

Author  : D. Khairara

(http://facebook.com/devikakhairaramuna)

(http://twitter.com/muna2024)

Blog       : http://hopedreamcomestrue.wordpress.com

 

Suasana riuh ramai terlihat jelas di dalam sini. Ini memang bukan untuk pertama kalinya Seo Hae berkunjung dan mengenal suasana seperti ini. Sudah tak terhitung dengan hari mungkin daftar kunjungannya. Namun, Seo Hae selalu takjub dengan pengunjung yang seolah tak pernah habis, datang silih berganti, tak membiarkan karyawannya istirahat barang sejenak. Rasa ke-kagumannya juga  tertujukan pada sosok yang sedang berdiri tegak melayani pesanan pelanggan di balik meja kasir. Dengan balutan jaket berbahan jeans berwarna hijau dengan dalaman kaos warna senada, menambah ketampanannya. Prianya. Pria itu prianya. Pria yang telah menemani hari-harinya dua tahun terakhir ini.

 

Lihatlah. Wajah pria itu terlihat sangat lelah. Kantung matanya sudah terlihat, ‘aku rasa dia mengantuk. Aku memahaminya, sangat memahaminya. Setiap kali aku menyuruhnya untuk istirahat saja di rumah, dia selalu berkata, ‘aku hanya ingin membantu eomma di café’. Selalu jawaban itu yang ia berikan. Padahal dia juga punya pekerjaan lain di siang hari sebagai CEO di perusahaan yang sudah di rintis Ahbeoji sejak muda, WhyStyle’ batin Seo Hae.

Pria itu memang sangat keras kepala jika untuk satu hal ini. Dalihnya adalah untuk berbakti pada orang tua. Terkadang Seo Hae kesal dengan sikapnya yang selalu mementingkan orang lain di bandingkan dengan kepentingannya sendiri. Tubuhnya ‘kan bukan robot yang selalu bekerja siang malam tanpa henti. Wanita itu juga merasa terasingkan jika pria yang hampir memasuki kepala tiga itu selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Pagi hingga sore di WhyStlye, dan jika tidak ada kepentingan WhyStlye lainnya, sore hingga malam ia akan berada di café, ‘lalu waktu untukku kapan?’ seru hati Seo Hae. Walau begitu Seo Hae selalu bersyukur pada Tuhan karena mengirimkan malaikat seperti suaminya, Kim Jong Woon.

Tangannya mengulurkan satu cup minuman pada pelangggan. Mungkin sikap ramahnya menjadi salah satu daya tarik dari café ini. Tidak bisa di pungkiri, senyumnya itu sangat memukau. Dan itu bisa pengunjung nikmati secara cuma-cuma. ‘Menyebalkan, seharusnya senyum itu hanya ia berikan padaku’ gerutu Seo Hae masih di dalam hatinya.

Sebuah tepukan ringan di bahu Seo Hae menguapkan celotehan hatinya tentang Kim Jong Woon. Dia membalikkan badannya dan mendapati adik iparnya tersenyum ramah. Wajahnya juga tak kalah tampan dari kakaknya, sebelas duabelas mungkin. Tapi di hati seorang Lee Seo Hae tentu saja telah terpatenkan Kim Jong Woon adalah pria paling tampan di dunia.

“Seo Hae~ya” panggilnya.

“Eoh~ Jong Jin-ah, waeyo?” sahut Soe Hae.

“Kau sedang apa? Duduklah, nanti kau lelah” ucapnya memerintah.

“Aku sedang meregangkan otot” balas Seo Hae sekenanya.

“Ku lihat kau dari tadi hanya berdiri di sini dan memandang Jong Woon hyung seperti ingin memangsanya. Apa itu bisa di sebut dengan merenggangkan otot?”

“Isshh, kau ini dan hyung mu itu sama saja. Selalu menyuruhku istirahat dan istirahat. Apa kau kira duduk sejak tadi tidak membuatku lelah?” ujar Seo Hae sebal. ‘Mengapa dia dan hyungnya selalu memerintahku untuk istirahat’ lanjutnya pelan tanpa bisa di dengar Jong Jin.

“Kalau begitu berbaring saja. Ayo aku antar pulang!” ajaknya. “Jong Woon hyung sedang sibuk dengan pelanggan sepertinya” tambah Jong Jin dan membuat Seo Hae ingin sekali memukul kepalanya. ‘Aku tidak ingin pulang. Aku ingin bersama Jong Woon’ teriak Seo Hae dalam hatinya.

Please Jong Jin~ah, kemarin aku sudah menjadi orang lumpuh sehari. Tidak boleh melakukan apapun. Hanya berbaring dan berbaring, kau pikir itu tidak melelahkan?” ungkap Seo Hae frustasi.

“Kau ‘kan harus banyak istirahat Seo Hae~ya!

“Kalau aku diam dan tidak melakukan apapun justru badanku rasanya akan semakin sakit. Bahkan berdiri saja kau tidak di izinkan”.

“Aku hanya mengkhawatirkanmu. Jong Woon hyung akan membunuhku juga nantinya kalau kau tiba-tiba sakit karena kelelahan, dan aku tidak mencegahmu”.

‘Orang ini benar-benar bebal. Apa ucapanku tadi tidak mampu dicernanya dengan baik’ gerutu Seo Hae lagi-lagi dalam hatinya. Apa hatinya tidak lelah selalu protes?.

“Sebelum hyungmu itu mengacungkan sebilah pisau di lehermu, kau sudah akan mati di tanganku karena terus mengusikku sejak tadi. Jadi, sebelum itu terjadi, angkat kakimu dari hadapanku sekarang” ancam Seo Hae membuat gerakan mengelilingi leher dengan telunjuknya.

“Ashh…kenapa bisa ada pasang yang ‘gila’ seperti kalian. Tega sekali ingin membunuh adik iparnya sendiri” gerutu Jong Jin sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ya~ kalian sedang apa berdiri di depan pintu” sela seorang wanita paruh baya, kemudian menghampiri mereka berdua. “Seo Hae~ya, duduklah, nanti kau lelah, kau ‘kan baru keluar dari rumah sakit” ujar eommonim mengingatkan Seo Hae untuk istirahat.

“Aku sudah menyuruhnya dari tadi eomma, tapi dasar dia yang keras kepala” lapor Jong Jin pada wanita dengan apron merah yang menggantung indah. “Bahkan dia mengancam akan membunuhku hanya karena aku menyuruhnya untuk istirahat” lanjutnya melaporkan kejadian tadi. Dasar mulut bocor. Kenapa hal seperti itu dia adukan pada ibunya.

“Aku lelah duduk terus eommonim, jadi aku jalan sebentar. Aku juga bosan di dalam sana” ungkap Seo Hae.

“Kalau kau lelah lebih baik puang saja ke rumah. Membaca buku mungkin bisa mengurangi rasa bosanmu. Bukankah Jong Woon juga punya banyak koleksi buku bacaan. DVD-nya juga banyak ‘kan?”

“Nde emmonim, tapi aku masih ingin di sini. Di rumah pasti juga membosankan karena tidak ada yang bisa aku ajak berbicara. Aku menunggu Jong Woon oppa saja”. Tidakkah itu pilihan yang benar. Di rumah tentu akan semakin membosankan. Membaca buku? Bahkan melihat buku-buku tebal koleksi  seorang Kim Jong Woon sudah akan  membuat  pusing, apalagi jika harus membacanya.

“Eomma tahu, segala hal yang Seo Hae lakukan akan terasa membosankan, ya kecuali kegiatan mengamati wajah Jong Woon hyung. Bahkan sejak tadi yang Seo Hae lakukan hanya menamati Jong Woon hyung” lapor Jong Jin lagi. Tidak adakah kalimat yang lebih baik untuk di ucapkan. Mengapa sejak tadi dia selalu memojokkan Seo Hae.

“Seo Hae itu kakak iparmu, jangan memanggilnya dengan nama Jong Jin~ah, tidak sopan” tegur ibu mertua Seo Hae, mempersalahkan panggilan Jong Jin padanya. Angin sedang memihak Seo Hae kali ini.

“Tapi dia seumuran denganku eomma, lidahku kelu kalau harus memanggilnya dengan panggilan kakak ipar” ucap Jong Jin, dengan gengsinya tinggi. Setinggi menara Eifeel dan kekokoh tembok Cina, sulit sekali di robohkan.

“Tetap saja kau harus memanggilnya kakak ipar. Eomma bisa memaklumi kalau kau menggunakan banmal karena Seo Hae memang seumuran. Tapi bukan berarti kau bisa memanggilnya seenaknya, bagaimanapun juga Seo Hae sudah menikah dengan hyungmu” ungkap ungkap ibu Jong bersaudara. Wajah Jong Jin mulai mengkerut kesal mendapat teguran dari ibunya dan tak mampu di balasnya. Ah, hati Seo Hae tertawa senang melihat ekspresi ‘kekalahannya’.

“Kalau kalau bosan pilihlah tempat yang membuatmu tenang, jangan berdiri terus di sini, kau harus menjaga kesehatanmu, arra!” ucap lembut wanita iitu pada Seo Hae sambil mengusapkan lengan Seo Hae dengan tangan halusnya. Tangan yang sudah membesarkan dan merawat malaikatnya dengan baik.

“Nde eommonim. Aku ingin duduk di sana, apakah boleh?” tunjuk Seo Hae pada meja yang terletak di sudut kanan café.

“Aku tahu isi kepalamu” ucap Jong Jin sakartis, menyela jawaban Nyonya Kim. “Duduklah yang manis di sana dan pandangi wajah Jong Woon hyung sepuasmu” ucapnya mengibarkan bendera perang lagi. “Apa kau tidak bisa menjaga harga diri sebagai seorang wanita? Kau terlalu mudah Seo Hae~ya”

“Biarkan saja, dia itu ‘kan suamiku, bukan suamimu, kenapa kau cerewet sekali eoh!. Dari pada melihat wajahmu yang seperti bulan, membuat kepalaku pusing!” seru Lee Seo Hae.

“Kalian ini setiap bertemu selalu saja berdebat, apa tidak ada aktifitas lain yang bisa kalian lakukan? Eomma heran dengan kalian, tahu seperti ini, dulu eomma nikahkan saja kalian berdua supaya akur”

“ANDWAE!!” ucap Seo Hae dan Jong Jin serempak. Nyonya Kim yang mendengarnya sampai menutup telinga. Untuk saja tempat mereka berdiri sekarang jauh dari meja pelanggan.

“Heum” hela nafas eommonim “Duduklah disana. Kau tamu eksklusif hari ini” ucap wanita dengan rambut sebahu itu mengizinkan Seo Hae duduk di sana dan kemudian meninggalkan tempat ini dan menuju pantry.

 

“Adik ipar, lebih baik kau meracik kopi dengan baik dari pada menekuk jawahmu seperti itu” ledek Seo Hae pada Jong Jin yang sedang meratapi dirinya sendiri. Sungguh kasihan.

“Lebih baik kau diam ka-kak-i-par” ucapnya menekankan kata kakak ipar. Jong Jin  sangat kesal dengan teguran ibunya tadi. Setelah itu dia melangkahkan kakinya berbalik menuju tempat peracikan kopi.

“Jong Jin~ah” panggil Seo Hae. Jong Jin  membalikkan badanya malas.

“Wae?” ucapnya malas. Seo Hae letakkan ke dua tangannya di pinggang, berkacak pinggang menatapnya.  Wanita muda itu menjulurkan lidahnya mengejek dan berbalik cepat menuju termpat yang ada di ujung sana.

 

***

Seo Hae duduk di lounge yang di sediakan khusus bagi tamu penting Jong Woon. Tak jarang tempat itu bisa berubah jadi tempat rapat juga. Ia meletakan gelas cappuchinonya dan kemudian duduk mengamati wajah tampan prianya dari tempatnya saat ini. Mengagumi betapa Tuhan Maha Agung dengan menciptakan sosok seperti Jong Woon.

Seo Hae menyeruput pelan kopinya. Tak sekali-duakali senyumnya mengembang saat Jong Woon yang sedang melayani pelangganan dengan sedikit kerepotan. Wajahnya akan terlihat lucu. Sama sekali tidak mencerminkan kalau dia adalah seorang pria yang sudah beristri.

Senyum Seo Hae tiba-tiba jadi senyum kaku yang beku. Ia tak lagi tersenyum saat melihat Jong Woon. Senyumnya benar-benar hilang. Jong Woon, pria itu dengan senyum mengembang di bibirnya sedang bercengkrama dengan seorang. Seorang yang seharusnya tidak perlu repot-repot Seo Hae cemburui. Jong Woon sedang mengenggam tangan mungil seorang bayi. Pria itu bahkan juga berusaha menarik perhatian bayi tersebuat yang sedang bernain dengan jerapah karetnya.

Lounge eksklusife yang Seo Hae tempati sekejap jadi hampa udara. Sesak sangat di rasakan Seo Hae. Lukanya saat kehilangan anaknya belum sembuh hingga saat ini. Namun dengan melihat Jong Woon yang begitu bahagia bermain dengan seorang bayi membuat Seo Hae berada di posisi yang serba salah.

Gelas yang berisi cappuchino itu jatuh, dan isinya tumpah ke lantai. Seo Hae menyentuh kepalanya yang tiba-tiba jadi sakit. Sangat sakit. Berbagai pikiran datang ke kepalanya. Kilasan-kilasan kejadian buruk yang menimpa hidupnya, secara bergantian datang. Ia juga meremas perutnya yang kini sudah rata. Kepedihannya bertambah. Hatinya,  raganya dan juga jiwanya sakit.Dengan langkah yang di seret ia keluar dari café.

 

 

“Hyung sudah waktunya tutup!” seru Jong Jin menepuk bahu Jong Woon. Jong Woon yang sedang mencatat penghasilan hari ini sontak menghentikan gerak menulisnya.

“Cepat sekali jam berputar. Badanku lelah” ucapnya sambil meregangkan lehernya.

“Pulanglah! Seo Hae ada di sana” Jong Jin mengarahkan dagunya ke tempat Seo Hae tadi. “Aku akan pulang dengan eomma!”

“Geurae! Hari ini kau sudah bekerja keras!” Jong Woon menepuk bahu Jong Jin keras sampai Jong Jin meringis kesakitan.

“Jalga…!”

 

—-

 

Jong Woon yang menyadari ketidak-beradaan Seo Hae berlari ke arah dapur. Di sana ia juga tidak mendapati Seo Hae. Yang ada hanyalah pegawai yang sedang bebenah. Pria itu mendengar suara ibunya dari pintu depan, ia segera menghampirinya.

“Eomma! Seo Hae eoddiga?” tanyanya

“Bukannya tadi dia ada di lounge”

“Eobseoyo!”

“Bagaimana bisa tidak ada, tadi dia sendiri yang bilang akan kesana, eomma melihatnya sendiri ia berjalan ke arah lounge”

“Mungkin sedang jalan-jalan sebentar di luar. Sudah kau telfon belum, Hyung?” sela Jong Jin.

“ Sudah, dia tidak mengangkatnya!”

“Bisa jadi dia sudah pulang ke rumah. Coba kau periksa rumah” Ibu Jong Woon memberi pendapat.

“Baiklah aku akan ke rumah dulu. Kalau kalian melihat Seo Hae di jalan, cepat hubungi aku!”

 

***

Seo Hae duduk di samping box bayi. Kepalanya ia sandarkan di tepi box. Tangan kanannya yang bebasmemegang baju berwarna biru. Baju bayinya. Baju yang seharusnya di kenakan oleh anaknya. Anak pertamanya dengan Jong Woon. Buah hati yang mereka tunggu sejak awal pernikahan. Tak hanya Jong Woon dan Seo Hae saja yang menyambut antusias kehadiran bayi mungil itu, kedua keluarga besar mereka juga begitu. menantikan kehadiran cucu yang juga pertama bagi kedua keluarga. Namun sayang, kehendak Tuhan berkata lain.

“Joon~ah, kau mau memakai baju ini!” seru Seo Hae pada boneka yang ia tidurkan di dalam box bayi. “Baju ini sangat lucu. Eomma membelinya bersama appa di pusat perbelanjaan. Saat itu bahkan usiamu belum genap empat bulan di kandungan eomma. Tapi ayahmu sangat antusias membeli ini dan itu,. Bahkan dia sangat senang sampai jatuh dari tempat tidur saat pertama tahu kau hadir di sini”  ucap Seo Hae seraya mengelus sendiri perut datarnya.

“Kau harus memakainya, ayahmu pasti akan senang!”. Seo Hae berdiri di samping box dan memakaikan baju yang sejak tadi ia genggam pada ‘anaknya’.

Dengan telaten dan penuh kehati-hatian, Seo Hae memasukkan lengan ‘anaknya’ ke dalam lubang pakaian. Bibirnya terkatup rapat. Dia melakukan hal yang sama pada lengan yang satunya lagi. Dengan penuh kebanggaan, Seo Hae mengembangkan senyumnya.

“Joon~ah, kau sangat tampan menggunakan baju itu. Ayahmu tidak salah dalam memilihkan baju” ujar Seo Hae seraya mengamati ‘anaknya’ dalam-dalam.

Dentingan jam dinding mengalun sesuai iramanya. Berputar searah mengikuti jalurnya. Berputar dan terus berputar tanpa lelah. Kapan jarum itu akan berputar melawan arah?. Kapan ia akan berhenti?

Seo Hae duduk kembali di kursinya dan mengawasi ‘bayinya’ yang sedang berbaring. Wanita muda itu menepuk-nepuk punggung boneka itu, persis seperti seorang ibu yang hendak menidurkan bayinya. Dengan suara pelannya, Seo Hae melantunkan nyanyian anak-anak. Suara yang sangat pelan, tatapan mata yang kosong. Seo Hae mirip orang yang sedang merintih.

Pintu yang sejak tadi tertutup rapat, terbuka dan menampilkan sosok seorang Kim Jong Woon dengan nafas yang memburu. Kakinya melangkah mendekati Seo Hae yang tak terusik dengan kedatangannya. Sibuk dengan dunianya sendiri.

“Seo Hae~ya” panggil Jong Woon pada istrinya. Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Seo Hae. Wanita itu masih bergumam menyanyikan lagu untuk ‘bayinya’. “Seo Hae” panggil Jong Woon, dan Seo Hae tetap menandangi ‘bayinya’.

Jong Woon tidak buta dengan apa yang sekarang di lakukan Seo Hae. Ia tahu ini tidak benar. Jong Woon menatap nanar punggung Seo Hae. Punggung yang menjadi tumpuannya saat kebimbangan mendera hatinya. Kesibukan yang menguras tenaga juga pikirannya. Pernahkah kalian mendengar istilah, ‘di balik suksesnya seorang pria, ada wanita super di belakangnya?’. Seo Hae, Lee Seo Hae, dialah wanita super yang selalu berdiri di belakang Jong Woon di segala situasi. Wanita yang menjadi tumpuan juga curahan hatinya setelah mampu menarik perhatian Jong Woon.

Namun kini, wanitanya sedang terluka. Tak ada wanita kuat yang berdiri di belakannya lagi. Wanita itu sedang jatuh terpuruk. Kejadian yang membuatnya sangat terluka. Pria penuh pesona itu bahkan sangat tahu jika kehilangan adalah suatu hal yang menyklitkan. Tapi apakah semenyakitkan ini. melihat wanitanya berubah jadi demikian. Menjadi seperti wanita yang tidak di kenalnya.

Jong Woon memeluk Seo Hae dari belakang. Menenggelamkan dagunya di bahu Seo Hae. “Apa yang sedang kau lakukan. Mengapa pulang tidak memberitahuku” ucap Jong Woon pelan di samping telinga Seo Hae. Perhatian Seo Hae yang tadi tertuju seluruhnya pada boneka yang ia anggap sebagai anaknya berbelah dengan suara Jong Woon yang  masuk ke telinganya.

“Joon~ah, ayah sudah pulang!” seru Seo Hae mengambil ‘Joon’ dan menaruhnya dalam gendongannya.

“Ah~oppa, kenapa lama sekali pulangnya? Apa kau tidak tahu aku dan Joon hampir mati bosan menunggumu pulang!” ujar Seo Hae berdiri berhadapan dengan Jong Woon. “Benar ‘kan Joon” ucap Seo Hae mencari pembenaran.

“Seo~ya!” ucap lemah Jong Woon.

“Wae? Apa kau lapar?” Tanya Seo Hae menanggapi panggilan Jong Woon.

“Uri Joonie, dia bukan Joon kita”

“Apa maksudmu dengan dia bukan Joon kita. Jelas-jelas dia Joon kita. Kau ini bagaimana, kau ‘kan ayahnya, mana bisa kau tidak mengenali anak mu sendiri! Ini Joon kita! Kau tidak lihat, ini baju yang kau pilih sendiri ‘kan?” respon Seo Hae.

“Uri Joonie sudah tidak ada Seo Hae~ya, kau harus sadar!” ucap Jong Woon berbicara realistik. Tapi tidak dengan Seo Hae yang masih kukuh dengan dunia imajinasinya.

“ Kau gila oppa” sengit Seo Hae dan beralih dari hadapan Jong Woon.

Jong Woon menghela nafasnya kasar. Ia merasa bingung dan sedih dalam satu waktu dengan keadaan Seo Hae. Tapi ia juga tidak terima dengan yang di lakukan Seo Hae. Kenyataan dimana anaknya sudah pergi untuk selamanya. Pria itu mungkin bisa menerima takdir yang sudah terjadi, tapi tidak dengan Seo Hae yang belum siap menerima takdir pahit ini.

Bayi yang sudah di jaganya selama sembilan bulan di dalam rahimnya. Bayi yang bahkan belum sempat ia lihat wajahnya. Joon, nama kecil hasil kesepakatan Jong Woon dan juga Seo Hae sebelum ia lahir kedunia ini. Bayi yang harus pergi tepat dua hari setelah ia menghirup udara dunia.

Saat itu, saat Seo Hae hendak melahirkan. Dengan rintihan kesakitan, Seo Hae memejamkan matanya rapat-rapat menahan rasa sakit yang kuat di perutnya. Jong Woon berdiri setia di sampingnya. Tangannya menggenggam hangat tangan Seo Hae, menyalurkan energi agar Seo Hae kuat dalam pertaruhan hidup dan matinya. Demi buah hati yang dalam hitungan jam akan lahir ke dunia ini.

Menit berlalu berbubah menjadi jam. Sudah lebih dari tiga jam Seo Hae berada di ruang operasi di temani Jong Woon dan juga eommanya. Tim dokter sedang menunggu pembukaan dari Seo Hae. Sedikit lama, kata dokter. Berusaha tenang, Jong Woon menghapus keringat dingin yang membanjiri kening Seo Hae. Sementara Nyonya Kim mengatupkan kedua tangannya merapalkan doa-doa keselamatan untuk Seo Hae dan juga cucunya. Kesakitan yang sangat di rasakan Seo Hae. Sudah waktunya ucap Dokter Lee, dokter kepala yang menangani persalinan Seo Hae.

Peralatan-peralatan di siapkan di sisi Seo Hae. Jong Woon terus menggenggam tangan Seo Hae. Bahkan tak jarang lengannya mendapatkan cakaran gratis dari Seo Hae yang sedang mengejan mengeluarkan malaikat mereka.

Tarikan nafas, hembusan nafas, di lakukan dengan teratur oleh Seo Hae. Usaha mati-matiannya melahirkan berbuah manis saat terdengar suara tangisan bayi. Masih dengan lumuran darah segar di tubuhnya, bayi mungil itu segera di bersihkan oleh suster. Tangis Jong Woon pecah. Menyaksikan perjuangan yang di lakukan Seo Hae.

“Bayi kalian laki-laki. Selamat Tuan Kim” ucap Dokter Go yang datang menyalami Jong Woon. Jong Woon beranjak dari sisi Seo Hae dan membalas jabatan tangan dokter yang telah membantu istrinya melalui proses panjang yang di sebut persalinan.

“Oppa…” lirih Seo Hae. Jong Woon menghampiri Seo Hae yang masih lemah. Di sunggingkannya senyuman bahagia. Pria mana yang tak bahagia ketika kini statusnya berubah menjadi ayah.

“Seo~ya, kau sangat hebat. Uri aga seorang laki-laki. Kau senang?”

Bukannya menjawab, Seo Hae justru meneteskan airmatanya. Semakin deras Seo Hae menangis. Jong Woon dengan tanggap segera menghapus airmata yang jatuh dari mata indah wanitanya.

“Tentu saja kau pasti senang bukan? Aku bodoh karena menanyakannya” ujar Jong Woon.

‘arghh’ rintih Seo Hae. Semakin lama rintihannya semakin jelas terdengar. Tangannya meremas perutnya yang terasa sakit.

“Seo~ya, waegeure?” Tanya Jong Woon panik. “Eomma apa yang terjadi pada Seo Hae?” tanya Jong Woon pada ibunya karena Seo Hae yang terus mengerang kesakitan. Tak hanya itu saja, keluar darah segar di antara pahanya. Pendarahan.

***

 

Jarum jam tak pernah berhenti berputar. Terus berputar menemani angin yang berhembus.

Jong Woon duduk di samping Seo Hae. Penuh perhatian, pria itu membersihkan tangan Seo Hae. Tidak ada celah yang terlewatkan. Pria itu mengenakan kemeja dengan lengan yang di gulung sampai siku, membuatnya terlihat selalu muda meskipun sudah berada di ujung usia dua puluhan. Matanya merah kurang tidur. Wajahnya juga nampak tidak segar seperti biasanya. Namun wajar jika pria yang satu ini jadi seperti ini, pasalnya, wanita yang tiga tahun terakhir ini menemani setiap hari-harinya sedang berbaring tidak berdaya di depannya. Tidakkah ini hal yang wajar? Setiap suami yang mencintai istrinya pasti akan melakukan hal yang sama.

Tangan hangatnya bergetar saat membersihkan kening Seo Hae. Ingatannya berputar pada hal-hal yang sudah ia alami. Ingatan menyenangkan juga yang menyedihkan. Tawanya dengan Seo Hae, percekcokan kecil juga perbedaan pendapat. Dan yang terakhir adalah ingatannya pada usaha Seo Hae untuk melahirkan buah hati mereka. Jong Woon ingat betul kejadian itu, semuanya terkam jelas di memorinya.

“Istri anda mengalami pendarahan hebat, Tuan Kim, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda” Jong Woon ingat saat dokter berusaha menenangkannya saat setelah berhasil mengeluarkan si kecil, Seo Hae mengeram kesakitan. Saat mengingatnya mata Jong Woon jadi berair. Angin berhembus kasar di depan matanya hingga selalu membuatnya pedih dan berair. Dan mengapa hal buruk tak berhenti? “Putera anda mengalami kelainan paru-paru. Itu membuat putera anda mengalami kesulitan untuk bernafas dengan normal. Alat bantupun tidak akan berfungsi. Di tambah dengan berat badan saat putera anda saat di lahirkan jauh di bawah berat badan normal, dan dengan berat hati kami sampaikan, putera anda meninggal pukul 20.24 tadi. Kami turut berduka cita Tuan Kim” Suara dokter Go masih menggema di telingga Jong Woon. Pria itu tak lagi mampu menampung air mata yang mendesak ingin keluar. Ia menyandarkan kepala di lengan Seo Hae. Menangis sejadinya. Mengeluarkan kesesakan hatinya.

 

***

 

Jong Woon menarik paksa boneka yang sedari tadi dalam gendongan Seo Hae. Dengan cepat Jong Woon membuangnya ke sembarang arah. Seo Hae yang sedikit terkejut hanya membelalakan matanya. Ke dua tangan Jong Woon mencengkram bahu Seo Hae yang masih terkejut mendapati ‘anaknya’ tergeletak tak berdaya di lantai.

“Seo~ya dengar ‘kan aku, uri Joonie sudah meninggal, kau harus menerimanya Seo~ya, uri Joonie sudah di surga! Kau mengerti!” ucap Jong Woon dengan nada bicara yang agak keras, mengertak Seo Hae.

Mata Seo Hae yang sejak tadi memandangi boneka itu beralih mengamaati wajah Jong Woon yang ada di depannya. Sorot mata wanita itu penuh kemarahan. Bibirnya bergetar ingin berteriak. Matanya mengobarkan api-api kemarahan pada Jong Woon.

Dengan gerakan cepat, Seo Hae mendorong tubuh Jong Woon menjauh sampai jatuh terduduk di lantai. Seo Hae berjalan kearah boneka yang tergeletak di samping almari. Seo Hae berjongkok dan menggendongnya lagi. Jong Woon yang mengamatinya mengeram kesal.

“Joon~ah, tadi ayah tidak sengaja menjatuhkanmu. Maafkan ayah nde?” bicara Seo Hae pada boneka yang selalu menampakkan wajah yang sama. Mata terbuka lebar dengan senyuman lebar. “anak pintar, kau bahkan tidak menangis, hhh” tawa Seo Hae.

Seo Hae mengayun-ayunkan tubuh ‘Joon’ yang ada dalam gendongannya. Seo Hae kembali mendendangkan lagu yang tadi ia nyanyikan. Senyumnya mengembang melihat ‘Joon’ yang tertawa memandangnya.

“Joon~ah, kenapa sejak tadi kau diam saja. Bicaralah, kau juga bisa menangis kalau kau mau. Eomma tak akan sebal kalau kau menangis. Eomma ingin mendengar suara mu. Jangan membuat eomma takut Joon~ah, menangislah… ayo cepat menangis!!”. Seo Hae menghentak-hentakkan ‘bayinya’ kasar. Ia juga memukul-mukul punggunya bermaksud agar dia menangis. Tapi apa mau di kata, boneka yang di lihatnya sebagai Joon, putranya yang harus pergi lebih dahulu itu hanya diam tanpa suara.

“Cepat keluarkan suara!” teriak Seo Hae yang mulai kesal karena Joon-nya tak kunjung bersuara.

“Kau mau bersuara tidak?” racau Seo Hae mengibaskan boneka tersebut dengan satu tangan.

“Arghh” jerit Seo Hae membuang boneka itu ke lantai. “Kau bukan uri Joonie”. Seo Hae berpaling dan berjalan ke arah Jong Woon yang menganga tak percaya dengan kondisi Seo Hae yang di lihatnya sudah di luar kenormalan. Pola pikir Seo Hae yang tiba-tiba sangat membuatnya terkejut. Apa istrinya sudah kehilangan kesadarannya sebagai Seo Hae-nya yang dulu? Air matanya menggenang menyaksikan Seo Hae yang dengan bengisnya membuang boneka yang sejak awal di anggapnya sebagai Joon.

“Dia bukan uri Joonie oppa!” tunjuknya ke arah boneka yang kembali tergeletak di lantai.

“Dia bukan anakku, di mana Joon kita oppa?” tanya Seo Hae dengan nada memelasnya. Jong Woon berdiri dan berhadapan dengan Seo Hae. Di cengkramnya dengan pasti ke dua bahu Seo Hae. Seo Hae hanya memandangnya dengan tatapan tanpa arti. Benar-benar polos. Jong Woon tersenyum kecil, meski tak dapat di bohongi ada kesedihan besar di balik mata sipitnya itu.

“Kenapa oppa menangis? Joon baik-baik saka ‘kan?”. Jong Woon menghapus matanya dan kembali meletakkan tangannya di atas pundak Seo Hae.

“Joon baik-baik saja. Dia sangat bahagia sekarang. Malaikat kecil kita sudah bahagia di surga dengan malaikat-malaikat yang lain” jelas Jong Woon. “Uri Joonie, sedang menunggu kita di pintu surga sekarang, menunggu kita untuk ke sana. Jadi kau tenang saja” lanjutnya menahan agar air matanya tak kembali jatuh saat harus merangkai kata agar emosi Seo Hae yang sedang tidak stabil kembali terpancing.

“Benarkah Joon sedang di surga”

“Hmm, Joon sedang di surga dan tersenyum bahagia. Kau juga harus tersenyum bahagia agar Joon juga tersenyum, oke?” ujar Jong Woon.

“Aku ingin ke surga bertemu dengan Joon oppa?” rengek Seo Hae menggenggam lengan Jong Woon yang masih di atas bahunya. “Kau bisa memesan tiket untuk perjalanan ke surga bukan? Minta tolong saja dengan asisten mu Lee Sung Min untuk memesannya, kita harus bersiap untuk menemui Joon di surga” seloroh Seo Hae membuat Jong Woon meneteskan kembali air matanya. Gila. ini gila. bagaimana bisa seorang Seo Hae yang memiliki kecerdasaan yang di atas rata-rata bahkan melupakan apa arti surga. Memesan tiket? Jika ada tiket menuju surga, maka seluruh manusia di penjuru dunia akan berebut untuk memesannya dan dengan langkah ringan akan memasuki surga yang menjadi tujuan akhir hidupnya. Ini sudah benar-benar tidak bisa dipercaya. Seo Hae nya yang cerdas seolah hilang di gerogoti kisah pilu yang menimpanya.

“Seo~ya, kita tidak bisa pergi ke surga sesuai dengan kehendak kita. Tuhan yang akan menentukan kapan kita bisa pergi ke surga” Jong Woon berusaha menjelaskan.

“Kenapa begitu? aku ‘kan hanya ingin melihat Joon, itu saja. Kenapa tidak bisa?”

“Butuh proses panjang untuk mencapai surga Seo Hae~ya”

“Kenapa?” Tanya Seo Hae lagi, belum puas dengan jawaban yang di lontarkan Jong Woon.

“Jangan tanya kenapa dan bagaimana, karena aku sendiri juga tidak tahu Seo Hae, hanya Tuhan yang tahu” ucap Jong Woon yang sudah putus asa tak mampu menjawab pertanyaan Seo Hae yang sulit di jawabnya dengan menyesuiakan keadaan Seo Hae sekarang.

Seo Hae menghela nafasnya panjang dan pergi memeluk tubuh Jong Woon yang cukup kekar untuk ukurang seorang pria. “Tapi aku ingin bertemu dengan Joon oppa. Tidak bisakah kau meminta Tuhan mengijinkan kita pergi ke surga sebentar?”

Hening. Benar-benar hening. Jong Woon tak mampu berkata apa-apa lagi sekarang. Perkataan Seo Hae mulai tidak bisa di jawabnya dengan baik. Putus asa. Sungguh putus asa Jong Woon kini.

“Kalau kau tidur, kau mungkin akan bertemu dengan Joon nanti. Bisa jadi, Tuhan akan mengijinkanmu melihatnya melalui mimpi” seloroh Jong Woon.

Seo Hae mendongakkan kepalanya dan menatap manik mata Jong Woon dengan mata yang berbinar. “Really? Are you sure? Aku bisa bertemu dengan Joon di dalam mimpi?”

“Tentu. Kalau kau memintanya kepada Tuhan, dan Tuhan mengabulkannya, pasti kau akan bertemu dengan Joon di mimpi”

“Kalau begitu ayo kita tidur”. Seo Hae menarik tangan Jong Woon menuju tempat tidur mereka yang di dominasi warna biru. Warna kesukaan Seo Hae.

Jong Woon sedikit lega melihat Seo Hae yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Paling tidak, Seo Hae sudah tenang sekarang.

Rasa antusiame Seo Hae untuk bertemu Joon sangat besar.  Wanita yang hampir menjadi seorang ibu itumemaksakan matanya terpejam. Jong Woon ikut naik ke atas tempat tidur. Ia membenarkan letak selimut Seo Hae yang sedikit tidak beraturan. Seo Hae membuka matanya.

“Kau tidak tidur?” tanya Seo Hae pada Jong Woon yang menjadikan sikunya sebagai tumpuan untuk memandang wajah Seo Hae. “Kau tidak ingin bertemu dengan Joon?” tanyanya lagi.

Jong Woon tersenyum dan mendekatkan tubuhnya ke arah Seo Hae. “Joon akan bingung nanti jika di temui dua orang sekaligus. Jadi kau dulu saja yang bertemu dengannya. Kau ‘kan sudah sangat merindukannya” jawab Jong Woon sampil merapikan anak rambut Seo Hae yang menempel di dahinya. Seo Hae mengangguk pasti dan kembali memejamkan matanya rapat.

“Jangan lupa berdoa sayang” seloroh Jong Woon. Seo Hae kembali membuka matanya dan dengan cepat mengecup pipi Jong Woon.

“Kau juga harus tidur. Pasti sangat melelahkan seharian bekerja”. Seo Hae menarik lengan Jong Woon agar ikut berbaring. Jong Woon hanya tersenyum melihat Seo Hae yang dengan telaten merapikan selimutnya. Jika di lihat seperti ini, tidak nampak keanehan yang Seo Hae tadi lakukan. Ia terlihat seperti seorang biasa.

 

***

 

Matahari dengan sombong membanggakan dirinya pada semua orang bahwa dirinya adalah raja. Angin di akhir musim semi membuat badan meringkuk betah di tempat tidur. Seperti yang Seo Hae lakukan. Matanya masih terpejam dengan tangan yang sedang memeluk guling. Sejenak, indra penciumannya terusik dengan bau harum roti yang sedang di panggang. Otaknya memerintahkannya untuk terbangun, namun syaraf matanya menolak perintak otak. Gerakan halus di kepalanya juga menambah ketidak nyamanannya untuk tidur. Dengan malas Seo Hae membuka matanya yang terasa berat. Objek pertama yang di lihatnya sedang tersenyum kearahnya. Mengenakan kaos santai berwarna putih dengan celana jeans, membuatnya berbeda seperti hari-hari lainnya di mana pria itu selalu menggunakan kemeja dengan jas yang rapi.

Good morning” sapa Jong Woon yang duduk di samping tempat tidur.

Good morning oppa” balas Seo Hae kemudian duduk bersandar di kepala ranjang.

“Kau mimpi apa sampai bangun sesiang ini, eoh” tanya Jong Woon tanpa menyinggung kejadian selamam. Ia berharap kejadian selamam terlupakan oleh Seo Hae.

“Aku…memimpikan” ucap Seo Hae terputus membuat penasaran Jong Woon. “Aku bermimpi…kita pergi ke pantai dan bermain air, hhh” sambung Seo Hae di ikuti tawanya yang khas. Melegakan bagi Jong Woon,setidaknya Seo Hae tidak memikirkan Joon lagi.

“Kau ingin pergi ke pantai?” tawar Jong Woon sampir memberikan segelas jus untuk Seo Hae. Dengan segera Seo Hae menempelkan bibirnya ke bibir gelas dan menghabiskan hampir separuh isinya.

“Memang kau punya waktu untuk berlibur dengan ku? Kau selalu sibuk dengan Whystyle dan juga café barumu itu  membuatku sebal” Seo Hae menenggak kembali isi gelasnya yang tinggal setengah menjadi habis tak bersisa. Jong Woon mendekatkan dirinya dan duduk di samping Seo Hae. Di tatapnya wajah Seo Hae yang baru bangun tidur. Tidak ada perbedaan yang mencolok, entah itu baru bangun tidur atau saat ia berdandan. Sama-sama cantik. Jong Woon membersihkan sisa jus yang menempel di bibir atas Seo Hae menggunakan bibirnya. Seo Hae di buat terbelalak dengan apa yang di lakukan Jong Woon. Matanya membulat terkejut.

“Minum jus saja masih seperti anak kecil, belepotan” lirih Jong Woon persis di depan wajah Seo Hae yang masih terbengong dengan ciuman Jong Woon. Bukankah mereka sudah pernah melakukan hal yang lebih dari ini, tapi tetap saja Seo Hae terkejut dengan tindakan Jong Woon yang terlalu tiba-tiba untuknya.

“Kau tidak bekerja?” tanya Seo Hae berusaha setenang mungkin setelah apa yang di lakukan Jong Woon tadi.

“Aku ingin bermain denganmu hari ini” balas Jong Woon.

“Bermain?”

“Iya, bermain. Ehm, bisa di bilang kencan juga” Jong Woon mengambil gelas yang masih di tangan Seo Hae kemudian meletakkannya di nakas. “Bersiaplah, aku tunggu di depan”

 

***

 

Senyuman tidak lagi menghiasi wajah Jong Woon. Senyumnya yang tadi ia berikan pada istrinya kini tak lagi muncul. Tangannya menggenggam handphone. Sesekali memutar-mutarnya. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus melakukan panggilan atau tidak. Puluhan kali dan mungkin sudah ratusan kali sejak semalam ia memikirkan ini. Ibunya. Orang yang selalu menjadi tempatnya bercurah. Haruskah pria ini memberitahukan kejadian yang semalam terjadi. Haruskah? Berapa kali lagi Jong Woon harus berpikir? Dengan keputusan bulat, pria itu menekan tombol hijau di handphonenya, menunggu beberapa saat hingga akhirnya suara teduh ibunya terdengar.

“Eomma!” sapa Jong Woon terlebih dahulu.

“Nde, Waeyo? Mengapa membuat panggilan di jam kerja?”

“Aku tidak ke kantor hari ini”

“Kenapa? Apa ada masalah dengan Seo Hae?” tanya ibu Jong Woon perihal ketidak- berangkatan anaknya.

“Ani. Hari ini aku akan berkencan dengan Seo Hae”

“Kencan!” ibu Jong Woon tertawa mendengar kata kencan keluar dari mulut Jong Woon. Seperti menggelitik telinganya. “Kau pikir kau ini masih remaja, eoh?”

“Eomma..” suara Jong Woon mulai memelan.

Seperti menyadari apa yang tidak benar dengan Jong Woon, wanita yang sudah menginjak kepala lima itu ikut mengecilkan suaranya dan menanyakan masalah apa sudah terjadi.

“Seo Hae, eomma!” ucap Jong Woon dengan suara bergetar.

“Apa apa dengan Seo Hae?” Nyonya Kim yang ada di sebelang sana pun merasa tidak tenang saat dengan suara bergetar Jong Woon menyebutkan ada hal yang menimpa menantu pertamanya.

“Semalam dia bertingkah aneh…” Jong Woon mulai menceritakan semua yang terjadi semalam. Ia memberitahukan semuanya, tidak ada yang terlewat. Segala detail yang ia dan Seo Hae alami. Suaranya tidak lagi bergetar, tapi sudah berubah jadi tangis. “Eomma eothokkae?” gusar Jong Woon.

“Sebaiknya kau singkirkan dulu barang-barang yang masih berhubungan dengan Joon. Eomma juga tidak tahu langkah apa yang harus di lakukan, sebaiknya jau tanyakan pada dokter”

“Hmm, baiklah akan ku lakukan. Maaf aku mengganggu Eomma dengan masalah ini. Aku takut eomma, sangat takut. Aku tidak ingin kehilangan Seo Hae, eomma!”

“Arra. Eomma juga takut hal yang buruk terjadi, jadi jaga Seo Hae dengan baik!”

“Nde, arraseo! Kkeutnaso!” ujar Jong Woon mengakhiri percakapannya.

“Tunggu Woon~ah!” ibu Jong Woon mengeraskan suaranya agar Jong Woon tidak menutup line telphonenya.

“Wae eomma?” Jong Woon kembali menempelkan handphonenya ke telinga.

“Sebaiknya kau tidak mengingatkan Seo Hae dengan bayi. Jangan biarkan dia melihat anak kecil dulu. Eomma rasa emosinya masih belum stabil. Kalau bisa batalkan acara kencanmu itu!”

“Eomma cemburu ya aku akan pergi kencan? Kalau begitu aku akan kencan di panti jompo saja yang tidak ada anak kecilnya”

“Eii.. kau masih bisa bercanda!”

“Baiklah aku tutup ya? Eomma saranghae!” Setelah benar-benar mengakhiri panggilannya, Jong Woon menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Oppa!!” teriak Seo Hae mengejutkan Jong Woon yang sedang memejamkan mata. Dengan segera, pria itu membersihkan sisa air mata yang ada di ujung matanya dan berbalik memberikan semnyuman hangatnya.

“Kau sudah siap?” tanya Jong Woon.

Seo Hae yang juga mengenakan kaos putih dan celana jeans berjalan menghampiri Jong Woon duduk di depan televisi.

“Tadi kau bicara dengan siapa? Aku dengar kau berbica tadi?” ucap Seo Hae duduk di samping suaminya.

“Eomma, dia menanyakan apakah kita mau makan malam bersama atau tidak?” respon Jong Woon yang sama sekali bukan kenyataan.

“Makan malam? Baiklah, kita makan malam bersama. Lagi pula aku sedang malas memasak hari ini”

“Eii, istri macam apa yang tidak mau masak makan malam untuk suaminya?” seloroh Jong Woon dengan nada candaan. Tangan pria itu menarik bahu Seo Hae mendekat ke arahnya.

“Aku merasa lelah sekali hari ini oppa!”

“Kau lelah? Kalau begitu istirahat saja di rumah, kencan hari ini di tunda saja!” saran Jong Woon.

“Andwae!” tolak Seo Hae.

“Kalau untuk berkencan aku masih punya tenaga. Hhee”

“Isshh, dasar kau ini” pria itu pura-pura memukul kepala Seo Hae.

“Ah~ iya oppa, aku ingat, ranjang bayi yang ada di kamar kita…” Jong Woon sontak terkejut “..kenapa kita tidak menyimpannya saja dulu di gudang, nanti kalau aku sudah hamil lagi baru di keluarkan, bagaimana?” Jong Woon benar-benar terkejut. Ia pikir Seo Hae akan bertingkah aneh seperti semalam. Tapi kenyataannya justru Seo Hae menyarankan hal yang akan di lakukannya. Jong Woon kembali berfikir apakah mungkin kejadian yang semalam itu hanya mimpinya saja.

“Geurae. Aku baru akan mengatakan hal itu padamu”

 

***

 

Awan bergerak perlahan. Ber-arak-arakan di lintasan langit. Warna putih yang terlihat lembut itu terlihat sangat indah dari mata manusia. Awan. Pergerakannya liar tak mampu di terka. Bergerak tanpa ada yang bisa menebak dan juga saat awan itu berubah jadi awan kelam secara tiba-tiba.

Di dalam gedung yang tinggi menjulang ini, Jong Woon sedang duduk di kursi kuasanya. Tangannya memegang bolpoint bergerak lincah di atas kertas. Sesekali ia juga melihat Apple yang ada di sisi kanannya. Memeriksa grafik-grafik yang bisa membuat orang awam yang melihat akan jadi pusing. Namun tidak dengan Jong Woon, pria yang belum sempat  menjadi ayah ini sudah terbiasa dengan hal-hal memusingkan seperti ini. Hal memusingkan yang lebih dari ini pun sering ia lalui. Ya, istrinya, Kim Seo Hae. Masih ingatkah kalian dengan box bayi yang ada di kamar pasangan ini? Box yang dengan permintaan Seo Hae sendiri untuk di singkirkan?

Malam itu saat Jong Woon baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah, ia mendapat sambutan tidak menyenangkan dari Seo Hae. Wanita itu dengan kasarnya membuang pakaian Jong Woon, tepat di depannya. Yang menjadi alasan marahnya Seo Hae adalah, Jong Woon meletakkan box bayi itu di dalam gudang. “Kenapa kau membuang tempat tidur anakku!” teriak Seo Hae saat itu. Jong Woon yang sudah merasa lelah setelah seharian bekerja juga ikut berteriak di depan Seo Hae. Demi keindahan alam semesta ini, tak pernah sekalipun Jong Woon mengeluarkan suara keras seperti itu sebelumnya. Seo Hae terkejut dengan reaksi Jong Woon hanya berteriak histeris. Berteriak memanggil nama kecil anaknya.” Joon..Joon..Joon”.. panggilnya.

Penyesalan langsung menyelimuti Jong Woon. Pria itu meraih tubuh Seo Hae yang meronta-ronta ingin membuka pintu ruang penyimpanan yang terkunci. Tenaga Jong Woon jadi sebanding dengan tenaga Seo Hae saat itu. Jong Woon yang bisa di bilang punya badan kekar kerepotan mengatasi Seo Hae.

Malam itu juga apartement Jong Woon jadi ramai. Jong Jin yang kebetulan malam itu akan berkunjung shock mendapati tempat tinggal hyung nya sangat berantakan, layaknya habis terjadi badai besar.

Beruntung Jong Jin punya sikap tanggap yang tinggi. Segera ia menghubungi dokter yang beberapa saat kemarin juga menangani Seo Hae. Tidak lupa ia juga menelfon orang tuanya untuk datang. ‘Darurat’ ungkap Jong Jin pada orang tuanya.

Ke esokan harinya, ketika matahari sudah tinggi dan dengan senang hati membagikan kehangatannya pada seluruh manusia, Seo Hae bangun dari tidurnya. Ia mendapati suaminya tidur di sampingnya. Ia tersenyum sembari mengusap rambut Jong Woon. Wanita itu lupa semua kejadian yang semalam menimpanya. Lupa bahwa dirinya hampir membakar sendiri tempat tinggalnya.

 

 

tbc

Advertisements

4 thoughts on “[Yesung] Series – Our Baby (Part 1)

  1. Iiiihhh seeedddiiihhh kasian jongwoon oppa & seohae kehilangan putra tercintanya dan dia jd Depresi gitu yg sabar yaa Kim family 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s